(MIIP#7) Rezeki itu Pasti, Kemuliaan yang Dicari

Beberapa waktu yang lalu, saat salah seorang kawan lama menanyakan mengapa saya memilih resign dari mengajar dan apakah saya tidak khawatir dengn rezeki yang jelas terkurangi dari biasanya…

Seketika saya meminta suami untuk meyakinkan. Bahwa rezeki bukan hanya terpaut jumlah banyaknya, kuantitasnya. Namun berkahnya, dan terkandung halal serta haram didalamnya.

Sesuai dengan tagline materi ke 7 MIIP, bertajuk Rezeki dan Produktivitas.

Setelah berhasil benar-benar resign, saya memang acap kali menanyakan pada diri sendiri apakah saya bisa tetap prduktif? Meski bukan materi ukuran yang terlihat.

Menurut IIP,  ibu produktif adalah ia yang selalu berusaha dan istiqomah dalam menjalani proses untuk menemukan dirinya, menemukan misi penciptaan dirinya di muka bumi ini dengan cara menjalankan aktivitas yang membuatnya memahami bahwa rezeki Allah adalah luas (bukan hanya materi, namun juga ilmu)

Dalam IIP , perempuan yang produktif ialah perempuan yang memiliki value bahwa ikhtiar menjemput rezeki tidak boleh sampai membuatnya meninggalkan amanah utama. Sebab Allah berjanji menjamin rezeki kita, maka melalaikan ketaatan pada-Nya dan mengorbankan amanah-Nya demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijamin-Nya adalah kekeliruan besar. Semua ini adalah bagian dari aktivitas amalan para perempuan atau ibu untuk meningkatkan kemuliaan hidup. Oleh karena itu, sebelum memulai aktivitas produktif, kiranya kita perlu bertanya dulu pada diri, Apakah dengan aktifnya saya sebagai perempuan/ibu di dunia produktif akan meningkatkan kemuliaan diri saya (juga anak-anak dan keluarga)? Kalau jawabannya ”iya”, maka lanjutkan.

Tugas kita sebagai perempuan atau ibu produktif bukanlah untuk mengkhawatirkan jumlah rezeki (baik untuk diri sendiri dan atau keluarga), melainkan menyiapkan sebuah jawaban “dari mana” dan “untuk apa” atas setiap karunia yang diberikan Allah kepada kita. Karena segala bentuk karunia yang Allah beri terliput pertanggung jawaban di dalamnya. Sedang segala usaha yang telah kita usahakan telah Allah takar sesuai takdir milik kita masing-masing.

Dalam rezeki kita ada bagian milik orang lain pula yang sejatinya, ketika kita mampu menempatkannya dengan baik sesuai apa yang Allah perintahkan. Terdapat keberkahan serta kemuliaan di dalamnya.

Referensi Utama : Materi Matrikulasi Institut Ibu Profesional #4

Advertisements

(MIIP#5) Meninggikan Gunung

mendaki-3

Ketika saya membuka lagi folder matrikulasi IIP di laptop dan membacanya ulang. Ternyata materi ini adalah materi dimana para peserta dimulai untuk membuat grand design bagaimana menyuplai kebutuhan belajar untuk diri sendiri.

Continue reading “(MIIP#5) Meninggikan Gunung”

(MIIP #4) Mendidik Diri untuk Mendidik Generasi

6a2fdc90f37f8f6c50a481209b499c2d

Bismillaah..

Kembali dengan mereview ulang alias diri sendiri juga belajar lagi. Berikut adalah materi ke-4 matrikulasi dan materi-materi ini saya dapatkan ketika saya masih single alias belum menikah wkwkw (ini ndak penting sih yaa)

Disini letak i’m so grateful inside this circle. Dalam IIP, tidak membedakan status single, menikah, single parents, working mom atau bukan.

Continue reading “(MIIP #4) Mendidik Diri untuk Mendidik Generasi”

(MIIP #3) Bagaimana Caranya Membangun Peradaban dari Rumah?

vintage barn wall

Melanjutkan materi yang saya dapat saat program Matrikulasi IIP. Lama bangettt baru dilanjutin XD. Ndak apa ya, semoga masih bisa diambil saripati hikmahnya.

Materi ke-3 matrikulasi bertajuk “Membangun Peradaban dari dalam Rumah”

“Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya.” – Institut Ibu Profesional

Membaca tagline diatas membuat saya teringat akan satu nasehat pernikahan yang saya dapat selepas ijab qabul dilaksanakan ;

Menikah itu yang penting ibadahnya, apalagi ibadah shalat. Shalat ketika masih sendiri akan terasa lebih ringan berangkatnya, menujunya, mengawali waktunya, menyegerakannya. Meskipun ganjaran yang didapat harus diusahakan (dengan mengikuti jama’ah) untuk melipat gandakan pahalanya.

Beda ketika sudah menikah, ada imam dan ada makmum. Dimanapun tempatnya asalkan shalat bersama dan berjama’ah in sya Allah pahalanya sudah dilipat gandakan Allah. Tapi apakah semudah itu? Tentu syaitan akan menggodanya lebih berkali-kali lipat dibanding ketika masih sendirian.

Jangankan shalat, syaitan akan menggoda anak manusia yang ada dalam ikatan pernikahan ketika mereka akan melakukan ibadah jenis apapun, sekalipun itu bukan dalam bentuk ibadah agama.

Maka di dalam pernikahan, sumber utama membangun sebuah kebaikan terletak dari dalam keluarganya.

Ngawi, 11.12.17

Kembali ke materi IIP ;

Dari paragraf terakhir nasehat tersebut, saya menggaris bawahi poros utama terbentuknya generasi penerus yang berdaya, sehat paripurna dan bermanfaat bagi agama adalah bersumber dari dalam rumah. Dari peradaban yang dibangun di dalam keluarganya.

Maka tugas utama kita sebagai pembangun peradaban adalah mendidik generasi penerus sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.
Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “misi spesifiknya”, tugas kita memahami kehendakNya.

Duluuuu banget, ketika saya belum banyak mengikuti kelas parenting dan hanya suka-suka baca kulitnya saat kuliah, saya belum begitu mengerti. Apa maksudnya fitrah sudah Allah berikan sejak anak-anak baru dilahirkan (?)

Setelah saya mengerti maksudnya, ternyata adalah semua anak terlahir sudah dibekali dengan “tujuan diciptakannya”. Orang tua adalah fasilitator, orang tua bertugas untuk memfasilitasi, membukakan jalannya, mendampingin tumbuh berkembang bukan untuk memaksakan kehendak akan menjadi seperti apa yang sesuai dengan orang dewasa kehendaki.

Tapi-tapi saya terima materi ini saat masih belum berkeluarga XD, jadi bagaimana membangun peradaban dari dalam rumah yang (rumahnya itu masih ada dalam angan-angan eaa).

Dari materi yang saya dapatkan, untuk tahap pra-nikah, kita bisa memulainya dari :

  1. Melihat ke dalam diri kita sendiri
  2. Kemudian bertanya dan menanyakan beberapa poin ini ;
    • Bagaimana proses anda dididik oleh orangtua
      Anda dulu?
    • Adakah yang membuat Anda bahagia?
    • Adakah yang membuat Anda “sakit
      hati/dendam’ sampai sekarang?
    • Apabila ada, sanggupkah Anda memaafkan
      kesalahan masa lalu orang tua Anda, dan kembali
      mencintai, menghormati beliau dengan tulus?
    • Kalau empat pertanyaan itu sudah terjawab
      dengan baik, maka melajulah ke jenjang
      pernikahan. Tanyakan ke calon pasangan Anda ke empat hal
      tersebut, minta dia segera menyelesaikannya. Karena,

ORANG YANG BELUM SELESAI DENGAN MASA LALUNYA , AKAN MENYISAKAN BANYAK LUKA KETIKA MENDIDIK ANAKNYA KELAK – Institut Ibu Profesional

Ketika sudah menikah, poin-poin yang perlu dilakukan adalah

  1. Menemukan potensi unik diri dan suami
  2. Renungkan dan coba ingat-ingat mengapa dulu kamu memilih dia?
  3. Apa yang membuatmu jatuh cinta padanya?
  4. Lalu, lihat dirimu, apa keunikan positif yang kamu miliki?
  5. Mengapa Allah menciptakanmu di muka bumi ini sampai berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suamimu?
  6. Apa pesan rahasia Allah terhadap dirimu di muka bumi ini?
  7. Selanjutnya, lihat anak-anakmu, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahimmu yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersamamu? Mengapa kamu yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Apa misi spesifik Allah kepada keluargamu sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?
  8. yang terakhir, lihat lingkungan dimana kamu hidup saat ini. Mengapa bisa bertahan hidup dengan kondisi alam demikian? Mengapa Allah menempatkan keluargamu disini? Mengapa keluargamu didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekelilingmu saat ini?

Berikut materi ke – 3 yang saya dapat dari matrikulasi. Menulis ini ternyata menumbuhkan kembali ingatan saya dan semangat untuk berkontemplasi kembali terus belajar dan bersyukur atas setiap tahapan kehidupan yang sudah Allah berikan sampai saat ini.

Semangat bertumbuh! 🙂

Surabaya, 24.01.18


Untuk membaca seputar IIP, serta materi #1 dan #2 ada disini

Review Aplikasi : Asah Tajwid 1, 2 dan 3

Masih tentang review aplikasi, wkwkw

Sebetulnya ada topik lain yang sudah antri di draft tapi belum bisa di post karena mandeg ide curhatnya XD


Asah Tajwid

Jadi, apa bedanya dengan Game Petualangan Tajwid yang di post kemarin?

Beda 😉

Dimana letak perbedaannya?

Bedanya terletak pada bentuk penyajian kontennya. Kalau game tajwid memang disusun dengan tujuan membuat game atau permainan. Asah Tajwid dibuat untuk menguji, membuktikan dan mengasah kemampuan yang sudah dimiliki seputar tajwid dengan media soal-soal yang berupa audio.

Jadi, teman-teman akan diujik dengan cara mendengarkan audionya. Lantas menebak hukum tajwid apakah yang sedang dibacakan dalam audio tadi.

Sampai disini, itu artinya device yang kita pakai harus support audionya ya! 🙂

Nah. Aplikasi ini sudah sampai jilid 3 lho!

Aplikasi ini juga cocok dipakai untuk para orang tua atau guru pendidik sebagai media pembelajaran dengan subbab Hukum Baca Tajwid. Mendukung perkembangan teknologi Android yang sudah merambah keseluruh lapisan masyarakat seperti sekarang ini.

Cukup jelas bukan petunjuknya ?

Untuk download teman-teman lebih mudah dengan cara membuka Google Play Store lalu ketikkan pada keyword “Asah Tajwid”. Maka akan muncul macam niiii…

6


Karena masih seputar media belajar tajwid sama seperti postingan yang sudah kubuat kemarin, jadi ku cukupkan postingan review hari ini :p

Semangat bertumbuh dan berkarya!

Sabr Indonesia

Review Aplikasi : Game Petualangan Tajwid

Assalamu’alaikuum..

Akhirnya kembali untuk menulis 😀

Aplikasi Game Tajwid

Mungkin saya memang bukan reviewer pertama mengenai Game Tajwid ini, tapi ijinkan saya tetap menulisnya ya! XD

Game ini memadukan unsur islami untuk belajar tajwid (ilmu tata cara membaca Al-Quran) yang diterapkan dalam ponsel pintar Android. Game ini, menjadi salah satu alternatif media untuk mendalami tata cara membaca Al-Quran dengan kemajuan teknologi ponsel yang semakin canggih.

Cara mainnya juga mudah dan jelas tertulis semua di petunjuk permainan. Game sederhana ini hanya perlu untuk menyelesaikan misi yang diberikan lalu pengguna bisa next level untuk permainan yang lebih menantang.

Di akhir permainan, ada contoh-contoh bacaan tajwid supaya nantinya paham dan tau cara membaca dengan tajwid yang benar!

Game? Bikin kecanduan gak?

Setelah menikah dan sedikit-sedikit belajar mengenai parenting, ku sungguh rekomendasikan game ini jadi salah satu game yang perlu ada di handphone kids jaman now selain game yang sedang hits saat ini (namanya mobile legend, aov entah kutak tau kepanjangannya, hanya sering dibicarakan anak-anak di sekolah wkwkw). Game ini bisa jadi untuk mendukung mereka belajar tajwid dengan media elektronik yang gak kalah seru 😉

Kebanyakan yang kita tau, anak-anak adalah obyek yang paling mudah menjadi sasaran game atau tontonan televisi. Mereka akan dengan mudah sekali merasa candu dan menirukan semua yang mereka lihat dan rasakan dengan menjadi penggunanya. Lantas jika kecanduang game tajwid ini apakah akan memberi dampak yang tidak baik?

In sya Allah aplikasi ini dibuat dengan tujuan yang baik.

Tapi apakah boleh untuk semua umur? Tidak.

Tentu dengan dampingan orang tua dan game ini bukanlah bentuk game yang cumacuma ngasih kesan menghibur tapi juga meng-edukasi anak.

Apakah berbayar?

Alhamdulillah, game ini ready didownload secara gratis tersedia di Google Play Store ,yang artinya hanya available untuk pengguna smartphone Android yaa!

Oiyaaa, sudah tersedia game seri lanjutannya juga. Didownload semua yuk, biar lengkap :p

Sekian review aplikasi Game Tajwid!

Mari kita do’akan agar terus istiqomah menghasilkan karya-karya bermanfaat ya! Supaya semakin banyak agen yang menyebarkan kebaikan 🙂

 

 

 

5

 

 Link download :

Game Tajwid 1

Game Tajwid 2


 

Akhirnya tulisan dengan tag ini terposting juga wkwk, semoga sedikit review ini bermanfaat dan kita tunggu aplikasi-aplikasi lainnya yaaa XD

#promosimiliksuami #sudahkusupportmas #demisuami

 

 

Fokus Pada Kelebihan

IMG20170220093527Kalau ada pertanyaan pilih mana antara “memupuk kelebihan atau memperbaiki kekurangan?”

Pertanyaan ini sekilas akan menjebak dan tidak sedikit yang akan menjawab memperbaiki kekurangan. Karena saya dulu juga pernah jawab begitu 😂

Setelah tau dan dipahami mengapa kita tidak fokus saja pada kelebihan yang kita miliki? Bukankah dengan seperti itu kita akan terus mengalirkan kebaikan-kebaikan setelah kita mengetahui apa saja kelebihan yang kita punya.

Hari ini, saya mencoba menerapkan itu pada anak-anak kelas IV yang mereka sedari tahun lalu telah melabeli seisi kelasnya (mereka sendiri) dengan julukan “Geng Kacau”. Bahkan saya pernah di invite  masuk grup Whatsapp yang mereka miliki. Duh kids jaman now.

Maka tadi saya beri mereka julukan baru “Geng Enerjik” 😅

Setelah saya mengerti, itu bisa menjadi pemicu orang dewasa andil dalam melabeli mereka. Saya khilaf sungguh ketika saya ingat pernah menyebut mereka dengan sebutan “Geng Kacau ini makin kacau”. Karena jujur, mengisi kelas mereka seperti menghadapi 3x lipat jumlah mereka yang hanya 5 orang. Setiap pagi hari tiba jadwal saya mengajar mereka, maka sebelum berangkat yang saya persiapkan ketebalan hati, emosi dan pikiran. Karena akan terkuras sekaligus ketika mengisi anak-anak ini dengan durasi 2 jam. Hari ini saya coba 10 menit untuk anak-anak menulis kelebihan dirinya sendiri dan kelebihan temannya (maksud saya untuk memotivasi dan mengingatkan bahwa masih banyak poin yang bisa mereka syukuri dan kembangkan. Karena anak-anak hebat sesuai versi mereka masing-masing)

Ini sedikit banget catatan mereka tadi pagi


Kembali pada kelebihan.

Saya tidak terlalu suka mengikuti forum-forum motivasi atau membaca buku-buku motivasi. Namun setelah sedikit belajar mengenai parenting maka penting sekali modal orangtua untuk mengenali anak mereka karena itu yang akan membawa para orangtua membimbing anak-anak meningkatkan kelebihan mereka.

Mencari dan terus mengoreksi kekurangan hanya akan menghabiskan waktu. Karena hal tersebut hanya akan menimbun kekurangan yang setiap manusia memang kodrat memilikinya. Namun dengan memperbaiki diri untuk meningkatkan kelebihan, maka hal tersebut akan mengajarkan kita menemukan cara untuk terus fokus pada kelebihan diri. Hingga mencapai yang optimal.


Dalam buku  The Secret of Happy Children: 100 Cara Agar Anak Bahagia Oleh: Thimothy J. Sharp, , terdapat sebuah cerita mengisahkan seorang anak yang mendapatkan nilai rapor sebagai berikut ;

  • 9 untuk mata pelajaran bahasa Inggris dan ilmu sosial
  • 7 untuk mata pelajaran Biologi
  • 5 untuk mata pelajaran Matematika

Bagaimana jika anda adalah orang tuanya?

Bagaimana anda akan merespons jika rapor anak anda mendapat nilai seperti ini?
Apa yang akan menjadi perhatian anda? Memasukkan anak ke tempat les bahasa inggris atau mendaftarkan mereka privat matematika?

Sebagian besar orang tua mungkin akan memilih untuk memperbaiki nilai 5 pada matematika. “Kita harus fokus pada matematika. Anakku telah gagal dalam mata pelajaran ini dan kita harus membantunya”.
Anda menganggap nilai 5 ini adalah aib yang membuat malu dan harus segera diperbaiki.
Namun jika anda bagian dari yang memandang angka 9, maka lanjutkanlah untuk melihat kelebihan-kelebihan yang lain pada kehidupan.

Sangat masuk akal untuk fokus pada hal yang menjadi kelemahan kita. Namun, sesuatu yang masuk akal tidak selalu merupakan yang terbaik. Fokus pada hal positif jauh lebih baik untuk dilakukan.


Nah, anak-anak kelas VI yang saya jadikan percobaan tadi 😆 masih minim sekali usahanya untuk mengenali kelebihan dirinya, masih ogah-ogahan gitu. Karena mereka terlalu terbiasa dengan aktivitas dan obrolan yang bersifat guyon dan terkadang itu telah melampau batas apa yang semestinya tidak mereka bicarakan dalam menilai dirinya sendiri maupun teman-temannya. Maka setelah hari ini hingga pertemuan-pertemuan ke depan, saya akan membiasakan mereka di awal pembelajaran untuk menulis kelebihan tsb. Supaya hari mereka akan diawali dengan kesadaran “bahwa saya memiliki kelebihan”.

Sekian curhatan bu guru. Tulisan dan ide ini sekaligus menjadi peringatan bagi diri sendiri 😊

Semangat menuju kebaikan!

Surabaya. 25.10.17

Review Buku : Kiki Barkiah

Kiki Barkiah merupakan salah satu dari sekian perempuan berlulusan tinggi yang memilih menjadi penanggung jawab amanah Allah langsung-dalam hal mendidik anak-anaknya. Mengenal nama Teh Kiki (ikutan manggil teh gitu) bermula dari Social Media yang pada saat itu ibarat sepantaran ketika saya mengenal Bukik Setiawan dengan bukunya “Anak Bukan Kertas Kosong”.Alhamdulillah membaca tulisannya yang tercetak baru Juli tahun ini. Karena memang ada satu judul baru yang di cetak Juni 2017. Sedangkan dua buku lainnya adalah kumpulan kisah pada tahun berkisar 2015.

Buku ini diterbitkan oleh Mastakka Publishing yang bertempat di Bandung dan penerbitan ini merupakan salah satu usaha yang beliau kembangkan bersama keluarga.


Salah satu potongan cerita yang ada pada buku berjudul 5 Guru Kecilku Bagian I

Wahai anakku…

Ummi teringat perkataan Imam Syafi’i yang menegaskan bahwa ilmu itu bukan yang dihafal dalam pikiran, tetapi yang bermanfaat dalam perbuatan.

Juga teringat sabda Rasulullah SAW ; yang artinya begini…

Hadist dari ‘Abdullah : Rasulullah SAW bersabda : “Tidak boleh iri kepada orang lain, kecuali dalam dua hal :

  1. Seseorang yang Allah beri harta dan ia belanjakan dengan baik
  2. Seseorang yang Allah beri hikmah (ilmu Qur’an dan Hadist) kemudian ia amalkan dan anjarkan kepada orang lain (Shahih Al – Bukhari No. 7141)

Oleh karena itu, belajar seperti inilah yang ummi harapkan dari sebuah tambahan ilmu bagi kalian dalam sekolah di rumah kita. Sebuah peningkatan kapasitas intelektual yang membuat kalian semakin mengenal kebesaran Allah sehingga dengan itu kecintaan kalian kepada Allah semakin bertambah.

Halaman 118 – 119


Semua yang dituliskan Teh Kiki ngaliiiirrr banget dari apa-apa yang dialami dalam keseharian beliau. Tutur bahasanya sabaaar sekali membuat pembaca seolah betul mengondisikan bagaimana bisa sesabar itu menghadapi anak-anak.

Karena menghadapi satu anak saja tidak bisa dijadikan acuan bagaimana cara mendidik yang baik dan sesuai. Karena seperti apapun cara yang baik, jika tidak tepat pada karakter anak juga tidak akan memberikan hasil seperti yang diamanahkan Allah. Sama seperti teh Kiki tidak bisa menyama ratakan cara pengasuhan kepada 5 anaknya.

Justru poin yang saya garis bawahi, beliau bukanlah seorang lulusan Psikologi. Namun semua kisah yang diceritakannya sungguh berhikmah mengalir benar-benar menuntun beginilah keseharian menjadi ibu, beginilah ikhtiar menumbuhkan anak-anak dan beginilah menjaga amanah dari Allah.

Kumpulan tulisan dalam tiga buku ini tidak seperti menggurui, kita sebagai pembaca layaknya dikisahkan langsung oleh penulisnya. Kisahnya berkelana namun pesan tetap sampai di hati 😊

Banyaaaak banget kisah yang pas bacanya bikin merinding.

Teh Kiki selalu menyelipkan hikmah dari kisah seeekecil sebuah kejadian, kalo dilihat kasat mata kita akan lebih mudah merasa bahwa itu hanya menguras energi dan emosi. Tapi bagi teh Kiki selalu ada berkah di tiap-tiap polah tingkah anak-anaknya. Setiap kejadian dalam keluarga bagi beliau adalah cara Allah menumbuhkan untuk menjadi lebih baik.

Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk menjadi salah satu tambahan amunisi tentang parenting. Plu-plusnya. teh Kiki menghadirkan konsep IQ, SQ dan EQ yang diramu dalam kumpulan kisah berhikmah seputar mengasuh anak.


Akhir kata, memang tidak akan pernah ada cara dan bentuk mengasuh dan mendidik anak yang sempurna. Pun tidak ada orangtua yang tidak ingin memberi yang terbaik bagi anak-anak mereka.

Menjadi orangtua tidak pernah habis dipelajari, belajarnya akan terus seumur hidup. Maka, semoga do’a-do’a kita sebagai manusia yang pernah melewati fase anak-anak (semua orang dewasa pasti pernah jadi anak-anak) tidak pernah terputus untuk mendo’akan orangtua kita.

Layaknya mereka yang tidak pernah berhenti mendidik dan mengasuh.

Allahummaghfirli waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbaayanii shogiiroo

Surabaya, 09.10.17

Tuh kan, kejedot….

124659_kidstairs_getty

 

“Tuh kan, kejedot….”

“Hehe iyaaa….”

Sambil sedikit mengaduh dan mengusap-usap kepalanya, sembari saya bantu. Seketika itu rasa bersalah saya muncul dan sejurus kemudian saya minta maaf karena telah membiarkan omongan tadi terlepas dari mulut saya.

Tapi senyum polosnya masih mengembang. Fazila, siswi kelas 1 SD yang hobinya tersenyum dan tertawa dengan nada default “hehe”. Awalnya saya sudah ingatkan dia untuk berhati-hati, karena kelas pagi ini kami belajar di loteng sekolah yang disulap menjadi creativity class. Jadi lesehan gitu ceritanya…

Nah ada satu sudut yang memang rendah, otomatis memungkinkan untuk mudah terkena kepala jika tidak hati-hati sewaktu berdiri.

Entah kenapa, saya terus teringat dengan kalimat yang saya ucapkan kepadanya…


Sebetulnya hanya perlu mengganti kalimatnya menjadi ;

“Habis kejedot ya… sakit ndak? (sambil tetap mengusap-usap kepalanya) lain kali lebih hati-hati lagi ya” 

Tapi yaaa begitulah terlanjur terucap, akhirnya dengan rasa bersalah dan terus terfikir maka saya hanya bisa minta maaf untuk memperbaiki pola pikirnya yang (semoga belum) mencatat “kok aku disalahkan….”

Maafin ibuk ya Zila…


Di sebuah artikel yang saya lupa persisnya…

Hal-hal kecil seperti ini yang sering membuat orang tua tanpa sadar membiarkan anak-anak menyimpan memori tentang betapa mudahnya menyalahkan sesuatu, orang lain atau bahkan dirinya sendiri yang sebetulnya itu adalah bentuk ketidak sengajaan.

Dan ternyata….

Ini merupakan gaya parenting yang sudah populer digunakan dikalangan sekitar. Sikap “mudah menyalahkan” ini akibatnya bisa panjaaang sekali di masa depan.

 


 

Mengapa perlu berhati-hati dalam berkata pada anak?

Efek dari sikap diatas sama seperti ketika dalam kalimat menyalahkan tersebut ditambah dengan menyalahkan benda lain. Contohnya ketika anak jatuh, maka yang disalahkan ubinnya atau segala sesuatu yang memicu si anak jatuh.

Maka dalam memorinya tersimpan bahwa mudah sekali menyalahkan sesuatu. Ia akan merasa bahwa boleh-boleh saja atau sah saja mencari kambing hitam untuk tidak bertanggung jawab atas dirinya.

Misalnya dalam sebuah contoh ;

Anak tidak sadar jika air di dalam gelas yang ia pegang, tumpah. Lantai rumah menjadi basah dan licin.

Maka orang tua pada umumnya akan bertanya “Kok bisa tumpah?”

Yang semestinya kalimat tersebut akan lebih efektif jika dirubah menjadi “Airnya tumpah ya… Yuk bantuin ibuk keringkan/bereskan”

Anyway, saya nulis ini sambil jejeritan dalam hati nemuin solusi perdebatan yang ada dalem pikiran XD

Jadi ngerasa, ya ampuuuun belajarnya masih kurang. Jadi bilang ke diri sendiri “Iya ya… kan gitu lebih baik ya. Iya ya ya ampuun…”


Sedikit solusi dari masalah diatas ;

  1. Sebetulnya hanya perlu tahan emosiiiiii wkwk yang ini syuusaaaah. Regulasi emosi. Belajar lagi lah yhaaa…
  2. Tampung pikiran positif dan fokus pada solusi
  3. Tujuannya untuk membuat anak menjadi bertanggung jawab atas dirinya, maka jangan biarkan pikiran kita terfokus dengan “alasannya, kenapa bisa begini, kenapa bisa begitu”
  4. Segera minta maaf ke anak, kalau terlanjur 😦

Dampak yang berakibat pada anak ;

  1. Anak akan mudah mencari kambing hitam atas permasalahannya
  2. Itu artinya, ia telah dibiasakan untuk tidak bertanggung jawab atas apa yang ia alami
  3. Anak akan mudah berbohong dan mencari-cari alasan atas terjadinya sesuatu
  4. Anak menjadi mudah ragu bertindak karena merasa apa yang ia lakukan akan mudah disalahkan
  5. Menjadi demotivated
  6. Menjadi mudah bingung, kecewa, marah dan seabrek sikap-sikap negatif lainnya
  7. Menjadi sosok yang mudah menyalahkan dirinya sendiri kemudian lelah terhadap jiwanya..
  8. Mudah membuat jiwanya merasa lemah dan tidak percaya diri

Curhat sore ini. Bismillah bisa lebih baik lagi. Semangat yang lagi berjuaaaangg 🙂

Surabaya, 12.09.17

Tambahan referensi :

http://www.zeth-house.com/2016/05/menyiapkan-anak-tangguh-di-era-digital.html

http://sayangianak.com/orantua-harus-berhenti-menyalahkan-hal-lain-untuk-kesalahan-anak-bahaya-itu-bagi-perkembangan-oribadinya-dalam-jangka-panjang/

 

Kompromi dengan Inner Child

maxresdefault
sumber : google.com

Ini adalah “topik lain” yang pernah saya janjikan untuk diri sendiri agar sempat menuliskannya disini. Akhir-akhir ini, saya memang banyak sekali menemukan pembahasan tentang hal ini, seolah benar-benar sepemikiran dengan saya yang mendadak sering ingat tentang inner child.

 

Selama di rumah, saya benar-benar merasakan “oh ternyata begini”. Mungkin karena sudah mulai mengerti bahwa ternyata jauh didalam diri setiap manusia, ada sifat anak kecil yang terus hidup hingga ia dewasa.

Sebelum terlalu jauh, inner child dalam artian harfiah yang saya pernah dengar dari seminar Bunda Elly Risman adalah anak kecil yang ada dalam diri kita. “Semua orang punya dan itu normal” ujar Bunda Elly. Tapi jika sampai mendominasi diri, itu akan jadi masalah.

Kalo yang dibawah setelah ini menurut pemahaman saya heheh 😀

Inner child akan terus dirasakan orang tersebut sampai dirinya bisa menguasai rasa damai untuk merubahnya menjadi lebih baik. Agar rantai itu terputus sampai dirinya saja. Tidak ada orang hidup tidak dengan masa lalu, namun masa lalu seperti apa yang membuatnya menjalani kehidupan mendatang. Kita tidak pernah bisa request sama Allah mau dilahirkan dalam kondisi keluarga dan orang tua seperti apa.

Bagi saya pribadi, satu-satunya cara menghilangkan trauma yang masih tertinggal adalah dengan cara self healing. Terus belajar mengontrol emosi, terus memperbaiki diri dan sadar akan perubahan yang mesti dilakukan. Sulit memang, saya masih sering lepas kontrol ketika menghadapi murid di kelas, kemudian dia suka sekali menguji kesabaran. Marah, dongkol terus ngomong dengan nada yang perlahan meninggi. Pernah, tapi untung tidak terlepas jauh. Karena ada kondisi dimana anak tsb pintar sekali mengambil momen untuk membuat saya dongkol yang akhirnya ketawa juga.

Disitulah inner child sedang me-recall. Itu artinya, bayangan masa kecil ketika tidak sengaja dibentak, tidak sengaja menjadi pelampiasan banyaknya urusan yang dipikirkan orang tua saya dahulu. Tentu hal seperti itu tidak ingin saya turunkan ke anak-anak saya nantinya.

Tidak hanya marah, saya ambil contoh lain supaya bukan saya yang selalu jadi tokohnya 😂

Pernah suatu ketika, banyak sekali hal-hal yang menumpuk menjadi beban pikiranmu, dan yang ingin kamu lakukan hanyalah menepi, membiarkan diri jauh dari siapapun. Kamu hanya ingin tenggelam dengan diri sendiri tanpa diganggu. Bahkan sampai kamu tidak peduli, apa yang tengah terjadi dengan orang disekitarmu. Simpulannya, egomu sedang sangat meminta tempat untuk diunggulkan secara tunggal.

Itulah inner child yang sedang terbangun, kala kamu mengingatnya lagi ternyata kamu sedikit-demi-sedikit menemuka benang merah. Saat kecil kamu pernah tidak digubris sama sekali, ocehanmu hanya seperti angin lewat, segala sesuatu yang kamu buat untuk menarik perhatian orang lain hanyalah sebuah kesia-siaan. Maka, saat dewasa “anak kecil” yang ada pada dirimu terbangun kembali.

Seperti itu kiranya, sependek pemahaman saya.


Awalnya, ketika saya belum ngeh-ngeh banget sama apa itu inner child, saya merasa semua yang terjadi di masa lalu, masa kecil dan masa kemarin sudah terlewatkan begitu saja. Saya hanya perlu mengingat yang baik.

Inner child meninggalkan banyak sekali bekas dalam diri manusia, maka ketika saya mulai mengerti dan merumuskan tentang bagaimana bersikap pada anak-anak nantinya, saya ingin memahami tentang hal ini dengan pasangan. Karena berdamai dengan diri sendiri membutuhkan waktu yang sangat lama, apalagi ketika menjalani pola pikir yang berbeda dengan orang yang tidak pernah menjadi satu didikan dengan kita. Menjadi satu dengan orang asing yang sejatinya pasti memiliki peninggalan semasa didikan orang tuanya terdahulu. Dan itu perlu di kompromikan bersama-sama.

 Menjadi orang tua pada abad ini memang menjadi sebuah tantangan. Dengan perkembangan arus informasi yang sangat mudah untuk didapat, sebagai orang tua justru kita harus mampu merumuskan jalan mana yang akan ditempuh untuk menyelamatkan anak-anak dari arus teknologi yang semakin deras atau melibatkan mereka didalamnya secara bijak.

Itu semua tidak lepas dari berdamainya diri dengan masa lalu untuk menjemput masa depan yang jauh lebih baik dan itu semuaaa..

Balik lagi kepada, sampai mana ilmu yang kita miliki untuk memperbaikinya. Saya disini, menuliskan ini sedang pada fase belajar dan terus belajar. Berusaha memperbaiki rantai generasi agar tidak terus terjadi perulangan yang sebaiknya segera diperbaiki bahkan jika harus diputus, maka sebaiknya diputus.


Yang perlu disadari adalah orang tua kita jaman dahulu belum memiliki akses mengenai ilmu parenting, sebanyak yang kita miliki saat ini. Maka, upaya berdamai tetap menjadi cara yang diprioritaskan. Toh sebenernya, kalo dipikir-pikir marahnya orangtua jaman dulu itu wajar sekali. Marah ya cuma marah-marah, apalagi sampe ketemu label “namanya juga anak-anak, dimarahin sekali diem”. Beda dengan sekarang, yang sedikit-sedikit di posting. Maka jadilah viral, lalu menimbulkan perdebatan.

Orangtua jaman dulu, sayang sama anak hanya diupayakan via harapan, do’a dan nasehat-nasehat. Jaman sekarang, sayang sama anak caranya pake mencarikan kegiatan seabrek supaya dia sibuk, ikut les ini itu supaya rangking 1 terus atau memfasilitasinya dengan semua kemudahan yang hanya dilakukan dengan satu click. 

 Ya semua itu sebatas simpulan saya sendiri. Seorang single yang pengetahuannya terbatas sekali dan insyaAllah diwaktu yang tepat dipersatukan dengan cerminan dirinya 😆#sabar #monggo diaminkan

Akhirnya, simpulan atas semua curhatan saya diatas antara lain ;

  • Memahami dan memilah masalah itu sangat diperlukan (supaya tidak mudah mengaduk-aduk semua masalah menjadi satu)
  • Terus berusaha untuk meregulasi emosi (ketika dongkol-maka diam dan tarik nafas, ketika berdiri-maka duduk, ketika duduk-maka berbaring, berwudhu dst.)
  • Jika diperlukan self healing, maka lebih baik pergi ke terapis. Untuk mendapat hasil yang benar-benar maksimal

Surabaya, 19 Juli 2017