[Review] Novel Api Tauhid

 

“Bismillahirrahmanirrahiim”

Pangkal segala kebaikan,

permulaan segala urusan penting

dan dengannya juga

kita memulai segala urusan

— Badiuzzaman Said Nursi

Judul : Api Tauhid (Cahaya Keagungan Cinta Sang Mujaddid)

Tebal buku : 588 halaman

Penerbit : Republika

Novel ini baru saya beli tahun ini. Terhitung telat untuk cetakan yang memang sudah lama, bahkan semasa saya di pondok pesantren tahun 2015, teman-teman kamar sudah memilikinya namun saya tidak kunjung tertarik untuk membaca.

Sampailah pada Islamic Book Fair, Februari yang lalu akhirnya saya memutuskan membeli dan tidak langsung dibaca. Karena memang tidak mungkin membacanya sekali duduk, maka saya putuskan menyelesaikan buku yang lebih tipis dahulu sampai betul-betul saya bisa fokus untuk menghabiskan novel ini.

Dan ternyata benar, sampai habispun saya tidak kunjung bisa menyusun reviewnya saking bagusnya isi dan cerita. #ngeles

Dalam sekapur sirih, Kang Abik telah menyampaikan di baris pertama bahwa novel ini memanglah novel sejarah. Meski dibalut dalam kisah Fahmi dan Nuzula (kisah cinta islami yang biasa dibawakan oleh Kang Abik dalam buku-bukunya).

Namun yang diceritakan disini justru bukanlah mengenai bagaimana lika-liku kisah dua sejoli yang harus mengalami kisah haru biru Fahmi dan Nuzula, melainkan ruh yang hadir dengan betul-betul nyata adalah seorang ulama yang mendapat julukan “Badiuzzaman” atau “Sang Keajaiban Zaman” ialah Badiuzzaman Said Nursi.

Tokoh yang baru saya mengerti ketika Kang Abik menceritakannya. Tokoh yang menjadikan saya berfikir, masyaAllah betapa banyaak sekali sebetulnya tokoh-tokoh terdahulu yang telah mendarah dagingkan Islam dalam dirinya. Tetapi karena pengetahuan agama saya yang sedikit, menjadikan hal-hal seperti ini jarang sekali terlintas dalam fikiran.


Kembali ke Badiuzzaman Said Nursi ;

Tokoh yang begitu disiplin menjaga diri dari yang syubhat. Yang sejak kecil hingga tua sangat tsabat dan teguh menjaga pandangan matanya dari yang tidak halal. Tokoh yang sangat penyayang kepada makhluk Allah, bahkan kepada semut, kecoa dan tikus sekalipun. Tokoh yang sangat kokoh memegang agama-Nya dan sangat teguh memperjuangkan aga-Nya dengan cara yang indah, penuh cinta dan damai.

Yaitu jalan-jalan cahaya yang tidak memberikan paksaan sama sekali. Tetapi cahaya –sekecil apapun– akan tetap mampu menyibak kegelapan.

Tokoh yang kesabarannya bisa menjadi tauladan bagi para pejuang kebenaran. Dua puluh lima tahun hidup dari penjara ke penjara dan pengasingan, namun tetap menulis dan tetap berada di garda paling depan menegakkan kalimat Tauhid. Dengan Risalah Nur –nya Said Nursi terus ‘mengumandangkan adzan’ di seantero penjuru Turki, ketika para mu’adzin dibungkam tidak boleh Adzan.

— Habiburrahman El Shirazy


Saya akan cuplikkan sedikit kisah Badiuzzaman Said Nursi yang Kang Abik ceritakan dalam novel ini, semoga bisa menjadi sedikit gambaran.

Suatu hari, kepala kamp penjara itu memberitahu Badiuzzaman Said Nursi bahwa Jenderal Nicolas Nicolavich, seorang Jenderal Rusia yang terkenal, akan datang mengunjungi tempat itu, kamp Kosturma di pinggir sungai Volga, lebih utara Moskow.

Para sipir meminta Said Nursi memimpin membersihkan kamp penjara itu.

Ketika Jenderal datang, semua penghuni kamp memberi penghormatan kepada Jenderal kecuali Said Nursi.

Hal itu membuat Jenderal marah.

“Kamu tidak tahu siapa aku?” tanya Jenderal Nicolas Nicholavic

Badiuzzaman Said Nursi menjawab tanpa rasa takut.

“Ya, aku tahu.”

“Jadi mengapa kamu tidak menghormati kedatanganku? Kenapa kamu menghinaku?” tanya Jenderal itu lagi.

“Maafkan saya, sungguh saya tidak bermaksud menghina. Saya hanya menjalankan ajaran agama yang saya yakini” jawab Badiuzzaman Said Nursi dengan tenang.

“Apa ajaran agamamu?”

“Aku seorang ulama. Allah mengaruniakan iman dalam hati saya. Menurut ajaran agama saya, sayang yang beriman lebih tinggi kedudukannya dibandingkan yang tidak beriman. Maka kalau saya menghormati anda itu artinya saya melecehkan agama yang saya yakini. Karena itu saya tidak berdiri untuk menghormati anda.”

Usai urusan itu, Jenderal semakin marah dan memerintahkan untuk menjatuhkan hukuman mati atas Badiuzzaman Said Nursi karena dianggap menghina dan melecehkan tentara Rusia.

Halaman 392 – 393


Ketika menghabiskan novel ini, sayang memang lebih sering mengulang-ulang kisahnya terutama ketika menceritakan bagaimana Badiuzzaman Said Nursi dalam perjalanannya menegakkan Islam.

Kisah yang dibawakan Kang Abik memang tidak di setting runut dengan alur terus maju. Mungkin itu yang membuat pembacanya sedikit lebih berfikir ketika akan masuk kedalam scene yang baru.

But so far, novel ini betul-betul novel sejarah yang tidak sama sekali ditulis dengan membosankan. Novel ini betul-betul menyajikan kisah yang tidak terduga. Dan yang terpenting, dalam setiap babnya betul-betul membuat pembaca perlu terus mengobarkan kecintaannya pada Dienul Islam.


Semoga yang belum sempat membaca ataupun masih ragu-ragu membaca jadi tercerahkan setelah baca review ini, boleh pinjam saya selama dalam jangkauan Surabaya wkwkw . Semoga yang baru tertarik membeli, masih tersedia di toko-toko buku mengingat cetakannya sudah lama.

Terakhir, semoga review ini bermanfaat 🙂

Selamat dan semangat membaca!

Surabaya, 18.10.17

 

 

Advertisements

Pendidikan di Finlandia (Materi JSAN ; Jambore Sekolah Alam Nasional)

arti-mimpi-sekolah

Disampaikan oleh

ALLAN SCHNEITZ

Dream School – Finland

Peraih penghargaan “Open World Hero 2013” melalui Dream School Project di Finlandia yang kemudian dikembangkan ke berbagai negara lain di dunia.

Berbicara tentang Finlandia dan Pendidikan, mungkin sudah banyak yang tahu bahwa Finlandia berada dalam posisi unggul dalam hal pendidikan.

Apa sih sebetulnya yang dilakukan Finlandia hingga mampu menjadi negara yang menarik dalam hal mendidik generasinya?


Dalam Jambore Sekolah Alam Nasional yang saya ikuti kemarin, salah satu pembicara yang dihadirkan adalah dari Finlandia, seorang praktisi pendidikan serta pendidik disana. Beliau membawa kisah-kisah bagaimana mengajar anak-anak di sana.

Finlandia memiliki 4 kunci utama dalam mendidik generasi penerusnya yang mereka sebut dengan 4C. Communication, Colaboration, Creative thingking dan Critical Thingking.

Dalam merumuskan kurikulum terbaik Finlandia mengumpulkan para politisi untuk mendefinisikan apa yang dibutuhkan pada tahun-tahun kedepan. Keempat C tersebut menjadi kunci untuk menemukan formula terbaik dengan cara langsung menerapkan dalam kehidupan sehari-hari utntuk di evaluasi bersama.

Disana, semua jajaran pendidik baik kepala sekolah maupun guru memiliki posisi yang sama yaitu bertujuan untuk mendidik anak-anak. Maka, dalam hal sesederhana letak ruangan dan tempat duduk kepala sekolah disama ratakan denganpara guru.

Setiap satu kali dalam satu tahun, anak-anak akan diberi kesempatan untuk magang (terjun langsung) menghadapi realitas kehidupan namun harus menghasilkan suatu produk. Kalau bahasa Mr. Allan membahasakannya dengan Try to always product.

Pada saat mengajar, guru di Finlandia tidak akan mengacu pada buku. Mereka telah terbiasa dengan metode mengajarkan secara langsung dengan memanfaatkan sekitar bahkan langsung pada alam. Maka tugas yang para guru berikan tidak akan berupa tugas tertulis, essay, mengerjakan soal ataupun kuis-kuis. Tugas yang diberikan berupa proyek kelompok maupun individu. Maka setiap anak justru dihargai dengan cara mereka masing-masing. Mereka tidak akan memiliki standar yang sama untuk memandang mengenai belajar dalam satu pakem yang harus sama. Finlandia sangat menghargai perbedaan setiap karakter anak, maka anak-anak justru akan mengatasi permasalahan tersebut dengan cara mereka masing-masing, tidak terbiasa untuk ”mencontek” supaya terlihat sama, mereka akan terbentuk dengan solusi yang mereka pertanggung jawabkan sendiri. Namun semua guru akan memberikan skill dasar yang sama, bukan memaksa menyama ratakan pola pikir.

Di Finlandia, melaksanakan ujian hanya dalam rangka menguji kemampuan matematika dan bahasa ibu. Maka tidak ada istilah ujian nasional, ulangan harian, ulangan tengah semester dan lain sebagainya.

Baru sedikit yg bisa diceritain wkwk

Dan bonus foto Mr. Allan meski ga keliatan wajahnya 🙈

Semoga bisa diulik lebih lengkap lagi dari slideshow yg Mr. Allan bawakan yhaa! 🙆

Untuk download materi beliau bisa disini :

https://drive.google.com/file/d/0ByIhVnRGLy2CdGg5d21sbHFtOEE/view?usp=drivesdk
Surabaya, 14.10.17

 

​Jangan capek memahamkan diri bahwa rejeki bukan hanya banyaknya materi, tapi berkahnya.

Bisa jadi itu adalah kesempatan berada di lingkungan yang baik, berteman dengan yang mengingat kebaikan dan dijauhkan dari hal-hal tidak manfaat.

Jangan capek memahamkan diri bahwa ilmu bukan hanya perkara banyaknya, tapi amalnya.

Bisa jadi yang sedikit-sedikit namun selalu dilakukan. Bisa jadi yang niatnya pernah belok namun menyadari jalan kembali.

12.10.17

Dalam hiruk pikuknya pikiran.

[Review] Buku Kiki Barkiah

Kiki Barkiah merupakan salah satu dari sekian perempuan berlulusan tinggi yang memilih menjadi penanggung jawab amanah Allah langsung-dalam hal mendidik anak-anaknya. Mengenal nama Teh Kiki (ikutan manggil teh gitu) bermula dari Social Media yang pada saat itu ibarat sepantaran ketika saya mengenal Bukik Setiawan dengan bukunya “Anak Bukan Kertas Kosong”.Alhamdulillah membaca tulisannya yang tercetak baru Juli tahun ini. Karena memang ada satu judul baru yang di cetak Juni 2017. Sedangkan dua buku lainnya adalah kumpulan kisah pada tahun berkisar 2015.

Buku ini diterbitkan oleh Mastakka Publishing yang bertempat di Bandung dan penerbitan ini merupakan salah satu usaha yang beliau kembangkan bersama keluarga.


Salah satu potongan cerita yang ada pada buku berjudul 5 Guru Kecilku Bagian I

Wahai anakku…

Ummi teringat perkataan Imam Syafi’i yang menegaskan bahwa ilmu itu bukan yang dihafal dalam pikiran, tetapi yang bermanfaat dalam perbuatan.

Juga teringat sabda Rasulullah SAW ; yang artinya begini…

Hadist dari ‘Abdullah : Rasulullah SAW bersabda : “Tidak boleh iri kepada orang lain, kecuali dalam dua hal :

  1. Seseorang yang Allah beri harta dan ia belanjakan dengan baik
  2. Seseorang yang Allah beri hikmah (ilmu Qur’an dan Hadist) kemudian ia amalkan dan anjarkan kepada orang lain (Shahih Al – Bukhari No. 7141)

Oleh karena itu, belajar seperti inilah yang ummi harapkan dari sebuah tambahan ilmu bagi kalian dalam sekolah di rumah kita. Sebuah peningkatan kapasitas intelektual yang membuat kalian semakin mengenal kebesaran Allah sehingga dengan itu kecintaan kalian kepada Allah semakin bertambah.

Halaman 118 – 119


Semua yang dituliskan Teh Kiki ngaliiiirrr banget dari apa-apa yang dialami dalam keseharian beliau. Tutur bahasanya sabaaar sekali membuat pembaca seolah betul mengondisikan bagaimana bisa sesabar itu menghadapi anak-anak.

Karena menghadapi satu anak saja tidak bisa dijadikan acuan bagaimana cara mendidik yang baik dan sesuai. Karena seperti apapun cara yang baik, jika tidak tepat pada karakter anak juga tidak akan memberikan hasil seperti yang diamanahkan Allah. Sama seperti teh Kiki tidak bisa menyama ratakan cara pengasuhan kepada 5 anaknya.

Justru poin yang saya garis bawahi, beliau bukanlah seorang lulusan Psikologi. Namun semua kisah yang diceritakannya sungguh berhikmah mengalir benar-benar menuntun beginilah keseharian menjadi ibu, beginilah ikhtiar menumbuhkan anak-anak dan beginilah menjaga amanah dari Allah.

Kumpulan tulisan dalam tiga buku ini tidak seperti menggurui, kita sebagai pembaca layaknya dikisahkan langsung oleh penulisnya. Kisahnya berkelana namun pesan tetap sampai di hati 😊

Banyaaaak banget kisah yang pas bacanya bikin merinding.

Teh Kiki selalu menyelipkan hikmah dari kisah seeekecil sebuah kejadian, kalo dilihat kasat mata kita akan lebih mudah merasa bahwa itu hanya menguras energi dan emosi. Tapi bagi teh Kiki selalu ada berkah di tiap-tiap polah tingkah anak-anaknya. Setiap kejadian dalam keluarga bagi beliau adalah cara Allah menumbuhkan untuk menjadi lebih baik.

Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk menjadi salah satu tambahan amunisi tentang parenting. Plu-plusnya. teh Kiki menghadirkan konsep IQ, SQ dan EQ yang diramu dalam kumpulan kisah berhikmah seputar mengasuh anak.


Akhir kata, memang tidak akan pernah ada cara dan bentuk mengasuh dan mendidik anak yang sempurna. Pun tidak ada orangtua yang tidak ingin memberi yang terbaik bagi anak-anak mereka.

Menjadi orangtua tidak pernah habis dipelajari, belajarnya akan terus seumur hidup. Maka, semoga do’a-do’a kita sebagai manusia yang pernah melewati fase anak-anak (semua orang dewasa pasti pernah jadi anak-anak) tidak pernah terputus untuk mendo’akan orangtua kita.

Layaknya mereka yang tidak pernah berhenti mendidik dan mengasuh.

Allahummaghfirli waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbaayanii shogiiroo

Surabaya, 09.10.17

Yang Menerima

 

yuk belajar menerima
sumber gambar google.com

Nrimo ing pandum.

Dalam perjalanan pulang ngajar sore saya melihat tulisan ini sebagai sticker di sebuah truck.
Momen perjalanan selalu menyenangkan untuk saya merefleksi yang telah dilalui hari itu. Tiga kalimat tersebut seolah mengingatkan saya tentang banyak hal.
Kalau diartikan dalam bahasa Indonesia adalah menerima dalam pembagian. Pertanyaan selanjutnya adalah siapa yang menerima dan siapa yang memberi?

Manusia yang menerima dan Allah yang memberi. Allah yang Maha Memiliki.
Konteks kalimat ini, memang akan memberikan opsi kepada kita banyak sekali permasalahan hidup. Menerima pemberian, menerima peringatan, menerima sedih, menerima bahagia, menerima sakit, menerima sehat, menerima rejeki, menerima takdir bahkan sesederhana menerima kesempatan yang ternyata jatuhnya di kita. Padahal gak ngarepin kesempatan itu hadir. Selalu ada tujuan mengapa Allah memberikannya. Toh memang segala sesuatu yang kita “alami/miliki” saat ini adalah pemberian Allah. Maka kunci utama menjalani hidup semestinya adalah menyadari bahwa tidak ada yang kita miliki selain atas pemberian Allah. Pemberian yang diberikan oleh sebaik-baiknya pemberi.
Kadar yang Allah beri pun persis tanpa perlu susah-susah kita timbang (bandingkan) dengan milik orang lain. Porsinya sebanyak apa, jauhnya langkah sejauh apa, lamanya waktu selama apa. Semua itu hanya akan teratasi dengan lebih baik ketika dalam lubuk hati kita telah tertanam perasaan “menerima”.

Menerima bukan berarti pasrah tanpa mengusahakan apapun yang bisa kita usahakan.
Suatu ketika, saya mengajar di rumah siswa yang belum pernah saya tangani sejauh ini. Siswa ini mengalami suatu hal yang mengakibatkan dia harus kehilangan “kesadarannya” akan segala sesuatu. Diajak ngomong a, jawabnya z, ditanya ini jawabnya itu. Dlsb. Qodarullah, Allah kuatkan keluarganya dalam segi apapun, materiil maupun non materiil. Hingga kekuatan hati, kalo istilah saya.

Saya hanya terus bertanya dalam hati sepanjang perjalanan pulang. Sekuat apa orangtua dan orang-orang di sekitarnya untuk “menerima”?

Karena penerimaan atas ketetapan yang Allah beri adalah kunci untuk dapat menjalaninya. Dan ternyata ini sudah tahun ketiga keluarga tersebut menjalani. Semoga senantiasa Allah kuatkan. Sejatinya kita memang perlu dihadapkan dengan kondisi-kondisi seperti itu untuk tidak lupa bahwa ada yang perlu kita prihatinkan dan syukuri.
Meyakini bahwa semua ketetapan Allah adalah baik. Meskipun proses menerima yang kita lakukan tidak akan mudah.
Saya selalu suka mengatakannya dengan kalimat “memiliki pemahaman baik” yang itu artinya tidak jauh-jauh dengan bagaimana kita mengolah emosi, menjernihkan pola pikir, memilah tindakan, melakukan aksi dan mendapat reaksi yang akan berujung pada penerimaan setelah kita berupaya.

Mbuleeeet ae bahasanya wkwkw
Memang betul ini prakteknya syusaaaaaah sekalih. Tapi masyaAllah luar biasa rasa yang  bisa menerima dalam hati. Seperti yang saya lihat dari orangtua siswa saya , terpancar dari matanya seolah berkata “sudah diberi jatahnya begini bu, diambil hikmahnya. Segala sesuatu pasti ada hikmahnya


Semoga kita dimudahkan menjadi orang yang tidak hanya mudah sekali mengatakan “percaya pada takdir Allah” tapi juga mempercayakan pada Allah bahwa Allah sebaik-baiknya pemberi. Maka kita akan menjadi hamba Allah dengan sebaik-baiknya penerima. Semoga Allah lapangkan hati #mewek

Surabaya, 6 Oktober 2017

Tuh kan, kejedot….

124659_kidstairs_getty

 

“Tuh kan, kejedot….”

“Hehe iyaaa….”

Sambil sedikit mengaduh dan mengusap-usap kepalanya, sembari saya bantu. Seketika itu rasa bersalah saya muncul dan sejurus kemudian saya minta maaf karena telah membiarkan omongan tadi terlepas dari mulut saya.

Tapi senyum polosnya masih mengembang. Fazila, siswi kelas 1 SD yang hobinya tersenyum dan tertawa dengan nada default “hehe”. Awalnya saya sudah ingatkan dia untuk berhati-hati, karena kelas pagi ini kami belajar di loteng sekolah yang disulap menjadi creativity class. Jadi lesehan gitu ceritanya…

Nah ada satu sudut yang memang rendah, otomatis memungkinkan untuk mudah terkena kepala jika tidak hati-hati sewaktu berdiri.

Entah kenapa, saya terus teringat dengan kalimat yang saya ucapkan kepadanya…


Sebetulnya hanya perlu mengganti kalimatnya menjadi ;

“Habis kejedot ya… sakit ndak? (sambil tetap mengusap-usap kepalanya) lain kali lebih hati-hati lagi ya” 

Tapi yaaa begitulah terlanjur terucap, akhirnya dengan rasa bersalah dan terus terfikir maka saya hanya bisa minta maaf untuk memperbaiki pola pikirnya yang (semoga belum) mencatat “kok aku disalahkan….”

Maafin ibuk ya Zila…


Di sebuah artikel yang saya lupa persisnya…

Hal-hal kecil seperti ini yang sering membuat orang tua tanpa sadar membiarkan anak-anak menyimpan memori tentang betapa mudahnya menyalahkan sesuatu, orang lain atau bahkan dirinya sendiri yang sebetulnya itu adalah bentuk ketidak sengajaan.

Dan ternyata….

Ini merupakan gaya parenting yang sudah populer digunakan dikalangan sekitar. Sikap “mudah menyalahkan” ini akibatnya bisa panjaaang sekali di masa depan.

 


 

Mengapa perlu berhati-hati dalam berkata pada anak?

Efek dari sikap diatas sama seperti ketika dalam kalimat menyalahkan tersebut ditambah dengan menyalahkan benda lain. Contohnya ketika anak jatuh, maka yang disalahkan ubinnya atau segala sesuatu yang memicu si anak jatuh.

Maka dalam memorinya tersimpan bahwa mudah sekali menyalahkan sesuatu. Ia akan merasa bahwa boleh-boleh saja atau sah saja mencari kambing hitam untuk tidak bertanggung jawab atas dirinya.

Misalnya dalam sebuah contoh ;

Anak tidak sadar jika air di dalam gelas yang ia pegang, tumpah. Lantai rumah menjadi basah dan licin.

Maka orang tua pada umumnya akan bertanya “Kok bisa tumpah?”

Yang semestinya kalimat tersebut akan lebih efektif jika dirubah menjadi “Airnya tumpah ya… Yuk bantuin ibuk keringkan/bereskan”

Anyway, saya nulis ini sambil jejeritan dalam hati nemuin solusi perdebatan yang ada dalem pikiran XD

Jadi ngerasa, ya ampuuuun belajarnya masih kurang. Jadi bilang ke diri sendiri “Iya ya… kan gitu lebih baik ya. Iya ya ya ampuun…”


Sedikit solusi dari masalah diatas ;

  1. Sebetulnya hanya perlu tahan emosiiiiii wkwk yang ini syuusaaaah. Regulasi emosi. Belajar lagi lah yhaaa…
  2. Tampung pikiran positif dan fokus pada solusi
  3. Tujuannya untuk membuat anak menjadi bertanggung jawab atas dirinya, maka jangan biarkan pikiran kita terfokus dengan “alasannya, kenapa bisa begini, kenapa bisa begitu”
  4. Segera minta maaf ke anak, kalau terlanjur 😦

Dampak yang berakibat pada anak ;

  1. Anak akan mudah mencari kambing hitam atas permasalahannya
  2. Itu artinya, ia telah dibiasakan untuk tidak bertanggung jawab atas apa yang ia alami
  3. Anak akan mudah berbohong dan mencari-cari alasan atas terjadinya sesuatu
  4. Anak menjadi mudah ragu bertindak karena merasa apa yang ia lakukan akan mudah disalahkan
  5. Menjadi demotivated
  6. Menjadi mudah bingung, kecewa, marah dan seabrek sikap-sikap negatif lainnya
  7. Menjadi sosok yang mudah menyalahkan dirinya sendiri kemudian lelah terhadap jiwanya..
  8. Mudah membuat jiwanya merasa lemah dan tidak percaya diri

Curhat sore ini. Bismillah bisa lebih baik lagi. Semangat yang lagi berjuaaaangg 🙂

Surabaya, 12.09.17

Tambahan referensi :

http://www.zeth-house.com/2016/05/menyiapkan-anak-tangguh-di-era-digital.html

http://sayangianak.com/orantua-harus-berhenti-menyalahkan-hal-lain-untuk-kesalahan-anak-bahaya-itu-bagi-perkembangan-oribadinya-dalam-jangka-panjang/

 

Aku Shallow Work atau Deep Work (?)

growth-mindset
imagesource : Pinterest

Kemarin sempet nulis di status WA tentang betapa perasaan kita sekarang mudah sekali di kotak-kotakkan karena melihat hal-hal yang terlihat lewat status instagram, igstory, status wa dlsb. Notabene kebanyakan yang diperlihatkan di social media adalah hal-hal yang bagus dan wah. Kita mudah baper dan nyinyir, kita mudah sekali melihat dan membandingkan “aku udah ngapain aja ya?”.

Ya karena aktivitas kita saat ini dekat sekali dengan hal-hal tersebut.

Nah, pas waktu buka lagi buku resume di materi ini saya menemukan tulisan “Jangan mudah terjebak Shallow Work. Ayo usahakan Deep Work” yang saya tulis gede-gede disitu.

Apasih Shallow Work, Deep Work?

Shallow Work adalah aktivitas yang memperlihatkan kita seperti sibuk tapi sebetulnya tidak ada impact yang terjadi di dalam kehidupan kita. Aktivitas yang dangkal dan mudah terdistraksi dengan hal-hal yang lain.

Sedangkan Deep Work adalah aktivitas yang memerlukan fokus, ketajaman berpikir dan membawa perubahan dalam hidup. Menghasilkan kebermanfaatan yang berlanjut dan meningkatkan pemahaman akan baiknya menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Sebelum berlanjut, tulisan yang akan saya tulis disini bukan bermaksud untuk menyinggung siapapun. Bukan juga untuk dijadikan bahan rujukan atau jadi semacam “kata tulisan yang pernah ku baca….” Karena saya tidak memiliki banyak ilmu mengenainya.

Semoga bisa menjadi bahan renungan yaaa 🙂


 

Di materi kedua Matrikulasi Institut Ibu Profesional, tugas yang peserta dapat adalah membuat indikator untuk diri sendiri yang memenuhi 5 aspek yaitu SMART.

  • Specific (Unik/Detil)
  • Measurable (Terukur)
  • Achievable (Bisa diraih)
  • Realistic (Berhubungan dengan kondisi sehari-hari)
  • Timebond (memiliki batas waktu)

Setelah menyimpan amunisi pertama yaitu adab menuntut ilmu, maka dilanjutkan dengan menentukan indikator. Indikator ini bertujuan untuk memudahkan kita memulai langkah awal, mengarahkan langkah sesuai dengan apa yang kita citakan, memetakan kemampuan diri, mendisiplinkan diri, mengaktualisasikan dan meningkatkan level produktivitas diri.

Tidak lain untuk menghindari shallow work atau shallow activities.

Karena jika diamati, kehidupan kita sehari-hari saat ini rentan sekali terjebak shallow activites.

Alih-alih sibuk dan menyibukkan diri dengan aktivitas yang tengah dijalani, kita juga mudah tergelincir terjebak pada aktivitas yang tidak berarti. Semoga kita tidak terlena sehingga lupa apa tujuan serta kebermanfaatan yang sedang kita cari melalui aktivitas tersebut.

Shallow work sulit sekali untuk dihindari jika tidak betul-betul fokus. Dalam review buku milik Cal Newport, penyebab utama hilangnya kemampuan beraktivitas secara mendalam adalah karena hadirnya pemicu distraksi seperti smartphone, televisi dan alat hiburan lainnya.

Jika dengan smartphone membuat kita mudah terlihat “sibuk” namun sejatinya tidak ada yang kita dapatkan dari “kesibukan yang tampak” tersebut.

Dengan televisi atau hiburan lainnya, kita sibuk dan membiarkan candu merasuki alam bawah sadar dengan merasakan nyamannya memanjakan mata.

Maka dianjurkan untuk fokus dan berkomitmen menjauhi hal-hal yang akan mendistraksi saat sedang mengerjakan sesuatu. Karena shallow activities membuat kita terjebak pada hal-hal yang terasa ada namun sama sekali tidak memberikan perubahan yang berarti. Membuang-buang waktu serta tidak meninggalkan jejak yang bermakna.

Shallow work memberikan dampak buruk untuk progress skill dan kemampuan kita. Katakanlah, alih-alih niat beribadah kita justru menjadi lupa niatnya ketika sudah sibuk mempostingnya di sosial media.

Semoga kita dihindarkan dari hal-hal yang diam-diam menghancurkan.

Semoga kita dimudahkan memperjuangkan kebermanfaatan dan diteguhkan kembali pada niat utama.

Jadi, selama ini kita yang mana? Shallow work atau Deep Work.

 ➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Referensi Utama : Materi Pekan 2 Matrikulasi Batch #4 Institut Ibu Profesional

https://swa.co.id/swa/review/book-review/bekerja-secara-mendalam