​Jangan capek memahamkan diri bahwa rejeki bukan hanya banyaknya materi, tapi berkahnya.

Bisa jadi itu adalah kesempatan berada di lingkungan yang baik, berteman dengan yang mengingat kebaikan dan dijauhkan dari hal-hal tidak manfaat.

Jangan capek memahamkan diri bahwa ilmu bukan hanya perkara banyaknya, tapi amalnya.

Bisa jadi yang sedikit-sedikit namun selalu dilakukan. Bisa jadi yang niatnya pernah belok namun menyadari jalan kembali.

12.10.17

Dalam hiruk pikuknya pikiran.

Advertisements

Yang Menerima

 

yuk belajar menerima
sumber gambar google.com

Nrimo ing pandum.

Dalam perjalanan pulang ngajar sore saya melihat tulisan ini sebagai sticker di sebuah truck.
Momen perjalanan selalu menyenangkan untuk saya merefleksi yang telah dilalui hari itu. Tiga kalimat tersebut seolah mengingatkan saya tentang banyak hal.
Kalau diartikan dalam bahasa Indonesia adalah menerima dalam pembagian. Pertanyaan selanjutnya adalah siapa yang menerima dan siapa yang memberi?

Manusia yang menerima dan Allah yang memberi. Allah yang Maha Memiliki.
Konteks kalimat ini, memang akan memberikan opsi kepada kita banyak sekali permasalahan hidup. Menerima pemberian, menerima peringatan, menerima sedih, menerima bahagia, menerima sakit, menerima sehat, menerima rejeki, menerima takdir bahkan sesederhana menerima kesempatan yang ternyata jatuhnya di kita. Padahal gak ngarepin kesempatan itu hadir. Selalu ada tujuan mengapa Allah memberikannya. Toh memang segala sesuatu yang kita “alami/miliki” saat ini adalah pemberian Allah. Maka kunci utama menjalani hidup semestinya adalah menyadari bahwa tidak ada yang kita miliki selain atas pemberian Allah. Pemberian yang diberikan oleh sebaik-baiknya pemberi.
Kadar yang Allah beri pun persis tanpa perlu susah-susah kita timbang (bandingkan) dengan milik orang lain. Porsinya sebanyak apa, jauhnya langkah sejauh apa, lamanya waktu selama apa. Semua itu hanya akan teratasi dengan lebih baik ketika dalam lubuk hati kita telah tertanam perasaan “menerima”.

Menerima bukan berarti pasrah tanpa mengusahakan apapun yang bisa kita usahakan.
Suatu ketika, saya mengajar di rumah siswa yang belum pernah saya tangani sejauh ini. Siswa ini mengalami suatu hal yang mengakibatkan dia harus kehilangan “kesadarannya” akan segala sesuatu. Diajak ngomong a, jawabnya z, ditanya ini jawabnya itu. Dlsb. Qodarullah, Allah kuatkan keluarganya dalam segi apapun, materiil maupun non materiil. Hingga kekuatan hati, kalo istilah saya.

Saya hanya terus bertanya dalam hati sepanjang perjalanan pulang. Sekuat apa orangtua dan orang-orang di sekitarnya untuk “menerima”?

Karena penerimaan atas ketetapan yang Allah beri adalah kunci untuk dapat menjalaninya. Dan ternyata ini sudah tahun ketiga keluarga tersebut menjalani. Semoga senantiasa Allah kuatkan. Sejatinya kita memang perlu dihadapkan dengan kondisi-kondisi seperti itu untuk tidak lupa bahwa ada yang perlu kita prihatinkan dan syukuri.
Meyakini bahwa semua ketetapan Allah adalah baik. Meskipun proses menerima yang kita lakukan tidak akan mudah.
Saya selalu suka mengatakannya dengan kalimat “memiliki pemahaman baik” yang itu artinya tidak jauh-jauh dengan bagaimana kita mengolah emosi, menjernihkan pola pikir, memilah tindakan, melakukan aksi dan mendapat reaksi yang akan berujung pada penerimaan setelah kita berupaya.

Mbuleeeet ae bahasanya wkwkw
Memang betul ini prakteknya syusaaaaaah sekalih. Tapi masyaAllah luar biasa rasa yang  bisa menerima dalam hati. Seperti yang saya lihat dari orangtua siswa saya , terpancar dari matanya seolah berkata “sudah diberi jatahnya begini bu, diambil hikmahnya. Segala sesuatu pasti ada hikmahnya


Semoga kita dimudahkan menjadi orang yang tidak hanya mudah sekali mengatakan “percaya pada takdir Allah” tapi juga mempercayakan pada Allah bahwa Allah sebaik-baiknya pemberi. Maka kita akan menjadi hamba Allah dengan sebaik-baiknya penerima. Semoga Allah lapangkan hati #mewek

Surabaya, 6 Oktober 2017

Tuh kan, kejedot….

124659_kidstairs_getty

 

“Tuh kan, kejedot….”

“Hehe iyaaa….”

Sambil sedikit mengaduh dan mengusap-usap kepalanya, sembari saya bantu. Seketika itu rasa bersalah saya muncul dan sejurus kemudian saya minta maaf karena telah membiarkan omongan tadi terlepas dari mulut saya.

Tapi senyum polosnya masih mengembang. Fazila, siswi kelas 1 SD yang hobinya tersenyum dan tertawa dengan nada default “hehe”. Awalnya saya sudah ingatkan dia untuk berhati-hati, karena kelas pagi ini kami belajar di loteng sekolah yang disulap menjadi creativity class. Jadi lesehan gitu ceritanya…

Nah ada satu sudut yang memang rendah, otomatis memungkinkan untuk mudah terkena kepala jika tidak hati-hati sewaktu berdiri.

Entah kenapa, saya terus teringat dengan kalimat yang saya ucapkan kepadanya…


Sebetulnya hanya perlu mengganti kalimatnya menjadi ;

“Habis kejedot ya… sakit ndak? (sambil tetap mengusap-usap kepalanya) lain kali lebih hati-hati lagi ya” 

Tapi yaaa begitulah terlanjur terucap, akhirnya dengan rasa bersalah dan terus terfikir maka saya hanya bisa minta maaf untuk memperbaiki pola pikirnya yang (semoga belum) mencatat “kok aku disalahkan….”

Maafin ibuk ya Zila…


Di sebuah artikel yang saya lupa persisnya…

Hal-hal kecil seperti ini yang sering membuat orang tua tanpa sadar membiarkan anak-anak menyimpan memori tentang betapa mudahnya menyalahkan sesuatu, orang lain atau bahkan dirinya sendiri yang sebetulnya itu adalah bentuk ketidak sengajaan.

Dan ternyata….

Ini merupakan gaya parenting yang sudah populer digunakan dikalangan sekitar. Sikap “mudah menyalahkan” ini akibatnya bisa panjaaang sekali di masa depan.

 


 

Mengapa perlu berhati-hati dalam berkata pada anak?

Efek dari sikap diatas sama seperti ketika dalam kalimat menyalahkan tersebut ditambah dengan menyalahkan benda lain. Contohnya ketika anak jatuh, maka yang disalahkan ubinnya atau segala sesuatu yang memicu si anak jatuh.

Maka dalam memorinya tersimpan bahwa mudah sekali menyalahkan sesuatu. Ia akan merasa bahwa boleh-boleh saja atau sah saja mencari kambing hitam untuk tidak bertanggung jawab atas dirinya.

Misalnya dalam sebuah contoh ;

Anak tidak sadar jika air di dalam gelas yang ia pegang, tumpah. Lantai rumah menjadi basah dan licin.

Maka orang tua pada umumnya akan bertanya “Kok bisa tumpah?”

Yang semestinya kalimat tersebut akan lebih efektif jika dirubah menjadi “Airnya tumpah ya… Yuk bantuin ibuk keringkan/bereskan”

Anyway, saya nulis ini sambil jejeritan dalam hati nemuin solusi perdebatan yang ada dalem pikiran XD

Jadi ngerasa, ya ampuuuun belajarnya masih kurang. Jadi bilang ke diri sendiri “Iya ya… kan gitu lebih baik ya. Iya ya ya ampuun…”


Sedikit solusi dari masalah diatas ;

  1. Sebetulnya hanya perlu tahan emosiiiiii wkwk yang ini syuusaaaah. Regulasi emosi. Belajar lagi lah yhaaa…
  2. Tampung pikiran positif dan fokus pada solusi
  3. Tujuannya untuk membuat anak menjadi bertanggung jawab atas dirinya, maka jangan biarkan pikiran kita terfokus dengan “alasannya, kenapa bisa begini, kenapa bisa begitu”
  4. Segera minta maaf ke anak, kalau terlanjur 😦

Dampak yang berakibat pada anak ;

  1. Anak akan mudah mencari kambing hitam atas permasalahannya
  2. Itu artinya, ia telah dibiasakan untuk tidak bertanggung jawab atas apa yang ia alami
  3. Anak akan mudah berbohong dan mencari-cari alasan atas terjadinya sesuatu
  4. Anak menjadi mudah ragu bertindak karena merasa apa yang ia lakukan akan mudah disalahkan
  5. Menjadi demotivated
  6. Menjadi mudah bingung, kecewa, marah dan seabrek sikap-sikap negatif lainnya
  7. Menjadi sosok yang mudah menyalahkan dirinya sendiri kemudian lelah terhadap jiwanya..
  8. Mudah membuat jiwanya merasa lemah dan tidak percaya diri

Curhat sore ini. Bismillah bisa lebih baik lagi. Semangat yang lagi berjuaaaangg 🙂

Surabaya, 12.09.17

Tambahan referensi :

http://www.zeth-house.com/2016/05/menyiapkan-anak-tangguh-di-era-digital.html

http://sayangianak.com/orantua-harus-berhenti-menyalahkan-hal-lain-untuk-kesalahan-anak-bahaya-itu-bagi-perkembangan-oribadinya-dalam-jangka-panjang/

 

Sedikit Portofolio

Ternyata aktifitas yang bisa kita lakukan adalah aktifitas yang belum tentu kita suka lakukan.

Karena IIP saya belajar ilmu ini. Saya adalah hasil salah jurusan, mungkin bisa 90% jika di prosentase 😂

Jiwa saya masih saja terpanggil ke dunia anak-anak. Itupun yang coba terus saya hadirkan dalam aktifitas keseharian selama kuliah sampai saat ini.

Di sela kuliah dulu, saya suka ikut-ikut Kelas Inspirasi yang dikebawahi Indonesia Mengajar namun dalam lingkup yang lebih kecil dan langsung menghadirkan para profesional di bidangnya masing-masing. Saya bisa belajar dari pendongeng, dari penari, perawat dan masih banyak lain tentang keahlian mereka.

Di tengah perjalanan skripsi, saya coba-coba untuk istiqomah meneruskan daftar Forum Indonesia Muda yang membawa saya pada komunitas Gerakan Mendongeng Malang. Which is tetap bergelut dengan anak-anak.

Sampai pada akhirnya, saya yang pernh separuh perjalanan penelitian kembali galau dan pindah haluan balik untuk pilih penelitian seputar anak. Jatuhlah penelitian ke Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Malang, meski gak all out selama disana. Tapi berada di lingkarannya banyak membukakan mata saya.

Pasca wisuda, perjalanan mencari pekerjaan betul-betul jadi ajang perjuangan wqwq

Saking gak expert di bidang apapun selama kuliah. Teriaknya dalam hati juga pengen terjun di dunia anak-anak aja.

Qadarullah, setahun dapet kerja di perusahaan IT Consultant, membuat saya merasa no progress. Dan ada satu fase panjang…yang membuat saya dihadirkan di tempat saya bekerja saat ini.

Curhat ceritanya wkwk. Jadi saya suka desain, selama belum ngajar, di kantor lama pun saya suka ndesain. Tapi ndak bertumbuh.

Setelah tau ilmunya, sedikt2 saya mulai sadar kalau ternyata….. Saya hanya bisa, untuk suka belum bisa sepenuhnya.

Masih punyaaaa banyak cita-cita seputar desain. Tapi gak buat soksok direalisasiin sendiri kayaknya 😆 #saatnyakaderisasi #behguaya

Nah, ceritanya saya lagi buka-buka ulang sekaligus mengabadikan sak duikit portfolio yang pernah saya buat dan mereka ini yang paling favo! dimata sendiri. Haha ya iyalah, siapa lagi yang muji kalo bukan diri sendiri.

Sekian curhatan saya, intinya…

Belajar aja terus buat ngasah skill. Tapi skill disini bukan sembarang skill, kalau yang sekarang saya tanamkan jauh di dalam pikiran adalah usahakan terus apa yang kamu bisa dan suka. Ditambah bumbunya do’a minta sama Allah, moga makin dilapangkan jalan pilihannya dan ditunjukkan yang terbaik sama Allah.

Satu lagi, capek-capek salah jurusan pun ndak masalah. Kalau memang sudah terlanjur nyemplung, semangat perjuangkan dan selesaikan yang sudah dimulai. Sembari renungi ulang, dimana maksud Allah menakdirkan kita lahir di dunia ini. Allah pasti punya maksud dari semua perjalanan hidup kita sampai saat ini…

Semangat yhaaa semuwa!

Surabaya, 29.08.17

Cerita Jogja (1) : Mbak Masiti

Introvert bukan dalih untuk mendispensasi diri dari pergaulan yang terbuka. Meskipun memang seorang introvert, memiliki caranya sendiri untuk mengembangkan kemampuan bersosialisasinya. Kira-kira apa jadinya kalau sesama intro saling ngobrol?

Saya ucapkan beberapa kalimat diatas sembari berkaca, ngandani awake dewe (menasehati diri sendiri) wkwk.

Sabtu sore saya mbolang ke Jogja, modal pas-pasan dan ada seorang teman yang berniat saya repoti untuk bermalam. Kami lama sekali tidak bertemu semenjak kurang lebih 1,5 tahun, teman semasa kuliah dulu. Saya kenal beliau sebagai sosok yang tertutup namun selalu tampak optimis dengan pilihan-pilihan yang diambilnya.

Langkah kakinya cepat dan jarang basa-basi.

Flashback nya, dulu ketika di tahun pertama perkuliahan saya sering merasa roaming sewaktu kami ada dalam satu momen, atmosfir disekitar kami menjadi sangat sepi 😂

Nah! Sore itu obrolan kami random sekali, tiba-tiba tertawa dan menangis. Tapi untuk kali ini saya tidak lagi merasa failed. Yang pasti, saya melihat sosok beliau kini tidak seperti 2 tahun yang lalu 😊

Awalnya saya terlanjur su’udzon lebih dulu, gimana kalo ini nanti akan tetep sama krik-kriknya 😂

Saya cuma mbatin “padahal aku dah berusaha cari celah gimana caranya supaya obrolannya dak pasif”. Dan ternyataaaa, saya justru dapet yang lebih dari itu. Banyaaak sekali yang beliau ceritakan tentang meredam ego, tentang komitmen menjalankan sebuah pilihan, tentang berdamai dengan diri sendiri, tentang penerimaan bahwa takdir Allah selalu baik.

Bagaimanapun cara yang Allah miliki, terkadang kitalah yang kurang notice dengan kode-kode yang Allah kasih.

Dari situ saya semakin percaya ; 

Tiap manusia diuji dengan ujian masing-masing. Tiap-tiap manusia memiliki track perjuangan masingmasing. Dan Allah telah membuatkannya sesuai dengan batas kemampuan yang dimiliki.

Dari beberapa curhat yang tidak bisa diceritakan disini, yang saya tangkap untuk menasehati diri sendiri adalah 

  • Manusia selalu punya rencana, seeee rapih apapun itu, kalau Allah ndak berkehendak maka ya gak akan terjadi.
  • Kunci utama hubungan horisontal adalah berdamai dengan diri sendiri
  • Kunci utama hubungan vertikal adalah selalu berusaha husnudzon ke Allah, Allah yang akan jamin nasib kita.
  • Dan menerima bahwa rencana Allah pastilah yang terbaik. Terakhir ini kelihatannya sepele. Tapi penerimaan selalu beriringan dengan rasa ikhlas, yang sulit sekali dijalani.

Honestly, prolog saya mungkin kurang nyambung yak 😂

Aslinya cuma pengen cerita dan pengen bilang bahwa perjalanan itu pasti membawa hikmah. Sekecil apapun kita menyadari, tapi semoga dari yang kecil pun kita bisa ambil pelajaran dan diamalkan 😊

Epilognya : Saya pengen foto sama mbak mas (panggilan untuk mbak masiti) didepan tulisan UGM tapi dak boleh 😥 katanya ada mitos berakibat lulusnya lama wkwk. Anyway, semangat S2 nya mbaaakkk 😍

Saya adalah Agen Perubahan

Menuliskan ini seperti memulai tanggung jawab baru. Tidak lagi hanya merencanakan, tidak lagi menentukan langkah awal, namun menjalaninya. Mengupayakan untuk terus berkembang dan berubah dengan tujuan yang lebih luas.

Selama mengikuti program matrikulasi IIP ini peserta di ajak untuk disiplin terhadap diri sendiri dan terlebih dahulu. Bagaimana menentukan pembelajaran dimulai untuk diri sendiri, sebelum nantinya akan diterapkan dalam rumah tangga, dalam masyarakat sekitar dan dalam cakupan yang lebih meluas.

Setelah step by step nya telah dilewati, untuk menjadi agen perubahan kita akan melihat dari beberapa sudut pandang, dimulai dari ;

PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE

Social Venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan.

Sedangkan social enterpreneur adalah orang yang menyelesaikan isu sosial di sekitarnya menggunakan kemampuan enterpreneur.

Dimulai dari menemukan rasa emphaty terhadap sebuah permasalahan yang dapat kita temukan serta menemukan solusi yang dicapai dengan passion dan memerdekakan nasib sendiri.

Tanpa menunggu bantuan orang lain, maka individu tersebut akan bisa memulai dari dirinya sendiri terlebih dulu.

Sejatinya, banyak sekali langkah yang bisa diambil, namun apabila tidak dijalankan dengan fokus maka hasilnya tidak akan maksimal.

Melihat atmosfer disekitar tempat tinggal dan tempat beraktifitas, juga menjadi salah satu poin penting yang perlu diperhatikan dalam meneruskan langkah untuk berproduktif. Dari situlah area yang bisa dijadikan bahan rasa emphaty. Berangkat dengan rasa emphaty, kemudian merumuskan bagaimana diri akan belajar mengupgrade diri serta menghasilkan output yang nantinya akan memiliki andil dalam kehidupan.

Prosesnya memang akan sangat panjang, namun jika tidak dimulai maka tidak akan ada hasil yang selama ini telah diharapkan.

Di bawah ini adalah pemetaan dari social venture yang berangkat dari rasa emphaty yang nantinya ingin sekali saya wujudkan satu persatu. Dimulai dari diri sendiri.

Bismillahirrahmanirrahiim..

Ramadhan #19-20 : Memorial


Berdasarkan hasil evaluasi diri, saya kemarin melihat tulisan-tulisan lama di Instagram dan Tumblr. Beruntunglah Facebook memiliki fitur mengingat postingan terdahulu.

Ternyata saya pernah menulis a, b, c dan masih banyak tulisan lainnya dengan sudut pandang berbagai hal. Saya jadi berfikir bagaimana ketika saya menulis terlalu banyak tapi ternyata minim perbuatan yang saya amalkan dari hasil tulisan saya tersebut. Meskipun hampir kebanyakan tulisan saya adalah hasil dari pengalaman, kemudian dituliskan ulang dengan tujuan agar dapat di refleksi kembali suatu hari.

Terus-terus saya jadi membatasi tulisan, saya ingin menulis tapi urung, ingin menulis lagi tapi diurungkan lagi XD ya gitu ajaa terus wkwk. Mikirnya gimana kalo tulisan makin banyak jadi makin sulit direnungi lagi..

Karena menulis sampai saat ini masih selalu menjadi obat bagi hati, menyadarkan kembali ternyata saya pernah bijak, setidaknya saya pernah berusaha mendewasa. Masih terus belajar dan mengupayakan diri untuk lebih baik dari diri saya yang dulu.

Untuk itu, saya takut jikalau tulisan-tulisan saya nantinya tidak mampu saya pertanggung jawabkan. Saya menulis terlalu banyak, tetapi tidak bertindak. Sebab perbuatan selalu menjadi lebih nyata dan berdampak.

Semoga senantiasa mengingat tujuan akhir, menujuNya. Melalui sarana apapun, termasuk menulis.

20 Ramadhan 1438H