Mengerti

Akhir-akhir ini aku melihat
Sepertinya di fikiranmu sudah terprogram sesuatu
Tanpa aku bertanya
Tiba-tiba saja banyak hal menjadi beres dan kamu tersenyum
Tanda “alhamdulillah” menggema, mengisi seluruh ruangnya

Lalu yang tersisa dariku hanyalah ucapan “terima kasih”

 

Advertisements

Jualan Buku

pendidikan-finland-news.okezone.com-a

Beberapa hari yang lalu tiba-tiba saya mengatakan pada suami “Boleh ya mas, jualan buku?!” dengan nada yang sedikit saya tekan dan berbunga-bunga ceilah.. wkwkw

Ya, akhirnya tanpa pikir panjang saya ambil sebuah kertas dan bulpen, corat-coret sedikit lalu buka Corel. Dalam waktu 30 sekian menit, saya merasa cocok dengan susunan warna dan komposisi grafis yang saya buat lalu taraaa…

Mendadak saya punya akun jualan buku XD

Saya belum berpikir jauh tentang apa resikonya, bagaimana cara menjalankannya, plus minusnya. Untuk saat itu, saya berpikir untuk tidak perlu berpikir jauh-jauh dan lebih baik segeralah ambil langkah.

Setelah semua jadi dan saya pastikan untuk memposting salah satu buku yang ready, baru saya tiba-tiba kelimpungan memikirkan bagaimana selanjutnya wkwkw (yang begini jangan ditiru).

Sejenak, saya biarkan diri menenangkan pikiran terlebih dulu. Lagi-lagi saya ambil notes ampuh yang biasanya saya pakai untuk mencorat-coret segala sesuatu yang lewat di pikiran.

Kemudian terbentuklah beberapa niat yang sudah saya revisi kali ini ;

  1. Kenapa harus jualan? kenapa gak cari jalan rejeki yang lain?
  2. Kenapa harus buku? kenapa bukan baju, jilbab atau kebutuhan perempuan lain yang lagi marak mode dan terus silih berganti modelnya?
  3. Pun ketika menulis ini, lagi-lagi saya bertanya buat apa ditulis?

Jawabannya adalah…

  1. Saya dan suami ingin sekali meneladani kisah Rasulullah yang memilih salah satu jalan dakwahnya melalui berdagang. Orang tua kami pun keduanya, melakukan hal tersebut meski kecil dan memulai segalanya dari nol. Tapi kami ingin menyelipkan pada niat kami bahwa berdagang adalah salah satu cara yang sah, yang didalamnya banyak terdapat ujian dan pelajaran yang akan kami dapat untuk membentuk kepribadian kami. Pun inilah yang ingin kami beritahu pada anak-anak nantinya.
  2. Mengapa buku? buku merupakan investasi jangka panjang yang ilmunya in sya Allah akan turut mengalirkan amal jariyah untuk para pembacanya. Buku bukanlah suatu hal yang sia-sia jika diturunkan tujuh turunan sekalipun.
  3. Kami ingin terus menegakkan niat kami. Kami berjualan tidak hanya ingin sekedar berjualan buku. Sejauh ini, kami masih sering menemui mindset bahwa buku adalah sesuatu hal yang diperlukan ketika sudah sangat urgent. Saat anak sudah bisa membaca atau saat anak betul-betul membutuhkannya. Padahal menstimulasi anak sejak dini, berdasarkan bacaan yang saya baca banyak sekali manfaat membacakan buku untuk anak-anak sedari kecil. Karena itu akan membagun pola pikir dan melatih kosakata mereka sedari kecil.

Sekian curhat saya hari ini, menulisnya pun sungguh-sungguh ingin untuk ditulis agar ingat nanti suatu saat ketika niat kami mulai goyah. Semoga istiqomah dalam jalan yang baik…

Surabaya, 01022018

Kupu-kupu di Ruangku

Aku mengintip, melihat matanya berkaca-kaca
Aku sedih dan ingin bicara
Tapi aku bilang apa ya…
Akhirnya aku diam saja disini, tidak ingin rewel
Ku lanjutkan melihat di sekitarnya
Sepi.
Tidak ada siapa-siapa
Lalu ia menangis karena apa?

Aku kembali terbangun
Ada sayup-sayup suara lembut, kuintip lagi
Ternyata sekarang ia bernyanyi
Alunan lagunya mengirama
Lalu kulihat kupu-kupu warna-warni terbang di sekitarku
Aku mengintip lagi, mempelajari sesuatu
Wajahnya teduh dan tersenyum
Kurasakan kupu-kupu semakin banyak terbang di ruangku

 

Resep Memasak…..

WhatsApp Image 2018-01-09 at 12.51.54

Setelah pindah kembali merantau bersama suami, tantangan baru menyambut. Drama memasak dimulaiiii!

Alat tempur cuma wajan dan sutil beserta satu panci. Ngiris cabe pake sendok, itupun di piring.

Takaran gula dan garam sesukanya, ambil pake sendok makan walhasil rasa bisa ditebak kalo gak kemanisan ya keasinan. Jadilah tema masakan setiap hari adalah masakan manis atau asin. Sayur asem gak berasa asemnya, sayur bayem gak kerasa bayemnya. Gitu terus berulang sampai kurang lebih tiga minggu.

Setiap pagi suami selalu jadi tester pertama yang lidahnya tersakiti karena ulah saya yang berantakan. Kalau jam berangkat kerja tiba lalu saya belum selesai masak, drama dimulai. Diem-diem ada yang netes di pipi nambahin bumbu sayur wkwkw

Itu semua bikin saya punya satu definisi kebahagiaan baru!

Memasak tanpa drama dan bisa di rasa XD

5-6 tahun merantau bikin saya terlalu ogah-ogahan masak ketika dirumah, ibuk terlalu super jago untuk saya gantikan posisinya dan beliau punya segudaaangg ide untuk inovasi masakan (kusayang sekali dengan ibukku T.T), pun sepertinya bapak dan adek juga gak ada minat-minatnya ngelihat meja makan tergantikan isinya dengan masakan saya yang amburadul.

Jadilah setiap hari ketika jam makan suami tiba (jam 12.00) saya selalu chat untuk minta maaf atas lidah yang berulang kali jadi korban saya itu 😦

Ceritanya, duluu jauh sebelum menikah, saya selalu idealis dengan prinsip “Pokoknya nanti, suami harus selalu makan masakanku. Aku berusaha masak yang sehat-sehat dan terjaga. Suami gak boleh banyak-banyak jajan diluar”

Tapi setelah hari demi hari dapur bak kapal pecah, daster bau minyak, suami berangkat wajah saya kucel kayak wajan… setelahnya cuma bisa nangis sambil nahan lauk yang keasinan atau kemanisan dan menangisi semua bahan-bahan masakan yang saya buat sia-sia dan uang-uang yang saya habiskan untuk masakan yang tidak layak untuk dimakan.

Jadi memang masak bukanlah syarat yang perlu-perlu banget diperhatikan sebelum menikah, tapi alangkah baiknya setidaknya kamu tau mana itu merica dan ketumbar biar gak keliru :””””””((((

Resep dasar yang selalu saya lupakan ketika memasak adalah memahami seberapa takaran manis dan asin dengan sekian banyaknya air, sekian banyaknya bumbu dan banyaknya bahan sayur. Setelah dipikir-pikir, otak selalu termind-set dengan kata “ayok bisa bikin yang kayak ibuk bikin” (si penggemar masakan ibuk). Sungguh rasanya memang, ketika saya makan dimanapun tempatnya, lidah saya selalu dengan otomatis membandingkan bahwa masakan ibuk selalu yang juara.

Tapi setelah tiga minggu berlalu, intensitas drama berkurang drastis. Lidah saya mulai familiar dengan rasa masakan dan kadar takaran yang biasa saya pakai untuk tia-tiap jenis masakannya. Memahami bahwa diri sedang berproses adalah sebuah keharusan dan saya mencoba untuk itu. Saya terharu :p

 


Ditulis dengan sepenuh hati mengingat prosesnya, untuk suatu saat dibaca kembali sebagai pengingat. Terima kasih keasinan dan kemanisan! Terima kasih merica yang kukira adalah ketumbar 😉 Aku bertumbuh karnamu :p

PS : Selanjutnya akan kutulis resep Ayam Pedas Manis favoritku yay! Akhirnya berhasil haha

Surabaya, 9 Januari 2018

 

​Jangan capek memahamkan diri bahwa rejeki bukan hanya banyaknya materi, tapi berkahnya.

Bisa jadi itu adalah kesempatan berada di lingkungan yang baik, berteman dengan yang mengingat kebaikan dan dijauhkan dari hal-hal tidak manfaat.

Jangan capek memahamkan diri bahwa ilmu bukan hanya perkara banyaknya, tapi amalnya.

Bisa jadi yang sedikit-sedikit namun selalu dilakukan. Bisa jadi yang niatnya pernah belok namun menyadari jalan kembali.

12.10.17

Dalam hiruk pikuknya pikiran.

Yang Menerima

 

yuk belajar menerima
sumber gambar google.com

Nrimo ing pandum.

Dalam perjalanan pulang ngajar sore saya melihat tulisan ini sebagai sticker di sebuah truck.
Momen perjalanan selalu menyenangkan untuk saya merefleksi yang telah dilalui hari itu. Tiga kalimat tersebut seolah mengingatkan saya tentang banyak hal.
Kalau diartikan dalam bahasa Indonesia adalah menerima dalam pembagian. Pertanyaan selanjutnya adalah siapa yang menerima dan siapa yang memberi?

Manusia yang menerima dan Allah yang memberi. Allah yang Maha Memiliki.
Konteks kalimat ini, memang akan memberikan opsi kepada kita banyak sekali permasalahan hidup. Menerima pemberian, menerima peringatan, menerima sedih, menerima bahagia, menerima sakit, menerima sehat, menerima rejeki, menerima takdir bahkan sesederhana menerima kesempatan yang ternyata jatuhnya di kita. Padahal gak ngarepin kesempatan itu hadir. Selalu ada tujuan mengapa Allah memberikannya. Toh memang segala sesuatu yang kita “alami/miliki” saat ini adalah pemberian Allah. Maka kunci utama menjalani hidup semestinya adalah menyadari bahwa tidak ada yang kita miliki selain atas pemberian Allah. Pemberian yang diberikan oleh sebaik-baiknya pemberi.
Kadar yang Allah beri pun persis tanpa perlu susah-susah kita timbang (bandingkan) dengan milik orang lain. Porsinya sebanyak apa, jauhnya langkah sejauh apa, lamanya waktu selama apa. Semua itu hanya akan teratasi dengan lebih baik ketika dalam lubuk hati kita telah tertanam perasaan “menerima”.

Menerima bukan berarti pasrah tanpa mengusahakan apapun yang bisa kita usahakan.
Suatu ketika, saya mengajar di rumah siswa yang belum pernah saya tangani sejauh ini. Siswa ini mengalami suatu hal yang mengakibatkan dia harus kehilangan “kesadarannya” akan segala sesuatu. Diajak ngomong a, jawabnya z, ditanya ini jawabnya itu. Dlsb. Qodarullah, Allah kuatkan keluarganya dalam segi apapun, materiil maupun non materiil. Hingga kekuatan hati, kalo istilah saya.

Saya hanya terus bertanya dalam hati sepanjang perjalanan pulang. Sekuat apa orangtua dan orang-orang di sekitarnya untuk “menerima”?

Karena penerimaan atas ketetapan yang Allah beri adalah kunci untuk dapat menjalaninya. Dan ternyata ini sudah tahun ketiga keluarga tersebut menjalani. Semoga senantiasa Allah kuatkan. Sejatinya kita memang perlu dihadapkan dengan kondisi-kondisi seperti itu untuk tidak lupa bahwa ada yang perlu kita prihatinkan dan syukuri.
Meyakini bahwa semua ketetapan Allah adalah baik. Meskipun proses menerima yang kita lakukan tidak akan mudah.
Saya selalu suka mengatakannya dengan kalimat “memiliki pemahaman baik” yang itu artinya tidak jauh-jauh dengan bagaimana kita mengolah emosi, menjernihkan pola pikir, memilah tindakan, melakukan aksi dan mendapat reaksi yang akan berujung pada penerimaan setelah kita berupaya.

Mbuleeeet ae bahasanya wkwkw
Memang betul ini prakteknya syusaaaaaah sekalih. Tapi masyaAllah luar biasa rasa yang  bisa menerima dalam hati. Seperti yang saya lihat dari orangtua siswa saya , terpancar dari matanya seolah berkata “sudah diberi jatahnya begini bu, diambil hikmahnya. Segala sesuatu pasti ada hikmahnya


Semoga kita dimudahkan menjadi orang yang tidak hanya mudah sekali mengatakan “percaya pada takdir Allah” tapi juga mempercayakan pada Allah bahwa Allah sebaik-baiknya pemberi. Maka kita akan menjadi hamba Allah dengan sebaik-baiknya penerima. Semoga Allah lapangkan hati #mewek

Surabaya, 6 Oktober 2017

Tuh kan, kejedot….

124659_kidstairs_getty

 

“Tuh kan, kejedot….”

“Hehe iyaaa….”

Sambil sedikit mengaduh dan mengusap-usap kepalanya, sembari saya bantu. Seketika itu rasa bersalah saya muncul dan sejurus kemudian saya minta maaf karena telah membiarkan omongan tadi terlepas dari mulut saya.

Tapi senyum polosnya masih mengembang. Fazila, siswi kelas 1 SD yang hobinya tersenyum dan tertawa dengan nada default “hehe”. Awalnya saya sudah ingatkan dia untuk berhati-hati, karena kelas pagi ini kami belajar di loteng sekolah yang disulap menjadi creativity class. Jadi lesehan gitu ceritanya…

Nah ada satu sudut yang memang rendah, otomatis memungkinkan untuk mudah terkena kepala jika tidak hati-hati sewaktu berdiri.

Entah kenapa, saya terus teringat dengan kalimat yang saya ucapkan kepadanya…


Sebetulnya hanya perlu mengganti kalimatnya menjadi ;

“Habis kejedot ya… sakit ndak? (sambil tetap mengusap-usap kepalanya) lain kali lebih hati-hati lagi ya” 

Tapi yaaa begitulah terlanjur terucap, akhirnya dengan rasa bersalah dan terus terfikir maka saya hanya bisa minta maaf untuk memperbaiki pola pikirnya yang (semoga belum) mencatat “kok aku disalahkan….”

Maafin ibuk ya Zila…


Di sebuah artikel yang saya lupa persisnya…

Hal-hal kecil seperti ini yang sering membuat orang tua tanpa sadar membiarkan anak-anak menyimpan memori tentang betapa mudahnya menyalahkan sesuatu, orang lain atau bahkan dirinya sendiri yang sebetulnya itu adalah bentuk ketidak sengajaan.

Dan ternyata….

Ini merupakan gaya parenting yang sudah populer digunakan dikalangan sekitar. Sikap “mudah menyalahkan” ini akibatnya bisa panjaaang sekali di masa depan.

 


 

Mengapa perlu berhati-hati dalam berkata pada anak?

Efek dari sikap diatas sama seperti ketika dalam kalimat menyalahkan tersebut ditambah dengan menyalahkan benda lain. Contohnya ketika anak jatuh, maka yang disalahkan ubinnya atau segala sesuatu yang memicu si anak jatuh.

Maka dalam memorinya tersimpan bahwa mudah sekali menyalahkan sesuatu. Ia akan merasa bahwa boleh-boleh saja atau sah saja mencari kambing hitam untuk tidak bertanggung jawab atas dirinya.

Misalnya dalam sebuah contoh ;

Anak tidak sadar jika air di dalam gelas yang ia pegang, tumpah. Lantai rumah menjadi basah dan licin.

Maka orang tua pada umumnya akan bertanya “Kok bisa tumpah?”

Yang semestinya kalimat tersebut akan lebih efektif jika dirubah menjadi “Airnya tumpah ya… Yuk bantuin ibuk keringkan/bereskan”

Anyway, saya nulis ini sambil jejeritan dalam hati nemuin solusi perdebatan yang ada dalem pikiran XD

Jadi ngerasa, ya ampuuuun belajarnya masih kurang. Jadi bilang ke diri sendiri “Iya ya… kan gitu lebih baik ya. Iya ya ya ampuun…”


Sedikit solusi dari masalah diatas ;

  1. Sebetulnya hanya perlu tahan emosiiiiii wkwk yang ini syuusaaaah. Regulasi emosi. Belajar lagi lah yhaaa…
  2. Tampung pikiran positif dan fokus pada solusi
  3. Tujuannya untuk membuat anak menjadi bertanggung jawab atas dirinya, maka jangan biarkan pikiran kita terfokus dengan “alasannya, kenapa bisa begini, kenapa bisa begitu”
  4. Segera minta maaf ke anak, kalau terlanjur 😦

Dampak yang berakibat pada anak ;

  1. Anak akan mudah mencari kambing hitam atas permasalahannya
  2. Itu artinya, ia telah dibiasakan untuk tidak bertanggung jawab atas apa yang ia alami
  3. Anak akan mudah berbohong dan mencari-cari alasan atas terjadinya sesuatu
  4. Anak menjadi mudah ragu bertindak karena merasa apa yang ia lakukan akan mudah disalahkan
  5. Menjadi demotivated
  6. Menjadi mudah bingung, kecewa, marah dan seabrek sikap-sikap negatif lainnya
  7. Menjadi sosok yang mudah menyalahkan dirinya sendiri kemudian lelah terhadap jiwanya..
  8. Mudah membuat jiwanya merasa lemah dan tidak percaya diri

Curhat sore ini. Bismillah bisa lebih baik lagi. Semangat yang lagi berjuaaaangg 🙂

Surabaya, 12.09.17

Tambahan referensi :

http://www.zeth-house.com/2016/05/menyiapkan-anak-tangguh-di-era-digital.html

http://sayangianak.com/orantua-harus-berhenti-menyalahkan-hal-lain-untuk-kesalahan-anak-bahaya-itu-bagi-perkembangan-oribadinya-dalam-jangka-panjang/

 

Sedikit Portofolio

Ternyata aktifitas yang bisa kita lakukan adalah aktifitas yang belum tentu kita suka lakukan.

Karena IIP saya belajar ilmu ini. Saya adalah hasil salah jurusan, mungkin bisa 90% jika di prosentase 😂

Jiwa saya masih saja terpanggil ke dunia anak-anak. Itupun yang coba terus saya hadirkan dalam aktifitas keseharian selama kuliah sampai saat ini.

Di sela kuliah dulu, saya suka ikut-ikut Kelas Inspirasi yang dikebawahi Indonesia Mengajar namun dalam lingkup yang lebih kecil dan langsung menghadirkan para profesional di bidangnya masing-masing. Saya bisa belajar dari pendongeng, dari penari, perawat dan masih banyak lain tentang keahlian mereka.

Di tengah perjalanan skripsi, saya coba-coba untuk istiqomah meneruskan daftar Forum Indonesia Muda yang membawa saya pada komunitas Gerakan Mendongeng Malang. Which is tetap bergelut dengan anak-anak.

Sampai pada akhirnya, saya yang pernh separuh perjalanan penelitian kembali galau dan pindah haluan balik untuk pilih penelitian seputar anak. Jatuhlah penelitian ke Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Malang, meski gak all out selama disana. Tapi berada di lingkarannya banyak membukakan mata saya.

Pasca wisuda, perjalanan mencari pekerjaan betul-betul jadi ajang perjuangan wqwq

Saking gak expert di bidang apapun selama kuliah. Teriaknya dalam hati juga pengen terjun di dunia anak-anak aja.

Qadarullah, setahun dapet kerja di perusahaan IT Consultant, membuat saya merasa no progress. Dan ada satu fase panjang…yang membuat saya dihadirkan di tempat saya bekerja saat ini.

Curhat ceritanya wkwk. Jadi saya suka desain, selama belum ngajar, di kantor lama pun saya suka ndesain. Tapi ndak bertumbuh.

Setelah tau ilmunya, sedikt2 saya mulai sadar kalau ternyata….. Saya hanya bisa, untuk suka belum bisa sepenuhnya.

Masih punyaaaa banyak cita-cita seputar desain. Tapi gak buat soksok direalisasiin sendiri kayaknya 😆 #saatnyakaderisasi #behguaya

Nah, ceritanya saya lagi buka-buka ulang sekaligus mengabadikan sak duikit portfolio yang pernah saya buat dan mereka ini yang paling favo! dimata sendiri. Haha ya iyalah, siapa lagi yang muji kalo bukan diri sendiri.

Sekian curhatan saya, intinya…

Belajar aja terus buat ngasah skill. Tapi skill disini bukan sembarang skill, kalau yang sekarang saya tanamkan jauh di dalam pikiran adalah usahakan terus apa yang kamu bisa dan suka. Ditambah bumbunya do’a minta sama Allah, moga makin dilapangkan jalan pilihannya dan ditunjukkan yang terbaik sama Allah.

Satu lagi, capek-capek salah jurusan pun ndak masalah. Kalau memang sudah terlanjur nyemplung, semangat perjuangkan dan selesaikan yang sudah dimulai. Sembari renungi ulang, dimana maksud Allah menakdirkan kita lahir di dunia ini. Allah pasti punya maksud dari semua perjalanan hidup kita sampai saat ini…

Semangat yhaaa semuwa!

Surabaya, 29.08.17

Cerita Jogja : Mbak Masiti

Introvert bukan dalih untuk mendispensasi diri dari pergaulan yang terbuka. Meskipun memang seorang introvert, memiliki caranya sendiri untuk mengembangkan kemampuan bersosialisasinya. Kira-kira apa jadinya kalau sesama intro saling ngobrol?

Saya ucapkan beberapa kalimat diatas sembari berkaca, ngandani awake dewe (menasehati diri sendiri) wkwk.

Sabtu sore saya mbolang ke Jogja, modal pas-pasan dan ada seorang teman yang berniat saya repoti untuk bermalam. Kami lama sekali tidak bertemu semenjak kurang lebih 1,5 tahun, teman semasa kuliah dulu. Saya kenal beliau sebagai sosok yang tertutup namun selalu tampak optimis dengan pilihan-pilihan yang diambilnya.

Langkah kakinya cepat dan jarang basa-basi.

Flashback nya, dulu ketika di tahun pertama perkuliahan saya sering merasa roaming sewaktu kami ada dalam satu momen, atmosfir disekitar kami menjadi sangat sepi 😂

Nah! Sore itu obrolan kami random sekali, tiba-tiba tertawa dan menangis. Tapi untuk kali ini saya tidak lagi merasa failed. Yang pasti, saya melihat sosok beliau kini tidak seperti 2 tahun yang lalu 😊

Awalnya saya terlanjur su’udzon lebih dulu, gimana kalo ini nanti akan tetep sama krik-kriknya 😂

Saya cuma mbatin “padahal aku dah berusaha cari celah gimana caranya supaya obrolannya dak pasif”. Dan ternyataaaa, saya justru dapet yang lebih dari itu. Banyaaak sekali yang beliau ceritakan tentang meredam ego, tentang komitmen menjalankan sebuah pilihan, tentang berdamai dengan diri sendiri, tentang penerimaan bahwa takdir Allah selalu baik.

Bagaimanapun cara yang Allah miliki, terkadang kitalah yang kurang notice dengan kode-kode yang Allah kasih.

Dari situ saya semakin percaya ; 

Tiap manusia diuji dengan ujian masing-masing. Tiap-tiap manusia memiliki track perjuangan masingmasing. Dan Allah telah membuatkannya sesuai dengan batas kemampuan yang dimiliki.

Dari beberapa curhat yang tidak bisa diceritakan disini, yang saya tangkap untuk menasehati diri sendiri adalah

  • Manusia selalu punya rencana, seeee rapih apapun itu, kalau Allah ndak berkehendak maka ya gak akan terjadi.
  • Kunci utama hubungan horisontal adalah berdamai dengan diri sendiri
  • Kunci utama hubungan vertikal adalah selalu berusaha husnudzon ke Allah, Allah yang akan jamin nasib kita.
  • Dan menerima bahwa rencana Allah pastilah yang terbaik. Terakhir ini kelihatannya sepele. Tapi penerimaan selalu beriringan dengan rasa ikhlas, yang sulit sekali dijalani.

Honestly, prolog saya mungkin kurang nyambung yak 😂

Aslinya cuma pengen cerita dan pengen bilang bahwa perjalanan itu pasti membawa hikmah. Sekecil apapun kita menyadari, tapi semoga dari yang kecil pun kita bisa ambil pelajaran dan diamalkan 😊

Epilognya : Saya pengen foto sama mbak mas (panggilan untuk mbak masiti) didepan tulisan UGM tapi dak boleh 😥 katanya ada mitos berakibat lulusnya lama wkwk. Anyway, semangat S2 nya mbaaakkk 😍

Dalam perjalanan Jogja – Salatiga.

Saya adalah Agen Perubahan

Menuliskan ini seperti memulai tanggung jawab baru. Tidak lagi hanya merencanakan, tidak lagi menentukan langkah awal, namun menjalaninya. Mengupayakan untuk terus berkembang dan berubah dengan tujuan yang lebih luas.

Selama mengikuti program matrikulasi IIP ini peserta di ajak untuk disiplin terhadap diri sendiri dan terlebih dahulu. Bagaimana menentukan pembelajaran dimulai untuk diri sendiri, sebelum nantinya akan diterapkan dalam rumah tangga, dalam masyarakat sekitar dan dalam cakupan yang lebih meluas.

Setelah step by step nya telah dilewati, untuk menjadi agen perubahan kita akan melihat dari beberapa sudut pandang, dimulai dari ;

PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE

Social Venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan.

Sedangkan social enterpreneur adalah orang yang menyelesaikan isu sosial di sekitarnya menggunakan kemampuan enterpreneur.

Dimulai dari menemukan rasa emphaty terhadap sebuah permasalahan yang dapat kita temukan serta menemukan solusi yang dicapai dengan passion dan memerdekakan nasib sendiri.

Tanpa menunggu bantuan orang lain, maka individu tersebut akan bisa memulai dari dirinya sendiri terlebih dulu.

Sejatinya, banyak sekali langkah yang bisa diambil, namun apabila tidak dijalankan dengan fokus maka hasilnya tidak akan maksimal.

Melihat atmosfer disekitar tempat tinggal dan tempat beraktifitas, juga menjadi salah satu poin penting yang perlu diperhatikan dalam meneruskan langkah untuk berproduktif. Dari situlah area yang bisa dijadikan bahan rasa emphaty. Berangkat dengan rasa emphaty, kemudian merumuskan bagaimana diri akan belajar mengupgrade diri serta menghasilkan output yang nantinya akan memiliki andil dalam kehidupan.

Prosesnya memang akan sangat panjang, namun jika tidak dimulai maka tidak akan ada hasil yang selama ini telah diharapkan.

Di bawah ini adalah pemetaan dari social venture yang berangkat dari rasa emphaty yang nantinya ingin sekali saya wujudkan satu persatu. Dimulai dari diri sendiri.

Bismillahirrahmanirrahiim..