Menjaga Kemuliaan Anak

Bismillahirrahmanirrahiim..

Perihal menjaga kemuliaan diri pernah saya dapatkan materinya di IIP sewaktu matrikulasi. Disana dijelaskan bahwa apapun yang kita perjuangkan sebagai seorang perempuan, dengan predikat istri maupun ibu. Harus ada yang kita ingat diawal adalah menjaga kemuliaan diri. Kemuliaan adalah yang menjadi acuan orang lain dalam melihat keberadaan diri yang dengan cara seperti apa kita menjaganya. Menjaga kehormatan diri adalah bagian dari menjaga kemuliaan tersebut.

Entah itu dalam berumah tangga, bergaul dengan teman sejawat, bergaul dengan client atau atasan maupun saat mencari rezeki.

Maka Bu Septi sering mengingatkan kami dengan slogannya Rezeki itu pasti, kemuliaan yang dicari.

Kali ini saya bukan ingin membahas mengenai kemuliaan diri. Tetapi tentang kemuliaan anak.

Maksudnya?

Begini, sejak ada Husna saya menjadi betul-betul mengerti betapa pentingnya saya sebagai seorang ibu menjaga kemuliaan anak-anak dimata orang lain. Bukan karena kita ingin anak-anak dipuji, disanjung -menampilkan yang baik- melainkan karena anak adalah amanah dari Allah yang tidak sembarangan. Menjaga kemuliaannya adalah menjadi bagian salah satu dari perwujudan menjaga amanah-Nya.

Selain karena Husna anak perempuan, yang sebetulnya (ini tergantung pemahaman masing-masing orangtua) mengingat saat ini menjaga anak laki-laki maupun perempuan sama sulitnya. Melihat banyaknya kasus korban pelecehan anak laki-laki yang marak beberapa waktu terakhir. Dan dalam seminarnya, Bu Elly Risman justru mengatakan menjaga anak laki-laki memiliki tantangan lebih besar karena secara tidak langsung anak-anak tersebut lebih mudah dirangsang secara fisik.

Lalu bagaimana bentuk penjagaannya?

Ada banyaak sekali sebetulnya bentuk menjaga kemuliaan anak. Misalnya dengan tidak memposting fotonya di sosial media dengan foto yang berisikan anak memakai pakaian minim, anak sedang mandi, anak sedang berpose yang tidak sewajarnya untuk ditampilkan ; dalam pose ngupil misalnya. Atau dalam pose buang air kecil.

Terlepas dari mengenai sosial media memang sarana untuk menampilkan sesuatu yang cenderung bersifat baik dan bagus.

Pun, bukan semata-mata untuk terlihat lucu dan sebagai orangtua kita mengiyakan saja dengan dalih “Toh, masih kecil”

Kalau saya pribadi berpendapat begini, jika anak sudah bisa ditanya maka maukah ia ditampilkan seperti itu? Diperlihatkan pada khalayak umum dengan kondisi demikian?

Sama halnya jika menanyai pada diri sendiri. Maukah kita menampilkan foto pribadi dengan kondisi tersebut?

Kita selalulah menampilkan foto dengan pose terbaik dan kualitas terbaik.

Atau, begini…

Meminta ijin terlebih dahulu ketika ingin memposting foto anak orang lain. Bolehkah anaknya ditampilkan?

Apakah orangtuanya berkenan jika foto anaknya dilihat oleh pengguna sosial media yang bukan dalam lingkarannya?

Atau, semisal boleh foto seperti apa yang boleh ditampilkan?

Saya punya cerita, seorang teman menceritakan bahwa ketika itu anaknya sedang bermain air di sebuah tempat terbuka dengan pakaian minim. Disana memang ada banyak sekali anak-anak yang bermain. Namun ada salah seorang, orangtua yang memfoto anaknya, dengan posisi anak teman saya tersebut masuk ke dalam frame jepretannya. Apakah ini salah teman saya atau salah orang tersebut?

Bagi saya, jika jangkauannya masih tampak didepan mata alangkah lebih baik saya meminta ijin untuk tidak membiarkan anak saya masuk ke dalam frame dengan cara memposisikannya menjauh terlebih dahulu. Namun jika jangkauannya jauh dan kita tidak tau menau, alias nggak didepan mata sendiri sih ndapapa.

Bahkan, jika dalam IIP saat itu saya pernah mendapatkan insight seperti ini ;

Ketika kita sebagai orangtua, berada dalam sebuah majelis dimana anak-anak ada di dalamnya. Maka menjaga tingkah laku anak adalah bagian dari upaya orangtua menjaga kemuliaan anaknya dimata orang lain. Karena menjatuhkan nilai kemuliaan anak menjadikannya berimbas pada ; yang melihat anak-anak akan mendo’akan, membatin, sesuatu yang tidak semestinya.

Katakanlah sederhananya begini, ada seorang anak yang berlarian di dalam masjid sambil berteriak-teriak kegirangan. Bagi anak-anak itu adalah sebuah sikap yang wajar. Mungkin sebagai bentuk ungkapan senangnya berlarian di tempat yang leluasa, misalnya. Namun ketika orangtua-nya mengabaikan saja, hal tersebut akan menjadikan oranglain memandang berbeda. Tidak menampik ada yang mengatakan “Anak siapa sih, lari-larian kok di Masjid. Kok orangtuanya gak larang ya?”

Hmm…

Saya juga masih belajar menjadi orangtua, belum ada dua bulan lamanya perjalanan baru saya meniti karir disini.

Semoga apa yang menjadi resah dalam pikiran saya malam ini bisa tersalurkan dengan baik. Pun yang berkenan membaca, menjadikan tulisan ini bermanfaat baginya.

Yang benar hanya milik Allah, yang salah sepenuhnya milik saya.

Wallahu ‘alam bisshawab.

07.10.18

Advertisements

Kuatkan Pundak

Bukan minta di ringanin bebannya apiiiiin, tapi di kuatkan pundaknya

Menurut saya, generasi saat ini seperti mudah sekali terkikis oleh “penyakit maya”. Penyakitnya maya, karna jarang sekali nampak. Secara kasat mata fisiknya normal, baik-baik saja. Namun, jauh psikis dan logisnya bertarung.

Segala sesuatu yang nampak oleh mata, akan mudah sekali menjadi pemicu untuk berlomba-lomba menampilkan yang terbaik. Entah bagaimana caranya. Kemudian segala sesuatu yang berkaitan dengan proses, akan mulai di abaikan. Generasi ini rentan sekali dengan sesuatu yang berbau instan. Langsung jadi, abrakadabra.

Ahir-ahir ini saya sering sekali diketemukan Allah oleh pemikiran2 macam ini. Merisaukan apa yang begitu silau di mata. Menantang dirinya untuk melakukan hal serupa yang lbih unggul tentunya dengan berbagai macam cara instan tanpa melihat proses.

Mungkin jika psikis dan logisnya lemah, maka segala sesuatunya mudah sekali untuk di telan mentah-mentah. Hal ini membuat saya banyak berfikir, membuat saya sering sekali berusaha sekuat tenaga untuk melawan, membuat saya bertentangan prinsip, membuat saya menjadi kaum minoritas dengan pemahaman berbeda, sulit namun harus teguh. Lelah tapi tidak boleh berhenti.

Maka mendapati nasehat diatas, saya seperti menemukan shine bright like a diamond wkwk seriusan!

Saya menjadi semakin mengerti bahwa dengan cara seperti itulah memang Allah menaikkan derajat hambanya, dengan ujian maka mampukah ia? Jika ia mampu maka ia lolos pada ujian kali ini, dan suatu saat jika ia mendapati ujian serupa ia tidak akan lagi risau. Karna Allah telah menempanya dengan baik.

Maka, mintalah pada Allah untuk menguatkan pundakmu. Bukan meringankan bebanmu.

Surabaya, 20 Januari 2017

Hadiah dari Langit

​Kemarin langit menunjukkan sesuatu padaku. Langit memberikan isyarat bahwa itu adalah sebuah kejutan.

Kata langit, dengan aku melihatnya, itu akan membuatku lupa tentang hal-hal yang menyedihkan. Ia senantiasa tersenyum apapun kondisinya.

Kufikir ia akan segera dikirim ke bumi. Lalu langit nampak paham apa yang sedang kufikirkan. “Akan kukirim suatu yang istimewa untukmu, namun aku punya satu syarat”

“Syarat apakah itu wahai langit?”

“Kamu harus menjaganya sepenuh hati. Memastikan hatinya utuh, tak hanya utuh untuk merasakan kehadiranmu namun juga utuh untuk merasakan bahwa dari sinilah ia berasal. Kamu harus menjadi sebaik-baiknya teman baginya.”

Awalnya aku ragu. Apa maksud yang langit katakan itu. Setelah berfikir beberapa waktu, hatiku berkata apalagi yang kutunggu? Jawabku hanya perlu satu, “Baiklah aku siap!”
Keesokan harinya, ketika aku membuka mata.. Langit sungguh memberiku hadiah. Kejutan tak terkira. Aku harus ingat pesan dari langit. Untuk hadiah istimewaku, hadiah dari langit 🙂



Di sebuah lembah pikiran. Juni 2016

Kehadiran Virtual

​Semangat ya A *peluk virtual*

Salah satu balasan komentar yang saya temui di instagram beberapa waktu lalu. Membacanya membuat lumayan tergelitik. Sekarang semua-muanya serba virtual. Kehadiran digantikan dengan terkirimnya satu emoticon yang bahkan tidak bisa kita tafsirkan bagaimana keadaan yang sebenarnya. Apalagi hatinya 😂

Ada yang dimudahkan dengan semua fasilitas yang tidak lagi asing bagi kehidupan kita saat ini. Namun ketika saya merunut perjalanan hidup kebelakang…

Masa SD saya masih merasakan memiliki sahabat pena, meskipun tidak pernah bertemu. Namun melalui tulisan-tulisan tangannya, saya mampu memperkirakan suasana hatinya saat menulis. Setidaknya begitu. Beranjak SMP dan SMA internet mulai mengubah kehidupan generasi saya dan kawan-kawan sebaya. Kabar bisa dikirim tanpa harus menunggu berhari-hari lamanya. Melihat lawan bicara kita online yang mampu menembus bermil-mil jarak. Saat ini melipat jarak begitu mudah sekali dilakukan. Keberadaanya di seberang memang tidak diragukan dan kita bisa memastikan bahwa dia sedang stay untuk siap menjawab obrolan-obrolan kita.

Saat fikiran berkelana, saya tiba-tiba sedih karena ada yang lebih mengikis perasaan. Notifikasi chat penuh, rapat ini dan itu, merangkul yang jauh hingga pedalaman namun jiwa tetap saja kosong. Tidak ada canda tawa yang membekas di ingatan, tidak ada nasehat-nasehat yang menohok hingga dasar perasaan, tidak ada tangis yang mungkin harus terjadi karena selisih paham.

Betapa saya mengiyakan pertemuan saat ini menjadi hal yang langka, bahwa pertemuan saat ini sungguh-sungguh menjadi hal yang super penting mengingat energi yang mampu di transfer dari sebuah pertemuan sangatlah dahsyat dampaknya.

Memang tidak selamanya kita bisa membersamai orang-orang yang pernah menjalankan peran bersama. Ada kalanya ketika kepentingan-kepentingan akan menjadi prioritas yang harus dilaksanakan dan memberi peluang untuk jarak adalah hal yang akan menjadi kebiasaan. Jarak tercipta, solusinya adalah melipatnya dengan teknologi yang tersedia.

Hanya saja…

Semoga waktu akan memberi kita kesempatan untuk menghimpun jumpa. Semoga hati dan perasaan kita tidak perlu terkikis karena keegoisan laku yang semestinya mampu kita kendalikan. Sampai jumpa dengan sesiapa yang bisa jadi, melaluinya lah charge iman dan kebaikanmu bertambah. Cheers!

Menjadi Pemimpin

Mempelajari kepribadian makhluk bumi ini (masih) selalu menyenangkan bagi saya. Sampai pada saat ini. Padahal sama-sama makhluk Bumi, namun untuk mengenali jenis-jenis mereka, saya akan berubah sebentar menjadi makhluk Mars pun tak apa, wkwk

Semakin banyak saya menemui, semakin berkembang pola pikir yang saya miliki. Bersyukur sekali masih diberi kesempatan hingga sejauh ini melangkah.

Diantara manusia yang beragam jenis serta pola pikir yang dimilikinya, pada saatnya masing-masing manusia akan menemui fase dimana ia akan menjadi seorang pemimpin bagi dirinya sendiri. Terlebih bagi umat.

Dalam kegiatan sekecil apapun, pemimpin selalu dibutuhkan. Seperti yang saya lihat dalam keseharian. Di dalam kelas, ada beberapa anak didik saya yang membiasakan diri dengan sendirinya tanpa diingatkan untuk berdo’a sebelum dan selepas kegiatan belajar mengajar. Diapun memimpin dirinya sendiri serta memberi aba-aba teman satu kelasnya. Tanpa diminta.

Lalu saya berfikir, anak-anak ini.. justru disiapkan Allah untuk menjadi pemimpin. Karena hati mereka selalu terbuka untuk segala bentuk penerimaan. Saya sering menemukan tulisan sejenis ini ; Allah menyiapkan hati-yang membuka hati. Bukan Allah membuka hati-yang menyiapkan hati. Siap saja tidak cukup, namun ada upaya yang lebih dari itu yaitu membuka. Membuka hati, membuka diri, membuka pemikiran wawasan serta banyak lainnya adalah tolak ukur kita dalam berusaha. Karena Allah akan sesuai dengan usaha-usaha hambaNya. Allah akan merubah keadaan suatu kaum jika mereka mau merubahnya.

Namun bagaimana dengan pemimpin yang menurut kacamata kita, manusia biasa. Berada pada jalan-jalan yang sepertinya nampak “tidak” pada jalur yang Allah ridha? Wallahu ‘alam. Dunia nampak baik-baik saja, tapi entah dengan langit. Diantara manusia-manusia dengan ego, saya menemukan pemimpin jenis ini adalah mereka yang kurang memercayai anak buahnya, kurang memberi penguatan pondasi terhadap lingkungannya, dan yang terpenting adalah kurang menerima kritik dan saran. Entah mengapa dalam pandangan saya, unsur penerimaan satu ini menjadi sangat fatal ketika manusia lebih mementingkan egonya ketimbang belajar membuka hati untuk sebuah penerimaan.

Dari anak-anak ini saya belajar bahwa setiap manusia telah disiapkan Allah untuk menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri maupun bagi umat. Tergantung bagaimana kita mencapai fase tersebut. Karena tiap-tiap makhluk memiliki timeline yang berbeda dengan takaran ujian serta nikmat yang berbeda pula.

Melalui tulisan ini, saya mengingatkan diri saya. Saya adalah seorang perempuan. Mungkin, kedudukan perempuan masih saja menjadi perdebatan yang diperbincangkan. Namun, saya adalah pemimpin bagi diri saya. Pemimpin bagi anak-anak saya kelak. Menjadi panutan mereka dalam melangkah. Menjadi pandangan mereka dalam berpikir dan bersikap.

Semoga Allah ridha dengan apa-apa yang kita lakukan. Semoga kita senantiasa dihindarkan dari hal-hal yang buruk bagi kita. Semoga senantiasa dilapangkan bentuk-bentuk penerimaan. Semoga senantiasa diluaskan pemahaman-pemahaman baik. Selamat menjadi pemimpin.

Surabaya, 08 Oktober 2016

Surga yang Selalu Dekat

​Perempuan itu menangis tergugu ketika menyadari bahwa waktunya telah banyak berlalu. Ia tidak membiarkan sedikitpun pikirannya menyesali apa yang telah dilaluinya sejauh ini. Cukup bijak baginya untuk terus mengerti bahwa perjalanannya hanyalah kehendak IA semata.

Namun, mengapa ia harus menangis untuk yang kesekian kalinya tiap kali menyadari bahwa waktunya semakin habis?

Bukankah memang demikian waktu bekerja, tidak pernah mentolerir siapapun. Sedikitpun.

Karena manusia telah dibekali banyak sekali oleh sang Maha, maka bersahabatlah dengan waktu sebaik-baiknya.

Perempuan itu memiliki sayap yang sangat lebar. Digunakan untuk apa lagi jika tidak digunakan untuk terbang menjelajah kesana kemari, ujarnya. Belajar dan terus bertumbuh katanya. Bertemu dengan hal-hal menakjubkan, meluaskan pikiran, melapangkan hati.

Namun langkahnya terhenti oleh kesadarannya sendiri. Waktuku telah habis, saat ini aku tinggal menunggu seseorang menjemput lalu mengajakku pergi. Kemudian ia menangis lagi. Namun kapankah waktu itu akan tiba? Sedangkan, aku ingin sekali segera terbang menuju surga. Mendengarkan nasehat-nasehatnya, berada didekatnya, menjaga dan mematuhinya. Karena aku yakin, ia datang untuk mengajakku menuju surga.

Benar adanya jika waktu tidak pernah mentolerir. Benar adanya jika waktunya semakin habis. Namun seseorang yang akan datang, bisakah ia pastikan jika itu bukan malaikat pencabut nyawa(?)

Dengan inilah, pintu hatinya harus didobrak. Buat rusak sekalipun. Untuk menyadarkan bahwa….

Ternyata ia melupakan satu hal, bahwa jauh disana. Di sebuah tempat yang selalu ia katakan “there is no place like home” ada surga yang senantiasa terbuka. Menunggunya mengirim do’a, menunggunya mengirim kabar. Tidak lebih dari itu. Padahal surga itu selalu dekat. Dekat sekali sedekat kesadarannya, sedekat ketika ia mampu berfikir dengan baik.

Lalu, perempuan itu mengusap pipinya. Menyeka matanya yang kian sembab. Ia bangkit, ia gunakan sayap lebarnya untuk terbang ke sebuah tempat. Dimana ia tidak pernah menemukan keadaan apapun selain penerimaan yang luas. Surga kecil didunia. Keluarga.

*Untuk seorang perempuan yang saya kagumi kedewasaannya. Kedewasaan yang ia pupuk dengan susah dan payah. Kedewasaan yang mengantarkannya pada hati yang terus berusaha menjadi baik. Semoga senantiasa dijaga olehNya

alvinareana, 30082016

Porsi Milik Kita

​Semakin kesini saya semakin mengerti bahwa sesungguhnya Allah benar-benanr menghadirkan apasaja yang ada disekitar kita sebagai wasilah. Perantara yang akan menyampaikan dengan jelas apa yang sebenarnya Allah kehendaki.

Beberapa hari terahir, saya sering sekali menemui hal2 yang membuat saya tersadar. Seolah-olah perantara tersebut sunggu dihadirkan memang untuk membuat saya mengerti bahwa Allah seadil ini menentukan hidup setiap makhluknya.

Kemudian, keesokan harinya saya dipertemukan dengan beberapa case kronologi bagaimana orang melewati fase penting dalam hidupnya. Melewati ujian ini dan itu. Namun ada pula yang tiba-tiba saja memberi kabar baik yang telah dikehendaki Allah. Semua orang memiliki fasenya masing-masing. Semua orang memiliki masanya masing-masing sesuai kadar dirinya. Tidak kurang tidak lebih. Karna Allah sudah menakdirkan demikian.

Tidak bisa lantas kita membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. Tidak bisa lantas kita merasa kok hidup kita begini ya, mereka saja bisa begitu. Tidak bisa. Manusia memiliki fase pencapaian sendiri-sendiri.

Maka Umar bin Khatab berkata : Aku merasa tenang karena apa yang menjadi takdirku, tidak akan menjadi milik orang lain. Pun apa yang menjadi milik orang lain, tidak akan pernah menjadi takdirku.

Maka haruskah kita menggerutu sebab-sebab mengapa fase hidup kita berbeda daripada orang lain yang lebih cepat sampai misalnya, lebih cepat dipertemukan misalnya, lebih dan lebih yang lain. Sesungguhnya Allah memiliki takdir dengan sebaik2nya takdir sesuai porsi kita masing-masing.

Jika kita belum dihadirkan pada yang menjadi harapan kita, mungkin Allah masih ingin mendengarkan do’a2 kita. Allah masih ingin melihat usaha2 kita. Allah masih ingin mengetahui apa saja yang kita upayakan untuk mendekatiNya.

Semakin kesini saya semakin faham bahwa Allah telah memberi saya ruang untuk berupaya atas apa yang disebut harapan dan ujian. Ada kebahagiaan ada pula ujian kebahagiaan. Bukankah Allah tegas mengingatkan, ” tidak dibiarkan bagi hambanya yang mengakui beriman sampai ia diuji”

Ujian pun bentuk kasih sayang yang Allah berikan pada tiap-tiap makhluknya. Bisa berupa ujian waktu, ujian kedewasaan, ujian pemikiran dan masih banyak bentuk ujian lainnya.

Kita hanya perlu mengupayakan terus sesuai dengan apa yang kita mampu. Jangan boleh kendor. Jangan dibiarkan lalai. Usahakan terus, urusan hasil. Sudah ada yang mengatur 🙂

Mari kita berdo’a lagi, ya Allah buatlah aku rela dengan takdirmu. Sehingga aku tidak meminta dipercepat apa yang sedang Kau tunda dan tidak tidak minta menunda apa yang Kau percepat (Do’a Umar bin Abdul Aziz)

Di pagi buta terbangun, lalu mata sulit kembali untuk diistirahtakan. 02.22 27 Agustus 2016

[Ramadhan 08] Pertanyaan Seorang Perempuan

Seorang perempuan pernah bertanya, “Mengapa mereka mudah sekali mengatakan cinta — yang pada akhirnya mereka tidak bahagia?”
“Itulah cinta, ia jatuh tiba-tiba, tanpa diduga, tanpa disangka, ia jatuh tanpa sengaja pada hati yang sudah lama ia damba”
Baik, akupun sampai sekarang belum bisa mendefinisikan apapun. Jadi, bolehlah kau beri tahu aku, supaya aku tak lagi bertanya: “Apa itu cinta? Benarkah kita pasti mencinta jodoh kita?”

Aku tahu. Dalam agamaku Tuhan telah berfirman tentang manusia yang berpasang-pasang, baik untuk yang baik, dan sebaliknya. Apakah aku tidak percaya? Tidak. Aku percaya.
Tapi boleh kan, aku tetap bertanya, “Bagaimana kita tahu orang yang kita cinta adalah orang yang sama ditakdirkan Tuhan untuk menjadi jodoh kita?”
Bukan kali pertama aku mendengar kegagalan percintaan menuju pelaminan, kandas di ujung jalan, berujung pertikaian, bahkan ada yang tanpa komitmen sekalipun. Tapi kau tahu? Aku tidak menaruh perhatian pada kegagalan mereka, aku terfikir pada keyakinan dan keberanian mereka untuk memulai tanpa tahu akhirnya ada di mana.
Ya. Dan aku juga tahu dalam agamaku Tuhan melarang pacaran, teman dekat atau apapun istilahnya. Bolehlah kau katakan dan aku melabeli diriku dengan sebuah pernyataan “aku melanggarnya dan terdamparlah aku kembali pada sekelumit pertanyaan” — yang lagi lagi enggan berhenti menghantui.
Kau tahu kan, perceraian? Mereka gagal mempertahankan ataukah salah dalam mencinta orang yang bukan jodohnya? Sedang bagaimana bisa mereka yakin mengakhiri seyakin mereka memulai?
Pertanyaan perempuan tadi kembali mengusik, dan aku belum sempat
menjawabnya. Semoga tulisan ini kau baca karena aku berhutang jawaban padamu.

Hati adalah wadah, Cinta adalah benih, Laku adalah pohon, Itukah kau, cinta?
Aku tidak bisa menjawab wahai, perempuan cantik. Aku sendiri kebingungan. Hati bukanlah logika, Ia tidak mengerti namun merasa,
Hati tidak mendewasa, Apalagi dalam cinta, Ia jatuh kapan saja, di mana saja, tanpa mengapa,

Tapi aku ada sedikit percakapan

Sujiwo Tejo : menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kau bisa berencana menikahi siapa, tapi tak bisa kau rencanakan cintamu untuk siapa.
Aku : jika benar menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Maka Tuhan, jangan biarkan aku mencintai seseorang yang tidak dinasibkan menikah denganku kelak.

— sebuah percakapan dengan seorang teman

Berikut adalah hasil reblog dari tumblr berabad-abad silam. Saya angkat kembali karena kemarin dalam sebuah forum diskusi whatsapp, kami membicarakan mengenai tren masa kini. Obrolan apapun akan berujung pada topik “nikah”.

Saya tidak mengiyakan pun tidak menolak. Karena wajar bagi saya, karena teman seperjuangan pun sudah banyak yang menyempurnakan separuh agamanya. Namun bukan ini yang ingin saya garis bawahi.

Mengapa begitu mudah mengucapkan , “nikah saja” sedangkan perjanjian dibalik itu semua tidaklah ringan. Arsy bergetar ketika seorang anak manusia mengucapkan janji mitsaqan ghalidza. Beribu malaikat turun mendo’akan. Ibu bapak menangis melepaskan anak-anaknya.

Melihat banyak sekali, fenomena cerai dengan balita korbannya. Ironis kan? Disaat banyak sekali kajian, seminar-seminar parenting, seminar pranikah pun banyak sekali kasus demikian.

Nikah bukan main-main. Nikah tidak pernah sebercanda itu.

😀 dari yang gemas, mendengar banyak pernyataan semacam itu.

alvinareana, 08 Romadhon 1437H, 130616

Kebiasaan Lama

Assalamu’alaikum.

Saya tumpahkan sekalian ya yang bersliweran di pikiran hari ini. Supaya gak numpuk 😀 Mumpung kerjaan di kantor gak memerlukan waktu penuh buat nyelesein tugasnya. Kalau postingan-postingan sebelumnya dengan gaya bahasa yang sedikit lebih formal dan kaku, asli disini emang kepengin curhat.

Dua minggu di akhir Mei ini saya habiskan waktu dengan banyak urusan diluar, diluar kamar dan diluar lingkaran dengan 5 orang penghuni kamar. Alhasil selalu merasa ada yang aneh waktu masuk ke kamar, berasa asing. But, its no essential. Bukan ini yang pengen saya bahas.

Ada beberapa urusan lain yang terpaksa atau memang saya paksa untuk skip dan dilewatkan begitu saja. Salah satunya pendaftaran Indonesia Mengajar yang kedua. Entah ini dalih atau mulai realistis. Tapi mimpi tentang jadi pengajar muda pun langsung di skip. Melihat beberapa kali saya evaluasi tentang microteaching (praktek mengajar) hasilnya saya merasa sangat nihil. Tidak ada yang berarti disana, justru malah terkesan pelajaran yang saya bawakan membosankan 😦 syedih ya. Iya syedih.

Yang kedua adalah pendaftaran campaign via kitabisa.com yang padahal sudah diberi kesempatan langsung sama kak Timmy alumni FIM founder portal kitabisa. Campaign yang harus saya pasang tentang “Rumah Ramah” ini adalah mimpi yang ingin saya tumbuhkan di Ngawi. Maka saya berniat untuk memulainya dari mencari donasi untuk pembangunan. Tapi justru ketika konsepnya hampir matang, saya didera perasaan bimbang dan entah terbang kemana lagi mimpi itu 😦

Yang ketiga adalah perjalanan nonsense. Biasanya dalam melakukan perjalanan saya selalu berusaha untuk menghasilkan sesuatu, entah itu tulisan, entah itu pemikiran, entah itu obrolan ringan dengan sekitar. Sewaktu 36 jam perjalanan pulang-pergi Jakarta Malang dan Malang Jakarta. Tidak ada satupun yang tertinggal di benak saya. Pun tentang apa yang mungkin saja bisa saya renungi di jalan.

Saya lagi-lagi pada fase ragu seperti alvin yang dulu. Saya tiba-tiba menjadi sepesimis dulu. Saya benar-benar capek mencorat-coret mimpi-mimpi dan segala persiapannya. Untuk mengalihkan perhatian, saya sok sibuk dengan kegiatan diluar tanpa memikirkan itu lagi. Sungguh ini begitu payah. Tapi disisi lain saya seberusaha mungkin untuk terus memberikan self control. Hal-hal yang baik dengan menulis pendek-pendek meskipun hanya sebatas status bbm. Jujur itu sedikit banyak membantu untuk menumbuhkan pola pikir yang baik dan positif.

Baiklaah, mari tutup semua curhatan akhir hari ini. H-7 Ramadhan. Ada yang perlu kita sambut dengan sebaik-baiknya kondisi! Bismillah..

Meja kerja, 30 Mei 2015