Dari Husna : Belajar Sabar

“Sabar…sabar… Allah sayang kalo Husna sabar” (sambil tak elus-elus dadanya pakai tangan Husna yang kuraih)

Sikap seperti ini akan kulakukan waktu bingung harus menghadapi Husna yang lagi bingung juga menyampaikan maksudnya padaku. Semakin usianya bertambah memang apa yang dia maksudkan dan kami kurang paham akan keinginannya, dia akan tambah menyikapinya dengan gerakan-gerakan tertentu yang spesifik. Lapar sikapnya bagaimana, ngantuk sikapnya bagaimana, bahkan hanya sesederhana ingin diajak ngobrol-pun menunjukkan sikap yang berbeda. Bayi memang cerdas ya 🙂

Dari situ kami (saya atau suami) tau kalau ada yang tidak pas dengan perlakuan kami pada Husna.

Menjadi orang tua memang menjadi manusia baru. Mempelajari banyak hal baru. Belajarnya sepanjang hayat, sepanjang usia.

Saat kami bisa mengerti apa yang diinginkan Husna, rasanya seperti menambah catatan baru di kamus kami “kamus orang tua” namun ketika kami masih saja gagal mengartikan maksud keinginannya, seolah-olah seperti teka-teki yang gemas tak kunjung terpecahkan.

Bagiamana tidak, menjadi orang tua itu melatih kesabaran?

Nyatanya memang harus menjadi yang lebih sabar ketika waktu istirahat tersita.

Yang lebih sabar ketika pikirannya bertambah.

Yang lebih sabar ketika siang malam terjaga.

Yang lebih sabar ketika ada yang lebih utama dan menjadi prioritas.

Tapi itu semua karna Allah sudah percaya bahwa amanah ini tidak pernah salah untuk diberikan.

Karna Allah menghendaki kami dididik untuk belajar bersabar langsung dari sosok kecil yang menjadi anugerah besar dalam hidup pernikahan kami.

Menjadi orang tua, menjadi teladan.

Mengajari Husna tentang sabar, kami haruslah menjadi sabar terlebih dahulu.

Bismillah, Allah mampukan 🙂

Advertisements

Menjaga Kemuliaan Anak

Bismillahirrahmanirrahiim..

Perihal menjaga kemuliaan diri pernah saya dapatkan materinya di IIP sewaktu matrikulasi. Disana dijelaskan bahwa apapun yang kita perjuangkan sebagai seorang perempuan, dengan predikat istri maupun ibu. Harus ada yang kita ingat diawal adalah menjaga kemuliaan diri. Kemuliaan adalah yang menjadi acuan orang lain dalam melihat keberadaan diri yang dengan cara seperti apa kita menjaganya. Menjaga kehormatan diri adalah bagian dari menjaga kemuliaan tersebut.

Entah itu dalam berumah tangga, bergaul dengan teman sejawat, bergaul dengan client atau atasan maupun saat mencari rezeki.

Maka Bu Septi sering mengingatkan kami dengan slogannya Rezeki itu pasti, kemuliaan yang dicari.

Kali ini saya bukan ingin membahas mengenai kemuliaan diri. Tetapi tentang kemuliaan anak.

Maksudnya?

Begini, sejak ada Husna saya menjadi betul-betul mengerti betapa pentingnya saya sebagai seorang ibu menjaga kemuliaan anak-anak dimata orang lain. Bukan karena kita ingin anak-anak dipuji, disanjung -menampilkan yang baik- melainkan karena anak adalah amanah dari Allah yang tidak sembarangan. Menjaga kemuliaannya adalah menjadi bagian salah satu dari perwujudan menjaga amanah-Nya.

Selain karena Husna anak perempuan, yang sebetulnya (ini tergantung pemahaman masing-masing orangtua) mengingat saat ini menjaga anak laki-laki maupun perempuan sama sulitnya. Melihat banyaknya kasus korban pelecehan anak laki-laki yang marak beberapa waktu terakhir. Dan dalam seminarnya, Bu Elly Risman justru mengatakan menjaga anak laki-laki memiliki tantangan lebih besar karena secara tidak langsung anak-anak tersebut lebih mudah dirangsang secara fisik.

Lalu bagaimana bentuk penjagaannya?

Ada banyaak sekali sebetulnya bentuk menjaga kemuliaan anak. Misalnya dengan tidak memposting fotonya di sosial media dengan foto yang berisikan anak memakai pakaian minim, anak sedang mandi, anak sedang berpose yang tidak sewajarnya untuk ditampilkan ; dalam pose ngupil misalnya. Atau dalam pose buang air kecil.

Terlepas dari mengenai sosial media memang sarana untuk menampilkan sesuatu yang cenderung bersifat baik dan bagus.

Pun, bukan semata-mata untuk terlihat lucu dan sebagai orangtua kita mengiyakan saja dengan dalih “Toh, masih kecil”

Kalau saya pribadi berpendapat begini, jika anak sudah bisa ditanya maka maukah ia ditampilkan seperti itu? Diperlihatkan pada khalayak umum dengan kondisi demikian?

Sama halnya jika menanyai pada diri sendiri. Maukah kita menampilkan foto pribadi dengan kondisi tersebut?

Kita selalulah menampilkan foto dengan pose terbaik dan kualitas terbaik.

Atau, begini…

Meminta ijin terlebih dahulu ketika ingin memposting foto anak orang lain. Bolehkah anaknya ditampilkan?

Apakah orangtuanya berkenan jika foto anaknya dilihat oleh pengguna sosial media yang bukan dalam lingkarannya?

Atau, semisal boleh foto seperti apa yang boleh ditampilkan?

Saya punya cerita, seorang teman menceritakan bahwa ketika itu anaknya sedang bermain air di sebuah tempat terbuka dengan pakaian minim. Disana memang ada banyak sekali anak-anak yang bermain. Namun ada salah seorang, orangtua yang memfoto anaknya, dengan posisi anak teman saya tersebut masuk ke dalam frame jepretannya. Apakah ini salah teman saya atau salah orang tersebut?

Bagi saya, jika jangkauannya masih tampak didepan mata alangkah lebih baik saya meminta ijin untuk tidak membiarkan anak saya masuk ke dalam frame dengan cara memposisikannya menjauh terlebih dahulu. Namun jika jangkauannya jauh dan kita tidak tau menau, alias nggak didepan mata sendiri sih ndapapa.

Bahkan, jika dalam IIP saat itu saya pernah mendapatkan insight seperti ini ;

Ketika kita sebagai orangtua, berada dalam sebuah majelis dimana anak-anak ada di dalamnya. Maka menjaga tingkah laku anak adalah bagian dari upaya orangtua menjaga kemuliaan anaknya dimata orang lain. Karena menjatuhkan nilai kemuliaan anak menjadikannya berimbas pada ; yang melihat anak-anak akan mendo’akan, membatin, sesuatu yang tidak semestinya.

Katakanlah sederhananya begini, ada seorang anak yang berlarian di dalam masjid sambil berteriak-teriak kegirangan. Bagi anak-anak itu adalah sebuah sikap yang wajar. Mungkin sebagai bentuk ungkapan senangnya berlarian di tempat yang leluasa, misalnya. Namun ketika orangtua-nya mengabaikan saja, hal tersebut akan menjadikan oranglain memandang berbeda. Tidak menampik ada yang mengatakan “Anak siapa sih, lari-larian kok di Masjid. Kok orangtuanya gak larang ya?”

Hmm…

Saya juga masih belajar menjadi orangtua, belum ada dua bulan lamanya perjalanan baru saya meniti karir disini.

Semoga apa yang menjadi resah dalam pikiran saya malam ini bisa tersalurkan dengan baik. Pun yang berkenan membaca, menjadikan tulisan ini bermanfaat baginya.

Yang benar hanya milik Allah, yang salah sepenuhnya milik saya.

Wallahu ‘alam bisshawab.

07.10.18