(MIIP#5) Meninggikan Gunung

mendaki-3

Ketika saya membuka lagi folder matrikulasi IIP di laptop dan membacanya ulang. Ternyata materi ini adalah materi dimana para peserta dimulai untuk membuat grand design bagaimana menyuplai kebutuhan belajar untuk diri sendiri.

Continue reading “(MIIP#5) Meninggikan Gunung”

Advertisements

(MIIP #4) Mendidik Diri untuk Mendidik Generasi

6a2fdc90f37f8f6c50a481209b499c2d

Bismillaah..

Kembali dengan mereview ulang alias diri sendiri juga belajar lagi. Berikut adalah materi ke-4 matrikulasi dan materi-materi ini saya dapatkan ketika saya masih single alias belum menikah wkwkw (ini ndak penting sih yaa)

Disini letak i’m so grateful inside this circle. Dalam IIP, tidak membedakan status single, menikah, single parents, working mom atau bukan.

Continue reading “(MIIP #4) Mendidik Diri untuk Mendidik Generasi”

(MIIP #3) Bagaimana Caranya Membangun Peradaban dari Rumah?

vintage barn wall

Melanjutkan materi yang saya dapat saat program Matrikulasi IIP. Lama bangettt baru dilanjutin XD. Ndak apa ya, semoga masih bisa diambil saripati hikmahnya.

Materi ke-3 matrikulasi bertajuk “Membangun Peradaban dari dalam Rumah”

“Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya.” – Institut Ibu Profesional

Membaca tagline diatas membuat saya teringat akan satu nasehat pernikahan yang saya dapat selepas ijab qabul dilaksanakan ;

Menikah itu yang penting ibadahnya, apalagi ibadah shalat. Shalat ketika masih sendiri akan terasa lebih ringan berangkatnya, menujunya, mengawali waktunya, menyegerakannya. Meskipun ganjaran yang didapat harus diusahakan (dengan mengikuti jama’ah) untuk melipat gandakan pahalanya.

Beda ketika sudah menikah, ada imam dan ada makmum. Dimanapun tempatnya asalkan shalat bersama dan berjama’ah in sya Allah pahalanya sudah dilipat gandakan Allah. Tapi apakah semudah itu? Tentu syaitan akan menggodanya lebih berkali-kali lipat dibanding ketika masih sendirian.

Jangankan shalat, syaitan akan menggoda anak manusia yang ada dalam ikatan pernikahan ketika mereka akan melakukan ibadah jenis apapun, sekalipun itu bukan dalam bentuk ibadah agama.

Maka di dalam pernikahan, sumber utama membangun sebuah kebaikan terletak dari dalam keluarganya.

Ngawi, 11.12.17

Kembali ke materi IIP ;

Dari paragraf terakhir nasehat tersebut, saya menggaris bawahi poros utama terbentuknya generasi penerus yang berdaya, sehat paripurna dan bermanfaat bagi agama adalah bersumber dari dalam rumah. Dari peradaban yang dibangun di dalam keluarganya.

Maka tugas utama kita sebagai pembangun peradaban adalah mendidik generasi penerus sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.
Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “misi spesifiknya”, tugas kita memahami kehendakNya.

Duluuuu banget, ketika saya belum banyak mengikuti kelas parenting dan hanya suka-suka baca kulitnya saat kuliah, saya belum begitu mengerti. Apa maksudnya fitrah sudah Allah berikan sejak anak-anak baru dilahirkan (?)

Setelah saya mengerti maksudnya, ternyata adalah semua anak terlahir sudah dibekali dengan “tujuan diciptakannya”. Orang tua adalah fasilitator, orang tua bertugas untuk memfasilitasi, membukakan jalannya, mendampingin tumbuh berkembang bukan untuk memaksakan kehendak akan menjadi seperti apa yang sesuai dengan orang dewasa kehendaki.

Tapi-tapi saya terima materi ini saat masih belum berkeluarga XD, jadi bagaimana membangun peradaban dari dalam rumah yang (rumahnya itu masih ada dalam angan-angan eaa).

Dari materi yang saya dapatkan, untuk tahap pra-nikah, kita bisa memulainya dari :

  1. Melihat ke dalam diri kita sendiri
  2. Kemudian bertanya dan menanyakan beberapa poin ini ;
    • Bagaimana proses anda dididik oleh orangtua
      Anda dulu?
    • Adakah yang membuat Anda bahagia?
    • Adakah yang membuat Anda “sakit
      hati/dendam’ sampai sekarang?
    • Apabila ada, sanggupkah Anda memaafkan
      kesalahan masa lalu orang tua Anda, dan kembali
      mencintai, menghormati beliau dengan tulus?
    • Kalau empat pertanyaan itu sudah terjawab
      dengan baik, maka melajulah ke jenjang
      pernikahan. Tanyakan ke calon pasangan Anda ke empat hal
      tersebut, minta dia segera menyelesaikannya. Karena,

ORANG YANG BELUM SELESAI DENGAN MASA LALUNYA , AKAN MENYISAKAN BANYAK LUKA KETIKA MENDIDIK ANAKNYA KELAK – Institut Ibu Profesional

Ketika sudah menikah, poin-poin yang perlu dilakukan adalah

  1. Menemukan potensi unik diri dan suami
  2. Renungkan dan coba ingat-ingat mengapa dulu kamu memilih dia?
  3. Apa yang membuatmu jatuh cinta padanya?
  4. Lalu, lihat dirimu, apa keunikan positif yang kamu miliki?
  5. Mengapa Allah menciptakanmu di muka bumi ini sampai berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suamimu?
  6. Apa pesan rahasia Allah terhadap dirimu di muka bumi ini?
  7. Selanjutnya, lihat anak-anakmu, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahimmu yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersamamu? Mengapa kamu yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Apa misi spesifik Allah kepada keluargamu sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?
  8. yang terakhir, lihat lingkungan dimana kamu hidup saat ini. Mengapa bisa bertahan hidup dengan kondisi alam demikian? Mengapa Allah menempatkan keluargamu disini? Mengapa keluargamu didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekelilingmu saat ini?

Berikut materi ke – 3 yang saya dapat dari matrikulasi. Menulis ini ternyata menumbuhkan kembali ingatan saya dan semangat untuk berkontemplasi kembali terus belajar dan bersyukur atas setiap tahapan kehidupan yang sudah Allah berikan sampai saat ini.

Semangat bertumbuh! 🙂

Surabaya, 24.01.18


Untuk membaca seputar IIP, serta materi #1 dan #2 ada disini

[Resume] Kopdar MIIP Surabaya 2 Batch #4

Disampaikan oleh Dyah Kusumastuti Utari & Dian Kusumawardani (keduanya senior IIP Surabaya dan Mbak Dyah ; inisiator IIP Surabaya)

Surabaya, 27 Agustus 2017


Materi 1 mengenai Pandu 45 dan 34 Tema Bakat Anak

Alhamdulillah, finally we met :))

Dan dapat suntikan energi luar biasa, kalau di FIM energinya anak muda yang ingin membuat perubahan, kalau di IIP energinya perempuan pembangun peradaban.

Pinjem kata Mbak Dyah “Never Stop Learning, Because Living Never Stop Teaching”

Bukan hanya perempuan yang berstatus istri dan ibu saja yang wajib mempersiapkan dan terus belajar, tapi semua yang menyadari bahwa untuk dapat bertahan dalam hidup, untuk tidak tergerus dengan arus, untuk dapat memberikan manfaat, maka belajarlah. Seiring waktu saya semakin merasa bahwa ilmu yang baik adalah yang disampaikan dan diamalkan.

“sebaik-baiknya manusia, ialah yang bermanfaat bagi manusia lainnya”

Rasulullah SAW

Sebetulnya, sedikit banget yang saya tulis di buku catatan tentang materi kemarin. Tapi menulis ulang disini memaksa saya untuk merecall ingatan kemarin.

Bismillah, kalau ada salah-salah mohon dimaklumi yhaaa… dan mohon untuk tidak menjadikan acuan. Alangkah baiknya cari tambahan referensi yang lain supaya makin kaya pengetahuan 🙂


Pandu 45 adalah pembagian aktivitas bakat anak. Terbagi dua menjadi interpersonal dan individual. 

Interpersonal adalah segala bentuk/jenis aktivitas yang sifatnya berhubungan dengan orang lain. Interpersonal lebih mengarah pada bakat bidang.

Dibagi menjadi 3 bagian yaitu

  • Memposisikan diri berada di atas orang lain dalam melayani
  • Memposisikan diri sejajar dengan orang lain dalam melayani
  • Memposisikan diri berada dibawah orang lain dalam melayani.

Individual adalah segala bentuk/jenis aktivitas yang sifatnya berhubungan dengan diri sendiri. Individual lebih mengarah pada bakat sifat.

Berikut adalah rincian pandu 45 yang saya ambil dari link ini. Sambil ngintip sambil belajar wkwk *modus*. Kalau untuk yang 30 bakat, ada informasi lebih lanjut di talents mapping milik Abah Rama  di http://www.temubakat.com 🙂

A. Interpersonal Diatas Orang - Rasa1. Commanding2. Selling3. Mediating4. Sellecting5. ArrangingA. Interpersonal Diatas Orang - Rasa1. Commanding2. Selling3. Mediating4. Sellecting5. Arranging (1)A. Interpersonal Diatas Orang - Rasa1. Commanding2. Selling3. Mediating4. Sellecting5. Arranging (2)

Banyakk 😂


Dibawah ini 34 Tema Bakat

Nah kalau tema bakat, saya culik gambarnya dari link ini

Untuk arti dan penjelasan gamblangnya, insyaAllah nanti waktu materi sudah di share, akan saya share lebih lanjut.

34-bakat-elma

Note dari sesi tanya jawab :

  • Anak kecil akan memiliki banyaaak sekali minat yang akan terlihat dari kebiasaannya sehari-hari. Mungkin seiring waktu akan terus berubah-ubah, tetapi orangtua sebagai fasilitator alangkah baiknya terus memperhatikan minat anak dan mendampinginya untuk menemukan mana yang betul-betul menghasilkan “it’s me”
  • Dari sekian banyak jenis aktivitas yang dilakukan anak-anak, orangtua perlu mencatat/mengikuti dan mengembangkan terus kemampuan anak yang pada akhirnya nanti akan mengerucut dengan cara meningkatkan level sedikit demi sedikit. Hingga mendapatkan hasil, dimana kemampuan anak dapat terus dipupuk dan menemukan fitrah bakatnya. Mengembangkan kemampuan anak tidak perlu dengan biaya yang mahal. Ikuti dan tingkatkan sedikit demi sedikit level yang orang tua mampu sediakan, hingga ketika telah menemukan bakatnya maka InsyaAllah anak telah siap difasilitasi dengan pasti.
  • Pembiasaan kepada anak dilakukan sedari kecil namun untuk diajak melakukan kebiasaan yang memiliki konsekuensi, perlu dilatih untuk diajak dengan durasi waktu 90 hari dan batas usia anak diatas 7 tahun. Saya juga masih butuh pembiasaan hehe
  • Mengapa orangtua perlu menggali terus keunikan dan bakat anak? supaya anak tidak perlu menjadi yang bukan dirinya sendiri. Agar aktivitas yang anak lakukan mampu mencapai 4 E, yaitu Easy, Enjoy, Exellent dan Earn.
  • Apakah hobi sama dengan bakat? Hobi berbeda dengan bakat. Hobi adalah kegiatan yang dilakukan hanya sekedar suka. Sebetulnya dapat dilihat melalui yang dihasilkan dari kegiatan tersebut, jika bakat maka hobi tersebut nantinya akan mampu menghasilkan.
  • Beri anak punishment diatas 7 tahun, serta bedakan konsekuensi dengan punishment. 
  • Dream, share and do. Saya lupa benang merah, dari quote yang ini. Yang saya ingat adalah ketika kita mempunyai mimpi maka catatlah, sebesar apapun itu. Yakinkan diri bahwa Allah akan mempermudah langkah kita.

Jadi, sebatas itu resume yang bisa saya tulis disini, semoga Allah mudahkan saya mengemban amanah sebagai perempuan. 

Semoga Allah mudahkan para perempuan di luar sana 😊

Saya selalu percaya bahwa perempuan adalah rahim peradaban dan yang mampu memastikan lahir generasi kuat adalah dimulai dari dalam keluarga.

Terima kasih IIP, Bunda Septi Peni, Mbak Dyah (Pemateri), Mbak Dian (Pemateri), Mbak Amma (Fasil saya, terbaik mbak Amma dg segala keriweuhannya bersama Salfa 😆) dan semua anggota IIP Batch #4 Surabaya 2 😊

(MIIP #1) Mencari Ilmu ada Adabnya lho! 

muslimah.or.id

Ilmu adalah harta yang tidak akan habis dimakan waktu, ilmu adalah amal jariyah yang tidak akan pernah terputus dan ilmu adalah syarat diterimanya amal.

Tapi sebelum mencari ilmunya, taukah kita tentang adabnya?

Ternyata mencari ilmu pun butuh adab lho!

Supaya ilmu yang didapat nantinya akan terserap dengan maksimal dan kebermanfaatan ilmu yang didapat nantinya bisa terus dilanggengkan.

Sejauh melangkah dan sebesar ini diri bertumbuh, bukankah kita sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk sekolah. Yang katanya, sekolah itu dilakukan untuk mencari ilmu.

Adab mencari ilmu adalah aturan atau tata krama yang distandarkan pada diri, untuk dipatuhi dan dilaksanakan demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.

Jika mencari ilmu hanya terkotak-kotakkan pada sekolah formal, maka kita akan menganggap hanya ditempat tersebutlah kita mendapatkan ilmu tersebut. Namun berbeda jika kita memiliki sudut pandang bahwa dimanapun tempatnya kita bisa mendapatkan ilmu (hikmah), maka kita akan menghargai segala sesuatu tersebut sebagai perantara penyampai ilmu.

Bukankah ilmu yang kita dapat bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup kita? Bertujuan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan pun yang lebih jauh adalah meningkatkan kualitas keimanan kita. 

Karena ilmu yang kita miliki, semestinya kembali digunakan di jalan yang benar.

Barang siapa yang menimba ilmu, semata-mata hanya karena ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya.

Namun barang siapa menuntut ilmu karena ingin mengamalkannya, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat.

  • Adab adalah sebagai pemantik terbukanya pintu-pintu ilmu dari manapun
  • Adab adalah suatu hal yang tidak bisa diajarkan, tetapi ditularkan

Berikut adalah adab mencari ilmu terbagi ke dalam 3 bagian ;

___

Adab pada Diri Sendiri

  • Ikhlas dan bersedia membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk
  • Selalu bergegas, mengutamakan waktu
  • Menghindari sikap “merasa lebih tau”
  • Menuntaskan ilmy yang sedang dipelajari, diulang dan dituliskan. Sabar hingga pembelajaran selesai.
  • Bersungguh-sungguh menjalankan tugas

Adab terhadap Guru Penyampai Ilmu

  • Berusaha mencari ridho guru, sepenuh hatu menaruh rasa hormat.
  • Mendekatkan diri pada Pemilik Ilmu
  • Tidak memotong pembicaraan guru, penuh perhatian terhadap ilmu dan penjelasan guru
  • Meminta ijin ketika ingin menyebarkan ilmu tersebut. Mencantumkan sumber sebagai bentuk penghormatan kita.

Adab terhadap Sumber Ilmu

  • Tidak meletakkan sembarangan buku yang kita pelajari
  • Tidak melakukan penggandaan dan mendistribusikan secara sembarangan
  • Tidak mendukung plagiator
  • Dalam dunia online, tidak dianjurkan menuliskan copas dari grup sebelah
  • Dalam dunia online jangan mudah percaya sampai paham pada sumber ilmu yang kredibel

____

Semoga dengan mengertinya kita akan tata krama dalam mencari ilmu, tujuan kita dalam mencarinya senantiasa dimudahkan dalam jalan yang baik. Karena ilmu menjadikan kita berarti saat masih hidup maupun tiada. Semangat mencari ilmu ya! 😊

➖➖➖

Tulisan diatas merupakan rangkuman Materi #1 Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #4, yang saya tulis untuk catatan pribadi di buku kemudian saya tuliskan ulang disini dengan bahasa saya sendiri.

Referensi Utama : Materi Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #4

Semoga bermanfaat 🙂

Surabaya, 18 Agustus 2017