Menyelami Kebiasaan Lebaran

Sebelumnya, selamat Hari Raya Idul Fitri ūüôā Minal Aidin Wal Faidzin mewakili semua tulisan yang tertulis melalui blog ini. Serta sikap dan perkataan saya yang mungkin pernah menjadi selisih paham.

Semoga amalan ibadah Ramadhan kemarin meningkatkan derajat kita. Aamiin yaa robbal ‘aalamiin…

Dan Ramadhan tahun depan siap kita temui dengan kondisi yang lebih baik lagi.

—-

Di dua tempat berbeda, lebaran tahun ini akan saya habiskan sampai batas waktu suami mendapat jatah liburnya. Kurang lebih dua minggu. Waktu yang sangat longgar untuk libur lebaran.

Kami sepakat menghabiskan satu minggu pertama di Ngawi dan sisanya di Gresik.

—-

Mengenalkan berbagai kebiasaan yang baru untuk mas, menjadi hal menyenangkan tersendiri ūüėÄ

Pun ketika saya tanya, apa yang paling akan dirindukan dari lebaran di Ngawi?

Jawabannya opor ibuk. Haha retoris tapi berhasil membuat saya tak perlu menebak terlalu jauh, karena suami tipikal penyuka kuliner yang siap menyantap sembarang jenis makanan tanpa basa-basi. Keuntungannya bagi saya adalah suami bukanlah tipikal orang yang suka pilih-pilih makanan ūüôā

Lepas dari opor yang memang hanya dimasak ibuk saat lebaran. Di desa saya masih ada tradisi, anak-anak mendapat angpau atau amplop uang saku saat bersalam-salaman. Hal inilah yang lebih lanjut akan jadi topik bahasan serius bersama suami di tahun-tahun mendatang. Mengingat kebiasaan ini akan menjadi kebiasaan yang (mungkin) tidak baik untuk anak-anak nantinya…

Gresik, H+5 Idul Fitri. 20 Juni 2018

Advertisements

Ramadhan 1439 H 

Sepertinya postingan beberapa bulan terakhir akan selalu diawali dengan kata “has been long time no see…wkwkw” ya karena memang lagi ndak rajin nulis. Sangat-sangat tidak rajin dan selalu menemukan alasan untuk mengenyahkan kembali (oh ini sikap yang tidak patut dicontoh).

___

Ramadhan 1439H, sudah berjalan 13 hari. Berbeda dengan Ramadhan 2 tahun kemarin, biasanya saya mencoba menuliskan hikmah apa saja yang saya temukan setiap harinya selama bulan Ramadhan.

Karena perbedaan kebiasaan, status dan kondisi, tahun ini ada banyak hal berbeda dari sebelumnya.

___

Ramadhan bersama suami

Untuk kali pertama, Ramadhan ini memiliki euphoria yang berbeda. Bangun pukul 02.00 pagi dan riweuh di jam-jam menjelang berbuka mulai dari jam 14.00 siang. Repot tapi seru. Kadang dirasa males-malesan tapi pasti akan selalu dirindukan momennya. Drama rumah tangga akan masakan, bangun kesiangan, mudik bersama dan seabrek kegiatan baru yang saya rasakan tahun ini ūüėĄ

Alhamdulillah ‘ala kulli haal.. segala sesuatunya memang perlu dikuatkan dengan syukur supaya bersabar demi mendulang pahala berlipat di bulan yang Allah rahmatkan ini ūüėä

___

Tahun ini di tempat berkarya yang baru, saya hanya sempat mendesain beberapa quote hasil rangkuman dari membaca. Dengan topik mengenalkan Ramadhan untuk anak. Desain-desain tersebut terposting berkala di akun Instagram jualan saya wkwkw @sabr.buku

Tidak sempat membuat project Ramadhan apapun, melewatkan bulan Mei dengan tidak menulis satu tulisanpun di blog huhu dan banyak kegiatan yang ter-skip lainnya. Karena satu dua hal yang sedang saya fokuskan untuk Ramadhan kali ini.

Sekian curhatan dan catatan, hanya berniat untuk menjadi pengingat ūüėä

Semangat menghabiskan Ramadhan yang penuh berkah! Semoga semua amalan Allah terima disisinya.

Surabaya, 30 Mei 2018 – Ramadhan 1439H

Perjalanan Pesawat Pertama Ina : Riau

Dengan bangga saya menuliskan ini sekaligus menerawang jauh, sejauh kapal terbang yang membawanya pagi ini.

Sekitar 3 tahun yang lalu, ketika saya melakukan perjalanan lumayan panjang di Jakarta, teringat betul bahwa anak ini berkata nanti ia akan naik pesawat dan pergi lebih jauh dari saya. Untuk melihat dunia luar tentunya. Saya, ibuk dan bapak hanya mengiyakan. Allah yang Maha Mendengar do’a-do’anya.

Pagi ini, pesawatnya dijadwalkan flight pukul 06.00 dari Juanda. Banyak yang bertanya pada saya, kelas berapa, kok bisa ya sudah berani, keren ya dan banyak komentar lainnya.

Di titik inilah saya justru berfikir dari sudut pandang yang dirasakan oleh bapak dan ibuk sebagai orangtua. Apakah mudah melepas anak 15 tahun, kelas 1 SMA untuk pergi sejauh itu seorang diri tanpa dampingan orangtua?

Jika di compare dengan saya, perjalanan terjauh yang pernah saya lakukan semasa (muda) di umur 20 tahun.

Tiba-tiba ingatan saya flashback amat jauh, saat saya dan Ina masih kecil. Saat ia masih saya bonceng di sepeda, saat kami bermain di sawah belakang rumah. Kini ia sudah berani memutuskan suatu hal yang tidak kecil lagi. Tentu itu semua tidak lepas dari keyakinan bapak ibuk dalam mendukung Ina mengambil keputusan tersebut.

Disinilah yang justru ingin saya garis bawahi. Bapak dan ibuk tidak pernah mendapat ilmu parenting dalam mendidik kami anak-anaknya. Tapi keduanya selalu yakin bahwa segala sesuatu yang dimiliki di dunia ini bukanlah hal yang abadi. Semua akan kembali pada Sang Pemilik. Mungkin itulah yang mendasari sikap demokratis pada kami anak-anaknya ketika ingin memutuskan sesuatu yang nampaknya berat. Kepercayaan dan dukungan, bertanya seperti apa manfaat dan mudharat yang kami dapat jika hal tersebut diambil keputusannya.

Apakah sebagai orangtua, bapak ibuk merasa mudah melepaskan begitu saja?

Tanpa ada rasa was-was, dengan sikap acuh, saya rasa jauh tidak mungkin.

Tetapi beliau berdua seperti terus mengilhami setiap anak tumbuh biarkan tumbuh sesuai proses dan fitrahnya. Sedari kecil lahir yang masih bergantung kepada orang tua. Semesta anak-anak saat kecil hanyalah orangtua. Beranjak umur 2 tahun, proses menyapih dilakukan. Dimulailah proses pembelajaran tidak bergantungnya seorang anak hanya dari (ASI – ibu) sebagai satu-satunya sumber rejeki. Memasuki jenjang sekolah, saat anak-anak tidak lagi sepenuhnya bertemu fisik dengan orangtua karena dunia luar menjadi tempat mereka mengeksplorasi kehidupan yang lebih beragam. Begitulah proses demi proses seorang anak bertumbuh dan kekuatan orangtua adalah kunci dasar keyakinan anak-anak belajar dan melihat dunia luar. Semakin jauh dan semakin jauh lagi.


Seperti contoh kecil yang belum berani saya lakukan sampai saat ini adalah membiarkan Ina membonceng saya dengan sepeda motor. Disaat bapak dan ibuk mengatakan, cobalah, tidak apa-apa, percaya saja.

Mungkin seperti itulah analogi sederhana menjadi orangtua dalam memberi kepercayaan pada anak-anaknya. Dan saya masih belajar untuk menjadi orangtua untuk anak-anak saya kelak.

Jika tulisan ini terbaca olehmu dek, entah kapan. Seperti biasa yang selalu mbak katakan. Meski kontakku di¬†hapemu¬†sudah berubah menjadi “(bukan) mbakku” semenjak saya menikah.

Tapi…..

“Mbak selalu sayang. Bawa cerita yang banyak ya dari Riau!

Cheeeerrrssss!!!!”

Surabaya, 27.04.18

Apa Kabar Sabr Indonesia (?)

Assalamu’alaikum …

It’s been a long time,¬†rasanya saya tidak menulis. Ada beberapa hal yang menjadi prioritas dan saya pun belum kunjung menemukan apa yang ingin saya curhatkan kembali di blog. Namun siang ini, tiba-tiba saya teringat website Sabr Indonesia.

Sebelum adanya postingan ini, saya juga belum pernah sih membahasnya wkwkw

Sebetulnya apa Sabr Indonesia?

Sabr Indonesia adalah sebuah portal kebaikan hasil kesepakatan akumulasi dari mimpi saya dan suami untuk membangun rumah tangga kami disini. Beralaskan ide-ide visual desain grafis, membuat aplikasi-aplikasi android yang bermanfaat dan nantinya pada puncak mimpi kami, kami ingin membangun sebuah yayasan yang dapat membantu banyak anak muda meraih mimpi-mimpinya.

Banyak sekali cabang harapan yang sudah kami tuliskan di dahannya dan kami ingin menumbuhkannya dengan kesabaran. Maka dari itu kami namakan sabr. Yang tidak lain adalah artinya sabar.

Landasan kami menumbuhkan mimpi disini adalah selalu kembali pada sifat sabar dan kesyukuran sebagai sifat alamiah yang harus dimiliki setiap manusia untuk mendekat pada Rabbnya. Semoga Allah mampukan kami memiliki sifat-sifat ini. Aamiin

Namun apakah sabar itu mudah dilakukan?

Jawabannya jelas : tidak.

Untuk itu kami perlahan sabar, ketika ada saja sesuatu yang membuat kami menunda untuk melangkah atas nama sabr. Ada banyak hal yang perlu dipahami apalagi dalam kehidupan berumah tangga. Termasuk dalam team untuk menumbuhkkan sabr. Namun tidak lantas membuat kami terus berleha-leha, melupakan niat dan tujuan kami.

Saya tiba-tiba ingat karena dalam kurun waktu 2 bulan terakhir kami banyak vacuum  mengingat website kami pun masih underconstraction. Dan belum bisa kami lanjutkan untuk sementara waktu karena alasan tertentu.

Mengingat sabr membuat saya kembali bergairah dan mengumpulkan afirmasi-afirmasi positif untuk memupuk diri. Kondisi jeda seperti ini memang harus dipahami bahwa diri kita sedang membutuhkan spasi atau waktu. Bukan dalam artikata mundur namun berhenti sejenak untuk merumuskan kembali goals yang telah disusun dan mestinya kembali untuk dilanjutkan dan diperbaiki kedepan.

Semoga apa yang menjadi cita-cita, mimpi, pengharapan kita semua senantiasa membuat kita ingat bahwa Allah lah pemilik rencana terbaik. Terlepas dari semua itu, berusaha dan berdo’a tetaplah langkah yang perlu terus diupayakan.

MIND MAP SABR

Surabaya, 2.3.2018

 

Mengerti

Akhir-akhir ini aku melihat
Sepertinya di fikiranmu sudah terprogram sesuatu
Tanpa aku bertanya
Tiba-tiba saja banyak hal menjadi beres dan kamu tersenyum
Tanda “alhamdulillah” menggema, mengisi seluruh ruangnya

Lalu yang tersisa dariku hanyalah ucapan “terima kasih”

 

Jualan Buku

pendidikan-finland-news.okezone.com-a

Beberapa hari yang lalu tiba-tiba saya mengatakan pada suami¬†“Boleh ya mas, jualan buku?!”¬†dengan nada yang sedikit saya tekan dan berbunga-bunga¬†ceilah.. wkwkw

Ya, akhirnya tanpa pikir panjang saya ambil sebuah kertas dan bulpen, corat-coret sedikit lalu buka¬†Corel.¬†Dalam waktu 30 sekian menit, saya merasa cocok dengan susunan warna dan komposisi grafis yang saya buat lalu taraaa…

Mendadak saya punya akun jualan buku XD

Saya belum berpikir jauh tentang apa resikonya, bagaimana cara menjalankannya, plus minusnya. Untuk saat itu, saya berpikir untuk tidak perlu berpikir jauh-jauh dan lebih baik segeralah ambil langkah.

Setelah semua jadi dan saya pastikan untuk memposting salah satu buku yang ready, baru saya tiba-tiba kelimpungan memikirkan bagaimana selanjutnya wkwkw (yang begini jangan ditiru).

Sejenak, saya biarkan diri menenangkan pikiran terlebih dulu. Lagi-lagi saya ambil notes ampuh yang biasanya saya pakai untuk mencorat-coret segala sesuatu yang lewat di pikiran.

Kemudian terbentuklah beberapa niat yang sudah saya revisi kali ini ;

  1. Kenapa harus jualan? kenapa gak cari jalan rejeki yang lain?
  2. Kenapa harus buku? kenapa bukan baju, jilbab atau kebutuhan perempuan lain yang lagi marak mode dan terus silih berganti modelnya?
  3. Pun ketika menulis ini, lagi-lagi saya bertanya buat apa ditulis?

Jawabannya adalah…

  1. Saya dan suami ingin sekali meneladani kisah Rasulullah yang memilih salah satu jalan dakwahnya melalui berdagang. Orang tua kami pun keduanya, melakukan hal tersebut meski kecil dan memulai segalanya dari nol. Tapi kami ingin menyelipkan pada niat kami bahwa berdagang adalah salah satu cara yang sah, yang didalamnya banyak terdapat ujian dan pelajaran yang akan kami dapat untuk membentuk kepribadian kami. Pun inilah yang ingin kami beritahu pada anak-anak nantinya.
  2. Mengapa buku? buku merupakan investasi jangka panjang yang ilmunya in sya Allah akan turut mengalirkan amal jariyah untuk para pembacanya. Buku bukanlah suatu hal yang sia-sia jika diturunkan tujuh turunan sekalipun.
  3. Kami ingin terus menegakkan niat kami. Kami berjualan tidak hanya ingin sekedar berjualan buku. Sejauh ini, kami masih sering menemui mindset bahwa buku adalah sesuatu hal yang diperlukan ketika sudah sangat urgent. Saat anak sudah bisa membaca atau saat anak betul-betul membutuhkannya. Padahal menstimulasi anak sejak dini, berdasarkan bacaan yang saya baca banyak sekali manfaat membacakan buku untuk anak-anak sedari kecil. Karena itu akan membagun pola pikir dan melatih kosakata mereka sedari kecil.

Sekian curhat saya hari ini, menulisnya pun sungguh-sungguh ingin untuk ditulis agar ingat nanti suatu saat ketika niat kami mulai goyah. Semoga istiqomah dalam jalan yang baik…

Surabaya, 01022018

Kupu-kupu di Ruangku

Aku mengintip, melihat matanya berkaca-kaca
Aku sedih dan ingin bicara
Tapi aku bilang apa ya…
Akhirnya aku diam saja disini, tidak ingin rewel
Ku lanjutkan melihat di sekitarnya
Sepi.
Tidak ada siapa-siapa
Lalu ia menangis karena apa?

Aku kembali terbangun
Ada sayup-sayup suara lembut, kuintip lagi
Ternyata sekarang ia bernyanyi
Alunan lagunya mengirama
Lalu kulihat kupu-kupu warna-warni terbang di sekitarku
Aku mengintip lagi, mempelajari sesuatu
Wajahnya teduh dan tersenyum
Kurasakan kupu-kupu semakin banyak terbang di ruangku

 

Resep Memasak…..

WhatsApp Image 2018-01-09 at 12.51.54

Setelah pindah kembali merantau bersama suami, tantangan baru menyambut. Drama memasak dimulaiiii!

Alat tempur cuma wajan dan sutil beserta satu panci. Ngiris cabe pake sendok, itupun di piring.

Takaran gula dan garam sesukanya, ambil pake sendok makan walhasil rasa bisa ditebak kalo gak kemanisan ya keasinan. Jadilah tema masakan setiap hari adalah masakan manis atau asin. Sayur asem gak berasa asemnya, sayur bayem gak kerasa bayemnya. Gitu terus berulang sampai kurang lebih tiga minggu.

Setiap pagi suami selalu jadi tester pertama yang lidahnya tersakiti karena ulah saya yang berantakan. Kalau jam berangkat kerja tiba lalu saya belum selesai masak, drama dimulai. Diem-diem ada yang netes di pipi nambahin bumbu sayur wkwkw

Itu semua bikin saya punya satu definisi kebahagiaan baru!

Memasak tanpa drama dan bisa di rasa XD

5-6 tahun merantau bikin saya terlalu ogah-ogahan masak ketika dirumah, ibuk terlalu super jago untuk saya gantikan posisinya dan beliau punya segudaaangg ide untuk inovasi masakan (kusayang sekali dengan ibukku T.T), pun sepertinya bapak dan adek juga gak ada minat-minatnya ngelihat meja makan tergantikan isinya dengan masakan saya yang amburadul.

Jadilah setiap hari ketika jam makan suami tiba (jam 12.00) saya selalu chat untuk minta maaf atas lidah yang berulang kali jadi korban saya itu ūüė¶

Ceritanya, duluu jauh sebelum menikah, saya selalu idealis dengan prinsip “Pokoknya nanti, suami harus selalu makan masakanku. Aku berusaha masak yang sehat-sehat dan terjaga. Suami gak boleh banyak-banyak jajan diluar”

Tapi setelah hari demi hari dapur bak kapal pecah, daster bau minyak, suami berangkat wajah saya kucel kayak wajan… setelahnya cuma bisa nangis sambil nahan lauk yang keasinan atau kemanisan dan menangisi semua bahan-bahan masakan yang saya buat sia-sia dan uang-uang yang saya habiskan untuk masakan yang tidak layak untuk dimakan.

Jadi memang masak bukanlah syarat yang perlu-perlu banget diperhatikan sebelum menikah, tapi alangkah baiknya setidaknya kamu tau mana itu merica dan ketumbar biar gak keliru :””””””((((

Resep dasar yang selalu saya lupakan ketika memasak adalah memahami seberapa takaran manis dan asin dengan sekian banyaknya air, sekian banyaknya bumbu dan banyaknya bahan sayur. Setelah dipikir-pikir, otak selalu termind-set¬†dengan kata “ayok bisa bikin yang kayak ibuk bikin” (si penggemar masakan ibuk). Sungguh rasanya memang, ketika saya makan dimanapun tempatnya, lidah saya selalu dengan otomatis membandingkan bahwa masakan ibuk selalu yang juara.

Tapi setelah tiga minggu berlalu, intensitas drama berkurang drastis. Lidah saya mulai familiar dengan rasa masakan dan kadar takaran yang biasa saya pakai untuk tia-tiap jenis masakannya. Memahami bahwa diri sedang berproses adalah sebuah keharusan dan saya mencoba untuk itu. Saya terharu :p

 


Ditulis dengan sepenuh hati mengingat prosesnya, untuk suatu saat dibaca kembali sebagai pengingat. Terima kasih keasinan dan kemanisan! Terima kasih merica yang kukira adalah ketumbar ūüėČ Aku bertumbuh karnamu :p

PS : Selanjutnya akan kutulis resep Ayam Pedas Manis favoritku yay! Akhirnya berhasil haha

Surabaya, 9 Januari 2018

 

‚ÄčJangan capek memahamkan diri bahwa rejeki bukan hanya banyaknya materi, tapi berkahnya.

Bisa jadi itu adalah kesempatan berada di lingkungan yang baik, berteman dengan yang mengingat kebaikan dan dijauhkan dari hal-hal tidak manfaat.

Jangan capek memahamkan diri bahwa ilmu bukan hanya perkara banyaknya, tapi amalnya.

Bisa jadi yang sedikit-sedikit namun selalu dilakukan. Bisa jadi yang niatnya pernah belok namun menyadari jalan kembali.

12.10.17

Dalam hiruk pikuknya pikiran.

Yang Menerima

 

yuk belajar menerima
sumber gambar google.com

Nrimo ing pandum.

Dalam perjalanan pulang ngajar sore saya melihat tulisan ini sebagai sticker di sebuah truck.
Momen perjalanan selalu menyenangkan untuk saya merefleksi yang telah dilalui hari itu. Tiga kalimat tersebut seolah mengingatkan saya tentang banyak hal.
Kalau diartikan dalam bahasa Indonesia adalah menerima dalam pembagian. Pertanyaan selanjutnya adalah siapa yang menerima dan siapa yang memberi?

Manusia yang menerima dan Allah yang memberi. Allah yang Maha Memiliki.
Konteks kalimat ini, memang akan memberikan opsi kepada kita banyak sekali permasalahan hidup. Menerima pemberian, menerima peringatan, menerima sedih, menerima bahagia, menerima sakit, menerima sehat, menerima rejeki, menerima takdir bahkan sesederhana menerima kesempatan yang ternyata jatuhnya di kita. Padahal gak ngarepin kesempatan itu hadir. Selalu ada tujuan mengapa Allah memberikannya. Toh memang segala sesuatu yang kita ‚Äúalami/miliki‚ÄĚ saat ini adalah pemberian Allah. Maka kunci utama menjalani hidup semestinya adalah menyadari bahwa tidak ada yang kita miliki selain atas pemberian Allah. Pemberian yang diberikan oleh sebaik-baiknya pemberi.
Kadar yang Allah beri pun persis tanpa perlu susah-susah kita timbang (bandingkan) dengan milik orang lain. Porsinya sebanyak apa, jauhnya langkah sejauh apa, lamanya waktu selama apa. Semua itu hanya akan teratasi dengan lebih baik ketika dalam lubuk hati kita telah tertanam perasaan ‚Äúmenerima‚ÄĚ.

Menerima bukan berarti pasrah tanpa mengusahakan apapun yang bisa kita usahakan.
Suatu ketika, saya mengajar di rumah siswa yang belum pernah saya tangani sejauh ini. Siswa ini mengalami suatu hal yang mengakibatkan dia harus kehilangan ‚Äúkesadarannya‚ÄĚ akan segala sesuatu. Diajak ngomong a, jawabnya z, ditanya ini jawabnya itu. Dlsb. Qodarullah, Allah kuatkan keluarganya dalam segi apapun, materiil maupun non materiil. Hingga kekuatan hati, kalo istilah saya.

Saya hanya terus bertanya dalam hati sepanjang perjalanan pulang. Sekuat apa orangtua dan orang-orang di sekitarnya untuk ‚Äúmenerima‚ÄĚ?

Karena penerimaan atas ketetapan yang Allah beri adalah kunci untuk dapat menjalaninya. Dan ternyata ini sudah tahun ketiga keluarga tersebut menjalani. Semoga senantiasa Allah kuatkan. Sejatinya kita memang perlu dihadapkan dengan kondisi-kondisi seperti itu untuk tidak lupa bahwa ada yang perlu kita prihatinkan dan syukuri.
Meyakini bahwa semua ketetapan Allah adalah baik. Meskipun proses menerima yang kita lakukan tidak akan mudah.
Saya selalu suka mengatakannya dengan kalimat ‚Äúmemiliki pemahaman baik‚ÄĚ yang itu artinya tidak jauh-jauh dengan bagaimana kita mengolah emosi, menjernihkan pola pikir, memilah tindakan, melakukan aksi dan mendapat reaksi yang akan berujung pada penerimaan setelah kita berupaya.

Mbuleeeet ae bahasanya wkwkw
Memang betul ini prakteknya syusaaaaaah sekalih. Tapi masyaAllah luar biasa rasa yang¬† bisa menerima dalam hati. Seperti yang saya lihat dari orangtua siswa saya , terpancar dari matanya seolah berkata ‚Äúsudah diberi jatahnya begini bu, diambil hikmahnya. Segala sesuatu pasti ada hikmahnya‚ÄĚ


Semoga kita dimudahkan menjadi orang yang tidak hanya mudah sekali mengatakan ‚Äúpercaya pada takdir Allah‚ÄĚ tapi juga mempercayakan pada Allah bahwa Allah sebaik-baiknya pemberi. Maka kita akan menjadi hamba Allah dengan sebaik-baiknya penerima. Semoga Allah lapangkan hati¬†#mewek

Surabaya, 6 Oktober 2017