[ Review Buku : CHSI ]


Tidak hanya satu dua hal di dunia ini yang membutuhkan sikap konsisten. Ada banyak sekali yang berpengaruh ketika suatu kondisi dijalankan dengan terus menerus atau sesekali satu dua kali lalu berhenti dengan masa yang cukup lama.

Sebagai penyandang status baru sebagai istri, pun yang sudah beberapa kali saya ceritakan di postingan sebelumnya. Bahwa fase ini membutuhkan terus menerus pembelajaran dan kesabaran yang tiada henti. Mulai dari kebiasaan yang banyak berubah ketika masih single dan kini sudah double.

Ada satu kebiasaan saya yang mulai terkikis adalah rutin membaca buku. Meski kami di rumah mempunya catatan pembiasaan membaca satu chapter setiap harinya. Namun ternyata ada saja yang menghalangi hal tersebut bisa berjalan sesuai sebagai mana yang telah di agendakan.

Beberapa hari terakhir saya memutuskan untuk membaca ulang (karena dulu semasa belum menikah sudah pernah membacanya) buku berjudul “Catatan Hati Seorang Istri” yang ditulis oleh Asma Nadia.

Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman-pengalaman nyata para istri yang entah rasanya ketika saya selesai membaca, lika-liku kehidupan berumah tangga menjadi semakin lekat :”)

Banyak rasanya yang ingin saya garis bawahi dari buku ini ;

  • Menikah selalu-lah tampak indah di awal-awal fasenya, namun jika sudha berada pada puncak keikhlasan dan lantaran satu-satunya niat pernikahan hanya karena ibadah. Maka keindahan pernikahan adalah nikmat yang bisa dicicipi dalam sekeping fase dalam kehidupan berumah tangga.
  • Menikah adalah ibadah seumur hidup, dimana syaithan ingin dan gencar sekali melancarkan serangan untuk menghancurkan kehidupan rumah tangga anak Nabi Adam.
  • Banyak hal yang dapat menjadi pengugur dosa dalam sebuah hubungan pernikahan
  • Banyak hal pula yang dapat menjadi celah syaithan untuk menelisik menjadi bumerang dalam kehidupan pernikahan
  • Pun di dalam buku ini banyak sekali kisah yang seolah tabu dibicarakan di khalayak umum, namun diungkapkan dan menjadi penyemangat khususnya untuk para istri.

 

Melalui buku ini pula Asma Nadia mewadahi para perempuan untuk meluruhkan perasaan-perasaannya melalui tulisan. Semoga berkah senantiasa melingkupi kehidupannya aamiinn yaa robbal ‘aalamiin..

Wallahu ‘alam bis showab.

Surabaya, 12.04.18

Apa Kabar Sabr Indonesia (?)

Assalamu’alaikum …

It’s been a long time,¬†rasanya saya tidak menulis. Ada beberapa hal yang menjadi prioritas dan saya pun belum kunjung menemukan apa yang ingin saya curhatkan kembali di blog. Namun siang ini, tiba-tiba saya teringat website Sabr Indonesia.

Sebelum adanya postingan ini, saya juga belum pernah sih membahasnya wkwkw

Sebetulnya apa Sabr Indonesia?

Sabr Indonesia adalah sebuah portal kebaikan hasil kesepakatan akumulasi dari mimpi saya dan suami untuk membangun rumah tangga kami disini. Beralaskan ide-ide visual desain grafis, membuat aplikasi-aplikasi android yang bermanfaat dan nantinya pada puncak mimpi kami, kami ingin membangun sebuah yayasan yang dapat membantu banyak anak muda meraih mimpi-mimpinya.

Banyak sekali cabang harapan yang sudah kami tuliskan di dahannya dan kami ingin menumbuhkannya dengan kesabaran. Maka dari itu kami namakan sabr. Yang tidak lain adalah artinya sabar.

Landasan kami menumbuhkan mimpi disini adalah selalu kembali pada sifat sabar dan kesyukuran sebagai sifat alamiah yang harus dimiliki setiap manusia untuk mendekat pada Rabbnya. Semoga Allah mampukan kami memiliki sifat-sifat ini. Aamiin

Namun apakah sabar itu mudah dilakukan?

Jawabannya jelas : tidak.

Untuk itu kami perlahan sabar, ketika ada saja sesuatu yang membuat kami menunda untuk melangkah atas nama sabr. Ada banyak hal yang perlu dipahami apalagi dalam kehidupan berumah tangga. Termasuk dalam team untuk menumbuhkkan sabr. Namun tidak lantas membuat kami terus berleha-leha, melupakan niat dan tujuan kami.

Saya tiba-tiba ingat karena dalam kurun waktu 2 bulan terakhir kami banyak vacuum  mengingat website kami pun masih underconstraction. Dan belum bisa kami lanjutkan untuk sementara waktu karena alasan tertentu.

Mengingat sabr membuat saya kembali bergairah dan mengumpulkan afirmasi-afirmasi positif untuk memupuk diri. Kondisi jeda seperti ini memang harus dipahami bahwa diri kita sedang membutuhkan spasi atau waktu. Bukan dalam artikata mundur namun berhenti sejenak untuk merumuskan kembali goals yang telah disusun dan mestinya kembali untuk dilanjutkan dan diperbaiki kedepan.

Semoga apa yang menjadi cita-cita, mimpi, pengharapan kita semua senantiasa membuat kita ingat bahwa Allah lah pemilik rencana terbaik. Terlepas dari semua itu, berusaha dan berdo’a tetaplah langkah yang perlu terus diupayakan.

MIND MAP SABR

Surabaya, 2.3.2018

 

Mengerti

Akhir-akhir ini aku melihat
Sepertinya di fikiranmu sudah terprogram sesuatu
Tanpa aku bertanya
Tiba-tiba saja banyak hal menjadi beres dan kamu tersenyum
Tanda “alhamdulillah” menggema, mengisi seluruh ruangnya

Lalu yang tersisa dariku hanyalah ucapan “terima kasih”

 

(MIIP #4) Mendidik Diri untuk Mendidik Generasi

6a2fdc90f37f8f6c50a481209b499c2d

Bismillaah..

Kembali dengan mereview ulang alias diri sendiri juga belajar lagi. Berikut adalah materi ke-4 matrikulasi dan materi-materi ini saya dapatkan ketika saya masih single alias belum menikah wkwkw (ini ndak penting sih yaa)

Disini letak¬†i’m so grateful inside this circle.¬†Dalam IIP, tidak membedakan status single, menikah, single parents, working mom atau bukan.

Continue reading “(MIIP #4) Mendidik Diri untuk Mendidik Generasi”

Jualan Buku

pendidikan-finland-news.okezone.com-a

Beberapa hari yang lalu tiba-tiba saya mengatakan pada suami¬†“Boleh ya mas, jualan buku?!”¬†dengan nada yang sedikit saya tekan dan berbunga-bunga¬†ceilah.. wkwkw

Ya, akhirnya tanpa pikir panjang saya ambil sebuah kertas dan bulpen, corat-coret sedikit lalu buka¬†Corel.¬†Dalam waktu 30 sekian menit, saya merasa cocok dengan susunan warna dan komposisi grafis yang saya buat lalu taraaa…

Mendadak saya punya akun jualan buku XD

Saya belum berpikir jauh tentang apa resikonya, bagaimana cara menjalankannya, plus minusnya. Untuk saat itu, saya berpikir untuk tidak perlu berpikir jauh-jauh dan lebih baik segeralah ambil langkah.

Setelah semua jadi dan saya pastikan untuk memposting salah satu buku yang ready, baru saya tiba-tiba kelimpungan memikirkan bagaimana selanjutnya wkwkw (yang begini jangan ditiru).

Sejenak, saya biarkan diri menenangkan pikiran terlebih dulu. Lagi-lagi saya ambil notes ampuh yang biasanya saya pakai untuk mencorat-coret segala sesuatu yang lewat di pikiran.

Kemudian terbentuklah beberapa niat yang sudah saya revisi kali ini ;

  1. Kenapa harus jualan? kenapa gak cari jalan rejeki yang lain?
  2. Kenapa harus buku? kenapa bukan baju, jilbab atau kebutuhan perempuan lain yang lagi marak mode dan terus silih berganti modelnya?
  3. Pun ketika menulis ini, lagi-lagi saya bertanya buat apa ditulis?

Jawabannya adalah…

  1. Saya dan suami ingin sekali meneladani kisah Rasulullah yang memilih salah satu jalan dakwahnya melalui berdagang. Orang tua kami pun keduanya, melakukan hal tersebut meski kecil dan memulai segalanya dari nol. Tapi kami ingin menyelipkan pada niat kami bahwa berdagang adalah salah satu cara yang sah, yang didalamnya banyak terdapat ujian dan pelajaran yang akan kami dapat untuk membentuk kepribadian kami. Pun inilah yang ingin kami beritahu pada anak-anak nantinya.
  2. Mengapa buku? buku merupakan investasi jangka panjang yang ilmunya in sya Allah akan turut mengalirkan amal jariyah untuk para pembacanya. Buku bukanlah suatu hal yang sia-sia jika diturunkan tujuh turunan sekalipun.
  3. Kami ingin terus menegakkan niat kami. Kami berjualan tidak hanya ingin sekedar berjualan buku. Sejauh ini, kami masih sering menemui mindset bahwa buku adalah sesuatu hal yang diperlukan ketika sudah sangat urgent. Saat anak sudah bisa membaca atau saat anak betul-betul membutuhkannya. Padahal menstimulasi anak sejak dini, berdasarkan bacaan yang saya baca banyak sekali manfaat membacakan buku untuk anak-anak sedari kecil. Karena itu akan membagun pola pikir dan melatih kosakata mereka sedari kecil.

Sekian curhat saya hari ini, menulisnya pun sungguh-sungguh ingin untuk ditulis agar ingat nanti suatu saat ketika niat kami mulai goyah. Semoga istiqomah dalam jalan yang baik…

Surabaya, 01022018

Kupu-kupu di Ruangku

Aku mengintip, melihat matanya berkaca-kaca
Aku sedih dan ingin bicara
Tapi aku bilang apa ya…
Akhirnya aku diam saja disini, tidak ingin rewel
Ku lanjutkan melihat di sekitarnya
Sepi.
Tidak ada siapa-siapa
Lalu ia menangis karena apa?

Aku kembali terbangun
Ada sayup-sayup suara lembut, kuintip lagi
Ternyata sekarang ia bernyanyi
Alunan lagunya mengirama
Lalu kulihat kupu-kupu warna-warni terbang di sekitarku
Aku mengintip lagi, mempelajari sesuatu
Wajahnya teduh dan tersenyum
Kurasakan kupu-kupu semakin banyak terbang di ruangku

 

(MIIP #3) Bagaimana Caranya Membangun Peradaban dari Rumah?

vintage barn wall

Melanjutkan materi yang saya dapat saat program Matrikulasi IIP. Lama bangettt baru dilanjutin XD. Ndak apa ya, semoga masih bisa diambil saripati hikmahnya.

Materi ke-3 matrikulasi bertajuk “Membangun Peradaban dari dalam Rumah”

‚ÄúRumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya.‚Ä̬†– Institut Ibu Profesional

Membaca tagline diatas membuat saya teringat akan satu nasehat pernikahan yang saya dapat selepas ijab qabul dilaksanakan ;

Menikah itu yang penting ibadahnya, apalagi ibadah shalat. Shalat ketika masih sendiri akan terasa lebih ringan berangkatnya, menujunya, mengawali waktunya, menyegerakannya. Meskipun ganjaran yang didapat harus diusahakan (dengan mengikuti jama’ah) untuk melipat gandakan pahalanya.

Beda ketika sudah menikah, ada imam dan ada makmum. Dimanapun tempatnya asalkan shalat bersama dan berjama’ah in sya Allah pahalanya sudah dilipat gandakan Allah. Tapi apakah semudah itu? Tentu syaitan akan menggodanya lebih berkali-kali lipat dibanding ketika masih sendirian.

Jangankan shalat, syaitan akan menggoda anak manusia yang ada dalam ikatan pernikahan ketika mereka akan melakukan ibadah jenis apapun, sekalipun itu bukan dalam bentuk ibadah agama.

Maka di dalam pernikahan, sumber utama membangun sebuah kebaikan terletak dari dalam keluarganya.

Ngawi, 11.12.17

Kembali ke materi IIP ;

Dari paragraf terakhir nasehat tersebut, saya menggaris bawahi poros utama terbentuknya generasi penerus yang berdaya, sehat paripurna dan bermanfaat bagi agama adalah bersumber dari dalam rumah. Dari peradaban yang dibangun di dalam keluarganya.

Maka tugas utama kita sebagai pembangun peradaban adalah mendidik generasi penerus sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.
Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan ‚Äúmisi spesifiknya‚ÄĚ, tugas kita memahami kehendakNya.

Duluuuu banget, ketika saya belum banyak mengikuti kelas parenting dan hanya suka-suka baca kulitnya saat kuliah, saya belum begitu mengerti. Apa maksudnya fitrah sudah Allah berikan sejak anak-anak baru dilahirkan (?)

Setelah saya mengerti maksudnya, ternyata adalah semua anak terlahir sudah dibekali dengan “tujuan diciptakannya”.¬†Orang tua adalah fasilitator, orang tua bertugas untuk memfasilitasi, membukakan jalannya, mendampingin tumbuh berkembang bukan untuk memaksakan kehendak akan menjadi seperti apa yang sesuai dengan orang dewasa kehendaki.

Tapi-tapi saya terima materi ini saat masih belum berkeluarga XD, jadi bagaimana membangun peradaban dari dalam rumah yang (rumahnya itu masih ada dalam angan-angan eaa).

Dari materi yang saya dapatkan, untuk tahap pra-nikah, kita bisa memulainya dari :

  1. Melihat ke dalam diri kita sendiri
  2. Kemudian bertanya dan menanyakan beberapa poin ini ;
    • Bagaimana proses anda dididik oleh orangtua
      Anda dulu?
    • Adakah yang membuat Anda bahagia?
    • Adakah yang membuat Anda ‚Äúsakit
      hati/dendam’ sampai sekarang?
    • Apabila ada, sanggupkah Anda memaafkan
      kesalahan masa lalu orang tua Anda, dan kembali
      mencintai, menghormati beliau dengan tulus?
    • Kalau empat pertanyaan itu sudah terjawab
      dengan baik, maka melajulah ke jenjang
      pernikahan. Tanyakan ke calon pasangan Anda ke empat hal
      tersebut, minta dia segera menyelesaikannya. Karena,

ORANG YANG BELUM SELESAI DENGAN MASA LALUNYA , AKAN MENYISAKAN BANYAK LUKA KETIKA MENDIDIK ANAKNYA KELAK – Institut Ibu Profesional

Ketika sudah menikah, poin-poin yang perlu dilakukan adalah

  1. Menemukan potensi unik diri dan suami
  2. Renungkan dan coba ingat-ingat mengapa dulu kamu memilih dia?
  3. Apa yang membuatmu jatuh cinta padanya?
  4. Lalu, lihat dirimu, apa keunikan positif yang kamu miliki?
  5. Mengapa Allah menciptakanmu di muka bumi ini sampai berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suamimu?
  6. Apa pesan rahasia Allah terhadap dirimu di muka bumi ini?
  7. Selanjutnya, lihat anak-anakmu, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahimmu yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersamamu? Mengapa kamu yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Apa misi spesifik Allah kepada keluargamu sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?
  8. yang terakhir, lihat lingkungan dimana kamu hidup saat ini. Mengapa bisa bertahan hidup dengan kondisi alam demikian? Mengapa Allah menempatkan keluargamu disini? Mengapa keluargamu didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekelilingmu saat ini?

Berikut materi ke – 3 yang saya dapat dari matrikulasi. Menulis ini ternyata menumbuhkan kembali ingatan saya dan semangat untuk berkontemplasi kembali terus belajar dan bersyukur atas setiap tahapan kehidupan yang sudah Allah berikan sampai saat ini.

Semangat bertumbuh! ūüôā

Surabaya, 24.01.18


Untuk membaca seputar IIP, serta materi #1 dan #2 ada disini

Yang Sulit Untuk Diri Sendiri

24155-jangan-jadikan-kesulitan-sebagai-halangan-untuk-menolong-orang-lain

Pasca menikah, rasanya waktu untuk mengantongi apa-apa yang berseliweran di pikiran menjadi sedikit lebih sulit daripada sebelumnya. Ini hanya alasan atau kandang waktu yang saya susun belum sepenuhnya berhasil diterapkan.

Memaafkan dan memahami bahwa jadwal bisa saja berubah 180 bukanlah hal yang mudah. Setiap rumah tangga muda pasti mengalami penyesuaian ini , pun waktu yang saya tempuh baru kurang lebih satu bulan lebih satu minggu.

Di tengah perjalanan kemarin, saya kadang-kadang bisa mendadak mengevaluasi apa yang semestinya sudah saya lakukan. Tapi nyatanya, ketika saya menengok kembali to do list, banyak sekali kotak yang belum terisi ceklisnya. Sepertinya, saat sebelum menikah ada banyak sekali plan yang ingin di jalankan dengan senormal mungkin, lalu goals akan didapat seperti biasanya. Kelar.

Namun ternyata, kembali pada pemahaman bahwa semua itu tidak bisa seolah-olah ditumpuk menjadi satu angan yang tentu mengerjakannya perlu dengan kalkulasi waktu yang tepat. Pada akhirnya saya menyadari kelemahan saya berada disini.

Terlalu nyaman dengan jadwal lama, sulit menyesuaikan dengan kondisi yang baru.

Saya menjadi mudah jenuh ketika melihat to do list harian yang tak kunjung selesai, sedangkan hati dan pikiran saya selalu dengan mudah terbang menuju ingatan saat-saat dimana saya masih sendiri. Betapa mudahnya bisa menclok kesana-kemari tetapi semua pekerjaan beres.

Saya kembali membandingkan diri saya yang dulu dan sekarang..

Ketika saya menulis ini, saya benar-benar tertampar dengan evaluasi-evaluasi diri yang tiba-tiba lewat begitu saja mengingatkan. Lalu bagaimana jika nantinya tanggung jawab bertambah dengan anak?

Ini adalah kemampuan selfless. Kemampuan ini adalah kemampuan yang tidak mementingkan diri sendiri. Untuk perempuan misalnya seperti ; bagaimana kalau ini belum selesai, bagaimana kalau itu belum beres, bagaimana kalau waktu me time ku menjadi berkurang, bagaimana kalau keramas saja harus tidak lebih dari 10 menit (ini akan banyak dirasakan oleh perempuan pasca menikah). Membaca postingan seputar selfless milik senior, saya jadi betul-betul berfikir bahwa kehidupan pernikahan lagi-lagi bukan hanya tentang bagaimana kita selalu berusaha tampil sempurna didepan pasangan. Sedangkan dibalik itu semua ada yang harus dipahami bersama bahwa tanggung jawab saat ini telah berbeda dengan tanggung jawab saat masih sama-sama sendiri.

Menuliskan ini untuk diri sendiri, menjadikan saya memafkan pelan-pelan bahwa tidak setiap harinya lantai harus bersih dan cucian selesai disetrika. Terkadang saya harus sekedar berani untuk minta tolong, meski sebetulnya mas sudah banyak membantu menyelesaikan urusan riweuh saya sebelum beliau berangkat kerja XD


Jadi beginilah rumah tangga muda yang masih terus perlu belajar, tidak ada yang mudah menyamakan langkah. Lelah pasti ada, sulit rasanya pasti ada. Tetapi bersepakat untuk mengambil langkah bersamaan dan beriringan perlu terus diingatkan. Agar sama-sama belajar dan memperbaiki diri.

Inna ma’al usri yusroo..

Surabaya, 17 Januari 2018

 

Resep Memasak…..

WhatsApp Image 2018-01-09 at 12.51.54

Setelah pindah kembali merantau bersama suami, tantangan baru menyambut. Drama memasak dimulaiiii!

Alat tempur cuma wajan dan sutil beserta satu panci. Ngiris cabe pake sendok, itupun di piring.

Takaran gula dan garam sesukanya, ambil pake sendok makan walhasil rasa bisa ditebak kalo gak kemanisan ya keasinan. Jadilah tema masakan setiap hari adalah masakan manis atau asin. Sayur asem gak berasa asemnya, sayur bayem gak kerasa bayemnya. Gitu terus berulang sampai kurang lebih tiga minggu.

Setiap pagi suami selalu jadi tester pertama yang lidahnya tersakiti karena ulah saya yang berantakan. Kalau jam berangkat kerja tiba lalu saya belum selesai masak, drama dimulai. Diem-diem ada yang netes di pipi nambahin bumbu sayur wkwkw

Itu semua bikin saya punya satu definisi kebahagiaan baru!

Memasak tanpa drama dan bisa di rasa XD

5-6 tahun merantau bikin saya terlalu ogah-ogahan masak ketika dirumah, ibuk terlalu super jago untuk saya gantikan posisinya dan beliau punya segudaaangg ide untuk inovasi masakan (kusayang sekali dengan ibukku T.T), pun sepertinya bapak dan adek juga gak ada minat-minatnya ngelihat meja makan tergantikan isinya dengan masakan saya yang amburadul.

Jadilah setiap hari ketika jam makan suami tiba (jam 12.00) saya selalu chat untuk minta maaf atas lidah yang berulang kali jadi korban saya itu ūüė¶

Ceritanya, duluu jauh sebelum menikah, saya selalu idealis dengan prinsip “Pokoknya nanti, suami harus selalu makan masakanku. Aku berusaha masak yang sehat-sehat dan terjaga. Suami gak boleh banyak-banyak jajan diluar”

Tapi setelah hari demi hari dapur bak kapal pecah, daster bau minyak, suami berangkat wajah saya kucel kayak wajan… setelahnya cuma bisa nangis sambil nahan lauk yang keasinan atau kemanisan dan menangisi semua bahan-bahan masakan yang saya buat sia-sia dan uang-uang yang saya habiskan untuk masakan yang tidak layak untuk dimakan.

Jadi memang masak bukanlah syarat yang perlu-perlu banget diperhatikan sebelum menikah, tapi alangkah baiknya setidaknya kamu tau mana itu merica dan ketumbar biar gak keliru :””””””((((

Resep dasar yang selalu saya lupakan ketika memasak adalah memahami seberapa takaran manis dan asin dengan sekian banyaknya air, sekian banyaknya bumbu dan banyaknya bahan sayur. Setelah dipikir-pikir, otak selalu termind-set¬†dengan kata “ayok bisa bikin yang kayak ibuk bikin” (si penggemar masakan ibuk). Sungguh rasanya memang, ketika saya makan dimanapun tempatnya, lidah saya selalu dengan otomatis membandingkan bahwa masakan ibuk selalu yang juara.

Tapi setelah tiga minggu berlalu, intensitas drama berkurang drastis. Lidah saya mulai familiar dengan rasa masakan dan kadar takaran yang biasa saya pakai untuk tia-tiap jenis masakannya. Memahami bahwa diri sedang berproses adalah sebuah keharusan dan saya mencoba untuk itu. Saya terharu :p

 


Ditulis dengan sepenuh hati mengingat prosesnya, untuk suatu saat dibaca kembali sebagai pengingat. Terima kasih keasinan dan kemanisan! Terima kasih merica yang kukira adalah ketumbar ūüėČ Aku bertumbuh karnamu :p

PS : Selanjutnya akan kutulis resep Ayam Pedas Manis favoritku yay! Akhirnya berhasil haha

Surabaya, 9 Januari 2018