Ibu Yang Menangis

Kini aku tau,

Aku tidak perlu lagi malu mengaku pada anakku jika aku memanglah seorang ibu yang cengeng. Menangis didepannya saat aku ditinggalkan oleh ibuku untuk mengurusnya seorang diri (bersama suami) di tanah rantau.

Ternyata sesesak ini didada, rasanya melepas perjumpaan. Meskipun aku tau pertemuan itu akan datang lagi dan meski memang entah kapan.

Meskipun tak terhitung lamanya aku merantau, tapi pulang ke pelukan ibu memang tempat pulang terbaik :’)

Aku akan selalu kangen ibu meski hari itu seharian aku bertemu dengannya. Apalagi jika tak bertemu?

Setelah menjadi ibu baru, disinilah aku mengerti tentang hakikatnya tidur paling akhir dari siapapun di rumah, makan paling akhir dari semua anggota di rumah, yang paling khawatir tentang kondisi anggota keluarga. Yang terjaga di malam-malam panjang saat usiaku masih belia, yang terantuk-antuk menjagaku saat aku harus sakit, yang terbangun di awal waktu memastikan semuanya tersedia di pagi buta.

Aku menjadi tau.

Kini aku tau, mukena putih dan sajadah panjang ibu, saksi pahalanya tersimpan rapi.

Dan semua perabot yang setiap hari menjadi temannya berkisah, melegakan hati.

Advertisements

(MIIP #1) Mencari Ilmu ada Adabnya lho! 

muslimah.or.id

Ilmu adalah harta yang tidak akan habis dimakan waktu, ilmu adalah amal jariyah yang tidak akan pernah terputus dan ilmu adalah syarat diterimanya amal.

Tapi sebelum mencari ilmunya, taukah kita tentang adabnya?

Ternyata mencari ilmu pun butuh adab lho!

Supaya ilmu yang didapat nantinya akan terserap dengan maksimal dan kebermanfaatan ilmu yang didapat nantinya bisa terus dilanggengkan.

Sejauh melangkah dan sebesar ini diri bertumbuh, bukankah kita sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk sekolah. Yang katanya, sekolah itu dilakukan untuk mencari ilmu.

Adab mencari ilmu adalah aturan atau tata krama yang distandarkan pada diri, untuk dipatuhi dan dilaksanakan demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.

Jika mencari ilmu hanya terkotak-kotakkan pada sekolah formal, maka kita akan menganggap hanya ditempat tersebutlah kita mendapatkan ilmu tersebut. Namun berbeda jika kita memiliki sudut pandang bahwa dimanapun tempatnya kita bisa mendapatkan ilmu (hikmah), maka kita akan menghargai segala sesuatu tersebut sebagai perantara penyampai ilmu.

Bukankah ilmu yang kita dapat bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup kita? Bertujuan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan pun yang lebih jauh adalah meningkatkan kualitas keimanan kita. 

Karena ilmu yang kita miliki, semestinya kembali digunakan di jalan yang benar.

Barang siapa yang menimba ilmu, semata-mata hanya karena ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya.

Namun barang siapa menuntut ilmu karena ingin mengamalkannya, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat.

  • Adab adalah sebagai pemantik terbukanya pintu-pintu ilmu dari manapun
  • Adab adalah suatu hal yang tidak bisa diajarkan, tetapi ditularkan

Berikut adalah adab mencari ilmu terbagi ke dalam 3 bagian ;

___

Adab pada Diri Sendiri

  • Ikhlas dan bersedia membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk
  • Selalu bergegas, mengutamakan waktu
  • Menghindari sikap “merasa lebih tau”
  • Menuntaskan ilmy yang sedang dipelajari, diulang dan dituliskan. Sabar hingga pembelajaran selesai.
  • Bersungguh-sungguh menjalankan tugas

Adab terhadap Guru Penyampai Ilmu

  • Berusaha mencari ridho guru, sepenuh hatu menaruh rasa hormat.
  • Mendekatkan diri pada Pemilik Ilmu
  • Tidak memotong pembicaraan guru, penuh perhatian terhadap ilmu dan penjelasan guru
  • Meminta ijin ketika ingin menyebarkan ilmu tersebut. Mencantumkan sumber sebagai bentuk penghormatan kita.

Adab terhadap Sumber Ilmu

  • Tidak meletakkan sembarangan buku yang kita pelajari
  • Tidak melakukan penggandaan dan mendistribusikan secara sembarangan
  • Tidak mendukung plagiator
  • Dalam dunia online, tidak dianjurkan menuliskan copas dari grup sebelah
  • Dalam dunia online jangan mudah percaya sampai paham pada sumber ilmu yang kredibel

____

Semoga dengan mengertinya kita akan tata krama dalam mencari ilmu, tujuan kita dalam mencarinya senantiasa dimudahkan dalam jalan yang baik. Karena ilmu menjadikan kita berarti saat masih hidup maupun tiada. Semangat mencari ilmu ya! 😊

➖➖➖

Tulisan diatas merupakan rangkuman Materi #1 Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #4, yang saya tulis untuk catatan pribadi di buku kemudian saya tuliskan ulang disini dengan bahasa saya sendiri.

Referensi Utama : Materi Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #4

Semoga bermanfaat 🙂

Surabaya, 18 Agustus 2017

Ibuk

​Malaikat-malaikat tersenyum didepan rumah. Sore ini ibuk mengantarku dan beliau pasti akan mengantar hingga habis pandang. Aku tidak pernah tau dibalik senyumnya itu ada berapa banyak khawatir yang dipaksa untuk sembunyi.

Dipanaskannya motorku sembari terus saja mengeja barang-barangku yang bisa jadi terlupa. Aku tidak pernah tau berapa banyak catatan mengenai segala keperluan anak-anaknya, keperluan bapak, keperluan rumah tangga, belum lagi keperluan kesibukannya diluar rumah. Yang aku tau, ia tidak pernah lelah memulihkan ingatan meski waktu terus menggerus.

Sembari mengucapkan hati-hati ya nduk, setelah kewajibanku mencium tangan dan mencium pipi kiri kanannya telah kutunaikan. Kacamatanya sedikit jatuh kemudian beliau betulkan untuk melihat aku benar-benar berlalu dari jarak pandangnya. Aku tidak pernah tau seberapa sering matanya rabun dan kabur melihat pembukuan keuangan yang masih terus rapi beliau kerjakan dengan mengatakan ini adalah kewajiban ibuk mengurus semuanya. Yang aku tau dulu beliau tidak pernah melewatkan menjagaku belajar sepanjang malam.

Sepanjang perjalanan aku memikirkan seberapa letih bahunya menyiapkan segala sesuatu untuk kami sedari pagi, ketika beliaulah yang pertama kali bangun dan paling akhir berangkat tidur. Aku tidak pernah tau, yang aku tau hanya ketika beliau letih hingga menangis pasti malaikat-malaikat akan ikut menangis. Mukenahnya menangis, sajadahnya pun menangis bahkan semua barang-barang di dapur, barang-barang dirumah yang senantiasa menjadi temannya bencengkrama pun ikut menangis.

Namun semua kekuatan itu, akan menjadi kekuatanku nanti. Ketika anak-anakku memanggilku;  ibu.

Ditulis dalam sebuah perjalanan, 26 November 2016

*trus lagu yang keputer di playlist “Malaikat juga tahu”* 😦

Bapak

Backsong : Ayah –  Ebiet G.Ade

Pagi ini drama mulai lagi, setelah beberapa menit saya menutup telfon dari bapak. Betapa banyak episod sedari saya kecil berputar-putar dengan mode time laps dikepala. Sewaktu kecil, saya tumbuh dalam kondisi yang bisa dibilang tidak terlalu dekat dengan orang tua. Pagi sebelum saya bangun tidur ibuk dan bapak sudah berangkat. Ketika pulang, saya sudah kembali tidur. Memasuki dunia sekolah, saya hanya bertemu bapak di saat weekend , malam hari itupun ketika bapak tidak ada proyek diluar kota dan pagi hari ketika berangkat sekolah. Bertemu ibuk, sore hari dan beliau selalu menemani malam-malam saya mengerjakan tugas sekolah. Hingga kelas 3 SD, adik pun lahir. Di titik itulah sedikit demi sedikit ibuk mengajarkan pada saya untuk menjadi dewasa lebih cepat. Namun itu semua tidak membuat saya lantas jauh dari orangtua. Ketika masuk dunia perkuliahan, yang pada saat itu bapak harus terpaksa bekerja di Malay untuk membiayai kuliah saya. Maka kami berempat sangat terbiasa berkomunikasi via Skype. Dari situlah awal mula saya menjadi sangat dekat dengan orangtua. Hingga hal sekecil apapun saya ceritakan pada ibuk dan sesekali pada bapak. Saya ingat betul, Bapak sering membiasakan saya untuk berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Bapak selalu mengajarkan saya hal-hal yang tidak difikirkan oleh orang-orang pada umumnya. Bapak selalu mendidik saya dengan hal-hal yang seringkali tidak saya mengerti namun ketika saya harus diam dan menyadari bahwa tidak lain tidak bukan, keinginan bapak hanya melihat saya menjadi sebaik-baiknya manusia *pun ketika menulis ini*

Semakin saya tumbuh dewasa, jarak yang tercipta dengan bapak semakin terlihat. Namun bapak tidak pernah tidak menegur dengan guyonan di sela-sela keseriusannya, bapak selalu punya cara-cara lain yang membuat anak-anaknya tumbuh dengan bijak.

Sulit sekali menerka dibatas mana bapak akan begitu cemburu ketika anaknya mendapati seseorang laki-laki lain selain dirinya, sulit sekali membaca perasaan bapak dibatas mana bapak akan tercekat perkataannya ketika mendengar anaknya bercerita tentang laki-laki lain selain dirinya. Kali ini sungguh, mata saya tidak berhenti memainkan drama.

alvinareana, 250716

aabbb

Sekolah di Rahim Ibu

Rasulullah pernah bersabda, “jika seorang perempuan hamil, maka kedudukannya seperti kedudukan orang yang berpuasa, shalat malam, dan berjuang di jalan Allah dengan diri dan hartanya. Jika ia melahirkan, maka pahalanya tak dapat diketahui oleh seorang pun karena begitu besarnya. Jika ia menyusui, maka setiap tetes air susu yang dihisap oleh anaknya seperti memerdekakan orang merdeka dari keturunan Nabi Ismail as. Jika ia menyapihnya, malikat yang mulia mengepakkan sayapnya sambil berkata, ‘perbaruilah amalmu, dosamu telah diampuni’”

Mendekati bulan-bulan Syawal berita yang setiap minggunya terdengar adalah teman seperjuangan dan seangkatan menggenapkan separuh agamanya. Pun mulai banyak yang telah dipersiapkan Allah untuk dipanggil “ammah” 🙂

Entah pergolakan batin macam apa yang sedang mereka rasakan saat ini. Amanah yang dipikulnya tidak hanya lagi tentang tanggung jawab menjaga dirinya namun telah bertambah kondisi menjaga suami dan sebagian telah diamanahi untuk menjaga mahkluk kecil titipan-Nya. Mengamati mereka sama seperti mengamati laku kehidupan yang semesta gambarkan setiap detiknya. Sedang ditempa oleh semesta, dididik untuk dilahirkan kembali menjadi sosok yang baru.

Mendengar cerita salah satu teman saya perihal kehamilannya, hidup tidak pernah ada yang sia-sia karena proses penciptaan tidak terjadi begitu saja. Penghargaan akan hidup semakin terasa dekat karena ia merasakan sendiri ada yang sedang bergerak-gerak memaknai hidup didalam jiwa dan tubuhnya. Naluri yang dirasakan dengan ikatan ibunya seperti satu kesatuan. Kepada ibunya lah ia berhutang nyawa.

Dalam sebuah blog yang saya baca, milik teh Urfa . Saya begitu merinding ketika beliau bisa menceritakan secara detil kronologis kehamilan mulai dari tri semester pertama hingga tri semester ketiga pun dengan detik-detik menjelang kelahiran.

Berhubung, hingga saat ini lingkungan begitu mendukung adanya diskusi, chit-chat atau bahkan hanya sekedar celetukan tentang kehidupan pasca kampus. Maka urusan-urusan pembahasan seperti ini menjadi sangatlah biasa. Sering yang tidak (mau) terbayangkan adalah zaman yang akan terjadi pada masa anak-anak saya nantinya. Ketika dunia ini menjadi semakin canggih dan semoga mendewasa.

Terlepas dari itu semua, tidak pernah ada batasan dalam belajar untuk menjadi seorang ibu 🙂

Bismillah untuk semua para ammah dan calon ammah.

Tulisan awal 10 Oktober 2014.

Kemudian dengan sedikit revisi, 30 Mei 2016

Catatan dari Bunda Septi

Assalamu’alaikum.

Ada yang belum kenal dengan Bunda Septi Peni?

Bunda Septi Peni adalah Founder Ibu Profesional. Alhamdulillah pisaaan pokoknya, jadi panitian BLFIM kemarin bisa ngobrol banyak sama bunda. Tentunya banyak juga catatan yang bisa disimpen buat note pribadi. Siap-siap lah yaa :p

Anyway, meskipun catatan saya sedikit. Tapi sungguh, dengan catatan ini justru diri saya sendiri bisa membangun ingatan tentang bagaimana ketika Bunda memaparkan langsung.

Monggo disimak yang sedikit ini, saya buat poin2 yaa..

 

  • Membangun peradaban di dalam rumah tangga adalah dimulai dari seorang ibu
  • Keluarga haruslah mengerti arah tujuan hidup bersama, menjadi tim dalam rumah tangga
  • Membuat laboratorium rumah tangga, untuk membuat progres apa saja yang diperlukan untuk menunjang terbentuknya rumah tangga yang ideal
  • Membuat family strategic planning yang dibuat dalam kurun waktu dalam satu tahun sekali. Dalam kasus ini, Bunda Septi dan keluarga selalu membuat planning untuk satu tahun kedepan begitu seterusnya. Plan tersebut harus benar-benar dijalankan, agar keluarga mampu mengukur sejauh mana kemampuan mereka dalam menghadai masalah.
  • Miliki komitmen diri, selama apa yang kita jalankan itu menaikkan iman, maka jalankan
  • Dalam keluarga bangun mental kaya. Mental kaya adalah tangannya selalu diatas, bukan dibawah. Mental kaya adalah yang selalu bersyukur dan tidak mengeluh. Maka wajib bagi para ibu untuk menjadikan mental anaknya menjadi kaya.
  • Dalam mendidik anak, tanamkan pada diri sendiri bahwa anak memiliki rizqinya sendiri. Maka rizqi sudah pasti kemuliaan yang dicari, tidak akan ada cerita bahwa orang tua salah mendidik anaknya.
  • Selalu ingat rumus give and given.Urusan amanah kepada banyak orang, uruslah dengan sebaik-baiknya. Maka dunia, akan diurus oleh Allah

 

Bunda Septi bercerita saat mengurus anak-anaknya.

Pada umur 0-2 tahun, menjadi full mother. Dilarang keras menyusui anak-anak dengan melakukan hal yang lain. Apalagi sambil (nyambi-nyambi) sambil melakuka hal yang lain misal, nyusu anak sambil buka-buka hp, dan lain sebagainya.

Pada rentang waktu itu pula anak mulai dikenalkan dengan kedua orangtuanya. Tidak hanya secara dhohir, tapi juga batiniyah. Anak perempuan dekatkan dengan ibunya, anak laki-laki dekat dengan ayahnya.

7-14 tahun mulai disilangkan untuk mengenal. Anak perempuan dikenalkan dengan ayahnya, dan anak laki-lakinya didekatkan dengan ibunya. Agar ketika ia dewasa, dirinya telah mensugesti bahwa tidak ada orang lain selain kedua orang tuanya yang akan menjadi tempat pelarian untuk menceritakan masalahnya.

Sejak dalam kandungan, kenalkan anak-anak ada perjuangan ayah dan ibunya. Sekalipun ketika bekerja.

Menjadi seorang ibu adalah penentu terbentuknya peradaban. Maka ketika sudah menikah, andalah yang mensukseskan anak-anak dan keluarga 🙂

Selamat belajar!

Pusat Pemberdayaan Pemuda dan Olahraga Nasional, Cibubur. 18.05.2016

IMG20160518093038.jpg
Sesi curhat-curhat colongan disela-sela kepanitiaan, bersama Bunda Septi