Membeli Buku untuk Anak

Beberapa waktu yang lalu pernah ada sebuah kasus mencuat dan sempat menggegerkan dunia pendidikan sebab adanya buku untuk anak namun pada beberapa kontennya ada yang mengandung unsur “saru“. Tidak layak dibaca anak-anak. Apalagi digunakan untuk penunjang pendidikan.

Hal seperti ini bisa saja lepas dari pengamatan orangtua, jika sang orangtua sudah abai. Apalagi memiliki anggapan bahwa “cukuplah sekolah yang mendidik anak-anakku”. Maka para orangtua biasanya memang akan sibuk dengan kegiatannya sendiri bermodalkan percaya bahwa apa yang ada di lingkungan sekolah atau instansi pendidikan adalah sudah tempat mendidik yang paling baik.
Tanpa harus ikut campur tangan, serta merta mengawasi proses belajar ananda.

Nah, bagi saya pribadi, “membeli buku anak = mengerti dengan tepat value buku (isi cerita), gambar-gambar yang ditampilkan (bisa dengan mencari review), fitur buku (rounded alias ujung tumpul, flip-flap untuk melatih kemampuan motor halus, dlsb).

Memutuskan memberikan pengenalan Husna pada buku itu artinya saya selaku orangtua haruslah mengerti terlebih dahulu isi buku tersebut.
Apakah kontennya (cerita, kalimat, gambar) yang ada memang layak untuk diberikan pada Husna. Pun dapat disesuaikan dengan usianya.
Men-skrining isi buku adalah bagian penting yang perlu dilakukan oleh para orangtua agar kita tepat sasaran dalam memberikan value pada anak-anak.

Tentunya sesuai dengan prinsip yang sudah ada didalam lingkup keluarga.

Mengerti dan memahami terlebih dahulu jalan cerita juga bagian penting dari memilihkan buku anak. Terlebih khususnya untuk anak usia 0 – 1 tahun. Mereka belum mengerti apa fungsi buku. Sebagai orangtua kita baru bisa menyampaikan isi-isi cerita dengan sederhana, membaca dengan nyaring, membacakannya dengan cara mendongeng, menunjukkan gambar-gambar yang ada dan lain sebagainya. Dengan niat anak-anak dapat mencintai buku sejak dini. Meskipun mereka belum tentu menangkap apa yang dikisahkan dalam buku tersebut.

Dalam beberapa buku anak terbitan Rabbit Hole diakhir diceritakan orangtua sangat menyayangi anak-anaknya.
Poin-poin cerita seperti inilah yang saya suka dalam sebuah buku. Sejak kecil, anak dibiasakan mendengarkan tentang rasa cinta dan kasih sayang. Diperlihatkan bentuk dan wujud kasih sayang tersebut, yang disampaikan melalui buku.

Karena anak-anak adalah peniru yang cerdas. Sejak lahir mereka telah dikaruniai Allah kecerdasan dalam kepekaan terhadap orang-orang terdekatnya. Contohnya pada saat bayi mengalami fase growth spurt atau percepatan pertumbuhan. Ia akan lebih sering ingin menempel pada sang ibu. Yang ia ketahui adalah sumber kehidupannya. Hatinya merasa aman dan nyaman dekat dengan sang ibu. Sang ayah akan menemani prosesnya. Membersamai dengan kesabaran dan menghadirkan senyuman. Si bayi melihat itu semua sebagai dunianya. Ia merasa tak perlu khawatir atas apapun.

Para bayi ini telah dikaruniai Allah sejak lahir mengenai rasa cinta. Melalui fitrah keimanannya. Bayi merasakan aman dan nyaman terhadap orangtuanya sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan.

β€’β€’β€’

Dalam bukunya Fitrah Based Education, Ust. Harry Santosa menuliskan “Betapa penting membangun imaji positif anak-anak terhadap orangtuanya, terhadap alamnya, lingkungannya, agamanya sejak dini. Karena imaji buruk anak tentang perbuatan orangtuanya, akan menyebabkan luka persepsi. Dan setiap luka persepsi akan melahirkan pensikapan yang buruk terhadap kehidupan anak kita kelak saat mereka dewasa”

Karena berawal dari rasa cinta yang terus terpupuk dalam hati seorang anak, ia akan tumbuh dewasa menjadi pribadi yang penyayang. Dasar perilakunya adalah rasa cinta dan kasih sayang. Maka ketika mereka menjadi orangtua, mereka akan melanjutkan estafet rasa cinta tersebut hingga berulang. Terus seperti itu. Dimulai dari anak-anak kita dan diri kita sendiri.

Jadi, kesimpulannya. Memilihkan buku untuk anak-anak sangatlah berpengaruh terhadap pembiasaan baik dalam kehidupan mereka. Ketika konten baik ang ada dalam buku tersebut konsisten disampaikan berulang-ulang.

Salam,

Semoga ada manfaatnya πŸ˜„

Advertisements

Mencintai Keputusan Mengasihi : Penutup

Sedikit ringkasan dari blog referensi yang menulis tentang ASI.

Menyusui adalah anugerah yang telah Allah berikan dan telah Allah jelaskan manfaatnya dalam Al Qur’an.

β€œPara ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Al-Baqarah [2]: 233)

Betapa semua ini kembali hanya pada Allah yang jamin, Allah yang sediakan, Allah yang mampukan.

Bahkan ketika keadaan sangat darurat, seperti yang dialami Ibunda Nabi Musa A.S yang sedang dikejar tentara fir’aun yang akan membunuh semua bayi laki-laki, Allah menganjurkan untuk tetap memberikan ASI (Q.S. Al-Qashash : 7).

Dan Allah memelihara bounding antara nabi Musa dan ibunya, dengan mencegah Nabi Musa menyusu kepada orang lain. Sehingga Nabi Musa tetap disusui ibunya, walaupun dalam pengawasan Fir’aun (Q.S.Al-Qhashas : 12).

Kapan seorang wanita bisa lalai menyusui anaknya? Ketika kiamat. Sebuah gambaran tentang kuatnya ikatan menyusui seorang anak kepada bayinya yang hanya bisa diputuskan oleh keguncangan yang maha dashyat di hari kiamat. (Q.S Al-Hajj : 1-2).

Hendaklah diniatkan untuk ibadah

Amru bin Abdullah pernah berkata kepada isteri yang menyusui bayinya, β€œJanganlah engkau menyusui anakmu seperti hewan yang menyusui anaknya karena didorong kasih sayangnya kepada anak. Akan tetapi susuilah dengan niat mengharap pahala dari Allah dan agar ia hidup melalui susuanmu itu. Mudah-mudahan ia kelak akan bertauhid kepada Allah Subhanahuwata’ala.”

Subhanallah, pelajaran yang sangat berharga. Betapa mungkin kita lupa, bahwa menyusui hendaklah diniatkan ibadah, bukan sekedar insting. Ini merupakan bentuk investasi kita di dunia dan akhirat. Semoga anak kita menjadi anak yang bersyukur pada Rabb-nya dan orang tuanya.

”Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Q.S. Luqman :14)

Ayat tersebut mengandung dua pengertian, yaitu : pertama, adalah perintah bagi seorang ibu untuk menyusui anaknya selama 2 tahun penuh. Kedua, perintah bagi anak untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya karena ibunya telah merawatnya siang dan malam. Terdapat kewajiaban anak untuk berbuat baik kepada orangtuanya, sementara terdapat hak anak untuk diberi ASI selama 2 tahun penuh. Terdapat kewajiban ibu untuk menyusukan anaknya selama dua tahun penuh, sementara terdapat hak ibu agar anaknya berbakti kepadanya.

Sumber : dari sini πŸ™‚

Mencintai Keputusan Mengasihi : Lulus S1 ASIX!

Disclaimer : Tidak berniat untuk menyinggung ibu-ibu yang tidak memberi ASI pada bayinya karena kondisi yang memang tidak bisa dipaksakan untuk mengusahakan ASI. Semua ibu adalah baik dengan pilihannya masing-masing.

Alhamdulillaah tsumma alhamdulillaah…

Akhirnya postingan ini terpublish dengan rasa syukur yang tak terkira :’)

Tulisannya panjang, silahkan skip bagi yang enggan membaca yaa 😚

Setelah 6 bulan drama ibu baru – egois untuk ASI dan akhirnya sampai pada hasil grafik berat badan Husna yang pernah naik turun. Kita pernah berjuang nduk. Dan akan terus berjuang untuk ke depannya ya 😊

Berjuang untuk hidup yang lebih baik serta manfaat.

Sekarang, saya bisa tersenyum dengan legowo melihatnya. Meski tidak se-perfect yang diharapkan setidaknya mengusahakan untuk tetap mendapat titik noktah di garis hijau tua (KMS), dengan segenap jiwa raga saya, untuk Husna.

Cerita awal tentang mengASIhi ada di beberapa postingan sebelum ini,

Di usia Husna yang 2 bulan, Husna pernah (hampir) merasakan seperti apa rasanya jeruk dan apel lho! :))

Lha, trus gak jadi ASI Ekslusif dong?

Hehe..

Alhamdulillah asix (ASI Ekslusif). Saat itu, saya spontan kaget karena ada yang hampir mendaratkan buah-buahan tersebut didepan bibir Husna.

Mendadak ada yang mencelos di hati!

Diiringi dengan drama-drama tangis seorang ibu baru πŸ˜€

Hanya demi melihat si bayi tampak menggemaskan dengan mencicip makanan yang belum saatnya, niat asix saya hampir runtuh saat itu juga. Untung Allah selamatkan.

Kelihatannya lebay sih ya? Kan cuma diolesin aja, atau ditetesin aja.

Saya akan tegas menjawab bukan hanya lebay sih, saya egois akan urusan ini πŸ™‚

Hari-hari setelah itu berlalu. Berlanjut dengan drama baru yaitu, berat badan Husna naik tidak sesuai KBM! (Kenaikan Berat Minimal) jadilah garis pada grafik di KMS turun satu peringkat daaan untuk pertama kalinya Husna diare!

Seperti cerita disini dan ini.

Hehe.

Mohon maklum orangtua newbie yang jauh dari sanak saudara, orangtua atau mertua ini ya. Ngeliat anaknya temen-temen yang bisa ginuk-ginuk gitu kan jadi pikiran ya buat ibuk baru seperti saya πŸ˜‚

Rasanya enggan ketemu jadwal posyandu.

Dan beberapa hari terakhir menjelang 6 bulan, untuk yang pertama kalinya Husna panas dengan suhu diatas 37,5Β°. Karena alhamdulillah selama 5 bulan ini, KIPI (Kejadian Pasca Imunisasi) suhu panas badannya hanya sekitar mencapai 37,3 dan 37,1. Saya fikir karena Husna punya imunitas yang baik.

Selang 3 hari untuk pertama kalinya saya melihat si bayi merintih-rintih, badannya lemas, hidungnya mampet, batuknya grok-grok. Lalu bergantilah saya yang tumbang πŸ™‚

Rasanya seperti Allah kabulkan do’a saya “mending saya yang sakit ya Allah, daripada anak saya”

Anak sembuh, tapi ganti saya yang sakit. Ternyata tidak meringankan masalah. Meski pekerjaan rumah telah suami pending semua. Tidak boleh ada yang saya kerjakan. Hanya fokus recovery dan Husna.

Tapi ndapapa, percayalah badai pasti berlalu, gendong menggendong sepanjang waktu pasti berlaluuu~

#lanjutnyanyi

Dulu, saat kehamilan memasuki 8 bulan, saya sempat belajar ke konselor laktasi lho! :))

Berharap urusan menyusui akan lancaarrr kayak jalan tol. Bebas hambatan gitu!

Anak lancar nyusunya, payudara stok ASInya mancur-mancur, berat badan anak naik signifikan dan bagus serta ekspektasi-ekspektasi langit lainnya. Tapi rencana manusia hanyalah rencana semata. Ada yang lebih berhak mengatur.

Jadi, inti dari tulisan panjang ini adalah…

Teruntuk sesama perempuan dimanapun yang sempat membaca tulisan ini,

Jika engkau adalah seseorang yang belum menikah. Maka cari ilmu menyusui ya :’)

Banyak komunitas offline maupun online yang mendukung program menyusui. Belajarlah hingga mahir. Kita sedang mempersiapkan generasi peradaban cemerlang nantinya. Egoislah ketika saatnya tiba. Ada banyaaak cara mengusahakannya. Ada banyaaak teman seperjuangan untuk mencari pegangan. Ada banyaak do’a yang bisa dilangitkan agar orang-orang terkasih mendukung suksesnya urusan ini. Karna ini berkaitan dengan banyak pihak. Sekali lagi, bukan hanya tugas ibu yang melahirkan yang belajar. Tapi juga keluarga yang mendampingi.

β€’β€’β€’

Jika engkau adalah seorang ibu dengan ASI. Jangan lelah berjuang hingga akhir. Sampai Allah berikan batas akhir kita menyapihnya dengan cinta. Sama seperti saat kita menghadirkan tetes cinta untuk pertama kalinya saat hadirnya buah hati kita. Sata juga masih berjuang. Kita sama-sama mendo’akan ya 😊

β€’β€’β€’

Jika engkau adalah ibu dengan susu formula. Penghargaan ibu terbaik tidak ditentukan dari menyusui ASI atau bukan. Kita adalah perempuan terbaik versi anak-anak. Dan kita mengukur baiknya seseorang adalah dengan bertambah baiknya diri kita serta prosesnya dari hari ke hari.

Selamat menikmati indahnya jadi ibu!

Semangat ke jenjang selanjutnya, sayangku Husna πŸ˜† do’akan ibuk rajin belajar dan masak yaa

Cheers 😍

Mencintai Keputusan Mengasihi : Diare!

Maasyaa Allaahh…

Sungguh betul memang, pergi ke dokter bagi orang tua baru adalah obat penenang kala anak sakit.

Hari itu saya heran, Husna bab melebihi biasanya. Setelah saya observasi ternyata betul diare.

Panik. Tapi tetap mencoba tenang sembari chat dengan suami di kantor. Namun mendekati sore, kepanikan bertambah dan suami akhirnya memutuskan untuk pulang lebih cepat.

Sore itu juga kami menuju IGD. Setelah di cek, memang betul diare. Tapi alhamdulillaah belum sampai dehidrasi. Lalu nasehat dokter hanya “Beri ASI yang banyak. Pantau. ASI lanjut terus”

He..

Akhirnya ploong meski kalo dipikir-pikir ketemu dokter hanya untuk mendapat nasehat itu.

Lalu pulang dan kami mengingat-ingat apa penyebabnya. Wallahu ‘alam. Lalu tiba-tiba saya teringat program ASIP, yang saya jadwalkan untuk booster berat badan Husna beberapa waktu terakhir.

Rasanya seperti merasa gagal menjadi ibu yang baik. Gagal menjaga anak. Gagal memberinya nutrisi yang baik πŸ™‚

Suami terus membesarkan hati, untuk kembali fokus pada program menaikkan BB Husna. Karena jelas setelah diare ini, berat badannya bisa jadi turun lumayan angkanya. Mencari alternatif cara lain agar program tersebut tidak kendur.

Note :

Menghadapi anak sakit, kuncinya adalah tetap tenang. Bekali ilmu penanganan dini, observasi dan baru pastikan untuk membawa ke bantuan medis.

Sebegininya orang tua memperjuangkan anak-anaknya. Menjaga siang malam tanpa henti. Melatih insting diri menjadi siaga setiap hari.

Semoga apa-apa yang masih mampu alvin lakukan hingga hari ini, tetap mengalirkan pahala untuk bapak ibuk dirumah. Yang setia menjaga mengalahkan rasa letihnya setiap hari πŸ€—

Birth Story Husna :) – Bagian 4 : Pilihan Husna

Selasa, 11.09.18

Malam tadi masih dilewati dengan semakin terasa panjang karna pola sakit semakin bertambah.

Dan it’s your timeeee!

Tapi sejujurnya aku juga belum tau sih kalo hari itu ternyata hari yang kakbay pilih untuk menggelar pertemuan πŸ˜‚

07.00

Sarapan pagi ini tidak berhasil dihabiskan dan aku berhasil meluncurkan rengekan yang sekaligus meluluh lantakkan hati ibuk.

“Buk, capek…”

“Istighfar ndukk…astaghfirullahal ‘adziim”

07.30

Bidan cek VT.

“Memang sudah bukaan 1, monggo mau ditunggu disini atau pulang saja?”

Ibuk memutuskan untuk saya tinggal ditempat. Detik berjalan lambat sekali rasanya wkwkw

Tapi tiba-tiba udah jam 9.00 aja, tiba-tiba pula air ketuban mulai rembes dan hasrat ingin mengejan tak lagi terbendung. Yha!

Bidan cek pembukaan ternyata sudah bukaan 5.

Cepet alhamdulillaah maasya Allaah…

Tapi emosi sudah dak karuan, tangan mas kuremas-remas meski aku tidak teriak. Karna aku pernah pesan mas bantu aku ingatkan, hal yang paling kutakutkan saat persalinan adalah perineum sobek dan harus dijahit πŸ˜‚

Jadi demi menjaga idealisme ini, kutahan-tahan mengejan sebelum waktunya meski sakitnya seperti ingin pup tapi antrian mengular warbiasa.

Jadiii.. fokusku hanyalah pada, nanti kalo ngejan jadilah sobek. Dan mas tetap fokus mengingatkan untuk istighfar dan atur nafas karna energiku sudah terkuras banyak.

Jam demi jam, detik demi detik.

Tapi ternyata…

Kontraksi justru makin melambat!

Dan ini perkara baru, kata bidan. Karena rembesan air ketuban terus berjalan.

Aku makin bisa tidur meski saat kontraksi datang yang bisa kulakukan hanya meremas tangan ibuk dan tangan mas sembari menahan suara.

12.00

Pembukaan tak bertambah satupun!

“Mbak, makin kering ketubannya lho…”

Tapi aku makin tak fokus karna energiku habis terkuras untuk malam-malam sebelumnya. Dan tak berhasil diperbarui karena tidur pun tak bisa.

Ya Allaaahhh aku sungguh ngantuk dan ingin mengakhirinya dengan segera.

Mungkin ada saat dimana aku lupa jika ada mahkluk lain sedang berjuang pula didalam perutku :’) saking dak kuatnya aku menahan rasa ngantukku. (Maafkan ya kak..)

β€’β€’β€’

Waktu berjalan melambat dan semakin sore..

14.00

Bidan memasang infus + cek VT + sengaja meletuskan air ketuban.

Ceplos!

Mak byarrr…

Lalu menjadi basah seketika. Aku tau itu ketuban, aku tau itu tak mestinya terjadi dengan paksaan. Tapi aku sudah kehabisan apapa lagi untuk berkata.

Aku sungguh ngantuk, tapi ketika kontraksi datang disaat itu juga aku ingin mengamuk.

Bidan mengaba-aba, rasa sakit setelah ini cari yang memberi kode rasanya seperti ingin pup luar biasa.

14.40

“Yaaa, pup ayok pup buk.. mas.. ayok…”

Masuklah pada sesi ejan-mengejan. Tapi aku tak tau bagaimana caranya. Dan apakah memang itu saatnya. Sedangkan saat itu energi yang kukeluarkan tidak maksimal.

Lalu ketika aku mulai mengejan…

“Mbak, salah ngejannya ndak begitu…”

Oke masalah baru pun datang, aku tak tau teknik mengejan yang tepat untuk melahirkan!

Nafasku tertahan di mata dan tenggorokan. Kata mas mataku memerah, pembuluh darahku di sekitar mata menegang.

Aku benar-benar tidak ada ide bagaimana cara mengejan yang benar.

Ketika diberi waktu jeda oleh bidan, ada 2 bidan yang mendampingi. Keduanya langsung bertubi menjelaskan tekniknya.

Wkwkw

Aku seperti mengerti, tapi saat prosesnya berlangsung tetap saja salah.

Disanalah kesabaran ibuk mulai diuji. Kata ibuk kepala anakku mulai terlihat, aku harus semangat, tapi aku capek dan tak tau bagaimana mestinya mengejan yang benar.

Aku seperti bulan-bulanan. Anakku menunggu pertaruhannya.

Ketika kepalaku melihat mas, mas hanya bilang..

Bismillah dek.. bisa!

Demi bocil (panggilan dari kami semasa hamil).

Dan sedikit lagi kita ketemu..

β€’β€’β€’

15.20

Mengejan yang gagal. Kulakukan banyak kali. Dan aku dak tau mana yang berhasil. Yang pasti aku tau saat perineumku digunting, aku tau saat pembuluh mataku menegang dan panas, kepaku berkunang kemudian hilang lalu berkunang-kunang lagi, aku tau saat nafasku tersengal, aku merasakan saat jalan lahirku dipaksa untuk membuka, aku merasakan saat kepala, kemudian pundak hingga kaki dan tubuh kecil itu berhasil keluar seutuhnya. Lalu tangisnya pecah. Seketika ibuk dan mas menangis.

Aku masih belum menangis dan tak tau apa yang harus kutangisi.

Aku hanya seperti kehabisan apa saja pada badanku. Rasa sakitnya hilang tiba-tiba. Sakit yang dirasa selama kurang lebih 3 hari 3 malam.

Jadi, jika dalam hampir semua birth story menceritakan ketika lahir anak tersebut maka hilanglah semua rasa sakit. Big yes!

Meski setelah itu dijahit, meski setelah itu menunggu kontraksi kembali untuk melahirkan plasenta. Meski setelah itu harus recovery badan karena tulang-tulang seperti diperbaharui. Meski kondisi-kondisi yang lain.

Tapi nikmat luar biasa seorang ibu dikuatkan sekaligus merasa lemah dalam kondisi ini.

Melahirkan normal atau sesar.

Alhamdulillaaahh…

Anakmu mas, kataku wkwkw

Setelah mas selesai meng-adzani Husna. Putri kecil kami, Shafiyyah Husna Mahira. Lahir 11 September 2018. Dia memilih tanggal lahirnya sendiri, di pengulangan tanggal pernikahan kami 😊

Lahir dengan selamat dan sehat. Maasya Allaah tabarakallaah..

Alhamdulillaah 😊

Poin penting!

Ibu selama hamil, kuasai teknik nafas dan ketahui teknik mengejan yah πŸ™‚

In syaa Allah masih ada satu part terakhir setelah ini..

β€’β€’β€’