[Resep] Kastengel

Kyaaaa.. akhirnya resep pun ditulis juga disini..

Cukup tiga kali gagal bikin nastar, karena resepnya berantakan. Comot sana comot sini, maklum masih newbie wkwk. Jadilah, resep yang kastengel ini supaya ngga kehilangan feel nya saya catet disini. Nanti kalo bikin lagi, bisa berhasil setidaknya 11 – 12.

Yay, lebaran kemarin saya coba buat kastengel yang hasilnya alhamdulillah nyess sesuai ekspektasi. Kalo mungkin temen-temen ada yang bernasib sama “suka coba-coba” kayak saya. Resep ini, jadi 2 toples bulat ukuran 250 gr insyaAllah, kalo ngga salah ๐Ÿ™‚

Semoga manfaat.

kue lebaran

Mencari Langkah Awal untuk Memulai

150224095954

Bismillahirrahmanirrahiim…

Alvin_Nice Homework #8 Program Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch 4

Semakin kesini, semakin membutuhkan keteguhan hati untuk bersungguh-sungguh. Semakin mengerucut dan fokus dalam menentukan langkah. Kendor, ada pasti. Namun saya harus mengingat tujuan yang ingin saya capai adalah menjadi pribadi yang terus produktif dan manfaat sebagai individu (single), istri (menikah), ibu (orangtua).

Sampai pada tugas kedelapan, dalam program IIP ini tugas yang telah dikerjakan memang membantu banyak dalam menjabarkan langkah konkrit yang sebelumnya terlalu sering hanya ada dalam pikiran.

Menilik NHW #7, pada kuadran 1 dimana kegiatan yang saya cantumkan termasuk ke dalam kategori SUKA dan BISA adalah menulis, mengajar anak, memasak, membuat diy dan mendesain.

Untuk menentukan langkah awal yang lebih konkrit, kali ini saya betul-betul perlu mendalami sebetulnya dimanakah saya ingin berkembang ke depannya. Karena hanya diperbolehkan memilih satu, maka saya memilih untuk kegiatan menulis.

Meski rasa-rasanya semua ingin saya rangkap menjadi satu. Tapi, duh aku mah apa gitu ๐Ÿ˜‚

Dari sinilah, saya ingin mencari pola yang sesuai dengan kondisi keseharian. Terus produktif dan menghasilkan, namun tidak meninggalkan kewajiban. Pun ketika pola telah ditemukan yang sesuai, maka kegiatan pendukung yang lain dapat dilakukan dengan perlahan agar bisa menambah kemampuan diri.

Dimulai dari

BE – Kita ingin menjadi apa?

Dalam hal ini, saya ingin menjadi ibu rumah tangga yang menulis. Meninggalkan jejak kebaikan melalui menulis. Seputar parenting, perkembangan anak-anak dan pernikahan.

DO – Kita ingin melakukan apa?

Hal paling dekat yang bisa saya lakukan adalah dengan cara terus menulis. Melalui pembiasaan diri terus menulis itu artinya saya akan terus berusaha memperbaharui diri. Memperbaiki pola tulisan.

Menulis tidak pernah lepas dari membaca. Maka dengan terus menulis, itu artinya saya harus terus membaca. Memperbarui diri dengan memperkaya informasi dari sumber manapun. Setelah itu, memilahnya dengan baik. Agar tulisan yang dihasilkan bisa turut andil dalam memberikan pola pikir yang baik kepada pembaca.

Untuk saya pribadi, menulis seperti memberikan energi pada diri sendiri, mengingatkan lalai pada diri sendiri, maka jika manfaat tersebut lebih mampu dirasa hingga banyak orang diluar sana. Maka saya ingin terus menebarkan manfaat melalui tulisan. Semoga.

HAVE – Kita ingin memiliki apa?

Saya ingin memiliki karya nyata dari kegiatan ini. Sebuah bentuk konkrit yang dapat dirasakan oleh orang banyak.


Setelah perumusan BE – DO – HAVE , perlu membagi dimensi waktu menjadi sebagai berikut ;

Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)

Dalam kegiatan menulis, terkadang saya berfikir bagaimana jika tulisan-tulisan yang pernah saya tulis terlewatkan dan saya lalai dalam hal tersebut. Saking semakin banyak yang saya tulis, saya takut menjadi lupa dan tidak melaksanakannya. Alih-alih terus menulis agar orang lain mampu memetik hikmahnya, tapi justru saya sendiri luput dari itu. Naudzubillahimindzalik. Semoga Allah mengampuni atas semua tulisan yang pernah saya tulis. Mengingat Allah sangat membenci kaum yang mengatakan sesuatu namun tidak melaksanakannya.

Dan yang ingin saya capai dalam kurun waktu kehidupan adalah saya ingin terus memperbaiki diri, salah satunya melalui menulis. Menulis untuk memperbaiki diri, mengupgrade ilmu, menggali ilmu dan saya ingin membuat buku. Ini merupakan satu-satunya cita-cita semasa kecil yang tidak pernah saya kubur sampai saat ini.

Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan (strategic plan)

Dalam kurun waktu 5 – 10 tahun ke depan, karena langkah untuk menulis telah saya tetapkan untuk saya tekuni disini. Maka, yang perlu dicapai agar tujuan awal tercapai adalah saya harus memulai dengan mengerti bagaimana cara menulis yang baik, bagaimana cara mengambil informasi yang baik, bagaimana cara membuat buku yang baik dan semua hal mengenai kepenulisan. Yang itu nantinya akan sangat mungkin jika saya menekuni dengan cara mengikuti komunitas yang dapat mengembangkan saya dalam hal tulis-menulis. Serta mengikuti workshop yang dapat menunjang dan mempertemukan saya dengan jaringan kepenulisan yang semakin luas tentunya.

Waktu 5 – 10 tahun ke depan saya menikah dan membersamai suami mencapai mimpinya, menjadi partner terbaik suami menjalankan visi-misi rumah tangga, memiliki anak, mengasuh anak, mengajarkan anak dengan kreatifitas sebaik yang saya mampu rumuskan, dari situlah sumber tulisan saya yang ingin saya jadikan buku.

Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun (new year resolution)

Dalam kurun waktu satu tahun ini, hal yang ingin saya capai adalah terus mengembangkan kemampuan menulis dan terus konsisten menulis dalam hal ini di blog. Membuat grafik dan menganalisa kemajuan bentuk penulisan dan riset yang dilakukan dalam melahirkan tulisan-tulisan.

Selain itu, saya ingin mencapai kemampuan tentang pengetahuan bagaimana mengonsep dan menghasilkan buku tercetak.

โ€œMulailah dengan PERUBAHAN, karena pilihannya hanya satu BERUBAH atau KALAHโ€

Quote diatas memang harusnya selalu berhasil menyadarkan diri, ketika kening mulai kendor. Karena perjalanan di tengah hutan tidak akan pernah terbuka tanpa dimulai dengan satu langkah menjejakkan kaki didalamnya. Hingga akhirnya menyadari, ternyata di tengahnya akan ditemukan sesuatu yang menakjubkan.

sumber gambar : google.com

Kompromi dengan Inner Child

maxresdefault
sumber : google.com

Ini adalah “topik lain” yang pernah saya janjikan untuk diri sendiri agar sempat menuliskannya disini. Akhir-akhir ini, saya memang banyak sekali menemukan pembahasan tentang hal ini, seolah benar-benar sepemikiran dengan saya yang mendadak sering ingat tentang inner child.

 

Selama di rumah, saya benar-benar merasakan “oh ternyata begini”. Mungkin karena sudah mulai mengerti bahwa ternyata jauh didalam diri setiap manusia, ada sifat anak kecil yang terus hidup hingga ia dewasa.

Sebelum terlalu jauh, inner child dalam artian harfiah yang saya pernah dengar dari seminar Bunda Elly Risman adalah anak kecil yang ada dalam diri kita. “Semua orang punya dan itu normal” ujar Bunda Elly. Tapi jika sampai mendominasi diri, itu akan jadi masalah.

Kalo yang dibawah setelah ini menurut pemahaman saya heheh ๐Ÿ˜€

Inner child akan terus dirasakan orang tersebut sampai dirinya bisa menguasai rasa damai untuk merubahnya menjadi lebih baik. Agar rantai itu terputus sampai dirinya saja. Tidak ada orang hidup tidak dengan masa lalu, namun masa lalu seperti apa yang membuatnya menjalani kehidupan mendatang. Kita tidak pernah bisa request sama Allah mau dilahirkan dalam kondisi keluarga dan orang tua seperti apa.

Bagi saya pribadi, satu-satunya cara menghilangkan trauma yang masih tertinggal adalah dengan cara self healing. Terus belajar mengontrol emosi, terus memperbaiki diri dan sadar akan perubahan yang mesti dilakukan. Sulit memang, saya masih sering lepas kontrol ketika menghadapi murid di kelas, kemudian dia suka sekali menguji kesabaran. Marah, dongkol terus ngomong dengan nada yang perlahan meninggi. Pernah, tapi untung tidak terlepas jauh. Karena ada kondisi dimana anak tsb pintar sekali mengambil momen untuk membuat saya dongkol yang akhirnya ketawa juga.

Disitulah inner child sedang me-recall. Itu artinya, bayangan masa kecil ketika tidak sengaja dibentak, tidak sengaja menjadi pelampiasan banyaknya urusan yang dipikirkan orang tua saya dahulu. Tentu hal seperti itu tidak ingin saya turunkan ke anak-anak saya nantinya.

Tidak hanya marah, saya ambil contoh lain supaya bukan saya yang selalu jadi tokohnya ๐Ÿ˜‚

Pernah suatu ketika, banyak sekali hal-hal yang menumpuk menjadi beban pikiranmu, dan yang ingin kamu lakukan hanyalah menepi, membiarkan diri jauh dari siapapun. Kamu hanya ingin tenggelam dengan diri sendiri tanpa diganggu. Bahkan sampai kamu tidak peduli, apa yang tengah terjadi dengan orang disekitarmu. Simpulannya, egomu sedang sangat meminta tempat untuk diunggulkan secara tunggal.

Itulah inner child yang sedang terbangun, kala kamu mengingatnya lagi ternyata kamu sedikit-demi-sedikit menemuka benang merah. Saat kecil kamu pernah tidak digubris sama sekali, ocehanmu hanya seperti angin lewat, segala sesuatu yang kamu buat untuk menarik perhatian orang lain hanyalah sebuah kesia-siaan. Maka, saat dewasa “anak kecil” yang ada pada dirimu terbangun kembali.

Seperti itu kiranya, sependek pemahaman saya.


Awalnya, ketika saya belum ngeh-ngeh banget sama apa itu inner child, saya merasa semua yang terjadi di masa lalu, masa kecil dan masa kemarin sudah terlewatkan begitu saja. Saya hanya perlu mengingat yang baik.

Inner child meninggalkan banyak sekali bekas dalam diri manusia, maka ketika saya mulai mengerti dan merumuskan tentang bagaimana bersikap pada anak-anak nantinya, saya ingin memahami tentang hal ini dengan pasangan. Karena berdamai dengan diri sendiri membutuhkan waktu yang sangat lama, apalagi ketika menjalani pola pikir yang berbeda dengan orang yang tidak pernah menjadi satu didikan dengan kita. Menjadi satu dengan orang asing yang sejatinya pasti memiliki peninggalan semasa didikan orang tuanya terdahulu. Dan itu perlu di kompromikan bersama-sama.

 Menjadi orang tua pada abad ini memang menjadi sebuah tantangan. Dengan perkembangan arus informasi yang sangat mudah untuk didapat, sebagai orang tua justru kita harus mampu merumuskan jalan mana yang akan ditempuh untuk menyelamatkan anak-anak dari arus teknologi yang semakin deras atau melibatkan mereka didalamnya secara bijak.

Itu semua tidak lepas dari berdamainya diri dengan masa lalu untuk menjemput masa depan yang jauh lebih baik dan itu semuaaa..

Balik lagi kepada, sampai mana ilmu yang kita miliki untuk memperbaikinya. Saya disini, menuliskan ini sedang pada fase belajar dan terus belajar. Berusaha memperbaiki rantai generasi agar tidak terus terjadi perulangan yang sebaiknya segera diperbaiki bahkan jika harus diputus, maka sebaiknya diputus.


Yang perlu disadari adalah orang tua kita jaman dahulu belum memiliki akses mengenai ilmu parenting, sebanyak yang kita miliki saat ini. Maka, upaya berdamai tetap menjadi cara yang diprioritaskan. Toh sebenernya, kalo dipikir-pikir marahnya orangtua jaman dulu itu wajar sekali. Marah ya cuma marah-marah, apalagi sampe ketemu label “namanya juga anak-anak, dimarahin sekali diem”. Beda dengan sekarang, yang sedikit-sedikit di posting. Maka jadilah viral, lalu menimbulkan perdebatan.

Orangtua jaman dulu, sayang sama anak hanya diupayakan via harapan, do’a dan nasehat-nasehat. Jaman sekarang, sayang sama anak caranya pake mencarikan kegiatan seabrek supaya dia sibuk, ikut les ini itu supaya rangking 1 terus atau memfasilitasinya dengan semua kemudahan yang hanya dilakukan dengan satu click. 

 Ya semua itu sebatas simpulan saya sendiri. Seorang single yang pengetahuannya terbatas sekali dan insyaAllah diwaktu yang tepat dipersatukan dengan cerminan dirinya ๐Ÿ˜†#sabar #monggo diaminkan

Akhirnya, simpulan atas semua curhatan saya diatas antara lain ;

  • Memahami dan memilah masalah itu sangat diperlukan (supaya tidak mudah mengaduk-aduk semua masalah menjadi satu)
  • Terus berusaha untuk meregulasi emosi (ketika dongkol-maka diam dan tarik nafas, ketika berdiri-maka duduk, ketika duduk-maka berbaring, berwudhu dst.)
  • Jika diperlukan self healing, maka lebih baik pergi ke terapis. Untuk mendapat hasil yang benar-benar maksimal

Surabaya, 19 Juli 2017

Mengenali Diri Lebih Dalam

Bismillahirrahmanirrahiim…

Mendapat NHW#7 membuat saya ingin cepat-cepat menuntaskan, karena diawali dengan kegiatan talents mapping. Sebetulnya, ini bukan kali pertama bagi saya mengikuti tes bakat, banyak sekali jenis tes online yang pernah saya coba. Hasilnya pun, hampir semua berkaitan dan mirip-mirip. Kali ini, tes melalui situs http://www.temubakat.com dengan hasil sebagai berikut

talents

Dapat dilihat dari tes tersebut, kekuatan yang saya miliki ada pada :

  1. Ambassador : aktifitas yang berkaitan dengan komunikasi, membentuk jaringan, mengenali lebih dalam kepada sebuah lingkaran pertemanan. Bakat ini masuk sebagai Interpersonal Relating yang berkaitan untuk membangun hubungan baik dengan bekerja sama.
  2. Arranger : aktifitas ini berkaitan dengan pembagian tugas, termasuk ke dalam bakat Interpersonal Influencing. Kemampuan ini tepat digunakan untuk mengatur pendelegasian tugas kepada orang-orang yang dianggapnya mampu untuk mengatasi tugas tersebut.
  3. Caretaker : menaruh perhatian atau merawat orang yang memiliki masalah fisik, mental, medis atau kesejahteraan umum. Bakat ini termasuk kelompok rasa Interpersonal Serving. Terkait dengan melayani atau merawat orang.
  4. Educator : mengajar, menyampaikan, melatih ilmu dan atau ketrampilan agar bisa dipahami oleh orang lain. Bakat ini termasuk kelompok rasa Interpersona Relating. Berkaitan dengan kerjasama orang. Sifatnya selalu ingin memajukan orang lain dan senang melihat kemajuan orang. Bakat ini biasanya dibutuhkan untuk seorang guru, manager, pelatih, mentor dlsb.
  5. Strategyst : memilih atau merencanakan jalan terbaik untuk menuju tujuan. Bakat ini terkait kelompok rasa Individual Generating Idea. Berkaitan dengan otak kanan atas.

Sementara kelemahan saya lebih banyak 1 poin, dengan total 7 poin dibandingkan dengan kekuatan.

  1. Commander : mengatur dan mengawasi orang dalam melakukan tugas dengan cara yang keras. Bakat ini termasuk ke dalam kelompok rasa Interpersonal Influencing untuk mempengaruhi orang.
  2. Communicator : aktifitas ini berkaitan dengan menyampaikan informasi secara lisan dengan cara yang mudah dimengerti. Bakat ini termasuk kelompok rasa Interpersonal Relating yang terkait dengan kerjasama. Mereka yang memiliki bakat ini senang mengkomunikasikan sesuatu yang sederhana menjadi menarik.
  3. Distributor : aktifitas seperti mengirim barang, surat, dll dalam waktu yang hampir bersamaan ke tempat atau daerah tertentu. Bakat ini termasuk ke dalam kelompok rasa Individual Striving. 
  4. Marketer : aktifitas yang dilakukan dengan memperagakan produk melalui iklan, brosur, demo dll agar orang lain tertarik untuk membeli. Bakat ini masuk pada kelompok rasa Generating Idea.
  5. Producer : aktifitas memproduksi, membangun mesin atau bangunan. Termasuk ke dalam kelompok rasa Individual Striving.
  6. Safekeeper : aktifitas menjaga keselamatan dan keamanan dari bahaya dan kejahatan. Bakat ini masuk ke dalam kelompok Individual Striving di luar ruangan.
  7. Treasury : aktifitas menata keuangan dengan sangat rapih dan tanpa kesalahan. Bakat ini masuk ke dalam kelompok Individual Cognitive.

Strength Cluster (%) yang saya miliki adalah sebagai berikut :

  1. Generating Idea (33%) membangun ide dan mengandalkan intuitif
  2. Networking (33%) membangun  jaringan dan bekerja sama dengan orang
  3. Servicing (17%) melayani orang
  4. Headman (17%) mempengaruhi orang

Nobody is perfect. Pun dengan saya. Setelah mengikuti tes talents mapping ini, saya lebih mengerti bagaimana kiranya saya menguatkan diri dengan potensi kekuatan yang ada. Untuk kembali menjalani aktifitas sebagai seorang single dan nantinya yang ingin terus saya pupuk serta pelajari adalah ilmu untuk membersamai anak-anak serta suami.

Tes ini sangat berguna bagi saya untuk memetakan seperti apa nantinya, fokus saya sebagai profesi ibu rumah tangga secara penuh dan mencari pendapatan dari dalam rumah. Dengan kekuatan yang telah dijabarkan pada talents mapping diatas, saya ingin membuat perencanaan-perencanaan yang bisa saya atur untuk terus mengupayakan dan mengupgrade ilmu apa saja yang akan saya gunakan untuk menguatkan eksistensi diri.

Dari strength typologi dapat digunakan untuk menyusun kuadran-kuadran yang membuat semakin mengenali diri, berikut kuadrannya :

Kuadran 1 : Aktivitas yang anda SUKA dan anda BISA

Menulis, mengajar anak, memasak, membuat sesuatu yang berbau diy dan mendesain.

Kuadran 2 : Aktivitas yang anda SUKA tetapi anda TIDAK BISA

Merutinkan berolahraga

Kuadran 3 : Aktivitas yang anda TIDAK SUKA tetapi anda BISA
Mencuci baju, menyetrika

Kuadran 4 : Aktivitas yang anda TIDAK SUKA dan anda TIDAK BISA

Membuat dan menyusun perencanaan keuangan.

Mengenali diri akan selalu mempertanyakan apakah kita mampu mengenali diri untuk melihat jauh ke dalam diri. Membutuhkan sejenak waktu untuk melihat dan menemukan potensi terbaik diri dan hal positif apa yang mampu kita lakukan dari itu semua?

Jawabannya hanya ada dengan terus berusaha untuk semakin mengenal, mengoreksi dan memperbaiki diri ๐Ÿ™‚

Manajer Handal Keluarga

Bismillahirrahmanirrahiim…

Alvin_NHW#6

Akhirnya, kembali posting NHW ke 6. Pasca libur lebaran yang lumayan mengistirahatkan badan serta pikiran.

Materi matrikulasi kali ini tentang Manajer Handal Keluarga. Dimana nantinya ketika menjadi seorang ibu, telah benar-benar matang memutuskan untuk bekerja di ranah publik atau domestik. Menengok kembali NHW sebelum-sebelumnya, saya telah sedikit menjabarkan bahwa saya ingin terus berkembang di ranah ilmu parenting dan desain grafis. Untuk menjawab pertanyaan pada NHW kali ini, saya telah memilah 3 aktifitas terpenting yang harus selalu saya kuatkan untuk disiplin menjalankannya serta 3 aktifitas tidak penting yang harus saya reminder pada diri sendiri untuk dirubah.

3 aktifitas terpenting :

  • beribadah
  • belajar ilmu parenting dan desain
  • belajar ilmu untuk mengajar

3 aktifitas tidak penting :

  • browsing yang berlebihan
  • mudah mengantuk lalu menuruti untuk tidur
  • membuang waktu untuk selain kegiatan yang telah ada pada jadwal

Sebagai pribadi yang menyukai kegiatan dengan terjadwal, saya memang terbiasa menyusun to-do-list di pagi hari. Kemudian untuk jadwal harian, saya telah membuat sejak lama karena hal ini memudahkan aktifitas saya untuk lebih tersusun meskipun tidak menutup kemungkinan malas-malas menghampiri. Jadwal ini pasti akan mengalami perubahan seiring peran yang dijalani nantinya berubah. Untuk saat ini, berikut adalah jadwal harian yang saya buat dan telah saya jalani selama 3 bulan terakhir, meskipun kemungkinan belum sampai 100% saya mampu menjalankannya. Jika diakumulasi kemungkinan, dalam waktu selama 3 bulan tersebut sekitar baru 60 hariannya yang mampu saya jalankan.  30 hari sisanya masih suka tawar-menawar dengan diri sendiri dan curi-curi dispensasi.

03.20 – 04.20 Bangun tidur, qiyamul lail, mandi, sholat shubuh
04.20 – 06.00 Murajaโ€™ah satu ayat dan artinya, menyetel murottal
06.00 โ€“ 07.00 Membaca, browsing, masak, makan pagi, mandi.
07.00 โ€“ 07.30 Sholat dhuha, siap-siap bekerja.
07.30 โ€“ 16.00 Office time
16.00 โ€“ 17.00 Membersihkan diri, makan sore, mengisi waktu
17.00 โ€“ 19.00 Sholat magrib, tilawah, sholat isyak
19.00 โ€“ 21.00 Membaca, menulis, corel time, discuss online (iip)
21.00 โ€“ 22.00 Chatting, browsing, online, persiapan tidur
22.00 โ€“ Tidur

Semoga dengan menuliskannya kembali, membuat saya terus mengusahakan diri menjadi disiplin dan lebih baik lagi.

 

Review : Air Terjun Srambang

Akhirnya posting juga wkwk

Ada satu postingan tentang inner child yang sebetulnya ingin sekali saya tulis. Hasil dari perenungan selama pulang kampung dan belajar lagi dari banyak sumber. Tapi lagi-lagi selalu ada “tapi”. InsyaAllah secepatnya.

Nah, berhubung punya bahan yang lebih bagus yaitu foto-foto. Maka jadilah, postingan ini lebih dulu ditulis XD

Pagi tadi saya berangkat berdua dengan Adek, menuju Wisata Air Terjun Srambang. Letaknya tidak jauh dari Wisata Kebun Teh Jamus, yang pernah saya tulis beberapa waktu lalu. Tulisannya bisa dilihat disini.

Jam 7.00 pagi kami berangkat, perjalanan memakan waktu sekitar satu jam empat puluh menitan dengan kondisi sepanjang perjalanan mulus, sangaaat mulus. Kami sampai di tempat jam 8.43.

Biaya yang dibutuhkan untuk parkir sepeda motor hanya 2000 rupiah dan tiket masuk seharga 5000 rupiah/orang. Air terjun Srambang terletak di kaki Gunung Lawu, daerah Girimulyo, Jogorogo, Ngawi. Kurang lebih 20km dari Kota Ngawi.

Di awal-awal perjalanan, kita akan disambut hutan-hutan pinus dan satu ibu penjual makanan di sebuah warung kecil. Ada mie instan, gorengan, teh atau kopi dll. Jadi, gak usah khawatir kelaperan akibat hawanya yang dingin, karena ternyata masih ada beberapa warung lagi diatas. Awalnya, saya dan Ina ngerasa mulai interest dengan setapak-kecil-dan-batuan. Yang disana setapak-setapak ini selalu ada air mengalir dibawahnya. Kami mengira, perjalanan menuju air terjun hanya melewati track seperti ini. Tapi ternyata, semakin keatas batuan yang kami temui semakin guede dan arus air makin deras XD

Jadilah anak-anak ibuk yang telusurin jalan beginian gak ada bersih-bersihnya pake rok heheh. Capek betul memang, tapi akan terus terbayar dengan suasana dan pemandangan-pemandangan yang akan kita temui selama perjalanannya sampai ke air terjun itu sendiri. Berkali-kalipun Dek Ina bilang, coba mata kita bisa screenshoot ya mbak. Hasilnya pasti keren banget wkwk

Sayangnya disini masih minim sekali fasilitas umum seperti kamar mandi dan musholla. Pun yang saya sayangkan, banyak sekali bebatuan yang jadi sasaran coret-coretan. Sebetulnya banyak sekali lahan yang bisa dipakai pertunjukan budaya misalnya. Atau dimanfaatkan untuk hal-hal lain yang lebih bermanfaat daripada sekedar dibiarkan. Pun pastinya bisa jadi lahan untuk semakin menarik pengunjung ๐Ÿ™‚

Ngawi, 05 Juli 2017

 

1 Syawal 1438H : Perihal Mubadzir

Taqaballahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.

Untuk semua pembaca yang mungkin sempat mampir ke blog ini atau ke postingan manapun, ke Social Media manapun akun milik saya. Mohon maaf jika ada salah kata, pengucapan maupun tulisan yang mungkin menyinggung atau kurang sempurna. Blog ini tetap menjadi blog personal atau blog pribadi, yang isinya berkaitan dengan kehidupan saya sehari-hari.

Alhamdulillah masih merasakan Idul Fitri di rumah dan keluarga pun lengkap ๐Ÿ™‚ Postingan saya selama Ramadhan pada akhirnya berhenti di hari ke 26. Esoknya, ketika malam 28 saya mudik ke rumah orang tua XD (belum mertua).

Ketika mengingat Ramadhan terasa seperti kilas balik untuk menemukan titik lemah diri. Ramadhan menjadi momentum untuk mengenali diri sejauh mana ikhtiar pendekatan kepada Allah bisa dilaksanakan. Pun sejauh mana diri bisa sampai lalai dan kendor memperjuangkannya. Sedangkan bulan penuh Rahmat ini sudah semestinya diperjuangkan.

Ada beberapa hal yang menjadi renungan sewaktu pulang dan memang terus berulang (hanya) ketika di rumah. Satu topik yang ingin saya bahas melalui postingan ini adalah perihal mubadzir. Topik lain akan saya tulis di lain postingan.

Banyak sekali tradisi lebaran dari tahun ke tahun berubah dinamis sesuai masanya. Termasuk yang satu ini ; penyediaan minuman!

Dulu sewaktu kecil, di rumah nenek saya, di beberapa tempat yang kami kunjungi untuk salim-salim termasuk di rumah saya sendiri, seingat saya sewaktu kecil dulu, minuman yang disediakan untuk tamu disiapkan dengan teko lengkap dengan gelasnya. Seiring waktu semua menjadi serba instan, jadilah sekarang orang-orang lebih memilih yang praktis yaitu dengan minuman kemasan.

Btw ibu saya juga menyediakannya minuman gelas sih, cuma karena rumah kami terbilang “omahe wong enom” (rumahnya orang muda) jadilah hampir bisa dihitung orang yang bersilaturrahim ke rumah kami, tidak banyak. Paling mentok cuma 5 KK. Kebiasaan kami disini, yang muda akan selalu mengunjungi rumah orang-orang yang di tuakan. Berhubung bapak dan ibu saya adalah anak terakhir, kami sekeluarga yang berkeliling. Jadi sejauh ini dirumah belum banyak terjadi tragedi kemubadziran yang terlalu.

Di beberapa tempat saya mendapati minuman gelas yang ditinggal pemiliknya dalam kondisi yang belum habis. Itu artinya apa? Ya mubadzir.

Di surah Al Israa’ ayat 27 yang artinya ;

27. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

Jadi gimana, yang suka buang-buang dan memboroskan sesuatu itu temennya syaitan! Ini sebetulnya secara pribadi pun #ngeplak diri saya sendiri. Jadi mau koreksi diri dan lebih hati-hati lagi.

Dan setelah saya cari lebih jauh, pemborosan alias mubadzir ini bukan hanya perihal makanan. Tapi juga banyak sekali, seperti waktu luang dan harta. Dari salah satu sumber yang insyaAllah saya yakini, disini termasuk perbuatan boros (tabdzir) adalah apabila seseorang menghabiskan harta pada jalan yang keliru. Semisal seseorang berjam-jam duduk di depan internet, lalu membuka Facebook, blog, email dan lainnya, lantas dia tidak memanfaatkannya untuk hal yang bermanfaat, namun untuk hal-hal yang mengandung maksiat. Naโ€™udzu billahi min dzalik.

Semoga dengan ini, kita bisa meningkatkan perhatian untuk memperbaiki kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik dan semoga kita dihindarkan dari hal-hal yang melemahkan.

Ngawi, 27 Juni 2017