Ramadhan #19-20 : Memorial


Berdasarkan hasil evaluasi diri, saya kemarin melihat tulisan-tulisan lama di Instagram dan Tumblr. Beruntunglah Facebook memiliki fitur mengingat postingan terdahulu.

Ternyata saya pernah menulis a, b, c dan masih banyak tulisan lainnya dengan sudut pandang berbagai hal. Saya jadi berfikir bagaimana ketika saya menulis terlalu banyak tapi ternyata minim perbuatan yang saya amalkan dari hasil tulisan saya tersebut. Meskipun hampir kebanyakan tulisan saya adalah hasil dari pengalaman, kemudian dituliskan ulang dengan tujuan agar dapat di refleksi kembali suatu hari.

Terus-terus saya jadi membatasi tulisan, saya ingin menulis tapi urung, ingin menulis lagi tapi diurungkan lagi XD ya gitu ajaa terus wkwk. Mikirnya gimana kalo tulisan makin banyak jadi makin sulit direnungi lagi..

Karena menulis sampai saat ini masih selalu menjadi obat bagi hati, menyadarkan kembali ternyata saya pernah bijak, setidaknya saya pernah berusaha mendewasa. Masih terus belajar dan mengupayakan diri untuk lebih baik dari diri saya yang dulu.

Untuk itu, saya takut jikalau tulisan-tulisan saya nantinya tidak mampu saya pertanggung jawabkan. Saya menulis terlalu banyak, tetapi tidak bertindak. Sebab perbuatan selalu menjadi lebih nyata dan berdampak.

Semoga senantiasa mengingat tujuan akhir, menujuNya. Melalui sarana apapun, termasuk menulis.

20 Ramadhan 1438H

 

Ramadhan #8 : Masa Tua

Backsound : Kiss the Rain 😂

Waktu terus saja bergerak lurus. Semakin kesini, semakin mengenali tujuan untuk apa Allah hadirkan disini, semakin saya mengusahakan untuk mencapai poin-poin yang telah menjadi cita-cita saya tersebut, semakin menyadarkan bahwa hidup ini bukan hanya sebagai rutinitas. Ada yang mesti dituju, ada yang harus diraih. Ada yang harus dijadikan prestasi. Prestasi di mata Allah.

Lelah? Iya terkadang.

Hanya saja, ketika sudah berkubang dalam kondisi yang mengingatkan saya tentang masa kecil atau masa dimana tanggung jawab belum sebanyak ini.. Saya merasa betah sekali berlama-lama disana 🙈

Membuka foto-foto lama, semasa kecil, semasa sekolah, kuliah dan yang telah dilalui pada masa kemarin. Ingatan seringkali tiba-tiba melesat jauh.

Fase demi fase terlewati. Lalu saya teringat kakek yang memilih untuk tinggal seorang diri dirumah lamanya. Hanya bertahan 2 tahun hidup bersama dengan kami. Supaya ada temannya katanya, lalu beliau berubah pikiran kembali. Meminta untuk membiarkan saja tinggal sendiri dan setiap hari saat makan siang dan sore ibuk akan mengantarkan makanan.

Bagaimana rasanya hidup sendiri? Meski kami sering mengunjungi, tetapi detak waktu pasti terasa lebih dekat. 

Itu mengapa orang tua yang telah sendiri selalu membutuhkan si(apa)pun di sampingnya untuk menjadi teman. Menjadi sepi sungguh tidaklah enak. Lalu apa yang akan saya lakukan untuk menyiapkan masa tua nanti. Masa dimana akan semakin dekat untuk kembali.

08 Ramadhan 1438H

Ramadhan #7 : Penggerak Hati

Jauh sebelum jatuhnya sebuah keputusan atas diri kita, pernahkah terfikir bahwa semua keputusan tsb ada yang mengatur dan menggerakkan hati.

Manusia dengan manusia yang lain saling memiliki keterkaitan di sebuah lingkaran kehidupan, dunia pekerjaan atau pertemanan. Manusia saling membutuhkan. Saling mendukung satu sama lain.

Maka, manusia yang Allah putuskan untuk menjadi wasilah atau jembatan atas takdir yang kita miliki, ada Allah yang menggerakkan hati manusia tersebut. Jika Allah tak menggerakkan hatinya, bisa jadi kita tidak benar-benar mendapatkan hal yang kini menjadi milik kita.

Sekecil apapun hal itu, jika Allah tak menggerakkan hati makhluknya maka bisa jadi sesuatu yang semestinya bisa terjadi menjadi tidak terjadi.

Tidak bisa jika kita hanya menghakimi seseorang atau sesuatu dari apa yang kita yakini sendiri. Sedangkan semua keputusan yang terjadi di alam semesta ada yang menggerakkan. Tidak bisa manusia merasa, telah mengusahakan sesuatu maka hasil yang didapat itu hanyalah usahanya semata.

Karena ada yang Maha Menggerakkan Hati.

Semoga kita dijauhkan dari perasaan riya’ atas segala pencapaian yang kita raih. Karena ada yang do’a ibu yang terkandung di dalamnya, ada restu bapak yang melancarkan, ada do’a2 anak yatim yang pernah kamu tolong, ada do’a2 orang yang pernah merasa terbantu olehmu.

Surabaya, 020617 07 Ramadhan 1438H

Regulasi Emosi Part 1

Prolognya saya isi dengan curhatan XD

Semenjak saya menetap di Surabaya, ada beberapa yang perlu saya sesuaikan kembali dengan kebiasaan-kebiasaan saya sebelumnya. Ngawi sebagai rumah dan Malang sebagai tanah rantau semasa kuliah yang notabene berisikan orang Jawa yang menurut kategori saya (bisa mengimbangi kulturnya). Meski tidak memungkiri ada beragam jenis manusia yang saya temui, secara tidak langsung membuat saya belajar untuk menjadi diri saya sendiri yang mampu diterima.

Nah, hubungan apa yang terjadi dengan judul yang saya tuliskan?

Semenjak saya menginjak tanah Surabaya, seringkali saya menemukan kultur ucapan yang menurut saya berbeda dengan kebiasaan saya dahulu. Obrolan-obrolan yang dilontarkan disini lebih gamblang, kalimatnya lugas dan jujur. Saya sempat kaget dan pelan-pelan menyesuaikan diri mengingat kebiasaan saya lebih sedikit pelan dan berbasa-basi 😀

Beberapa pekan di awal, sempat terasa sulit. Lingkaran pertemanan yang ingin saya bangun di tempat baru serasa melelahkan, menyebalkan. Saya yang tidak terbiasa dengan suara-suara keras, menjadi mudah sekali mellow dan menganggap perkataan yang biasa saja di telinga saya menjadi terdengar kasar. Di awal saya terbiasa menangis kaget wkwk tapi saya bersyukur ini semua adalah step yang harus dilewati untuk semakin mengerti keberagaman jenis orang.

Dan hikmah yang saya ambil dari sini, saya mewanti-wanti diri sendiri untuk tidak sembarangan melontarkan pendapat, berkata seenak jidat dan hal-hal sejenis yang pernah saya anggap tidak ramah.

Lanjut ke part 2.

Semua tulisan tidak lain adalah sebagai pengingat diri 🙂

Surabaya, 23 Mei 2017

Imagesource : Tumblr

Pasca Kampus : Wacana atau Anti Wacana

Postingan ini berasal dari mengingat beberapa chit-chat adik tingkat yang curhat galau penelitian, galau skripsi, galau kehidupan pasca kampus, galau apa yang kudu dilakukan supaya gak berkontribusi dalam jajaran pengangguran.

Saya tau betul apa yang menjadi dilema pada masa-masa krisis seperti itu. Seperti butuh sandaran, trus ambil jalan pintas : udah nikah aja! XD

But that’s not a solution. 

Kehidupan pasca kampus adalah masa yang tidak lagi setenang hari dengan uang saku. Tidak sesederhana sumpek tugas seabrek tapi masih bisa hangout. Tidak seenteng titip absen kalo lagi mager wqwq

Kehidupan pasca kampus itu…

 Hey! Welcome to the jungle, yeah! XD

Setiap jengkal semakin diperhitungkan dan bercerminkan : Apakah seperti itu sikap seorang sarjana? Siswa yang sudah maha katanya–

Tapi tenanglah, dik. Hidup akan menawarkan buah yang ranum jika kamu menanamnya dengan bibit yang baik dan merawat dengan air jernih yg selalu diusahakan, meski ulat akan tetap ada. Atau musim kering mengujinya dengan sengsara.

Hidup memang harus dihadapi. Saat masa-masa sulit telah terlewati, kamu akan ingat masa2 seperti saat ujian nasional SD yang mengerikan atau ujian nasional SMP yang akan membuktikan bahwa kamu akan mendapat SMA yg diimpikan. Serta UN SMA yg akan menguji loloskah kamu bersaing untuk mendapat perguruan tinggi yang sesuai.

Kehidupan pasca kampus akan membuktikan padamu, akankah kamu menjadi generasi anti wacana atau masih saja seperti seorang deadliner pada masa mahasiswa dulu. Terkadang kita akan dihadapkan dengan ide-ide brilian yang membuatmu menemui aha!

Tapi ujian selanjutnya adalah seberapa jauh progress yang akan kamu kerjakan dengan ahamu itu.

Atau terkadang kita akan menemui banyak tawaran kerja yang membuatmu galau menimbang mana yang lebih layak untuk kamu terima eaa hahaha mana yang lebih layak untuk mendapat pengabdianmu. Ada juga saat-saat kamu sampai tertatih mencari mana hati perusahaan yang terbuka untuk menerimamu.

Yang pasti, Allah mengikuti prasangka hambaNya. Tetap usahakan semampumu dan pastikan itulah yang terbaik. Bumi Allah luas rejeki bisa dimana-mana, bisa jadi pedagang, mau kerja kantoran, mau freelance dimanapun, hamba Allah pun banyak bertebaran dengan kebaikan-kebaikannya.

Salam Generasi Anti Wacana!

Do’akan saya ya, supaya istiqomah di jalan yang lurus nan manfaat. Bukan jadi bagian dari generasi wacana 😂

Meja kerja, Sabtu 08 April 2017

Hadiah dari Langit

​Kemarin langit menunjukkan sesuatu padaku. Langit memberikan isyarat bahwa itu adalah sebuah kejutan.

Kata langit, dengan aku melihatnya, itu akan membuatku lupa tentang hal-hal yang menyedihkan. Ia senantiasa tersenyum apapun kondisinya.

Kufikir ia akan segera dikirim ke bumi. Lalu langit nampak paham apa yang sedang kufikirkan. “Akan kukirim suatu yang istimewa untukmu, namun aku punya satu syarat”

“Syarat apakah itu wahai langit?”

“Kamu harus menjaganya sepenuh hati. Memastikan hatinya utuh, tak hanya utuh untuk merasakan kehadiranmu namun juga utuh untuk merasakan bahwa dari sinilah ia berasal. Kamu harus menjadi sebaik-baiknya teman baginya.”

Awalnya aku ragu. Apa maksud yang langit katakan itu. Setelah berfikir beberapa waktu, hatiku berkata apalagi yang kutunggu? Jawabku hanya perlu satu, “Baiklah aku siap!”
Keesokan harinya, ketika aku membuka mata.. Langit sungguh memberiku hadiah. Kejutan tak terkira. Aku harus ingat pesan dari langit. Untuk hadiah istimewaku, hadiah dari langit 🙂



Di sebuah lembah pikiran. Juni 2016

Perihal Pekerjaan

​ker.ja (n) kegiatan melakukan sesuatu.

Dewasa adalah sebuah proses yang akan dialami oleh setiap manusia. Fase pertumbuhan dan psikologis yang mengalami perubahan dalam rentang waktu yang dialami anak manusia, dimulai dari kecil, remaja kemudian dewasa.

Menjadi dewasa berarti menjadi tanggung jawab. Banyak yang akan berubah. Saya bicara mengenai dari sisi psikologis dan menurut kacamata pandangan saya pribadi. Semoga tulisan ini jauh dari anggapan yang mampu membuat pembaca memiliki pemahaman yang kurang baik. Naudzubillah. Harapan saya semoga tulisan ini hanyalah sebagai pengingat untuk diri saya pribadi terlebih jika dapat berguna untuk pembaca.

Menjadi dewasa bukan hanya urusan umur. Bahkan dengan semakin mendewasanya bumi dan seisinya, saya rasa segala sesuatu yang ada di dalamnya pun mengalami pendewasaan lebih cepat.

Saya pribadi benar-benar memberi pressure kepada diri sendiri ketika mengganggap diri saya telah cukup dewasa, pada saat umur saya berada pada angka-angka diatas 19tahun. Hampir memasuki umur 20 tahun saya benar-benar menganggap ini adalah waktu ajaib. Pun dengan hal-hal yang akan terjadi ke depan adalah keajaiban. Saya garis bawahi, semua telah ditulis Allah tentang apa yang akan manusia lakukan. Tetapi segala upaya yang kita lakukan tetap memiliki peluang untuk menjadikan lebih baik atau lebih buruk. Semua tergantung bagaimana kita melaksanakannya.

Ketika mendewasa, satu persatu keputusan-keputusan penting mendatangi hidup kita. Meminta kedewasaan  akan seperti apa ia bertindak.
Keduapuluh dua tahun ini. Saya telah mengalami sedikit “pengalaman” mengenai bekerja. Jika dibanding bapak, ibuk atau para orang tua, saya belumlah seberapapunnya. Artinya, ketika saya mendapati secuil hal yang saya anggap besar. Bagi mereka itu belum seberapa.

Menginjak tahun kedua bekerja. Pemahaman mengenai apa itu esensi bekerja semakin berkembang dalam pikiran saya. Ah Allah knows best. Allah sering sekali membuat melted.

Bagi saya (kini) bekerja telah menjadi perkara mengabdi. Menuju-Nya. Bukan hanya menjadi urusan mencari upah untuk menyambung hidup. Bekerja lebih dari itu. Bekerja bukan hanya soal uang. Bekerja telah menjadi urusan keihklasan. Bekerja telah menjadi urusan kebermanfaatan. Bekerja telah mengandung perizinan Allah, untuk menjadikan barakah. Bekerja telah menjadi kata kerja yang sangat luas.

Ketika saya melihat tukang becak. Ketika saya melihat penjual gorengan yang mendorong gerobaknya. Ketika saya melihat penyapu jalan, pemungut sampah. Mereka pun bekerja. Tapi kata kerja yang mereka lakukan adalah ibadah. Bukan hanya urusan mencari uang. Mereka semua beribadah untuk mendapat kemuliaanNya. Mereka menggunakan kata kerja tersebut pada titik keikhlasan dimaki-maki, keikhlasan direndahkan martabatnya, keikhlasan untuk mendapat sesuap nasi untuk anak-anaknya yang merengek dibawah rumah kardus. Ketika melihat bapak saya sendiri, yang harus tidak tidur di tengah malam menyelesaikan deadline gambar. Disitulah saya melihat kata kerja pada titik keikhlasan mengerjakan kebermanfaatan untuk orang banyak.

Ketika saya melihat dokter-dokter, melihat perawat saya menemukan bekerja telah mereka letakkan pada kata kerja kebermanfaatan. Menolong banyak sekali orang.

Banyak sekali apa-apa yang orang (kerja)kan, kita masih sering menganggap itu remeh temeh. Menganggap itu perkara tidak ada gunanya. Padahal jauh disana kita tidak pernah tau, apa yang senantiasa mereka dzikirkan dalam bibirnya sembari berpanas-panasan. Padahal kita tidak pernah tau jika yang mereka kerjakan sungguh-sungguh untuk menjadikan IA ridho atas apa saja yang dilakukannya. Kita tidak pernah tau sejauh itu. Pikiran kita sering dipenuhi pikiran-pikiran tidak peduli. Pikiran-pikiran kita sering sekali dipenuhi dengan hal-hal yang hanya nampak kasat mata.

Ah saya berhasil tergugu sembari menuliskan ini semua.

Saya menjadi under control ketika diluar sana masih saja ada orang bekerja (melakukan hal) dengan semena-mena. Meletakkan hawa nafsu diatas niat kebaikan. Meletakkan duniawi diatas hasil akhir dari pekerjaan yang mereka lakukan.

Jika didunia ini diciptakan seorang pencuri, maka bukankah ia meletakkan duniawinya diatas kesadaran untuk apa ia mencuri? Jika didunia ini diciptakan seorang penjahat, maka bukankah ia meletakkan urusan fananya diatas kesadaran apa yang sejatinya kekal dalam hidup ini?

Malam ini saya begitu memberontak terhadap diri sendiri. Saya membenci mengingat hal-hal ketika saya melakukan apa-apa namun saya masih saja membandingkan dengan orang lain. Menjadi risau apakah yang orang lain lakukan itu bermanfaat? Padahal diri saya pun tidak pernah tau, dimana sesuatu (pekerjaan) yang telah saya lakukan itu yang bermanfaat dan diterima Allah?

Ringkasnya, saya membenci ketika saya harus mudah sekali terdistraksi dengan do’a orang lain. Padahal saya sering sekali lalai dalam mengoreksi do’a saya sendiri. Manakah do’a saya yang diterima Allah?

Bekerja telah mengubah banyak sekali sel-sel, mengubah banyak sekali komponen, mengubah banyak sekali pori-pori yang dimiliki diri ini. Terima kasih Apin :’) Terima kasih sudah sekuat ini :’)

alvinareana, 050916