Ramadhan #11 : Do-It-Yourself

Sekitar satu minggu sebelum Ramadhan saya lihat banyak sekali handbook Ramadhan bertebaran di whatsapp, serta ada salah satu handbook keren milik Mba Ragwan yang dari situlah saya jadi termotivasi, apa yang bisa saya buat… berhubung sepertinya lumayan lama saya tidak otak-atik Corel. Jadilah DIY ini.

Saya selalu menyukai hal-hal yang berbau DIY. Tapi tidak banyak memang yang bisa saya buat wkwk sisanya abal-abal dan dilakukan ketika ada waktu luang XD

Tapi pin di Pinterest sepertinya sudah mulai penuh. Itu artinya, sudah banyak sekali angan-angan DIY yang ingin saya wujudkan salah satunya Stuff untuk Ramadhan dan Lebaran berupa amplop ini yay!

Bagi temen-temen yang punya adik, murid privat, anak didik di sekolah, anak sendiri XD, keponakan atau siapapun…

Punya banyak waktu bebikinan seru, kuy! Gratis di download. Amplop ini saya buat ukurannya kecil, jadi mini-mini gitu.

Ukuran kertasnya saya buat standar di A4 yaaa supaya temen2 bisa cetak di printer biasa 😊 kritik dan saran kirim ke alvinareana@gmail.com

Selamat melanjutkan ibadah puasa bagi yang menjalankan!

Semangat menjalankan misi kebaikaaaaannnn…

 

Link Donwload Ramadhan Stuff 1438H

Klik Disini

Surabaya, 11 Ramadhan 1438H

Advertisements

Ramadhan #1 : Tingkatannya

Alhamdulillah masih bisa ketemu bulan yang penuh berkah, bulan yang Allah istimewakan lebih-lebih dari yang lain.

Seperti yang sudah saya tulis kemarin, Ramadhan ini tetap saya usahakan untuk menulis satu hari satu tulisan seperti project menulis Ramadhan tahun kemarin 🙂 Do’akan bisa ya! 

Saya lama tidak menulis kisah Afnan dan Syifa.

Percakapan pendek di sahur pertama dini hari dengan Afnan yang membuat saya berfikir banyak tentang ini. Terima kasih Afnan, sudah bantu ibuk evaluasi lagi :))

Afnan : Masak udah sahur sih buk? Jam berapa sekarang?

Ibuk : Hayo katanya seneng sahur pertama… Ayo-ayo bangun le (panggilan Jawa untuk anak lakilaki)

Afnan : (Sembari berjalan dan setengah sadar) “Ibuk, apa yang bedain Ramadhan ini sama Ramadhan taun kemarin?”

Syifa yang sudah bangun lebih awal, menambahi..

Syifa : “Syifa tahun ini dibeliin baju baru nggak yah?”

Ayah : “😂 Baru sahur pertama kok sudah mikir baju baru sih nduk?”

Afnan : “Trus apa bedanya dong yah?”

Ayah : “Yang bedaaaa, tingkat keimanannya….”

Kyaaaaaa… Keren banget jawaban ayah 😂🙈

———————

Nah, yang beda adalah tingkat keimanannya. Dari percakapan pendek diatas, saya jadi refleksi diri. Jadi termotivasi untuk selangkah lebih baik dari Ramadhan tahun kemarin. Kalau bisa tidak hanya selangkah, tapi banyak langkah. Kalau kemarin 1 kali tilawah, sekarang jadi 2 kali, kalau bisa 3 kali. Kalau bisa lagi, sedikit-sedikit tapi istiqomah tak terputus.

Jika hati kita menyadari, do’a-do’a yang pernah kita minta ke Allah itu pasti terkabul. Kita akan sadar dengan sendirinya, buat selalu minta sama Allah. Buat usahain terus, karna kita ndak pernah tau do’a kita jaman kapan yang akan di “iyain” Allah. Coba aja terus, minta aja terus, baiknya tingkatin lagi. Baiknya rayu Allah lagi.

Kalo kemarin ngerayunya cuma pake sholat Rawatib sekarang ditambah pake dzikir. Kalo kemarin udah pake dzikir, sekarang ditambah jadwal Dhuhanya.

Itu semua yang akan membedakan kita di Ramadhan tahun kemarin dan tahun ini. Juga tahun-tahun setelah ini. Amiiin

PS : ♥ jatuh cinta banget sama tokoh ayah 😂

Surabaya, 270517 01 Ramadhan 1438H

Evaluasi

Usai libur sekolah yang panjang, 2 hari yang lalu adalah hari pertama masuk sekolah. Dari sederet pekerjaan yang dibayar , dua hal ini adalah bagian pekerjaan yang selalu saya nantikan. Yaitu menyiapkan pembelajaran anak-anak dan bertemu dengan mereka. Pasca UAS saya mengevaluasi diri dari nilai-nilai yang mereka berikan.

Saya sangat menyadari masih terdapat kekurangan di sana-sini, saya masih dalam tahap belajar sembari mengajar, saya masih dalam tahap dididik sembari mendidik.

Mendidik adalah proses sepanjang hayat, seperti kata kerja lainnya serupa belajar, bertumbuh, berproses, sabar, ikhlas, memahami dan seabrek kata kerja positif lainnya.

Ternyata setelah di evaluasi, saya masih seringkali mengedepankan ego. Mengusahakan untuk bagaimana mereka bisa memahami apa yang saya sampaikan, berhasil mengerjakan soal-soal yang ada, dan nilai baguslah yang terpampang di buku-buku milik mereka. Saya masih takut kalau orangtua merepresentasikan kemampuan anak-anak melalui nilai yang ada di buku atau rapot mereka. Saya masih takut kalau nilai mereka jelek itu berarti saya gagal dalam menyampaikan pembelajaran. Sesungguhnya mendidik adalah jauh dari itu.

Anak-anak tidak berhak untuk didiskreditkan dalam angka-angka tersebut. Karena mereka tumbuh dengan kemampuan masing-masing. Selama ini saya abai dalam memperhatikan seberapa berusahanya mereka dalam menyetarakan kemampuan. Itu mungkin luput dari perhatian saya, itu artinya saya masih egois dalam melaksanakan kewajiban.

Mungkin itu nantinya akan menjadi pengikis keikhlasan saya dalam mengajar dan mendidik, dan itu tidak boleh dibiarkan berlarut. Saya harus tata ulang niat, yang perlu saya usahakan hanyalah melakukannya dengan sebaik mungkin, urusan nilai yang akan mereka dapat katakan saja itu bonus 🙂

Spesial

​”Lebih punya banyak porsi waktu untuk mendekatiNya ya bu.. memanjangkan sabar

“Alhamdulillah iyaaa”

———-

Salah satu potongan percakapan saya dengan seorang ibu hebat yang memiliki anak dengan kondisi abnormal. Ini bukan kali pertama saya bertemu dengan anak-anak spesial, j”auh sebelum hari ini ketika kesibukan saya telah berkutat mengantarkan pada lingkaran anak-anak.

Saya kemudian mengingat satu dua hal. Yang pertama adalah kondisi di Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Malang, tempat saya melakukan penelitian beberapa tahun silam. Bertukar cerita langsung dengan terapis mereka, apa yang melatar belakangi sehingga mereka menjadi demikian bonusnya adalah mengerti kebiasaan mereka dengan kondisinya yang berbeda dari kebanyakan seperti tiba2 memukul, tiba2 menarik baju mengajak tertawa. Namun dari itu semua saya mengerti satu hal, bahwa mereka tidak pernah meminta dilahirkan dari keluarga seperti apa, dilahirkan dengan kondisi bagaimana. Mereka masih memiliki hati kecil yang baik, tetapi seberapa besar prosentase  yang menuntun mereka melakukan hal-hal baik dan dengan cara yang baik memang tidak bisa diprediksi dan dimengerti. Sekalipun oleh pakar sendiri, karena urusan ini tidak memiliki acuan. Karena mereka berbeda.

Perihal kedua, adalah Ina. Sebagian belahan hati saya yang lain. Yang pelan-pelan beranjak besar, tidak butuh waktu lama baginya untuk menjadi lebih tinggi daripada saya. Beberapa tahun kebelakang, ketika ada orang bertanya mengenai kondisinya..selalu ada yang tertahan dalam hati. Setelah pertanyaan itu berlalu, saya ijin meninggalkan tempat dan menangis sejadi-jadinya. Ada hati yang perih. Ada hati yang tidak rela adik saya mendapat perlakuan berbeda. Namun saya percaya, semenjak peristiwa itu terjadi ; bapak dan ibuk telah didewasakan hati serta fikiran melebihi yang dimiliki orang lain. Telah diluaskan fikirannya dengan hal-hal positif hingga membentuk karakter Ina yang supel dan PD seperti saat ini.

Saya pernah menemui fase dimana segerombolan anak memandang “ina kecil” pada saat itu dan mengatakannya “anak yang aneh” dengan kondisi satu matanya yang kurang sempurna. Seketika itu juga saya marah-marah. Lagi-lagi sebagian hati saya patah. Tidak terima. Mereka semua tidak ada yang mengerti jika kemampuan Ina lebih dari apa yang mereka bisa, mereka tidak faham jika gambar-gambarnya merubah dunia saya, mereka tidak faham jika nilai-nilai di rapornya membuat saya tidak pernah untuk tidak membanggakannya didepan siapapun. Mereka tidak akan pernah mengerti sebelum mereka mengenal seperti apa sosoknya. Ah sudahlah..

Ketika saat ini saya semakin sering bertemu dengan anak-anak spesial seperti itu, otak saya langsung mengirim memorial tentang ibuk dan bapak. Tidak hanya sebagian hati mereka yang patah pada saat itu. Mungkin seluruh hati itu patah. Kemudian perlahan berusaha direkat kembali lalu dipagari untuk menguatkan. Saya memandangnya seperti ; mengalami posisi ini adalah menjadi pilihan bagi orang tua yang merupakan orang terdekatnya. Panutan pertama yang mereka (baca : anak-anak) miliki. Akankah orang tua merangkulnya dengan impuls-impuls kasih sayang dan memupuknya dengan optimis atau sebaliknya.

Saya menemukan banyak sekali jenis mereka, begitu pula sedikit cerita yang merunut untuk mengetahui penyebabnya. Jikalau semua orang tua paham, berbesar hati, meluaskan sabar dan seabrek lainnya yang saya sangatlah faham prakteknya sulit sekali di lakukan.

Melalui postingan ini, intinya saya hanya ingin menyampaikan bahwa Semoga semua anak-anak dimanapun berada mereka senantiasa dalam petunjukNya. Karena do’a-do’a dan kebaikan yang mereka laksanakan adalah pemantik amal jariyah yang tidak pernah terputus.

Selamat bahagia anak-anak! Selamat hari ibu untuk semua perempuan dimanapun berada ❤

Surabaya, 22 Desember 2016

Ibuk

​Malaikat-malaikat tersenyum didepan rumah. Sore ini ibuk mengantarku dan beliau pasti akan mengantar hingga habis pandang. Aku tidak pernah tau dibalik senyumnya itu ada berapa banyak khawatir yang dipaksa untuk sembunyi.

Dipanaskannya motorku sembari terus saja mengeja barang-barangku yang bisa jadi terlupa. Aku tidak pernah tau berapa banyak catatan mengenai segala keperluan anak-anaknya, keperluan bapak, keperluan rumah tangga, belum lagi keperluan kesibukannya diluar rumah. Yang aku tau, ia tidak pernah lelah memulihkan ingatan meski waktu terus menggerus.

Sembari mengucapkan hati-hati ya nduk, setelah kewajibanku mencium tangan dan mencium pipi kiri kanannya telah kutunaikan. Kacamatanya sedikit jatuh kemudian beliau betulkan untuk melihat aku benar-benar berlalu dari jarak pandangnya. Aku tidak pernah tau seberapa sering matanya rabun dan kabur melihat pembukuan keuangan yang masih terus rapi beliau kerjakan dengan mengatakan ini adalah kewajiban ibuk mengurus semuanya. Yang aku tau dulu beliau tidak pernah melewatkan menjagaku belajar sepanjang malam.

Sepanjang perjalanan aku memikirkan seberapa letih bahunya menyiapkan segala sesuatu untuk kami sedari pagi, ketika beliaulah yang pertama kali bangun dan paling akhir berangkat tidur. Aku tidak pernah tau, yang aku tau hanya ketika beliau letih hingga menangis pasti malaikat-malaikat akan ikut menangis. Mukenahnya menangis, sajadahnya pun menangis bahkan semua barang-barang di dapur, barang-barang dirumah yang senantiasa menjadi temannya bencengkrama pun ikut menangis.

Namun semua kekuatan itu, akan menjadi kekuatanku nanti. Ketika anak-anakku memanggilku;  ibu.

Ditulis dalam sebuah perjalanan, 26 November 2016

*trus lagu yang keputer di playlist “Malaikat juga tahu”* 😦

Habibie – Ainun

​Assalamu’alaikum

Beberapa hari terakhir saya sering sekali menjumpai fakta bahwa, dibalik hebatnya laki-laki ada seorang perempuan hebat. 

Hari Sabtu kemarin saya mencoba mengunjungi Perpustakaan Umum, hati saya tergerak untuk mengambil buku secara randomly dan ternyata keduanya  memiliki topik yang sama! Yaitu bagaimana menjadi perempuan hebat untuk laki-laki yang membersamai di sisa hidup nantinya (red : pernikahan). Hingga habis waktu, saya berpikir sosok siapa yang perlu saya korek dalam-dalam mengenai tauladannya sebagai istri. Disaat banyak laki-laki bisa memperoleh tauladan langsung dari Rasulullah, atau Ali yang begitu memenjara perasaannya untuk Fatimah, atau Umar yang memilih diam ketika istrinya sedang marah. Saya teringat sebuah video tentang contoh nyata yang wujudnya masih hadir di depan mata. Pak Habibie! Dalam banyak sekali ulasan, buku-buku bahkan tayangan-tayangan. Pak Habibie tidak pernah melewatkan Ibu Ainun sedikitpun. Seperti Ibu Ainun selalu hadir kemanapun beliau pergi. Pak Habibie hingga saat ini terhitung sejak Bu Ainun meninggal dunia setiap hari Jum’atnya yang selalu mengunjungi pusara berziarah kemudian mendo’akannya. Adakah wujud cinta lain yang mampu mengalahkan romansa anak-anak jaman sekarang yang pacaran kesana-kemari kemudian putus-nangis bombay. Melihat tayangan-tayangan Pak Habibie saya selalu geleng-geleng tersenyum pun seketika itu juga ada yang basah di pipi saya. Seorang teknokrat yang harus jatuh bangun terjun ke dunia perpolitikan yang beliau tidak mengerti bagaimana menjadi banyak sekali orang dendam pada saat itu lalu digelimangkan oleh negara sendiri. Tetapi beliau tetaplah BJ. Habibie yang suaranya renyah, lembut dan khas dengan aksen Belanda. Terlalu mudah untuk jatuh cinta pada sosok Pak Habibie.

Beliau menjadi hebat tidak hanya sekedar menjadi hebat. Disisinya ada sosok yang tidak berhenti mendukungnya sepenuh hati. Dalam hati saya berkata, “Jika Rasulullah tauladan untuk laki-laki maka Ibunda kHadijahlah yang perlu saya tau lebih jauh bagaimana sosok beliau. Jika Pak Habibie menjadi contoh konkrit bagi laki-laki, maka Ibu Ainun lah yang perlu saya tau lebih dalam untuk dijadikan tauladan”

Ialah Ainun, beliau seorang dokter yang rela melepas profesinya demi mengurus rumah tangga, suami dan anak. Menemani Pak Habibie merantau hingga Jerman dan memilih hidup pas-pasan untuk dapat memastikan sendiri keluarganya tumbuh ditangannya. Menjamin kebaikan-kebaikan yang diperoleh keluarga dengan tangan sendiri, bukan dibiarkan terlantar demi sebuah profesi dan uang tambahan. Disaat jaman seperti ini, banyak sekali perempuan berlomba dalam karir, mencukupkan pendapatan keluarga hingga mampu mendapat kepuasan pribadi bagi dirinya namun anak-suami dibiarkan mengurus diri seorang. Tidak sebentar Bu Ainun memutuskan untuk mengambil jalan ini. Lalu bagaimana adakah alasan untuk Pak Habibie tidak selalu jatuh cinta pada Bu Ainun hingga kini, bahkan terus bertambah setiap harinya. Meskipun sosok Ibu telah tiada.

Bagaimana bisa Ainun menyembunyikan tentang penyakit kankernya selama itu demi menjaga perasaan suami. Tidak mmembiarkan suami merasakan apa yang diderita. Bagaimana bisa? Kalau jaman sekarang terlebih saya, yang pusing sedikit saja mengeluhnya minta ampun. Duh, malunya. Tetapi tidak untuk Ainun. Perempuan memang peka perasaannya, namun harus tegar pula hatinya. Tidak perlu jauh-jauh mencari sebab. Saat ini lebih perlu sering untuk bersyukur dengan hal-hal kecil dan tidak mengeluh.

Yang selalu menjadi perhatian saya ketika bertemu orang-orang hebat, adalah latar belakang yang membuatnya tumbuh dan berkembang menjadi seperti itu. Saya selalu penasaran bagaimana perjuangan orang terdekatnya dibalik kesuksesan. Kali ini, duh nggak ngertilah gimana bisa Pak Habibie dan Bu Ainun bisa sekeren itu. Pun seperti Rasulullah dan Ibunda Khadijah. Saya perlu mencari tau lebih banyak.

alvinareana, 150816

Terima kasih ♥

 

Allah, terima kasih atas kejutan-kejutan yang setiap hari datang. Padahal, diri masih sering berlaku dzolim.

Allah, terima kasih atas jawaban “iya” setelah do’a-do’a panjang di panjatkan. Padahal diri tidak pernah berhenti meminta.

Allah, terima kasih telah mendatangkan wasilah-wasilah yang membuat semakin dekat padaMu. Padahal diri masih suka melewatkan nikmat-nikmat yang Kau berikan.

Allah, terima kasih atas keberadaan orang-orang baik disekitarku.

Allah, terima kasih atas waktu yang hingga kini. Hingga aku menjadi seperti saat ini.

Allah, terima kasih masih selalu cinta. Kalau tidak, aku akan seperti apa?

♥ HambaMu, yang lemah.