Ramadhan #14 : Hampir Separuh

Hampir separuh perjalanan. Ketika semakin habis waktu, malaikat-malaikat menangis ia akan pergi. Karena tak ada lagi yang mampu di pastikan akankah bertemu kembali nanti.

Nyatanya memang ia menjaga banyak hati. Menahan gejolak yang tidak semestinya tumpah. Ia hadir menjadi titik balik perubahan bagi banyak mahkluk.

Ia hadir lebih dari sekedar rindu duapuluh tujuh derajat yang dikejar, lebih dari sedekah sebutir kurma yang menjelma ribuan do’a menuju langit.

Dan masihkah aku lalai?

Allah menyempatkan umurku menjumpainya, namun tak ku hormati selayaknya tamu yang tak akan datang tiap hari. Aku masih saja mudah tertawan amarah. Masih saja berkongsi dengan gerutu dalam hati.

Lalu manusia macam apa aku?

Yang katanya dikarunia hati, akal dan fikiran.

14 Ramadhan 1438H. Sudah sejauh apa (hati)ku mendektiNya?

Desain Hidup

Bismillahirrahmanirrahim

Alvin_NHW#4

Dalam nhw kali ini, isinya akan lebih banyak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan perenungan maksimal serta kontemplasi berhari-hari dan akhirnya berujung mendekati deadline. Saya tidak ingin, pengerjaan NHW ini hanya pemenuhan tugas semata. Semoga Allah kuatkan menjalankannya.
a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?
Saya kembali mendalami dan membaca ulang kalimat demi kalimat yang saya tulis dalam NHW#1 dan sampai hari ini, jurusan ilmu yang saya pilih di Universitas Kehidupan tetap bertahan pada ilmu parenting serta satu lagi fokus yang ingin saya ambil adalah mempelajari ilmu seputar pernikahan. Meskipun belum bisa melaluinya dengan praktik secara langsung, dalam proses belajar ini saya ingin terus mendalami sehingga ketika pada masanya nanti, ilmu yang saya dapat bisa saya terapkan dengan baik. Karena menghadapi anak-anak langsung realitanya memang jauh seperti ekspektasi yang dibayangkan.

b. Mari kita lihat Nice Homework #2, sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.

Sejujurnya, checklist yang saya buat masih sangat perlu perbaikan, sementara waktu kemarin sebelum adanya review NHW#2 saya sudah mencetaknya, namun ternyata masih banyak sekali yang perlu di revisi. Hampir 80% daftar yang saya buat di checklist pelan-pelan saya jalani. Yang paling berat bagi saya ada di poin yang berkaitan tentang rutinitas olahraga. Namun Alhamdulillah checklist yang ada membuat saya mengerti bahwa segala sesuatu harus dimulai dari yang paling sedikit terlebih dahulu, kemudian dibiasakan untuk menjadi budaya dan betul sekali checklist ini senantiasa memicu untuk semakin memantaskan diri setiap saat.

c. Baca dan renungkan kembali Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.

NHW #3 membuat saya merenungkan si jodoh XD
Maka di NHW #4 ini saya mulai mengerti, memilah dan memprioritaskan apa dan bagaimana caranya saya untuk mengaktualisasikan diri menjadi bermanfaat dan produktif.
Saya akan tetap bertahan untuk mempelajari seputar ilmu parenting. Tentunya, ini akan berjalan optimal ketika hubungan dengan pasangan berjalan dengan baik pula. Oleh karena itu, saya telah memutuskan bahwa saya ingin menjadi support system (sistem pendukung) berjalannya keluarga saya nantinya. Menjadi supporter pertama bagi suami dan menjadi fasilitator penuh untuk anak-anak.
Saya selalu merasa senang ketika melakukan pekerjaan mendesain seputar dunia anak-anak. Dari situlah saya bercita-cita untuk merumuskan, bagaimana saya bisa bermanfaat melalui ranah yang saya senangi. Membuat buku cerita misalnya atau sekedar sounding sederhana yang berisi gambar dan nasehat-nasehat mengenai ilmu parenting yang dibuat melalui desain grafis. Dari proses membuatnya, saya mengalami proses belajar untuk diri sendiri, berusaha menerapkan kepada diri sendiri serta menularkan kepada orang lain. Jika nantinya diizinkan Allah, saya ingin memiliki sebuah yayasan yang di dalamnya dapat memberi banyak ilmu yang dapat di kembangkan dengan teknologi salah satunya desain grafis ini dengan penekanan atau fokus pada anak-anak. Mengayomi anak-anak, memberi beasiswa untuk anak-anak, memberi pembelajaran anak-anak untuk menghasilkan karya melalui bidang teknologi. Karena dalam program studi perkuliahan yang saya ambil Teknik Informatika, semoga ranah ini tetap bisa berkembang meskipun minat yang ingin betul-betul saya dalami adalah ilmu parenting dan pernikahan.

d. Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.
1. Bunda Sayang : Ilmu pernikahan dan ilmu parenting, melihat yang utama adalah saya ingin menjadi support system bagi suami dan anak-anak, untuk dapat mendukung berjalannya peradaban yang baik dari dalam rumah serta menghadirkan generasi kuat
2. Bunda Cekatan : Ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri (regulasi emosi ada pada nhw #22) rumah tangga dan parenting
3. Bunda Produktif : Ilmu-ilmu seputar minat dan bakat ; ilmu perdesainan grafis serta menularkannya ke banyak orang
4. Bunda Shaleha : Ilmu tentang sounding seputar parenting kepada khalayak dan dapat menghasilkan serta mengajak banyak perempuan agar turut serta.

e. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup

contoh : Ibu tersebut menetapkan KM 0 pada usia 21 th, kemudian berkomitmen tinggi akan mencapai 10.000 (sepuluh ribu ) jam terbang di satu bidang tersebut, agar lebih mantap menjalankan misi hidup. Sejak saat itu setiap hari sang ibu mendedikasikan 8 jam waktunya untuk mencari ilmu, mempraktekkan, menuliskannya bersama dengan anak-anak. Sehingga dalam jangka waktu kurang lebih 4 tahun, sudah akan terlihat hasilnya.
Perjalanan mengenai tertariknya saya dengan dunia parenting semenjak pertengahan perkuliahan. Saya suka sekali membaca buku-buku seputar parenting dan ilmu-ilmu psikologi. Hingga, program studi perkuliahan Teknik Informatika pun, skripsi yang saya ambil sebagai penelitian dalam dunia anak-anak. Jadi, jika bisa saya cantumkan sebagai bermulanya milestone maka rinciannya sebagai berikut :

KM 0 – KM 16 ( 19 Tahun – 35 Tahun ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Sayang serta Bunda Cekatan
KM 16 – KM 20 (35 Tahun – 39 Tahun ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Produktif
KM 20 – KM ke-sekian ( 39 Tahun – sejauh usia) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Shaleha

f. Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.

g. Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan

Sang Ibu di contoh yang ada pada materi IIP pekan ini merupakan perjalanan sejarah hidup Ibu Septi Peni, sehingga menghadirkan kurikulum Institut Ibu Profesional, yang program awal matrikulasinya sedang di jalankan bersama saat ini.

Sekarang buatlah sejarah anda sendiri. Karena perjalanan ribuan mil selalu dimulai oleh langkah pertama, segera tetapkan KM 0 anda.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/

Ramadhan #13 : Gimana kalo Allah….

Akhir-akhir ini saya mudah sekali mengkaitkan segala sesuatu yang kurang sinkron dengan satu alasan “pasti ada satu hal yg saya lakukan dan Allah gak ridho”

Entah itu ada pekerjaan yang tidak beres lalu saya jadi mengkaitkan karena berangkatnya tadi lupa bismillah. Atau semisal masakan kok rasanya asin banget, itu karena makanan kemarin tidak habis lalu dengan terpaksa terbuang sia-sia.

Ketika proses mengevaluasi dan mengingat kembali itulah sering rasanya mendadak sesak di ulu hati. Karena mengingat sedang puasa, lumayan bisa membuat saya menahan gondok ati. Alih-alih menggerutu, saya malah menangis tanpa alasan.

Pernah suatu kali teman saya bilang “Aku takuuuut gitu kalo Allah cabut nikmatNya buatku, trus aku jadi apa. Aku jadi gimana. Tapi aku kok masih suka ya ngelakuin hal-hal kecil sembrono gitu sih :(”

Nah! Makin sesek saya kalo inget curhatan temen saya itu….

Kalo Allah gak ridho gimana…

*seperti hari ini, saya nggondok sama diri sendiri karna satu hal terjadi. Setelah saya evaluasi, ada satu janji saya sama diri sendiri yg saya buat dan itu terkait janji diri dan Allah yang saya lalaikan tadi pagi.

Maaf ini hanya curhatan 
13 Ramadhan 1438 H

Ramadhan #12 : Benih Kebaikan

Kamu pernah bertemu dengan orang-orang yang berada di dalam lingkaran kebaikan?Waktu mereka habiskan dengan menebar benih-benih kebaikan yang pada akhirnya tanpa mereka sadari, kebaikan tersebut akan menjadi penolong-penolong di saat sempit

Satu sama lain saling bertaut, merasa kerdil di hadapan alam semesta karena menyadari bahwa yang membedakan mereka di mata Allah hanyalah perihal ketaqwaan

Mereka sungguh sadar, semua laku di dunia ini hanyalah sementara

Mereka mengerti akan pondasi yang dituliskan di dalam Al – Qur’an bahwa manusia diciptakan untuk dua hal, ibadah dan khilafah. Maka benih kebaikan mereka pilih untuk bertumbuh atas keduanya.

Tetapi, jauh sebelum kebaikan itu menjadi benih. Adakah yang tau darimana benih itu berasal, apa yang menjadikan benih itu berwujud, bagaimana proses yang ditempuh hingga benih itu siap untuk ditebarkan?

Tidak pernah ada yang benar-benar paham kecuali DIA dan benih kebaikan itu sendiri.

Kebaikan demi kebaikan yang dituliskan menuju langit, terus saja ditiup dengan do’a dan diteruskan dengan kebaikan lainnya. Dilakukan oleh siapapun yang dilewati oleh kebaikan itu.

Ada yang merasa takut menjadi baik di mata orang lain, yang melihatnya patuh dengan jilbab panjang, menganggapnya menjaga hanya karna menundukkan pandangan. Ada yang merasa takut menjadi baik di dalam benak orang lain, yang mengajaknya bicara pun hati-hati, apalagi sampai orang lain menjadikan dirinya adalah panutan untuk menyebarkan benih-benih kebaikan.
Dirinya takut ada yang menjadikannya alasan untuk merubah akhlak, dirinya takut dijadikannya tujuan bukan menjadi perantara. Bukan lagi Allah yang menjadi tujuan, bukan lagi Rasulullah yang menjadi panutan. Ia takut ada yang menjadikannya seperti itu.

Semoga segala muara benih kebaikan itu senantiasa di kembalikan kepada-NYA.

 

Tulisan lama, 2015

11 Ramadhan 1438H

 

Ramadhan #11 : Do-It-Yourself

Sekitar satu minggu sebelum Ramadhan saya lihat banyak sekali handbook Ramadhan bertebaran di whatsapp, serta ada salah satu handbook keren milik Mba Ragwan yang dari situlah saya jadi termotivasi, apa yang bisa saya buat… berhubung sepertinya lumayan lama saya tidak otak-atik Corel. Jadilah DIY ini.

Saya selalu menyukai hal-hal yang berbau DIY. Tapi tidak banyak memang yang bisa saya buat wkwk sisanya abal-abal dan dilakukan ketika ada waktu luang XD

Tapi pin di Pinterest sepertinya sudah mulai penuh. Itu artinya, sudah banyak sekali angan-angan DIY yang ingin saya wujudkan salah satunya Stuff untuk Ramadhan dan Lebaran berupa amplop ini yay!

Bagi temen-temen yang punya adik, murid privat, anak didik di sekolah, anak sendiri XD, keponakan atau siapapun…

Punya banyak waktu bebikinan seru, kuy! Gratis di download. Amplop ini saya buat ukurannya kecil, jadi mini-mini gitu.

Ukuran kertasnya saya buat standar di A4 yaaa supaya temen2 bisa cetak di printer biasa 😊 kritik dan saran kirim ke alvinareana@gmail.com

Selamat melanjutkan ibadah puasa bagi yang menjalankan!

Semangat menjalankan misi kebaikaaaaannnn…

 

Link Donwload Ramadhan Stuff 1438H

Klik Disini

Surabaya, 11 Ramadhan 1438H

Ramadhan #10 : Bergerak

Sepuluh sudah mulai berderak melewati waktu-waktunya. Lambat laun berjalan hari ini hingga habis hari. Dan sepuluh yang kedua akan ditemui.

Sudah sejauh apa? Jika ditilik dengan melihat kalender, rasanya tidak terasa. Jika ditilik apa yang sudah diperbuat. Rasanya………..

Apa yang saya rencanakan di awalpun masih banyak yang berantakan. Satu dua pasang, tiga empat kembali surut begitu seterusnya. Seperti iman. Namun iman jika dibiarkan akan semakin surut, jika terus dikejar meskipun didepan sudah terlihat musuh menghadang (syaitan yang mengacak-acak niatan) insyaAllah Allah tidak meninggalkan sendirian.

Awalnya, dengan rutinitas yang padat di kantor dan dengan beberapa alasan tertentu (karena ini kali pertama Ramadhan di tempat baru), saya mengira keseharian saya akan stagnan dan sempit. Tetapi sedikit demi sedikit saya mulai mengikuti alurnya dan mampu meneumkan celahnya. Akhirnya saya tau, saya masih bisa terus bergerak.

Sesuatu yang terus bergerak akan bertumbuh. Seperti pohon yang makin lama semakin tinggi. Seperti air di sungai-sungai yang terus mengalir, nyatanya ketika ia menjadi kubangan hanya akan menyebabkan jentik nyamuk. Bergerak memiliki arti yang sangat luas. Saya harus bisa mengambil celah untuk tetap bisa melakukan hal-hal bermanfaat di samping kesibukan yang padat.

Saya menasehati diri (dan sedikit lega ketika sudah mulai mengerti bagaimana harus menjalaninya)

Oiya tentang sepuluh hari yang akan masuk pada sepuluh hari kedua, saya jadi ingat sesuatu karena biasanya di sepuluh hari pertama masjid dan musholla shafnya masih penuh, sepuluh yang kedua mulai berkurang satu persatu, karena tadi pagi sempat membaca di linimasa tumblr, tulisan milik kak Akhyar seputar bukber alias buka bersama. Saya jadi ingat, sejak Ramadhan tahun kemarin saya mulai memampatkan jadwal buka bersama diluar hampir bisa dihitung hanya sekali atau dua kali. Jika dikoreksi, nyatanya bukber itu justru membuat kita mengalihkan niat di awal.

Yang katanya menyambung silaturrahim kita jadi mudah lalai sholat magrib di awal waktu. Yang katanya makan bersama lebih berkah kita jadi mudah memubadzirkan makanan. Yang katanya Ramadhan lebih baik untuk banyak bersedekah kita lebih banyak membuangnya untuk budget bukber yang biasanya lebih dari biasanya.

Ramadhan kali ini pun saya sikapi dengan serupa. Masih ada dua puluh hari. Mari terus bergerak, semangat menjalankan misi kebaikan di bulan yang dilipat gandakan pahala-pahala kebaikan kita. 

Prestasi kita hari ini bukan untuk memenangkan hati manusia, tapi memenangkanNya.

Surabaya, 10 Ramadhan 1438H

Ramadhan #9 : Dua Sisi

Kita tidak pernah bisa membuat semua orang menyukai apa yang kita lakukan. Sekalipun bagi sebagian besar hal tersebut adalah tindakan yang baik.

Karena dalam hidup, kita tidak sedang berusaha memenangkan hati siapapun. Karenanya Allah hadirkan dua sisi ; buruk-baik, kurang-lebih, tua-muda dlsb.

Suatu hari Syifa pernah bercerita pada saya, nilai ujian kakaknya terpampang di papan pengumuman dengan nilai yang Alhamdulillah memuaskan. Hasil jerih payahnya selama ini.

Saat Syifa mencari nama kakaknya, ada seorang teman yang mengatakan bahwa tidak ada gunanya punya nilai bagus. Toh nilai tidak selalu memperlihatkan anak itu pintar. Katanya begitu..

Sebagai adik yang mengerti perangai sang kakak, ia merasa tidak terima kakaknya disinggung didepannya. Ia bersungut-sungut, “Syifa hampir saja marah buk! Sebal sekali rasanya.. Kok gampang menyepelekan hasil kerja keras orang lain, kayak dia bisa aja” ujarnya begitu.

“Kenapa ya buk, harus ada orang yang tidak suka dengan kita… Padahal, kitanya baik aja, kita nggak gangguin dia”

Saya hanya tersenyum, sekian kalinya anak-anak ini membuat saya menyadari banyak hal. Kembali mengoreksi diri.

Saya baru memiliki jawaban, “Lebih baik untuk tidak bersikap sama, lebih baik untuk mendo’akan yang belum baik supaya bisa menjadi baik, lebih baik sabar, lebih baik dihadapi dengan kepala dingin, lebih baik di mengerti anggap saja kita lebih dewasa daripada dia dan masih banyak hal lain yang bisa dilakukan” 😊

Dear Syifa, manusia itu tidak ada apa-apanya. Jangan sampai kamu bergantung pada manusia nak. Manusia bisa khilaf. Manusia tidak ada yang sempurna. Jika di dunia ini kamu masih bisa menemui manusia baik, tentu ingatlah bahwa kamu masih punya DIA yang Maha Baik.

09 Ramadhan 1438H