Review : School Of Life Lebah Putih

Prolog –

Setahun lebih berjalan, saya mengenal dunia pendidikan dan itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan ibu kos saya yang 40 tahun mengabdikan dirinya di dunia tsb. Kenapa gitu sampe bawa-bawa ibu kos 😂.

Sejak mengenal lebih dekat dan berinteraksi langsung setiap harinya dengan anak-anak membuat saya benar-benar merasa “it’s me” saya yakin dengan diri saya sendiri, saya pede, saya semangat dan semakin merasa hidup.

Cerita panjang yang akan saya ceritakan dibawah adalah rangkaian perjalanan beberapa hari yang lalu.


Alhamdulillah, Allah mengijinkan saya untuk mengulik salah satu kebaikan yang tersembunyi dibalik kenyamanan kota Salatiga. School of Life Lebah Putih milik Padepokan Margosari ; Bu Septi Peni Wulandari dan Pak Dodik Maryanto. Dinamai sekolah alami dan sekolah kehidupan.
Letaknya tidak jauh dari Kota Salatiga dengan suasana yang tenang dan sejuk. Lokasi Lebah Putih memang sedikit masuk ke dalam dan tidak berada persis di pinggir jalan raya.


Sekolah ini mengunggulkan character value di kegiatan yang ada di dalamnya. Tidak seperti yang notabene kita tau bahwa kegiatan sekolah selalu terpaku dengan duduk manis di dalam ruang kelas, buku-buku cetak serta jam pelajaran yang mengikat. Sekolah ini memberikan suasana lain dalam belajar sehingga anak-anak justru betah di sekolah.

Awalnya yang bikin saya amaze dengan cerita Enes adalah yang diuji pertama kali untuk mendaftar di sekolah ini justru orang tuanya. Orang tua betul-betul dilibatkan langsung dalam kegiatan belajar yang dialami siswa. Bukan dalam artian orang tua ikut dalam keseharian belajar, tetapi terlibat untuk “nyemplung” sebagai role model bagi si anak. Karena semua anak memiliki hak yang sama untuk mendapat pengajaran, maka yang betul-betul diuji adalah orang tuanya. Apakah orang tua bersedia memiliki komitmen untuk membersamai tumbuh kembang anak, meskipun anak telah dititipkan di sekolah.

Contohnya seperti ini, setiap hari Jum’at, Lebah Putih selalu mengadakan event yang bernama Kelas Bintang. Kelas Bintang ini memiliki kegiatan yang dipandu sendiri oleh orangtua dan beliau-beliau akan mengajarkan secara langsung kemampuan yang dimiliki. Entah itu dibidang memasak, dibidang musik ataupun dibidang lainnya.

Dari sini maka timbullah rasa bangga dari anak melihat orangtuanya memiliki sikap tauladan yang nantinya akan menumbuhkan berlipat-lipat kebanggaan dan rasa percaya diri si anak dengan melihat orangtuanya. Tidak hanya itu, selama anak dan orangtua menjadi bagian dari Lebah Putih, orangtua diberi wadah tersendiri untuk membentuk komunitas yang nantinya akan terus berlanjut, baik setelah kelulusan anak dari Lebah Putih. Para orangtua ini membentuk komunitas-komunitas belajar yang terdiri dari banyak sekali minat belajar dan akhirnya saling berbagi.

Jika keluarga A memiliki minat belajar dalam bidang matematika, maka keluarga yang lain akan belajar dari keluarga A. Jika keluarga B memiliki minat belajar dalam bidang kesenian, maka keluarga yang lain akan belajar dari keluarga B tersebut. Dari sanalah tumbuh lingkaran keluarga yang semakin meluas dan kebermanfaatan akan terus berputar disebarkan. Keren ya 😍


Lebah Putih setiap tahunnya memiliki goals value yang akan diterapkan dan tahun ini, menanamkan nilai disiplin. Jadi nilai inilah yang akan ditanamkan oleh pengajar dan orangtua melalui kegiatan apapun dalam kesehariannya. Untuk itu sangat diperlukan sekali kerja sama antara semua komponen yang terlibat. Mengingat kegiatan belajar di sekolah hanya menghabiskan waktu kurang lebih 7 jam dan sisanya dilalui dirumah bersama orangtua.

Sekolah ini tidak ingin, hanya menjadi wadah dititipkannya anak-anak dan mencekoki mereka dengan hal-hal yang berbau akademis, sedangkan sekolah adalah fase yang memang perlu dilewati anak untuk mempersiapkan kehidupan dan masyarakat.

Pun adaaa kegiatan makan bersama yang sebagai seksi sibuknya pun anak-anak sendiri, mulai dari menyiapkan makanan, mencuci piring dan menata peralatan. Betul-betul pembiasaan ditanamkan di semua penjuru.

Saat berkunjung kesana, sayangnya kegiatan sudah selesai lebih cepat, karena ada agenda imunisasi. Jadilah saya tidak kebagian melihat anak-anak langsung. Namun ada 2 anak tersisa menunggu jemputan orang tuanya, mereka adalah Omar dan Keanu. Ketika ditanya apakah mereka betah sekolah disini, jawaban polos ala anak-anak “Betah, malah nggak pengen pulang”

Beda ya, beda banget dengan kondisi sekolah yang ketika bel pulang berbunyi, anak-anak justru saling lari sana-sini supaya lebih cepat pulang dan bermain dirumah.


Merinding melihat sebegitu dalamnya niat yang dipegang oleh semua pihak demi membangun generasi kuat di masa mendatang 😊

Akhir kata, semoga yang sedikit ini bisa memacu siapapun untuk punya pandangan yang lebih baik dan lebih maju lagi tentang pendidikan anak. Karena kalau kata Bu Septi Peni, sebetulnya semua harus dimulai dari dalam keluarga.

Jadi semoga, semakin banyak yang sadar akan betapa pentingnya meninggalkan generasi kuat untuk menghadapi jaman di masa mendatang 🙂

Surabaya, 23.08.17

Cerita Jogja (1) : Mbak Masiti

Introvert bukan dalih untuk mendispensasi diri dari pergaulan yang terbuka. Meskipun memang seorang introvert, memiliki caranya sendiri untuk mengembangkan kemampuan bersosialisasinya. Kira-kira apa jadinya kalau sesama intro saling ngobrol?

Saya ucapkan beberapa kalimat diatas sembari berkaca, ngandani awake dewe (menasehati diri sendiri) wkwk.

Sabtu sore saya mbolang ke Jogja, modal pas-pasan dan ada seorang teman yang berniat saya repoti untuk bermalam. Kami lama sekali tidak bertemu semenjak kurang lebih 1,5 tahun, teman semasa kuliah dulu. Saya kenal beliau sebagai sosok yang tertutup namun selalu tampak optimis dengan pilihan-pilihan yang diambilnya.

Langkah kakinya cepat dan jarang basa-basi.

Flashback nya, dulu ketika di tahun pertama perkuliahan saya sering merasa roaming sewaktu kami ada dalam satu momen, atmosfir disekitar kami menjadi sangat sepi 😂

Nah! Sore itu obrolan kami random sekali, tiba-tiba tertawa dan menangis. Tapi untuk kali ini saya tidak lagi merasa failed. Yang pasti, saya melihat sosok beliau kini tidak seperti 2 tahun yang lalu 😊

Awalnya saya terlanjur su’udzon lebih dulu, gimana kalo ini nanti akan tetep sama krik-kriknya 😂

Saya cuma mbatin “padahal aku dah berusaha cari celah gimana caranya supaya obrolannya dak pasif”. Dan ternyataaaa, saya justru dapet yang lebih dari itu. Banyaaak sekali yang beliau ceritakan tentang meredam ego, tentang komitmen menjalankan sebuah pilihan, tentang berdamai dengan diri sendiri, tentang penerimaan bahwa takdir Allah selalu baik.

Bagaimanapun cara yang Allah miliki, terkadang kitalah yang kurang notice dengan kode-kode yang Allah kasih.

Dari situ saya semakin percaya ; 

Tiap manusia diuji dengan ujian masing-masing. Tiap-tiap manusia memiliki track perjuangan masingmasing. Dan Allah telah membuatkannya sesuai dengan batas kemampuan yang dimiliki.

Dari beberapa curhat yang tidak bisa diceritakan disini, yang saya tangkap untuk menasehati diri sendiri adalah 

  • Manusia selalu punya rencana, seeee rapih apapun itu, kalau Allah ndak berkehendak maka ya gak akan terjadi.
  • Kunci utama hubungan horisontal adalah berdamai dengan diri sendiri
  • Kunci utama hubungan vertikal adalah selalu berusaha husnudzon ke Allah, Allah yang akan jamin nasib kita.
  • Dan menerima bahwa rencana Allah pastilah yang terbaik. Terakhir ini kelihatannya sepele. Tapi penerimaan selalu beriringan dengan rasa ikhlas, yang sulit sekali dijalani.

Honestly, prolog saya mungkin kurang nyambung yak 😂

Aslinya cuma pengen cerita dan pengen bilang bahwa perjalanan itu pasti membawa hikmah. Sekecil apapun kita menyadari, tapi semoga dari yang kecil pun kita bisa ambil pelajaran dan diamalkan 😊

Epilognya : Saya pengen foto sama mbak mas (panggilan untuk mbak masiti) didepan tulisan UGM tapi dak boleh 😥 katanya ada mitos berakibat lulusnya lama wkwk. Anyway, semangat S2 nya mbaaakkk 😍

Mencari Ilmu ada Adabnya lho! 

muslimah.or.id

Ilmu adalah harta yang tidak akan habis dimakan waktu, ilmu adalah amal jariyah yang tidak akan pernah terputus dan ilmu adalah syarat diterimanya amal.

Tapi sebelum mencari ilmunya, taukah kita tentang adabnya?

Ternyata mencari ilmu pun butuh adab lho!

Supaya ilmu yang didapat nantinya akan terserap dengan maksimal dan kebermanfaatan ilmu yang didapat nantinya bisa terus dilanggengkan.

Sejauh melangkah dan sebesar ini diri bertumbuh, bukankah kita sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk sekolah. Yang katanya, sekolah itu dilakukan untuk mencari ilmu.

Adab mencari ilmu adalah aturan atau tata krama yang distandarkan pada diri, untuk dipatuhi dan dilaksanakan demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.

Jika mencari ilmu hanya terkotak-kotakkan pada sekolah formal, maka kita akan menganggap hanya ditempat tersebutlah kita mendapatkan ilmu tersebut. Namun berbeda jika kita memiliki sudut pandang bahwa dimanapun tempatnya kita bisa mendapatkan ilmu (hikmah), maka kita akan menghargai segala sesuatu tersebut sebagai perantara penyampai ilmu.

Bukankah ilmu yang kita dapat bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup kita? Bertujuan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan pun yang lebih jauh adalah meningkatkan kualitas keimanan kita. 

Karena ilmu yang kita miliki, semestinya kembali digunakan di jalan yang benar.

Barang siapa yang menimba ilmu, semata-mata hanya karena ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya.

Namun barang siapa menuntut ilmu karena ingin mengamalkannya, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat.

  • Adab adalah sebagai pemantik terbukanya pintu-pintu ilmu dari manapun
  • Adab adalah suatu hal yang tidak bisa diajarkan, tetapi ditularkan

    Berikut adalah adab mencari ilmu terbagi ke dalam 3 bagian ;

    ___

    Adab pada Diri Sendiri

    • Ikhlas dan bersedia membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk
    • Selalu bergegas, mengutamakan waktu
    • Menghindari sikap “merasa lebih tau”
    • Menuntaskan ilmy yang sedang dipelajari, diulang dan dituliskan. Sabar hingga pembelajaran selesai.
    • Bersungguh-sungguh menjalankan tugas

    Adab terhadap Guru Penyampai Ilmu

    • Berusaha mencari ridho guru, sepenuh hatu menaruh rasa hormat.
    • Mendekatkan diri pada Pemilik Ilmu
    • Tidak memotong pembicaraan guru, penuh perhatian terhadap ilmu dan penjelasan guru
    • Meminta ijin ketika ingin menyebarkan ilmu tersebut. Mencantumkan sumber sebagai bentuk penghormatan kita.

    Adab terhadap Sumber Ilmu

    • Tidak meletakkan sembarangan buku yang kita pelajari
    • Tidak melakukan penggandaan dan mendistribusikan secara sembarangan
    • Tidak mendukung plagiator
    • Dalam dunia online, tidak dianjurkan menuliskan copas dari grup sebelah
    • Dalam dunia online jangan mudah percaya sampai paham pada sumber ilmu yang kredibel

    ____

    Semoga dengan mengertinya kita akan tata krama dalam mencari ilmu, tujuan kita dalam mencarinya senantiasa dimudahkan dalam jalan yang baik. Karena ilmu menjadikan kita berarti saat masih hidup maupun tiada. Semangat mencari ilmu ya! 😊

    ➖➖➖

    Tulisan diatas merupakan rangkuman Materi #1 Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #4, yang saya tulis untuk catatan pribadi di buku kemudian saya tuliskan ulang disini dengan bahasa saya sendiri.

    Referensi Utama : Materi Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #4

    Semoga bermanfaat 🙂

    Surabaya, 18 Agustus 2017

    [Review] Buku Panduan Mengurus Bayi (?)

    Belum nikah tapi sok pengen tau banget, tetek bengek urusan per-bayi-an 😂

    Ndapapa i laf maiself.

    Jadi buku tebal dan berwarna-warni inilah buku dunia per-bayi-an yang bikin saya love at the first sight. Yeah!

    Sebetulnya, ini bukan buku dunia bayi pertama yang saya baca, tapi ini buku pertama yang bikin jatuh cinta.

    Buku dengan total 392 halaman ini adalah buku yang ringan dibaca buat emak muda dan calon emak. Meski memang kurang handly dan cocok di saku. Dalam artian sesungguhnya maupun kiasan.

    Dari buku inilah, bahkan saya mendadak punya perasaan jatuh cinta ke calon bayi yang bapaknya pun masih disimpen Allah -skip.

    Judul = Anti Panik Mengasuh Bayi 0 – 3 Tahun

    Penerbit = Tiga Generasi

    Dilihat dari judul, ketebak kan isinya apa? 

    Yap. Isinya akan ngublek-ngublek emak (dan bapak), untuk punya modal gimana caranya jadi orangtua bayi dengan rentang umur dimulai dari 0-3 tahun. Kenapa saya bilang ada bapak juga disana, karena banyaaak sekali alasan yang membuat ayolah para bapak, jangan jadikan anak-anak kita menjadi generasi tanpa ayah. Ada ayah namun tidak pernah andil dalam pengasuhan sang anak.

    Dan dibuku iniiii, ada banyak sekali do and don’t yang gak cuma dikhususkan buat ibu. Tapi juga buat bapak 🙂

    Buku ini fullcolour sekali dan bahasanya mudah sekali dipahami. Saya dapat dengan harga 130rban karna ada potongan di salah satu olshop hihi. Tapi harga asli sekitar 160 ribu rupiah 🙂

    Kalau temen-temen mau cari, insyaAllah offline di toko buku ada, tapi setau saya tidak ada selain di Gram****

    ___

    Kenapa harus buku ini?

    Bagi saya pribadi, sifatnya tidak menjadi harus. Tapi cukup baik dan menjadi tambahan pandangan untuk pembelajaran orangtua muda maupun calon orangtua.

    Dibuku ini pun ada banyak sekali ditulis tentang mitos maupun fakta yang sering kita dengar dan menjadi bahan simpang siur di kalangan masyarakat. Nah, bagi saya buku ini bisa menjadi salah satu referensi yang baik dengan latar belakamg kumpulan penulis yang mengerti dibidangnya. Diantara banyak kemudahan akses informasi yang bisa didapat saat ini, bagi saya pribadi buku cetak masih menjadi prioritas selama saku belum terlalu bolong 🙈.

    Meski memang dalam kenyataannya dan dari berbagai kisah orangtua muda yang pernah saya dengar dan ikuti, mendidik anak tidak pernah semudah yang terlihat. Apalagi semudah ketika membayangkan yang ada di buku.

    Mendidik anak memang akan menjadi fase belajar sepanjang hayat dan melalui media apapun saya berusaha mengumpulkan ilmu untuk mempersiapkannya. Salah satunya melalui buku 🙂

    Semoga bermanfaat!

    Quarter Life Crisis

    Udah lama ndak nulis. Pagi tadi saya berasa up down. Emang dasarnya gampang banget begitu 😂.

    Tapi balik ke diri sendiri, kalo mau mager memang akan terus nothing dan justru menjadi pemicu untuk terus seperti itu.

    Membuka facebook pagi ini, yang saya dapat adalah reminder tentang 2 tahun yang lalu. 08 Agustus 2015, fase wisuda terlaksana. Wisuda tingkat sarjana 🙂

    Alhamdulillah, karena ujian untuk menujunya selalu memiliki keseruan masing-masing. Tidak akan sama ukuran ideal setiap orang, termasuk tentang waktunya.

    Jika mengingat masa-masa sulit pada saat itu, rasanya lamaaaa banget endingnya, ada saja yang menjadi kerikil. Ada saja yang memicu untuk jatuh. Dan memang perjuangan selalu mengiringi setiap fase yang dilalui anak manusia dalam bertumbuh 🙂

    Saya mensyukuri telah melewati fase-fase tersebut.

    Dalam beberapa artikel yang saya temui, usia 18-25 tahun adalah masa dimana quarter life crisis terjadi. Banyak sekali hal yang harus diputuskan dan ditimbang matang-matang agar tidak menjadi sebuah kesalahan yang berlanjut.

    Mungkin saya menjadi salah satu bagiannya 😂. Akan mulai terasa bagi remaja yang memutuskan kehidupan sekolahnya masa SMA dan memilih untuk melanjutkan kuliah. Masa-masa kuliah adalah masa dimana penjajakan terhadap semua jenis kegiatan dan organisasi pun menarik hati. Pada akhirnya menjajali semuanya dan menjadikannya modal “dapet pengalaman”.

    Masa kuliah berakhir akan datang pertanyaan, kerja dimana, mau ambil bidang apa, bisnis atau kantoran, nikah atau s2 dlsb. Sebagai generasi Y yang mulai mengenal istilah passion dan life goals dalam hidup, manusia remaja setengah dewasa khas ini akan mengawali hari-harinya dengan galau dan pusing-pusing ria.

    Bahkan 2 tahun pasca lulus saya masih bergelut dengan diri sendiri menentukan hal ini. Beruntungnya dengan mengikuti program matrikulasi IIP, saya mulai mengenal bagaimana saya mampu membentuk diri.

    Saya seperti manusia dengan tipe generalis. Banyak sekali hal yang menjadi minat saya namun yang benar-benar spesifik didalamnya tidak ada. Hal ini tentu menjadikan langkah tidak kunjung diambil, terus-terus berputar dengan pikiran “bisa manfaat betul gak ya, ah udah banyak yang ambil bidang itu, yakin gak ya bakal bisa ngembangin dan seabrek dugaan yang membuat stuck berkepanjangan.

    Pada suatu ketika, obrolan saya dengan seseorang. Dia mengatakan “Ambil, yakini, pelajari dan mulai”. Saya terkekeh memikirkan langkah awal apa yang harus saya tentukan. Rasanya pengen semuaaa 😅

    But, you’re special with ur way.

    Jadilah kudunya yang dilakukan dalam masa Quarter Life Crisis ini menurut saya ;

    1. Buatlah jejaring pertemanan positif sebanyak mungkin
    2. Perdalam dan mengertilah diri sendiri
    3. Jangan memaksakan kehendak, kayaknya lebih great kalo melakukan A, tapi kapasitas diri cuma sampai di B. Stop, teruskanlah menekuni ysng betul-betul membuatmu suka dan bisa untuk melakukannya. Karena yang tau tentang hal itu ya cuma dirimu sendiri.
    4. Stay calm dan perbanyak mengupgrade pengetahuanmu tentang banyak hal.
    5. Pede dan it’s oke ndapapa. Kamu hebat dengan caramu sendiri.
    6. Fokus!
    7. Selamat mencoba

    Wallahu ‘alam 😊

    Semangat yaaaa! Semangat kita!

    Surabaya, 080817

    Saya adalah Agen Perubahan

    Menuliskan ini seperti memulai tanggung jawab baru. Tidak lagi hanya merencanakan, tidak lagi menentukan langkah awal, namun menjalaninya. Mengupayakan untuk terus berkembang dan berubah dengan tujuan yang lebih luas.

    Selama mengikuti program matrikulasi IIP ini peserta di ajak untuk disiplin terhadap diri sendiri dan terlebih dahulu. Bagaimana menentukan pembelajaran dimulai untuk diri sendiri, sebelum nantinya akan diterapkan dalam rumah tangga, dalam masyarakat sekitar dan dalam cakupan yang lebih meluas.

    Setelah step by step nya telah dilewati, untuk menjadi agen perubahan kita akan melihat dari beberapa sudut pandang, dimulai dari ;

    PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE

    Social Venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan.

    Sedangkan social enterpreneur adalah orang yang menyelesaikan isu sosial di sekitarnya menggunakan kemampuan enterpreneur.

    Dimulai dari menemukan rasa emphaty terhadap sebuah permasalahan yang dapat kita temukan serta menemukan solusi yang dicapai dengan passion dan memerdekakan nasib sendiri.

    Tanpa menunggu bantuan orang lain, maka individu tersebut akan bisa memulai dari dirinya sendiri terlebih dulu.

    Sejatinya, banyak sekali langkah yang bisa diambil, namun apabila tidak dijalankan dengan fokus maka hasilnya tidak akan maksimal.

    Melihat atmosfer disekitar tempat tinggal dan tempat beraktifitas, juga menjadi salah satu poin penting yang perlu diperhatikan dalam meneruskan langkah untuk berproduktif. Dari situlah area yang bisa dijadikan bahan rasa emphaty. Berangkat dengan rasa emphaty, kemudian merumuskan bagaimana diri akan belajar mengupgrade diri serta menghasilkan output yang nantinya akan memiliki andil dalam kehidupan.

    Prosesnya memang akan sangat panjang, namun jika tidak dimulai maka tidak akan ada hasil yang selama ini telah diharapkan.

    Di bawah ini adalah pemetaan dari social venture yang berangkat dari rasa emphaty yang nantinya ingin sekali saya wujudkan satu persatu. Dimulai dari diri sendiri.

    Bismillahirrahmanirrahiim..

    Kehilangan itu Niscaya

    Terhitung lima jam berlalu, ketika saya menuliskan ini, fikiran sudah sedikit fresh. Lalu yang muncul pertama kali adalah yuk nulis yuk.

    Jum’at, 28 Juli 2017 10.53 WIB

    Menjelang sholat Jum’at saya berjalan sendirian di sebuah kampus, ingin menjangkau kantin yang tinggal beberapa meter lagi. Saya berhenti sebentar didepan sebuah lapangan dan jalan yang sedikit lengang karena ada seorang asing bertanya tentang arah gedung sebuah fakultas yang tidak saya kenali. Karena saya bukan mahasiswa di kampus tersebut.

    Pertanyaannya kenapa saya bisa jalan-jalan sendirian (?) di kampus orang pula (?)

    Pertama, saya ingin bertemu teman yang sedang kuliah disana, meski pesan Whatsapp saya tak kunjung dibalas, karena beliau masih sibuk. Maka saya parkirlah motor dan saya memutuskan berjalan kaki sebentar menuju kantin kampus tersebut. Sambil wifian (?)

    Kedua, saya adalah orang yang sering sekaliiii merasa nyaman kesana kemari seorang diri.

    Kembali ke orang asing-

    Dia berhenti sejenak, bertanya dan saya menjawab tidak tahu. Lalu dengan cepat, dia meminjam handphone untuk miskol temannya. Iya miskol, ujarnya. Karena pulsa saya ada, maka tersambunglah telfon tersebut dan dengan cepat lalu diangkat. Sempat terjadi pindah handphone dan pindah lagi. Dari tangan saya ke tangan orang tersebut dan ke tangan saya lagi dan balik ke tangannya lagi.  Tiba-tiba saya menjadi blank, saya tidak ingat bagaimana dia menawarkan sebuah hpnya yang jadul sebagai jaminan. Beberapa detik kemudian, hp saya telah dibawanya naik motor.

    Lima menit saya masih menunggu, diam saja disitu, delapan menit. Sampailah sepuluh menit, saya baru panik. Pikiran positif saya tentang “oh iya itu tadi cuma dipinjem” kian memudar. Nangis, sudah tumpah semua.  Saya kelimpungan, tidak terfikirkan apapun. Mencoba mencari pertolongan, dapatlah saya seorang mahasiswi kampus tsb. Saya memintanya untuk membantu menghubungi terus nomor di hp itu, masih tersambung hingga kira-kira 20 menit lamanya. Kami berdua mencari bala bantuan lain dan mengupayakan lacak via gps. Ternyata gagal, karena gps saya masih nonaktif.

    30 menit berlalu, tangis saya sudah hilang. Ada rasa pasrah, ada rasa bagaimana jika terus dicoba. Maka telfonpun terus dilakukan.

    Nyambung!

    Nyambung, diangkat-tanpa suara. Putus.

    Nyambung lagi! Lagi-lagi diangkat tanpa suara.

    Nyambung lagi! Tut.

    Tut tut.

    Tuuutt.

    Sudah, akhirnya saya menghela panjang. Ikhtiar sudah, gupuh juga sudah. Sisanya, jika rejeki pasti kembali, kalau tidak. InsyaAllah diganti yang lain.

    Kata orang kebanyakan, itu adalah gendam. Sebuah tindakan kriminal entah mencuri, mencopet, dkk dengan cara membuat korbannya tidak menyadari. Entah dibagian mana saya dibuat tidak sadar, tapi saya merasa kejadian itu cepat sekali terjadi.

    🙂


    Itu baru handphone.

    Pikiran saya terus berkelebat kejadian tadi, memikirkan banyak hal. Tapi sesal memang selalu diakhir dan tentu sama sekali tak berguna apa-apa. Allah seperti ingin menyadarkan banyak hal untuk saya.

    Hati saya terus membatin, itu baru hp. Sesakit itu manusia yang suka menggantungkan perasaannya terlalu jauh pada kefanaan.

    Macam takdir. Ketika diingat-ingat, lalu membuat pengandaian (coba tadi gini, coba tadi gitu) kalau sudah takdir maka kun. Allah sudah membuat nas  hari ini kamu akan mengalami ini. Seberapa kuat kamu menjalaninya? Seberapa ikhlas kamu melepaskannya? Seberapa jauh pikiran dan perasaanmu memahami bahwa di dunia ini semua bukanlah kepunyaanmu, bahkan dirimu sendiri.

    Huaaa, dua kalimat diatas adalah tulisan yang biasa saya tulis. Saya seperti merecall tulisan lama. Kali ini betul-betul “it’s your time”


    Ada hikmah.

    Setiap kejadian pasti ada hikmah yang bisa diambil. Ada evaluasi untuk perbaikan. Ada pembelajaran dari pengalaman.

    Ternyata ikhlas itu sulit.

    Sulit karena perasaan manusia yang “keduniawian” dan menyayangi dunianya. Itu wajar, tapi jika berlebihan maka tidak baik. Semua jika berlebihan pasti tidak baik.

    Dalam kurun waktu beberapa hari terakhir, saya sedang disibukkan dengan perasaan-perasaan khawatir kehilangan sesuatu. Mungkin disitulah Allah mengerti bahwa sikap saya terlampau berlebihan, maka Allah menguji dengan hal ini. Dengan kehilangan yang tidak seberapa.

    Setelah mendengar banyak nasehat, menenangkan diri, merefresh kembali fikiran, apa yang sedang saya alami tidak seberapa. Ada yang pernah mengalaminya lebih menyakitkan lagi, ada yang lebih-lebih merasakan pedih dibandingkan kehilangan ini.

    Jadi, untuk apa terus mengingat dan menyesali.

    Ikhlaslah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Mungkin dengan cara yang lain.


    Nasehat untuk diri sendiri yang bisa saya rangkum dan betul-betul harus saya camkan adalah ;

    • Kita boleh terus berprasangka baik terhadap orang lain, namun waspada dengan orang baru itu lebih penting
    • Tidak baik bagi perempuan, berjalan seorang diri di tempat sepi jika kondisi tidak sangat-sangat memaksa itu terjadi
    • Merasa dengan cukup terhadap apa saja yang dimiliki, karena sejatinya sungguh semua hanyalah titipan.
    • Lebih berhati-hati lagi
    • Memperbanyak dzikir mengupayakan menjaga diri, ketika berada di tempat baru dan sepi
    • Pasrah kepada Allah, ikhtiar dulu tentu dan tawakkal 🙂

     

    Semoga, kita dihindarkan dari kejahatan-kejahatan seperti ini. Semoga kita selalu dijaga Allah dalam setiap langkah. Amiin

    Surabaya.