Tuh kan, kejedot….

124659_kidstairs_getty

 

“Tuh kan, kejedot….”

“Hehe iyaaa….”

Sambil sedikit mengaduh dan mengusap-usap kepalanya, sembari saya bantu. Seketika itu rasa bersalah saya muncul dan sejurus kemudian saya minta maaf karena telah membiarkan omongan tadi terlepas dari mulut saya.

Tapi senyum polosnya masih mengembang. Fazila, siswi kelas 1 SD yang hobinya tersenyum dan tertawa dengan nada default “hehe”. Awalnya saya sudah ingatkan dia untuk berhati-hati, karena kelas pagi ini kami belajar di loteng sekolah yang disulap menjadi creativity class. Jadi lesehan gitu ceritanya…

Nah ada satu sudut yang memang rendah, otomatis memungkinkan untuk mudah terkena kepala jika tidak hati-hati sewaktu berdiri.

Entah kenapa, saya terus teringat dengan kalimat yang saya ucapkan kepadanya…


Sebetulnya hanya perlu mengganti kalimatnya menjadi ;

“Habis kejedot ya… sakit ndak? (sambil tetap mengusap-usap kepalanya) lain kali lebih hati-hati lagi ya” 

Tapi yaaa begitulah terlanjur terucap, akhirnya dengan rasa bersalah dan terus terfikir maka saya hanya bisa minta maaf untuk memperbaiki pola pikirnya yang (semoga belum) mencatat “kok aku disalahkan….”

Maafin ibuk ya Zila…


Di sebuah artikel yang saya lupa persisnya…

Hal-hal kecil seperti ini yang sering membuat orang tua tanpa sadar membiarkan anak-anak menyimpan memori tentang betapa mudahnya menyalahkan sesuatu, orang lain atau bahkan dirinya sendiri yang sebetulnya itu adalah bentuk ketidak sengajaan.

Dan ternyata….

Ini merupakan gaya parenting yang sudah populer digunakan dikalangan sekitar. Sikap “mudah menyalahkan” ini akibatnya bisa panjaaang sekali di masa depan.

 


 

Mengapa perlu berhati-hati dalam berkata pada anak?

Efek dari sikap diatas sama seperti ketika dalam kalimat menyalahkan tersebut ditambah dengan menyalahkan benda lain. Contohnya ketika anak jatuh, maka yang disalahkan ubinnya atau segala sesuatu yang memicu si anak jatuh.

Maka dalam memorinya tersimpan bahwa mudah sekali menyalahkan sesuatu. Ia akan merasa bahwa boleh-boleh saja atau sah saja mencari kambing hitam untuk tidak bertanggung jawab atas dirinya.

Misalnya dalam sebuah contoh ;

Anak tidak sadar jika air di dalam gelas yang ia pegang, tumpah. Lantai rumah menjadi basah dan licin.

Maka orang tua pada umumnya akan bertanya “Kok bisa tumpah?”

Yang semestinya kalimat tersebut akan lebih efektif jika dirubah menjadi “Airnya tumpah ya… Yuk bantuin ibuk keringkan/bereskan”

Anyway, saya nulis ini sambil jejeritan dalam hati nemuin solusi perdebatan yang ada dalem pikiran XD

Jadi ngerasa, ya ampuuuun belajarnya masih kurang. Jadi bilang ke diri sendiri “Iya ya… kan gitu lebih baik ya. Iya ya ya ampuun…”


Sedikit solusi dari masalah diatas ;

  1. Sebetulnya hanya perlu tahan emosiiiiii wkwk yang ini syuusaaaah. Regulasi emosi. Belajar lagi lah yhaaa…
  2. Tampung pikiran positif dan fokus pada solusi
  3. Tujuannya untuk membuat anak menjadi bertanggung jawab atas dirinya, maka jangan biarkan pikiran kita terfokus dengan “alasannya, kenapa bisa begini, kenapa bisa begitu”
  4. Segera minta maaf ke anak, kalau terlanjur 😦

Dampak yang berakibat pada anak ;

  1. Anak akan mudah mencari kambing hitam atas permasalahannya
  2. Itu artinya, ia telah dibiasakan untuk tidak bertanggung jawab atas apa yang ia alami
  3. Anak akan mudah berbohong dan mencari-cari alasan atas terjadinya sesuatu
  4. Anak menjadi mudah ragu bertindak karena merasa apa yang ia lakukan akan mudah disalahkan
  5. Menjadi demotivated
  6. Menjadi mudah bingung, kecewa, marah dan seabrek sikap-sikap negatif lainnya
  7. Menjadi sosok yang mudah menyalahkan dirinya sendiri kemudian lelah terhadap jiwanya..
  8. Mudah membuat jiwanya merasa lemah dan tidak percaya diri

Curhat sore ini. Bismillah bisa lebih baik lagi. Semangat yang lagi berjuaaaangg 🙂

Surabaya, 12.09.17

Tambahan referensi :

http://www.zeth-house.com/2016/05/menyiapkan-anak-tangguh-di-era-digital.html

http://sayangianak.com/orantua-harus-berhenti-menyalahkan-hal-lain-untuk-kesalahan-anak-bahaya-itu-bagi-perkembangan-oribadinya-dalam-jangka-panjang/

 

Advertisements

Kehilangan itu Niscaya

Terhitung lima jam berlalu, ketika saya menuliskan ini, fikiran sudah sedikit fresh. Lalu yang muncul pertama kali adalah yuk nulis yuk.

Jum’at, 28 Juli 2017 10.53 WIB

Menjelang sholat Jum’at saya berjalan sendirian di sebuah kampus, ingin menjangkau kantin yang tinggal beberapa meter lagi. Saya berhenti sebentar didepan sebuah lapangan dan jalan yang sedikit lengang karena ada seorang asing bertanya tentang arah gedung sebuah fakultas yang tidak saya kenali. Karena saya bukan mahasiswa di kampus tersebut.

Pertanyaannya kenapa saya bisa jalan-jalan sendirian (?) di kampus orang pula (?)

Pertama, saya ingin bertemu teman yang sedang kuliah disana, meski pesan Whatsapp saya tak kunjung dibalas, karena beliau masih sibuk. Maka saya parkirlah motor dan saya memutuskan berjalan kaki sebentar menuju kantin kampus tersebut. Sambil wifian (?)

Kedua, saya adalah orang yang sering sekaliiii merasa nyaman kesana kemari seorang diri.

Kembali ke orang asing-

Dia berhenti sejenak, bertanya dan saya menjawab tidak tahu. Lalu dengan cepat, dia meminjam handphone untuk miskol temannya. Iya miskol, ujarnya. Karena pulsa saya ada, maka tersambunglah telfon tersebut dan dengan cepat lalu diangkat. Sempat terjadi pindah handphone dan pindah lagi. Dari tangan saya ke tangan orang tersebut dan ke tangan saya lagi dan balik ke tangannya lagi.  Tiba-tiba saya menjadi blank, saya tidak ingat bagaimana dia menawarkan sebuah hpnya yang jadul sebagai jaminan. Beberapa detik kemudian, hp saya telah dibawanya naik motor.

Lima menit saya masih menunggu, diam saja disitu, delapan menit. Sampailah sepuluh menit, saya baru panik. Pikiran positif saya tentang “oh iya itu tadi cuma dipinjem” kian memudar. Nangis, sudah tumpah semua.  Saya kelimpungan, tidak terfikirkan apapun. Mencoba mencari pertolongan, dapatlah saya seorang mahasiswi kampus tsb. Saya memintanya untuk membantu menghubungi terus nomor di hp itu, masih tersambung hingga kira-kira 20 menit lamanya. Kami berdua mencari bala bantuan lain dan mengupayakan lacak via gps. Ternyata gagal, karena gps saya masih nonaktif.

30 menit berlalu, tangis saya sudah hilang. Ada rasa pasrah, ada rasa bagaimana jika terus dicoba. Maka telfonpun terus dilakukan.

Nyambung!

Nyambung, diangkat-tanpa suara. Putus.

Nyambung lagi! Lagi-lagi diangkat tanpa suara.

Nyambung lagi! Tut.

Tut tut.

Tuuutt.

Sudah, akhirnya saya menghela panjang. Ikhtiar sudah, gupuh juga sudah. Sisanya, jika rejeki pasti kembali, kalau tidak. InsyaAllah diganti yang lain.

Kata orang kebanyakan, itu adalah gendam. Sebuah tindakan kriminal entah mencuri, mencopet, dkk dengan cara membuat korbannya tidak menyadari. Entah dibagian mana saya dibuat tidak sadar, tapi saya merasa kejadian itu cepat sekali terjadi.

🙂


Itu baru handphone.

Pikiran saya terus berkelebat kejadian tadi, memikirkan banyak hal. Tapi sesal memang selalu diakhir dan tentu sama sekali tak berguna apa-apa. Allah seperti ingin menyadarkan banyak hal untuk saya.

Hati saya terus membatin, itu baru hp. Sesakit itu manusia yang suka menggantungkan perasaannya terlalu jauh pada kefanaan.

Macam takdir. Ketika diingat-ingat, lalu membuat pengandaian (coba tadi gini, coba tadi gitu) kalau sudah takdir maka kun. Allah sudah membuat nas  hari ini kamu akan mengalami ini. Seberapa kuat kamu menjalaninya? Seberapa ikhlas kamu melepaskannya? Seberapa jauh pikiran dan perasaanmu memahami bahwa di dunia ini semua bukanlah kepunyaanmu, bahkan dirimu sendiri.

Huaaa, dua kalimat diatas adalah tulisan yang biasa saya tulis. Saya seperti merecall tulisan lama. Kali ini betul-betul “it’s your time”


Ada hikmah.

Setiap kejadian pasti ada hikmah yang bisa diambil. Ada evaluasi untuk perbaikan. Ada pembelajaran dari pengalaman.

Ternyata ikhlas itu sulit.

Sulit karena perasaan manusia yang “keduniawian” dan menyayangi dunianya. Itu wajar, tapi jika berlebihan maka tidak baik. Semua jika berlebihan pasti tidak baik.

Dalam kurun waktu beberapa hari terakhir, saya sedang disibukkan dengan perasaan-perasaan khawatir kehilangan sesuatu. Mungkin disitulah Allah mengerti bahwa sikap saya terlampau berlebihan, maka Allah menguji dengan hal ini. Dengan kehilangan yang tidak seberapa.

Setelah mendengar banyak nasehat, menenangkan diri, merefresh kembali fikiran, apa yang sedang saya alami tidak seberapa. Ada yang pernah mengalaminya lebih menyakitkan lagi, ada yang lebih-lebih merasakan pedih dibandingkan kehilangan ini.

Jadi, untuk apa terus mengingat dan menyesali.

Ikhlaslah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Mungkin dengan cara yang lain.


Nasehat untuk diri sendiri yang bisa saya rangkum dan betul-betul harus saya camkan adalah ;

  • Kita boleh terus berprasangka baik terhadap orang lain, namun waspada dengan orang baru itu lebih penting
  • Tidak baik bagi perempuan, berjalan seorang diri di tempat sepi jika kondisi tidak sangat-sangat memaksa itu terjadi
  • Merasa dengan cukup terhadap apa saja yang dimiliki, karena sejatinya sungguh semua hanyalah titipan.
  • Lebih berhati-hati lagi
  • Memperbanyak dzikir mengupayakan menjaga diri, ketika berada di tempat baru dan sepi
  • Pasrah kepada Allah, ikhtiar dulu tentu dan tawakkal 🙂

 

Semoga, kita dihindarkan dari kejahatan-kejahatan seperti ini. Semoga kita selalu dijaga Allah dalam setiap langkah. Amiin

Surabaya.

Kompromi dengan Inner Child

maxresdefault
sumber : google.com

Ini adalah “topik lain” yang pernah saya janjikan untuk diri sendiri agar sempat menuliskannya disini. Akhir-akhir ini, saya memang banyak sekali menemukan pembahasan tentang hal ini, seolah benar-benar sepemikiran dengan saya yang mendadak sering ingat tentang inner child.

 

Selama di rumah, saya benar-benar merasakan “oh ternyata begini”. Mungkin karena sudah mulai mengerti bahwa ternyata jauh didalam diri setiap manusia, ada sifat anak kecil yang terus hidup hingga ia dewasa.

Sebelum terlalu jauh, inner child dalam artian harfiah yang saya pernah dengar dari seminar Bunda Elly Risman adalah anak kecil yang ada dalam diri kita. “Semua orang punya dan itu normal” ujar Bunda Elly. Tapi jika sampai mendominasi diri, itu akan jadi masalah.

Kalo yang dibawah setelah ini menurut pemahaman saya heheh 😀

Inner child akan terus dirasakan orang tersebut sampai dirinya bisa menguasai rasa damai untuk merubahnya menjadi lebih baik. Agar rantai itu terputus sampai dirinya saja. Tidak ada orang hidup tidak dengan masa lalu, namun masa lalu seperti apa yang membuatnya menjalani kehidupan mendatang. Kita tidak pernah bisa request sama Allah mau dilahirkan dalam kondisi keluarga dan orang tua seperti apa.

Bagi saya pribadi, satu-satunya cara menghilangkan trauma yang masih tertinggal adalah dengan cara self healing. Terus belajar mengontrol emosi, terus memperbaiki diri dan sadar akan perubahan yang mesti dilakukan. Sulit memang, saya masih sering lepas kontrol ketika menghadapi murid di kelas, kemudian dia suka sekali menguji kesabaran. Marah, dongkol terus ngomong dengan nada yang perlahan meninggi. Pernah, tapi untung tidak terlepas jauh. Karena ada kondisi dimana anak tsb pintar sekali mengambil momen untuk membuat saya dongkol yang akhirnya ketawa juga.

Disitulah inner child sedang me-recall. Itu artinya, bayangan masa kecil ketika tidak sengaja dibentak, tidak sengaja menjadi pelampiasan banyaknya urusan yang dipikirkan orang tua saya dahulu. Tentu hal seperti itu tidak ingin saya turunkan ke anak-anak saya nantinya.

Tidak hanya marah, saya ambil contoh lain supaya bukan saya yang selalu jadi tokohnya 😂

Pernah suatu ketika, banyak sekali hal-hal yang menumpuk menjadi beban pikiranmu, dan yang ingin kamu lakukan hanyalah menepi, membiarkan diri jauh dari siapapun. Kamu hanya ingin tenggelam dengan diri sendiri tanpa diganggu. Bahkan sampai kamu tidak peduli, apa yang tengah terjadi dengan orang disekitarmu. Simpulannya, egomu sedang sangat meminta tempat untuk diunggulkan secara tunggal.

Itulah inner child yang sedang terbangun, kala kamu mengingatnya lagi ternyata kamu sedikit-demi-sedikit menemuka benang merah. Saat kecil kamu pernah tidak digubris sama sekali, ocehanmu hanya seperti angin lewat, segala sesuatu yang kamu buat untuk menarik perhatian orang lain hanyalah sebuah kesia-siaan. Maka, saat dewasa “anak kecil” yang ada pada dirimu terbangun kembali.

Seperti itu kiranya, sependek pemahaman saya.


Awalnya, ketika saya belum ngeh-ngeh banget sama apa itu inner child, saya merasa semua yang terjadi di masa lalu, masa kecil dan masa kemarin sudah terlewatkan begitu saja. Saya hanya perlu mengingat yang baik.

Inner child meninggalkan banyak sekali bekas dalam diri manusia, maka ketika saya mulai mengerti dan merumuskan tentang bagaimana bersikap pada anak-anak nantinya, saya ingin memahami tentang hal ini dengan pasangan. Karena berdamai dengan diri sendiri membutuhkan waktu yang sangat lama, apalagi ketika menjalani pola pikir yang berbeda dengan orang yang tidak pernah menjadi satu didikan dengan kita. Menjadi satu dengan orang asing yang sejatinya pasti memiliki peninggalan semasa didikan orang tuanya terdahulu. Dan itu perlu di kompromikan bersama-sama.

 Menjadi orang tua pada abad ini memang menjadi sebuah tantangan. Dengan perkembangan arus informasi yang sangat mudah untuk didapat, sebagai orang tua justru kita harus mampu merumuskan jalan mana yang akan ditempuh untuk menyelamatkan anak-anak dari arus teknologi yang semakin deras atau melibatkan mereka didalamnya secara bijak.

Itu semua tidak lepas dari berdamainya diri dengan masa lalu untuk menjemput masa depan yang jauh lebih baik dan itu semuaaa..

Balik lagi kepada, sampai mana ilmu yang kita miliki untuk memperbaikinya. Saya disini, menuliskan ini sedang pada fase belajar dan terus belajar. Berusaha memperbaiki rantai generasi agar tidak terus terjadi perulangan yang sebaiknya segera diperbaiki bahkan jika harus diputus, maka sebaiknya diputus.


Yang perlu disadari adalah orang tua kita jaman dahulu belum memiliki akses mengenai ilmu parenting, sebanyak yang kita miliki saat ini. Maka, upaya berdamai tetap menjadi cara yang diprioritaskan. Toh sebenernya, kalo dipikir-pikir marahnya orangtua jaman dulu itu wajar sekali. Marah ya cuma marah-marah, apalagi sampe ketemu label “namanya juga anak-anak, dimarahin sekali diem”. Beda dengan sekarang, yang sedikit-sedikit di posting. Maka jadilah viral, lalu menimbulkan perdebatan.

Orangtua jaman dulu, sayang sama anak hanya diupayakan via harapan, do’a dan nasehat-nasehat. Jaman sekarang, sayang sama anak caranya pake mencarikan kegiatan seabrek supaya dia sibuk, ikut les ini itu supaya rangking 1 terus atau memfasilitasinya dengan semua kemudahan yang hanya dilakukan dengan satu click. 

 Ya semua itu sebatas simpulan saya sendiri. Seorang single yang pengetahuannya terbatas sekali dan insyaAllah diwaktu yang tepat dipersatukan dengan cerminan dirinya 😆#sabar #monggo diaminkan

Akhirnya, simpulan atas semua curhatan saya diatas antara lain ;

  • Memahami dan memilah masalah itu sangat diperlukan (supaya tidak mudah mengaduk-aduk semua masalah menjadi satu)
  • Terus berusaha untuk meregulasi emosi (ketika dongkol-maka diam dan tarik nafas, ketika berdiri-maka duduk, ketika duduk-maka berbaring, berwudhu dst.)
  • Jika diperlukan self healing, maka lebih baik pergi ke terapis. Untuk mendapat hasil yang benar-benar maksimal

Surabaya, 19 Juli 2017

1 Syawal 1438H : Perihal Mubadzir

Taqaballahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.

Untuk semua pembaca yang mungkin sempat mampir ke blog ini atau ke postingan manapun, ke Social Media manapun akun milik saya. Mohon maaf jika ada salah kata, pengucapan maupun tulisan yang mungkin menyinggung atau kurang sempurna. Blog ini tetap menjadi blog personal atau blog pribadi, yang isinya berkaitan dengan kehidupan saya sehari-hari.

Alhamdulillah masih merasakan Idul Fitri di rumah dan keluarga pun lengkap 🙂 Postingan saya selama Ramadhan pada akhirnya berhenti di hari ke 26. Esoknya, ketika malam 28 saya mudik ke rumah orang tua XD (belum mertua).

Ketika mengingat Ramadhan terasa seperti kilas balik untuk menemukan titik lemah diri. Ramadhan menjadi momentum untuk mengenali diri sejauh mana ikhtiar pendekatan kepada Allah bisa dilaksanakan. Pun sejauh mana diri bisa sampai lalai dan kendor memperjuangkannya. Sedangkan bulan penuh Rahmat ini sudah semestinya diperjuangkan.

Ada beberapa hal yang menjadi renungan sewaktu pulang dan memang terus berulang (hanya) ketika di rumah. Satu topik yang ingin saya bahas melalui postingan ini adalah perihal mubadzir. Topik lain akan saya tulis di lain postingan.

Banyak sekali tradisi lebaran dari tahun ke tahun berubah dinamis sesuai masanya. Termasuk yang satu ini ; penyediaan minuman!

Dulu sewaktu kecil, di rumah nenek saya, di beberapa tempat yang kami kunjungi untuk salim-salim termasuk di rumah saya sendiri, seingat saya sewaktu kecil dulu, minuman yang disediakan untuk tamu disiapkan dengan teko lengkap dengan gelasnya. Seiring waktu semua menjadi serba instan, jadilah sekarang orang-orang lebih memilih yang praktis yaitu dengan minuman kemasan.

Btw ibu saya juga menyediakannya minuman gelas sih, cuma karena rumah kami terbilang “omahe wong enom” (rumahnya orang muda) jadilah hampir bisa dihitung orang yang bersilaturrahim ke rumah kami, tidak banyak. Paling mentok cuma 5 KK. Kebiasaan kami disini, yang muda akan selalu mengunjungi rumah orang-orang yang di tuakan. Berhubung bapak dan ibu saya adalah anak terakhir, kami sekeluarga yang berkeliling. Jadi sejauh ini dirumah belum banyak terjadi tragedi kemubadziran yang terlalu.

Di beberapa tempat saya mendapati minuman gelas yang ditinggal pemiliknya dalam kondisi yang belum habis. Itu artinya apa? Ya mubadzir.

Di surah Al Israa’ ayat 27 yang artinya ;

27. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

Jadi gimana, yang suka buang-buang dan memboroskan sesuatu itu temennya syaitan! Ini sebetulnya secara pribadi pun #ngeplak diri saya sendiri. Jadi mau koreksi diri dan lebih hati-hati lagi.

Dan setelah saya cari lebih jauh, pemborosan alias mubadzir ini bukan hanya perihal makanan. Tapi juga banyak sekali, seperti waktu luang dan harta. Dari salah satu sumber yang insyaAllah saya yakini, disini termasuk perbuatan boros (tabdzir) adalah apabila seseorang menghabiskan harta pada jalan yang keliru. Semisal seseorang berjam-jam duduk di depan internet, lalu membuka Facebook, blog, email dan lainnya, lantas dia tidak memanfaatkannya untuk hal yang bermanfaat, namun untuk hal-hal yang mengandung maksiat. Na’udzu billahi min dzalik.

Semoga dengan ini, kita bisa meningkatkan perhatian untuk memperbaiki kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik dan semoga kita dihindarkan dari hal-hal yang melemahkan.

Ngawi, 27 Juni 2017

Ramadhan #21-22 : Jawaban Do’a adalah Iya

A : Saya

B : Seseorang di balik cermin

A : Kenapa rasanya menunggu yang “sangat aku minta saat ini” terasa lama sekali…

A : Aku capek. Tapi masih kuat untuk menangis. Pada akhirnya tangisku tumpah lagi.

A : Ya, untuk yang kesekian kalinya. Memeluk diriku sendiri, menangisi sesuatu yang memang dirancang Allah seperti itu.

B : Jawaban do’a adalah iya. Jika bukan iya sekarang, berarti nanti. Atau iya dalam bentuk yang lain.

Ujar Alvin kepada Alvin.

Tidakkah kamu sadar, pagi hari kamu masih merasa badanmu berfungsi seperti biasanya. Ketika pertama kali mata terbuka yang kamu cari adalah handphone. Oke, untuk melihat jam. Tetapi 2 detik kemudian beralih eh sekalian-ada-notif tuh!

Maka siapa lagi jika bukan Allah yang mengizinkanmu terbangun hari ini. Kamu masih bisa melakukan banyak hal. Yang mungkin hanya sepersekian dari kegiatanmu itu yang kamu peruntukkan kepada Allah. Sisanya, menyenangkan hatimu sendiri.

Kamu diminta bersabar sedikit lagi, tapi kamu tetap saja menangisi sesuatu yang kamu minta saat itu. Sesuatu yang dengan pengetahuan pendekmu, mungkin kurang baik bagimu. 

Kamu diminta berdo’a sedikit lagi, tapi kamu tetap saja merasa bahwa do’amu telah terlalu panjang dan lama. Padahal, jika Allah tidak menghendakimu menjadi seperti saat ini, bisa jadi kamu tidak pernah beranjak membaik. Allah membuatmu seperti ini menjadikanmu lebih bijak.

Kamu diminta menunggu sedikit lagi, tapi kamu tetap saja merasa penantianmu adalah hal menyakitkan sepanjang masa hidupmu. Padahal Allah tidak pernah lupa memberimu bahagia. Allah tidak meninggalkanmu dalam keadaan tidak punya apa-apa untuk dimakan. Allah tidak meninggalkanmu dalam keadaan kekurangan pakaian hingga merendahkanmu dalam penampilan. Allah memberimu berlebih atas semua itu!

Tidakkah kamu sadar. Lalu mengapa masih menangisi sesuatu yang kamu pinta itu dan bagimu tak kunjung datang. Seolah-olah adalah itu hal terpenting dalam hidupmu.

Allah hanya memintamu bersabar sedikit lagi. Tunggulah, sesuatu yang memang pantas untuk ditunggu. Menunggu tidak pernah sia-sia jika kamu mengerti harus dengan apa caranya.

Kamu hanya diminta menunggu sebentar lagi dengan sabar, dengan syukur dan dengan hati yang yakin bahwa takdirnya selalu baik.

Alvin kepada Alvin. 21 & 22 Ramadhan 1438H

Ramadhan #15-16 : Yang Tampak

Entah mengapa saya membiarkan hari kemarin bergelincir tanpa menyisakan satupun bahan tulisan.

Jadi, jauh sebelum tiba hari puasa. Saya berucap pada diri sendiri bahwa nanti saat Ramadhan saya ingin menikmati suasana tarawih di Masjid Agung Al Akbar Surabaya, yang kapasitasnya hingga 60 ribu jamaah *menurut wikipedia.

Dan taraaa, semalam saya membuktikan sendiri berada diantara lautan manusia, berlomba-lomba merebut hati Allah. Lalu kalau begitu bagaimana dengan Makkah, umat Islam dari seluruh penjuru berada disana. Allahu Akbar, semoga Allah memampukan kita hadir mendatanginya..

Pun karena saya nekat ke Masjid Agung seorang diri, saya jadi mengamati banyak hal. Salah satunya adalah nyatanya pada jaman ini, segala sesuatu telah menjadi semakin bias. Sulit dibedakan dengan mata telanjang. Apa yang nampak secara kasat mata sulit untuk kita bedakan apakah itu baik atau belum baik.

Mungkin ini adalah bagian dari “jaman yang telah tua”. Manusia semakin mudah di poles menjadi cantik, menjadi ganteng, menjadi alim, dlsb. Saya tidak mengatakan bahwa saya lebih baik dari itu semua.

Namun hanya karena yang nampak itu tadilah, kita menjadi mudah terpengaruh terhadap sesuatu yang belum kita miliki ilmunya. Karena alasan kita mengikuti, hanya sebatas pada “supaya terlihat…” dimata orang lain.

Jaman ini telah menjadi jaman visual. Saya pernah melihat beberapa remaja putri mengenakan jilbab namun mereka “pecicilan” dengan polah tingkah yang seolah-olah jilbab bagi mereka hanyalah sebatas fashion. Saya pernah membahas ini dengan seorang teman lalu menamainya dengan tertutup yang terbuka. Sedih. Jujur saya sedih melihat keadaan seperti ini.

Manusia diluar yang tidak benar-benar mengerti jadi mudah mengatakan, semua yang berjilbab itu sekarang sama saja. Akhlaknya sama saja. Mau kerudungnya panjang atau pendek. Toh dimana-mana orang jual kerudung juga semakin menjamur. Sebagai orang yang pernah mrmperjuangkan jilbab di jaman remaja, pernyataan semacam itu selalu menyisakan sesak di hati. 

Semasa SMP untuk foto ijazah, kebijakan sekolah tidak memperbolehkan kami siswi berjilbab mengenakan jilbabnya. Sedangkan fotografer saat itu mayoritas masih laki-laki. Saya dan beberapa teman, protes habis-habisan ke dewan guru dan kepala sekolah. Namun hasilnya nihil. Pada akhirnya kami harus mengalah. 

Padahal akhlak dan jilbab tidak pernah berjalan beriringan. Namun bukan berarti yang belum merasa baik akhlaknya tidak wajib mengenakan jilbab. Padahal jelas sudah betul-betul ditulis didalam Al Qur’an sebagai kewajiban. Tidak lantas menunggu akhlak baik dulu baru berjilbab. Bagi saya pribadi justru, jilbab menjadi pemicu hati kita untuk semakin terbuka menerima hidayah tentang akhlak. Meskipun mungkin, yang betul adalah akhlak dan akidah semestinya menjadi pondasi utama untuk setiap anak manusia. Begitulah ilmu selalu menjadi modal utama sebuah amal.

Tulisan ini hanya sebagai pengingat diri. Jila ada yang mampu dipetik kebaikannya, semoga manfaatlah yang mampu dirasa.

Memang tidak ada yang mampu menilai dengan tepat kecuali Allah. Semoga kita dihindarkan dari penilaian manusia yang terbatas, kita dihindarkan dari prasangka manusia yang lemah. Dikuatkan untuk terus mencari ilmu yang haq untuk melihat yang bathil. Amin

15 dan 16 Ramadhan 1438H

Ramadhan #14 : Hampir Separuh

Hampir separuh perjalanan. Ketika semakin habis waktu, malaikat-malaikat menangis ia akan pergi. Karena tak ada lagi yang mampu di pastikan akankah bertemu kembali nanti.

Nyatanya memang ia menjaga banyak hati. Menahan gejolak yang tidak semestinya tumpah. Ia hadir menjadi titik balik perubahan bagi banyak mahkluk.

Ia hadir lebih dari sekedar rindu duapuluh tujuh derajat yang dikejar, lebih dari sedekah sebutir kurma yang menjelma ribuan do’a menuju langit.

Dan masihkah aku lalai?

Allah menyempatkan umurku menjumpainya, namun tak ku hormati selayaknya tamu yang tak akan datang tiap hari. Aku masih saja mudah tertawan amarah. Masih saja berkongsi dengan gerutu dalam hati.

Lalu manusia macam apa aku?

Yang katanya dikarunia hati, akal dan fikiran.

14 Ramadhan 1438H. Sudah sejauh apa (hati)ku mendektiNya?