Hadiah Dari Langit Bagian 3 : Sudah Lama Ibu Setuju

Berlama – lama dirumah memang menjadi obat untuk mengalihkan pikiran tentang rasa yang sering timbul-tenggelam akhir-akhir ini.

Ujian Akhir Semester sudah usai. Semesterku telah naik tinggi, tapi tidak dengan Indeks Prestasiku. Ha ha

Tiba-tiba ibu menunjuk-nunjuk ada namaku di sebuah potongan gambar.

“Mbak liat mbak. Ada nama Alvin yang lain gak di jurusan TI?” 

Ternyata betul. Tertulis namaku dengan jelas disana Untuk Dek Alvin yang sudah memberi inspirasi.

Gleg.

Asdfghjkl.

Hening.

“Mbak ini yang upload temen mbak to. Dapet dari mana ya?”

Aku hanya mengangkat pundakku tanda berusaha tidak peduli dengan rajuknya ibu.

“Mbak, lha ini masnya ini kenal mbak alvin dimana?”

“Asisten Dosen di Lab Praktikum”

Sambil berlalu kudengar suara ibu ber-Ooh panjang.

Berulang kali kutatap gambar yang ada di layar handphoneku, memastikan itu benar-benar tertulis dengan huruf A-L-V-I-N sambil kueja.

Apakah ada yang salah? Apa aku pernah menyinggungnya? Atau aku pernah meninggalkan jejak lalu terbaca olehnya sebagai sebuah hal yang perlu diapresiasikan?

Kepalaku makin terasa penuh.

….

Aku hanya suka menebak-nebak perasaanku. Bermain-main dengan praduga yang tidak tentu. Bukan ini, bukan seperti ini. Bukan untuk diketahui banyak orang ada yang menulis namaku di tugas akhirnya, hingga terbaca oleh siapapun yang membaca.

…..

Kufikir hujan kali ini akan lebih menyenangkan rasanya. Tapi ternyata mendungnya seolah terlihat semakin pekat mendukung cuaca hatiku.

Tidak perlu menunggu esok hari, bersih sudah semua kontak dan segala akses yang bisa menghubungkanku dengan si penulis nama tanpa ijin ini.

Mbak gimana? Udah tanya apa itu betul namamu?”

“Ngapain tanya bu…biar aja” sambil kuteruskan sapuanku yang tinggal sedikit lagi.

Ya berarti orangnya itu menganggap mbak spesial”

Kubiarkan tanda tanya menggantung di udara.

Advertisements

Hadiah Dari Langit Bagian 2 : Pertanyaan

Aku tidak pernah berfikir, apa yang terjadi jika lipatan masa memaksamu pergi membawa serta semua perasaan.

Maka secepat apapun keretaku melaju, temu tidak akan merapatkan takdir kita. 

Sekuat apapun kita menghendaki, ada takdir yang lebih berhak berkehendak πŸ™‚

Aroma basah masih menyisa. Ini bukan hujan bulan Juli. Yang genangannya menggenangkan kenangan.

Tetapi ketika kereta yang kunaiki tadi telah menderu meninggalkan. Aku seperti melihat bekas kakimu, sepertinya kamu sudah seletih itu, tapi tetap saja bersikeras menunggu. Meski rintik basahnya hujan diam-diam menghujanimu. Seolah ingin tetap percaya bahwa itu adalah pertanda langkah kita semakin dekat dengan temu.

Ternyata keretaku benar-benar terlambat dari jadwalnya. Kuamati lekat-lekat selarik tulisan pada kertas yang sedari tadi kugenggam lalu kulirik jam tanganku.

Iya, dua puluh menit. Batinku.

Mungkin karena kita memang tidak diijinkan untuk berjumpa. Maka untuk kali ini, biarkan rinduku menuntaskan jatuhnya. Menyelesaikan kerisauannya.

Dan saat perasaanku ingin menegaskan apakah betul itu namamu, maka kubiarkan ia menebak-nebak sendiri. Karena masih banyak perjalanan yang perlu kulalui untuk bisa menujumu.

Tidak saat ini. Dalam kondisi yang belum terlalu aku mengerti.

Hadiah Dari Langit Bagian 1 : Perempuan yang Berlalu

…..

Gerbong kereta pagi ini membawaku menyusuri banyak kenangan. Aku kembali meninggalkan tempat paling nyaman.

Namun tiba-tiba sapamu mengusik lamunan. Akhirnya kubiarkan rasa penasaran menyelesaikan tugasnya ; membuka seuntai sapa yang kau kirim sepagi ini.

“Adakah temu yang mampu meyakinkan rindu?”

Ada yang berdesir. Membayangkan bagaimana jadinya jika perjalanan ini sungguh mengantarkanku melihat wajahmu secara nyata.

Akhirnya kubiarkan ingatanku mengurai langit helai demi helai, kamu lucu dan aku menahan senyum sendirian. Jika ada seorang paruh baya melihatku, mungkin ia akan mengatakan “Nak, betapa tidak pintarnya kamu, menyembunyikan rasa”

Ternyata perjumpaan kita telah lama dilipat masa. Bagiku lebih baik memilih berlalu dibanding memperhatikan salah tingkahmu itu.

Bagaimana bisa kutumbuhkan rindu, sedang aku tidak pernah menyadari ada benih yang rutin kau tanam dibawah ilalang.

Fokus Pada Kelebihan

IMG20170220093527Kalau ada pertanyaan pilih mana antara “memupuk kelebihan atau memperbaiki kekurangan?”

Pertanyaan ini sekilas akan menjebak dan tidak sedikit yang akan menjawab memperbaiki kekurangan. Karena saya dulu juga pernah jawab begitu πŸ˜‚

Setelah tau dan dipahami mengapa kita tidak fokus saja pada kelebihan yang kita miliki? Bukankah dengan seperti itu kita akan terus mengalirkan kebaikan-kebaikan setelah kita mengetahui apa saja kelebihan yang kita punya.

Hari ini, saya mencoba menerapkan itu pada anak-anak kelas IV yang mereka sedari tahun lalu telah melabeli seisi kelasnya (mereka sendiri) dengan julukan “Geng Kacau”. Bahkan saya pernah di invite  masuk grup Whatsapp yang mereka miliki. Duh kids jaman now.

Maka tadi saya beri mereka julukan baru “Geng Enerjik” πŸ˜…

Setelah saya mengerti, itu bisa menjadi pemicu orang dewasa andil dalam melabeli mereka. Saya khilaf sungguh ketika saya ingat pernah menyebut mereka dengan sebutan “Geng Kacau ini makin kacau”. Karena jujur, mengisi kelas mereka seperti menghadapi 3x lipat jumlah mereka yang hanya 5 orang. Setiap pagi hari tiba jadwal saya mengajar mereka, maka sebelum berangkat yang saya persiapkan ketebalan hati, emosi dan pikiran. Karena akan terkuras sekaligus ketika mengisi anak-anak ini dengan durasi 2 jam. Hari ini saya coba 10 menit untuk anak-anak menulis kelebihan dirinya sendiri dan kelebihan temannya (maksud saya untuk memotivasi dan mengingatkan bahwa masih banyak poin yang bisa mereka syukuri dan kembangkan. Karena anak-anak hebat sesuai versi mereka masing-masing)

Ini sedikit banget catatan mereka tadi pagi

Kembali pada kelebihan.

Saya tidak terlalu suka mengikuti forum-forum motivasi atau membaca buku-buku motivasi. Namun setelah sedikit belajar mengenai parenting maka penting sekali modal orangtua untuk mengenali anak mereka karena itu yang akan membawa para orangtua membimbing anak-anak meningkatkan kelebihan mereka.

Mencari dan terus mengoreksi kekurangan hanya akan menghabiskan waktu. Karena hal tersebut hanya akan menimbun kekurangan yang setiap manusia memang kodrat memilikinya. Namun dengan memperbaiki diri untuk meningkatkan kelebihan, maka hal tersebut akan mengajarkan kita menemukan cara untuk terus fokus pada kelebihan diri. Hingga mencapai yang optimal.


Dalam buku  The Secret of Happy Children: 100 Cara Agar Anak Bahagia Oleh: Thimothy J. Sharp, , terdapat sebuah cerita mengisahkan seorang anak yang mendapatkan nilai rapor sebagai berikut ;

  • 9 untuk mata pelajaran bahasa Inggris dan ilmu sosial
  • 7 untuk mata pelajaran Biologi
  • 5 untuk mata pelajaran Matematika

Bagaimana jika anda adalah orang tuanya?

Bagaimana anda akan merespons jika rapor anak anda mendapat nilai seperti ini?
Apa yang akan menjadi perhatian anda? Memasukkan anak ke tempat les bahasa inggris atau mendaftarkan mereka privat matematika?

Sebagian besar orang tua mungkin akan memilih untuk memperbaiki nilai 5 pada matematika. “Kita harus fokus pada matematika. Anakku telah gagal dalam mata pelajaran ini dan kita harus membantunya”.
Anda menganggap nilai 5 ini adalah aib yang membuat malu dan harus segera diperbaiki.
Namun jika anda bagian dari yang memandang angka 9, maka lanjutkanlah untuk melihat kelebihan-kelebihan yang lain pada kehidupan.

Sangat masuk akal untuk fokus pada hal yang menjadi kelemahan kita. Namun, sesuatu yang masuk akal tidak selalu merupakan yang terbaik. Fokus pada hal positif jauh lebih baik untuk dilakukan.


Nah, anak-anak kelas VI yang saya jadikan percobaan tadi πŸ˜† masih minim sekali usahanya untuk mengenali kelebihan dirinya, masih ogah-ogahan gitu. Karena mereka terlalu terbiasa dengan aktivitas dan obrolan yang bersifat guyon dan terkadang itu telah melampau batas apa yang semestinya tidak mereka bicarakan dalam menilai dirinya sendiri maupun teman-temannya. Maka setelah hari ini hingga pertemuan-pertemuan ke depan, saya akan membiasakan mereka di awal pembelajaran untuk menulis kelebihan tsb. Supaya hari mereka akan diawali dengan kesadaran “bahwa saya memiliki kelebihan”.

Sekian curhatan bu guru. Tulisan dan ide ini sekaligus menjadi peringatan bagi diri sendiri 😊

Semangat menuju kebaikan!

Surabaya. 25.10.17

Ramadhan #11 : Do-It-Yourself

Sekitar satu minggu sebelum Ramadhan saya lihat banyak sekali handbook Ramadhan bertebaran di whatsapp, serta ada salah satu handbook keren milik Mba Ragwan yang dari situlah saya jadi termotivasi, apa yang bisa saya buat… berhubung sepertinya lumayan lama saya tidak otak-atik Corel. Jadilah DIY ini.

Saya selalu menyukai hal-hal yang berbau DIY. Tapi tidak banyak memang yang bisa saya buat wkwk sisanya abal-abal dan dilakukan ketika ada waktu luang XD

Tapi pin di Pinterest sepertinya sudah mulai penuh. Itu artinya, sudah banyak sekali angan-angan DIY yang ingin saya wujudkan salah satunya Stuff untuk Ramadhan dan Lebaran berupa amplop ini yay!

Bagi temen-temen yang punya adik, murid privat, anak didik di sekolah, anak sendiri XD, keponakan atau siapapun…

Punya banyak waktu bebikinan seru, kuy! Gratis di download. Amplop ini saya buat ukurannya kecil, jadi mini-mini gitu.

Ukuran kertasnya saya buat standar di A4 yaaa supaya temen2 bisa cetak di printer biasa 😊 kritik dan saran kirim ke alvinareana@gmail.com

Selamat melanjutkan ibadah puasa bagi yang menjalankan!

Semangat menjalankan misi kebaikaaaaannnn…

 

Link Donwload Ramadhan Stuff 1438H

Klik Disini

Surabaya, 11 Ramadhan 1438H

Ramadhan #1 : Tingkatannya

Alhamdulillah masih bisa ketemu bulan yang penuh berkah, bulan yang Allah istimewakan lebih-lebih dari yang lain.

Seperti yang sudah saya tulis kemarin, Ramadhan ini tetap saya usahakan untuk menulis satu hari satu tulisan seperti project menulis Ramadhan tahun kemarin πŸ™‚ Do’akan bisa ya! 

Saya lama tidak menulis kisah Afnan dan Syifa.

Percakapan pendek di sahur pertama dini hari dengan Afnan yang membuat saya berfikir banyak tentang ini. Terima kasih Afnan, sudah bantu ibuk evaluasi lagi :))

Afnan : Masak udah sahur sih buk? Jam berapa sekarang?

Ibuk : Hayo katanya seneng sahur pertama… Ayo-ayo bangun le (panggilan Jawa untuk anak lakilaki)

Afnan : (Sembari berjalan dan setengah sadar) “Ibuk, apa yang bedain Ramadhan ini sama Ramadhan taun kemarin?”

Syifa yang sudah bangun lebih awal, menambahi..

Syifa : “Syifa tahun ini dibeliin baju baru nggak yah?”

Ayah : “πŸ˜‚ Baru sahur pertama kok sudah mikir baju baru sih nduk?”

Afnan : “Trus apa bedanya dong yah?”

Ayah : “Yang bedaaaa, tingkat keimanannya….”

Kyaaaaaa… Keren banget jawaban ayah πŸ˜‚πŸ™ˆ

———————

Nah, yang beda adalah tingkat keimanannya. Dari percakapan pendek diatas, saya jadi refleksi diri. Jadi termotivasi untuk selangkah lebih baik dari Ramadhan tahun kemarin. Kalau bisa tidak hanya selangkah, tapi banyak langkah. Kalau kemarin 1 kali tilawah, sekarang jadi 2 kali, kalau bisa 3 kali. Kalau bisa lagi, sedikit-sedikit tapi istiqomah tak terputus.

Jika hati kita menyadari, do’a-do’a yang pernah kita minta ke Allah itu pasti terkabul. Kita akan sadar dengan sendirinya, buat selalu minta sama Allah. Buat usahain terus, karna kita ndak pernah tau do’a kita jaman kapan yang akan di “iyain” Allah. Coba aja terus, minta aja terus, baiknya tingkatin lagi. Baiknya rayu Allah lagi.

Kalo kemarin ngerayunya cuma pake sholat Rawatib sekarang ditambah pake dzikir. Kalo kemarin udah pake dzikir, sekarang ditambah jadwal Dhuhanya.

Itu semua yang akan membedakan kita di Ramadhan tahun kemarin dan tahun ini. Juga tahun-tahun setelah ini. Amiiin

PS : β™₯ jatuh cinta banget sama tokoh ayah πŸ˜‚

Surabaya, 270517 01 Ramadhan 1438H

Evaluasi

Usai libur sekolah yang panjang, 2 hari yang lalu adalah hari pertama masuk sekolah. Dari sederet pekerjaan yang dibayarΒ , dua hal ini adalah bagian pekerjaan yang selalu saya nantikan. Yaitu menyiapkan pembelajaran anak-anak dan bertemu dengan mereka. Pasca UAS saya mengevaluasi diri dari nilai-nilai yang mereka berikan.

Saya sangat menyadari masih terdapat kekurangan di sana-sini, saya masih dalam tahap belajar sembari mengajar, saya masih dalam tahap dididik sembari mendidik.

Mendidik adalah proses sepanjang hayat, seperti kata kerja lainnya serupa belajar, bertumbuh, berproses, sabar, ikhlas, memahami dan seabrek kata kerja positif lainnya.

Ternyata setelah di evaluasi, saya masih seringkali mengedepankan ego. Mengusahakan untuk bagaimana mereka bisa memahami apa yang saya sampaikan, berhasil mengerjakan soal-soal yang ada, dan nilai baguslah yang terpampang di buku-buku milik mereka. Saya masih takut kalau orangtua merepresentasikan kemampuan anak-anak melalui nilai yang ada di buku atau rapot mereka. Saya masih takut kalau nilai mereka jelek itu berarti saya gagal dalam menyampaikan pembelajaran. Sesungguhnya mendidik adalah jauh dari itu.

Anak-anak tidak berhak untuk didiskreditkan dalam angka-angka tersebut. Karena mereka tumbuh dengan kemampuan masing-masing. Selama ini saya abai dalam memperhatikan seberapa berusahanya mereka dalam menyetarakan kemampuan. Itu mungkin luput dari perhatian saya, itu artinya saya masih egois dalam melaksanakan kewajiban.

Mungkin itu nantinya akan menjadi pengikis keikhlasan saya dalam mengajar dan mendidik, dan itu tidak boleh dibiarkan berlarut. Saya harus tata ulang niat, yang perlu saya usahakan hanyalah melakukannya dengan sebaik mungkin, urusan nilai yang akan mereka dapat katakan saja itu bonus πŸ™‚