Sedikit Portofolio

Ternyata aktifitas yang bisa kita lakukan adalah aktifitas yang belum tentu kita suka lakukan.

Karena IIP saya belajar ilmu ini. Saya adalah hasil salah jurusan, mungkin bisa 90% jika di prosentase πŸ˜‚

Jiwa saya masih saja terpanggil ke dunia anak-anak. Itupun yang coba terus saya hadirkan dalam aktifitas keseharian selama kuliah sampai saat ini.

Di sela kuliah dulu, saya suka ikut-ikut Kelas Inspirasi yang dikebawahi Indonesia Mengajar namun dalam lingkup yang lebih kecil dan langsung menghadirkan para profesional di bidangnya masing-masing. Saya bisa belajar dari pendongeng, dari penari, perawat dan masih banyak lain tentang keahlian mereka.

Di tengah perjalanan skripsi, saya coba-coba untuk istiqomah meneruskan daftar Forum Indonesia Muda yang membawa saya pada komunitas Gerakan Mendongeng Malang. Which is tetap bergelut dengan anak-anak.

Sampai pada akhirnya, saya yang pernh separuh perjalanan penelitian kembali galau dan pindah haluan balik untuk pilih penelitian seputar anak. Jatuhlah penelitian ke Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Malang, meski gak all out selama disana. Tapi berada di lingkarannya banyak membukakan mata saya.

Pasca wisuda, perjalanan mencari pekerjaan betul-betul jadi ajang perjuangan wqwq

Saking gak expert di bidang apapun selama kuliah. Teriaknya dalam hati juga pengen terjun di dunia anak-anak aja.

Qadarullah, setahun dapet kerja di perusahaan IT Consultant, membuat saya merasa no progress. Dan ada satu fase panjang…yang membuat saya dihadirkan di tempat saya bekerja saat ini.

Curhat ceritanya wkwk. Jadi saya suka desain, selama belum ngajar, di kantor lama pun saya suka ndesain. Tapi ndak bertumbuh.

Setelah tau ilmunya, sedikt2 saya mulai sadar kalau ternyata….. Saya hanya bisa, untuk suka belum bisa sepenuhnya.

Masih punyaaaa banyak cita-cita seputar desain. Tapi gak buat soksok direalisasiin sendiri kayaknya πŸ˜† #saatnyakaderisasi #behguaya

Nah, ceritanya saya lagi buka-buka ulang sekaligus mengabadikan sak duikit portfolio yang pernah saya buat dan mereka ini yang paling favo! dimata sendiri. Haha ya iyalah, siapa lagi yang muji kalo bukan diri sendiri.

Sekian curhatan saya, intinya…

Belajar aja terus buat ngasah skill. Tapi skill disini bukan sembarang skill, kalau yang sekarang saya tanamkan jauh di dalam pikiran adalah usahakan terus apa yang kamu bisa dan suka. Ditambah bumbunya do’a minta sama Allah, moga makin dilapangkan jalan pilihannya dan ditunjukkan yang terbaik sama Allah.

Satu lagi, capek-capek salah jurusan pun ndak masalah. Kalau memang sudah terlanjur nyemplung, semangat perjuangkan dan selesaikan yang sudah dimulai. Sembari renungi ulang, dimana maksud Allah menakdirkan kita lahir di dunia ini. Allah pasti punya maksud dari semua perjalanan hidup kita sampai saat ini…

Semangat yhaaa semuwa!

Surabaya, 29.08.17

Advertisements

[Resume] Kopdar MIIP Surabaya 2 Batch #4

Disampaikan oleh Dyah Kusumastuti Utari & Dian Kusumawardani (keduanya senior IIP Surabaya dan Mbak Dyah ; inisiator IIP Surabaya)

Surabaya, 27 Agustus 2017


Materi 1 mengenai Pandu 45 dan 34 Tema Bakat Anak

Alhamdulillah, finally we met :))

Dan dapat suntikan energi luar biasa, kalau di FIM energinya anak muda yang ingin membuat perubahan, kalau di IIP energinya perempuan pembangun peradaban.

Pinjem kata Mbak Dyah “Never Stop Learning, Because Living Never Stop Teaching”

Bukan hanya perempuan yang berstatus istri dan ibu saja yang wajib mempersiapkan dan terus belajar, tapi semua yang menyadari bahwa untuk dapat bertahan dalam hidup, untuk tidak tergerus dengan arus, untuk dapat memberikan manfaat, maka belajarlah. Seiring waktu saya semakin merasa bahwa ilmu yang baik adalah yang disampaikan dan diamalkan.

“sebaik-baiknya manusia, ialah yang bermanfaat bagi manusia lainnya”

Rasulullah SAW

Sebetulnya, sedikit banget yang saya tulis di buku catatan tentang materi kemarin. Tapi menulis ulang disini memaksa saya untuk merecall ingatan kemarin.

Bismillah, kalau ada salah-salah mohon dimaklumi yhaaa… dan mohon untuk tidak menjadikan acuan. Alangkah baiknya cari tambahan referensi yang lain supaya makin kaya pengetahuan πŸ™‚


Pandu 45 adalah pembagian aktivitas bakat anak. Terbagi dua menjadi interpersonal dan individual. 

Interpersonal adalah segala bentuk/jenis aktivitas yang sifatnya berhubungan dengan orang lain. Interpersonal lebih mengarah pada bakat bidang.

Dibagi menjadi 3 bagian yaitu

  • Memposisikan diri berada di atas orang lain dalam melayani
  • Memposisikan diri sejajar dengan orang lain dalam melayani
  • Memposisikan diri berada dibawah orang lain dalam melayani.

Individual adalah segala bentuk/jenis aktivitas yang sifatnya berhubungan dengan diri sendiri. Individual lebih mengarah pada bakat sifat.

Berikut adalah rincian pandu 45 yang saya ambil dari link ini. Sambil ngintip sambil belajar wkwk *modus*. Kalau untuk yang 30 bakat, ada informasi lebih lanjut di talents mapping milik Abah Rama  di http://www.temubakat.com πŸ™‚

A. Interpersonal Diatas Orang - Rasa1. Commanding2. Selling3. Mediating4. Sellecting5. ArrangingA. Interpersonal Diatas Orang - Rasa1. Commanding2. Selling3. Mediating4. Sellecting5. Arranging (1)A. Interpersonal Diatas Orang - Rasa1. Commanding2. Selling3. Mediating4. Sellecting5. Arranging (2)

Banyakk πŸ˜‚


Dibawah ini 34 Tema Bakat

Nah kalau tema bakat, saya culik gambarnya dari link ini

Untuk arti dan penjelasan gamblangnya, insyaAllah nanti waktu materi sudah di share, akan saya share lebih lanjut.

34-bakat-elma

Note dari sesi tanya jawab :

  • Anak kecil akan memiliki banyaaak sekali minat yang akan terlihat dari kebiasaannya sehari-hari. Mungkin seiring waktu akan terus berubah-ubah, tetapi orangtua sebagai fasilitator alangkah baiknya terus memperhatikan minat anak dan mendampinginya untuk menemukan mana yang betul-betul menghasilkan “it’s me”
  • Dari sekian banyak jenis aktivitas yang dilakukan anak-anak, orangtua perlu mencatat/mengikuti dan mengembangkan terus kemampuan anak yang pada akhirnya nanti akan mengerucut dengan cara meningkatkan level sedikit demi sedikit. Hingga mendapatkan hasil, dimana kemampuan anak dapat terus dipupuk dan menemukan fitrah bakatnya. Mengembangkan kemampuan anak tidak perlu dengan biaya yang mahal. Ikuti dan tingkatkan sedikit demi sedikit level yang orang tua mampu sediakan, hingga ketika telah menemukan bakatnya maka InsyaAllah anak telah siap difasilitasi dengan pasti.
  • Pembiasaan kepada anak dilakukan sedari kecil namun untuk diajak melakukan kebiasaan yang memiliki konsekuensi, perlu dilatih untuk diajak dengan durasi waktu 90 hari dan batas usia anak diatas 7 tahun. Saya juga masih butuh pembiasaan hehe
  • Mengapa orangtua perlu menggali terus keunikan dan bakat anak? supaya anak tidak perlu menjadi yang bukan dirinya sendiri. Agar aktivitas yang anak lakukan mampu mencapai 4 E, yaitu Easy, Enjoy, Exellent dan Earn.
  • Apakah hobi sama dengan bakat? Hobi berbeda dengan bakat. Hobi adalah kegiatan yang dilakukan hanya sekedar suka. Sebetulnya dapat dilihat melalui yang dihasilkan dari kegiatan tersebut, jika bakat maka hobi tersebut nantinya akan mampu menghasilkan.
  • Beri anak punishment diatas 7 tahun, serta bedakan konsekuensi dengan punishment. 
  • Dream, share and do. Saya lupa benang merah, dari quote yang ini. Yang saya ingat adalah ketika kita mempunyai mimpi maka catatlah, sebesar apapun itu. Yakinkan diri bahwa Allah akan mempermudah langkah kita.

Jadi, sebatas itu resume yang bisa saya tulis disini, semoga Allah mudahkan saya mengemban amanah sebagai perempuan. 

Semoga Allah mudahkan para perempuan di luar sana 😊

Saya selalu percaya bahwa perempuan adalah rahim peradaban dan yang mampu memastikan lahir generasi kuat adalah dimulai dari dalam keluarga.

Terima kasih IIP, Bunda Septi Peni, Mbak Dyah (Pemateri), Mbak Dian (Pemateri), Mbak Amma (Fasil saya, terbaik mbak Amma dg segala keriweuhannya bersama Salfa πŸ˜†) dan semua anggota IIP Batch #4 Surabaya 2 😊

Review : School Of Life Lebah Putih

Prolog –

Setahun lebih berjalan, saya mengenal dunia pendidikan dan itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan ibu kos saya yang 40 tahun mengabdikan dirinya di dunia tsb. Kenapa gitu sampe bawa-bawa ibu kos πŸ˜‚.

Sejak mengenal lebih dekat dan berinteraksi langsung setiap harinya dengan anak-anak membuat saya benar-benar merasa β€œit’s me” saya yakin dengan diri saya sendiri, saya pede, saya semangat dan semakin merasa hidup.

Cerita panjang yang akan saya ceritakan dibawah adalah rangkaian perjalanan beberapa hari yang lalu.


Alhamdulillah, Allah mengijinkan saya untuk mengulik salah satu kebaikan yang tersembunyi dibalik kenyamanan kota Salatiga. School of Life Lebah Putih milik Padepokan Margosari ; Bu Septi Peni Wulandari dan Pak Dodik Maryanto. Dinamai sekolah alami dan sekolah kehidupan.
Letaknya tidak jauh dari Kota Salatiga dengan suasana yang tenang dan sejuk. Lokasi Lebah Putih memang sedikit masuk ke dalam dan tidak berada persis di pinggir jalan raya.


Sekolah ini mengunggulkan character value di kegiatan yang ada di dalamnya. Tidak seperti yang notabene kita tau bahwa kegiatan sekolah selalu terpaku dengan duduk manis di dalam ruang kelas, buku-buku cetak serta jam pelajaran yang mengikat. Sekolah ini memberikan suasana lain dalam belajar sehingga anak-anak justru betah di sekolah.

Awalnya yang bikin saya amaze dengan cerita Enes adalah yang diuji pertama kali untuk mendaftar di sekolah ini justru orang tuanya. Orang tua betul-betul dilibatkan langsung dalam kegiatan belajar yang dialami siswa. Bukan dalam artian orang tua ikut dalam keseharian belajar, tetapi terlibat untuk β€œnyemplung” sebagai role model bagi si anak. Karena semua anak memiliki hak yang sama untuk mendapat pengajaran, maka yang betul-betul diuji adalah orang tuanya. Apakah orang tua bersedia memiliki komitmen untuk membersamai tumbuh kembang anak, meskipun anak telah dititipkan di sekolah.

Contohnya seperti ini, setiap hari Jum’at, Lebah Putih selalu mengadakan event yang bernama Kelas Bintang. Kelas Bintang ini memiliki kegiatan yang dipandu sendiri oleh orangtua dan beliau-beliau akan mengajarkan secara langsung kemampuan yang dimiliki. Entah itu dibidang memasak, dibidang musik ataupun dibidang lainnya.

Dari sini maka timbullah rasa bangga dari anak melihat orangtuanya memiliki sikap tauladan yang nantinya akan menumbuhkan berlipat-lipat kebanggaan dan rasa percaya diri si anak dengan melihat orangtuanya. Tidak hanya itu, selama anak dan orangtua menjadi bagian dari Lebah Putih, orangtua diberi wadah tersendiri untuk membentuk komunitas yang nantinya akan terus berlanjut, baik setelah kelulusan anak dari Lebah Putih. Para orangtua ini membentuk komunitas-komunitas belajar yang terdiri dari banyak sekali minat belajar dan akhirnya saling berbagi.

Jika keluarga A memiliki minat belajar dalam bidang matematika, maka keluarga yang lain akan belajar dari keluarga A. Jika keluarga B memiliki minat belajar dalam bidang kesenian, maka keluarga yang lain akan belajar dari keluarga B tersebut. Dari sanalah tumbuh lingkaran keluarga yang semakin meluas dan kebermanfaatan akan terus berputar disebarkan. Keren ya 😍


Lebah Putih setiap tahunnya memiliki goals value yang akan diterapkan dan tahun ini, menanamkan nilai disiplin. Jadi nilai inilah yang akan ditanamkan oleh pengajar dan orangtua melalui kegiatan apapun dalam kesehariannya. Untuk itu sangat diperlukan sekali kerja sama antara semua komponen yang terlibat. Mengingat kegiatan belajar di sekolah hanya menghabiskan waktu kurang lebih 7 jam dan sisanya dilalui dirumah bersama orangtua.

Sekolah ini tidak ingin, hanya menjadi wadah dititipkannya anak-anak dan mencekoki mereka dengan hal-hal yang berbau akademis, sedangkan sekolah adalah fase yang memang perlu dilewati anak untuk mempersiapkan kehidupan dan masyarakat.

Pun adaaa kegiatan makan bersama yang sebagai seksi sibuknya pun anak-anak sendiri, mulai dari menyiapkan makanan, mencuci piring dan menata peralatan. Betul-betul pembiasaan ditanamkan di semua penjuru.

Saat berkunjung kesana, sayangnya kegiatan sudah selesai lebih cepat, karena ada agenda imunisasi. Jadilah saya tidak kebagian melihat anak-anak langsung. Namun ada 2 anak tersisa menunggu jemputan orang tuanya, mereka adalah Omar dan Keanu. Ketika ditanya apakah mereka betah sekolah disini, jawaban polos ala anak-anak “Betah, malah nggak pengen pulang”

Beda ya, beda banget dengan kondisi sekolah yang ketika bel pulang berbunyi, anak-anak justru saling lari sana-sini supaya lebih cepat pulang dan bermain dirumah.


Merinding melihat sebegitu dalamnya niat yang dipegang oleh semua pihak demi membangun generasi kuat di masa mendatang 😊

Akhir kata, semoga yang sedikit ini bisa memacu siapapun untuk punya pandangan yang lebih baik dan lebih maju lagi tentang pendidikan anak. Karena kalau kata Bu Septi Peni, sebetulnya semua harus dimulai dari dalam keluarga.

Jadi semoga, semakin banyak yang sadar akan betapa pentingnya meninggalkan generasi kuat untuk menghadapi jaman di masa mendatang πŸ™‚

Surabaya, 23.08.17

Cerita Jogja (1) : Mbak Masiti

Introvert bukan dalih untuk mendispensasi diri dari pergaulan yang terbuka. Meskipun memang seorang introvert, memiliki caranya sendiri untuk mengembangkan kemampuan bersosialisasinya. Kira-kira apa jadinya kalau sesama intro saling ngobrol?

Saya ucapkan beberapa kalimat diatas sembari berkaca, ngandani awake dewe (menasehati diri sendiri) wkwk.

Sabtu sore saya mbolang ke Jogja, modal pas-pasan dan ada seorang teman yang berniat saya repoti untuk bermalam. Kami lama sekali tidak bertemu semenjak kurang lebih 1,5 tahun, teman semasa kuliah dulu. Saya kenal beliau sebagai sosok yang tertutup namun selalu tampak optimis dengan pilihan-pilihan yang diambilnya.

Langkah kakinya cepat dan jarang basa-basi.

Flashback nya, dulu ketika di tahun pertama perkuliahan saya sering merasa roaming sewaktu kami ada dalam satu momen, atmosfir disekitar kami menjadi sangat sepi πŸ˜‚

Nah! Sore itu obrolan kami random sekali, tiba-tiba tertawa dan menangis. Tapi untuk kali ini saya tidak lagi merasa failed. Yang pasti, saya melihat sosok beliau kini tidak seperti 2 tahun yang lalu 😊

Awalnya saya terlanjur su’udzon lebih dulu, gimana kalo ini nanti akan tetep sama krik-kriknya πŸ˜‚

Saya cuma mbatin “padahal aku dah berusaha cari celah gimana caranya supaya obrolannya dak pasif”. Dan ternyataaaa, saya justru dapet yang lebih dari itu. Banyaaak sekali yang beliau ceritakan tentang meredam ego, tentang komitmen menjalankan sebuah pilihan, tentang berdamai dengan diri sendiri, tentang penerimaan bahwa takdir Allah selalu baik.

Bagaimanapun cara yang Allah miliki, terkadang kitalah yang kurang notice dengan kode-kode yang Allah kasih.

Dari situ saya semakin percaya ; 

Tiap manusia diuji dengan ujian masing-masing. Tiap-tiap manusia memiliki track perjuangan masingmasing. Dan Allah telah membuatkannya sesuai dengan batas kemampuan yang dimiliki.

Dari beberapa curhat yang tidak bisa diceritakan disini, yang saya tangkap untuk menasehati diri sendiri adalah 

  • Manusia selalu punya rencana, seeee rapih apapun itu, kalau Allah ndak berkehendak maka ya gak akan terjadi.
  • Kunci utama hubungan horisontal adalah berdamai dengan diri sendiri
  • Kunci utama hubungan vertikal adalah selalu berusaha husnudzon ke Allah, Allah yang akan jamin nasib kita.
  • Dan menerima bahwa rencana Allah pastilah yang terbaik. Terakhir ini kelihatannya sepele. Tapi penerimaan selalu beriringan dengan rasa ikhlas, yang sulit sekali dijalani.

Honestly, prolog saya mungkin kurang nyambung yak πŸ˜‚

Aslinya cuma pengen cerita dan pengen bilang bahwa perjalanan itu pasti membawa hikmah. Sekecil apapun kita menyadari, tapi semoga dari yang kecil pun kita bisa ambil pelajaran dan diamalkan 😊

Epilognya : Saya pengen foto sama mbak mas (panggilan untuk mbak masiti) didepan tulisan UGM tapi dak boleh πŸ˜₯ katanya ada mitos berakibat lulusnya lama wkwk. Anyway, semangat S2 nya mbaaakkk 😍

Mencari Ilmu ada Adabnya lho!Β 

muslimah.or.id

Ilmu adalah harta yang tidak akan habis dimakan waktu, ilmu adalah amal jariyah yang tidak akan pernah terputus dan ilmu adalah syarat diterimanya amal.

Tapi sebelum mencari ilmunya, taukah kita tentang adabnya?

Ternyata mencari ilmu pun butuh adab lho!

Supaya ilmu yang didapat nantinya akan terserap dengan maksimal dan kebermanfaatan ilmu yang didapat nantinya bisa terus dilanggengkan.

Sejauh melangkah dan sebesar ini diri bertumbuh, bukankah kita sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk sekolah. Yang katanya, sekolah itu dilakukan untuk mencari ilmu.

Adab mencari ilmu adalah aturan atau tata krama yang distandarkan pada diri, untuk dipatuhi dan dilaksanakan demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.

Jika mencari ilmu hanya terkotak-kotakkan pada sekolah formal, maka kita akan menganggap hanya ditempat tersebutlah kita mendapatkan ilmu tersebut. Namun berbeda jika kita memiliki sudut pandang bahwa dimanapun tempatnya kita bisa mendapatkan ilmu (hikmah), maka kita akan menghargai segala sesuatu tersebut sebagai perantara penyampai ilmu.

Bukankah ilmu yang kita dapat bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup kita? Bertujuan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan pun yang lebih jauh adalah meningkatkan kualitas keimanan kita. 

Karena ilmu yang kita miliki, semestinya kembali digunakan di jalan yang benar.

Barang siapa yang menimba ilmu, semata-mata hanya karena ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya.

Namun barang siapa menuntut ilmu karena ingin mengamalkannya, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat.

  • Adab adalah sebagai pemantik terbukanya pintu-pintu ilmu dari manapun
  • Adab adalah suatu hal yang tidak bisa diajarkan, tetapi ditularkan

    Berikut adalah adab mencari ilmu terbagi ke dalam 3 bagian ;

    ___

    Adab pada Diri Sendiri

    • Ikhlas dan bersedia membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk
    • Selalu bergegas, mengutamakan waktu
    • Menghindari sikap “merasa lebih tau”
    • Menuntaskan ilmy yang sedang dipelajari, diulang dan dituliskan. Sabar hingga pembelajaran selesai.
    • Bersungguh-sungguh menjalankan tugas

    Adab terhadap Guru Penyampai Ilmu

    • Berusaha mencari ridho guru, sepenuh hatu menaruh rasa hormat.
    • Mendekatkan diri pada Pemilik Ilmu
    • Tidak memotong pembicaraan guru, penuh perhatian terhadap ilmu dan penjelasan guru
    • Meminta ijin ketika ingin menyebarkan ilmu tersebut. Mencantumkan sumber sebagai bentuk penghormatan kita.

    Adab terhadap Sumber Ilmu

    • Tidak meletakkan sembarangan buku yang kita pelajari
    • Tidak melakukan penggandaan dan mendistribusikan secara sembarangan
    • Tidak mendukung plagiator
    • Dalam dunia online, tidak dianjurkan menuliskan copas dari grup sebelah
    • Dalam dunia online jangan mudah percaya sampai paham pada sumber ilmu yang kredibel

    ____

    Semoga dengan mengertinya kita akan tata krama dalam mencari ilmu, tujuan kita dalam mencarinya senantiasa dimudahkan dalam jalan yang baik. Karena ilmu menjadikan kita berarti saat masih hidup maupun tiada. Semangat mencari ilmu ya! 😊

    βž–βž–βž–

    Tulisan diatas merupakan rangkuman Materi #1 Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #4, yang saya tulis untuk catatan pribadi di buku kemudian saya tuliskan ulang disini dengan bahasa saya sendiri.

    Referensi Utama : Materi Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #4

    Semoga bermanfaat πŸ™‚

    Surabaya, 18 Agustus 2017

    [Review] Buku Panduan Mengurus Bayi (?)

    Belum nikah tapi sok pengen tau banget, tetek bengek urusan per-bayi-an πŸ˜‚

    Ndapapa i laf maiself.

    Jadi buku tebal dan berwarna-warni inilah buku dunia per-bayi-an yang bikin saya love at the first sight. Yeah!

    Sebetulnya, ini bukan buku dunia bayi pertama yang saya baca, tapi ini buku pertama yang bikin jatuh cinta.

    Buku dengan total 392 halaman ini adalah buku yang ringan dibaca buat emak muda dan calon emak. Meski memang kurang handly dan cocok di saku. Dalam artian sesungguhnya maupun kiasan.

    Dari buku inilah, bahkan saya mendadak punya perasaan jatuh cinta ke calon bayi yang bapaknya pun masih disimpen Allah -skip.

    Judul = Anti Panik Mengasuh Bayi 0 – 3 Tahun

    Penerbit = Tiga Generasi

    Dilihat dari judul, ketebak kan isinya apa? 

    Yap. Isinya akan ngublek-ngublek emak (dan bapak), untuk punya modal gimana caranya jadi orangtua bayi dengan rentang umur dimulai dari 0-3 tahun. Kenapa saya bilang ada bapak juga disana, karena banyaaak sekali alasan yang membuat ayolah para bapak, jangan jadikan anak-anak kita menjadi generasi tanpa ayah. Ada ayah namun tidak pernah andil dalam pengasuhan sang anak.

    Dan dibuku iniiii, ada banyak sekali do and don’t yang gak cuma dikhususkan buat ibu. Tapi juga buat bapak πŸ™‚

    Buku ini fullcolour sekali dan bahasanya mudah sekali dipahami. Saya dapat dengan harga 130rban karna ada potongan di salah satu olshop hihi. Tapi harga asli sekitar 160 ribu rupiah πŸ™‚

    Kalau temen-temen mau cari, insyaAllah offline di toko buku ada, tapi setau saya tidak ada selain di Gram****

    ___

    Kenapa harus buku ini?

    Bagi saya pribadi, sifatnya tidak menjadi harus. Tapi cukup baik dan menjadi tambahan pandangan untuk pembelajaran orangtua muda maupun calon orangtua.

    Dibuku ini pun ada banyak sekali ditulis tentang mitos maupun fakta yang sering kita dengar dan menjadi bahan simpang siur di kalangan masyarakat. Nah, bagi saya buku ini bisa menjadi salah satu referensi yang baik dengan latar belakamg kumpulan penulis yang mengerti dibidangnya. Diantara banyak kemudahan akses informasi yang bisa didapat saat ini, bagi saya pribadi buku cetak masih menjadi prioritas selama saku belum terlalu bolong πŸ™ˆ.

    Meski memang dalam kenyataannya dan dari berbagai kisah orangtua muda yang pernah saya dengar dan ikuti, mendidik anak tidak pernah semudah yang terlihat. Apalagi semudah ketika membayangkan yang ada di buku.

    Mendidik anak memang akan menjadi fase belajar sepanjang hayat dan melalui media apapun saya berusaha mengumpulkan ilmu untuk mempersiapkannya. Salah satunya melalui buku πŸ™‚

    Semoga bermanfaat!

    Quarter Life Crisis

    Udah lama ndak nulis. Pagi tadi saya berasa up down. Emang dasarnya gampang banget begitu πŸ˜‚.

    Tapi balik ke diri sendiri, kalo mau mager memang akan terus nothing dan justru menjadi pemicu untuk terus seperti itu.

    Membuka facebook pagi ini, yang saya dapat adalah reminder tentang 2 tahun yang lalu. 08 Agustus 2015, fase wisuda terlaksana. Wisuda tingkat sarjana πŸ™‚

    Alhamdulillah, karena ujian untuk menujunya selalu memiliki keseruan masing-masing. Tidak akan sama ukuran ideal setiap orang, termasuk tentang waktunya.

    Jika mengingat masa-masa sulit pada saat itu, rasanya lamaaaa banget endingnya, ada saja yang menjadi kerikil. Ada saja yang memicu untuk jatuh. Dan memang perjuangan selalu mengiringi setiap fase yang dilalui anak manusia dalam bertumbuh πŸ™‚

    Saya mensyukuri telah melewati fase-fase tersebut.

    Dalam beberapa artikel yang saya temui, usia 18-25 tahun adalah masa dimana quarter life crisis terjadi. Banyak sekali hal yang harus diputuskan dan ditimbang matang-matang agar tidak menjadi sebuah kesalahan yang berlanjut.

    Mungkin saya menjadi salah satu bagiannya πŸ˜‚. Akan mulai terasa bagi remaja yang memutuskan kehidupan sekolahnya masa SMA dan memilih untuk melanjutkan kuliah. Masa-masa kuliah adalah masa dimana penjajakan terhadap semua jenis kegiatan dan organisasi pun menarik hati. Pada akhirnya menjajali semuanya dan menjadikannya modal “dapet pengalaman”.

    Masa kuliah berakhir akan datang pertanyaan, kerja dimana, mau ambil bidang apa, bisnis atau kantoran, nikah atau s2 dlsb. Sebagai generasi Y yang mulai mengenal istilah passion dan life goals dalam hidup, manusia remaja setengah dewasa khas ini akan mengawali hari-harinya dengan galau dan pusing-pusing ria.

    Bahkan 2 tahun pasca lulus saya masih bergelut dengan diri sendiri menentukan hal ini. Beruntungnya dengan mengikuti program matrikulasi IIP, saya mulai mengenal bagaimana saya mampu membentuk diri.

    Saya seperti manusia dengan tipe generalis. Banyak sekali hal yang menjadi minat saya namun yang benar-benar spesifik didalamnya tidak ada. Hal ini tentu menjadikan langkah tidak kunjung diambil, terus-terus berputar dengan pikiran “bisa manfaat betul gak ya, ah udah banyak yang ambil bidang itu, yakin gak ya bakal bisa ngembangin dan seabrek dugaan yang membuat stuck berkepanjangan.

    Pada suatu ketika, obrolan saya dengan seseorang. Dia mengatakan “Ambil, yakini, pelajari dan mulai”. Saya terkekeh memikirkan langkah awal apa yang harus saya tentukan. Rasanya pengen semuaaa πŸ˜…

    But, you’re special with ur way.

    Jadilah kudunya yang dilakukan dalam masa Quarter Life Crisis ini menurut saya ;

    1. Buatlah jejaring pertemanan positif sebanyak mungkin
    2. Perdalam dan mengertilah diri sendiri
    3. Jangan memaksakan kehendak, kayaknya lebih great kalo melakukan A, tapi kapasitas diri cuma sampai di B. Stop, teruskanlah menekuni ysng betul-betul membuatmu suka dan bisa untuk melakukannya. Karena yang tau tentang hal itu ya cuma dirimu sendiri.
    4. Stay calm dan perbanyak mengupgrade pengetahuanmu tentang banyak hal.
    5. Pede dan it’s oke ndapapa. Kamu hebat dengan caramu sendiri.
    6. Fokus!
    7. Selamat mencoba

    Wallahu ‘alam 😊

    Semangat yaaaa! Semangat kita!

    Surabaya, 080817