[Review] Buku Kiki Barkiah

Kiki Barkiah merupakan salah satu dari sekian perempuan berlulusan tinggi yang memilih menjadi penanggung jawab amanah Allah langsung-dalam hal mendidik anak-anaknya. Mengenal nama Teh Kiki (ikutan manggil teh gitu) bermula dari Social Media yang pada saat itu ibarat sepantaran ketika saya mengenal Bukik Setiawan dengan bukunya “Anak Bukan Kertas Kosong”.Alhamdulillah membaca tulisannya yang tercetak baru Juli tahun ini. Karena memang ada satu judul baru yang di cetak Juni 2017. Sedangkan dua buku lainnya adalah kumpulan kisah pada tahun berkisar 2015.

Buku ini diterbitkan oleh Mastakka Publishing yang bertempat di Bandung dan penerbitan ini merupakan salah satu usaha yang beliau kembangkan bersama keluarga.


Salah satu potongan cerita yang ada pada buku berjudul 5 Guru Kecilku Bagian I

Wahai anakku…

Ummi teringat perkataan Imam Syafi’i yang menegaskan bahwa ilmu itu bukan yang dihafal dalam pikiran, tetapi yang bermanfaat dalam perbuatan.

Juga teringat sabda Rasulullah SAW ; yang artinya begini…

Hadist dari ‘Abdullah : Rasulullah SAW bersabda : “Tidak boleh iri kepada orang lain, kecuali dalam dua hal :

  1. Seseorang yang Allah beri harta dan ia belanjakan dengan baik
  2. Seseorang yang Allah beri hikmah (ilmu Qur’an dan Hadist) kemudian ia amalkan dan anjarkan kepada orang lain (Shahih Al – Bukhari No. 7141)

Oleh karena itu, belajar seperti inilah yang ummi harapkan dari sebuah tambahan ilmu bagi kalian dalam sekolah di rumah kita. Sebuah peningkatan kapasitas intelektual yang membuat kalian semakin mengenal kebesaran Allah sehingga dengan itu kecintaan kalian kepada Allah semakin bertambah.

Halaman 118 – 119


Semua yang dituliskan Teh Kiki ngaliiiirrr banget dari apa-apa yang dialami dalam keseharian beliau. Tutur bahasanya sabaaar sekali membuat pembaca seolah betul mengondisikan bagaimana bisa sesabar itu menghadapi anak-anak.

Karena menghadapi satu anak saja tidak bisa dijadikan acuan bagaimana cara mendidik yang baik dan sesuai. Karena seperti apapun cara yang baik, jika tidak tepat pada karakter anak juga tidak akan memberikan hasil seperti yang diamanahkan Allah. Sama seperti teh Kiki tidak bisa menyama ratakan cara pengasuhan kepada 5 anaknya.

Justru poin yang saya garis bawahi, beliau bukanlah seorang lulusan Psikologi. Namun semua kisah yang diceritakannya sungguh berhikmah mengalir benar-benar menuntun beginilah keseharian menjadi ibu, beginilah ikhtiar menumbuhkan anak-anak dan beginilah menjaga amanah dari Allah.

Kumpulan tulisan dalam tiga buku ini tidak seperti menggurui, kita sebagai pembaca layaknya dikisahkan langsung oleh penulisnya. Kisahnya berkelana namun pesan tetap sampai di hati 😊

Banyaaaak banget kisah yang pas bacanya bikin merinding.

Teh Kiki selalu menyelipkan hikmah dari kisah seeekecil sebuah kejadian, kalo dilihat kasat mata kita akan lebih mudah merasa bahwa itu hanya menguras energi dan emosi. Tapi bagi teh Kiki selalu ada berkah di tiap-tiap polah tingkah anak-anaknya. Setiap kejadian dalam keluarga bagi beliau adalah cara Allah menumbuhkan untuk menjadi lebih baik.

Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk menjadi salah satu tambahan amunisi tentang parenting. Plu-plusnya. teh Kiki menghadirkan konsep IQ, SQ dan EQ yang diramu dalam kumpulan kisah berhikmah seputar mengasuh anak.


Akhir kata, memang tidak akan pernah ada cara dan bentuk mengasuh dan mendidik anak yang sempurna. Pun tidak ada orangtua yang tidak ingin memberi yang terbaik bagi anak-anak mereka.

Menjadi orangtua tidak pernah habis dipelajari, belajarnya akan terus seumur hidup. Maka, semoga do’a-do’a kita sebagai manusia yang pernah melewati fase anak-anak (semua orang dewasa pasti pernah jadi anak-anak) tidak pernah terputus untuk mendo’akan orangtua kita.

Layaknya mereka yang tidak pernah berhenti mendidik dan mengasuh.

Allahummaghfirli waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbaayanii shogiiroo

Surabaya, 09.10.17

Advertisements

Yang Menerima

 

yuk belajar menerima
sumber gambar google.com

Nrimo ing pandum.

Dalam perjalanan pulang ngajar sore saya melihat tulisan ini sebagai sticker di sebuah truck.
Momen perjalanan selalu menyenangkan untuk saya merefleksi yang telah dilalui hari itu. Tiga kalimat tersebut seolah mengingatkan saya tentang banyak hal.
Kalau diartikan dalam bahasa Indonesia adalah menerima dalam pembagian. Pertanyaan selanjutnya adalah siapa yang menerima dan siapa yang memberi?

Manusia yang menerima dan Allah yang memberi. Allah yang Maha Memiliki.
Konteks kalimat ini, memang akan memberikan opsi kepada kita banyak sekali permasalahan hidup. Menerima pemberian, menerima peringatan, menerima sedih, menerima bahagia, menerima sakit, menerima sehat, menerima rejeki, menerima takdir bahkan sesederhana menerima kesempatan yang ternyata jatuhnya di kita. Padahal gak ngarepin kesempatan itu hadir. Selalu ada tujuan mengapa Allah memberikannya. Toh memang segala sesuatu yang kita “alami/miliki” saat ini adalah pemberian Allah. Maka kunci utama menjalani hidup semestinya adalah menyadari bahwa tidak ada yang kita miliki selain atas pemberian Allah. Pemberian yang diberikan oleh sebaik-baiknya pemberi.
Kadar yang Allah beri pun persis tanpa perlu susah-susah kita timbang (bandingkan) dengan milik orang lain. Porsinya sebanyak apa, jauhnya langkah sejauh apa, lamanya waktu selama apa. Semua itu hanya akan teratasi dengan lebih baik ketika dalam lubuk hati kita telah tertanam perasaan “menerima”.

Menerima bukan berarti pasrah tanpa mengusahakan apapun yang bisa kita usahakan.
Suatu ketika, saya mengajar di rumah siswa yang belum pernah saya tangani sejauh ini. Siswa ini mengalami suatu hal yang mengakibatkan dia harus kehilangan “kesadarannya” akan segala sesuatu. Diajak ngomong a, jawabnya z, ditanya ini jawabnya itu. Dlsb. Qodarullah, Allah kuatkan keluarganya dalam segi apapun, materiil maupun non materiil. Hingga kekuatan hati, kalo istilah saya.

Saya hanya terus bertanya dalam hati sepanjang perjalanan pulang. Sekuat apa orangtua dan orang-orang di sekitarnya untuk “menerima”?

Karena penerimaan atas ketetapan yang Allah beri adalah kunci untuk dapat menjalaninya. Dan ternyata ini sudah tahun ketiga keluarga tersebut menjalani. Semoga senantiasa Allah kuatkan. Sejatinya kita memang perlu dihadapkan dengan kondisi-kondisi seperti itu untuk tidak lupa bahwa ada yang perlu kita prihatinkan dan syukuri.
Meyakini bahwa semua ketetapan Allah adalah baik. Meskipun proses menerima yang kita lakukan tidak akan mudah.
Saya selalu suka mengatakannya dengan kalimat “memiliki pemahaman baik” yang itu artinya tidak jauh-jauh dengan bagaimana kita mengolah emosi, menjernihkan pola pikir, memilah tindakan, melakukan aksi dan mendapat reaksi yang akan berujung pada penerimaan setelah kita berupaya.

Mbuleeeet ae bahasanya wkwkw
Memang betul ini prakteknya syusaaaaaah sekalih. Tapi masyaAllah luar biasa rasa yang  bisa menerima dalam hati. Seperti yang saya lihat dari orangtua siswa saya , terpancar dari matanya seolah berkata “sudah diberi jatahnya begini bu, diambil hikmahnya. Segala sesuatu pasti ada hikmahnya


Semoga kita dimudahkan menjadi orang yang tidak hanya mudah sekali mengatakan “percaya pada takdir Allah” tapi juga mempercayakan pada Allah bahwa Allah sebaik-baiknya pemberi. Maka kita akan menjadi hamba Allah dengan sebaik-baiknya penerima. Semoga Allah lapangkan hati #mewek

Surabaya, 6 Oktober 2017

Tuh kan, kejedot….

124659_kidstairs_getty

 

“Tuh kan, kejedot….”

“Hehe iyaaa….”

Sambil sedikit mengaduh dan mengusap-usap kepalanya, sembari saya bantu. Seketika itu rasa bersalah saya muncul dan sejurus kemudian saya minta maaf karena telah membiarkan omongan tadi terlepas dari mulut saya.

Tapi senyum polosnya masih mengembang. Fazila, siswi kelas 1 SD yang hobinya tersenyum dan tertawa dengan nada default “hehe”. Awalnya saya sudah ingatkan dia untuk berhati-hati, karena kelas pagi ini kami belajar di loteng sekolah yang disulap menjadi creativity class. Jadi lesehan gitu ceritanya…

Nah ada satu sudut yang memang rendah, otomatis memungkinkan untuk mudah terkena kepala jika tidak hati-hati sewaktu berdiri.

Entah kenapa, saya terus teringat dengan kalimat yang saya ucapkan kepadanya…


Sebetulnya hanya perlu mengganti kalimatnya menjadi ;

“Habis kejedot ya… sakit ndak? (sambil tetap mengusap-usap kepalanya) lain kali lebih hati-hati lagi ya” 

Tapi yaaa begitulah terlanjur terucap, akhirnya dengan rasa bersalah dan terus terfikir maka saya hanya bisa minta maaf untuk memperbaiki pola pikirnya yang (semoga belum) mencatat “kok aku disalahkan….”

Maafin ibuk ya Zila…


Di sebuah artikel yang saya lupa persisnya…

Hal-hal kecil seperti ini yang sering membuat orang tua tanpa sadar membiarkan anak-anak menyimpan memori tentang betapa mudahnya menyalahkan sesuatu, orang lain atau bahkan dirinya sendiri yang sebetulnya itu adalah bentuk ketidak sengajaan.

Dan ternyata….

Ini merupakan gaya parenting yang sudah populer digunakan dikalangan sekitar. Sikap “mudah menyalahkan” ini akibatnya bisa panjaaang sekali di masa depan.

 


 

Mengapa perlu berhati-hati dalam berkata pada anak?

Efek dari sikap diatas sama seperti ketika dalam kalimat menyalahkan tersebut ditambah dengan menyalahkan benda lain. Contohnya ketika anak jatuh, maka yang disalahkan ubinnya atau segala sesuatu yang memicu si anak jatuh.

Maka dalam memorinya tersimpan bahwa mudah sekali menyalahkan sesuatu. Ia akan merasa bahwa boleh-boleh saja atau sah saja mencari kambing hitam untuk tidak bertanggung jawab atas dirinya.

Misalnya dalam sebuah contoh ;

Anak tidak sadar jika air di dalam gelas yang ia pegang, tumpah. Lantai rumah menjadi basah dan licin.

Maka orang tua pada umumnya akan bertanya “Kok bisa tumpah?”

Yang semestinya kalimat tersebut akan lebih efektif jika dirubah menjadi “Airnya tumpah ya… Yuk bantuin ibuk keringkan/bereskan”

Anyway, saya nulis ini sambil jejeritan dalam hati nemuin solusi perdebatan yang ada dalem pikiran XD

Jadi ngerasa, ya ampuuuun belajarnya masih kurang. Jadi bilang ke diri sendiri “Iya ya… kan gitu lebih baik ya. Iya ya ya ampuun…”


Sedikit solusi dari masalah diatas ;

  1. Sebetulnya hanya perlu tahan emosiiiiii wkwk yang ini syuusaaaah. Regulasi emosi. Belajar lagi lah yhaaa…
  2. Tampung pikiran positif dan fokus pada solusi
  3. Tujuannya untuk membuat anak menjadi bertanggung jawab atas dirinya, maka jangan biarkan pikiran kita terfokus dengan “alasannya, kenapa bisa begini, kenapa bisa begitu”
  4. Segera minta maaf ke anak, kalau terlanjur 😦

Dampak yang berakibat pada anak ;

  1. Anak akan mudah mencari kambing hitam atas permasalahannya
  2. Itu artinya, ia telah dibiasakan untuk tidak bertanggung jawab atas apa yang ia alami
  3. Anak akan mudah berbohong dan mencari-cari alasan atas terjadinya sesuatu
  4. Anak menjadi mudah ragu bertindak karena merasa apa yang ia lakukan akan mudah disalahkan
  5. Menjadi demotivated
  6. Menjadi mudah bingung, kecewa, marah dan seabrek sikap-sikap negatif lainnya
  7. Menjadi sosok yang mudah menyalahkan dirinya sendiri kemudian lelah terhadap jiwanya..
  8. Mudah membuat jiwanya merasa lemah dan tidak percaya diri

Curhat sore ini. Bismillah bisa lebih baik lagi. Semangat yang lagi berjuaaaangg 🙂

Surabaya, 12.09.17

Tambahan referensi :

http://www.zeth-house.com/2016/05/menyiapkan-anak-tangguh-di-era-digital.html

http://sayangianak.com/orantua-harus-berhenti-menyalahkan-hal-lain-untuk-kesalahan-anak-bahaya-itu-bagi-perkembangan-oribadinya-dalam-jangka-panjang/

 

Aku Shallow Work atau Deep Work (?)

growth-mindset
imagesource : Pinterest

Kemarin sempet nulis di status WA tentang betapa perasaan kita sekarang mudah sekali di kotak-kotakkan karena melihat hal-hal yang terlihat lewat status instagram, igstory, status wa dlsb. Notabene kebanyakan yang diperlihatkan di social media adalah hal-hal yang bagus dan wah. Kita mudah baper dan nyinyir, kita mudah sekali melihat dan membandingkan “aku udah ngapain aja ya?”.

Ya karena aktivitas kita saat ini dekat sekali dengan hal-hal tersebut.

Nah, pas waktu buka lagi buku resume di materi ini saya menemukan tulisan “Jangan mudah terjebak Shallow Work. Ayo usahakan Deep Work” yang saya tulis gede-gede disitu.

Apasih Shallow Work, Deep Work?

Shallow Work adalah aktivitas yang memperlihatkan kita seperti sibuk tapi sebetulnya tidak ada impact yang terjadi di dalam kehidupan kita. Aktivitas yang dangkal dan mudah terdistraksi dengan hal-hal yang lain.

Sedangkan Deep Work adalah aktivitas yang memerlukan fokus, ketajaman berpikir dan membawa perubahan dalam hidup. Menghasilkan kebermanfaatan yang berlanjut dan meningkatkan pemahaman akan baiknya menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Sebelum berlanjut, tulisan yang akan saya tulis disini bukan bermaksud untuk menyinggung siapapun. Bukan juga untuk dijadikan bahan rujukan atau jadi semacam “kata tulisan yang pernah ku baca….” Karena saya tidak memiliki banyak ilmu mengenainya.

Semoga bisa menjadi bahan renungan yaaa 🙂


 

Di materi kedua Matrikulasi Institut Ibu Profesional, tugas yang peserta dapat adalah membuat indikator untuk diri sendiri yang memenuhi 5 aspek yaitu SMART.

  • Specific (Unik/Detil)
  • Measurable (Terukur)
  • Achievable (Bisa diraih)
  • Realistic (Berhubungan dengan kondisi sehari-hari)
  • Timebond (memiliki batas waktu)

Setelah menyimpan amunisi pertama yaitu adab menuntut ilmu, maka dilanjutkan dengan menentukan indikator. Indikator ini bertujuan untuk memudahkan kita memulai langkah awal, mengarahkan langkah sesuai dengan apa yang kita citakan, memetakan kemampuan diri, mendisiplinkan diri, mengaktualisasikan dan meningkatkan level produktivitas diri.

Tidak lain untuk menghindari shallow work atau shallow activities.

Karena jika diamati, kehidupan kita sehari-hari saat ini rentan sekali terjebak shallow activites.

Alih-alih sibuk dan menyibukkan diri dengan aktivitas yang tengah dijalani, kita juga mudah tergelincir terjebak pada aktivitas yang tidak berarti. Semoga kita tidak terlena sehingga lupa apa tujuan serta kebermanfaatan yang sedang kita cari melalui aktivitas tersebut.

Shallow work sulit sekali untuk dihindari jika tidak betul-betul fokus. Dalam review buku milik Cal Newport, penyebab utama hilangnya kemampuan beraktivitas secara mendalam adalah karena hadirnya pemicu distraksi seperti smartphone, televisi dan alat hiburan lainnya.

Jika dengan smartphone membuat kita mudah terlihat “sibuk” namun sejatinya tidak ada yang kita dapatkan dari “kesibukan yang tampak” tersebut.

Dengan televisi atau hiburan lainnya, kita sibuk dan membiarkan candu merasuki alam bawah sadar dengan merasakan nyamannya memanjakan mata.

Maka dianjurkan untuk fokus dan berkomitmen menjauhi hal-hal yang akan mendistraksi saat sedang mengerjakan sesuatu. Karena shallow activities membuat kita terjebak pada hal-hal yang terasa ada namun sama sekali tidak memberikan perubahan yang berarti. Membuang-buang waktu serta tidak meninggalkan jejak yang bermakna.

Shallow work memberikan dampak buruk untuk progress skill dan kemampuan kita. Katakanlah, alih-alih niat beribadah kita justru menjadi lupa niatnya ketika sudah sibuk mempostingnya di sosial media.

Semoga kita dihindarkan dari hal-hal yang diam-diam menghancurkan.

Semoga kita dimudahkan memperjuangkan kebermanfaatan dan diteguhkan kembali pada niat utama.

Jadi, selama ini kita yang mana? Shallow work atau Deep Work.

 ➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Referensi Utama : Materi Pekan 2 Matrikulasi Batch #4 Institut Ibu Profesional

https://swa.co.id/swa/review/book-review/bekerja-secara-mendalam

 

Sedikit Portofolio

Ternyata aktifitas yang bisa kita lakukan adalah aktifitas yang belum tentu kita suka lakukan.

Karena IIP saya belajar ilmu ini. Saya adalah hasil salah jurusan, mungkin bisa 90% jika di prosentase 😂

Jiwa saya masih saja terpanggil ke dunia anak-anak. Itupun yang coba terus saya hadirkan dalam aktifitas keseharian selama kuliah sampai saat ini.

Di sela kuliah dulu, saya suka ikut-ikut Kelas Inspirasi yang dikebawahi Indonesia Mengajar namun dalam lingkup yang lebih kecil dan langsung menghadirkan para profesional di bidangnya masing-masing. Saya bisa belajar dari pendongeng, dari penari, perawat dan masih banyak lain tentang keahlian mereka.

Di tengah perjalanan skripsi, saya coba-coba untuk istiqomah meneruskan daftar Forum Indonesia Muda yang membawa saya pada komunitas Gerakan Mendongeng Malang. Which is tetap bergelut dengan anak-anak.

Sampai pada akhirnya, saya yang pernh separuh perjalanan penelitian kembali galau dan pindah haluan balik untuk pilih penelitian seputar anak. Jatuhlah penelitian ke Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Malang, meski gak all out selama disana. Tapi berada di lingkarannya banyak membukakan mata saya.

Pasca wisuda, perjalanan mencari pekerjaan betul-betul jadi ajang perjuangan wqwq

Saking gak expert di bidang apapun selama kuliah. Teriaknya dalam hati juga pengen terjun di dunia anak-anak aja.

Qadarullah, setahun dapet kerja di perusahaan IT Consultant, membuat saya merasa no progress. Dan ada satu fase panjang…yang membuat saya dihadirkan di tempat saya bekerja saat ini.

Curhat ceritanya wkwk. Jadi saya suka desain, selama belum ngajar, di kantor lama pun saya suka ndesain. Tapi ndak bertumbuh.

Setelah tau ilmunya, sedikt2 saya mulai sadar kalau ternyata….. Saya hanya bisa, untuk suka belum bisa sepenuhnya.

Masih punyaaaa banyak cita-cita seputar desain. Tapi gak buat soksok direalisasiin sendiri kayaknya 😆 #saatnyakaderisasi #behguaya

Nah, ceritanya saya lagi buka-buka ulang sekaligus mengabadikan sak duikit portfolio yang pernah saya buat dan mereka ini yang paling favo! dimata sendiri. Haha ya iyalah, siapa lagi yang muji kalo bukan diri sendiri.

Sekian curhatan saya, intinya…

Belajar aja terus buat ngasah skill. Tapi skill disini bukan sembarang skill, kalau yang sekarang saya tanamkan jauh di dalam pikiran adalah usahakan terus apa yang kamu bisa dan suka. Ditambah bumbunya do’a minta sama Allah, moga makin dilapangkan jalan pilihannya dan ditunjukkan yang terbaik sama Allah.

Satu lagi, capek-capek salah jurusan pun ndak masalah. Kalau memang sudah terlanjur nyemplung, semangat perjuangkan dan selesaikan yang sudah dimulai. Sembari renungi ulang, dimana maksud Allah menakdirkan kita lahir di dunia ini. Allah pasti punya maksud dari semua perjalanan hidup kita sampai saat ini…

Semangat yhaaa semuwa!

Surabaya, 29.08.17

[Resume] Kopdar MIIP Surabaya 2 Batch #4

Disampaikan oleh Dyah Kusumastuti Utari & Dian Kusumawardani (keduanya senior IIP Surabaya dan Mbak Dyah ; inisiator IIP Surabaya)

Surabaya, 27 Agustus 2017


Materi 1 mengenai Pandu 45 dan 34 Tema Bakat Anak

Alhamdulillah, finally we met :))

Dan dapat suntikan energi luar biasa, kalau di FIM energinya anak muda yang ingin membuat perubahan, kalau di IIP energinya perempuan pembangun peradaban.

Pinjem kata Mbak Dyah “Never Stop Learning, Because Living Never Stop Teaching”

Bukan hanya perempuan yang berstatus istri dan ibu saja yang wajib mempersiapkan dan terus belajar, tapi semua yang menyadari bahwa untuk dapat bertahan dalam hidup, untuk tidak tergerus dengan arus, untuk dapat memberikan manfaat, maka belajarlah. Seiring waktu saya semakin merasa bahwa ilmu yang baik adalah yang disampaikan dan diamalkan.

“sebaik-baiknya manusia, ialah yang bermanfaat bagi manusia lainnya”

Rasulullah SAW

Sebetulnya, sedikit banget yang saya tulis di buku catatan tentang materi kemarin. Tapi menulis ulang disini memaksa saya untuk merecall ingatan kemarin.

Bismillah, kalau ada salah-salah mohon dimaklumi yhaaa… dan mohon untuk tidak menjadikan acuan. Alangkah baiknya cari tambahan referensi yang lain supaya makin kaya pengetahuan 🙂


Pandu 45 adalah pembagian aktivitas bakat anak. Terbagi dua menjadi interpersonal dan individual. 

Interpersonal adalah segala bentuk/jenis aktivitas yang sifatnya berhubungan dengan orang lain. Interpersonal lebih mengarah pada bakat bidang.

Dibagi menjadi 3 bagian yaitu

  • Memposisikan diri berada di atas orang lain dalam melayani
  • Memposisikan diri sejajar dengan orang lain dalam melayani
  • Memposisikan diri berada dibawah orang lain dalam melayani.

Individual adalah segala bentuk/jenis aktivitas yang sifatnya berhubungan dengan diri sendiri. Individual lebih mengarah pada bakat sifat.

Berikut adalah rincian pandu 45 yang saya ambil dari link ini. Sambil ngintip sambil belajar wkwk *modus*. Kalau untuk yang 30 bakat, ada informasi lebih lanjut di talents mapping milik Abah Rama  di http://www.temubakat.com 🙂

A. Interpersonal Diatas Orang - Rasa1. Commanding2. Selling3. Mediating4. Sellecting5. ArrangingA. Interpersonal Diatas Orang - Rasa1. Commanding2. Selling3. Mediating4. Sellecting5. Arranging (1)A. Interpersonal Diatas Orang - Rasa1. Commanding2. Selling3. Mediating4. Sellecting5. Arranging (2)

Banyakk 😂


Dibawah ini 34 Tema Bakat

Nah kalau tema bakat, saya culik gambarnya dari link ini

Untuk arti dan penjelasan gamblangnya, insyaAllah nanti waktu materi sudah di share, akan saya share lebih lanjut.

34-bakat-elma

Note dari sesi tanya jawab :

  • Anak kecil akan memiliki banyaaak sekali minat yang akan terlihat dari kebiasaannya sehari-hari. Mungkin seiring waktu akan terus berubah-ubah, tetapi orangtua sebagai fasilitator alangkah baiknya terus memperhatikan minat anak dan mendampinginya untuk menemukan mana yang betul-betul menghasilkan “it’s me”
  • Dari sekian banyak jenis aktivitas yang dilakukan anak-anak, orangtua perlu mencatat/mengikuti dan mengembangkan terus kemampuan anak yang pada akhirnya nanti akan mengerucut dengan cara meningkatkan level sedikit demi sedikit. Hingga mendapatkan hasil, dimana kemampuan anak dapat terus dipupuk dan menemukan fitrah bakatnya. Mengembangkan kemampuan anak tidak perlu dengan biaya yang mahal. Ikuti dan tingkatkan sedikit demi sedikit level yang orang tua mampu sediakan, hingga ketika telah menemukan bakatnya maka InsyaAllah anak telah siap difasilitasi dengan pasti.
  • Pembiasaan kepada anak dilakukan sedari kecil namun untuk diajak melakukan kebiasaan yang memiliki konsekuensi, perlu dilatih untuk diajak dengan durasi waktu 90 hari dan batas usia anak diatas 7 tahun. Saya juga masih butuh pembiasaan hehe
  • Mengapa orangtua perlu menggali terus keunikan dan bakat anak? supaya anak tidak perlu menjadi yang bukan dirinya sendiri. Agar aktivitas yang anak lakukan mampu mencapai 4 E, yaitu Easy, Enjoy, Exellent dan Earn.
  • Apakah hobi sama dengan bakat? Hobi berbeda dengan bakat. Hobi adalah kegiatan yang dilakukan hanya sekedar suka. Sebetulnya dapat dilihat melalui yang dihasilkan dari kegiatan tersebut, jika bakat maka hobi tersebut nantinya akan mampu menghasilkan.
  • Beri anak punishment diatas 7 tahun, serta bedakan konsekuensi dengan punishment. 
  • Dream, share and do. Saya lupa benang merah, dari quote yang ini. Yang saya ingat adalah ketika kita mempunyai mimpi maka catatlah, sebesar apapun itu. Yakinkan diri bahwa Allah akan mempermudah langkah kita.

Jadi, sebatas itu resume yang bisa saya tulis disini, semoga Allah mudahkan saya mengemban amanah sebagai perempuan. 

Semoga Allah mudahkan para perempuan di luar sana 😊

Saya selalu percaya bahwa perempuan adalah rahim peradaban dan yang mampu memastikan lahir generasi kuat adalah dimulai dari dalam keluarga.

Terima kasih IIP, Bunda Septi Peni, Mbak Dyah (Pemateri), Mbak Dian (Pemateri), Mbak Amma (Fasil saya, terbaik mbak Amma dg segala keriweuhannya bersama Salfa 😆) dan semua anggota IIP Batch #4 Surabaya 2 😊

Review : School Of Life Lebah Putih

Prolog –

Setahun lebih berjalan, saya mengenal dunia pendidikan dan itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan ibu kos saya yang 40 tahun mengabdikan dirinya di dunia tsb. Kenapa gitu sampe bawa-bawa ibu kos 😂.

Sejak mengenal lebih dekat dan berinteraksi langsung setiap harinya dengan anak-anak membuat saya benar-benar merasa “it’s me” saya yakin dengan diri saya sendiri, saya pede, saya semangat dan semakin merasa hidup.

Cerita panjang yang akan saya ceritakan dibawah adalah rangkaian perjalanan beberapa hari yang lalu.


Alhamdulillah, Allah mengijinkan saya untuk mengulik salah satu kebaikan yang tersembunyi dibalik kenyamanan kota Salatiga. School of Life Lebah Putih milik Padepokan Margosari ; Bu Septi Peni Wulandari dan Pak Dodik Maryanto. Dinamai sekolah alami dan sekolah kehidupan.
Letaknya tidak jauh dari Kota Salatiga dengan suasana yang tenang dan sejuk. Lokasi Lebah Putih memang sedikit masuk ke dalam dan tidak berada persis di pinggir jalan raya.


Sekolah ini mengunggulkan character value di kegiatan yang ada di dalamnya. Tidak seperti yang notabene kita tau bahwa kegiatan sekolah selalu terpaku dengan duduk manis di dalam ruang kelas, buku-buku cetak serta jam pelajaran yang mengikat. Sekolah ini memberikan suasana lain dalam belajar sehingga anak-anak justru betah di sekolah.

Awalnya yang bikin saya amaze dengan cerita Enes adalah yang diuji pertama kali untuk mendaftar di sekolah ini justru orang tuanya. Orang tua betul-betul dilibatkan langsung dalam kegiatan belajar yang dialami siswa. Bukan dalam artian orang tua ikut dalam keseharian belajar, tetapi terlibat untuk “nyemplung” sebagai role model bagi si anak. Karena semua anak memiliki hak yang sama untuk mendapat pengajaran, maka yang betul-betul diuji adalah orang tuanya. Apakah orang tua bersedia memiliki komitmen untuk membersamai tumbuh kembang anak, meskipun anak telah dititipkan di sekolah.

Contohnya seperti ini, setiap hari Jum’at, Lebah Putih selalu mengadakan event yang bernama Kelas Bintang. Kelas Bintang ini memiliki kegiatan yang dipandu sendiri oleh orangtua dan beliau-beliau akan mengajarkan secara langsung kemampuan yang dimiliki. Entah itu dibidang memasak, dibidang musik ataupun dibidang lainnya.

Dari sini maka timbullah rasa bangga dari anak melihat orangtuanya memiliki sikap tauladan yang nantinya akan menumbuhkan berlipat-lipat kebanggaan dan rasa percaya diri si anak dengan melihat orangtuanya. Tidak hanya itu, selama anak dan orangtua menjadi bagian dari Lebah Putih, orangtua diberi wadah tersendiri untuk membentuk komunitas yang nantinya akan terus berlanjut, baik setelah kelulusan anak dari Lebah Putih. Para orangtua ini membentuk komunitas-komunitas belajar yang terdiri dari banyak sekali minat belajar dan akhirnya saling berbagi.

Jika keluarga A memiliki minat belajar dalam bidang matematika, maka keluarga yang lain akan belajar dari keluarga A. Jika keluarga B memiliki minat belajar dalam bidang kesenian, maka keluarga yang lain akan belajar dari keluarga B tersebut. Dari sanalah tumbuh lingkaran keluarga yang semakin meluas dan kebermanfaatan akan terus berputar disebarkan. Keren ya 😍


Lebah Putih setiap tahunnya memiliki goals value yang akan diterapkan dan tahun ini, menanamkan nilai disiplin. Jadi nilai inilah yang akan ditanamkan oleh pengajar dan orangtua melalui kegiatan apapun dalam kesehariannya. Untuk itu sangat diperlukan sekali kerja sama antara semua komponen yang terlibat. Mengingat kegiatan belajar di sekolah hanya menghabiskan waktu kurang lebih 7 jam dan sisanya dilalui dirumah bersama orangtua.

Sekolah ini tidak ingin, hanya menjadi wadah dititipkannya anak-anak dan mencekoki mereka dengan hal-hal yang berbau akademis, sedangkan sekolah adalah fase yang memang perlu dilewati anak untuk mempersiapkan kehidupan dan masyarakat.

Pun adaaa kegiatan makan bersama yang sebagai seksi sibuknya pun anak-anak sendiri, mulai dari menyiapkan makanan, mencuci piring dan menata peralatan. Betul-betul pembiasaan ditanamkan di semua penjuru.

Saat berkunjung kesana, sayangnya kegiatan sudah selesai lebih cepat, karena ada agenda imunisasi. Jadilah saya tidak kebagian melihat anak-anak langsung. Namun ada 2 anak tersisa menunggu jemputan orang tuanya, mereka adalah Omar dan Keanu. Ketika ditanya apakah mereka betah sekolah disini, jawaban polos ala anak-anak “Betah, malah nggak pengen pulang”

Beda ya, beda banget dengan kondisi sekolah yang ketika bel pulang berbunyi, anak-anak justru saling lari sana-sini supaya lebih cepat pulang dan bermain dirumah.


Merinding melihat sebegitu dalamnya niat yang dipegang oleh semua pihak demi membangun generasi kuat di masa mendatang 😊

Akhir kata, semoga yang sedikit ini bisa memacu siapapun untuk punya pandangan yang lebih baik dan lebih maju lagi tentang pendidikan anak. Karena kalau kata Bu Septi Peni, sebetulnya semua harus dimulai dari dalam keluarga.

Jadi semoga, semakin banyak yang sadar akan betapa pentingnya meninggalkan generasi kuat untuk menghadapi jaman di masa mendatang 🙂

Surabaya, 23.08.17