Mencintai Keputusan Mengasihi : Penutup

Sedikit ringkasan dari blog referensi yang menulis tentang ASI.

Menyusui adalah anugerah yang telah Allah berikan dan telah Allah jelaskan manfaatnya dalam Al Qur’an.

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Al-Baqarah [2]: 233)

Betapa semua ini kembali hanya pada Allah yang jamin, Allah yang sediakan, Allah yang mampukan.

Bahkan ketika keadaan sangat darurat, seperti yang dialami Ibunda Nabi Musa A.S yang sedang dikejar tentara fir’aun yang akan membunuh semua bayi laki-laki, Allah menganjurkan untuk tetap memberikan ASI (Q.S. Al-Qashash : 7).

Dan Allah memelihara bounding antara nabi Musa dan ibunya, dengan mencegah Nabi Musa menyusu kepada orang lain. Sehingga Nabi Musa tetap disusui ibunya, walaupun dalam pengawasan Fir’aun (Q.S.Al-Qhashas : 12).

Kapan seorang wanita bisa lalai menyusui anaknya? Ketika kiamat. Sebuah gambaran tentang kuatnya ikatan menyusui seorang anak kepada bayinya yang hanya bisa diputuskan oleh keguncangan yang maha dashyat di hari kiamat. (Q.S Al-Hajj : 1-2).

Hendaklah diniatkan untuk ibadah

Amru bin Abdullah pernah berkata kepada isteri yang menyusui bayinya, “Janganlah engkau menyusui anakmu seperti hewan yang menyusui anaknya karena didorong kasih sayangnya kepada anak. Akan tetapi susuilah dengan niat mengharap pahala dari Allah dan agar ia hidup melalui susuanmu itu. Mudah-mudahan ia kelak akan bertauhid kepada Allah Subhanahuwata’ala.”

Subhanallah, pelajaran yang sangat berharga. Betapa mungkin kita lupa, bahwa menyusui hendaklah diniatkan ibadah, bukan sekedar insting. Ini merupakan bentuk investasi kita di dunia dan akhirat. Semoga anak kita menjadi anak yang bersyukur pada Rabb-nya dan orang tuanya.

”Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Q.S. Luqman :14)

Ayat tersebut mengandung dua pengertian, yaitu : pertama, adalah perintah bagi seorang ibu untuk menyusui anaknya selama 2 tahun penuh. Kedua, perintah bagi anak untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya karena ibunya telah merawatnya siang dan malam. Terdapat kewajiaban anak untuk berbuat baik kepada orangtuanya, sementara terdapat hak anak untuk diberi ASI selama 2 tahun penuh. Terdapat kewajiban ibu untuk menyusukan anaknya selama dua tahun penuh, sementara terdapat hak ibu agar anaknya berbakti kepadanya.

Sumber : dari sini 🙂

Advertisements

Mencintai Keputusan Mengasihi : Lulus S1 ASIX!

Disclaimer : Tidak berniat untuk menyinggung ibu-ibu yang tidak memberi ASI pada bayinya karena kondisi yang memang tidak bisa dipaksakan untuk mengusahakan ASI. Semua ibu adalah baik dengan pilihannya masing-masing.

Alhamdulillaah tsumma alhamdulillaah…

Akhirnya postingan ini terpublish dengan rasa syukur yang tak terkira :’)

Tulisannya panjang, silahkan skip bagi yang enggan membaca yaa 😚

Setelah 6 bulan drama ibu baru – egois untuk ASI dan akhirnya sampai pada hasil grafik berat badan Husna yang pernah naik turun. Kita pernah berjuang nduk. Dan akan terus berjuang untuk ke depannya ya 😊

Berjuang untuk hidup yang lebih baik serta manfaat.

Sekarang, saya bisa tersenyum dengan legowo melihatnya. Meski tidak se-perfect yang diharapkan setidaknya mengusahakan untuk tetap mendapat titik noktah di garis hijau tua (KMS), dengan segenap jiwa raga saya, untuk Husna.

Cerita awal tentang mengASIhi ada di beberapa postingan sebelum ini,

Di usia Husna yang 2 bulan, Husna pernah (hampir) merasakan seperti apa rasanya jeruk dan apel lho! :))

Lha, trus gak jadi ASI Ekslusif dong?

Hehe..

Alhamdulillah asix (ASI Ekslusif). Saat itu, saya spontan kaget karena ada yang hampir mendaratkan buah-buahan tersebut didepan bibir Husna.

Mendadak ada yang mencelos di hati!

Diiringi dengan drama-drama tangis seorang ibu baru 😀

Hanya demi melihat si bayi tampak menggemaskan dengan mencicip makanan yang belum saatnya, niat asix saya hampir runtuh saat itu juga. Untung Allah selamatkan.

Kelihatannya lebay sih ya? Kan cuma diolesin aja, atau ditetesin aja.

Saya akan tegas menjawab bukan hanya lebay sih, saya egois akan urusan ini 🙂

Hari-hari setelah itu berlalu. Berlanjut dengan drama baru yaitu, berat badan Husna naik tidak sesuai KBM! (Kenaikan Berat Minimal) jadilah garis pada grafik di KMS turun satu peringkat daaan untuk pertama kalinya Husna diare!

Seperti cerita disini dan ini.

Hehe.

Mohon maklum orangtua newbie yang jauh dari sanak saudara, orangtua atau mertua ini ya. Ngeliat anaknya temen-temen yang bisa ginuk-ginuk gitu kan jadi pikiran ya buat ibuk baru seperti saya 😂

Rasanya enggan ketemu jadwal posyandu.

Dan beberapa hari terakhir menjelang 6 bulan, untuk yang pertama kalinya Husna panas dengan suhu diatas 37,5°. Karena alhamdulillah selama 5 bulan ini, KIPI (Kejadian Pasca Imunisasi) suhu panas badannya hanya sekitar mencapai 37,3 dan 37,1. Saya fikir karena Husna punya imunitas yang baik.

Selang 3 hari untuk pertama kalinya saya melihat si bayi merintih-rintih, badannya lemas, hidungnya mampet, batuknya grok-grok. Lalu bergantilah saya yang tumbang 🙂

Rasanya seperti Allah kabulkan do’a saya “mending saya yang sakit ya Allah, daripada anak saya”

Anak sembuh, tapi ganti saya yang sakit. Ternyata tidak meringankan masalah. Meski pekerjaan rumah telah suami pending semua. Tidak boleh ada yang saya kerjakan. Hanya fokus recovery dan Husna.

Tapi ndapapa, percayalah badai pasti berlalu, gendong menggendong sepanjang waktu pasti berlaluuu~

#lanjutnyanyi

Dulu, saat kehamilan memasuki 8 bulan, saya sempat belajar ke konselor laktasi lho! :))

Berharap urusan menyusui akan lancaarrr kayak jalan tol. Bebas hambatan gitu!

Anak lancar nyusunya, payudara stok ASInya mancur-mancur, berat badan anak naik signifikan dan bagus serta ekspektasi-ekspektasi langit lainnya. Tapi rencana manusia hanyalah rencana semata. Ada yang lebih berhak mengatur.

Jadi, inti dari tulisan panjang ini adalah…

Teruntuk sesama perempuan dimanapun yang sempat membaca tulisan ini,

Jika engkau adalah seseorang yang belum menikah. Maka cari ilmu menyusui ya :’)

Banyak komunitas offline maupun online yang mendukung program menyusui. Belajarlah hingga mahir. Kita sedang mempersiapkan generasi peradaban cemerlang nantinya. Egoislah ketika saatnya tiba. Ada banyaaak cara mengusahakannya. Ada banyaaak teman seperjuangan untuk mencari pegangan. Ada banyaak do’a yang bisa dilangitkan agar orang-orang terkasih mendukung suksesnya urusan ini. Karna ini berkaitan dengan banyak pihak. Sekali lagi, bukan hanya tugas ibu yang melahirkan yang belajar. Tapi juga keluarga yang mendampingi.

•••

Jika engkau adalah seorang ibu dengan ASI. Jangan lelah berjuang hingga akhir. Sampai Allah berikan batas akhir kita menyapihnya dengan cinta. Sama seperti saat kita menghadirkan tetes cinta untuk pertama kalinya saat hadirnya buah hati kita. Sata juga masih berjuang. Kita sama-sama mendo’akan ya 😊

•••

Jika engkau adalah ibu dengan susu formula. Penghargaan ibu terbaik tidak ditentukan dari menyusui ASI atau bukan. Kita adalah perempuan terbaik versi anak-anak. Dan kita mengukur baiknya seseorang adalah dengan bertambah baiknya diri kita serta prosesnya dari hari ke hari.

Selamat menikmati indahnya jadi ibu!

Semangat ke jenjang selanjutnya, sayangku Husna 😆 do’akan ibuk rajin belajar dan masak yaa

Cheers 😍

Mencintai Keputusan Mengasihi

Disclaimer :

Cerita dibawah ini, belum seberapa dibanding cerita “pejuang ASI” diluar sana.

Di awal kelahiran Husna saya tidak begitu merasakan baby blues atau sampai pada post partum depression (PPD). Alhamdulillah..

Support keluarga begitu penuh saya dapatkan. Hanya LDM yang menjadi ruang melapangkan hati. Perjumpaan di Sabtu-Minggu membuat kami terbatas bonding satu dengan yang lain. Husna-saya-suami. Tapi kami harus mengerti ini telah menjadi pilihan yang sudah ditentukan di awal. Meski tiap-tiap perjumpaan saya dan suami tidak selalu bisa dalam satu frekuensi. Terkadang masalah sepele bisa menjadi pemicu tutup mulut satu sama lain. Kami pernah pada fase ini.

Sama-sama menangisi kondisi yang sulit dipahami. Menjadi orang tua baru yang tak kunjung mengerti apa yang diinginkan anak. Menjadi orang tua baru yang mudah tersulut emosi ketika membandingkan siapa yang paling capek. Syukur alhamdulillah ini tidak berlangsung lama…

Kondisi medis saya maupun Husna juga baik-baik saja. Semua berjalan semestinya. Jahitan sembuh total di waktu yang cepat. Pemulihan kondisi tubuh juga terhitung mudah dan lancar. Husna tidak mengalami gangguan pertumbuhan apapun. Lahir dengan berat badan dan panjang badan yang masuk kategori baik. 3,3kg dan 49cm.

2 jam pasca kelahiran ASI saya keluar. Sempat dibuatkan susu formula, namun alhamdulillah lebih dulu ASI yang masuk. Bidan pun pro ASI. Seminggu, dua puluh hari mengASIhi berjalan baik-baik saja, kenaikan berat badan Husna juga menunjukkan hasil yang baik. Grafiknya bagus dan optimal.

Puting lecet sewajarnya saat masih diawal-awal karena lidah bayi masih kasar dan sembuh dengan kompresan air hangat yang saya rutinkan setiap hari. Semuanya berjalan begitu saja. Tidak begitu menguras keletihan fisik dan emosi.

Perjalanan kami dimulai! Sebagai tim baru yang harus senantiasa bertumbuh meski kadang matahari tak nampak menghangatkan tubuh.

2 bulan usia Husna, kami memutuskan tinggal bertiga di tanah rantau. Jauh dari bala bantuan keluarga besar. Menjalankan aktivitas semuanya bersama-sama (bertiga). Menjadikan kami belajar sebagai tim yang solid. Beruntung mas Muiz membantu dalam banyak hal urusan rumah tangga, seperti mencuci baju dan mencuci piring.

Sampai pada akhirnya, rutinitas menimbang berat badan Husna kembali dilakukan. Pun berbarengan dengan imunisasi. Saya deg-degan. Perasaan (apakah saya becus mengurus Husna) muncul ke permukaan.

Qadarallah, hasil grafik yang didapat pada hasil perhitungan berat badan Husna kali ini menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Berat badannya naik tetapi tidak signifikan sesuai target minimal. Garis pada grafiknya mulai lurus. Itu tandanya ada yang perlu dievaluasi. Saya mulai goyah. Pikiran buruk banyak menggelayut di awang-awang.

Mulai dari bisakah saya mengASIhi Husna hingga 2 tahun? Cukupkah ASI saya diminumnya hingga beres ASI Ekslusif?

Teringat disaat banyak sekali tetangga mertua yang memberikan bayi-nya MPASI dini. Pikiran khawatir saya terbang kesana. Bagaimana jika ternyata Husna harus MPASI dini?

Apakah saya menangis? Ya..

Tidak menyangka kemudahan diawal-awal kelahiran mengantarkan saya pada titik ini.

Saya pusing. Saya takut keputusan ini salah. Keputusan untuk tetap bertahan tidak menambahkan apapun pada Husna selain ASI. Saya takut keputusan keukeuh saya ini memperburuk keadaan.

Pergilah kami ke Dokter Spesialis Anak (DSA). Evaluasi dilakukan dan Husna dinyatakan sudah turun peringkat grafik pertumbuhannya. Meski belum terlambat kami membawanya kesana. Itu artinya masih sangat-sangat mungkin bisa diperbaiki. Semenjak Husna bisa menyusu dengan posisi tidur, ternyata disinilah awal mula masalah ketidak efektifan itu muncul. ASI yang masuk ke tubuhnya tidak maksimal.

Tetapi, ternyata disinilah kesadaran saya muncul. Bahwa mengASIhi memang tak pernah semudah kelihatannya. Disinilah hati saya diuji, ketika suami-pun merasa pasrah dan menyatakan “Ngga apa, toh anaknya masih gemuk ini. Masih aktif ini. Masih ceria dlsb”

Dan saya masih keukeuh dengan “mencegah Husna gagal tumbuh hingga stunting”

Ayolah, dukung aku ikhtiar penuh untuk tetap mengupayakan terbaik untuk Husna. Setiap saat ketika saya bisa pumping. Saya usahakan seberapapun banyaknya yang didapat akan saya berikan pada anaknya. Husna perlu ditambahkan booster ASI, selain direct breastfeeding dari saya. Dengan cara apapun, harus ditambahkan kuantitasnya.

Serepot apapun caranya.

Mungkin banyak yang belum aware dengan apa itu istilah stunting. Jika saya belum memiliki anak sampai saat ini, mungkin pengetahuan saya mengenai hal ini juga belum sampai pada tahap ini. Bahkan saya dan suami sempat mendebatkan apakah ini penting untuk diperhatikan. Sampai kami menyimpulkan sesuatu, jika kami masih mampu mengikhtiarkan dengan banyak cara untuk memberikan yang terbaik pada Husna, kami ingin terus mencobanya.

MengASIhi tidak hanya sebatas memberinya penghidupan. MengASIhi membangun jiwa, raga dan nalurinya menjadi anak yang hangat hatinya. MengASIhi mendekatkan hati kami (saya dan Husna). MengASIhi membentuk telepati kami. MengASIhi menyejahterakan keluarga kecil kami. Bahkan menentramkan hati saya dan suami.

Disini, saya (dan suami) tengah diuji. Untuk mencintai keputusan kami, mengASIhi Husna sepenuh hati.

Bismillaaah, mohon do’anya. Siapapun yang sempat membaca tulisan ini 🙂

Semoga kami mampu menjadi orang tua yang baik dalam membersamai Husna bertumbuh. Semoga ikhtiar yang sedang kami jalankan berjalan dengan lancar dan dimudahkan Allah.

Note :

Belajarlah sampai benar-benar mengerti bagaimana cara menyusui yang baik. Posisi dan perlekatan yang tepat. Mengerti dan memantau kebiasaan dan perubahan aktivitas dalam menyusui.

Juga memantau tumbuh kembang anak dengan baik.

Anak-anak yang kuat dan sejahtera. In syaa Allah jadi tabungan jariyah nantinya.

Sekali lagi, bismilaaah Allah mampukan kami.

#catatanASIHusna