Review : School Of Life Lebah Putih

Prolog –

Setahun lebih berjalan, saya mengenal dunia pendidikan dan itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan ibu kos saya yang 40 tahun mengabdikan dirinya di dunia tsb. Kenapa gitu sampe bawa-bawa ibu kos 😂.

Sejak mengenal lebih dekat dan berinteraksi langsung setiap harinya dengan anak-anak membuat saya benar-benar merasa “it’s me” saya yakin dengan diri saya sendiri, saya pede, saya semangat dan semakin merasa hidup.

Cerita panjang yang akan saya ceritakan dibawah adalah rangkaian perjalanan beberapa hari yang lalu.


Alhamdulillah, Allah mengijinkan saya untuk mengulik salah satu kebaikan yang tersembunyi dibalik kenyamanan kota Salatiga. School of Life Lebah Putih milik Padepokan Margosari ; Bu Septi Peni Wulandari dan Pak Dodik Maryanto. Dinamai sekolah alami dan sekolah kehidupan.
Letaknya tidak jauh dari Kota Salatiga dengan suasana yang tenang dan sejuk. Lokasi Lebah Putih memang sedikit masuk ke dalam dan tidak berada persis di pinggir jalan raya.


Sekolah ini mengunggulkan character value di kegiatan yang ada di dalamnya. Tidak seperti yang notabene kita tau bahwa kegiatan sekolah selalu terpaku dengan duduk manis di dalam ruang kelas, buku-buku cetak serta jam pelajaran yang mengikat. Sekolah ini memberikan suasana lain dalam belajar sehingga anak-anak justru betah di sekolah.

Awalnya yang bikin saya amaze dengan cerita Enes adalah yang diuji pertama kali untuk mendaftar di sekolah ini justru orang tuanya. Orang tua betul-betul dilibatkan langsung dalam kegiatan belajar yang dialami siswa. Bukan dalam artian orang tua ikut dalam keseharian belajar, tetapi terlibat untuk “nyemplung” sebagai role model bagi si anak. Karena semua anak memiliki hak yang sama untuk mendapat pengajaran, maka yang betul-betul diuji adalah orang tuanya. Apakah orang tua bersedia memiliki komitmen untuk membersamai tumbuh kembang anak, meskipun anak telah dititipkan di sekolah.

Contohnya seperti ini, setiap hari Jum’at, Lebah Putih selalu mengadakan event yang bernama Kelas Bintang. Kelas Bintang ini memiliki kegiatan yang dipandu sendiri oleh orangtua dan beliau-beliau akan mengajarkan secara langsung kemampuan yang dimiliki. Entah itu dibidang memasak, dibidang musik ataupun dibidang lainnya.

Dari sini maka timbullah rasa bangga dari anak melihat orangtuanya memiliki sikap tauladan yang nantinya akan menumbuhkan berlipat-lipat kebanggaan dan rasa percaya diri si anak dengan melihat orangtuanya. Tidak hanya itu, selama anak dan orangtua menjadi bagian dari Lebah Putih, orangtua diberi wadah tersendiri untuk membentuk komunitas yang nantinya akan terus berlanjut, baik setelah kelulusan anak dari Lebah Putih. Para orangtua ini membentuk komunitas-komunitas belajar yang terdiri dari banyak sekali minat belajar dan akhirnya saling berbagi.

Jika keluarga A memiliki minat belajar dalam bidang matematika, maka keluarga yang lain akan belajar dari keluarga A. Jika keluarga B memiliki minat belajar dalam bidang kesenian, maka keluarga yang lain akan belajar dari keluarga B tersebut. Dari sanalah tumbuh lingkaran keluarga yang semakin meluas dan kebermanfaatan akan terus berputar disebarkan. Keren ya 😍


Lebah Putih setiap tahunnya memiliki goals value yang akan diterapkan dan tahun ini, menanamkan nilai disiplin. Jadi nilai inilah yang akan ditanamkan oleh pengajar dan orangtua melalui kegiatan apapun dalam kesehariannya. Untuk itu sangat diperlukan sekali kerja sama antara semua komponen yang terlibat. Mengingat kegiatan belajar di sekolah hanya menghabiskan waktu kurang lebih 7 jam dan sisanya dilalui dirumah bersama orangtua.

Sekolah ini tidak ingin, hanya menjadi wadah dititipkannya anak-anak dan mencekoki mereka dengan hal-hal yang berbau akademis, sedangkan sekolah adalah fase yang memang perlu dilewati anak untuk mempersiapkan kehidupan dan masyarakat.

Pun adaaa kegiatan makan bersama yang sebagai seksi sibuknya pun anak-anak sendiri, mulai dari menyiapkan makanan, mencuci piring dan menata peralatan. Betul-betul pembiasaan ditanamkan di semua penjuru.

Saat berkunjung kesana, sayangnya kegiatan sudah selesai lebih cepat, karena ada agenda imunisasi. Jadilah saya tidak kebagian melihat anak-anak langsung. Namun ada 2 anak tersisa menunggu jemputan orang tuanya, mereka adalah Omar dan Keanu. Ketika ditanya apakah mereka betah sekolah disini, jawaban polos ala anak-anak “Betah, malah nggak pengen pulang”

Beda ya, beda banget dengan kondisi sekolah yang ketika bel pulang berbunyi, anak-anak justru saling lari sana-sini supaya lebih cepat pulang dan bermain dirumah.


Merinding melihat sebegitu dalamnya niat yang dipegang oleh semua pihak demi membangun generasi kuat di masa mendatang 😊

Akhir kata, semoga yang sedikit ini bisa memacu siapapun untuk punya pandangan yang lebih baik dan lebih maju lagi tentang pendidikan anak. Karena kalau kata Bu Septi Peni, sebetulnya semua harus dimulai dari dalam keluarga.

Jadi semoga, semakin banyak yang sadar akan betapa pentingnya meninggalkan generasi kuat untuk menghadapi jaman di masa mendatang 🙂

Surabaya, 23.08.17

Advertisements

Evaluasi

Usai libur sekolah yang panjang, 2 hari yang lalu adalah hari pertama masuk sekolah. Dari sederet pekerjaan yang dibayar , dua hal ini adalah bagian pekerjaan yang selalu saya nantikan. Yaitu menyiapkan pembelajaran anak-anak dan bertemu dengan mereka. Pasca UAS saya mengevaluasi diri dari nilai-nilai yang mereka berikan.

Saya sangat menyadari masih terdapat kekurangan di sana-sini, saya masih dalam tahap belajar sembari mengajar, saya masih dalam tahap dididik sembari mendidik.

Mendidik adalah proses sepanjang hayat, seperti kata kerja lainnya serupa belajar, bertumbuh, berproses, sabar, ikhlas, memahami dan seabrek kata kerja positif lainnya.

Ternyata setelah di evaluasi, saya masih seringkali mengedepankan ego. Mengusahakan untuk bagaimana mereka bisa memahami apa yang saya sampaikan, berhasil mengerjakan soal-soal yang ada, dan nilai baguslah yang terpampang di buku-buku milik mereka. Saya masih takut kalau orangtua merepresentasikan kemampuan anak-anak melalui nilai yang ada di buku atau rapot mereka. Saya masih takut kalau nilai mereka jelek itu berarti saya gagal dalam menyampaikan pembelajaran. Sesungguhnya mendidik adalah jauh dari itu.

Anak-anak tidak berhak untuk didiskreditkan dalam angka-angka tersebut. Karena mereka tumbuh dengan kemampuan masing-masing. Selama ini saya abai dalam memperhatikan seberapa berusahanya mereka dalam menyetarakan kemampuan. Itu mungkin luput dari perhatian saya, itu artinya saya masih egois dalam melaksanakan kewajiban.

Mungkin itu nantinya akan menjadi pengikis keikhlasan saya dalam mengajar dan mendidik, dan itu tidak boleh dibiarkan berlarut. Saya harus tata ulang niat, yang perlu saya usahakan hanyalah melakukannya dengan sebaik mungkin, urusan nilai yang akan mereka dapat katakan saja itu bonus 🙂

Spesial

​”Lebih punya banyak porsi waktu untuk mendekatiNya ya bu.. memanjangkan sabar

“Alhamdulillah iyaaa”

———-

Salah satu potongan percakapan saya dengan seorang ibu hebat yang memiliki anak dengan kondisi abnormal. Ini bukan kali pertama saya bertemu dengan anak-anak spesial, j”auh sebelum hari ini ketika kesibukan saya telah berkutat mengantarkan pada lingkaran anak-anak.

Saya kemudian mengingat satu dua hal. Yang pertama adalah kondisi di Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Malang, tempat saya melakukan penelitian beberapa tahun silam. Bertukar cerita langsung dengan terapis mereka, apa yang melatar belakangi sehingga mereka menjadi demikian bonusnya adalah mengerti kebiasaan mereka dengan kondisinya yang berbeda dari kebanyakan seperti tiba2 memukul, tiba2 menarik baju mengajak tertawa. Namun dari itu semua saya mengerti satu hal, bahwa mereka tidak pernah meminta dilahirkan dari keluarga seperti apa, dilahirkan dengan kondisi bagaimana. Mereka masih memiliki hati kecil yang baik, tetapi seberapa besar prosentase  yang menuntun mereka melakukan hal-hal baik dan dengan cara yang baik memang tidak bisa diprediksi dan dimengerti. Sekalipun oleh pakar sendiri, karena urusan ini tidak memiliki acuan. Karena mereka berbeda.

Perihal kedua, adalah Ina. Sebagian belahan hati saya yang lain. Yang pelan-pelan beranjak besar, tidak butuh waktu lama baginya untuk menjadi lebih tinggi daripada saya. Beberapa tahun kebelakang, ketika ada orang bertanya mengenai kondisinya..selalu ada yang tertahan dalam hati. Setelah pertanyaan itu berlalu, saya ijin meninggalkan tempat dan menangis sejadi-jadinya. Ada hati yang perih. Ada hati yang tidak rela adik saya mendapat perlakuan berbeda. Namun saya percaya, semenjak peristiwa itu terjadi ; bapak dan ibuk telah didewasakan hati serta fikiran melebihi yang dimiliki orang lain. Telah diluaskan fikirannya dengan hal-hal positif hingga membentuk karakter Ina yang supel dan PD seperti saat ini.

Saya pernah menemui fase dimana segerombolan anak memandang “ina kecil” pada saat itu dan mengatakannya “anak yang aneh” dengan kondisi satu matanya yang kurang sempurna. Seketika itu juga saya marah-marah. Lagi-lagi sebagian hati saya patah. Tidak terima. Mereka semua tidak ada yang mengerti jika kemampuan Ina lebih dari apa yang mereka bisa, mereka tidak faham jika gambar-gambarnya merubah dunia saya, mereka tidak faham jika nilai-nilai di rapornya membuat saya tidak pernah untuk tidak membanggakannya didepan siapapun. Mereka tidak akan pernah mengerti sebelum mereka mengenal seperti apa sosoknya. Ah sudahlah..

Ketika saat ini saya semakin sering bertemu dengan anak-anak spesial seperti itu, otak saya langsung mengirim memorial tentang ibuk dan bapak. Tidak hanya sebagian hati mereka yang patah pada saat itu. Mungkin seluruh hati itu patah. Kemudian perlahan berusaha direkat kembali lalu dipagari untuk menguatkan. Saya memandangnya seperti ; mengalami posisi ini adalah menjadi pilihan bagi orang tua yang merupakan orang terdekatnya. Panutan pertama yang mereka (baca : anak-anak) miliki. Akankah orang tua merangkulnya dengan impuls-impuls kasih sayang dan memupuknya dengan optimis atau sebaliknya.

Saya menemukan banyak sekali jenis mereka, begitu pula sedikit cerita yang merunut untuk mengetahui penyebabnya. Jikalau semua orang tua paham, berbesar hati, meluaskan sabar dan seabrek lainnya yang saya sangatlah faham prakteknya sulit sekali di lakukan.

Melalui postingan ini, intinya saya hanya ingin menyampaikan bahwa Semoga semua anak-anak dimanapun berada mereka senantiasa dalam petunjukNya. Karena do’a-do’a dan kebaikan yang mereka laksanakan adalah pemantik amal jariyah yang tidak pernah terputus.

Selamat bahagia anak-anak! Selamat hari ibu untuk semua perempuan dimanapun berada ❤

Surabaya, 22 Desember 2016

Anak-anak Pahlawan

Percaya tidak percaya, manusia selalu punya masalah di hidupnya.
Beberapa hari yang lalu kunjungan ke panti sosial kembali  menyadarkan saya bahwa Allah selalu punya fase terbaik yang  telah disiapkan untuk hambanya. Dalam ujian maupun dalan nikmat, tergantung kita memaknainya.

Lalu apa korelasinya panti sosial dengan judul diatas anak-anak
adalah pahlawan?
Ini adalah sisi yang ingin saya ceritakan. Mungkin rumit dipahami namun semoga sampai pada pemahaman ;

pahlawan/pah·la·wan/ n orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani;

Mengingat kemarin adalah hari pahlawan, bagi saya memperingati hari-hari Nasional kepahlawanan adalah peringatan yang sudah jarang sekali untuk terlibat semenjak lulus sekolah. Positifnya ketika saya berhasil mengikuti jenis kegiatan macam itu, menyanyi Indonesia Raya sungguh-sungguh membuat saya bergetar hebat dan tanpa sadar ada yang menetes di pipi.

Namun anak-anak, dalam dua kesempatan di panti sosial maupun upacara kemarin. Berhasil membuat saya memaknai satu hal. Mereka adalah pahlawan.

Berinteraksi dengan mereka setiap harinya adalah kesempatan bagi saya untuk merefleksi diri.

Anak-anak adalah manusia paling jujur yang kita tahu. Mereka akan bertindak sesuka hati, semengerti hati, senalar pikiran. Tidak menuntut logis dan realistis. Mereka berlaku seadanya. Termasuk urusan keberanian dan memperjuangkan diri mengetahui
banyak hal dengan berebut tanya atau melakukan hal-hal kecil untuk membuktikan eksistensi diri.

“Bu Alvin, kasihan ada yang gak bisa duduk, bangun dari kasur.  Cuma bisa tidur, trus tidurnya miring-miring. Apa gak capek ya bu? Gak bisa sekolah berarti ya bu? “Kaleb, menunjuk seorang penderita skoliosis, berumur sebaya dengannya.

Dan ketika saya mencoba mengobrol dengan salah satu penderita cacat tulang belakang yang sedang di terapi, seorang anak perempuan berumur 6 tahun. Semua otot-ototnya lemah, ia hanya bisa digendong. Namun ketika ditanya, ia menjawab dengan antusias meski itu tidak terlalu jelas. Tidak jelas bahkan. Namun saya menangkap apa yang ia katakan “Namaku Fitri. Aku pengen bisa main”

Adakah dari pertanyaan dan pernyataan tersebut yang dibuat2? Tidak.

Hal-hal serupa yang membuat saya mengingat masa kecil. Anak-anak akan bertindak sesuai naluri alamiah mereka. Lalu, saat masa-masa kecil kita bukankah tidak jauh berbeda? Kita orang dewasa yang telah melalui fase yang sama.

Kadang kita mengatakan, anak-anak jaman sekarang bisa seberani itu ya? Sejatinya, ketika masa kecil kita dulu pun begitu.
Berani menguji diri. Berani mencoba melakukan banyak hal, diperjuangkan saja, hasil yang akan menunjukkan seberapa berhasil kita. Semasa kecil kita telah diuji dengan naluri alamiah diri kita sendiri.
Mengemukakan apa saja yang akan di maklumi dengan kata “namanya juga anak-anak”

Namun ketika perlahan usia beranjak meninggalkan predikat anak-anak. Kita lupa bahwa diri kita dulu pernah menjadi pejuang untuk diri sendiri. Kita pernah menjadi pahlawan untuk diri sendiri. Sekarang, ketika suatu hal terjadi tidak sesuai dengan rencana.. cepat sekali diri ini merasa lemah, merasa yang paling terluka, merasa yang paling sengsara dan banyak konotasi negatif lainnya. Hal itu membuat titik koordinat grafik yang jauh sekali berbeda dengan masa-masa kecil kita dulu yang terlatih menjadi pahlawan.

Maafkan tulisan random saya, hanya terus mencoba membangun pemahaman untuk diri sendiri.

Jum’ah barakah 🙂

alvinareana, meja kerja 111116

img20161107093326

img20161107095151

Syifa (4)

CIMG5917Syifa : Ibuk, Syifa inget kemarin pernah bikin nangis Dita dikelas.

Ibu : Tapi udah minta maaf belum nduk?

Syifa : Syifa gak sengaja bikin sobek buku Dita yang harus dikumpulin sama bu guru. Trus Syifa udah minta maaf kok buk. Udah lama juga kemaren-kemaren. Tapi kenapa ada temen Syifa yg masih ikut-ikutan marah sama Syifa?

Ibu : terus gimana nduk? Masih ada yg mau diceritain ke ibuk? 🙂

Syifa : Syifa udah ganti bukunya Dita, trus Syifa tanya apalagi yg harus Syifa ganti biar Dita maafin. Alhamdulillah Dita maafin Syifa. Tapi…
*kemudian Syifa menunduk di pangkuan ibu*

Ibu : Sayang, nggak semua orang bisa berlaku seperti apa yg kita pikirkan dan harapkan. Belum tentu semua orang bisa nerima permintaan maaf yang kita ucapkan ke dia. Karena memaafkan juga butuh proses nduk. Tidak langsung ujug-ujug. Pasti butuh waktu, pasti. Maka dari itu, disitulah letak pengertian. Karena semua orang tidak sama prosesnya, jadi kita yang harus lebih ngerti dan legowo. Juga kalau ada yang merasa gak suka sama Syifa, dengan apapun yang Syifa lakukan. Kita pasti pernah merasakan sakit hati, sedih dan lain-lain.

Dengan begini Syifa jadi tau kan bagaimana rasanya dijauhi dan temen-temen jadi gak percaya. Jadiiii, nantinya anaknya ibuk ini nggak bakalan bikin orang lain ngerasain hal yang sama kayak yg Syifa rasain sekarang. Syifa akan jadi orang yang gak suka kalau lihat orang lain sedih, kecewa, sakit hati.

Satu lagi, apapun yang Syifa lakukan itu bukan karena biar dilihat banyak orang, biar dikenal banyak orang, atau biar orang itu suka sama Syifa dll. Tapi Syifa boleh melakukan apa sajaa asal tau itu nantinya buat siapa, akan seperti apa jadinya kalau sudah dilakukan, baik atau enggak. 😊

Syifa, 7 y.o

Dalam fiksi. H-3 Ramadhan. alvinareana, 030616

Dokumentasi foto Fragmen Pengabdian Masyarakat, Donomulyo 2013

Afnan (3)

Afnan : Ibuk, apa betul setiap anak pasti punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Afnan yakin pasti Afnan juga punya.

Ibu : Kok bisa kepikiran itu le?

Afnan : Afnan sedih aja denger temen-temen kalau ada yang nyeletuk bilang “Emang aku bisa apa?” , “Tuh lihat, kadang-kadang nilai ulanganku matematika bagus tapi juga banyak jeleknya. Kan gak jadi bangga”

Ibu : Terus yang Afnan rasakan apa?

Afnan : Yaaa Afnan pernah ngerasain hal yang sama, pernah sedih kalau-kalau ternyata apa yang Afnan usahakan itu belum bisa buat ayah sama ibuk bangga. Tapi kalo pas Afnan tau ayah dan ibuk bisa bangga karna suatu hal yang Afnan lakukan, Afnan jadi tenang *kemudian senyum simpulnya nampak*

Ibu : Diatas langit masih ada langit nak. Manusia akan selalu merasa kurang itu wajar. Apalagi dengan hal-hal yang bersifat duniawi.
Ayah udah sering ingatkan kita kan? Selalu bersyukur dengan apa yang kita punya sekarang dan jangan cepat merasa puas jika itu menyangkut dengan belajar. Jangan pula terlalu dalam merasa bangga, nanti jadinya apa?

Afnan : Jadi riya’ kan buk? Kadang Afnan juga takut kalo ngecewain ayah sama ibuk

Ibu : Salah pun itu manusiawi le, insyaaAllah ayah sama ibuk pasti berusaha untuk mencari tahu dulu kenapa Afnan kurang maksimal melakukan ini dan itu. Setelah tahu kenapa alasannya, kita sama-sama belajar. Kita harus sama-sama saling mengingatkan, disini letaknya yang kurang, disini letaknya yang harus diperbaiki dan yang namanya salah itu harus diminimalisir supaya tidak diulangi 🙂

Afnan sudah yakin kalau setiap anak pasti punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Ibuk udah bangga dengan Afnan bisa berfikir begitu. Itu artinya Afnan selalu husnudzon sama Allah

Afnan : Jadi kalau temen-temen Afnan ada yang ngerasain sedih begitu apa yang harus Afnan lakukan buk?

Ibu : Sebagai sesama muslim, wajib bagi kita untuk saling mengingatkan yang salah dan mengajak dalam kebaikan

Jadi Afnan udah tau kan le apa yang harus dilakukan?
InsyaaAllah Afnan tau dan harus melakukannya, ibukku sayang” *dalam hati*

Afnan, 12 y.o

Dalam fiksi. h-4Ramadhan. alvinareana, 020616

Afnan (2)

Suatu waktu Afnan tanya di sela-sela persiapan ujian akhir kelas 6-nya.
*cepet amat udah kelas 6*

Afnan : Ibuk, Afnan sebetulnya sudah lama mau tanya ini. Kenapa kalau wajah malu tidak nampak seperti wajah sedih, wajah gembira, wajah senang dan lain sebagainya. Apalagi kadang-kadang kita, bisa menggambar ekspresi wajah-wajah itu.
Ibu : ……

Saya justru menjadi bertanya-tanya pada diri sendiri. Begitulah manusia, yang nampak diluar akan begitu mempengaruhi. Bahkan akan mampu menjadi tolak ukur terbentuknya sebuah argumen.

Dan kita seringkali lupa, bahwa semua hanyalah milik Allah, wajah cantik, senyum yang manis, jabatan yang tinggi, harta yang berlebih, teman yang banyak, hewan kesayangan, rumah yang megah dan masih banyak lainnya.

Kemudian saya teringat kutipan terkenal milik Sayyidina Ali ; tidak perlu menjelaskan siapa dirimu, mereka yang mencintaimu tidak memerlukan itu dan mereka yang membencimu tidak percaya itu.
Memang tidak ada yang bisa dibanggakan, sekalipun bermacam jenis topeng wajah yang berusaha ditampakkan.
Maka dari itu, kembalikan niat karna Allah, bukan untuk dilihat dan bukan untuk dinilai 😞

Afnan, lain kali semoga ibu bisa jawab ya

alvinareana, 030516

Desainer

Siapa tidak kenal Muhammad Al – Fatih, penakluk Konstantinopel. Banyak sekali tokoh-tokoh dahulu yang terkenal akan kesohorannya. Banyak pula yang mengira bahwa beliau-beliau ini terlahir dalam keadaan yang hebat.
Tapi Muhammad Al – Fatih ditakdirkan Allah memiliki panduan luar biasa dari kedua orang tua beliau.

Sultan Murad II adalah ayah dari Muhammad Al – Fatih, beliau memiliki perhatian yang besar terhadap perkembangan anak-anaknya. Beliau telah menempa Muhammad Al – Fatih sedari kecil untuk menjadi seorang pemimpin yang tangguh. Muhammad Al – Fatih semasa kecil telah terbiasa mendengarkan kisah-kisah Rasulullah, beliau kecil telah menyelesaikan hafalan Al – Qur’annya, mempelajari hadis-hadis, mempelajari matematika dan ilmu falak, fasih berbagai macam bahasa. Segala macam kemampuannya adalah upaya kedua orang tuanya mendesain sedemikian rupa.

Muhammad Al – Fatih tidak serta merta memiliki amanah menjadi pemimpin, beliau tumbuh dan berkembang dalam bimbingan yang tidak sembarangan. Dalam umur yang masih muda, Sultan Murad II mempercayai Muhammad Al – Fatih untuk memimpin suatu wilayah, karena beliau sangat peduli terhadap peradaban nantinya yang harus dikaderisasi oleh orang-orang baik.

Lantas Konstantinopel akhirnya tumbuh dalam genggaman pemimpin yang tangguh nan cerdik. Bayangkan saja! bagaimana harus memindahkan kapal-kapal melalui daratan, sedangkan kapal biasanya harus dilayarkan melalui jalur air pada umumnya.

Begitulah Muhammad Al – Fatih tumbuh dan berkembang. Generasi yang telah dipersiapkan dengan matang oleh kedua orang tuanya.

Lalu apa kabar generasi kita masa kini?

Mulai dari dongeng-dongeng sebelum tidur hingga tontonan televisi yang telah terkontaminasi banyak hal, kita semakin lalai dalam memberikan filter kepada anak-anak tentang apa saja yang tidak selalu bisa kita pantau setiap detiknya. Tidak semua memang, tetapi jika kita mau mengamati.. banyak sekali tontonan maupun tuntunan yang sudah sangat jauh sekali dari agama dan moral bangsa kita.

Nah, bisa dimengerti kan? Darimana harus dimulai?

Orang tua adalah desainer utama untuk anak-anak kelak. Maka carilah partner desain terbaikmu, luruskan niat… jadilah visioner dan berpikir panjang ke depan. Membangun keluarga adalah membangun generasi, membangun peradaban, melahirkan pejuang-pejuang baru.
Segala sesuatu tentang anak-anakmu nantinya, dimulai dari dirimu sejak saat ini, awalilah dengan langkah bagaimana dirimu memilih pasangan. Selamat mencoba 🙂

Afnan (1)

Afnan : Buk, Afnan gak mau jadi anak laki-laki yang lemah.
Ibu : 🙂
Afnan : Afnan kan harus jagain Dek Syifa buk.. Ibu : Rasulullah pernah mengatakan mukmin yang kuat lebih dicintai daripada mukmin yang lemah. Mas Afnan pasti bisa jadi anak laki-laki yang tangguh!

Afnan : Supaya bisa disayang ayah sama ibuk aja Afnan berusaha masak ke Allah dan Rasulullah enggak?

Ibu : ……

Dalam fiksi. alvinareana, 020216

Syifa (2)

Syifa : Ibuk ,Syifa capek ih sama temen-temen.
Ibu : Loh.. anak nya ibuk pulang sekolah kok bukannya salam malah marah-marah?
Syifa : Iya buk, Assalamu’alaikum. Syifa kesel buk nurutin maunya temen2 *wajah muram*
Ibu : Syifa pelan2 nduk ceritanya 🙂 Gimana?

Syifa : Jadi di sekolah itu, Syifa denger ada temen yang protes dibelakang Syifa tentang kekurangan Syifa. Kan akunya kesel buk. Padahal kalo menurutku, itu udah dilakukan yang terbaik.
Ibu : Akan selalu ada yang mengatakan ini dan itu tentang kita sayang. Tapi tergantung bagaimana kita menyikapinya. Syifa buang2 tenaga lho dengan bersikap marah2 begitu.
Syifa : Kata ayah kita harus sesering mungkin husnudzon sama orang kan buk. Tapi…
Ibu : Syifa inget nasehat ayah kan? Kalo gitu istighfar dulu yuk 🙂

Syifa : Astaghfirullahaladziim.. *peluk ibuk*
Ibu : Allah bukan memanggil orang2 yang mampu nduk. Tapi Allah memampukan orang2 yang terpanggil hatinya. InsyaaAllah kalo hati Syifa terpanggil.. apapun yg Syifa lakukan tidak lagi terpengaruh dengan omongan orang lain. Karena Syifa yakin Allah memampukan dengan sebaik-baiknya perbuatan. InsyaaAllah 🙂

Dalam fiksi. alvinareana, 140116