Mencari Ilmu ada Adabnya lho! 

muslimah.or.id

Ilmu adalah harta yang tidak akan habis dimakan waktu, ilmu adalah amal jariyah yang tidak akan pernah terputus dan ilmu adalah syarat diterimanya amal.

Tapi sebelum mencari ilmunya, taukah kita tentang adabnya?

Ternyata mencari ilmu pun butuh adab lho!

Supaya ilmu yang didapat nantinya akan terserap dengan maksimal dan kebermanfaatan ilmu yang didapat nantinya bisa terus dilanggengkan.

Sejauh melangkah dan sebesar ini diri bertumbuh, bukankah kita sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk sekolah. Yang katanya, sekolah itu dilakukan untuk mencari ilmu.

Adab mencari ilmu adalah aturan atau tata krama yang distandarkan pada diri, untuk dipatuhi dan dilaksanakan demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.

Jika mencari ilmu hanya terkotak-kotakkan pada sekolah formal, maka kita akan menganggap hanya ditempat tersebutlah kita mendapatkan ilmu tersebut. Namun berbeda jika kita memiliki sudut pandang bahwa dimanapun tempatnya kita bisa mendapatkan ilmu (hikmah), maka kita akan menghargai segala sesuatu tersebut sebagai perantara penyampai ilmu.

Bukankah ilmu yang kita dapat bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup kita? Bertujuan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan pun yang lebih jauh adalah meningkatkan kualitas keimanan kita. 

Karena ilmu yang kita miliki, semestinya kembali digunakan di jalan yang benar.

Barang siapa yang menimba ilmu, semata-mata hanya karena ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya.

Namun barang siapa menuntut ilmu karena ingin mengamalkannya, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat.

  • Adab adalah sebagai pemantik terbukanya pintu-pintu ilmu dari manapun
  • Adab adalah suatu hal yang tidak bisa diajarkan, tetapi ditularkan

    Berikut adalah adab mencari ilmu terbagi ke dalam 3 bagian ;

    ___

    Adab pada Diri Sendiri

    • Ikhlas dan bersedia membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk
    • Selalu bergegas, mengutamakan waktu
    • Menghindari sikap “merasa lebih tau”
    • Menuntaskan ilmy yang sedang dipelajari, diulang dan dituliskan. Sabar hingga pembelajaran selesai.
    • Bersungguh-sungguh menjalankan tugas

    Adab terhadap Guru Penyampai Ilmu

    • Berusaha mencari ridho guru, sepenuh hatu menaruh rasa hormat.
    • Mendekatkan diri pada Pemilik Ilmu
    • Tidak memotong pembicaraan guru, penuh perhatian terhadap ilmu dan penjelasan guru
    • Meminta ijin ketika ingin menyebarkan ilmu tersebut. Mencantumkan sumber sebagai bentuk penghormatan kita.

    Adab terhadap Sumber Ilmu

    • Tidak meletakkan sembarangan buku yang kita pelajari
    • Tidak melakukan penggandaan dan mendistribusikan secara sembarangan
    • Tidak mendukung plagiator
    • Dalam dunia online, tidak dianjurkan menuliskan copas dari grup sebelah
    • Dalam dunia online jangan mudah percaya sampai paham pada sumber ilmu yang kredibel

    ____

    Semoga dengan mengertinya kita akan tata krama dalam mencari ilmu, tujuan kita dalam mencarinya senantiasa dimudahkan dalam jalan yang baik. Karena ilmu menjadikan kita berarti saat masih hidup maupun tiada. Semangat mencari ilmu ya! 😊

    ➖➖➖

    Tulisan diatas merupakan rangkuman Materi #1 Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #4, yang saya tulis untuk catatan pribadi di buku kemudian saya tuliskan ulang disini dengan bahasa saya sendiri.

    Referensi Utama : Materi Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #4

    Semoga bermanfaat 🙂

    Surabaya, 18 Agustus 2017

    Mencari Langkah Awal untuk Memulai

    150224095954

    Bismillahirrahmanirrahiim…

    Alvin_Nice Homework #8 Program Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch 4

    Semakin kesini, semakin membutuhkan keteguhan hati untuk bersungguh-sungguh. Semakin mengerucut dan fokus dalam menentukan langkah. Kendor, ada pasti. Namun saya harus mengingat tujuan yang ingin saya capai adalah menjadi pribadi yang terus produktif dan manfaat sebagai individu (single), istri (menikah), ibu (orangtua).

    Sampai pada tugas kedelapan, dalam program IIP ini tugas yang telah dikerjakan memang membantu banyak dalam menjabarkan langkah konkrit yang sebelumnya terlalu sering hanya ada dalam pikiran.

    Menilik NHW #7, pada kuadran 1 dimana kegiatan yang saya cantumkan termasuk ke dalam kategori SUKA dan BISA adalah menulis, mengajar anak, memasak, membuat diy dan mendesain.

    Untuk menentukan langkah awal yang lebih konkrit, kali ini saya betul-betul perlu mendalami sebetulnya dimanakah saya ingin berkembang ke depannya. Karena hanya diperbolehkan memilih satu, maka saya memilih untuk kegiatan menulis.

    Meski rasa-rasanya semua ingin saya rangkap menjadi satu. Tapi, duh aku mah apa gitu 😂

    Dari sinilah, saya ingin mencari pola yang sesuai dengan kondisi keseharian. Terus produktif dan menghasilkan, namun tidak meninggalkan kewajiban. Pun ketika pola telah ditemukan yang sesuai, maka kegiatan pendukung yang lain dapat dilakukan dengan perlahan agar bisa menambah kemampuan diri.

    Dimulai dari

    BE – Kita ingin menjadi apa?

    Dalam hal ini, saya ingin menjadi ibu rumah tangga yang menulis. Meninggalkan jejak kebaikan melalui menulis. Seputar parenting, perkembangan anak-anak dan pernikahan.

    DO – Kita ingin melakukan apa?

    Hal paling dekat yang bisa saya lakukan adalah dengan cara terus menulis. Melalui pembiasaan diri terus menulis itu artinya saya akan terus berusaha memperbaharui diri. Memperbaiki pola tulisan.

    Menulis tidak pernah lepas dari membaca. Maka dengan terus menulis, itu artinya saya harus terus membaca. Memperbarui diri dengan memperkaya informasi dari sumber manapun. Setelah itu, memilahnya dengan baik. Agar tulisan yang dihasilkan bisa turut andil dalam memberikan pola pikir yang baik kepada pembaca.

    Untuk saya pribadi, menulis seperti memberikan energi pada diri sendiri, mengingatkan lalai pada diri sendiri, maka jika manfaat tersebut lebih mampu dirasa hingga banyak orang diluar sana. Maka saya ingin terus menebarkan manfaat melalui tulisan. Semoga.

    HAVE – Kita ingin memiliki apa?

    Saya ingin memiliki karya nyata dari kegiatan ini. Sebuah bentuk konkrit yang dapat dirasakan oleh orang banyak.


    Setelah perumusan BE – DO – HAVE , perlu membagi dimensi waktu menjadi sebagai berikut ;

    Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)

    Dalam kegiatan menulis, terkadang saya berfikir bagaimana jika tulisan-tulisan yang pernah saya tulis terlewatkan dan saya lalai dalam hal tersebut. Saking semakin banyak yang saya tulis, saya takut menjadi lupa dan tidak melaksanakannya. Alih-alih terus menulis agar orang lain mampu memetik hikmahnya, tapi justru saya sendiri luput dari itu. Naudzubillahimindzalik. Semoga Allah mengampuni atas semua tulisan yang pernah saya tulis. Mengingat Allah sangat membenci kaum yang mengatakan sesuatu namun tidak melaksanakannya.

    Dan yang ingin saya capai dalam kurun waktu kehidupan adalah saya ingin terus memperbaiki diri, salah satunya melalui menulis. Menulis untuk memperbaiki diri, mengupgrade ilmu, menggali ilmu dan saya ingin membuat buku. Ini merupakan satu-satunya cita-cita semasa kecil yang tidak pernah saya kubur sampai saat ini.

    Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan (strategic plan)

    Dalam kurun waktu 5 – 10 tahun ke depan, karena langkah untuk menulis telah saya tetapkan untuk saya tekuni disini. Maka, yang perlu dicapai agar tujuan awal tercapai adalah saya harus memulai dengan mengerti bagaimana cara menulis yang baik, bagaimana cara mengambil informasi yang baik, bagaimana cara membuat buku yang baik dan semua hal mengenai kepenulisan. Yang itu nantinya akan sangat mungkin jika saya menekuni dengan cara mengikuti komunitas yang dapat mengembangkan saya dalam hal tulis-menulis. Serta mengikuti workshop yang dapat menunjang dan mempertemukan saya dengan jaringan kepenulisan yang semakin luas tentunya.

    Waktu 5 – 10 tahun ke depan saya menikah dan membersamai suami mencapai mimpinya, menjadi partner terbaik suami menjalankan visi-misi rumah tangga, memiliki anak, mengasuh anak, mengajarkan anak dengan kreatifitas sebaik yang saya mampu rumuskan, dari situlah sumber tulisan saya yang ingin saya jadikan buku.

    Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun (new year resolution)

    Dalam kurun waktu satu tahun ini, hal yang ingin saya capai adalah terus mengembangkan kemampuan menulis dan terus konsisten menulis dalam hal ini di blog. Membuat grafik dan menganalisa kemajuan bentuk penulisan dan riset yang dilakukan dalam melahirkan tulisan-tulisan.

    Selain itu, saya ingin mencapai kemampuan tentang pengetahuan bagaimana mengonsep dan menghasilkan buku tercetak.

    “Mulailah dengan PERUBAHAN, karena pilihannya hanya satu BERUBAH atau KALAH”

    Quote diatas memang harusnya selalu berhasil menyadarkan diri, ketika kening mulai kendor. Karena perjalanan di tengah hutan tidak akan pernah terbuka tanpa dimulai dengan satu langkah menjejakkan kaki didalamnya. Hingga akhirnya menyadari, ternyata di tengahnya akan ditemukan sesuatu yang menakjubkan.

    sumber gambar : google.com

    Mengenali Diri Lebih Dalam

    Bismillahirrahmanirrahiim…

    Mendapat NHW#7 membuat saya ingin cepat-cepat menuntaskan, karena diawali dengan kegiatan talents mapping. Sebetulnya, ini bukan kali pertama bagi saya mengikuti tes bakat, banyak sekali jenis tes online yang pernah saya coba. Hasilnya pun, hampir semua berkaitan dan mirip-mirip. Kali ini, tes melalui situs http://www.temubakat.com dengan hasil sebagai berikut

    talents

    Dapat dilihat dari tes tersebut, kekuatan yang saya miliki ada pada :

    1. Ambassador : aktifitas yang berkaitan dengan komunikasi, membentuk jaringan, mengenali lebih dalam kepada sebuah lingkaran pertemanan. Bakat ini masuk sebagai Interpersonal Relating yang berkaitan untuk membangun hubungan baik dengan bekerja sama.
    2. Arranger : aktifitas ini berkaitan dengan pembagian tugas, termasuk ke dalam bakat Interpersonal Influencing. Kemampuan ini tepat digunakan untuk mengatur pendelegasian tugas kepada orang-orang yang dianggapnya mampu untuk mengatasi tugas tersebut.
    3. Caretaker : menaruh perhatian atau merawat orang yang memiliki masalah fisik, mental, medis atau kesejahteraan umum. Bakat ini termasuk kelompok rasa Interpersonal Serving. Terkait dengan melayani atau merawat orang.
    4. Educator : mengajar, menyampaikan, melatih ilmu dan atau ketrampilan agar bisa dipahami oleh orang lain. Bakat ini termasuk kelompok rasa Interpersona Relating. Berkaitan dengan kerjasama orang. Sifatnya selalu ingin memajukan orang lain dan senang melihat kemajuan orang. Bakat ini biasanya dibutuhkan untuk seorang guru, manager, pelatih, mentor dlsb.
    5. Strategyst : memilih atau merencanakan jalan terbaik untuk menuju tujuan. Bakat ini terkait kelompok rasa Individual Generating Idea. Berkaitan dengan otak kanan atas.

    Sementara kelemahan saya lebih banyak 1 poin, dengan total 7 poin dibandingkan dengan kekuatan.

    1. Commander : mengatur dan mengawasi orang dalam melakukan tugas dengan cara yang keras. Bakat ini termasuk ke dalam kelompok rasa Interpersonal Influencing untuk mempengaruhi orang.
    2. Communicator : aktifitas ini berkaitan dengan menyampaikan informasi secara lisan dengan cara yang mudah dimengerti. Bakat ini termasuk kelompok rasa Interpersonal Relating yang terkait dengan kerjasama. Mereka yang memiliki bakat ini senang mengkomunikasikan sesuatu yang sederhana menjadi menarik.
    3. Distributor : aktifitas seperti mengirim barang, surat, dll dalam waktu yang hampir bersamaan ke tempat atau daerah tertentu. Bakat ini termasuk ke dalam kelompok rasa Individual Striving. 
    4. Marketer : aktifitas yang dilakukan dengan memperagakan produk melalui iklan, brosur, demo dll agar orang lain tertarik untuk membeli. Bakat ini masuk pada kelompok rasa Generating Idea.
    5. Producer : aktifitas memproduksi, membangun mesin atau bangunan. Termasuk ke dalam kelompok rasa Individual Striving.
    6. Safekeeper : aktifitas menjaga keselamatan dan keamanan dari bahaya dan kejahatan. Bakat ini masuk ke dalam kelompok Individual Striving di luar ruangan.
    7. Treasury : aktifitas menata keuangan dengan sangat rapih dan tanpa kesalahan. Bakat ini masuk ke dalam kelompok Individual Cognitive.

    Strength Cluster (%) yang saya miliki adalah sebagai berikut :

    1. Generating Idea (33%) membangun ide dan mengandalkan intuitif
    2. Networking (33%) membangun  jaringan dan bekerja sama dengan orang
    3. Servicing (17%) melayani orang
    4. Headman (17%) mempengaruhi orang

    Nobody is perfect. Pun dengan saya. Setelah mengikuti tes talents mapping ini, saya lebih mengerti bagaimana kiranya saya menguatkan diri dengan potensi kekuatan yang ada. Untuk kembali menjalani aktifitas sebagai seorang single dan nantinya yang ingin terus saya pupuk serta pelajari adalah ilmu untuk membersamai anak-anak serta suami.

    Tes ini sangat berguna bagi saya untuk memetakan seperti apa nantinya, fokus saya sebagai profesi ibu rumah tangga secara penuh dan mencari pendapatan dari dalam rumah. Dengan kekuatan yang telah dijabarkan pada talents mapping diatas, saya ingin membuat perencanaan-perencanaan yang bisa saya atur untuk terus mengupayakan dan mengupgrade ilmu apa saja yang akan saya gunakan untuk menguatkan eksistensi diri.

    Dari strength typologi dapat digunakan untuk menyusun kuadran-kuadran yang membuat semakin mengenali diri, berikut kuadrannya :

    Kuadran 1 : Aktivitas yang anda SUKA dan anda BISA

    Menulis, mengajar anak, memasak, membuat sesuatu yang berbau diy dan mendesain.

    Kuadran 2 : Aktivitas yang anda SUKA tetapi anda TIDAK BISA

    Merutinkan berolahraga

    Kuadran 3 : Aktivitas yang anda TIDAK SUKA tetapi anda BISA
    Mencuci baju, menyetrika

    Kuadran 4 : Aktivitas yang anda TIDAK SUKA dan anda TIDAK BISA

    Membuat dan menyusun perencanaan keuangan.

    Mengenali diri akan selalu mempertanyakan apakah kita mampu mengenali diri untuk melihat jauh ke dalam diri. Membutuhkan sejenak waktu untuk melihat dan menemukan potensi terbaik diri dan hal positif apa yang mampu kita lakukan dari itu semua?

    Jawabannya hanya ada dengan terus berusaha untuk semakin mengenal, mengoreksi dan memperbaiki diri 🙂

    Manajer Handal Keluarga

    Bismillahirrahmanirrahiim…

    Alvin_NHW#6

    Akhirnya, kembali posting NHW ke 6. Pasca libur lebaran yang lumayan mengistirahatkan badan serta pikiran.

    Materi matrikulasi kali ini tentang Manajer Handal Keluarga. Dimana nantinya ketika menjadi seorang ibu, telah benar-benar matang memutuskan untuk bekerja di ranah publik atau domestik. Menengok kembali NHW sebelum-sebelumnya, saya telah sedikit menjabarkan bahwa saya ingin terus berkembang di ranah ilmu parenting dan desain grafis. Untuk menjawab pertanyaan pada NHW kali ini, saya telah memilah 3 aktifitas terpenting yang harus selalu saya kuatkan untuk disiplin menjalankannya serta 3 aktifitas tidak penting yang harus saya reminder pada diri sendiri untuk dirubah.

    3 aktifitas terpenting :

    • beribadah
    • belajar ilmu parenting dan desain
    • belajar ilmu untuk mengajar

    3 aktifitas tidak penting :

    • browsing yang berlebihan
    • mudah mengantuk lalu menuruti untuk tidur
    • membuang waktu untuk selain kegiatan yang telah ada pada jadwal

    Sebagai pribadi yang menyukai kegiatan dengan terjadwal, saya memang terbiasa menyusun to-do-list di pagi hari. Kemudian untuk jadwal harian, saya telah membuat sejak lama karena hal ini memudahkan aktifitas saya untuk lebih tersusun meskipun tidak menutup kemungkinan malas-malas menghampiri. Jadwal ini pasti akan mengalami perubahan seiring peran yang dijalani nantinya berubah. Untuk saat ini, berikut adalah jadwal harian yang saya buat dan telah saya jalani selama 3 bulan terakhir, meskipun kemungkinan belum sampai 100% saya mampu menjalankannya. Jika diakumulasi kemungkinan, dalam waktu selama 3 bulan tersebut sekitar baru 60 hariannya yang mampu saya jalankan.  30 hari sisanya masih suka tawar-menawar dengan diri sendiri dan curi-curi dispensasi.

    03.20 – 04.20 Bangun tidur, qiyamul lail, mandi, sholat shubuh
    04.20 – 06.00 Muraja’ah satu ayat dan artinya, menyetel murottal
    06.00 – 07.00 Membaca, browsing, masak, makan pagi, mandi.
    07.00 – 07.30 Sholat dhuha, siap-siap bekerja.
    07.30 – 16.00 Office time
    16.00 – 17.00 Membersihkan diri, makan sore, mengisi waktu
    17.00 – 19.00 Sholat magrib, tilawah, sholat isyak
    19.00 – 21.00 Membaca, menulis, corel time, discuss online (iip)
    21.00 – 22.00 Chatting, browsing, online, persiapan tidur
    22.00 – Tidur

    Semoga dengan menuliskannya kembali, membuat saya terus mengusahakan diri menjadi disiplin dan lebih baik lagi.

     

    Belajar Merancang “Desain Pembelajaran Diri”

    Bismillahirrahmanirrahiim..

    Sudah pekan ke 5, pengerjaan NHW#5 saya awali dengan membuka kembali semua materi dari awal, saya pahami ulang, saya telaah kembali dan aha!

    Akhirnya menemukan apa maksud dari NHW#5 ini. Jujur sedari materi via Whatsapp disampaikan, saya hanya mampu menangkap 20% saja, sisanya meraba —

    Materi pekan ini adalah Learning How to Learn. Belajar bagaimana caranya belajar. Awalnya saya bingung yang akan menjadi user dari learn ini siapa? Saya atau anak?  Setelah faham, jadi simpulannya kira-kira seperti ini  ;

    Kita (saya) adalah fasilitator untuk anak-anak bisa mencapai potensi terbaiknya dalam hidup, maka saya harus bisa menjadi fasilitator yang baik dan tepat untuk mensukseskannya sampai pada misi kehidupan yaitu bertumbuh sesuai kehendakNya. Allah telah memberi anak-anak kemampuan belajar sejak lahir, maka orangtua lah yang menjadi fasilitator untuk mendampingnya.

    Begitu, jadi saya baru saja paham begitu maksudnya.

    Nah, pada materi ini kita sebagai manusia dewasa yang memiliki kemampuan lebih baik dalam menerima, menelaah dan memilah segala sumber informasi alangkah baiknya kita memiliki desain atau strategi untuk belajar.

    Sebelum saya susun strategi, saya melihat video Bunda Septi Peni mengenai Matrikulasi Pekan ke 5 dan yang paling saya garis bawahi adalah “Bunda akan membersamai anak-anak yang hidup di jamannya mendatang, jadi jangan sampai anak-anak mundur beberapa langkah dari jamannya. Untuk itu, kita sebagai ibu harus terus mengupdate diri dan kemampuan”

    Dari dua kalimat itu, saya sebagai generasi Y yang mulai menikmati menjadi generasi milenial yang melek teknologi hanya perlu melakukan dua hal. Klik new tab dan mengetikkan “Learning How to Learn“. Saya menemukan di urutan teratas adalah artikel pendek milik coursera.org yang disampaikan oleh Barbara Oakley. Saya mencoba mengikuti video pendeknya dan hanya sedikit yang saya tangkap dari sana, yaitu ; “As I gradually learned how to learn math and science, things became easier. Surprisingly, just as with studying language, the better I got, the more I enjoyed what I was doing.” (Barbara Oakley, 2014)

    Ternyata, Barbara Oakley adalah seorang lulusan Bahasa yang kemudian mencoba tertarik untuk belajar Matematika dan Sains yang sejak lama telah dihindarinya. Namun dirinya mengatakan tidak ada yang tidak bisa jika mau di pelajari pelan-pelan dengan baik, tidak menunda pekerjaan, bagaimana mengatur penerimaan informasti dlsb. Namun kita harus mengerti bagaimana caranya belajar dengan baik. Serta dalam video itu di sertakan bahwa manusia memiliki dua mode cara bekerja otak yaitu otak yang fokus (focused mode) dan otak yang terdifusi (Diffusion Mode). Ketika saya artikan di KBBI artinya adalah menyebar. Mungkin itu artinya manusia bisa ketika menggunakan mode difusi disitulah letaknya, otak dapat bekerja dari banyak input.

    Dan anak-anak dengan semakin canggihnya jaman, kita sebagai orangtua tentu tidak bisa jika membuat strategi belajar yang kaku. Harus terus memiliki ide untuk berinovasi.

    Saya mulai menyusun desain belajar berangkat dari video Barbara Oakley tersebut serta lebih banyak saya susun berdasarkan materi yang pernah saya dapat saat FIM yang disampaikan oleh Pak Jamil Azzaini. Ada 4 ON, Vision, Action, Passion and Collaboration.

    Berangkat dari sana, saya mencoba mencari desain pembelajaran seperti apa yang tepat. Saya sekilas menyusun seperti model RPP dan Silabus di sekolah, namun tidak berhasil membuat saya mampu menyusunnya dengan detail mengingat bentuk seperti itu akan lebih banyak menuntut tatanan belajar yang kaku. Dari akumulasi dan koreksi NHW 1 – 5 saya menghasilkan 5w + 1h dengan kondisi berikut ;

    1. Who?  Siapa saya? Saya adalah calon ibu yang akan terus belajar
    2. What? Apa yang saya lakukan? merenung – berbagi hikmah dan ilmu (melalui tulisan dan desain) – praktek (kepada suami ; ilmu pernikahan & kepada anak ; ilmu parenting)
    3. When? Kapan saya memulainya? Saya memulai sejak saya tertarik untuk membangun sebaik-baiknya keluarga dimulai dari diri sendiri sampai di akhir umur.
    4. Where? Kapan saya memulainya? Saya harus memulai dari dalam rumah dan keluarga sendiri. Jika Allah menghendaki, saya ingin membangun Sabr Foundation yang itu artinya akan berbagi kepada masyarakat luas terkait apapun yang saya miliki dan yang bisa saya manfaatkan untuk yang lain.
    5. Why? Mengapa saya ditakdirkan Allah disini? (Tujuan hidup)  Saya ditempatkan Allah SWT untuk membangun keluarga menuju apa yang Allah kehendaki.
    6. How? Bagaimana saya melakukannya? Saya melakukannya dengan belajar, bertanya, berguru, berdiskusi, membaca dan menulis.

    Akhirnya saya membuat Mind Mapping seperti gambar di bawah. Sepertinya belum final. Saat NHW#5 ini saya kumpulkan, saya masih sembari terus mencari seperti apa harusnya desain pembelajaran ini disusun dan saya masih terus mempelajari model-model desain pembelajaran yang tepat seperti apa.

    Semoga selalu istiqomah menjalaninya dan semakin semangat memperbarui diri.

    Mohon do’anya untuk saling mendo’akan dalam kebaikan 🙂

    Desain Hidup

    Bismillahirrahmanirrahim

    Alvin_NHW#4

    Dalam nhw kali ini, isinya akan lebih banyak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan perenungan maksimal serta kontemplasi berhari-hari dan akhirnya berujung mendekati deadline. Saya tidak ingin, pengerjaan NHW ini hanya pemenuhan tugas semata. Semoga Allah kuatkan menjalankannya.
    a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?
    Saya kembali mendalami dan membaca ulang kalimat demi kalimat yang saya tulis dalam NHW#1 dan sampai hari ini, jurusan ilmu yang saya pilih di Universitas Kehidupan tetap bertahan pada ilmu parenting serta satu lagi fokus yang ingin saya ambil adalah mempelajari ilmu seputar pernikahan. Meskipun belum bisa melaluinya dengan praktik secara langsung, dalam proses belajar ini saya ingin terus mendalami sehingga ketika pada masanya nanti, ilmu yang saya dapat bisa saya terapkan dengan baik. Karena menghadapi anak-anak langsung realitanya memang jauh seperti ekspektasi yang dibayangkan.

    b. Mari kita lihat Nice Homework #2, sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.

    Sejujurnya, checklist yang saya buat masih sangat perlu perbaikan, sementara waktu kemarin sebelum adanya review NHW#2 saya sudah mencetaknya, namun ternyata masih banyak sekali yang perlu di revisi. Hampir 80% daftar yang saya buat di checklist pelan-pelan saya jalani. Yang paling berat bagi saya ada di poin yang berkaitan tentang rutinitas olahraga. Namun Alhamdulillah checklist yang ada membuat saya mengerti bahwa segala sesuatu harus dimulai dari yang paling sedikit terlebih dahulu, kemudian dibiasakan untuk menjadi budaya dan betul sekali checklist ini senantiasa memicu untuk semakin memantaskan diri setiap saat.

    c. Baca dan renungkan kembali Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.

    NHW #3 membuat saya merenungkan si jodoh XD
    Maka di NHW #4 ini saya mulai mengerti, memilah dan memprioritaskan apa dan bagaimana caranya saya untuk mengaktualisasikan diri menjadi bermanfaat dan produktif.
    Saya akan tetap bertahan untuk mempelajari seputar ilmu parenting. Tentunya, ini akan berjalan optimal ketika hubungan dengan pasangan berjalan dengan baik pula. Oleh karena itu, saya telah memutuskan bahwa saya ingin menjadi support system (sistem pendukung) berjalannya keluarga saya nantinya. Menjadi supporter pertama bagi suami dan menjadi fasilitator penuh untuk anak-anak.
    Saya selalu merasa senang ketika melakukan pekerjaan mendesain seputar dunia anak-anak. Dari situlah saya bercita-cita untuk merumuskan, bagaimana saya bisa bermanfaat melalui ranah yang saya senangi. Membuat buku cerita misalnya atau sekedar sounding sederhana yang berisi gambar dan nasehat-nasehat mengenai ilmu parenting yang dibuat melalui desain grafis. Dari proses membuatnya, saya mengalami proses belajar untuk diri sendiri, berusaha menerapkan kepada diri sendiri serta menularkan kepada orang lain. Jika nantinya diizinkan Allah, saya ingin memiliki sebuah yayasan yang di dalamnya dapat memberi banyak ilmu yang dapat di kembangkan dengan teknologi salah satunya desain grafis ini dengan penekanan atau fokus pada anak-anak. Mengayomi anak-anak, memberi beasiswa untuk anak-anak, memberi pembelajaran anak-anak untuk menghasilkan karya melalui bidang teknologi. Karena dalam program studi perkuliahan yang saya ambil Teknik Informatika, semoga ranah ini tetap bisa berkembang meskipun minat yang ingin betul-betul saya dalami adalah ilmu parenting dan pernikahan.

    d. Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.
    1. Bunda Sayang : Ilmu pernikahan dan ilmu parenting, melihat yang utama adalah saya ingin menjadi support system bagi suami dan anak-anak, untuk dapat mendukung berjalannya peradaban yang baik dari dalam rumah serta menghadirkan generasi kuat
    2. Bunda Cekatan : Ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri (regulasi emosi ada pada nhw #22) rumah tangga dan parenting
    3. Bunda Produktif : Ilmu-ilmu seputar minat dan bakat ; ilmu perdesainan grafis serta menularkannya ke banyak orang
    4. Bunda Shaleha : Ilmu tentang sounding seputar parenting kepada khalayak dan dapat menghasilkan serta mengajak banyak perempuan agar turut serta.

    e. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup

    contoh : Ibu tersebut menetapkan KM 0 pada usia 21 th, kemudian berkomitmen tinggi akan mencapai 10.000 (sepuluh ribu ) jam terbang di satu bidang tersebut, agar lebih mantap menjalankan misi hidup. Sejak saat itu setiap hari sang ibu mendedikasikan 8 jam waktunya untuk mencari ilmu, mempraktekkan, menuliskannya bersama dengan anak-anak. Sehingga dalam jangka waktu kurang lebih 4 tahun, sudah akan terlihat hasilnya.
    Perjalanan mengenai tertariknya saya dengan dunia parenting semenjak pertengahan perkuliahan. Saya suka sekali membaca buku-buku seputar parenting dan ilmu-ilmu psikologi. Hingga, program studi perkuliahan Teknik Informatika pun, skripsi yang saya ambil sebagai penelitian dalam dunia anak-anak. Jadi, jika bisa saya cantumkan sebagai bermulanya milestone maka rinciannya sebagai berikut :

    KM 0 – KM 16 ( 19 Tahun – 35 Tahun ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Sayang serta Bunda Cekatan
    KM 16 – KM 20 (35 Tahun – 39 Tahun ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Produktif
    KM 20 – KM ke-sekian ( 39 Tahun – sejauh usia) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Shaleha

    f. Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.

    g. Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan

    Sang Ibu di contoh yang ada pada materi IIP pekan ini merupakan perjalanan sejarah hidup Ibu Septi Peni, sehingga menghadirkan kurikulum Institut Ibu Profesional, yang program awal matrikulasinya sedang di jalankan bersama saat ini.

    Sekarang buatlah sejarah anda sendiri. Karena perjalanan ribuan mil selalu dimulai oleh langkah pertama, segera tetapkan KM 0 anda.

    Salam Ibu Profesional,

    /Tim Matrikulasi IIP/

    Membangun Peradaban

    Bismillahirrahmanirrahiim

    Alvin_NHW#3

    Tulisan ini sebagai pemenuhan NHW#3 Matrikulasi Institut Ibu Profesional

    Tarik nafas dulu….

    Materi pekan ini berjudul  Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

    Bagaimana ketika bertemu calon pasangan akan membangun pernikahan? Apa yang akan dibentuk di dalam pernikahan tersebut? Karena keluarga adalah pondasi peradaban, maka apa yang akan diperbuat oleh kedua pasangan? Dst

    Tugas dari NHW#3 pekan ini adalah membuat surat cinta untuk pasangan yang berisikan tentang potensi diri. Bagaimana perempuan akan menjadi istri yang menemukan “alasan kuat” mengapa menerima laki-laki tersebut untuk menjadi pendampingnya (kelak), menjadi ayah dari anak-anak yang akan lahir dari rahim peradaban miliknya.

    Membuat surat ini ternyata bukan hal yang mudah, saya harus memutar otak sembari membayangkan sosok “ini” nantinya ketika membersamai saya.

    Namun sebelum membuat surat ini, kami para peserta diminta untuk menengok kembali masa lalu. Masa dimana pertumbuhan sedari kecil yang pada akhirnya membentuk menjadi sosok seperti sekarang ini. Adakah luka pengasuhan semasa kecil yang akan menjadi kerikil dalam perjalanan kedepan. Sudahkah berdamai dengannya dan kembali mengondisikan diri untuk memperbaiki apa yang telah menjadi luka. Serta melihat potensi diri, potensi apa yang bisa terus digali untuk membersamai pasangan kelak.

    Dengan berat hati, surat cinta tidak bisa saya sertakan disini. Surat ini bersifat privasi.

    Kelak ketika sosoknya telah membersamai saya setiap harinya, surat cinta yang saya susun tersebut pasti akan terasa lebih hidup dan lebih riil. Karena reaksinya akan saya dapatkan langsung ketika menghadapinya dalam keseharian dan semoga dengan surat cinta ini nantinya akan menumbuhkan kembali kasih sayang diantara kami. Mengapa kami bisa disatukan tidak lain karena yang Maha Menggerakkan Hati telah menjaga hati kami dan menautkannya.

    Apapun yang ada di hadapan kami (saya dan pasangan nantinya) semoga rasa syukurlah yang senantiasa kami ingatkan satu sama lain. Saya ingat betul, nasehat ibu bahwa “Menerima jodoh adalah sesederhana mensyukuri segala sesuatu yang dia miliki. Karena manusia tidak ada yang sempurna” Sesederhana itu, namun ibu menambahkan lagi “Tetapi prakteknya sulit sekali nduk, maka luaskan hati untuk banyak menerima dan merasa ikhlas”.

    Heuuuu, baru nulis segini saya sudah mbrebes mili.

    Setiap keluarga pasti memiliki pola asuh yang berbeda. Serta tidak semua keluarga dihadirkan dengan kebersamaan yang indah. Ada beberapa yang memiliki ujian dalam perjalanannya, entah luka entah diabaikan entah bagian mana dari pembentukan peradaban dari dalam keluarga tersebut rapuh.

    Saat menulis dan beberapa hari kebelakang saya merenungi perihal ini, saya kembali jatuh dalam luka lama pengasuhan orang tua yang ketika saya sadari, membuat saya memiliki beberapa sifat yang sebaiknya dirubah. Apalagi jangan sampai terbawa ketika mengasuh anak-anak saya nantinya. Tentu dengan ini, saya kembali meresapi bahwa orang tua tidak pernah berniat buruk kepada anak-anaknya. Namun kekeliruan  dalam penyampaian ini yang perlu diperbaiki untuk tujuan yang lebih baik nantinya.

    Materi pekan ini berhasil membuat saya kecewa, sedih, terluka namun bahagia dalam satu waktu. Bisakah saya hadir disini jika tanpa hadirnya orang tua? Merasakan segala kebermanfaatan ini? Tidak. Maka disitulah letak kedamaian yang semestinya terus saya tumbuhkan, apa yang telah lalu biarkan putus sampai disini, mengilhami yang baik dan kembali meneruskan dengan yang lebih baik lagi.

    Selanjutnya adalah merenungi, apa tujuan Allah menghadirkan saya di keluarga saya nantinya. Potensi diri apa yang mampu saya hadirkan untuk membentuk peradaban tersebut?

    Sejauh saya mengenali diri, saya adalah tipe perencana. Membuat mapping segala sesuatu yang akan dijalankan dengan detil dan breakdown terlebih dahulu. Membuatnya menjadi daftar progress yang dapat dipantau pelaksanaannya. Serta suka melakukan hal-hal yang tersusun dan teroganisir dengan baik. Semoga sifat ini berguna untuk mendukung perjalanan rumah tangga saya nantinya. Saya pun orang yang senang mengemukakan suatu hal dengan cara berdiskusi personal atau menggunakan media serta saya adalah orang yang cenderung teoritis, mengambil hikmah dari mengamati, membaca, menuliskan atau mendengarkan. Bukan dengan bertemu banyak orang, berdiskusi dalam forum tatap muka. Allah pasti punya maksud menghadirkan saya di dalam keluarga tersebut nantinya.

    Berhusnudzhan pada semua kehendak Allah memang cara terbaik untuk memaknai hidup. Semoga dimudahkan untuk terus husnudzhan dan memperbaiki diri.