Belajar Merancang “Desain Pembelajaran Diri”

Bismillahirrahmanirrahiim..

Sudah pekan ke 5, pengerjaan NHW#5 saya awali dengan membuka kembali semua materi dari awal, saya pahami ulang, saya telaah kembali dan aha!

Akhirnya menemukan apa maksud dari NHW#5 ini. Jujur sedari materi via Whatsapp disampaikan, saya hanya mampu menangkap 20% saja, sisanya meraba —

Materi pekan ini adalah Learning How to Learn. Belajar bagaimana caranya belajar. Awalnya saya bingung yang akan menjadi user dari learn ini siapa? Saya atau anak?  Setelah faham, jadi simpulannya kira-kira seperti ini  ;

Kita (saya) adalah fasilitator untuk anak-anak bisa mencapai potensi terbaiknya dalam hidup, maka saya harus bisa menjadi fasilitator yang baik dan tepat untuk mensukseskannya sampai pada misi kehidupan yaitu bertumbuh sesuai kehendakNya. Allah telah memberi anak-anak kemampuan belajar sejak lahir, maka orangtua lah yang menjadi fasilitator untuk mendampingnya.

Begitu, jadi saya baru saja paham begitu maksudnya.

Nah, pada materi ini kita sebagai manusia dewasa yang memiliki kemampuan lebih baik dalam menerima, menelaah dan memilah segala sumber informasi alangkah baiknya kita memiliki desain atau strategi untuk belajar.

Sebelum saya susun strategi, saya melihat video Bunda Septi Peni mengenai Matrikulasi Pekan ke 5 dan yang paling saya garis bawahi adalah “Bunda akan membersamai anak-anak yang hidup di jamannya mendatang, jadi jangan sampai anak-anak mundur beberapa langkah dari jamannya. Untuk itu, kita sebagai ibu harus terus mengupdate diri dan kemampuan”

Dari dua kalimat itu, saya sebagai generasi Y yang mulai menikmati menjadi generasi milenial yang melek teknologi hanya perlu melakukan dua hal. Klik new tab dan mengetikkan “Learning How to Learn“. Saya menemukan di urutan teratas adalah artikel pendek milik coursera.org yang disampaikan oleh Barbara Oakley. Saya mencoba mengikuti video pendeknya dan hanya sedikit yang saya tangkap dari sana, yaitu ; “As I gradually learned how to learn math and science, things became easier. Surprisingly, just as with studying language, the better I got, the more I enjoyed what I was doing.” (Barbara Oakley, 2014)

Ternyata, Barbara Oakley adalah seorang lulusan Bahasa yang kemudian mencoba tertarik untuk belajar Matematika dan Sains yang sejak lama telah dihindarinya. Namun dirinya mengatakan tidak ada yang tidak bisa jika mau di pelajari pelan-pelan dengan baik, tidak menunda pekerjaan, bagaimana mengatur penerimaan informasti dlsb. Namun kita harus mengerti bagaimana caranya belajar dengan baik. Serta dalam video itu di sertakan bahwa manusia memiliki dua mode cara bekerja otak yaitu otak yang fokus (focused mode) dan otak yang terdifusi (Diffusion Mode). Ketika saya artikan di KBBI artinya adalah menyebar. Mungkin itu artinya manusia bisa ketika menggunakan mode difusi disitulah letaknya, otak dapat bekerja dari banyak input.

Dan anak-anak dengan semakin canggihnya jaman, kita sebagai orangtua tentu tidak bisa jika membuat strategi belajar yang kaku. Harus terus memiliki ide untuk berinovasi.

Saya mulai menyusun desain belajar berangkat dari video Barbara Oakley tersebut serta lebih banyak saya susun berdasarkan materi yang pernah saya dapat saat FIM yang disampaikan oleh Pak Jamil Azzaini. Ada 4 ON, Vision, Action, Passion and Collaboration.

Berangkat dari sana, saya mencoba mencari desain pembelajaran seperti apa yang tepat. Saya sekilas menyusun seperti model RPP dan Silabus di sekolah, namun tidak berhasil membuat saya mampu menyusunnya dengan detail mengingat bentuk seperti itu akan lebih banyak menuntut tatanan belajar yang kaku. Dari akumulasi dan koreksi NHW 1 – 5 saya menghasilkan 5w + 1h dengan kondisi berikut ;

  1. Who?  Siapa saya? Saya adalah calon ibu yang akan terus belajar
  2. What? Apa yang saya lakukan? merenung – berbagi hikmah dan ilmu (melalui tulisan dan desain) – praktek (kepada suami ; ilmu pernikahan & kepada anak ; ilmu parenting)
  3. When? Kapan saya memulainya? Saya memulai sejak saya tertarik untuk membangun sebaik-baiknya keluarga dimulai dari diri sendiri sampai di akhir umur.
  4. Where? Kapan saya memulainya? Saya harus memulai dari dalam rumah dan keluarga sendiri. Jika Allah menghendaki, saya ingin membangun Sabr Foundation yang itu artinya akan berbagi kepada masyarakat luas terkait apapun yang saya miliki dan yang bisa saya manfaatkan untuk yang lain.
  5. Why? Mengapa saya ditakdirkan Allah disini? (Tujuan hidup)  Saya ditempatkan Allah SWT untuk membangun keluarga menuju apa yang Allah kehendaki.
  6. How? Bagaimana saya melakukannya? Saya melakukannya dengan belajar, bertanya, berguru, berdiskusi, membaca dan menulis.

Akhirnya saya membuat Mind Mapping seperti gambar di bawah. Sepertinya belum final. Saat NHW#5 ini saya kumpulkan, saya masih sembari terus mencari seperti apa harusnya desain pembelajaran ini disusun dan saya masih terus mempelajari model-model desain pembelajaran yang tepat seperti apa.

Semoga selalu istiqomah menjalaninya dan semakin semangat memperbarui diri.

Mohon do’anya untuk saling mendo’akan dalam kebaikan 🙂

Desain Hidup

Bismillahirrahmanirrahim

Alvin_NHW#4

Dalam nhw kali ini, isinya akan lebih banyak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan perenungan maksimal serta kontemplasi berhari-hari dan akhirnya berujung mendekati deadline. Saya tidak ingin, pengerjaan NHW ini hanya pemenuhan tugas semata. Semoga Allah kuatkan menjalankannya.
a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?
Saya kembali mendalami dan membaca ulang kalimat demi kalimat yang saya tulis dalam NHW#1 dan sampai hari ini, jurusan ilmu yang saya pilih di Universitas Kehidupan tetap bertahan pada ilmu parenting serta satu lagi fokus yang ingin saya ambil adalah mempelajari ilmu seputar pernikahan. Meskipun belum bisa melaluinya dengan praktik secara langsung, dalam proses belajar ini saya ingin terus mendalami sehingga ketika pada masanya nanti, ilmu yang saya dapat bisa saya terapkan dengan baik. Karena menghadapi anak-anak langsung realitanya memang jauh seperti ekspektasi yang dibayangkan.

b. Mari kita lihat Nice Homework #2, sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.

Sejujurnya, checklist yang saya buat masih sangat perlu perbaikan, sementara waktu kemarin sebelum adanya review NHW#2 saya sudah mencetaknya, namun ternyata masih banyak sekali yang perlu di revisi. Hampir 80% daftar yang saya buat di checklist pelan-pelan saya jalani. Yang paling berat bagi saya ada di poin yang berkaitan tentang rutinitas olahraga. Namun Alhamdulillah checklist yang ada membuat saya mengerti bahwa segala sesuatu harus dimulai dari yang paling sedikit terlebih dahulu, kemudian dibiasakan untuk menjadi budaya dan betul sekali checklist ini senantiasa memicu untuk semakin memantaskan diri setiap saat.

c. Baca dan renungkan kembali Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.

NHW #3 membuat saya merenungkan si jodoh XD
Maka di NHW #4 ini saya mulai mengerti, memilah dan memprioritaskan apa dan bagaimana caranya saya untuk mengaktualisasikan diri menjadi bermanfaat dan produktif.
Saya akan tetap bertahan untuk mempelajari seputar ilmu parenting. Tentunya, ini akan berjalan optimal ketika hubungan dengan pasangan berjalan dengan baik pula. Oleh karena itu, saya telah memutuskan bahwa saya ingin menjadi support system (sistem pendukung) berjalannya keluarga saya nantinya. Menjadi supporter pertama bagi suami dan menjadi fasilitator penuh untuk anak-anak.
Saya selalu merasa senang ketika melakukan pekerjaan mendesain seputar dunia anak-anak. Dari situlah saya bercita-cita untuk merumuskan, bagaimana saya bisa bermanfaat melalui ranah yang saya senangi. Membuat buku cerita misalnya atau sekedar sounding sederhana yang berisi gambar dan nasehat-nasehat mengenai ilmu parenting yang dibuat melalui desain grafis. Dari proses membuatnya, saya mengalami proses belajar untuk diri sendiri, berusaha menerapkan kepada diri sendiri serta menularkan kepada orang lain. Jika nantinya diizinkan Allah, saya ingin memiliki sebuah yayasan yang di dalamnya dapat memberi banyak ilmu yang dapat di kembangkan dengan teknologi salah satunya desain grafis ini dengan penekanan atau fokus pada anak-anak. Mengayomi anak-anak, memberi beasiswa untuk anak-anak, memberi pembelajaran anak-anak untuk menghasilkan karya melalui bidang teknologi. Karena dalam program studi perkuliahan yang saya ambil Teknik Informatika, semoga ranah ini tetap bisa berkembang meskipun minat yang ingin betul-betul saya dalami adalah ilmu parenting dan pernikahan.

d. Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.
1. Bunda Sayang : Ilmu pernikahan dan ilmu parenting, melihat yang utama adalah saya ingin menjadi support system bagi suami dan anak-anak, untuk dapat mendukung berjalannya peradaban yang baik dari dalam rumah serta menghadirkan generasi kuat
2. Bunda Cekatan : Ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri (regulasi emosi ada pada nhw #22) rumah tangga dan parenting
3. Bunda Produktif : Ilmu-ilmu seputar minat dan bakat ; ilmu perdesainan grafis serta menularkannya ke banyak orang
4. Bunda Shaleha : Ilmu tentang sounding seputar parenting kepada khalayak dan dapat menghasilkan serta mengajak banyak perempuan agar turut serta.

e. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup

contoh : Ibu tersebut menetapkan KM 0 pada usia 21 th, kemudian berkomitmen tinggi akan mencapai 10.000 (sepuluh ribu ) jam terbang di satu bidang tersebut, agar lebih mantap menjalankan misi hidup. Sejak saat itu setiap hari sang ibu mendedikasikan 8 jam waktunya untuk mencari ilmu, mempraktekkan, menuliskannya bersama dengan anak-anak. Sehingga dalam jangka waktu kurang lebih 4 tahun, sudah akan terlihat hasilnya.
Perjalanan mengenai tertariknya saya dengan dunia parenting semenjak pertengahan perkuliahan. Saya suka sekali membaca buku-buku seputar parenting dan ilmu-ilmu psikologi. Hingga, program studi perkuliahan Teknik Informatika pun, skripsi yang saya ambil sebagai penelitian dalam dunia anak-anak. Jadi, jika bisa saya cantumkan sebagai bermulanya milestone maka rinciannya sebagai berikut :

KM 0 – KM 16 ( 19 Tahun – 35 Tahun ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Sayang serta Bunda Cekatan
KM 16 – KM 20 (35 Tahun – 39 Tahun ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Produktif
KM 20 – KM ke-sekian ( 39 Tahun – sejauh usia) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Shaleha

f. Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.

g. Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan

Sang Ibu di contoh yang ada pada materi IIP pekan ini merupakan perjalanan sejarah hidup Ibu Septi Peni, sehingga menghadirkan kurikulum Institut Ibu Profesional, yang program awal matrikulasinya sedang di jalankan bersama saat ini.

Sekarang buatlah sejarah anda sendiri. Karena perjalanan ribuan mil selalu dimulai oleh langkah pertama, segera tetapkan KM 0 anda.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/

Membangun Peradaban

Bismillahirrahmanirrahiim

Alvin_NHW#3

Tulisan ini sebagai pemenuhan NHW#3 Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Tarik nafas dulu….

Materi pekan ini berjudul  Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Bagaimana ketika bertemu calon pasangan akan membangun pernikahan? Apa yang akan dibentuk di dalam pernikahan tersebut? Karena keluarga adalah pondasi peradaban, maka apa yang akan diperbuat oleh kedua pasangan? Dst

Tugas dari NHW#3 pekan ini adalah membuat surat cinta untuk pasangan yang berisikan tentang potensi diri. Bagaimana perempuan akan menjadi istri yang menemukan “alasan kuat” mengapa menerima laki-laki tersebut untuk menjadi pendampingnya (kelak), menjadi ayah dari anak-anak yang akan lahir dari rahim peradaban miliknya.

Membuat surat ini ternyata bukan hal yang mudah, saya harus memutar otak sembari membayangkan sosok “ini” nantinya ketika membersamai saya.

Namun sebelum membuat surat ini, kami para peserta diminta untuk menengok kembali masa lalu. Masa dimana pertumbuhan sedari kecil yang pada akhirnya membentuk menjadi sosok seperti sekarang ini. Adakah luka pengasuhan semasa kecil yang akan menjadi kerikil dalam perjalanan kedepan. Sudahkah berdamai dengannya dan kembali mengondisikan diri untuk memperbaiki apa yang telah menjadi luka. Serta melihat potensi diri, potensi apa yang bisa terus digali untuk membersamai pasangan kelak.

Dengan berat hati, surat cinta tidak bisa saya sertakan disini. Surat ini bersifat privasi.

Kelak ketika sosoknya telah membersamai saya setiap harinya, surat cinta yang saya susun tersebut pasti akan terasa lebih hidup dan lebih riil. Karena reaksinya akan saya dapatkan langsung ketika menghadapinya dalam keseharian dan semoga dengan surat cinta ini nantinya akan menumbuhkan kembali kasih sayang diantara kami. Mengapa kami bisa disatukan tidak lain karena yang Maha Menggerakkan Hati telah menjaga hati kami dan menautkannya.

Apapun yang ada di hadapan kami (saya dan pasangan nantinya) semoga rasa syukurlah yang senantiasa kami ingatkan satu sama lain. Saya ingat betul, nasehat ibu bahwa “Menerima jodoh adalah sesederhana mensyukuri segala sesuatu yang dia miliki. Karena manusia tidak ada yang sempurna” Sesederhana itu, namun ibu menambahkan lagi “Tetapi prakteknya sulit sekali nduk, maka luaskan hati untuk banyak menerima dan merasa ikhlas”.

Heuuuu, baru nulis segini saya sudah mbrebes mili.

Setiap keluarga pasti memiliki pola asuh yang berbeda. Serta tidak semua keluarga dihadirkan dengan kebersamaan yang indah. Ada beberapa yang memiliki ujian dalam perjalanannya, entah luka entah diabaikan entah bagian mana dari pembentukan peradaban dari dalam keluarga tersebut rapuh.

Saat menulis dan beberapa hari kebelakang saya merenungi perihal ini, saya kembali jatuh dalam luka lama pengasuhan orang tua yang ketika saya sadari, membuat saya memiliki beberapa sifat yang sebaiknya dirubah. Apalagi jangan sampai terbawa ketika mengasuh anak-anak saya nantinya. Tentu dengan ini, saya kembali meresapi bahwa orang tua tidak pernah berniat buruk kepada anak-anaknya. Namun kekeliruan  dalam penyampaian ini yang perlu diperbaiki untuk tujuan yang lebih baik nantinya.

Materi pekan ini berhasil membuat saya kecewa, sedih, terluka namun bahagia dalam satu waktu. Bisakah saya hadir disini jika tanpa hadirnya orang tua? Merasakan segala kebermanfaatan ini? Tidak. Maka disitulah letak kedamaian yang semestinya terus saya tumbuhkan, apa yang telah lalu biarkan putus sampai disini, mengilhami yang baik dan kembali meneruskan dengan yang lebih baik lagi.

Selanjutnya adalah merenungi, apa tujuan Allah menghadirkan saya di keluarga saya nantinya. Potensi diri apa yang mampu saya hadirkan untuk membentuk peradaban tersebut?

Sejauh saya mengenali diri, saya adalah tipe perencana. Membuat mapping segala sesuatu yang akan dijalankan dengan detil dan breakdown terlebih dahulu. Membuatnya menjadi daftar progress yang dapat dipantau pelaksanaannya. Serta suka melakukan hal-hal yang tersusun dan teroganisir dengan baik. Semoga sifat ini berguna untuk mendukung perjalanan rumah tangga saya nantinya. Saya pun orang yang senang mengemukakan suatu hal dengan cara berdiskusi personal atau menggunakan media serta saya adalah orang yang cenderung teoritis, mengambil hikmah dari mengamati, membaca, menuliskan atau mendengarkan. Bukan dengan bertemu banyak orang, berdiskusi dalam forum tatap muka. Allah pasti punya maksud menghadirkan saya di dalam keluarga tersebut nantinya.

Berhusnudzhan pada semua kehendak Allah memang cara terbaik untuk memaknai hidup. Semoga dimudahkan untuk terus husnudzhan dan memperbaiki diri.

Indikator Profesional Perempuan

Bismillahirrahmanirrahiim

Alvin_NHW#2 —

Ditulis sebagai pemenuhan Nice Homework #2 dari Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch 4.

Semakin kemari, semakin sulit. Tapi insyaaAllah, Allah kuatkan. Memasuki materi kedua, ketika mulai membacanya saya melepaskan nafas panjang. Betapa belum apa-apa ilmu yang telah saya pelajari kemarin-kemarin. Buku-buku yang saya baca kemarin, diskusi-diskusi online yang saya ikuti. Namun belajar tetaplah harus terus berjalan, tanpa boleh terhalang kendala apapun.
Semakin kemari, semakin sayang ibuk terutama. Karena jika bukan karena kekuatan beliau membentuk saya siang malam, pantang mundur, saya tidak pernah akan menjadi seperti ini dan bapak, entah seberapa banyaknya beliau mendukung ibuk, dulu maupun kini. Do’a-do’a beliaulah yang mengantarkan saya sebesar ini.

Kembali ke NHW#2. Tugas kali ini, membuat saya merenungi kembali dan mengevaluasi. Menimbang-nimbang untuk tidak obsesif berlebihan, namun tidak serta-merta menyerah pada pencapaian sedikit saja. Atau sedikit namun sungguh-sungguh berhasil dijalankan. Tugas NHW#2 adalah membuat indikator profesionalisme perempuan sebagai individu ; istri dan ibu dengan kunci SMART.

• Specific (Unik/Detil)
• Measurable (Terukur)
• Achievable (Bisa diraih)
• Realistic (Berhubungan dengan kondisi sehari-hari)
• Timebond (memiliki batas waktu)

Indikator sebagai individu :

1. Upgrade keilmuan

  • Mengikuti (menekuni) diskusi online maupun offline yang fokus pada satu permasalahan (contohnya : dalam waktu ± 3 bulan mengikuti diskusi seputar parenting)
  • Mencatat & menulis ulang ilmu-ilmu yang ditekuni (selama ini saya membuat jadwal harian dalam 1 minggu menulis di buku/ms.word 1 kali)
  • Mereview ulang catatan tsb kepada 1 orang yang dipercaya (setelah menuliskannya, masih dalam rentang 1 minggu)
  • Menghabiskan 1 buku bacaan dalam waktu 1 bulan

2. Meluangkan hobi dan mendisiplinkan waktu agar produktif

  • Menggunakan waktu senggang & luang untuk melakukan hal produktif (seperti membaca buku)
  • Mendisiplinkan diri dengan jadwal harian yang sudah dibuat
  • Menghasilkan minimal 1 desain dengan konten “dakwah” dalam waktu 1 bulan
  • Menghasilkan minimal 1 tulisan di blog dalam waktu 1 bulan
  • Menekuni belajar menjahit dalam waktu kurang lebih 3 bulan dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat
  • Mengurangi pekerjaan multitasking ; sebisa mungkin pekerjaan dikerjakan dengan fokus satu persatu agar maksimal

3. Memperbaiki amalan harian

  • Menyetel murottal setiap hari
  • Menghidupkan sunnah-sunnah mulai yang terkecil (penggunaan anggota tubuh kanan, duduk ketika minum dlsb)
  • Mengingat-mencatat sebelum tidur, sunnah apa yang terlewat dalam waktu 1 hari ini
  • Mengevaluasi sebelum tidur kesalahan apa yang diperbuat 1 hari ini
  • Qiyamul lail setiap hari
  • Puasa sunnah senin – kamis diluar udzur
  • Tilawah 2 lembar dalam 1 hari beserta artinya
  • Menghafal 1 ayat dalam 1 hari beserta artinya

4. Meregulasi emosi

  • Memperbanyak istighfar
  • Duduk dan diam ketika mulai tersulut emosi
  • Memperbanyak positif thinking
  • Menepi ketika menyadari dalam kondisi yang kurang kondusif

Indikator sebagai istri :

Karena belum menikah, maka semua indikator dibawah yang akan saya tulis seperti diibaratkan dengan kalimat, ketika saya menjadi istri saya ingin ;
Dan dari sekian banyak indikator yang akan tertulis, semoga nantinya dapat di diskusikan dengan suami mana yang baik menjadi prioritas dan mana yang perlu perbaikan untuk di terapkan.

1. Menjadi istri yang baik

  • Melaksanakan indikator meregulasi emosi
  • Melaksanakan indikator memperbaiki amalan harian
  • Tidak meninggikan suara dihadapan suami
  • Taat terhadap perintah suami
  • Tidak membantah argumen suami, mendengarkan lalu berpendapat sesabar mungkin
  • Menghadirkan wajah senyum dan menyenangkan dihadapan suami
  • Berdandan yang menarik hati suami
  • Menjaga aurat ketika diluar rumah sesuai panduan Al Qur’an dan Sunnah
  • Mendahulukan kebutuhan suami
  • Meluangkan waktu dan materi untuk orang tua
  • Tidak konsumtif
  • Memasak masakan kesukaan suami

2. Menjadi istri pintar

  • Melaksanakan indikator upgrade keilmuan
  • Mengikuti kajian bersama suami
  • Melaksanakan indicator meluangkan hobi dan mendisiplinkan waktu agar produktif”
  • Mendukung bisnis suami
  • Turut membantu mengembangkan bisnis suami sesuai dengan yang mampu dikerjakan
  • Memberikan kepercayaan kepada suami dan tidak mendesaknya

3. Menjadi istri amanah

  • Menyambut suami pulang kerja dan menyiapkan rumah dalam keadaan bersih serta nyaman
  • Membantu memperhatikan terkait instalasi di rumah (misalnya seperti lampu mati, kabel putus, genteng bocor dlsb)
  • Transparansi terhadap suami terkait keuangan
  • Tidak keluar rumah tanpa seizin suami
  • Meminta izin suami jika ada kerabat, teman atau saudara yang akan berkunjung ke rumah

Indikator sebagai ibu :
Karena istri saja belum, jadi judulnya tetap sama XD. Ketika saya menjadi ibu, saya ingin; Untuk indikator ibu yang akan saya susun, kiranya dalam rentang waktu masa pertumbuhan anak-anak (semasa dalam kandungan sampai anak berumur kurang lebih 15tahun setelah itu indikator akan terus berubah dinamis sesuai masanya)

1. Upgrade ilmu keibuan

  • Melaksanakan indikator upgrade keilmuan
  • Melaksanakan indikator meregulasi emosi
  • Selalu berusaha melaksanakan indikator memperbaiki amalan harian
  • Mempelajari cara home treatment agar dapat menangani anak ketika sakit untuk kali pertama
  • Melapangkan hati untuk menyamarkan “inner child” dalam diri agar tidak terbawa ketika mendidik anak

2. Upgrade keilmuan pendidikan anak

  • Melaksanakan indikator “upgrade keilmuan”
  • Melaksanakan indikator “meregulasi emosi”
  • Bekerja sama dengan suami dalam mendidik anak
  • Membacakan dongeng pada anak dan membacakan buku untuknya
  • Mengevaluasi kesalahan dan kebaikan yang anak lakukan dalam 1 hari menjelang tidur

3. Menjadi tim solid bersama anak

  • Melaksanakan indikator upgrade keilmuan
  • Melaksanakan indikator meregulasi emosi
  • Selalu berusaha melaksanakan indikator memperbaiki amalan harian
  • Menggunakan kalimat positif untuk interaksi bersama anak
  • Mengenalkan regulasi emosi dan diri sejak dini
  • Menjelaskan alasan mengenai larangan yang diberikan
  • Meningkatkan intensitas memeluk dan mengusap kepala anak
  • Mengurangi emosi ketika anak mengintervensi kegiatan orang tua
  • Memberikan pengertian ketika kegiatan orang tua sedang tidak dapat ditinggal, jika masih bisa dilakukan nanti maka lebih baik mendahulukan permintaan anak
  • Melapangkan hati ketika anak memenuhi keingin tahuannya dengan cara mengeksplorasi diri, rumah dan lingkungan namun tetap dalam pengawasan
  • Membiarkan anak berinteraksi dengan sebaya, diatas umurnya dan dibawah umurnya minimal 1 – 2 hari dalam seminggu
  • Mengajarkan anak untuk mengenal alam dan hewan dengan cara menanam atau memelihara hewan peliharaan

4. Screen Time

  • Melaksanakan indikator “upgrade keilmuan”
  • Melaksanakan indikator “meregulasi emosi”
  • Selalu berusaha melaksanakan indikator memperbaiki amalan harian
  • Berusaha tidak memakai gadget ketika bersama anak
  • Membatasi “screen time” untuk anak kecuali saat tertentu (misalnya ; 1 jam dalam seminggu)

Untuk indikator dengan checklist akan saya buat pribadi sebagai pengukur diri. Sesungguhnya semua indikator yang telah saya tulis belum apa-apa karena banyak darinya yang dapat saya realisasikan pada masanya nanti dan semua indikator tersebut adalah indikator pencapaian yang bersifat personal.

Semua tulisan yang dituliskan selalu sebagai pengingat diri. Saling mendo’akan ya supaya bisa menjadi lebih baik dari kemarin, sedangkan umur terus berkurang.

Semoga istiqomah dalam menjalankan setiap indikatornya agar target yang telah disusun dapat menantarkan kita menumbuhkan generasi-generasi kuat, bukan meninggalkan generasi yang lemah. Aamiiin..

Bahan Evaluasi Belajar Universitas Kehidupan

Bismillahirrahmanirrahiim Alvin_NHW#1 —

Tulisan ini adalah sebagai pemenuhan Nice Homework (NHW#1) Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional (MIIP) Batch 4

Saya mengetahui Institut Ibu Profesional dari Bunda Septi Peni yang pernah menjadi pembicara di Forum Indonesia Muda dan Alhamdulillah saya berkesempatan untuk berbincang langsung dengan beliau terkait IIP ini.

Hari Senin yang lalu, dalam diskusi online perdana telah didapat materi mengenai Adab Menuntut Ilmu.

Dengan adanya materi tersebut, saya kembali mengevaluasi apakah selama ini dalam menuntut ilmu sudah dapat dikategorikan “beradab”. Sedangkan adab merupakan langkah utama yang perlu diperhatikan ketika ingin mendapatkan ilmu sebagaimana ilmu tersebut tidak hanya ingin didapat namun juga ingin di amalkan.

Kembali ke topik NHW#1, ada 4 pertanyaan yang perlu saya renungi untuk menjawab dan jawaban tersebut harus menjadi bahan evaluasi saya untuk istiqomah belajar serta menjalani Matrikulasi IIP ini.

Pertanyaan yang pertama adalah jurusan ilmu apa yang akan saya tekuni di universitas kehidupan ini. Telah lama sekali saya ingin mempelajari dan terjun ke dalam ilmu parenting. Namun dukungan penuh belum saya dapatkan ketika saya memasuki jenjang perkuliahan dulu. Tetapi belajar bagi saya tidak hanya dari pendidikan formal. Saya tetap menyukai literature dan buku-buku seputar parenting, terjun langsung menghadapi anak-anak hingga saya memutuskan untuk serius mengambil penelitian skripsi di lingkungan anak ADHD, mengikuti kelas-kelas online dan diskusi seputar parenting. Selepas dari dunia perkuliahan yang tidak terlaksana untuk mengambil jurusan psikologi, saya mencoba untuk mempelajari lagi. Namun setelah saya renungi lebih jauh, pertama yang ingin sekali saya lakukan untuk mendukung optimalisasi ilmu parenting tersebut adalah belajar meregulasi emosi.

Pertanyaan kedua ketiga adalah apa alasan terkuat saya untuk mempelajari ilmu tersebut serta strategi apa yang akan saya gunakan.
Emosi adalah salah satu elemen yang terdapat dalam diri manusia. Mengingat emosi adalah sistem pendukung yang harus berjalan baik agar elemen lainnya berjalan dengan baik pula. Dengan regulasi emosi yang baik, saya pikir ilmu parenting yang akan saya pelajari menjadi lebih bermakna, karena segala sesuatu yang dimulai dari hati akan dihasilkan melalui hati. Begitupun dengan ilmu parenting. Ilmu ini akan sangat berguna untuk membentuk pribadi anak-anak yang pertumbuhannya optimal dalam kondisi jaman milenial seperti saat ini. Dimana tantangan orang tua akan bertambah seiring semakin canggihnya jaman.

Melalui ilmu parenting ini, saya bercita-cita ingin membentuk anak-anak yang utama adalah akidah dan ilmu dalam mengenal Allah sebagai penciptanya. Menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah dan pendidikan yang membuatnya menjadi generasi kuat akhlak serta kemampuannya untuk urusan dunia dan akhirat.Strategi yang menurut saya perlu ditegakkan demi tercapainya pembelajaran dalam jurusan ilmu ini adalah

  1. Membuka selebar-lebarnya penerimaan informasi yang didapat dari manapun tanpa mengurangi ketelitian untuk memfilter mana yang baik di terapkan dan mana yang perlu untuk diperbaiki.
  2. Melapangkan pemahaman bahwa segala sesuatunya yang ditemui mampu ditelaah hikmahnya untuk dipelajari, sehingga saya bisa belajar dari pengalaman manapun milik siapapun.
  3. Tegas dalam memberi ketetapan pada diri untuk istiqomah dan bersungguh-sungguh belajar, mengingat outut yang dihasilkan adalah untuk membentuk peradaban seumur hidup bahkan untuk anak-dan-keturunannya.
  4. Menuntaskan jurusan ilmu yang di pelajari sehingga ilmu yang didapat tidak setengah-setengah

Pertanyaan terakhir adalah terkait adab menuntut ilmu, sikap perubahan apa saja yang saya perbaiki setelah belajar mengenai Adab Menuntut Ilmu dalam pertemuan pertama kemarin. Saya sangat menggaris bawahi untuk tidak sembarangan menyebarkan apapun yang tidak bersumber dan meningkatkan husnudzon pada hal apapun yang kita temui dalam kehidupan. Karena setelah saya evaluasi kembali, saya masih sulit dalam meregulasi emosi ketika sampai pada fase yang terlalu letih, capek, dlsb sehingga mengakumulasi pikiran negatif yang dapat mempengaruhi banyak hal.

Semua tulisan ini adalah sebagai bentuk saya untuk mengingatkan diri saya sendiri. Jika ada pembaca yang turut membaca tulisan ini, semoga pemahaman baiklah yang menyertainya.

Surabaya, 17 Mei 2017