Merawat Diri, Merawat Pernikahan

3 bulan pasca melahirkan rasa-rasanya kondisi wajah dan tubuh jadi ngga menentu. Belang sana-sini, meskipun badan ngga terkategori yang melar dan tak kunjung kembali. Masih awet aja ramping (banget) nya.

Tapi, ada beberapa titik yang bikin suka ngga pede tetiba. Apalagi didepan suami. Karna saya bukan tipikal orang yang suka bermake-up ria. Bahkan punya blash on dan eyeshadow itu menjelang menikah. Dan pasca nikah cuma sesekali dipake-di rumah.

Suami juga selalu telat menyadari kalo ternyata ada yang berwarna di pipi ato dibagian mata. Jadi yasudahlah..

Tapi, seenggak doyannya dandan, bagian merawat diri bisa jadi bagian dari merawat pernikahan kan ya.. Menurut sudut pandangku yang terbatas ini, merawat diri semacam jadi bagian dari menjaga bagaimana diri ini tetep menenangkan dipandang pasangan. Menentramkan hati gitu.

Suka sering ngga nyaman dan mikir kalo pas dalam kondisi masih baru banget selesai masak, lalu suami pulang kerja. Bau minyak, bau dapur. Ato kalo sekarang, suka bau asi šŸ˜€ hehe

Begitupun dengan pilihan pakaian. Setelah menikah, acc beli baju termasuk yang lumayan susah banget lolos qc suami šŸ˜‚

Pasalnya, entah kusuka modelnya suami tak suka warnanya. Akhirnya cancel. Yagimana, niat yang utama bikin suami betah memandang.

Merawat pernikahan itu ternyata banyak banget printilannya ya šŸ™‚

Tapi sebetulnya banyak ide-ide sederhana yang bisa dilakukan supaya pasangan tetap membuncah setiap masanya.

Salah satunya, lewat merawat diri.

Pun, in syaa Allaah juga banyak hal yang bisa dilakukan suami merawat dirinya demi menentramkan hati istri šŸ™‚

Wallahu ‘alam bisshawab

Advertisements

Review Buku : CHSI


Tidak hanya satu dua hal di dunia ini yang membutuhkan sikap konsisten. Ada banyak sekali yang berpengaruh ketika suatu kondisi dijalankan dengan terus menerus atau sesekali satu dua kali lalu berhenti dengan masa yang cukup lama.

Sebagai penyandang status baru sebagai istri, pun yang sudah beberapa kali saya ceritakan di postingan sebelumnya. Bahwa fase ini membutuhkan terus menerus pembelajaran dan kesabaran yang tiada henti. Mulai dari kebiasaan yang banyak berubah ketika masihĀ singleĀ dan kini sudahĀ double.

Ada satu kebiasaan saya yang mulai terkikis adalah rutin membaca buku. Meski kami di rumah mempunya catatan pembiasaan membaca satuĀ chapterĀ setiap harinya. Namun ternyata ada saja yang menghalangi hal tersebut bisa berjalan sesuai sebagai mana yang telah di agendakan.

Beberapa hari terakhir saya memutuskan untuk membaca ulang (karena dulu semasa belum menikah sudah pernah membacanya) buku berjudul “Catatan Hati Seorang Istri” yang ditulis oleh Asma Nadia.

Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman-pengalaman nyata para istri yang entah rasanya ketika saya selesai membaca, lika-liku kehidupan berumah tangga menjadi semakin lekat :”)

Banyak rasanya yang ingin saya garis bawahi dari buku ini ;

  • Menikah selalu-lah tampak indah di awal-awal fasenya, namun jika sudha berada pada puncak keikhlasan dan lantaran satu-satunya niat pernikahan hanya karena ibadah. Maka keindahan pernikahan adalah nikmat yang bisa dicicipi dalam sekeping fase dalam kehidupan berumah tangga.
  • Menikah adalah ibadah seumur hidup, dimana syaithan ingin dan gencar sekali melancarkan serangan untuk menghancurkan kehidupan rumah tangga anak Nabi Adam.
  • Banyak hal yang dapat menjadi pengugur dosa dalam sebuah hubungan pernikahan
  • Banyak hal pula yang dapat menjadi celah syaithan untuk menelisik menjadi bumerang dalam kehidupan pernikahan
  • Pun di dalam buku ini banyak sekali kisah yang seolah tabu dibicarakan di khalayak umum, namun diungkapkan dan menjadi penyemangat khususnya untuk para istri.

 

Melalui buku ini pula Asma Nadia mewadahi para perempuan untuk meluruhkan perasaan-perasaannya melalui tulisan. Semoga berkah senantiasa melingkupi kehidupannya aamiinn yaa robbal ‘aalamiin..

Wallahu ‘alam bis showab.

Surabaya, 12.04.18

Yang Sulit Untuk Diri Sendiri

24155-jangan-jadikan-kesulitan-sebagai-halangan-untuk-menolong-orang-lain

Pasca menikah, rasanya waktu untuk mengantongi apa-apa yang berseliweran di pikiran menjadi sedikit lebih sulit daripada sebelumnya. Ini hanya alasan atau kandang waktu yang saya susun belum sepenuhnya berhasil diterapkan.

Memaafkan dan memahami bahwa jadwal bisa saja berubah 180 bukanlah hal yang mudah. Setiap rumah tangga muda pasti mengalami penyesuaian ini , pun waktu yang saya tempuh baru kurang lebih satu bulan lebih satu minggu.

Di tengah perjalanan kemarin, saya kadang-kadang bisa mendadak mengevaluasi apa yang semestinya sudah saya lakukan. Tapi nyatanya, ketika saya menengok kembaliĀ to do list,Ā banyak sekali kotak yang belum terisi ceklisnya. Sepertinya, saat sebelum menikah ada banyak sekaliĀ planĀ yang ingin di jalankan dengan senormal mungkin, laluĀ goalsĀ akan didapat seperti biasanya. Kelar.

Namun ternyata, kembali pada pemahaman bahwa semua itu tidak bisa seolah-olah ditumpuk menjadi satu angan yang tentu mengerjakannya perlu dengan kalkulasi waktu yang tepat. Pada akhirnya saya menyadari kelemahan saya berada disini.

Terlalu nyaman dengan jadwal lama, sulit menyesuaikan dengan kondisi yang baru.

Saya menjadi mudah jenuh ketika melihatĀ to do listĀ harian yang tak kunjung selesai, sedangkan hati dan pikiran saya selalu dengan mudah terbang menuju ingatan saat-saat dimana saya masih sendiri. Betapa mudahnya bisaĀ menclokĀ kesana-kemari tetapi semua pekerjaan beres.

Saya kembali membandingkan diri saya yang dulu dan sekarang..

Ketika saya menulis ini, saya benar-benar tertampar dengan evaluasi-evaluasi diri yang tiba-tiba lewat begitu saja mengingatkan. Lalu bagaimana jika nantinya tanggung jawab bertambah dengan anak?

Ini adalah kemampuanĀ selfless.Ā Kemampuan ini adalah kemampuan yang tidak mementingkan diri sendiri. Untuk perempuan misalnya seperti ; bagaimana kalau ini belum selesai, bagaimana kalau itu belum beres, bagaimana kalau waktuĀ me timeĀ ku menjadi berkurang, bagaimana kalau keramas saja harus tidak lebih dari 10 menit (ini akan banyak dirasakan oleh perempuan pasca menikah). Membaca postingan seputar selflessĀ milik senior, saya jadi betul-betul berfikir bahwa kehidupan pernikahan lagi-lagi bukan hanya tentang bagaimana kita selalu berusaha tampil sempurna didepan pasangan. Sedangkan dibalik itu semua ada yang harus dipahami bersama bahwa tanggung jawab saat ini telah berbeda dengan tanggung jawab saat masih sama-sama sendiri.

Menuliskan ini untuk diri sendiri, menjadikan saya memafkan pelan-pelan bahwa tidak setiap harinya lantai harus bersih dan cucian selesai disetrika. Terkadang saya harus sekedar berani untuk minta tolong, meski sebetulnya mas sudah banyak membantu menyelesaikan urusan riweuh saya sebelum beliau berangkat kerja XD


Jadi beginilah rumah tangga muda yang masih terus perlu belajar, tidak ada yang mudah menyamakan langkah. Lelah pasti ada, sulit rasanya pasti ada. Tetapi bersepakat untuk mengambil langkah bersamaan dan beriringan perlu terus diingatkan. Agar sama-sama belajar dan memperbaiki diri.

Inna ma’al usri yusroo..

Surabaya, 17 Januari 2018