Aku Shallow Work atau Deep Work (?)

growth-mindset
imagesource : Pinterest

Kemarin sempet nulis di status WA tentang betapa perasaan kita sekarang mudah sekali di kotak-kotakkan karena melihat hal-hal yang terlihat lewat status instagram, igstory, status wa dlsb. Notabene kebanyakan yang diperlihatkan di social media adalah hal-hal yang bagus dan wah. Kita mudah baper dan nyinyir, kita mudah sekali melihat dan membandingkan “aku udah ngapain aja ya?”.

Ya karena aktivitas kita saat ini dekat sekali dengan hal-hal tersebut.

Nah, pas waktu buka lagi buku resume di materi ini saya menemukan tulisan “Jangan mudah terjebak Shallow Work. Ayo usahakan Deep Work” yang saya tulis gede-gede disitu.

Apasih Shallow Work, Deep Work?

Shallow Work adalah aktivitas yang memperlihatkan kita seperti sibuk tapi sebetulnya tidak ada impact yang terjadi di dalam kehidupan kita. Aktivitas yang dangkal dan mudah terdistraksi dengan hal-hal yang lain.

Sedangkan Deep Work adalah aktivitas yang memerlukan fokus, ketajaman berpikir dan membawa perubahan dalam hidup. Menghasilkan kebermanfaatan yang berlanjut dan meningkatkan pemahaman akan baiknya menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Sebelum berlanjut, tulisan yang akan saya tulis disini bukan bermaksud untuk menyinggung siapapun. Bukan juga untuk dijadikan bahan rujukan atau jadi semacam “kata tulisan yang pernah ku baca….” Karena saya tidak memiliki banyak ilmu mengenainya.

Semoga bisa menjadi bahan renungan yaaa 🙂


 

Di materi kedua Matrikulasi Institut Ibu Profesional, tugas yang peserta dapat adalah membuat indikator untuk diri sendiri yang memenuhi 5 aspek yaitu SMART.

  • Specific (Unik/Detil)
  • Measurable (Terukur)
  • Achievable (Bisa diraih)
  • Realistic (Berhubungan dengan kondisi sehari-hari)
  • Timebond (memiliki batas waktu)

Setelah menyimpan amunisi pertama yaitu adab menuntut ilmu, maka dilanjutkan dengan menentukan indikator. Indikator ini bertujuan untuk memudahkan kita memulai langkah awal, mengarahkan langkah sesuai dengan apa yang kita citakan, memetakan kemampuan diri, mendisiplinkan diri, mengaktualisasikan dan meningkatkan level produktivitas diri.

Tidak lain untuk menghindari shallow work atau shallow activities.

Karena jika diamati, kehidupan kita sehari-hari saat ini rentan sekali terjebak shallow activites.

Alih-alih sibuk dan menyibukkan diri dengan aktivitas yang tengah dijalani, kita juga mudah tergelincir terjebak pada aktivitas yang tidak berarti. Semoga kita tidak terlena sehingga lupa apa tujuan serta kebermanfaatan yang sedang kita cari melalui aktivitas tersebut.

Shallow work sulit sekali untuk dihindari jika tidak betul-betul fokus. Dalam review buku milik Cal Newport, penyebab utama hilangnya kemampuan beraktivitas secara mendalam adalah karena hadirnya pemicu distraksi seperti smartphone, televisi dan alat hiburan lainnya.

Jika dengan smartphone membuat kita mudah terlihat “sibuk” namun sejatinya tidak ada yang kita dapatkan dari “kesibukan yang tampak” tersebut.

Dengan televisi atau hiburan lainnya, kita sibuk dan membiarkan candu merasuki alam bawah sadar dengan merasakan nyamannya memanjakan mata.

Maka dianjurkan untuk fokus dan berkomitmen menjauhi hal-hal yang akan mendistraksi saat sedang mengerjakan sesuatu. Karena shallow activities membuat kita terjebak pada hal-hal yang terasa ada namun sama sekali tidak memberikan perubahan yang berarti. Membuang-buang waktu serta tidak meninggalkan jejak yang bermakna.

Shallow work memberikan dampak buruk untuk progress skill dan kemampuan kita. Katakanlah, alih-alih niat beribadah kita justru menjadi lupa niatnya ketika sudah sibuk mempostingnya di sosial media.

Semoga kita dihindarkan dari hal-hal yang diam-diam menghancurkan.

Semoga kita dimudahkan memperjuangkan kebermanfaatan dan diteguhkan kembali pada niat utama.

Jadi, selama ini kita yang mana? Shallow work atau Deep Work.

 ➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Referensi Utama : Materi Pekan 2 Matrikulasi Batch #4 Institut Ibu Profesional

https://swa.co.id/swa/review/book-review/bekerja-secara-mendalam

 

Advertisements

[Resume] Kopdar MIIP Surabaya 2 Batch #4

Disampaikan oleh Dyah Kusumastuti Utari & Dian Kusumawardani (keduanya senior IIP Surabaya dan Mbak Dyah ; inisiator IIP Surabaya)

Surabaya, 27 Agustus 2017


Materi 1 mengenai Pandu 45 dan 34 Tema Bakat Anak

Alhamdulillah, finally we met :))

Dan dapat suntikan energi luar biasa, kalau di FIM energinya anak muda yang ingin membuat perubahan, kalau di IIP energinya perempuan pembangun peradaban.

Pinjem kata Mbak Dyah “Never Stop Learning, Because Living Never Stop Teaching”

Bukan hanya perempuan yang berstatus istri dan ibu saja yang wajib mempersiapkan dan terus belajar, tapi semua yang menyadari bahwa untuk dapat bertahan dalam hidup, untuk tidak tergerus dengan arus, untuk dapat memberikan manfaat, maka belajarlah. Seiring waktu saya semakin merasa bahwa ilmu yang baik adalah yang disampaikan dan diamalkan.

“sebaik-baiknya manusia, ialah yang bermanfaat bagi manusia lainnya”

Rasulullah SAW

Sebetulnya, sedikit banget yang saya tulis di buku catatan tentang materi kemarin. Tapi menulis ulang disini memaksa saya untuk merecall ingatan kemarin.

Bismillah, kalau ada salah-salah mohon dimaklumi yhaaa… dan mohon untuk tidak menjadikan acuan. Alangkah baiknya cari tambahan referensi yang lain supaya makin kaya pengetahuan 🙂


Pandu 45 adalah pembagian aktivitas bakat anak. Terbagi dua menjadi interpersonal dan individual. 

Interpersonal adalah segala bentuk/jenis aktivitas yang sifatnya berhubungan dengan orang lain. Interpersonal lebih mengarah pada bakat bidang.

Dibagi menjadi 3 bagian yaitu

  • Memposisikan diri berada di atas orang lain dalam melayani
  • Memposisikan diri sejajar dengan orang lain dalam melayani
  • Memposisikan diri berada dibawah orang lain dalam melayani.

Individual adalah segala bentuk/jenis aktivitas yang sifatnya berhubungan dengan diri sendiri. Individual lebih mengarah pada bakat sifat.

Berikut adalah rincian pandu 45 yang saya ambil dari link ini. Sambil ngintip sambil belajar wkwk *modus*. Kalau untuk yang 30 bakat, ada informasi lebih lanjut di talents mapping milik Abah Rama  di http://www.temubakat.com 🙂

A. Interpersonal Diatas Orang - Rasa1. Commanding2. Selling3. Mediating4. Sellecting5. ArrangingA. Interpersonal Diatas Orang - Rasa1. Commanding2. Selling3. Mediating4. Sellecting5. Arranging (1)A. Interpersonal Diatas Orang - Rasa1. Commanding2. Selling3. Mediating4. Sellecting5. Arranging (2)

Banyakk 😂


Dibawah ini 34 Tema Bakat

Nah kalau tema bakat, saya culik gambarnya dari link ini

Untuk arti dan penjelasan gamblangnya, insyaAllah nanti waktu materi sudah di share, akan saya share lebih lanjut.

34-bakat-elma

Note dari sesi tanya jawab :

  • Anak kecil akan memiliki banyaaak sekali minat yang akan terlihat dari kebiasaannya sehari-hari. Mungkin seiring waktu akan terus berubah-ubah, tetapi orangtua sebagai fasilitator alangkah baiknya terus memperhatikan minat anak dan mendampinginya untuk menemukan mana yang betul-betul menghasilkan “it’s me”
  • Dari sekian banyak jenis aktivitas yang dilakukan anak-anak, orangtua perlu mencatat/mengikuti dan mengembangkan terus kemampuan anak yang pada akhirnya nanti akan mengerucut dengan cara meningkatkan level sedikit demi sedikit. Hingga mendapatkan hasil, dimana kemampuan anak dapat terus dipupuk dan menemukan fitrah bakatnya. Mengembangkan kemampuan anak tidak perlu dengan biaya yang mahal. Ikuti dan tingkatkan sedikit demi sedikit level yang orang tua mampu sediakan, hingga ketika telah menemukan bakatnya maka InsyaAllah anak telah siap difasilitasi dengan pasti.
  • Pembiasaan kepada anak dilakukan sedari kecil namun untuk diajak melakukan kebiasaan yang memiliki konsekuensi, perlu dilatih untuk diajak dengan durasi waktu 90 hari dan batas usia anak diatas 7 tahun. Saya juga masih butuh pembiasaan hehe
  • Mengapa orangtua perlu menggali terus keunikan dan bakat anak? supaya anak tidak perlu menjadi yang bukan dirinya sendiri. Agar aktivitas yang anak lakukan mampu mencapai 4 E, yaitu Easy, Enjoy, Exellent dan Earn.
  • Apakah hobi sama dengan bakat? Hobi berbeda dengan bakat. Hobi adalah kegiatan yang dilakukan hanya sekedar suka. Sebetulnya dapat dilihat melalui yang dihasilkan dari kegiatan tersebut, jika bakat maka hobi tersebut nantinya akan mampu menghasilkan.
  • Beri anak punishment diatas 7 tahun, serta bedakan konsekuensi dengan punishment. 
  • Dream, share and do. Saya lupa benang merah, dari quote yang ini. Yang saya ingat adalah ketika kita mempunyai mimpi maka catatlah, sebesar apapun itu. Yakinkan diri bahwa Allah akan mempermudah langkah kita.

Jadi, sebatas itu resume yang bisa saya tulis disini, semoga Allah mudahkan saya mengemban amanah sebagai perempuan. 

Semoga Allah mudahkan para perempuan di luar sana 😊

Saya selalu percaya bahwa perempuan adalah rahim peradaban dan yang mampu memastikan lahir generasi kuat adalah dimulai dari dalam keluarga.

Terima kasih IIP, Bunda Septi Peni, Mbak Dyah (Pemateri), Mbak Dian (Pemateri), Mbak Amma (Fasil saya, terbaik mbak Amma dg segala keriweuhannya bersama Salfa 😆) dan semua anggota IIP Batch #4 Surabaya 2 😊

Mencari Ilmu ada Adabnya lho! 

muslimah.or.id

Ilmu adalah harta yang tidak akan habis dimakan waktu, ilmu adalah amal jariyah yang tidak akan pernah terputus dan ilmu adalah syarat diterimanya amal.

Tapi sebelum mencari ilmunya, taukah kita tentang adabnya?

Ternyata mencari ilmu pun butuh adab lho!

Supaya ilmu yang didapat nantinya akan terserap dengan maksimal dan kebermanfaatan ilmu yang didapat nantinya bisa terus dilanggengkan.

Sejauh melangkah dan sebesar ini diri bertumbuh, bukankah kita sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk sekolah. Yang katanya, sekolah itu dilakukan untuk mencari ilmu.

Adab mencari ilmu adalah aturan atau tata krama yang distandarkan pada diri, untuk dipatuhi dan dilaksanakan demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.

Jika mencari ilmu hanya terkotak-kotakkan pada sekolah formal, maka kita akan menganggap hanya ditempat tersebutlah kita mendapatkan ilmu tersebut. Namun berbeda jika kita memiliki sudut pandang bahwa dimanapun tempatnya kita bisa mendapatkan ilmu (hikmah), maka kita akan menghargai segala sesuatu tersebut sebagai perantara penyampai ilmu.

Bukankah ilmu yang kita dapat bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup kita? Bertujuan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan pun yang lebih jauh adalah meningkatkan kualitas keimanan kita. 

Karena ilmu yang kita miliki, semestinya kembali digunakan di jalan yang benar.

Barang siapa yang menimba ilmu, semata-mata hanya karena ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya.

Namun barang siapa menuntut ilmu karena ingin mengamalkannya, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat.

  • Adab adalah sebagai pemantik terbukanya pintu-pintu ilmu dari manapun
  • Adab adalah suatu hal yang tidak bisa diajarkan, tetapi ditularkan

    Berikut adalah adab mencari ilmu terbagi ke dalam 3 bagian ;

    ___

    Adab pada Diri Sendiri

    • Ikhlas dan bersedia membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk
    • Selalu bergegas, mengutamakan waktu
    • Menghindari sikap “merasa lebih tau”
    • Menuntaskan ilmy yang sedang dipelajari, diulang dan dituliskan. Sabar hingga pembelajaran selesai.
    • Bersungguh-sungguh menjalankan tugas

    Adab terhadap Guru Penyampai Ilmu

    • Berusaha mencari ridho guru, sepenuh hatu menaruh rasa hormat.
    • Mendekatkan diri pada Pemilik Ilmu
    • Tidak memotong pembicaraan guru, penuh perhatian terhadap ilmu dan penjelasan guru
    • Meminta ijin ketika ingin menyebarkan ilmu tersebut. Mencantumkan sumber sebagai bentuk penghormatan kita.

    Adab terhadap Sumber Ilmu

    • Tidak meletakkan sembarangan buku yang kita pelajari
    • Tidak melakukan penggandaan dan mendistribusikan secara sembarangan
    • Tidak mendukung plagiator
    • Dalam dunia online, tidak dianjurkan menuliskan copas dari grup sebelah
    • Dalam dunia online jangan mudah percaya sampai paham pada sumber ilmu yang kredibel

    ____

    Semoga dengan mengertinya kita akan tata krama dalam mencari ilmu, tujuan kita dalam mencarinya senantiasa dimudahkan dalam jalan yang baik. Karena ilmu menjadikan kita berarti saat masih hidup maupun tiada. Semangat mencari ilmu ya! 😊

    ➖➖➖

    Tulisan diatas merupakan rangkuman Materi #1 Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #4, yang saya tulis untuk catatan pribadi di buku kemudian saya tuliskan ulang disini dengan bahasa saya sendiri.

    Referensi Utama : Materi Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #4

    Semoga bermanfaat 🙂

    Surabaya, 18 Agustus 2017

    Mencari Langkah Awal untuk Memulai

    150224095954

    Bismillahirrahmanirrahiim…

    Alvin_Nice Homework #8 Program Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch 4

    Semakin kesini, semakin membutuhkan keteguhan hati untuk bersungguh-sungguh. Semakin mengerucut dan fokus dalam menentukan langkah. Kendor, ada pasti. Namun saya harus mengingat tujuan yang ingin saya capai adalah menjadi pribadi yang terus produktif dan manfaat sebagai individu (single), istri (menikah), ibu (orangtua).

    Sampai pada tugas kedelapan, dalam program IIP ini tugas yang telah dikerjakan memang membantu banyak dalam menjabarkan langkah konkrit yang sebelumnya terlalu sering hanya ada dalam pikiran.

    Menilik NHW #7, pada kuadran 1 dimana kegiatan yang saya cantumkan termasuk ke dalam kategori SUKA dan BISA adalah menulis, mengajar anak, memasak, membuat diy dan mendesain.

    Untuk menentukan langkah awal yang lebih konkrit, kali ini saya betul-betul perlu mendalami sebetulnya dimanakah saya ingin berkembang ke depannya. Karena hanya diperbolehkan memilih satu, maka saya memilih untuk kegiatan menulis.

    Meski rasa-rasanya semua ingin saya rangkap menjadi satu. Tapi, duh aku mah apa gitu 😂

    Dari sinilah, saya ingin mencari pola yang sesuai dengan kondisi keseharian. Terus produktif dan menghasilkan, namun tidak meninggalkan kewajiban. Pun ketika pola telah ditemukan yang sesuai, maka kegiatan pendukung yang lain dapat dilakukan dengan perlahan agar bisa menambah kemampuan diri.

    Dimulai dari

    BE – Kita ingin menjadi apa?

    Dalam hal ini, saya ingin menjadi ibu rumah tangga yang menulis. Meninggalkan jejak kebaikan melalui menulis. Seputar parenting, perkembangan anak-anak dan pernikahan.

    DO – Kita ingin melakukan apa?

    Hal paling dekat yang bisa saya lakukan adalah dengan cara terus menulis. Melalui pembiasaan diri terus menulis itu artinya saya akan terus berusaha memperbaharui diri. Memperbaiki pola tulisan.

    Menulis tidak pernah lepas dari membaca. Maka dengan terus menulis, itu artinya saya harus terus membaca. Memperbarui diri dengan memperkaya informasi dari sumber manapun. Setelah itu, memilahnya dengan baik. Agar tulisan yang dihasilkan bisa turut andil dalam memberikan pola pikir yang baik kepada pembaca.

    Untuk saya pribadi, menulis seperti memberikan energi pada diri sendiri, mengingatkan lalai pada diri sendiri, maka jika manfaat tersebut lebih mampu dirasa hingga banyak orang diluar sana. Maka saya ingin terus menebarkan manfaat melalui tulisan. Semoga.

    HAVE – Kita ingin memiliki apa?

    Saya ingin memiliki karya nyata dari kegiatan ini. Sebuah bentuk konkrit yang dapat dirasakan oleh orang banyak.


    Setelah perumusan BE – DO – HAVE , perlu membagi dimensi waktu menjadi sebagai berikut ;

    Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)

    Dalam kegiatan menulis, terkadang saya berfikir bagaimana jika tulisan-tulisan yang pernah saya tulis terlewatkan dan saya lalai dalam hal tersebut. Saking semakin banyak yang saya tulis, saya takut menjadi lupa dan tidak melaksanakannya. Alih-alih terus menulis agar orang lain mampu memetik hikmahnya, tapi justru saya sendiri luput dari itu. Naudzubillahimindzalik. Semoga Allah mengampuni atas semua tulisan yang pernah saya tulis. Mengingat Allah sangat membenci kaum yang mengatakan sesuatu namun tidak melaksanakannya.

    Dan yang ingin saya capai dalam kurun waktu kehidupan adalah saya ingin terus memperbaiki diri, salah satunya melalui menulis. Menulis untuk memperbaiki diri, mengupgrade ilmu, menggali ilmu dan saya ingin membuat buku. Ini merupakan satu-satunya cita-cita semasa kecil yang tidak pernah saya kubur sampai saat ini.

    Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan (strategic plan)

    Dalam kurun waktu 5 – 10 tahun ke depan, karena langkah untuk menulis telah saya tetapkan untuk saya tekuni disini. Maka, yang perlu dicapai agar tujuan awal tercapai adalah saya harus memulai dengan mengerti bagaimana cara menulis yang baik, bagaimana cara mengambil informasi yang baik, bagaimana cara membuat buku yang baik dan semua hal mengenai kepenulisan. Yang itu nantinya akan sangat mungkin jika saya menekuni dengan cara mengikuti komunitas yang dapat mengembangkan saya dalam hal tulis-menulis. Serta mengikuti workshop yang dapat menunjang dan mempertemukan saya dengan jaringan kepenulisan yang semakin luas tentunya.

    Waktu 5 – 10 tahun ke depan saya menikah dan membersamai suami mencapai mimpinya, menjadi partner terbaik suami menjalankan visi-misi rumah tangga, memiliki anak, mengasuh anak, mengajarkan anak dengan kreatifitas sebaik yang saya mampu rumuskan, dari situlah sumber tulisan saya yang ingin saya jadikan buku.

    Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun (new year resolution)

    Dalam kurun waktu satu tahun ini, hal yang ingin saya capai adalah terus mengembangkan kemampuan menulis dan terus konsisten menulis dalam hal ini di blog. Membuat grafik dan menganalisa kemajuan bentuk penulisan dan riset yang dilakukan dalam melahirkan tulisan-tulisan.

    Selain itu, saya ingin mencapai kemampuan tentang pengetahuan bagaimana mengonsep dan menghasilkan buku tercetak.

    “Mulailah dengan PERUBAHAN, karena pilihannya hanya satu BERUBAH atau KALAH”

    Quote diatas memang harusnya selalu berhasil menyadarkan diri, ketika kening mulai kendor. Karena perjalanan di tengah hutan tidak akan pernah terbuka tanpa dimulai dengan satu langkah menjejakkan kaki didalamnya. Hingga akhirnya menyadari, ternyata di tengahnya akan ditemukan sesuatu yang menakjubkan.

    sumber gambar : google.com

    Mengenali Diri Lebih Dalam

    Bismillahirrahmanirrahiim…

    Mendapat NHW#7 membuat saya ingin cepat-cepat menuntaskan, karena diawali dengan kegiatan talents mapping. Sebetulnya, ini bukan kali pertama bagi saya mengikuti tes bakat, banyak sekali jenis tes online yang pernah saya coba. Hasilnya pun, hampir semua berkaitan dan mirip-mirip. Kali ini, tes melalui situs http://www.temubakat.com dengan hasil sebagai berikut

    talents

    Dapat dilihat dari tes tersebut, kekuatan yang saya miliki ada pada :

    1. Ambassador : aktifitas yang berkaitan dengan komunikasi, membentuk jaringan, mengenali lebih dalam kepada sebuah lingkaran pertemanan. Bakat ini masuk sebagai Interpersonal Relating yang berkaitan untuk membangun hubungan baik dengan bekerja sama.
    2. Arranger : aktifitas ini berkaitan dengan pembagian tugas, termasuk ke dalam bakat Interpersonal Influencing. Kemampuan ini tepat digunakan untuk mengatur pendelegasian tugas kepada orang-orang yang dianggapnya mampu untuk mengatasi tugas tersebut.
    3. Caretaker : menaruh perhatian atau merawat orang yang memiliki masalah fisik, mental, medis atau kesejahteraan umum. Bakat ini termasuk kelompok rasa Interpersonal Serving. Terkait dengan melayani atau merawat orang.
    4. Educator : mengajar, menyampaikan, melatih ilmu dan atau ketrampilan agar bisa dipahami oleh orang lain. Bakat ini termasuk kelompok rasa Interpersona Relating. Berkaitan dengan kerjasama orang. Sifatnya selalu ingin memajukan orang lain dan senang melihat kemajuan orang. Bakat ini biasanya dibutuhkan untuk seorang guru, manager, pelatih, mentor dlsb.
    5. Strategyst : memilih atau merencanakan jalan terbaik untuk menuju tujuan. Bakat ini terkait kelompok rasa Individual Generating Idea. Berkaitan dengan otak kanan atas.

    Sementara kelemahan saya lebih banyak 1 poin, dengan total 7 poin dibandingkan dengan kekuatan.

    1. Commander : mengatur dan mengawasi orang dalam melakukan tugas dengan cara yang keras. Bakat ini termasuk ke dalam kelompok rasa Interpersonal Influencing untuk mempengaruhi orang.
    2. Communicator : aktifitas ini berkaitan dengan menyampaikan informasi secara lisan dengan cara yang mudah dimengerti. Bakat ini termasuk kelompok rasa Interpersonal Relating yang terkait dengan kerjasama. Mereka yang memiliki bakat ini senang mengkomunikasikan sesuatu yang sederhana menjadi menarik.
    3. Distributor : aktifitas seperti mengirim barang, surat, dll dalam waktu yang hampir bersamaan ke tempat atau daerah tertentu. Bakat ini termasuk ke dalam kelompok rasa Individual Striving. 
    4. Marketer : aktifitas yang dilakukan dengan memperagakan produk melalui iklan, brosur, demo dll agar orang lain tertarik untuk membeli. Bakat ini masuk pada kelompok rasa Generating Idea.
    5. Producer : aktifitas memproduksi, membangun mesin atau bangunan. Termasuk ke dalam kelompok rasa Individual Striving.
    6. Safekeeper : aktifitas menjaga keselamatan dan keamanan dari bahaya dan kejahatan. Bakat ini masuk ke dalam kelompok Individual Striving di luar ruangan.
    7. Treasury : aktifitas menata keuangan dengan sangat rapih dan tanpa kesalahan. Bakat ini masuk ke dalam kelompok Individual Cognitive.

    Strength Cluster (%) yang saya miliki adalah sebagai berikut :

    1. Generating Idea (33%) membangun ide dan mengandalkan intuitif
    2. Networking (33%) membangun  jaringan dan bekerja sama dengan orang
    3. Servicing (17%) melayani orang
    4. Headman (17%) mempengaruhi orang

    Nobody is perfect. Pun dengan saya. Setelah mengikuti tes talents mapping ini, saya lebih mengerti bagaimana kiranya saya menguatkan diri dengan potensi kekuatan yang ada. Untuk kembali menjalani aktifitas sebagai seorang single dan nantinya yang ingin terus saya pupuk serta pelajari adalah ilmu untuk membersamai anak-anak serta suami.

    Tes ini sangat berguna bagi saya untuk memetakan seperti apa nantinya, fokus saya sebagai profesi ibu rumah tangga secara penuh dan mencari pendapatan dari dalam rumah. Dengan kekuatan yang telah dijabarkan pada talents mapping diatas, saya ingin membuat perencanaan-perencanaan yang bisa saya atur untuk terus mengupayakan dan mengupgrade ilmu apa saja yang akan saya gunakan untuk menguatkan eksistensi diri.

    Dari strength typologi dapat digunakan untuk menyusun kuadran-kuadran yang membuat semakin mengenali diri, berikut kuadrannya :

    Kuadran 1 : Aktivitas yang anda SUKA dan anda BISA

    Menulis, mengajar anak, memasak, membuat sesuatu yang berbau diy dan mendesain.

    Kuadran 2 : Aktivitas yang anda SUKA tetapi anda TIDAK BISA

    Merutinkan berolahraga

    Kuadran 3 : Aktivitas yang anda TIDAK SUKA tetapi anda BISA
    Mencuci baju, menyetrika

    Kuadran 4 : Aktivitas yang anda TIDAK SUKA dan anda TIDAK BISA

    Membuat dan menyusun perencanaan keuangan.

    Mengenali diri akan selalu mempertanyakan apakah kita mampu mengenali diri untuk melihat jauh ke dalam diri. Membutuhkan sejenak waktu untuk melihat dan menemukan potensi terbaik diri dan hal positif apa yang mampu kita lakukan dari itu semua?

    Jawabannya hanya ada dengan terus berusaha untuk semakin mengenal, mengoreksi dan memperbaiki diri 🙂

    Manajer Handal Keluarga

    Bismillahirrahmanirrahiim…

    Alvin_NHW#6

    Akhirnya, kembali posting NHW ke 6. Pasca libur lebaran yang lumayan mengistirahatkan badan serta pikiran.

    Materi matrikulasi kali ini tentang Manajer Handal Keluarga. Dimana nantinya ketika menjadi seorang ibu, telah benar-benar matang memutuskan untuk bekerja di ranah publik atau domestik. Menengok kembali NHW sebelum-sebelumnya, saya telah sedikit menjabarkan bahwa saya ingin terus berkembang di ranah ilmu parenting dan desain grafis. Untuk menjawab pertanyaan pada NHW kali ini, saya telah memilah 3 aktifitas terpenting yang harus selalu saya kuatkan untuk disiplin menjalankannya serta 3 aktifitas tidak penting yang harus saya reminder pada diri sendiri untuk dirubah.

    3 aktifitas terpenting :

    • beribadah
    • belajar ilmu parenting dan desain
    • belajar ilmu untuk mengajar

    3 aktifitas tidak penting :

    • browsing yang berlebihan
    • mudah mengantuk lalu menuruti untuk tidur
    • membuang waktu untuk selain kegiatan yang telah ada pada jadwal

    Sebagai pribadi yang menyukai kegiatan dengan terjadwal, saya memang terbiasa menyusun to-do-list di pagi hari. Kemudian untuk jadwal harian, saya telah membuat sejak lama karena hal ini memudahkan aktifitas saya untuk lebih tersusun meskipun tidak menutup kemungkinan malas-malas menghampiri. Jadwal ini pasti akan mengalami perubahan seiring peran yang dijalani nantinya berubah.

    Belajar Merancang “Desain Pembelajaran Diri”

    Bismillahirrahmanirrahiim..

    Sudah pekan ke 5, pengerjaan NHW#5 saya awali dengan membuka kembali semua materi dari awal, saya pahami ulang, saya telaah kembali dan aha!

    Akhirnya menemukan apa maksud dari NHW#5 ini. Jujur sedari materi via Whatsapp disampaikan, saya hanya mampu menangkap 20% saja, sisanya meraba —

    Materi pekan ini adalah Learning How to Learn. Belajar bagaimana caranya belajar. Awalnya saya bingung yang akan menjadi user dari learn ini siapa? Saya atau anak?  Setelah faham, jadi simpulannya kira-kira seperti ini  ;

    Kita (saya) adalah fasilitator untuk anak-anak bisa mencapai potensi terbaiknya dalam hidup, maka saya harus bisa menjadi fasilitator yang baik dan tepat untuk mensukseskannya sampai pada misi kehidupan yaitu bertumbuh sesuai kehendakNya. Allah telah memberi anak-anak kemampuan belajar sejak lahir, maka orangtua lah yang menjadi fasilitator untuk mendampingnya.

    Begitu, jadi saya baru saja paham begitu maksudnya.

    Nah, pada materi ini kita sebagai manusia dewasa yang memiliki kemampuan lebih baik dalam menerima, menelaah dan memilah segala sumber informasi alangkah baiknya kita memiliki desain atau strategi untuk belajar.

    Sebelum saya susun strategi, saya melihat video Bunda Septi Peni mengenai Matrikulasi Pekan ke 5 dan yang paling saya garis bawahi adalah “Bunda akan membersamai anak-anak yang hidup di jamannya mendatang, jadi jangan sampai anak-anak mundur beberapa langkah dari jamannya. Untuk itu, kita sebagai ibu harus terus mengupdate diri dan kemampuan”

    Dari dua kalimat itu, saya sebagai generasi Y yang mulai menikmati menjadi generasi milenial yang melek teknologi hanya perlu melakukan dua hal. Klik new tab dan mengetikkan “Learning How to Learn“. Saya menemukan di urutan teratas adalah artikel pendek milik coursera.org yang disampaikan oleh Barbara Oakley. Saya mencoba mengikuti video pendeknya dan hanya sedikit yang saya tangkap dari sana, yaitu ; “As I gradually learned how to learn math and science, things became easier. Surprisingly, just as with studying language, the better I got, the more I enjoyed what I was doing.” (Barbara Oakley, 2014)

    Ternyata, Barbara Oakley adalah seorang lulusan Bahasa yang kemudian mencoba tertarik untuk belajar Matematika dan Sains yang sejak lama telah dihindarinya. Namun dirinya mengatakan tidak ada yang tidak bisa jika mau di pelajari pelan-pelan dengan baik, tidak menunda pekerjaan, bagaimana mengatur penerimaan informasti dlsb. Namun kita harus mengerti bagaimana caranya belajar dengan baik. Serta dalam video itu di sertakan bahwa manusia memiliki dua mode cara bekerja otak yaitu otak yang fokus (focused mode) dan otak yang terdifusi (Diffusion Mode). Ketika saya artikan di KBBI artinya adalah menyebar. Mungkin itu artinya manusia bisa ketika menggunakan mode difusi disitulah letaknya, otak dapat bekerja dari banyak input.

    Dan anak-anak dengan semakin canggihnya jaman, kita sebagai orangtua tentu tidak bisa jika membuat strategi belajar yang kaku. Harus terus memiliki ide untuk berinovasi.

    Saya mulai menyusun desain belajar berangkat dari video Barbara Oakley tersebut serta lebih banyak saya susun berdasarkan materi yang pernah saya dapat saat FIM yang disampaikan oleh Pak Jamil Azzaini. Ada 4 ON, Vision, Action, Passion and Collaboration.

    Berangkat dari sana, saya mencoba mencari desain pembelajaran seperti apa yang tepat. Saya sekilas menyusun seperti model RPP dan Silabus di sekolah, namun tidak berhasil membuat saya mampu menyusunnya dengan detail mengingat bentuk seperti itu akan lebih banyak menuntut tatanan belajar yang kaku. Dari akumulasi dan koreksi NHW 1 – 5 saya menghasilkan 5w + 1h dengan kondisi berikut ;

    1. Who?  Siapa saya? Saya adalah calon ibu yang akan terus belajar
    2. What? Apa yang saya lakukan? merenung – berbagi hikmah dan ilmu (melalui tulisan dan desain) – praktek (kepada suami ; ilmu pernikahan & kepada anak ; ilmu parenting)
    3. When? Kapan saya memulainya? Saya memulai sejak saya tertarik untuk membangun sebaik-baiknya keluarga dimulai dari diri sendiri sampai di akhir umur.
    4. Where? Kapan saya memulainya? Saya harus memulai dari dalam rumah dan keluarga sendiri. Jika Allah menghendaki, saya ingin membangun Sabr Foundation yang itu artinya akan berbagi kepada masyarakat luas terkait apapun yang saya miliki dan yang bisa saya manfaatkan untuk yang lain.
    5. Why? Mengapa saya ditakdirkan Allah disini? (Tujuan hidup)  Saya ditempatkan Allah SWT untuk membangun keluarga menuju apa yang Allah kehendaki.
    6. How? Bagaimana saya melakukannya? Saya melakukannya dengan belajar, bertanya, berguru, berdiskusi, membaca dan menulis.

    Akhirnya saya membuat Mind Mapping seperti gambar di bawah. Sepertinya belum final. Saat NHW#5 ini saya kumpulkan, saya masih sembari terus mencari seperti apa harusnya desain pembelajaran ini disusun dan saya masih terus mempelajari model-model desain pembelajaran yang tepat seperti apa.

    Semoga selalu istiqomah menjalaninya dan semakin semangat memperbarui diri.

    Mohon do’anya untuk saling mendo’akan dalam kebaikan 🙂