(MIIP#7) Rezeki itu Pasti, Kemuliaan yang Dicari

Beberapa waktu yang lalu, saat salah seorang kawan lama menanyakan mengapa saya memilih resign dari mengajar dan apakah saya tidak khawatir dengn rezeki yang jelas terkurangi dari biasanya…

Seketika saya meminta suami untuk meyakinkan. Bahwa rezeki bukan hanya terpaut jumlah banyaknya, kuantitasnya. Namun berkahnya, dan terkandung halal serta haram didalamnya.

Sesuai dengan tagline materi ke 7 MIIP, bertajuk Rezeki dan Produktivitas.

Setelah berhasil benar-benar resign, saya memang acap kali menanyakan pada diri sendiri apakah saya bisa tetap prduktif? Meski bukan materi ukuran yang terlihat.

Menurut IIP,  ibu produktif adalah ia yang selalu berusaha dan istiqomah dalam menjalani proses untuk menemukan dirinya, menemukan misi penciptaan dirinya di muka bumi ini dengan cara menjalankan aktivitas yang membuatnya memahami bahwa rezeki Allah adalah luas (bukan hanya materi, namun juga ilmu)

Dalam IIP , perempuan yang produktif ialah perempuan yang memiliki value bahwa ikhtiar menjemput rezeki tidak boleh sampai membuatnya meninggalkan amanah utama. Sebab Allah berjanji menjamin rezeki kita, maka melalaikan ketaatan pada-Nya dan mengorbankan amanah-Nya demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijamin-Nya adalah kekeliruan besar. Semua ini adalah bagian dari aktivitas amalan para perempuan atau ibu untuk meningkatkan kemuliaan hidup. Oleh karena itu, sebelum memulai aktivitas produktif, kiranya kita perlu bertanya dulu pada diri, Apakah dengan aktifnya saya sebagai perempuan/ibu di dunia produktif akan meningkatkan kemuliaan diri saya (juga anak-anak dan keluarga)? Kalau jawabannya ”iya”, maka lanjutkan.

Tugas kita sebagai perempuan atau ibu produktif bukanlah untuk mengkhawatirkan jumlah rezeki (baik untuk diri sendiri dan atau keluarga), melainkan menyiapkan sebuah jawaban “dari mana” dan “untuk apa” atas setiap karunia yang diberikan Allah kepada kita. Karena segala bentuk karunia yang Allah beri terliput pertanggung jawaban di dalamnya. Sedang segala usaha yang telah kita usahakan telah Allah takar sesuai takdir milik kita masing-masing.

Dalam rezeki kita ada bagian milik orang lain pula yang sejatinya, ketika kita mampu menempatkannya dengan baik sesuai apa yang Allah perintahkan. Terdapat keberkahan serta kemuliaan di dalamnya.

Referensi Utama : Materi Matrikulasi Institut Ibu Profesional #4

(MIIP#6) Menjadi Handal dalam Keluarga

Menjadi handal itu berarti menjadi yang terlatih. Kali ini, dalam materi ke #6 MIIP yang berjudul Ibu Manajer Handal keluarga, saya menarik kesimpulan bahwa seorang ibu memiliki pekerjaan sebagai manajer di dalam keluarga, menjalani peran hingga mencapai peran yang handal.

Namun, tidak semua perempuan menjadi ibu yang hanya bekerja di dalam rumah. Melainkan ada pula yang bekerja di ranah domestic. Tetapi itu semua tidak semestinya menghilangkan esensi bahwa seorang ibu terlepas dari kewajiban utamanya mengurus keluarga, rumah, suami dan anak.

Sewaktu, sebelum menikah saya bertanya pada diri sendiri apakah profesi yang akan saya ambil setelah meniikah nanti?

Apakah sudah bulat melepaskan diri dari kesibukan di luar rumah? Apakah benar saya akan sanggup hanya menjadi ibu rumah tangga?

Karena dalam IIP, membuat saya melihat menjadi ibu rumah tangga bukanlah sebuah pekerjaan asal-asalan.


Mari kita lihat definisi bekerja menurut materi MIIP #6

Mari kita tanyakan pada diri sendiri, apakah motivasi kita bekerja ?

Apakah masih ASAL KERJA, menggugurkan kewajiban saja?

Apakah didasari sebuah KOMPETISI sehingga selalu ingin bersaing dengan orang/ keluarga lain?

Apakah karena PANGGILAN HATI sehingga anda merasa ini bagian dari peran anda sebagai Khalifah?

Dasar motivasi tersebut akan sangat menentukan action kita dalam menangani urusan rumah tangga dan pekerjaan kita.

Kalau anda masih “ASAL KERJA” maka yang terjadi akan mengalami tingkat kejenuhan yang tinggi, anda menganggap pekerjaan ini sebagai beban, dan ingin segera lari dari kenyataan.

Kalau anda didasari “KOMPETISI”, maka yang terjadi anda stress, tidak suka melihat keluarga lain sukses

Kalau anda bekerja karena “PANGGILAN HATI” , maka yang terjadi anda sangat bergairah menjalankan tahap demi tahap pekerjaan yang ada. Setiap kali selesai satu tugas, akan mencari tugas berikutnya, tanpa MENGELUH.


Nah, setelah menikah dan betul-betul memutuskan untuk resign-pun saya akhirnya mengetahui dimana letak pekerjaan rumah tangga yang membawa saya dalam kondisi shallow work. Huaaaaa…sedih sih. Pernah memang rasanya jenuh berulang hanya karena jenis pekerjaan yang sama dan diulang-ulang.

Lalu bagaimana agar semuanya bisa diminimalisir dan dijalani dengan sebaik-baiknya?

Kerjakan dengan sama profesionalnya seperti pekerjaan-pekerjaan atau tugas-tugas lainnya, hargai diri sebagai manager keluarga (berpakaianlah yang layak saat di rumah, jangan lusuh-lusuh), rencanakan segala aktivitas yang akan dikerjakan (misalnya dengan membuat to do list), buatlah skala priorita serta tidak menunda/menumpuk pekerjaan yang sudah ada, dan yang terpenting adalah bangun komitmen dan konsistensi dalam menjalankannya.

Referensi Utama : Materi Matrikulasi Institut Ibu Profesional #4

Mencintai Keputusan Mengasihi : Diare!

Maasyaa Allaahh…

Sungguh betul memang, pergi ke dokter bagi orang tua baru adalah obat penenang kala anak sakit.

Hari itu saya heran, Husna bab melebihi biasanya. Setelah saya observasi ternyata betul diare.

Panik. Tapi tetap mencoba tenang sembari chat dengan suami di kantor. Namun mendekati sore, kepanikan bertambah dan suami akhirnya memutuskan untuk pulang lebih cepat.

Sore itu juga kami menuju IGD. Setelah di cek, memang betul diare. Tapi alhamdulillaah belum sampai dehidrasi. Lalu nasehat dokter hanya “Beri ASI yang banyak. Pantau. ASI lanjut terus”

He..

Akhirnya ploong meski kalo dipikir-pikir ketemu dokter hanya untuk mendapat nasehat itu.

Lalu pulang dan kami mengingat-ingat apa penyebabnya. Wallahu ‘alam. Lalu tiba-tiba saya teringat program ASIP, yang saya jadwalkan untuk booster berat badan Husna beberapa waktu terakhir.

Rasanya seperti merasa gagal menjadi ibu yang baik. Gagal menjaga anak. Gagal memberinya nutrisi yang baik 🙂

Suami terus membesarkan hati, untuk kembali fokus pada program menaikkan BB Husna. Karena jelas setelah diare ini, berat badannya bisa jadi turun lumayan angkanya. Mencari alternatif cara lain agar program tersebut tidak kendur.

Note :

Menghadapi anak sakit, kuncinya adalah tetap tenang. Bekali ilmu penanganan dini, observasi dan baru pastikan untuk membawa ke bantuan medis.

Sebegininya orang tua memperjuangkan anak-anaknya. Menjaga siang malam tanpa henti. Melatih insting diri menjadi siaga setiap hari.

Semoga apa-apa yang masih mampu alvin lakukan hingga hari ini, tetap mengalirkan pahala untuk bapak ibuk dirumah. Yang setia menjaga mengalahkan rasa letihnya setiap hari 🤗

Mencintai Keputusan Mengasihi

Disclaimer :

Cerita dibawah ini, belum seberapa dibanding cerita “pejuang ASI” diluar sana.

Di awal kelahiran Husna saya tidak begitu merasakan baby blues atau sampai pada post partum depression (PPD). Alhamdulillah..

Support keluarga begitu penuh saya dapatkan. Hanya LDM yang menjadi ruang melapangkan hati. Perjumpaan di Sabtu-Minggu membuat kami terbatas bonding satu dengan yang lain. Husna-saya-suami. Tapi kami harus mengerti ini telah menjadi pilihan yang sudah ditentukan di awal. Meski tiap-tiap perjumpaan saya dan suami tidak selalu bisa dalam satu frekuensi. Terkadang masalah sepele bisa menjadi pemicu tutup mulut satu sama lain. Kami pernah pada fase ini.

Sama-sama menangisi kondisi yang sulit dipahami. Menjadi orang tua baru yang tak kunjung mengerti apa yang diinginkan anak. Menjadi orang tua baru yang mudah tersulut emosi ketika membandingkan siapa yang paling capek. Syukur alhamdulillah ini tidak berlangsung lama…

Kondisi medis saya maupun Husna juga baik-baik saja. Semua berjalan semestinya. Jahitan sembuh total di waktu yang cepat. Pemulihan kondisi tubuh juga terhitung mudah dan lancar. Husna tidak mengalami gangguan pertumbuhan apapun. Lahir dengan berat badan dan panjang badan yang masuk kategori baik. 3,3kg dan 49cm.

2 jam pasca kelahiran ASI saya keluar. Sempat dibuatkan susu formula, namun alhamdulillah lebih dulu ASI yang masuk. Bidan pun pro ASI. Seminggu, dua puluh hari mengASIhi berjalan baik-baik saja, kenaikan berat badan Husna juga menunjukkan hasil yang baik. Grafiknya bagus dan optimal.

Puting lecet sewajarnya saat masih diawal-awal karena lidah bayi masih kasar dan sembuh dengan kompresan air hangat yang saya rutinkan setiap hari. Semuanya berjalan begitu saja. Tidak begitu menguras keletihan fisik dan emosi.

Perjalanan kami dimulai! Sebagai tim baru yang harus senantiasa bertumbuh meski kadang matahari tak nampak menghangatkan tubuh.

2 bulan usia Husna, kami memutuskan tinggal bertiga di tanah rantau. Jauh dari bala bantuan keluarga besar. Menjalankan aktivitas semuanya bersama-sama (bertiga). Menjadikan kami belajar sebagai tim yang solid. Beruntung mas Muiz membantu dalam banyak hal urusan rumah tangga, seperti mencuci baju dan mencuci piring.

Sampai pada akhirnya, rutinitas menimbang berat badan Husna kembali dilakukan. Pun berbarengan dengan imunisasi. Saya deg-degan. Perasaan (apakah saya becus mengurus Husna) muncul ke permukaan.

Qadarallah, hasil grafik yang didapat pada hasil perhitungan berat badan Husna kali ini menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Berat badannya naik tetapi tidak signifikan sesuai target minimal. Garis pada grafiknya mulai lurus. Itu tandanya ada yang perlu dievaluasi. Saya mulai goyah. Pikiran buruk banyak menggelayut di awang-awang.

Mulai dari bisakah saya mengASIhi Husna hingga 2 tahun? Cukupkah ASI saya diminumnya hingga beres ASI Ekslusif?

Teringat disaat banyak sekali tetangga mertua yang memberikan bayi-nya MPASI dini. Pikiran khawatir saya terbang kesana. Bagaimana jika ternyata Husna harus MPASI dini?

Apakah saya menangis? Ya..

Tidak menyangka kemudahan diawal-awal kelahiran mengantarkan saya pada titik ini.

Saya pusing. Saya takut keputusan ini salah. Keputusan untuk tetap bertahan tidak menambahkan apapun pada Husna selain ASI. Saya takut keputusan keukeuh saya ini memperburuk keadaan.

Pergilah kami ke Dokter Spesialis Anak (DSA). Evaluasi dilakukan dan Husna dinyatakan sudah turun peringkat grafik pertumbuhannya. Meski belum terlambat kami membawanya kesana. Itu artinya masih sangat-sangat mungkin bisa diperbaiki. Semenjak Husna bisa menyusu dengan posisi tidur, ternyata disinilah awal mula masalah ketidak efektifan itu muncul. ASI yang masuk ke tubuhnya tidak maksimal.

Tetapi, ternyata disinilah kesadaran saya muncul. Bahwa mengASIhi memang tak pernah semudah kelihatannya. Disinilah hati saya diuji, ketika suami-pun merasa pasrah dan menyatakan “Ngga apa, toh anaknya masih gemuk ini. Masih aktif ini. Masih ceria dlsb”

Dan saya masih keukeuh dengan “mencegah Husna gagal tumbuh hingga stunting”

Ayolah, dukung aku ikhtiar penuh untuk tetap mengupayakan terbaik untuk Husna. Setiap saat ketika saya bisa pumping. Saya usahakan seberapapun banyaknya yang didapat akan saya berikan pada anaknya. Husna perlu ditambahkan booster ASI, selain direct breastfeeding dari saya. Dengan cara apapun, harus ditambahkan kuantitasnya.

Serepot apapun caranya.

Mungkin banyak yang belum aware dengan apa itu istilah stunting. Jika saya belum memiliki anak sampai saat ini, mungkin pengetahuan saya mengenai hal ini juga belum sampai pada tahap ini. Bahkan saya dan suami sempat mendebatkan apakah ini penting untuk diperhatikan. Sampai kami menyimpulkan sesuatu, jika kami masih mampu mengikhtiarkan dengan banyak cara untuk memberikan yang terbaik pada Husna, kami ingin terus mencobanya.

MengASIhi tidak hanya sebatas memberinya penghidupan. MengASIhi membangun jiwa, raga dan nalurinya menjadi anak yang hangat hatinya. MengASIhi mendekatkan hati kami (saya dan Husna). MengASIhi membentuk telepati kami. MengASIhi menyejahterakan keluarga kecil kami. Bahkan menentramkan hati saya dan suami.

Disini, saya (dan suami) tengah diuji. Untuk mencintai keputusan kami, mengASIhi Husna sepenuh hati.

Bismillaaah, mohon do’anya. Siapapun yang sempat membaca tulisan ini 🙂

Semoga kami mampu menjadi orang tua yang baik dalam membersamai Husna bertumbuh. Semoga ikhtiar yang sedang kami jalankan berjalan dengan lancar dan dimudahkan Allah.

Note :

Belajarlah sampai benar-benar mengerti bagaimana cara menyusui yang baik. Posisi dan perlekatan yang tepat. Mengerti dan memantau kebiasaan dan perubahan aktivitas dalam menyusui.

Juga memantau tumbuh kembang anak dengan baik.

Anak-anak yang kuat dan sejahtera. In syaa Allah jadi tabungan jariyah nantinya.

Sekali lagi, bismilaaah Allah mampukan kami.

#catatanASIHusna

Dari Husna : Belajar Sabar

“Sabar…sabar… Allah sayang kalo Husna sabar” (sambil tak elus-elus dadanya pakai tangan Husna yang kuraih)

Sikap seperti ini akan kulakukan waktu bingung harus menghadapi Husna yang lagi bingung juga menyampaikan maksudnya padaku. Semakin usianya bertambah memang apa yang dia maksudkan dan kami kurang paham akan keinginannya, dia akan tambah menyikapinya dengan gerakan-gerakan tertentu yang spesifik. Lapar sikapnya bagaimana, ngantuk sikapnya bagaimana, bahkan hanya sesederhana ingin diajak ngobrol-pun menunjukkan sikap yang berbeda. Bayi memang cerdas ya 🙂

Dari situ kami (saya atau suami) tau kalau ada yang tidak pas dengan perlakuan kami pada Husna.

Menjadi orang tua memang menjadi manusia baru. Mempelajari banyak hal baru. Belajarnya sepanjang hayat, sepanjang usia.

Saat kami bisa mengerti apa yang diinginkan Husna, rasanya seperti menambah catatan baru di kamus kami “kamus orang tua” namun ketika kami masih saja gagal mengartikan maksud keinginannya, seolah-olah seperti teka-teki yang gemas tak kunjung terpecahkan.

Bagiamana tidak, menjadi orang tua itu melatih kesabaran?

Nyatanya memang harus menjadi yang lebih sabar ketika waktu istirahat tersita.

Yang lebih sabar ketika pikirannya bertambah.

Yang lebih sabar ketika siang malam terjaga.

Yang lebih sabar ketika ada yang lebih utama dan menjadi prioritas.

Tapi itu semua karna Allah sudah percaya bahwa amanah ini tidak pernah salah untuk diberikan.

Karna Allah menghendaki kami dididik untuk belajar bersabar langsung dari sosok kecil yang menjadi anugerah besar dalam hidup pernikahan kami.

Menjadi orang tua, menjadi teladan.

Mengajari Husna tentang sabar, kami haruslah menjadi sabar terlebih dahulu.

Bismillah, Allah mampukan 🙂

Merawat Diri, Merawat Pernikahan

3 bulan pasca melahirkan rasa-rasanya kondisi wajah dan tubuh jadi ngga menentu. Belang sana-sini, meskipun badan ngga terkategori yang melar dan tak kunjung kembali. Masih awet aja ramping (banget) nya.

Tapi, ada beberapa titik yang bikin suka ngga pede tetiba. Apalagi didepan suami. Karna saya bukan tipikal orang yang suka bermake-up ria. Bahkan punya blash on dan eyeshadow itu menjelang menikah. Dan pasca nikah cuma sesekali dipake-di rumah.

Suami juga selalu telat menyadari kalo ternyata ada yang berwarna di pipi ato dibagian mata. Jadi yasudahlah..

Tapi, seenggak doyannya dandan, bagian merawat diri bisa jadi bagian dari merawat pernikahan kan ya.. Menurut sudut pandangku yang terbatas ini, merawat diri semacam jadi bagian dari menjaga bagaimana diri ini tetep menenangkan dipandang pasangan. Menentramkan hati gitu.

Suka sering ngga nyaman dan mikir kalo pas dalam kondisi masih baru banget selesai masak, lalu suami pulang kerja. Bau minyak, bau dapur. Ato kalo sekarang, suka bau asi 😀 hehe

Begitupun dengan pilihan pakaian. Setelah menikah, acc beli baju termasuk yang lumayan susah banget lolos qc suami 😂

Pasalnya, entah kusuka modelnya suami tak suka warnanya. Akhirnya cancel. Yagimana, niat yang utama bikin suami betah memandang.

Merawat pernikahan itu ternyata banyak banget printilannya ya 🙂

Tapi sebetulnya banyak ide-ide sederhana yang bisa dilakukan supaya pasangan tetap membuncah setiap masanya.

Salah satunya, lewat merawat diri.

Pun, in syaa Allaah juga banyak hal yang bisa dilakukan suami merawat dirinya demi menentramkan hati istri 🙂

Wallahu ‘alam bisshawab

Ibu Yang Menangis

Kini aku tau,

Aku tidak perlu lagi malu mengaku pada anakku jika aku memanglah seorang ibu yang cengeng. Menangis didepannya saat aku ditinggalkan oleh ibuku untuk mengurusnya seorang diri (bersama suami) di tanah rantau.

Ternyata sesesak ini didada, rasanya melepas perjumpaan. Meskipun aku tau pertemuan itu akan datang lagi dan meski memang entah kapan.

Meskipun tak terhitung lamanya aku merantau, tapi pulang ke pelukan ibu memang tempat pulang terbaik :’)

Aku akan selalu kangen ibu meski hari itu seharian aku bertemu dengannya. Apalagi jika tak bertemu?

Setelah menjadi ibu baru, disinilah aku mengerti tentang hakikatnya tidur paling akhir dari siapapun di rumah, makan paling akhir dari semua anggota di rumah, yang paling khawatir tentang kondisi anggota keluarga. Yang terjaga di malam-malam panjang saat usiaku masih belia, yang terantuk-antuk menjagaku saat aku harus sakit, yang terbangun di awal waktu memastikan semuanya tersedia di pagi buta.

Aku menjadi tau.

Kini aku tau, mukena putih dan sajadah panjang ibu, saksi pahalanya tersimpan rapi.

Dan semua perabot yang setiap hari menjadi temannya berkisah, melegakan hati.

Review Aplikasi : Primaku

Bismillahirrahmanirrahiim..

Primaku adalah aplikasi keluaran milik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Pada interface awal ditampilkan berupa informasi berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala anak yang bisa kita isi setiap kali usai pengukuran/penimbangan.

Pada interface kedua, ada informasi seputar jadwal imunisasi sesuai aturan yang IDAI miliki. Jadi orang tua ngga akan terlewat akan jadwal imunisasi anak selanjutnya, sesuai rentang usianya. Pun, kalau dibuka penjelasan mengenai jenis imunisasinya, disana akan dijelaskan seputar jenis vaksin tersebut serta penanganan pasca imunisasi.

Disini user juga bisa input kapan anak melakukan imunisasi, agar tercatat seperti yang ada di buku KIA.

Bagusnya, di interface terakhir ada kumpulan stimulasi anak sesuai usianya sebagai informasi terutama bagi orang tua baru.

Seperti ini tampilannya.

Aplikasi ini bermanfaat banget kalau untuk saya pribadi. Karna saya jadi punya gambaran imunisasi apa yang akan dijadwalkan untuk Husna kedepannya. Tanpa perlu googling dulu seputar penjelasan vaksin tersebut.

Sekian, review aplikasi yang singkat ini 😀

Salam ibuk baru :))

08.11.18

Menjaga Kemuliaan Anak

Bismillahirrahmanirrahiim..

Perihal menjaga kemuliaan diri pernah saya dapatkan materinya di IIP sewaktu matrikulasi. Disana dijelaskan bahwa apapun yang kita perjuangkan sebagai seorang perempuan, dengan predikat istri maupun ibu. Harus ada yang kita ingat diawal adalah menjaga kemuliaan diri. Kemuliaan adalah yang menjadi acuan orang lain dalam melihat keberadaan diri yang dengan cara seperti apa kita menjaganya. Menjaga kehormatan diri adalah bagian dari menjaga kemuliaan tersebut.

Entah itu dalam berumah tangga, bergaul dengan teman sejawat, bergaul dengan client atau atasan maupun saat mencari rezeki.

Maka Bu Septi sering mengingatkan kami dengan slogannya Rezeki itu pasti, kemuliaan yang dicari.

Kali ini saya bukan ingin membahas mengenai kemuliaan diri. Tetapi tentang kemuliaan anak.

Maksudnya?

Begini, sejak ada Husna saya menjadi betul-betul mengerti betapa pentingnya saya sebagai seorang ibu menjaga kemuliaan anak-anak dimata orang lain. Bukan karena kita ingin anak-anak dipuji, disanjung -menampilkan yang baik- melainkan karena anak adalah amanah dari Allah yang tidak sembarangan. Menjaga kemuliaannya adalah menjadi bagian salah satu dari perwujudan menjaga amanah-Nya.

Selain karena Husna anak perempuan, yang sebetulnya (ini tergantung pemahaman masing-masing orangtua) mengingat saat ini menjaga anak laki-laki maupun perempuan sama sulitnya. Melihat banyaknya kasus korban pelecehan anak laki-laki yang marak beberapa waktu terakhir. Dan dalam seminarnya, Bu Elly Risman justru mengatakan menjaga anak laki-laki memiliki tantangan lebih besar karena secara tidak langsung anak-anak tersebut lebih mudah dirangsang secara fisik.

Lalu bagaimana bentuk penjagaannya?

Ada banyaak sekali sebetulnya bentuk menjaga kemuliaan anak. Misalnya dengan tidak memposting fotonya di sosial media dengan foto yang berisikan anak memakai pakaian minim, anak sedang mandi, anak sedang berpose yang tidak sewajarnya untuk ditampilkan ; dalam pose ngupil misalnya. Atau dalam pose buang air kecil.

Terlepas dari mengenai sosial media memang sarana untuk menampilkan sesuatu yang cenderung bersifat baik dan bagus.

Pun, bukan semata-mata untuk terlihat lucu dan sebagai orangtua kita mengiyakan saja dengan dalih “Toh, masih kecil”

Kalau saya pribadi berpendapat begini, jika anak sudah bisa ditanya maka maukah ia ditampilkan seperti itu? Diperlihatkan pada khalayak umum dengan kondisi demikian?

Sama halnya jika menanyai pada diri sendiri. Maukah kita menampilkan foto pribadi dengan kondisi tersebut?

Kita selalulah menampilkan foto dengan pose terbaik dan kualitas terbaik.

Atau, begini…

Meminta ijin terlebih dahulu ketika ingin memposting foto anak orang lain. Bolehkah anaknya ditampilkan?

Apakah orangtuanya berkenan jika foto anaknya dilihat oleh pengguna sosial media yang bukan dalam lingkarannya?

Atau, semisal boleh foto seperti apa yang boleh ditampilkan?

Saya punya cerita, seorang teman menceritakan bahwa ketika itu anaknya sedang bermain air di sebuah tempat terbuka dengan pakaian minim. Disana memang ada banyak sekali anak-anak yang bermain. Namun ada salah seorang, orangtua yang memfoto anaknya, dengan posisi anak teman saya tersebut masuk ke dalam frame jepretannya. Apakah ini salah teman saya atau salah orang tersebut?

Bagi saya, jika jangkauannya masih tampak didepan mata alangkah lebih baik saya meminta ijin untuk tidak membiarkan anak saya masuk ke dalam frame dengan cara memposisikannya menjauh terlebih dahulu. Namun jika jangkauannya jauh dan kita tidak tau menau, alias nggak didepan mata sendiri sih ndapapa.

Bahkan, jika dalam IIP saat itu saya pernah mendapatkan insight seperti ini ;

Ketika kita sebagai orangtua, berada dalam sebuah majelis dimana anak-anak ada di dalamnya. Maka menjaga tingkah laku anak adalah bagian dari upaya orangtua menjaga kemuliaan anaknya dimata orang lain. Karena menjatuhkan nilai kemuliaan anak menjadikannya berimbas pada ; yang melihat anak-anak akan mendo’akan, membatin, sesuatu yang tidak semestinya.

Katakanlah sederhananya begini, ada seorang anak yang berlarian di dalam masjid sambil berteriak-teriak kegirangan. Bagi anak-anak itu adalah sebuah sikap yang wajar. Mungkin sebagai bentuk ungkapan senangnya berlarian di tempat yang leluasa, misalnya. Namun ketika orangtua-nya mengabaikan saja, hal tersebut akan menjadikan oranglain memandang berbeda. Tidak menampik ada yang mengatakan “Anak siapa sih, lari-larian kok di Masjid. Kok orangtuanya gak larang ya?”

Hmm…

Saya juga masih belajar menjadi orangtua, belum ada dua bulan lamanya perjalanan baru saya meniti karir disini.

Semoga apa yang menjadi resah dalam pikiran saya malam ini bisa tersalurkan dengan baik. Pun yang berkenan membaca, menjadikan tulisan ini bermanfaat baginya.

Yang benar hanya milik Allah, yang salah sepenuhnya milik saya.

Wallahu ‘alam bisshawab.

07.10.18

Review Website : Anak Bertanya

Bismillahirrahmanirrahiim..

Laman web ini kali pertama saya temukan entah kapan hehe, yang saya ingat betul saya menemukannya dari laman tumblr yang hits pada masanya.

Laman website anak bertanya ini memiliki kepanjangan Anak Bertanya Pakar Menjawab. Dan kini tim mereka membuat fitur-fitur baru yang semakin lengkap diantaranya Anak Bertanya Mahasiswa Menjawab & Anak Bertanya Guru Menjawab.

Seru sekali membaca pertanyaan-pertanyaan polos milik anak-anak. Mereka bertanya sesederhana darimana asalnya awan?

Mungkin bagi sebagian orangtua ini adalah pertanyaan yang mengejutkan dan jika saya yang ditanya saya akan pilih melipir mempelajarinya dulu ketimbang jawab asal-asalan 😀

Gapapa deh ngaku ya sama anak, daripada menurunkan ilmu yang ngga bener.

Pun, kewajiban belajar lebih utama ada pada orangtua daripada kewajiban belajar untuk anak-anak.

Sayangnya di-era yang kini bisa mengakses segala hal lewat aplikasi (Android misalnya) bagi saya laman web ini mestinya lebih mudah diakses jika ada aplikasi matangnya di Play Store. Bukan mengakses via web searching ; Google, Yahoo, Opera dll

Rasanya lebih mudah nampak dalam genggaman jika dibuat bentuk aplikasi mobile.

Kira-kira beginilah tampilannya..

Nah, siapapun juga bisa menjadi relawan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan disini. Hanya saja, akan diseleksi oleh tim yang mana yang berhasil dipublish.

Sekian review kali ini.

Semoga harimu menyenangkan 🙂

07.11.18