[Review] Novel Api Tauhid

 

“Bismillahirrahmanirrahiim”

Pangkal segala kebaikan,

permulaan segala urusan penting

dan dengannya juga

kita memulai segala urusan

— Badiuzzaman Said Nursi

Judul : Api Tauhid (Cahaya Keagungan Cinta Sang Mujaddid)

Tebal buku : 588 halaman

Penerbit : Republika

Novel ini baru saya beli tahun ini. Terhitung telat untuk cetakan yang memang sudah lama, bahkan semasa saya di pondok pesantren tahun 2015, teman-teman kamar sudah memilikinya namun saya tidak kunjung tertarik untuk membaca.

Sampailah pada Islamic Book Fair, Februari yang lalu akhirnya saya memutuskan membeli dan tidak langsung dibaca. Karena memang tidak mungkin membacanya sekali duduk, maka saya putuskan menyelesaikan buku yang lebih tipis dahulu sampai betul-betul saya bisa fokus untuk menghabiskan novel ini.

Dan ternyata benar, sampai habispun saya tidak kunjung bisa menyusun reviewnya saking bagusnya isi dan cerita. #ngeles

Dalam sekapur sirih, Kang Abik telah menyampaikan di baris pertama bahwa novel ini memanglah novel sejarah. Meski dibalut dalam kisah Fahmi dan Nuzula (kisah cinta islami yang biasa dibawakan oleh Kang Abik dalam buku-bukunya).

Namun yang diceritakan disini justru bukanlah mengenai bagaimana lika-liku kisah dua sejoli yang harus mengalami kisah haru biru Fahmi dan Nuzula, melainkan ruh yang hadir dengan betul-betul nyata adalah seorang ulama yang mendapat julukan “Badiuzzaman” atau “Sang Keajaiban Zaman” ialah Badiuzzaman Said Nursi.

Tokoh yang baru saya mengerti ketika Kang Abik menceritakannya. Tokoh yang menjadikan saya berfikir, masyaAllah betapa banyaak sekali sebetulnya tokoh-tokoh terdahulu yang telah mendarah dagingkan Islam dalam dirinya. Tetapi karena pengetahuan agama saya yang sedikit, menjadikan hal-hal seperti ini jarang sekali terlintas dalam fikiran.


Kembali ke Badiuzzaman Said Nursi ;

Tokoh yang begitu disiplin menjaga diri dari yang syubhat. Yang sejak kecil hingga tua sangat tsabat dan teguh menjaga pandangan matanya dari yang tidak halal. Tokoh yang sangat penyayang kepada makhluk Allah, bahkan kepada semut, kecoa dan tikus sekalipun. Tokoh yang sangat kokoh memegang agama-Nya dan sangat teguh memperjuangkan aga-Nya dengan cara yang indah, penuh cinta dan damai.

Yaitu jalan-jalan cahaya yang tidak memberikan paksaan sama sekali. Tetapi cahaya –sekecil apapun– akan tetap mampu menyibak kegelapan.

Tokoh yang kesabarannya bisa menjadi tauladan bagi para pejuang kebenaran. Dua puluh lima tahun hidup dari penjara ke penjara dan pengasingan, namun tetap menulis dan tetap berada di garda paling depan menegakkan kalimat Tauhid. Dengan Risalah Nur –nya Said Nursi terus ‘mengumandangkan adzan’ di seantero penjuru Turki, ketika para mu’adzin dibungkam tidak boleh Adzan.

— Habiburrahman El Shirazy


Saya akan cuplikkan sedikit kisah Badiuzzaman Said Nursi yang Kang Abik ceritakan dalam novel ini, semoga bisa menjadi sedikit gambaran.

Suatu hari, kepala kamp penjara itu memberitahu Badiuzzaman Said Nursi bahwa Jenderal Nicolas Nicolavich, seorang Jenderal Rusia yang terkenal, akan datang mengunjungi tempat itu, kamp Kosturma di pinggir sungai Volga, lebih utara Moskow.

Para sipir meminta Said Nursi memimpin membersihkan kamp penjara itu.

Ketika Jenderal datang, semua penghuni kamp memberi penghormatan kepada Jenderal kecuali Said Nursi.

Hal itu membuat Jenderal marah.

“Kamu tidak tahu siapa aku?” tanya Jenderal Nicolas Nicholavic

Badiuzzaman Said Nursi menjawab tanpa rasa takut.

“Ya, aku tahu.”

“Jadi mengapa kamu tidak menghormati kedatanganku? Kenapa kamu menghinaku?” tanya Jenderal itu lagi.

“Maafkan saya, sungguh saya tidak bermaksud menghina. Saya hanya menjalankan ajaran agama yang saya yakini” jawab Badiuzzaman Said Nursi dengan tenang.

“Apa ajaran agamamu?”

“Aku seorang ulama. Allah mengaruniakan iman dalam hati saya. Menurut ajaran agama saya, sayang yang beriman lebih tinggi kedudukannya dibandingkan yang tidak beriman. Maka kalau saya menghormati anda itu artinya saya melecehkan agama yang saya yakini. Karena itu saya tidak berdiri untuk menghormati anda.”

Usai urusan itu, Jenderal semakin marah dan memerintahkan untuk menjatuhkan hukuman mati atas Badiuzzaman Said Nursi karena dianggap menghina dan melecehkan tentara Rusia.

Halaman 392 – 393


Ketika menghabiskan novel ini, sayang memang lebih sering mengulang-ulang kisahnya terutama ketika menceritakan bagaimana Badiuzzaman Said Nursi dalam perjalanannya menegakkan Islam.

Kisah yang dibawakan Kang Abik memang tidak di setting runut dengan alur terus maju. Mungkin itu yang membuat pembacanya sedikit lebih berfikir ketika akan masuk kedalam scene yang baru.

But so far, novel ini betul-betul novel sejarah yang tidak sama sekali ditulis dengan membosankan. Novel ini betul-betul menyajikan kisah yang tidak terduga. Dan yang terpenting, dalam setiap babnya betul-betul membuat pembaca perlu terus mengobarkan kecintaannya pada Dienul Islam.


Semoga yang belum sempat membaca ataupun masih ragu-ragu membaca jadi tercerahkan setelah baca review ini, boleh pinjam saya selama dalam jangkauan Surabaya wkwkw . Semoga yang baru tertarik membeli, masih tersedia di toko-toko buku mengingat cetakannya sudah lama.

Terakhir, semoga review ini bermanfaat 🙂

Selamat dan semangat membaca!

Surabaya, 18.10.17

 

 

Advertisements

[Review] Buku Kiki Barkiah

Kiki Barkiah merupakan salah satu dari sekian perempuan berlulusan tinggi yang memilih menjadi penanggung jawab amanah Allah langsung-dalam hal mendidik anak-anaknya. Mengenal nama Teh Kiki (ikutan manggil teh gitu) bermula dari Social Media yang pada saat itu ibarat sepantaran ketika saya mengenal Bukik Setiawan dengan bukunya “Anak Bukan Kertas Kosong”.Alhamdulillah membaca tulisannya yang tercetak baru Juli tahun ini. Karena memang ada satu judul baru yang di cetak Juni 2017. Sedangkan dua buku lainnya adalah kumpulan kisah pada tahun berkisar 2015.

Buku ini diterbitkan oleh Mastakka Publishing yang bertempat di Bandung dan penerbitan ini merupakan salah satu usaha yang beliau kembangkan bersama keluarga.


Salah satu potongan cerita yang ada pada buku berjudul 5 Guru Kecilku Bagian I

Wahai anakku…

Ummi teringat perkataan Imam Syafi’i yang menegaskan bahwa ilmu itu bukan yang dihafal dalam pikiran, tetapi yang bermanfaat dalam perbuatan.

Juga teringat sabda Rasulullah SAW ; yang artinya begini…

Hadist dari ‘Abdullah : Rasulullah SAW bersabda : “Tidak boleh iri kepada orang lain, kecuali dalam dua hal :

  1. Seseorang yang Allah beri harta dan ia belanjakan dengan baik
  2. Seseorang yang Allah beri hikmah (ilmu Qur’an dan Hadist) kemudian ia amalkan dan anjarkan kepada orang lain (Shahih Al – Bukhari No. 7141)

Oleh karena itu, belajar seperti inilah yang ummi harapkan dari sebuah tambahan ilmu bagi kalian dalam sekolah di rumah kita. Sebuah peningkatan kapasitas intelektual yang membuat kalian semakin mengenal kebesaran Allah sehingga dengan itu kecintaan kalian kepada Allah semakin bertambah.

Halaman 118 – 119


Semua yang dituliskan Teh Kiki ngaliiiirrr banget dari apa-apa yang dialami dalam keseharian beliau. Tutur bahasanya sabaaar sekali membuat pembaca seolah betul mengondisikan bagaimana bisa sesabar itu menghadapi anak-anak.

Karena menghadapi satu anak saja tidak bisa dijadikan acuan bagaimana cara mendidik yang baik dan sesuai. Karena seperti apapun cara yang baik, jika tidak tepat pada karakter anak juga tidak akan memberikan hasil seperti yang diamanahkan Allah. Sama seperti teh Kiki tidak bisa menyama ratakan cara pengasuhan kepada 5 anaknya.

Justru poin yang saya garis bawahi, beliau bukanlah seorang lulusan Psikologi. Namun semua kisah yang diceritakannya sungguh berhikmah mengalir benar-benar menuntun beginilah keseharian menjadi ibu, beginilah ikhtiar menumbuhkan anak-anak dan beginilah menjaga amanah dari Allah.

Kumpulan tulisan dalam tiga buku ini tidak seperti menggurui, kita sebagai pembaca layaknya dikisahkan langsung oleh penulisnya. Kisahnya berkelana namun pesan tetap sampai di hati 😊

Banyaaaak banget kisah yang pas bacanya bikin merinding.

Teh Kiki selalu menyelipkan hikmah dari kisah seeekecil sebuah kejadian, kalo dilihat kasat mata kita akan lebih mudah merasa bahwa itu hanya menguras energi dan emosi. Tapi bagi teh Kiki selalu ada berkah di tiap-tiap polah tingkah anak-anaknya. Setiap kejadian dalam keluarga bagi beliau adalah cara Allah menumbuhkan untuk menjadi lebih baik.

Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk menjadi salah satu tambahan amunisi tentang parenting. Plu-plusnya. teh Kiki menghadirkan konsep IQ, SQ dan EQ yang diramu dalam kumpulan kisah berhikmah seputar mengasuh anak.


Akhir kata, memang tidak akan pernah ada cara dan bentuk mengasuh dan mendidik anak yang sempurna. Pun tidak ada orangtua yang tidak ingin memberi yang terbaik bagi anak-anak mereka.

Menjadi orangtua tidak pernah habis dipelajari, belajarnya akan terus seumur hidup. Maka, semoga do’a-do’a kita sebagai manusia yang pernah melewati fase anak-anak (semua orang dewasa pasti pernah jadi anak-anak) tidak pernah terputus untuk mendo’akan orangtua kita.

Layaknya mereka yang tidak pernah berhenti mendidik dan mengasuh.

Allahummaghfirli waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbaayanii shogiiroo

Surabaya, 09.10.17

Review : School Of Life Lebah Putih

Prolog –

Setahun lebih berjalan, saya mengenal dunia pendidikan dan itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan ibu kos saya yang 40 tahun mengabdikan dirinya di dunia tsb. Kenapa gitu sampe bawa-bawa ibu kos 😂.

Sejak mengenal lebih dekat dan berinteraksi langsung setiap harinya dengan anak-anak membuat saya benar-benar merasa “it’s me” saya yakin dengan diri saya sendiri, saya pede, saya semangat dan semakin merasa hidup.

Cerita panjang yang akan saya ceritakan dibawah adalah rangkaian perjalanan beberapa hari yang lalu.


Alhamdulillah, Allah mengijinkan saya untuk mengulik salah satu kebaikan yang tersembunyi dibalik kenyamanan kota Salatiga. School of Life Lebah Putih milik Padepokan Margosari ; Bu Septi Peni Wulandari dan Pak Dodik Maryanto. Dinamai sekolah alami dan sekolah kehidupan.
Letaknya tidak jauh dari Kota Salatiga dengan suasana yang tenang dan sejuk. Lokasi Lebah Putih memang sedikit masuk ke dalam dan tidak berada persis di pinggir jalan raya.


Sekolah ini mengunggulkan character value di kegiatan yang ada di dalamnya. Tidak seperti yang notabene kita tau bahwa kegiatan sekolah selalu terpaku dengan duduk manis di dalam ruang kelas, buku-buku cetak serta jam pelajaran yang mengikat. Sekolah ini memberikan suasana lain dalam belajar sehingga anak-anak justru betah di sekolah.

Awalnya yang bikin saya amaze dengan cerita Enes adalah yang diuji pertama kali untuk mendaftar di sekolah ini justru orang tuanya. Orang tua betul-betul dilibatkan langsung dalam kegiatan belajar yang dialami siswa. Bukan dalam artian orang tua ikut dalam keseharian belajar, tetapi terlibat untuk “nyemplung” sebagai role model bagi si anak. Karena semua anak memiliki hak yang sama untuk mendapat pengajaran, maka yang betul-betul diuji adalah orang tuanya. Apakah orang tua bersedia memiliki komitmen untuk membersamai tumbuh kembang anak, meskipun anak telah dititipkan di sekolah.

Contohnya seperti ini, setiap hari Jum’at, Lebah Putih selalu mengadakan event yang bernama Kelas Bintang. Kelas Bintang ini memiliki kegiatan yang dipandu sendiri oleh orangtua dan beliau-beliau akan mengajarkan secara langsung kemampuan yang dimiliki. Entah itu dibidang memasak, dibidang musik ataupun dibidang lainnya.

Dari sini maka timbullah rasa bangga dari anak melihat orangtuanya memiliki sikap tauladan yang nantinya akan menumbuhkan berlipat-lipat kebanggaan dan rasa percaya diri si anak dengan melihat orangtuanya. Tidak hanya itu, selama anak dan orangtua menjadi bagian dari Lebah Putih, orangtua diberi wadah tersendiri untuk membentuk komunitas yang nantinya akan terus berlanjut, baik setelah kelulusan anak dari Lebah Putih. Para orangtua ini membentuk komunitas-komunitas belajar yang terdiri dari banyak sekali minat belajar dan akhirnya saling berbagi.

Jika keluarga A memiliki minat belajar dalam bidang matematika, maka keluarga yang lain akan belajar dari keluarga A. Jika keluarga B memiliki minat belajar dalam bidang kesenian, maka keluarga yang lain akan belajar dari keluarga B tersebut. Dari sanalah tumbuh lingkaran keluarga yang semakin meluas dan kebermanfaatan akan terus berputar disebarkan. Keren ya 😍


Lebah Putih setiap tahunnya memiliki goals value yang akan diterapkan dan tahun ini, menanamkan nilai disiplin. Jadi nilai inilah yang akan ditanamkan oleh pengajar dan orangtua melalui kegiatan apapun dalam kesehariannya. Untuk itu sangat diperlukan sekali kerja sama antara semua komponen yang terlibat. Mengingat kegiatan belajar di sekolah hanya menghabiskan waktu kurang lebih 7 jam dan sisanya dilalui dirumah bersama orangtua.

Sekolah ini tidak ingin, hanya menjadi wadah dititipkannya anak-anak dan mencekoki mereka dengan hal-hal yang berbau akademis, sedangkan sekolah adalah fase yang memang perlu dilewati anak untuk mempersiapkan kehidupan dan masyarakat.

Pun adaaa kegiatan makan bersama yang sebagai seksi sibuknya pun anak-anak sendiri, mulai dari menyiapkan makanan, mencuci piring dan menata peralatan. Betul-betul pembiasaan ditanamkan di semua penjuru.

Saat berkunjung kesana, sayangnya kegiatan sudah selesai lebih cepat, karena ada agenda imunisasi. Jadilah saya tidak kebagian melihat anak-anak langsung. Namun ada 2 anak tersisa menunggu jemputan orang tuanya, mereka adalah Omar dan Keanu. Ketika ditanya apakah mereka betah sekolah disini, jawaban polos ala anak-anak “Betah, malah nggak pengen pulang”

Beda ya, beda banget dengan kondisi sekolah yang ketika bel pulang berbunyi, anak-anak justru saling lari sana-sini supaya lebih cepat pulang dan bermain dirumah.


Merinding melihat sebegitu dalamnya niat yang dipegang oleh semua pihak demi membangun generasi kuat di masa mendatang 😊

Akhir kata, semoga yang sedikit ini bisa memacu siapapun untuk punya pandangan yang lebih baik dan lebih maju lagi tentang pendidikan anak. Karena kalau kata Bu Septi Peni, sebetulnya semua harus dimulai dari dalam keluarga.

Jadi semoga, semakin banyak yang sadar akan betapa pentingnya meninggalkan generasi kuat untuk menghadapi jaman di masa mendatang 🙂

Surabaya, 23.08.17

[Review] Buku Panduan Mengurus Bayi (?)

Belum nikah tapi sok pengen tau banget, tetek bengek urusan per-bayi-an 😂

Ndapapa i laf maiself.

Jadi buku tebal dan berwarna-warni inilah buku dunia per-bayi-an yang bikin saya love at the first sight. Yeah!

Sebetulnya, ini bukan buku dunia bayi pertama yang saya baca, tapi ini buku pertama yang bikin jatuh cinta.

Buku dengan total 392 halaman ini adalah buku yang ringan dibaca buat emak muda dan calon emak. Meski memang kurang handly dan cocok di saku. Dalam artian sesungguhnya maupun kiasan.

Dari buku inilah, bahkan saya mendadak punya perasaan jatuh cinta ke calon bayi yang bapaknya pun masih disimpen Allah -skip.

Judul = Anti Panik Mengasuh Bayi 0 – 3 Tahun

Penerbit = Tiga Generasi

Dilihat dari judul, ketebak kan isinya apa? 

Yap. Isinya akan ngublek-ngublek emak (dan bapak), untuk punya modal gimana caranya jadi orangtua bayi dengan rentang umur dimulai dari 0-3 tahun. Kenapa saya bilang ada bapak juga disana, karena banyaaak sekali alasan yang membuat ayolah para bapak, jangan jadikan anak-anak kita menjadi generasi tanpa ayah. Ada ayah namun tidak pernah andil dalam pengasuhan sang anak.

Dan dibuku iniiii, ada banyak sekali do and don’t yang gak cuma dikhususkan buat ibu. Tapi juga buat bapak 🙂

Buku ini fullcolour sekali dan bahasanya mudah sekali dipahami. Saya dapat dengan harga 130rban karna ada potongan di salah satu olshop hihi. Tapi harga asli sekitar 160 ribu rupiah 🙂

Kalau temen-temen mau cari, insyaAllah offline di toko buku ada, tapi setau saya tidak ada selain di Gram****

___

Kenapa harus buku ini?

Bagi saya pribadi, sifatnya tidak menjadi harus. Tapi cukup baik dan menjadi tambahan pandangan untuk pembelajaran orangtua muda maupun calon orangtua.

Dibuku ini pun ada banyak sekali ditulis tentang mitos maupun fakta yang sering kita dengar dan menjadi bahan simpang siur di kalangan masyarakat. Nah, bagi saya buku ini bisa menjadi salah satu referensi yang baik dengan latar belakamg kumpulan penulis yang mengerti dibidangnya. Diantara banyak kemudahan akses informasi yang bisa didapat saat ini, bagi saya pribadi buku cetak masih menjadi prioritas selama saku belum terlalu bolong 🙈.

Meski memang dalam kenyataannya dan dari berbagai kisah orangtua muda yang pernah saya dengar dan ikuti, mendidik anak tidak pernah semudah yang terlihat. Apalagi semudah ketika membayangkan yang ada di buku.

Mendidik anak memang akan menjadi fase belajar sepanjang hayat dan melalui media apapun saya berusaha mengumpulkan ilmu untuk mempersiapkannya. Salah satunya melalui buku 🙂

Semoga bermanfaat!

Review : Air Terjun Srambang

Akhirnya posting juga wkwk

Ada satu postingan tentang inner child yang sebetulnya ingin sekali saya tulis. Hasil dari perenungan selama pulang kampung dan belajar lagi dari banyak sumber. Tapi lagi-lagi selalu ada “tapi”. InsyaAllah secepatnya.

Nah, berhubung punya bahan yang lebih bagus yaitu foto-foto. Maka jadilah, postingan ini lebih dulu ditulis XD

Pagi tadi saya berangkat berdua dengan Adek, menuju Wisata Air Terjun Srambang. Letaknya tidak jauh dari Wisata Kebun Teh Jamus, yang pernah saya tulis beberapa waktu lalu. Tulisannya bisa dilihat disini.

Jam 7.00 pagi kami berangkat, perjalanan memakan waktu sekitar satu jam empat puluh menitan dengan kondisi sepanjang perjalanan mulus, sangaaat mulus. Kami sampai di tempat jam 8.43.

Biaya yang dibutuhkan untuk parkir sepeda motor hanya 2000 rupiah dan tiket masuk seharga 5000 rupiah/orang. Air terjun Srambang terletak di kaki Gunung Lawu, daerah Girimulyo, Jogorogo, Ngawi. Kurang lebih 20km dari Kota Ngawi.

Di awal-awal perjalanan, kita akan disambut hutan-hutan pinus dan satu ibu penjual makanan di sebuah warung kecil. Ada mie instan, gorengan, teh atau kopi dll. Jadi, gak usah khawatir kelaperan akibat hawanya yang dingin, karena ternyata masih ada beberapa warung lagi diatas. Awalnya, saya dan Ina ngerasa mulai interest dengan setapak-kecil-dan-batuan. Yang disana setapak-setapak ini selalu ada air mengalir dibawahnya. Kami mengira, perjalanan menuju air terjun hanya melewati track seperti ini. Tapi ternyata, semakin keatas batuan yang kami temui semakin guede dan arus air makin deras XD

Jadilah anak-anak ibuk yang telusurin jalan beginian gak ada bersih-bersihnya pake rok heheh. Capek betul memang, tapi akan terus terbayar dengan suasana dan pemandangan-pemandangan yang akan kita temui selama perjalanannya sampai ke air terjun itu sendiri. Berkali-kalipun Dek Ina bilang, coba mata kita bisa screenshoot ya mbak. Hasilnya pasti keren banget wkwk

Sayangnya disini masih minim sekali fasilitas umum seperti kamar mandi dan musholla. Pun yang saya sayangkan, banyak sekali bebatuan yang jadi sasaran coret-coretan. Sebetulnya banyak sekali lahan yang bisa dipakai pertunjukan budaya misalnya. Atau dimanfaatkan untuk hal-hal lain yang lebih bermanfaat daripada sekedar dibiarkan. Pun pastinya bisa jadi lahan untuk semakin menarik pengunjung 🙂

Ngawi, 05 Juli 2017

 

Flip!

Sekitar 3 harian yang lalu saya ingat punya janji dengan Flip untuk membuat review dalam bentuk tulisan.

Ada yang belum tau, Flip itu apa?

Hayuuklah kenalan 🙂

Flip adalah salah satu aplikasi keren milik teman saya lho 😀 *haha dak penting* dan waktu pertama kali tau, yang muncul di pikiran saya adalah “hmm, kok bisa ya. Gimana tuh caranya?”

Jadi Flip adalah aplikasi yang menyediakan layanan untuk transaksi antar bank tanpa biaya. Di bawah nanti akan saya sertakan screen capture aplikasi milik saya ya!

Dulu saya sering mendengar keluhan mengenai transfer antar bank dengan pungutan yang lumayan mahal untuk biaya administrasi #maklum #anakkos 😀 atau #anakkuliahan wkwk

Dengan Flip kalian akan terbantu sekali, yay! Saya rekomendasikan untuk teman-teman pembaca install aplikasi tersebut setelah membaca postingan ini ya! #bantupromosi :p

Catatan untuk teman-teman, sejauh yang saya ketahui.. Flip baru tersedia untuk android, tapi jangan khawatir semoga untuk pengguna yang lain bisa segera ikut merasakan manfaatnya ya. Untuk kalian pengguna android, cukup awali dengan masuklah ke Google Play Store, ketikkan Flip, install lalu ikuti langkah2 yang sudah di instruksikan dan pastikan kalian sering mengecek email karna lewat sinilah Flip akan banyak mencoba berinteraksi dengan para penggunanya. Selamat mencoba 🙂

Ini tampilan halaman utama yang muncul setelah install 🙂
Yay, silahkan masuk ya 🙂 Kalian perlu mendaftar untuk memiliki akun Flip, setelah punya dan telah aktivasi. Silahkan login seperti gambar ini 🙂
Ini halaman home Flip milik saya 🙂
Disinilah notifikasi transaksi yang kalian lakukan akan di rincikan 🙂
Buka Play Store kalian, ketik Flip dan install!

Ini link dari Play Store 🙂 Download Flip

Buku dan Film ‘Sabtu Bersama Bapak’

Assalamu’alaikum.

It’s been a long time tidak posting ke sini 😀 , cerita ini harusnya jadi latepost (tapi bukannya selalu begitu, okeskip).

Kali ini, saya kepengen sesekali menulis review buku yang bikin jatuh cinta dengan scene-scene pembawaan Kak Adithya Mulya di novel ini, kocak dan ngena. Tahun 2014 saya termasuk penikmat novel ini paling awal lho, eaa. Dan waw! Saya beri nilai 10 untuk novel yang habis baca tidak sampai 2jam sekali duduk.

Ringan tapi lots of mean. Kemudian saya merekomendasikan ke beberapa teman untuk membaca novel ini. Apalagi buat kamu-kamu yang sedang dalam balada umur 20-an, sok dibaca! Dijamin gak bakal nyesel sama yang high recomended kayak gini, haha *muka sales*

Banyak banget didalem novel ini yang touching, kalian emang harus baca sendiri, iya baca sendiri supaya ngerti betapa saya jatuh cinta sama novel ini, setelah novel-novel yang juga bikin saya jatuh cinta, banyak tapi males nyebutin satu-satu *ngeles*

Beberapa point nya adalah ;

1. “Ada orang yang merugikan orang lain.
Ada yang merugikan keluarga yang menyayangi mereka.
Ada orang yang hanya merugikan diri sendiri.
Ada orang yang berguna untuk diri sendiri.
Ada orang yang berhasil berguna untuk keluarganya.
Terakhir adalah orang-orang yang berguna bagi orang lain.
Bapak tidak cukup lama menjadi golongan terakhir.
Jika situasi memungkinkan, semoga kalian dapat menjadi orang-orang yang lebih baik dari Bapak” (Halaman 86).

Saya inget banget, skak-mat-lah sama kalimat ini. Seketika itu saya cermati dalam-dalam. Sebenernya agama pun udah ngingetin soal hal ini, kalau segala sesuatunya emang dimulai dari diri sendiri, kemudian orang terdekat (keluarga), baru masyarakat luas. Kebanyakan orang sering banget repot berfikir bagaimana bisa bermanfaat buat orang banyak, tapi lupa untuk terlebih dulu bermanfaat buat keluarga. At least, disisi lain. Saya berfikir bahwa ketika kita bantu orang lain, Allah sendiri yang directly akan nolong orang-orang terdekat kita. Intinya, niatnya yang bener lah ya. Apapun bentuk kebaikannya, bagaimana cara menjemput, melakukan kebaikan itu insyaaAllah kebaikan pula yang bakal dilahirkan.
2. “Menjadi panutan bukan tugas anak sulung- kepada adik-adiknya. Menjadi panutan adalah tugas orang tua-untuk semua anak” (Halaman 109).

Ini, saya sungguh menggaris bawahi buat bekal ke depan, terlebih saya pribadi. Plus-minus cara yang digunakan orangtua kita sebagaimana mereka menumbuhkan kita pasti akan ada yang jadi highlight. semoga kita dan siapapun punya pemahaman baik soal ini.

3. “Membangun hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab yang lain. Misal, saya gak kuat agamanya. Lantas saya cari pacar yang kuat agamanya. Pernikahan kami akan habis waktunya dengan si kuat melengkapi yang lemah”
(Halaman 217).

Gitulah ya, jadi sebenernya banyak banget yang jadi lipetan-lipetan ujung di novel milik saya, saking banyaknya note yang perlu disimpen 😀
Setelah lama sekali, novel ini bertapa di lemari bersama buku-buku yang lain. Terhembuslah kabar bahwa apa?
Jengjeng, novel ini bakal di FILM-in. Ya! saya exited denger kabar ini, karna berulang kali saya ngecek ke akun2 yang berkaitan, tapi belum ada kabar pasti kapan bakal keluar.

Lebaran 2016. Ahirnya film ini rilis dengan cast pemain yang gak asing. Saya gak high expectation sama film ini, karna kita tau sendiri hasil film yang diangkat dari novel gak akan seasik novelnya, dengan durasi film yang cuman segitu. But, tetep worth to watch kok :))
Meskipun banyak banget, temen-temen saya yang ngasih nilai 6 dari 10 untuk film ini. Haha, karena mereka terlalu berespektasi lebih.
Mungkin segini dulu aja, postingan ala-ala kali ini. Besok serius lagi :p
Yakin deh, kamu mesti baca novel ini.

Wassalam, 240716