Review : School Of Life Lebah Putih

Prolog –

Setahun lebih berjalan, saya mengenal dunia pendidikan dan itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan ibu kos saya yang 40 tahun mengabdikan dirinya di dunia tsb. Kenapa gitu sampe bawa-bawa ibu kos πŸ˜‚.

Sejak mengenal lebih dekat dan berinteraksi langsung setiap harinya dengan anak-anak membuat saya benar-benar merasa β€œit’s me” saya yakin dengan diri saya sendiri, saya pede, saya semangat dan semakin merasa hidup.

Cerita panjang yang akan saya ceritakan dibawah adalah rangkaian perjalanan beberapa hari yang lalu.


Alhamdulillah, Allah mengijinkan saya untuk mengulik salah satu kebaikan yang tersembunyi dibalik kenyamanan kota Salatiga. School of Life Lebah Putih milik Padepokan Margosari ; Bu Septi Peni Wulandari dan Pak Dodik Maryanto. Dinamai sekolah alami dan sekolah kehidupan.
Letaknya tidak jauh dari Kota Salatiga dengan suasana yang tenang dan sejuk. Lokasi Lebah Putih memang sedikit masuk ke dalam dan tidak berada persis di pinggir jalan raya.


Sekolah ini mengunggulkan character value di kegiatan yang ada di dalamnya. Tidak seperti yang notabene kita tau bahwa kegiatan sekolah selalu terpaku dengan duduk manis di dalam ruang kelas, buku-buku cetak serta jam pelajaran yang mengikat. Sekolah ini memberikan suasana lain dalam belajar sehingga anak-anak justru betah di sekolah.

Awalnya yang bikin saya amaze dengan cerita Enes adalah yang diuji pertama kali untuk mendaftar di sekolah ini justru orang tuanya. Orang tua betul-betul dilibatkan langsung dalam kegiatan belajar yang dialami siswa. Bukan dalam artian orang tua ikut dalam keseharian belajar, tetapi terlibat untuk β€œnyemplung” sebagai role model bagi si anak. Karena semua anak memiliki hak yang sama untuk mendapat pengajaran, maka yang betul-betul diuji adalah orang tuanya. Apakah orang tua bersedia memiliki komitmen untuk membersamai tumbuh kembang anak, meskipun anak telah dititipkan di sekolah.

Contohnya seperti ini, setiap hari Jum’at, Lebah Putih selalu mengadakan event yang bernama Kelas Bintang. Kelas Bintang ini memiliki kegiatan yang dipandu sendiri oleh orangtua dan beliau-beliau akan mengajarkan secara langsung kemampuan yang dimiliki. Entah itu dibidang memasak, dibidang musik ataupun dibidang lainnya.

Dari sini maka timbullah rasa bangga dari anak melihat orangtuanya memiliki sikap tauladan yang nantinya akan menumbuhkan berlipat-lipat kebanggaan dan rasa percaya diri si anak dengan melihat orangtuanya. Tidak hanya itu, selama anak dan orangtua menjadi bagian dari Lebah Putih, orangtua diberi wadah tersendiri untuk membentuk komunitas yang nantinya akan terus berlanjut, baik setelah kelulusan anak dari Lebah Putih. Para orangtua ini membentuk komunitas-komunitas belajar yang terdiri dari banyak sekali minat belajar dan akhirnya saling berbagi.

Jika keluarga A memiliki minat belajar dalam bidang matematika, maka keluarga yang lain akan belajar dari keluarga A. Jika keluarga B memiliki minat belajar dalam bidang kesenian, maka keluarga yang lain akan belajar dari keluarga B tersebut. Dari sanalah tumbuh lingkaran keluarga yang semakin meluas dan kebermanfaatan akan terus berputar disebarkan. Keren ya 😍


Lebah Putih setiap tahunnya memiliki goals value yang akan diterapkan dan tahun ini, menanamkan nilai disiplin. Jadi nilai inilah yang akan ditanamkan oleh pengajar dan orangtua melalui kegiatan apapun dalam kesehariannya. Untuk itu sangat diperlukan sekali kerja sama antara semua komponen yang terlibat. Mengingat kegiatan belajar di sekolah hanya menghabiskan waktu kurang lebih 7 jam dan sisanya dilalui dirumah bersama orangtua.

Sekolah ini tidak ingin, hanya menjadi wadah dititipkannya anak-anak dan mencekoki mereka dengan hal-hal yang berbau akademis, sedangkan sekolah adalah fase yang memang perlu dilewati anak untuk mempersiapkan kehidupan dan masyarakat.

Pun adaaa kegiatan makan bersama yang sebagai seksi sibuknya pun anak-anak sendiri, mulai dari menyiapkan makanan, mencuci piring dan menata peralatan. Betul-betul pembiasaan ditanamkan di semua penjuru.

Saat berkunjung kesana, sayangnya kegiatan sudah selesai lebih cepat, karena ada agenda imunisasi. Jadilah saya tidak kebagian melihat anak-anak langsung. Namun ada 2 anak tersisa menunggu jemputan orang tuanya, mereka adalah Omar dan Keanu. Ketika ditanya apakah mereka betah sekolah disini, jawaban polos ala anak-anak “Betah, malah nggak pengen pulang”

Beda ya, beda banget dengan kondisi sekolah yang ketika bel pulang berbunyi, anak-anak justru saling lari sana-sini supaya lebih cepat pulang dan bermain dirumah.


Merinding melihat sebegitu dalamnya niat yang dipegang oleh semua pihak demi membangun generasi kuat di masa mendatang 😊

Akhir kata, semoga yang sedikit ini bisa memacu siapapun untuk punya pandangan yang lebih baik dan lebih maju lagi tentang pendidikan anak. Karena kalau kata Bu Septi Peni, sebetulnya semua harus dimulai dari dalam keluarga.

Jadi semoga, semakin banyak yang sadar akan betapa pentingnya meninggalkan generasi kuat untuk menghadapi jaman di masa mendatang πŸ™‚

Surabaya, 23.08.17

[Review] Buku Panduan Mengurus Bayi (?)

Belum nikah tapi sok pengen tau banget, tetek bengek urusan per-bayi-an πŸ˜‚

Ndapapa i laf maiself.

Jadi buku tebal dan berwarna-warni inilah buku dunia per-bayi-an yang bikin saya love at the first sight. Yeah!

Sebetulnya, ini bukan buku dunia bayi pertama yang saya baca, tapi ini buku pertama yang bikin jatuh cinta.

Buku dengan total 392 halaman ini adalah buku yang ringan dibaca buat emak muda dan calon emak. Meski memang kurang handly dan cocok di saku. Dalam artian sesungguhnya maupun kiasan.

Dari buku inilah, bahkan saya mendadak punya perasaan jatuh cinta ke calon bayi yang bapaknya pun masih disimpen Allah -skip.

Judul = Anti Panik Mengasuh Bayi 0 – 3 Tahun

Penerbit = Tiga Generasi

Dilihat dari judul, ketebak kan isinya apa? 

Yap. Isinya akan ngublek-ngublek emak (dan bapak), untuk punya modal gimana caranya jadi orangtua bayi dengan rentang umur dimulai dari 0-3 tahun. Kenapa saya bilang ada bapak juga disana, karena banyaaak sekali alasan yang membuat ayolah para bapak, jangan jadikan anak-anak kita menjadi generasi tanpa ayah. Ada ayah namun tidak pernah andil dalam pengasuhan sang anak.

Dan dibuku iniiii, ada banyak sekali do and don’t yang gak cuma dikhususkan buat ibu. Tapi juga buat bapak πŸ™‚

Buku ini fullcolour sekali dan bahasanya mudah sekali dipahami. Saya dapat dengan harga 130rban karna ada potongan di salah satu olshop hihi. Tapi harga asli sekitar 160 ribu rupiah πŸ™‚

Kalau temen-temen mau cari, insyaAllah offline di toko buku ada, tapi setau saya tidak ada selain di Gram****

___

Kenapa harus buku ini?

Bagi saya pribadi, sifatnya tidak menjadi harus. Tapi cukup baik dan menjadi tambahan pandangan untuk pembelajaran orangtua muda maupun calon orangtua.

Dibuku ini pun ada banyak sekali ditulis tentang mitos maupun fakta yang sering kita dengar dan menjadi bahan simpang siur di kalangan masyarakat. Nah, bagi saya buku ini bisa menjadi salah satu referensi yang baik dengan latar belakamg kumpulan penulis yang mengerti dibidangnya. Diantara banyak kemudahan akses informasi yang bisa didapat saat ini, bagi saya pribadi buku cetak masih menjadi prioritas selama saku belum terlalu bolong πŸ™ˆ.

Meski memang dalam kenyataannya dan dari berbagai kisah orangtua muda yang pernah saya dengar dan ikuti, mendidik anak tidak pernah semudah yang terlihat. Apalagi semudah ketika membayangkan yang ada di buku.

Mendidik anak memang akan menjadi fase belajar sepanjang hayat dan melalui media apapun saya berusaha mengumpulkan ilmu untuk mempersiapkannya. Salah satunya melalui buku πŸ™‚

Semoga bermanfaat!

Review : Air Terjun Srambang

Akhirnya posting juga wkwk

Ada satu postingan tentang inner child yang sebetulnya ingin sekali saya tulis. Hasil dari perenungan selama pulang kampung dan belajar lagi dari banyak sumber. Tapi lagi-lagi selalu ada “tapi”. InsyaAllah secepatnya.

Nah, berhubung punya bahan yang lebih bagus yaitu foto-foto. Maka jadilah, postingan ini lebih dulu ditulis XD

Pagi tadi saya berangkat berdua dengan Adek, menuju Wisata Air Terjun Srambang. Letaknya tidak jauh dari Wisata Kebun Teh Jamus, yang pernah saya tulis beberapa waktu lalu. Tulisannya bisa dilihat disini.

Jam 7.00 pagi kami berangkat, perjalanan memakan waktu sekitar satu jam empat puluh menitan dengan kondisi sepanjang perjalanan mulus, sangaaat mulus. Kami sampai di tempat jam 8.43.

Biaya yang dibutuhkan untuk parkir sepeda motor hanya 2000 rupiah dan tiket masuk seharga 5000 rupiah/orang. Air terjun Srambang terletak di kaki Gunung Lawu, daerah Girimulyo, Jogorogo, Ngawi. Kurang lebih 20km dari Kota Ngawi.

Di awal-awal perjalanan, kita akan disambut hutan-hutan pinus dan satu ibu penjual makanan di sebuah warung kecil. Ada mie instan, gorengan, teh atau kopi dll. Jadi, gak usah khawatir kelaperan akibat hawanya yang dingin, karena ternyata masih ada beberapa warung lagi diatas. Awalnya, saya dan Ina ngerasa mulai interest dengan setapak-kecil-dan-batuan. Yang disana setapak-setapak ini selalu ada air mengalir dibawahnya. Kami mengira, perjalanan menuju air terjun hanya melewati track seperti ini. Tapi ternyata, semakin keatas batuan yang kami temui semakin guede dan arus air makin deras XD

Jadilah anak-anak ibuk yang telusurin jalan beginian gak ada bersih-bersihnya pake rok heheh. Capek betul memang, tapi akan terus terbayar dengan suasana dan pemandangan-pemandangan yang akan kita temui selama perjalanannya sampai ke air terjun itu sendiri. Berkali-kalipun Dek Ina bilang, coba mata kita bisa screenshoot ya mbak. Hasilnya pasti keren banget wkwk

Sayangnya disini masih minim sekali fasilitas umum seperti kamar mandi dan musholla. Pun yang saya sayangkan, banyak sekali bebatuan yang jadi sasaran coret-coretan. Sebetulnya banyak sekali lahan yang bisa dipakai pertunjukan budaya misalnya. Atau dimanfaatkan untuk hal-hal lain yang lebih bermanfaat daripada sekedar dibiarkan. Pun pastinya bisa jadi lahan untuk semakin menarik pengunjung πŸ™‚

Ngawi, 05 Juli 2017

 

Flip!

Sekitar 3 harian yang lalu saya ingat punya janji dengan Flip untuk membuat review dalam bentuk tulisan.

Ada yang belum tau, Flip itu apa?

Hayuuklah kenalan πŸ™‚

Flip adalah salah satu aplikasi keren milik teman saya lho πŸ˜€ *haha dak penting* dan waktu pertama kali tau, yang muncul di pikiran saya adalah “hmm, kok bisa ya. Gimana tuh caranya?”

Jadi Flip adalah aplikasi yang menyediakan layanan untuk transaksi antar bank tanpa biaya. Di bawah nanti akan saya sertakan screen capture aplikasi milik saya ya!

Dulu saya sering mendengar keluhan mengenai transfer antar bank dengan pungutan yang lumayan mahal untuk biaya administrasi #maklum #anakkos πŸ˜€ atau #anakkuliahan wkwk

Dengan Flip kalian akan terbantu sekali, yay! Saya rekomendasikan untuk teman-teman pembaca install aplikasi tersebut setelah membaca postingan ini ya! #bantupromosi :p

Catatan untuk teman-teman, sejauh yang saya ketahui.. Flip baru tersedia untuk android, tapi jangan khawatir semoga untuk pengguna yang lain bisa segera ikut merasakan manfaatnya ya. Untuk kalian pengguna android, cukup awali dengan masuklah ke Google Play Store, ketikkan Flip, install lalu ikuti langkah2 yang sudah di instruksikan dan pastikan kalian sering mengecek email karna lewat sinilah Flip akan banyak mencoba berinteraksi dengan para penggunanya. Selamat mencoba πŸ™‚

Ini tampilan halaman utama yang muncul setelah install πŸ™‚
Yay, silahkan masuk ya πŸ™‚ Kalian perlu mendaftar untuk memiliki akun Flip, setelah punya dan telah aktivasi. Silahkan login seperti gambar ini πŸ™‚
Ini halaman home Flip milik saya πŸ™‚
Disinilah notifikasi transaksi yang kalian lakukan akan di rincikan πŸ™‚
Buka Play Store kalian, ketik Flip dan install!

Ini link dari Play Store πŸ™‚ Download Flip

Buku dan Film ‘Sabtu Bersama Bapak’

Assalamu’alaikum.

It’s been a long time tidak posting ke sini πŸ˜€ , cerita ini harusnya jadi latepost (tapi bukannya selalu begitu, okeskip).

Kali ini, saya kepengen sesekali menulis review buku yang bikin jatuh cinta dengan scene-scene pembawaan Kak Adithya Mulya di novel ini, kocak dan ngena. Tahun 2014 saya termasuk penikmat novel ini paling awal lho, eaa. Dan waw! Saya beri nilai 10 untuk novel yang habis baca tidak sampai 2jam sekali duduk.

Ringan tapi lots of mean. Kemudian saya merekomendasikan ke beberapa teman untuk membaca novel ini. Apalagi buat kamu-kamu yang sedang dalam balada umur 20-an, sok dibaca! Dijamin gak bakal nyesel sama yang high recomended kayak gini, haha *muka sales*

Banyak banget didalem novel ini yang touching, kalian emang harus baca sendiri, iya baca sendiri supaya ngerti betapa saya jatuh cinta sama novel ini, setelah novel-novel yang juga bikin saya jatuh cinta, banyak tapi males nyebutin satu-satu *ngeles*

Beberapa point nya adalah ;

1. “Ada orang yang merugikan orang lain.
Ada yang merugikan keluarga yang menyayangi mereka.
Ada orang yang hanya merugikan diri sendiri.
Ada orang yang berguna untuk diri sendiri.
Ada orang yang berhasil berguna untuk keluarganya.
Terakhir adalah orang-orang yang berguna bagi orang lain.
Bapak tidak cukup lama menjadi golongan terakhir.
Jika situasi memungkinkan, semoga kalian dapat menjadi orang-orang yang lebih baik dari Bapak” (Halaman 86).

Saya inget banget, skak-mat-lah sama kalimat ini. Seketika itu saya cermati dalam-dalam. Sebenernya agama pun udah ngingetin soal hal ini, kalau segala sesuatunya emang dimulai dari diri sendiri, kemudian orang terdekat (keluarga), baru masyarakat luas. Kebanyakan orang sering banget repot berfikir bagaimana bisa bermanfaat buat orang banyak, tapi lupa untuk terlebih dulu bermanfaat buat keluarga. At least, disisi lain. Saya berfikir bahwa ketika kita bantu orang lain, Allah sendiri yang directly akan nolong orang-orang terdekat kita. Intinya, niatnya yang bener lah ya. Apapun bentuk kebaikannya, bagaimana cara menjemput, melakukan kebaikan itu insyaaAllah kebaikan pula yang bakal dilahirkan.
2. “Menjadi panutan bukan tugas anak sulung- kepada adik-adiknya. Menjadi panutan adalah tugas orang tua-untuk semua anak” (Halaman 109).

Ini, saya sungguh menggaris bawahi buat bekal ke depan, terlebih saya pribadi. Plus-minus cara yang digunakan orangtua kita sebagaimana mereka menumbuhkan kita pasti akan ada yang jadi highlight. semoga kita dan siapapun punya pemahaman baik soal ini.

3. “Membangun hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab yang lain. Misal, saya gak kuat agamanya. Lantas saya cari pacar yang kuat agamanya. Pernikahan kami akan habis waktunya dengan si kuat melengkapi yang lemah”
(Halaman 217).

Gitulah ya, jadi sebenernya banyak banget yang jadi lipetan-lipetan ujung di novel milik saya, saking banyaknya note yang perlu disimpen πŸ˜€
Setelah lama sekali, novel ini bertapa di lemari bersama buku-buku yang lain. Terhembuslah kabar bahwa apa?
Jengjeng, novel ini bakal di FILM-in. Ya! saya exited denger kabar ini, karna berulang kali saya ngecek ke akun2 yang berkaitan, tapi belum ada kabar pasti kapan bakal keluar.

Lebaran 2016. Ahirnya film ini rilis dengan cast pemain yang gak asing. Saya gak high expectation sama film ini, karna kita tau sendiri hasil film yang diangkat dari novel gak akan seasik novelnya, dengan durasi film yang cuman segitu. But, tetep worth to watch kok :))
Meskipun banyak banget, temen-temen saya yang ngasih nilai 6 dari 10 untuk film ini. Haha, karena mereka terlalu berespektasi lebih.
Mungkin segini dulu aja, postingan ala-ala kali ini. Besok serius lagi :p
Yakin deh, kamu mesti baca novel ini.

Wassalam, 240716