1 Syawal 1438H : Perihal Mubadzir

Taqaballahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.

Untuk semua pembaca yang mungkin sempat mampir ke blog ini atau ke postingan manapun, ke Social Media manapun akun milik saya. Mohon maaf jika ada salah kata, pengucapan maupun tulisan yang mungkin menyinggung atau kurang sempurna. Blog ini tetap menjadi blog personal atau blog pribadi, yang isinya berkaitan dengan kehidupan saya sehari-hari.

Alhamdulillah masih merasakan Idul Fitri di rumah dan keluarga pun lengkap 🙂 Postingan saya selama Ramadhan pada akhirnya berhenti di hari ke 26. Esoknya, ketika malam 28 saya mudik ke rumah orang tua XD (belum mertua).

Ketika mengingat Ramadhan terasa seperti kilas balik untuk menemukan titik lemah diri. Ramadhan menjadi momentum untuk mengenali diri sejauh mana ikhtiar pendekatan kepada Allah bisa dilaksanakan. Pun sejauh mana diri bisa sampai lalai dan kendor memperjuangkannya. Sedangkan bulan penuh Rahmat ini sudah semestinya diperjuangkan.

Ada beberapa hal yang menjadi renungan sewaktu pulang dan memang terus berulang (hanya) ketika di rumah. Satu topik yang ingin saya bahas melalui postingan ini adalah perihal mubadzir. Topik lain akan saya tulis di lain postingan.

Banyak sekali tradisi lebaran dari tahun ke tahun berubah dinamis sesuai masanya. Termasuk yang satu ini ; penyediaan minuman!

Dulu sewaktu kecil, di rumah nenek saya, di beberapa tempat yang kami kunjungi untuk salim-salim termasuk di rumah saya sendiri, seingat saya sewaktu kecil dulu, minuman yang disediakan untuk tamu disiapkan dengan teko lengkap dengan gelasnya. Seiring waktu semua menjadi serba instan, jadilah sekarang orang-orang lebih memilih yang praktis yaitu dengan minuman kemasan.

Btw ibu saya juga menyediakannya minuman gelas sih, cuma karena rumah kami terbilang “omahe wong enom” (rumahnya orang muda) jadilah hampir bisa dihitung orang yang bersilaturrahim ke rumah kami, tidak banyak. Paling mentok cuma 5 KK. Kebiasaan kami disini, yang muda akan selalu mengunjungi rumah orang-orang yang di tuakan. Berhubung bapak dan ibu saya adalah anak terakhir, kami sekeluarga yang berkeliling. Jadi sejauh ini dirumah belum banyak terjadi tragedi kemubadziran yang terlalu.

Di beberapa tempat saya mendapati minuman gelas yang ditinggal pemiliknya dalam kondisi yang belum habis. Itu artinya apa? Ya mubadzir.

Di surah Al Israa’ ayat 27 yang artinya ;

27. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

Jadi gimana, yang suka buang-buang dan memboroskan sesuatu itu temennya syaitan! Ini sebetulnya secara pribadi pun #ngeplak diri saya sendiri. Jadi mau koreksi diri dan lebih hati-hati lagi.

Dan setelah saya cari lebih jauh, pemborosan alias mubadzir ini bukan hanya perihal makanan. Tapi juga banyak sekali, seperti waktu luang dan harta. Dari salah satu sumber yang insyaAllah saya yakini, disini termasuk perbuatan boros (tabdzir) adalah apabila seseorang menghabiskan harta pada jalan yang keliru. Semisal seseorang berjam-jam duduk di depan internet, lalu membuka Facebook, blog, email dan lainnya, lantas dia tidak memanfaatkannya untuk hal yang bermanfaat, namun untuk hal-hal yang mengandung maksiat. Na’udzu billahi min dzalik.

Semoga dengan ini, kita bisa meningkatkan perhatian untuk memperbaiki kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik dan semoga kita dihindarkan dari hal-hal yang melemahkan.

Ngawi, 27 Juni 2017

Ramadhan #21-22 : Jawaban Do’a adalah Iya

A : Saya

B : Seseorang di balik cermin

A : Kenapa rasanya menunggu yang “sangat aku minta saat ini” terasa lama sekali…

A : Aku capek. Tapi masih kuat untuk menangis. Pada akhirnya tangisku tumpah lagi.

A : Ya, untuk yang kesekian kalinya. Memeluk diriku sendiri, menangisi sesuatu yang memang dirancang Allah seperti itu.

B : Jawaban do’a adalah iya. Jika bukan iya sekarang, berarti nanti. Atau iya dalam bentuk yang lain.

Ujar Alvin kepada Alvin.

Tidakkah kamu sadar, pagi hari kamu masih merasa badanmu berfungsi seperti biasanya. Ketika pertama kali mata terbuka yang kamu cari adalah handphone. Oke, untuk melihat jam. Tetapi 2 detik kemudian beralih eh sekalian-ada-notif tuh!

Maka siapa lagi jika bukan Allah yang mengizinkanmu terbangun hari ini. Kamu masih bisa melakukan banyak hal. Yang mungkin hanya sepersekian dari kegiatanmu itu yang kamu peruntukkan kepada Allah. Sisanya, menyenangkan hatimu sendiri.

Kamu diminta bersabar sedikit lagi, tapi kamu tetap saja menangisi sesuatu yang kamu minta saat itu. Sesuatu yang dengan pengetahuan pendekmu, mungkin kurang baik bagimu. 

Kamu diminta berdo’a sedikit lagi, tapi kamu tetap saja merasa bahwa do’amu telah terlalu panjang dan lama. Padahal, jika Allah tidak menghendakimu menjadi seperti saat ini, bisa jadi kamu tidak pernah beranjak membaik. Allah membuatmu seperti ini menjadikanmu lebih bijak.

Kamu diminta menunggu sedikit lagi, tapi kamu tetap saja merasa penantianmu adalah hal menyakitkan sepanjang masa hidupmu. Padahal Allah tidak pernah lupa memberimu bahagia. Allah tidak meninggalkanmu dalam keadaan tidak punya apa-apa untuk dimakan. Allah tidak meninggalkanmu dalam keadaan kekurangan pakaian hingga merendahkanmu dalam penampilan. Allah memberimu berlebih atas semua itu!

Tidakkah kamu sadar. Lalu mengapa masih menangisi sesuatu yang kamu pinta itu dan bagimu tak kunjung datang. Seolah-olah adalah itu hal terpenting dalam hidupmu.

Allah hanya memintamu bersabar sedikit lagi. Tunggulah, sesuatu yang memang pantas untuk ditunggu. Menunggu tidak pernah sia-sia jika kamu mengerti harus dengan apa caranya.

Kamu hanya diminta menunggu sebentar lagi dengan sabar, dengan syukur dan dengan hati yang yakin bahwa takdirnya selalu baik.

Alvin kepada Alvin. 21 & 22 Ramadhan 1438H

Ramadhan #15-16 : Yang Tampak

Entah mengapa saya membiarkan hari kemarin bergelincir tanpa menyisakan satupun bahan tulisan.

Jadi, jauh sebelum tiba hari puasa. Saya berucap pada diri sendiri bahwa nanti saat Ramadhan saya ingin menikmati suasana tarawih di Masjid Agung Al Akbar Surabaya, yang kapasitasnya hingga 60 ribu jamaah *menurut wikipedia.

Dan taraaa, semalam saya membuktikan sendiri berada diantara lautan manusia, berlomba-lomba merebut hati Allah. Lalu kalau begitu bagaimana dengan Makkah, umat Islam dari seluruh penjuru berada disana. Allahu Akbar, semoga Allah memampukan kita hadir mendatanginya..

Pun karena saya nekat ke Masjid Agung seorang diri, saya jadi mengamati banyak hal. Salah satunya adalah nyatanya pada jaman ini, segala sesuatu telah menjadi semakin bias. Sulit dibedakan dengan mata telanjang. Apa yang nampak secara kasat mata sulit untuk kita bedakan apakah itu baik atau belum baik.

Mungkin ini adalah bagian dari “jaman yang telah tua”. Manusia semakin mudah di poles menjadi cantik, menjadi ganteng, menjadi alim, dlsb. Saya tidak mengatakan bahwa saya lebih baik dari itu semua.

Namun hanya karena yang nampak itu tadilah, kita menjadi mudah terpengaruh terhadap sesuatu yang belum kita miliki ilmunya. Karena alasan kita mengikuti, hanya sebatas pada “supaya terlihat…” dimata orang lain.

Jaman ini telah menjadi jaman visual. Saya pernah melihat beberapa remaja putri mengenakan jilbab namun mereka “pecicilan” dengan polah tingkah yang seolah-olah jilbab bagi mereka hanyalah sebatas fashion. Saya pernah membahas ini dengan seorang teman lalu menamainya dengan tertutup yang terbuka. Sedih. Jujur saya sedih melihat keadaan seperti ini.

Manusia diluar yang tidak benar-benar mengerti jadi mudah mengatakan, semua yang berjilbab itu sekarang sama saja. Akhlaknya sama saja. Mau kerudungnya panjang atau pendek. Toh dimana-mana orang jual kerudung juga semakin menjamur. Sebagai orang yang pernah mrmperjuangkan jilbab di jaman remaja, pernyataan semacam itu selalu menyisakan sesak di hati. 

Semasa SMP untuk foto ijazah, kebijakan sekolah tidak memperbolehkan kami siswi berjilbab mengenakan jilbabnya. Sedangkan fotografer saat itu mayoritas masih laki-laki. Saya dan beberapa teman, protes habis-habisan ke dewan guru dan kepala sekolah. Namun hasilnya nihil. Pada akhirnya kami harus mengalah. 

Padahal akhlak dan jilbab tidak pernah berjalan beriringan. Namun bukan berarti yang belum merasa baik akhlaknya tidak wajib mengenakan jilbab. Padahal jelas sudah betul-betul ditulis didalam Al Qur’an sebagai kewajiban. Tidak lantas menunggu akhlak baik dulu baru berjilbab. Bagi saya pribadi justru, jilbab menjadi pemicu hati kita untuk semakin terbuka menerima hidayah tentang akhlak. Meskipun mungkin, yang betul adalah akhlak dan akidah semestinya menjadi pondasi utama untuk setiap anak manusia. Begitulah ilmu selalu menjadi modal utama sebuah amal.

Tulisan ini hanya sebagai pengingat diri. Jila ada yang mampu dipetik kebaikannya, semoga manfaatlah yang mampu dirasa.

Memang tidak ada yang mampu menilai dengan tepat kecuali Allah. Semoga kita dihindarkan dari penilaian manusia yang terbatas, kita dihindarkan dari prasangka manusia yang lemah. Dikuatkan untuk terus mencari ilmu yang haq untuk melihat yang bathil. Amin

15 dan 16 Ramadhan 1438H

Ramadhan #14 : Hampir Separuh

Hampir separuh perjalanan. Ketika semakin habis waktu, malaikat-malaikat menangis ia akan pergi. Karena tak ada lagi yang mampu di pastikan akankah bertemu kembali nanti.

Nyatanya memang ia menjaga banyak hati. Menahan gejolak yang tidak semestinya tumpah. Ia hadir menjadi titik balik perubahan bagi banyak mahkluk.

Ia hadir lebih dari sekedar rindu duapuluh tujuh derajat yang dikejar, lebih dari sedekah sebutir kurma yang menjelma ribuan do’a menuju langit.

Dan masihkah aku lalai?

Allah menyempatkan umurku menjumpainya, namun tak ku hormati selayaknya tamu yang tak akan datang tiap hari. Aku masih saja mudah tertawan amarah. Masih saja berkongsi dengan gerutu dalam hati.

Lalu manusia macam apa aku?

Yang katanya dikarunia hati, akal dan fikiran.

14 Ramadhan 1438H. Sudah sejauh apa (hati)ku mendektiNya?

Ramadhan #13 : Gimana kalo Allah….

Akhir-akhir ini saya mudah sekali mengkaitkan segala sesuatu yang kurang sinkron dengan satu alasan “pasti ada satu hal yg saya lakukan dan Allah gak ridho”

Entah itu ada pekerjaan yang tidak beres lalu saya jadi mengkaitkan karena berangkatnya tadi lupa bismillah. Atau semisal masakan kok rasanya asin banget, itu karena makanan kemarin tidak habis lalu dengan terpaksa terbuang sia-sia.

Ketika proses mengevaluasi dan mengingat kembali itulah sering rasanya mendadak sesak di ulu hati. Karena mengingat sedang puasa, lumayan bisa membuat saya menahan gondok ati. Alih-alih menggerutu, saya malah menangis tanpa alasan.

Pernah suatu kali teman saya bilang “Aku takuuuut gitu kalo Allah cabut nikmatNya buatku, trus aku jadi apa. Aku jadi gimana. Tapi aku kok masih suka ya ngelakuin hal-hal kecil sembrono gitu sih :(”

Nah! Makin sesek saya kalo inget curhatan temen saya itu….

Kalo Allah gak ridho gimana…

*seperti hari ini, saya nggondok sama diri sendiri karna satu hal terjadi. Setelah saya evaluasi, ada satu janji saya sama diri sendiri yg saya buat dan itu terkait janji diri dan Allah yang saya lalaikan tadi pagi.

Maaf ini hanya curhatan 
13 Ramadhan 1438 H

Ramadhan #12 : Benih Kebaikan

Kamu pernah bertemu dengan orang-orang yang berada di dalam lingkaran kebaikan?Waktu mereka habiskan dengan menebar benih-benih kebaikan yang pada akhirnya tanpa mereka sadari, kebaikan tersebut akan menjadi penolong-penolong di saat sempit

Satu sama lain saling bertaut, merasa kerdil di hadapan alam semesta karena menyadari bahwa yang membedakan mereka di mata Allah hanyalah perihal ketaqwaan

Mereka sungguh sadar, semua laku di dunia ini hanyalah sementara

Mereka mengerti akan pondasi yang dituliskan di dalam Al – Qur’an bahwa manusia diciptakan untuk dua hal, ibadah dan khilafah. Maka benih kebaikan mereka pilih untuk bertumbuh atas keduanya.

Tetapi, jauh sebelum kebaikan itu menjadi benih. Adakah yang tau darimana benih itu berasal, apa yang menjadikan benih itu berwujud, bagaimana proses yang ditempuh hingga benih itu siap untuk ditebarkan?

Tidak pernah ada yang benar-benar paham kecuali DIA dan benih kebaikan itu sendiri.

Kebaikan demi kebaikan yang dituliskan menuju langit, terus saja ditiup dengan do’a dan diteruskan dengan kebaikan lainnya. Dilakukan oleh siapapun yang dilewati oleh kebaikan itu.

Ada yang merasa takut menjadi baik di mata orang lain, yang melihatnya patuh dengan jilbab panjang, menganggapnya menjaga hanya karna menundukkan pandangan. Ada yang merasa takut menjadi baik di dalam benak orang lain, yang mengajaknya bicara pun hati-hati, apalagi sampai orang lain menjadikan dirinya adalah panutan untuk menyebarkan benih-benih kebaikan.
Dirinya takut ada yang menjadikannya alasan untuk merubah akhlak, dirinya takut dijadikannya tujuan bukan menjadi perantara. Bukan lagi Allah yang menjadi tujuan, bukan lagi Rasulullah yang menjadi panutan. Ia takut ada yang menjadikannya seperti itu.

Semoga segala muara benih kebaikan itu senantiasa di kembalikan kepada-NYA.

 

Tulisan lama, 2015

11 Ramadhan 1438H

 

Ramadhan #10 : Bergerak

Sepuluh sudah mulai berderak melewati waktu-waktunya. Lambat laun berjalan hari ini hingga habis hari. Dan sepuluh yang kedua akan ditemui.

Sudah sejauh apa? Jika ditilik dengan melihat kalender, rasanya tidak terasa. Jika ditilik apa yang sudah diperbuat. Rasanya………..

Apa yang saya rencanakan di awalpun masih banyak yang berantakan. Satu dua pasang, tiga empat kembali surut begitu seterusnya. Seperti iman. Namun iman jika dibiarkan akan semakin surut, jika terus dikejar meskipun didepan sudah terlihat musuh menghadang (syaitan yang mengacak-acak niatan) insyaAllah Allah tidak meninggalkan sendirian.

Awalnya, dengan rutinitas yang padat di kantor dan dengan beberapa alasan tertentu (karena ini kali pertama Ramadhan di tempat baru), saya mengira keseharian saya akan stagnan dan sempit. Tetapi sedikit demi sedikit saya mulai mengikuti alurnya dan mampu meneumkan celahnya. Akhirnya saya tau, saya masih bisa terus bergerak.

Sesuatu yang terus bergerak akan bertumbuh. Seperti pohon yang makin lama semakin tinggi. Seperti air di sungai-sungai yang terus mengalir, nyatanya ketika ia menjadi kubangan hanya akan menyebabkan jentik nyamuk. Bergerak memiliki arti yang sangat luas. Saya harus bisa mengambil celah untuk tetap bisa melakukan hal-hal bermanfaat di samping kesibukan yang padat.

Saya menasehati diri (dan sedikit lega ketika sudah mulai mengerti bagaimana harus menjalaninya)

Oiya tentang sepuluh hari yang akan masuk pada sepuluh hari kedua, saya jadi ingat sesuatu karena biasanya di sepuluh hari pertama masjid dan musholla shafnya masih penuh, sepuluh yang kedua mulai berkurang satu persatu, karena tadi pagi sempat membaca di linimasa tumblr, tulisan milik kak Akhyar seputar bukber alias buka bersama. Saya jadi ingat, sejak Ramadhan tahun kemarin saya mulai memampatkan jadwal buka bersama diluar hampir bisa dihitung hanya sekali atau dua kali. Jika dikoreksi, nyatanya bukber itu justru membuat kita mengalihkan niat di awal.

Yang katanya menyambung silaturrahim kita jadi mudah lalai sholat magrib di awal waktu. Yang katanya makan bersama lebih berkah kita jadi mudah memubadzirkan makanan. Yang katanya Ramadhan lebih baik untuk banyak bersedekah kita lebih banyak membuangnya untuk budget bukber yang biasanya lebih dari biasanya.

Ramadhan kali ini pun saya sikapi dengan serupa. Masih ada dua puluh hari. Mari terus bergerak, semangat menjalankan misi kebaikan di bulan yang dilipat gandakan pahala-pahala kebaikan kita. 

Prestasi kita hari ini bukan untuk memenangkan hati manusia, tapi memenangkanNya.

Surabaya, 10 Ramadhan 1438H