Cerita Jogja (1) : Mbak Masiti

Introvert bukan dalih untuk mendispensasi diri dari pergaulan yang terbuka. Meskipun memang seorang introvert, memiliki caranya sendiri untuk mengembangkan kemampuan bersosialisasinya. Kira-kira apa jadinya kalau sesama intro saling ngobrol?

Saya ucapkan beberapa kalimat diatas sembari berkaca, ngandani awake dewe (menasehati diri sendiri) wkwk.

Sabtu sore saya mbolang ke Jogja, modal pas-pasan dan ada seorang teman yang berniat saya repoti untuk bermalam. Kami lama sekali tidak bertemu semenjak kurang lebih 1,5 tahun, teman semasa kuliah dulu. Saya kenal beliau sebagai sosok yang tertutup namun selalu tampak optimis dengan pilihan-pilihan yang diambilnya.

Langkah kakinya cepat dan jarang basa-basi.

Flashback nya, dulu ketika di tahun pertama perkuliahan saya sering merasa roaming sewaktu kami ada dalam satu momen, atmosfir disekitar kami menjadi sangat sepi 😂

Nah! Sore itu obrolan kami random sekali, tiba-tiba tertawa dan menangis. Tapi untuk kali ini saya tidak lagi merasa failed. Yang pasti, saya melihat sosok beliau kini tidak seperti 2 tahun yang lalu 😊

Awalnya saya terlanjur su’udzon lebih dulu, gimana kalo ini nanti akan tetep sama krik-kriknya 😂

Saya cuma mbatin “padahal aku dah berusaha cari celah gimana caranya supaya obrolannya dak pasif”. Dan ternyataaaa, saya justru dapet yang lebih dari itu. Banyaaak sekali yang beliau ceritakan tentang meredam ego, tentang komitmen menjalankan sebuah pilihan, tentang berdamai dengan diri sendiri, tentang penerimaan bahwa takdir Allah selalu baik.

Bagaimanapun cara yang Allah miliki, terkadang kitalah yang kurang notice dengan kode-kode yang Allah kasih.

Dari situ saya semakin percaya ; 

Tiap manusia diuji dengan ujian masing-masing. Tiap-tiap manusia memiliki track perjuangan masingmasing. Dan Allah telah membuatkannya sesuai dengan batas kemampuan yang dimiliki.

Dari beberapa curhat yang tidak bisa diceritakan disini, yang saya tangkap untuk menasehati diri sendiri adalah 

  • Manusia selalu punya rencana, seeee rapih apapun itu, kalau Allah ndak berkehendak maka ya gak akan terjadi.
  • Kunci utama hubungan horisontal adalah berdamai dengan diri sendiri
  • Kunci utama hubungan vertikal adalah selalu berusaha husnudzon ke Allah, Allah yang akan jamin nasib kita.
  • Dan menerima bahwa rencana Allah pastilah yang terbaik. Terakhir ini kelihatannya sepele. Tapi penerimaan selalu beriringan dengan rasa ikhlas, yang sulit sekali dijalani.

Honestly, prolog saya mungkin kurang nyambung yak 😂

Aslinya cuma pengen cerita dan pengen bilang bahwa perjalanan itu pasti membawa hikmah. Sekecil apapun kita menyadari, tapi semoga dari yang kecil pun kita bisa ambil pelajaran dan diamalkan 😊

Epilognya : Saya pengen foto sama mbak mas (panggilan untuk mbak masiti) didepan tulisan UGM tapi dak boleh 😥 katanya ada mitos berakibat lulusnya lama wkwk. Anyway, semangat S2 nya mbaaakkk 😍

Saya adalah Agen Perubahan

Menuliskan ini seperti memulai tanggung jawab baru. Tidak lagi hanya merencanakan, tidak lagi menentukan langkah awal, namun menjalaninya. Mengupayakan untuk terus berkembang dan berubah dengan tujuan yang lebih luas.

Selama mengikuti program matrikulasi IIP ini peserta di ajak untuk disiplin terhadap diri sendiri dan terlebih dahulu. Bagaimana menentukan pembelajaran dimulai untuk diri sendiri, sebelum nantinya akan diterapkan dalam rumah tangga, dalam masyarakat sekitar dan dalam cakupan yang lebih meluas.

Setelah step by step nya telah dilewati, untuk menjadi agen perubahan kita akan melihat dari beberapa sudut pandang, dimulai dari ;

PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE

Social Venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan.

Sedangkan social enterpreneur adalah orang yang menyelesaikan isu sosial di sekitarnya menggunakan kemampuan enterpreneur.

Dimulai dari menemukan rasa emphaty terhadap sebuah permasalahan yang dapat kita temukan serta menemukan solusi yang dicapai dengan passion dan memerdekakan nasib sendiri.

Tanpa menunggu bantuan orang lain, maka individu tersebut akan bisa memulai dari dirinya sendiri terlebih dulu.

Sejatinya, banyak sekali langkah yang bisa diambil, namun apabila tidak dijalankan dengan fokus maka hasilnya tidak akan maksimal.

Melihat atmosfer disekitar tempat tinggal dan tempat beraktifitas, juga menjadi salah satu poin penting yang perlu diperhatikan dalam meneruskan langkah untuk berproduktif. Dari situlah area yang bisa dijadikan bahan rasa emphaty. Berangkat dengan rasa emphaty, kemudian merumuskan bagaimana diri akan belajar mengupgrade diri serta menghasilkan output yang nantinya akan memiliki andil dalam kehidupan.

Prosesnya memang akan sangat panjang, namun jika tidak dimulai maka tidak akan ada hasil yang selama ini telah diharapkan.

Di bawah ini adalah pemetaan dari social venture yang berangkat dari rasa emphaty yang nantinya ingin sekali saya wujudkan satu persatu. Dimulai dari diri sendiri.

Bismillahirrahmanirrahiim..

Ramadhan #19-20 : Memorial


Berdasarkan hasil evaluasi diri, saya kemarin melihat tulisan-tulisan lama di Instagram dan Tumblr. Beruntunglah Facebook memiliki fitur mengingat postingan terdahulu.

Ternyata saya pernah menulis a, b, c dan masih banyak tulisan lainnya dengan sudut pandang berbagai hal. Saya jadi berfikir bagaimana ketika saya menulis terlalu banyak tapi ternyata minim perbuatan yang saya amalkan dari hasil tulisan saya tersebut. Meskipun hampir kebanyakan tulisan saya adalah hasil dari pengalaman, kemudian dituliskan ulang dengan tujuan agar dapat di refleksi kembali suatu hari.

Terus-terus saya jadi membatasi tulisan, saya ingin menulis tapi urung, ingin menulis lagi tapi diurungkan lagi XD ya gitu ajaa terus wkwk. Mikirnya gimana kalo tulisan makin banyak jadi makin sulit direnungi lagi..

Karena menulis sampai saat ini masih selalu menjadi obat bagi hati, menyadarkan kembali ternyata saya pernah bijak, setidaknya saya pernah berusaha mendewasa. Masih terus belajar dan mengupayakan diri untuk lebih baik dari diri saya yang dulu.

Untuk itu, saya takut jikalau tulisan-tulisan saya nantinya tidak mampu saya pertanggung jawabkan. Saya menulis terlalu banyak, tetapi tidak bertindak. Sebab perbuatan selalu menjadi lebih nyata dan berdampak.

Semoga senantiasa mengingat tujuan akhir, menujuNya. Melalui sarana apapun, termasuk menulis.

20 Ramadhan 1438H

 

Ramadhan #8 : Masa Tua

Backsound : Kiss the Rain 😂

Waktu terus saja bergerak lurus. Semakin kesini, semakin mengenali tujuan untuk apa Allah hadirkan disini, semakin saya mengusahakan untuk mencapai poin-poin yang telah menjadi cita-cita saya tersebut, semakin menyadarkan bahwa hidup ini bukan hanya sebagai rutinitas. Ada yang mesti dituju, ada yang harus diraih. Ada yang harus dijadikan prestasi. Prestasi di mata Allah.

Lelah? Iya terkadang.

Hanya saja, ketika sudah berkubang dalam kondisi yang mengingatkan saya tentang masa kecil atau masa dimana tanggung jawab belum sebanyak ini.. Saya merasa betah sekali berlama-lama disana 🙈

Membuka foto-foto lama, semasa kecil, semasa sekolah, kuliah dan yang telah dilalui pada masa kemarin. Ingatan seringkali tiba-tiba melesat jauh.

Fase demi fase terlewati. Lalu saya teringat kakek yang memilih untuk tinggal seorang diri dirumah lamanya. Hanya bertahan 2 tahun hidup bersama dengan kami. Supaya ada temannya katanya, lalu beliau berubah pikiran kembali. Meminta untuk membiarkan saja tinggal sendiri dan setiap hari saat makan siang dan sore ibuk akan mengantarkan makanan.

Bagaimana rasanya hidup sendiri? Meski kami sering mengunjungi, tetapi detak waktu pasti terasa lebih dekat. 

Itu mengapa orang tua yang telah sendiri selalu membutuhkan si(apa)pun di sampingnya untuk menjadi teman. Menjadi sepi sungguh tidaklah enak. Lalu apa yang akan saya lakukan untuk menyiapkan masa tua nanti. Masa dimana akan semakin dekat untuk kembali.

08 Ramadhan 1438H

Ramadhan #7 : Penggerak Hati

Jauh sebelum jatuhnya sebuah keputusan atas diri kita, pernahkah terfikir bahwa semua keputusan tsb ada yang mengatur dan menggerakkan hati.

Manusia dengan manusia yang lain saling memiliki keterkaitan di sebuah lingkaran kehidupan, dunia pekerjaan atau pertemanan. Manusia saling membutuhkan. Saling mendukung satu sama lain.

Maka, manusia yang Allah putuskan untuk menjadi wasilah atau jembatan atas takdir yang kita miliki, ada Allah yang menggerakkan hati manusia tersebut. Jika Allah tak menggerakkan hatinya, bisa jadi kita tidak benar-benar mendapatkan hal yang kini menjadi milik kita.

Sekecil apapun hal itu, jika Allah tak menggerakkan hati makhluknya maka bisa jadi sesuatu yang semestinya bisa terjadi menjadi tidak terjadi.

Tidak bisa jika kita hanya menghakimi seseorang atau sesuatu dari apa yang kita yakini sendiri. Sedangkan semua keputusan yang terjadi di alam semesta ada yang menggerakkan. Tidak bisa manusia merasa, telah mengusahakan sesuatu maka hasil yang didapat itu hanyalah usahanya semata.

Karena ada yang Maha Menggerakkan Hati.

Semoga kita dijauhkan dari perasaan riya’ atas segala pencapaian yang kita raih. Karena ada yang do’a ibu yang terkandung di dalamnya, ada restu bapak yang melancarkan, ada do’a2 anak yatim yang pernah kamu tolong, ada do’a2 orang yang pernah merasa terbantu olehmu.

Surabaya, 020617 07 Ramadhan 1438H

Regulasi Emosi Part 1

Prolognya saya isi dengan curhatan XD

Semenjak saya menetap di Surabaya, ada beberapa yang perlu saya sesuaikan kembali dengan kebiasaan-kebiasaan saya sebelumnya. Ngawi sebagai rumah dan Malang sebagai tanah rantau semasa kuliah yang notabene berisikan orang Jawa yang menurut kategori saya (bisa mengimbangi kulturnya). Meski tidak memungkiri ada beragam jenis manusia yang saya temui, secara tidak langsung membuat saya belajar untuk menjadi diri saya sendiri yang mampu diterima.

Nah, hubungan apa yang terjadi dengan judul yang saya tuliskan?

Semenjak saya menginjak tanah Surabaya, seringkali saya menemukan kultur ucapan yang menurut saya berbeda dengan kebiasaan saya dahulu. Obrolan-obrolan yang dilontarkan disini lebih gamblang, kalimatnya lugas dan jujur. Saya sempat kaget dan pelan-pelan menyesuaikan diri mengingat kebiasaan saya lebih sedikit pelan dan berbasa-basi 😀

Beberapa pekan di awal, sempat terasa sulit. Lingkaran pertemanan yang ingin saya bangun di tempat baru serasa melelahkan, menyebalkan. Saya yang tidak terbiasa dengan suara-suara keras, menjadi mudah sekali mellow dan menganggap perkataan yang biasa saja di telinga saya menjadi terdengar kasar. Di awal saya terbiasa menangis kaget wkwk tapi saya bersyukur ini semua adalah step yang harus dilewati untuk semakin mengerti keberagaman jenis orang.

Dan hikmah yang saya ambil dari sini, saya mewanti-wanti diri sendiri untuk tidak sembarangan melontarkan pendapat, berkata seenak jidat dan hal-hal sejenis yang pernah saya anggap tidak ramah.

Lanjut ke part 2.

Semua tulisan tidak lain adalah sebagai pengingat diri 🙂

Surabaya, 23 Mei 2017

Imagesource : Tumblr

Pasca Kampus : Wacana atau Anti Wacana

Postingan ini berasal dari mengingat beberapa chit-chat adik tingkat yang curhat galau penelitian, galau skripsi, galau kehidupan pasca kampus, galau apa yang kudu dilakukan supaya gak berkontribusi dalam jajaran pengangguran.

Saya tau betul apa yang menjadi dilema pada masa-masa krisis seperti itu. Seperti butuh sandaran, trus ambil jalan pintas : udah nikah aja! XD

But that’s not a solution. 

Kehidupan pasca kampus adalah masa yang tidak lagi setenang hari dengan uang saku. Tidak sesederhana sumpek tugas seabrek tapi masih bisa hangout. Tidak seenteng titip absen kalo lagi mager wqwq

Kehidupan pasca kampus itu…

 Hey! Welcome to the jungle, yeah! XD

Setiap jengkal semakin diperhitungkan dan bercerminkan : Apakah seperti itu sikap seorang sarjana? Siswa yang sudah maha katanya–

Tapi tenanglah, dik. Hidup akan menawarkan buah yang ranum jika kamu menanamnya dengan bibit yang baik dan merawat dengan air jernih yg selalu diusahakan, meski ulat akan tetap ada. Atau musim kering mengujinya dengan sengsara.

Hidup memang harus dihadapi. Saat masa-masa sulit telah terlewati, kamu akan ingat masa2 seperti saat ujian nasional SD yang mengerikan atau ujian nasional SMP yang akan membuktikan bahwa kamu akan mendapat SMA yg diimpikan. Serta UN SMA yg akan menguji loloskah kamu bersaing untuk mendapat perguruan tinggi yang sesuai.

Kehidupan pasca kampus akan membuktikan padamu, akankah kamu menjadi generasi anti wacana atau masih saja seperti seorang deadliner pada masa mahasiswa dulu. Terkadang kita akan dihadapkan dengan ide-ide brilian yang membuatmu menemui aha!

Tapi ujian selanjutnya adalah seberapa jauh progress yang akan kamu kerjakan dengan ahamu itu.

Atau terkadang kita akan menemui banyak tawaran kerja yang membuatmu galau menimbang mana yang lebih layak untuk kamu terima eaa hahaha mana yang lebih layak untuk mendapat pengabdianmu. Ada juga saat-saat kamu sampai tertatih mencari mana hati perusahaan yang terbuka untuk menerimamu.

Yang pasti, Allah mengikuti prasangka hambaNya. Tetap usahakan semampumu dan pastikan itulah yang terbaik. Bumi Allah luas rejeki bisa dimana-mana, bisa jadi pedagang, mau kerja kantoran, mau freelance dimanapun, hamba Allah pun banyak bertebaran dengan kebaikan-kebaikannya.

Salam Generasi Anti Wacana!

Do’akan saya ya, supaya istiqomah di jalan yang lurus nan manfaat. Bukan jadi bagian dari generasi wacana 😂

Meja kerja, Sabtu 08 April 2017