(MIIP#7) Rezeki itu Pasti, Kemuliaan yang Dicari

Beberapa waktu yang lalu, saat salah seorang kawan lama menanyakan mengapa saya memilih resign dari mengajar dan apakah saya tidak khawatir dengn rezeki yang jelas terkurangi dari biasanya…

Seketika saya meminta suami untuk meyakinkan. Bahwa rezeki bukan hanya terpaut jumlah banyaknya, kuantitasnya. Namun berkahnya, dan terkandung halal serta haram didalamnya.

Sesuai dengan tagline materi ke 7 MIIP, bertajuk Rezeki dan Produktivitas.

Setelah berhasil benar-benar resign, saya memang acap kali menanyakan pada diri sendiri apakah saya bisa tetap prduktif? Meski bukan materi ukuran yang terlihat.

Menurut IIP,  ibu produktif adalah ia yang selalu berusaha dan istiqomah dalam menjalani proses untuk menemukan dirinya, menemukan misi penciptaan dirinya di muka bumi ini dengan cara menjalankan aktivitas yang membuatnya memahami bahwa rezeki Allah adalah luas (bukan hanya materi, namun juga ilmu)

Dalam IIP , perempuan yang produktif ialah perempuan yang memiliki value bahwa ikhtiar menjemput rezeki tidak boleh sampai membuatnya meninggalkan amanah utama. Sebab Allah berjanji menjamin rezeki kita, maka melalaikan ketaatan pada-Nya dan mengorbankan amanah-Nya demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijamin-Nya adalah kekeliruan besar. Semua ini adalah bagian dari aktivitas amalan para perempuan atau ibu untuk meningkatkan kemuliaan hidup. Oleh karena itu, sebelum memulai aktivitas produktif, kiranya kita perlu bertanya dulu pada diri, Apakah dengan aktifnya saya sebagai perempuan/ibu di dunia produktif akan meningkatkan kemuliaan diri saya (juga anak-anak dan keluarga)? Kalau jawabannya ”iya”, maka lanjutkan.

Tugas kita sebagai perempuan atau ibu produktif bukanlah untuk mengkhawatirkan jumlah rezeki (baik untuk diri sendiri dan atau keluarga), melainkan menyiapkan sebuah jawaban “dari mana” dan “untuk apa” atas setiap karunia yang diberikan Allah kepada kita. Karena segala bentuk karunia yang Allah beri terliput pertanggung jawaban di dalamnya. Sedang segala usaha yang telah kita usahakan telah Allah takar sesuai takdir milik kita masing-masing.

Dalam rezeki kita ada bagian milik orang lain pula yang sejatinya, ketika kita mampu menempatkannya dengan baik sesuai apa yang Allah perintahkan. Terdapat keberkahan serta kemuliaan di dalamnya.

Referensi Utama : Materi Matrikulasi Institut Ibu Profesional #4

Advertisements

(MIIP#6) Menjadi Handal dalam Keluarga

Menjadi handal itu berarti menjadi yang terlatih. Kali ini, dalam materi ke #6 MIIP yang berjudul Ibu Manajer Handal keluarga, saya menarik kesimpulan bahwa seorang ibu memiliki pekerjaan sebagai manajer di dalam keluarga, menjalani peran hingga mencapai peran yang handal.

Namun, tidak semua perempuan menjadi ibu yang hanya bekerja di dalam rumah. Melainkan ada pula yang bekerja di ranah domestic. Tetapi itu semua tidak semestinya menghilangkan esensi bahwa seorang ibu terlepas dari kewajiban utamanya mengurus keluarga, rumah, suami dan anak.

Sewaktu, sebelum menikah saya bertanya pada diri sendiri apakah profesi yang akan saya ambil setelah meniikah nanti?

Apakah sudah bulat melepaskan diri dari kesibukan di luar rumah? Apakah benar saya akan sanggup hanya menjadi ibu rumah tangga?

Karena dalam IIP, membuat saya melihat menjadi ibu rumah tangga bukanlah sebuah pekerjaan asal-asalan.


Mari kita lihat definisi bekerja menurut materi MIIP #6

Mari kita tanyakan pada diri sendiri, apakah motivasi kita bekerja ?

Apakah masih ASAL KERJA, menggugurkan kewajiban saja?

Apakah didasari sebuah KOMPETISI sehingga selalu ingin bersaing dengan orang/ keluarga lain?

Apakah karena PANGGILAN HATI sehingga anda merasa ini bagian dari peran anda sebagai Khalifah?

Dasar motivasi tersebut akan sangat menentukan action kita dalam menangani urusan rumah tangga dan pekerjaan kita.

Kalau anda masih “ASAL KERJA” maka yang terjadi akan mengalami tingkat kejenuhan yang tinggi, anda menganggap pekerjaan ini sebagai beban, dan ingin segera lari dari kenyataan.

Kalau anda didasari “KOMPETISI”, maka yang terjadi anda stress, tidak suka melihat keluarga lain sukses

Kalau anda bekerja karena “PANGGILAN HATI” , maka yang terjadi anda sangat bergairah menjalankan tahap demi tahap pekerjaan yang ada. Setiap kali selesai satu tugas, akan mencari tugas berikutnya, tanpa MENGELUH.


Nah, setelah menikah dan betul-betul memutuskan untuk resign-pun saya akhirnya mengetahui dimana letak pekerjaan rumah tangga yang membawa saya dalam kondisi shallow work. Huaaaaa…sedih sih. Pernah memang rasanya jenuh berulang hanya karena jenis pekerjaan yang sama dan diulang-ulang.

Lalu bagaimana agar semuanya bisa diminimalisir dan dijalani dengan sebaik-baiknya?

Kerjakan dengan sama profesionalnya seperti pekerjaan-pekerjaan atau tugas-tugas lainnya, hargai diri sebagai manager keluarga (berpakaianlah yang layak saat di rumah, jangan lusuh-lusuh), rencanakan segala aktivitas yang akan dikerjakan (misalnya dengan membuat to do list), buatlah skala priorita serta tidak menunda/menumpuk pekerjaan yang sudah ada, dan yang terpenting adalah bangun komitmen dan konsistensi dalam menjalankannya.

Referensi Utama : Materi Matrikulasi Institut Ibu Profesional #4

Review Aplikasi : Primaku

Bismillahirrahmanirrahiim..

Primaku adalah aplikasi keluaran milik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Pada interface awal ditampilkan berupa informasi berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala anak yang bisa kita isi setiap kali usai pengukuran/penimbangan.

Pada interface kedua, ada informasi seputar jadwal imunisasi sesuai aturan yang IDAI miliki. Jadi orang tua ngga akan terlewat akan jadwal imunisasi anak selanjutnya, sesuai rentang usianya. Pun, kalau dibuka penjelasan mengenai jenis imunisasinya, disana akan dijelaskan seputar jenis vaksin tersebut serta penanganan pasca imunisasi.

Disini user juga bisa input kapan anak melakukan imunisasi, agar tercatat seperti yang ada di buku KIA.

Bagusnya, di interface terakhir ada kumpulan stimulasi anak sesuai usianya sebagai informasi terutama bagi orang tua baru.

Seperti ini tampilannya.

Aplikasi ini bermanfaat banget kalau untuk saya pribadi. Karna saya jadi punya gambaran imunisasi apa yang akan dijadwalkan untuk Husna kedepannya. Tanpa perlu googling dulu seputar penjelasan vaksin tersebut.

Sekian, review aplikasi yang singkat ini 😀

Salam ibuk baru :))

08.11.18

Review Website : Anak Bertanya

Bismillahirrahmanirrahiim..

Laman web ini kali pertama saya temukan entah kapan hehe, yang saya ingat betul saya menemukannya dari laman tumblr yang hits pada masanya.

Laman website anak bertanya ini memiliki kepanjangan Anak Bertanya Pakar Menjawab. Dan kini tim mereka membuat fitur-fitur baru yang semakin lengkap diantaranya Anak Bertanya Mahasiswa Menjawab & Anak Bertanya Guru Menjawab.

Seru sekali membaca pertanyaan-pertanyaan polos milik anak-anak. Mereka bertanya sesederhana darimana asalnya awan?

Mungkin bagi sebagian orangtua ini adalah pertanyaan yang mengejutkan dan jika saya yang ditanya saya akan pilih melipir mempelajarinya dulu ketimbang jawab asal-asalan 😀

Gapapa deh ngaku ya sama anak, daripada menurunkan ilmu yang ngga bener.

Pun, kewajiban belajar lebih utama ada pada orangtua daripada kewajiban belajar untuk anak-anak.

Sayangnya di-era yang kini bisa mengakses segala hal lewat aplikasi (Android misalnya) bagi saya laman web ini mestinya lebih mudah diakses jika ada aplikasi matangnya di Play Store. Bukan mengakses via web searching ; Google, Yahoo, Opera dll

Rasanya lebih mudah nampak dalam genggaman jika dibuat bentuk aplikasi mobile.

Kira-kira beginilah tampilannya..

Nah, siapapun juga bisa menjadi relawan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan disini. Hanya saja, akan diseleksi oleh tim yang mana yang berhasil dipublish.

Sekian review kali ini.

Semoga harimu menyenangkan 🙂

07.11.18

Review : Aplikasi My Calendar

Bismillahirrahmanirrahiim..

Tulisan review aplikasi ini bukan semata-mata karena menuntaskan tugas bunsay level ini hehehe melainkan review ini murni dibuat karna aku sukaaa sekali dengan aplikasi ini 😅 (selain aplikasi-aplikasi buatan suami wkwkw)

Dan sudah lama ingin kutulis.

Oke, aplikasi ini ter-install di hp sejak tahun 2013, semasa masih di pondok. Kala itu kami belajar tentang risalatul mahaidh yang isinya seputar aturan-aturan yang ada mengenai permasalahan haid / menstruasi.

Menandai jadwal haid setiap bulannya membuat perempuan menjadi aware akan kondisi badan pra mens dan pasca mens. Jadi jika ada kegiatan tertentu yang bersamaan dengan datang bulan, antisipasi apa yang mesti aku lakukan dan ku akan bersiap-siap sebelumnya.

Desain interface-nya dibuat mudah sekali dipahami. Selain ada yang berfungsi sebagai penanda haid, juga ada penanda hari subur dan ovulasi. Yang pada akhirnya berguna setelah menikah huehue 😂

Aplikasi ini tidak berbayar, tapi akan berbayar jika user ingin menggunakan tema tambahan selain tema yang di gratiskan dari aplikasinya.

Seperti ini tampilan interface aplikasi My Calendar 😊

Fitur lainnya adalah terdapat sebuah log catatan berat badan dibuat dengan gambar bergrafik. Jadi kita bisa lihat progress berat badan dilihat dari grafik yang terbentuk sesuai inputan setiap kali pengukuran.

Sekian review kali ini (read : sekian sekilas info hari ini 😂)

Semoga bermanfaat dan harimu baik! Yay!

Ngawi 02.11.18

(MIIP #4) Mendidik Diri untuk Mendidik Generasi

6a2fdc90f37f8f6c50a481209b499c2d

Bismillaah..

Kembali dengan mereview ulang alias diri sendiri juga belajar lagi. Berikut adalah materi ke-4 matrikulasi dan materi-materi ini saya dapatkan ketika saya masih single alias belum menikah wkwkw (ini ndak penting sih yaa)

Disini letak i’m so grateful inside this circle. Dalam IIP, tidak membedakan status single, menikah, single parents, working mom atau bukan.

Continue reading “(MIIP #4) Mendidik Diri untuk Mendidik Generasi”

(MIIP #3) Bagaimana Caranya Membangun Peradaban dari Rumah?

vintage barn wall

Melanjutkan materi yang saya dapat saat program Matrikulasi IIP. Lama bangettt baru dilanjutin XD. Ndak apa ya, semoga masih bisa diambil saripati hikmahnya.

Materi ke-3 matrikulasi bertajuk “Membangun Peradaban dari dalam Rumah”

“Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya.” – Institut Ibu Profesional

Membaca tagline diatas membuat saya teringat akan satu nasehat pernikahan yang saya dapat selepas ijab qabul dilaksanakan ;

Menikah itu yang penting ibadahnya, apalagi ibadah shalat. Shalat ketika masih sendiri akan terasa lebih ringan berangkatnya, menujunya, mengawali waktunya, menyegerakannya. Meskipun ganjaran yang didapat harus diusahakan (dengan mengikuti jama’ah) untuk melipat gandakan pahalanya.

Beda ketika sudah menikah, ada imam dan ada makmum. Dimanapun tempatnya asalkan shalat bersama dan berjama’ah in sya Allah pahalanya sudah dilipat gandakan Allah. Tapi apakah semudah itu? Tentu syaitan akan menggodanya lebih berkali-kali lipat dibanding ketika masih sendirian.

Jangankan shalat, syaitan akan menggoda anak manusia yang ada dalam ikatan pernikahan ketika mereka akan melakukan ibadah jenis apapun, sekalipun itu bukan dalam bentuk ibadah agama.

Maka di dalam pernikahan, sumber utama membangun sebuah kebaikan terletak dari dalam keluarganya.

Ngawi, 11.12.17

Kembali ke materi IIP ;

Dari paragraf terakhir nasehat tersebut, saya menggaris bawahi poros utama terbentuknya generasi penerus yang berdaya, sehat paripurna dan bermanfaat bagi agama adalah bersumber dari dalam rumah. Dari peradaban yang dibangun di dalam keluarganya.

Maka tugas utama kita sebagai pembangun peradaban adalah mendidik generasi penerus sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.
Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “misi spesifiknya”, tugas kita memahami kehendakNya.

Duluuuu banget, ketika saya belum banyak mengikuti kelas parenting dan hanya suka-suka baca kulitnya saat kuliah, saya belum begitu mengerti. Apa maksudnya fitrah sudah Allah berikan sejak anak-anak baru dilahirkan (?)

Setelah saya mengerti maksudnya, ternyata adalah semua anak terlahir sudah dibekali dengan “tujuan diciptakannya”. Orang tua adalah fasilitator, orang tua bertugas untuk memfasilitasi, membukakan jalannya, mendampingin tumbuh berkembang bukan untuk memaksakan kehendak akan menjadi seperti apa yang sesuai dengan orang dewasa kehendaki.

Tapi-tapi saya terima materi ini saat masih belum berkeluarga XD, jadi bagaimana membangun peradaban dari dalam rumah yang (rumahnya itu masih ada dalam angan-angan eaa).

Dari materi yang saya dapatkan, untuk tahap pra-nikah, kita bisa memulainya dari :

  1. Melihat ke dalam diri kita sendiri
  2. Kemudian bertanya dan menanyakan beberapa poin ini ;
    • Bagaimana proses anda dididik oleh orangtua
      Anda dulu?
    • Adakah yang membuat Anda bahagia?
    • Adakah yang membuat Anda “sakit
      hati/dendam’ sampai sekarang?
    • Apabila ada, sanggupkah Anda memaafkan
      kesalahan masa lalu orang tua Anda, dan kembali
      mencintai, menghormati beliau dengan tulus?
    • Kalau empat pertanyaan itu sudah terjawab
      dengan baik, maka melajulah ke jenjang
      pernikahan. Tanyakan ke calon pasangan Anda ke empat hal
      tersebut, minta dia segera menyelesaikannya. Karena,

ORANG YANG BELUM SELESAI DENGAN MASA LALUNYA , AKAN MENYISAKAN BANYAK LUKA KETIKA MENDIDIK ANAKNYA KELAK – Institut Ibu Profesional

Ketika sudah menikah, poin-poin yang perlu dilakukan adalah

  1. Menemukan potensi unik diri dan suami
  2. Renungkan dan coba ingat-ingat mengapa dulu kamu memilih dia?
  3. Apa yang membuatmu jatuh cinta padanya?
  4. Lalu, lihat dirimu, apa keunikan positif yang kamu miliki?
  5. Mengapa Allah menciptakanmu di muka bumi ini sampai berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suamimu?
  6. Apa pesan rahasia Allah terhadap dirimu di muka bumi ini?
  7. Selanjutnya, lihat anak-anakmu, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahimmu yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersamamu? Mengapa kamu yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Apa misi spesifik Allah kepada keluargamu sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?
  8. yang terakhir, lihat lingkungan dimana kamu hidup saat ini. Mengapa bisa bertahan hidup dengan kondisi alam demikian? Mengapa Allah menempatkan keluargamu disini? Mengapa keluargamu didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekelilingmu saat ini?

Berikut materi ke – 3 yang saya dapat dari matrikulasi. Menulis ini ternyata menumbuhkan kembali ingatan saya dan semangat untuk berkontemplasi kembali terus belajar dan bersyukur atas setiap tahapan kehidupan yang sudah Allah berikan sampai saat ini.

Semangat bertumbuh! 🙂

Surabaya, 24.01.18


Untuk membaca seputar IIP, serta materi #1 dan #2 ada disini

(MIIP #2) Aku Shallow Work atau Deep Work (?)

Materi ke 2 Matrikulasi Institut Ibu Profesional kali ini bertajuk “Menjadi Ibu Profesional Kebanggan Keluarga”

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan Ibu Profesional ?

Dalam pengertiannya ibu profesional adalah seseorang yang bangga kan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya serta senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bersungguh-sungguh mengelola kerluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

Kemudian, dalam MIIP diberikan contoh tugas bagaimana seorang perempuan dapat merancang dirinya menjadi ibu profesional?

Kami diberi cara untuk menyusun indikator keberhasilan dengan 5 kunci, yaitu SMART.

  • Specific (Unik/Detil)
  • Measurable (Terukur)
  • Achievable (Bisa diraih)
  • Realistic (Berhubungan dengan kondisi sehari-hari)
  • Timebond (memiliki batas waktu)

Karena, untuk menekuni satu bidang ini ternyata perlu indikator-indikator yang jelas supaya apa yang dikerjakan oleh seorang perempuan yang melabeli dirinya berupaya menjadi ibu profesional tidak lah terjebak pada aktivitas yang tidak menghasilkan manfaat apapun. Alias disebut dengan shallow work. 


Menyambung dari aktivitas dan bagaimana menjadi ibu yang profesional dengan 5 kunci indikator. Dalam tulisan ini saya ingin menekankan pada titik poin apakah aku seorang shallow work? atau deep work.

Shallow work adalah sebuah istilah yang dinamakan untuk menyebutkan bahwa seseorang tengah berada kesibukan yang terlihat atau kasat mata tetapi tidak menghasilkan sesuatu yang nyata. Contohnya adalah pekerjaan ibu rumah tangga yang menghabiskan waktu untuk membersihkan rumah, mencuci baju, memasak dlsb yang hanya menghasilkan itu-itu saja seiring waktu tanpa ada perubahan dalam hidupnya. Pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga tidak menjadikannya diri yang up to grade . Terlibat dalam aktivitas berulang yang tidak menjadikannya berkembang.

Nah untuk itu, bagaimana seorang ibu profesional tidak terjebak dalam aktivitas mendidik anak dan mendampingi suami yang terlihat shallow work…


Sedangkan Deep Work adalah aktivitas yang membutuhkan FOKUS, KETAJAMAN BERFIKIR & MEMBAWA PERUBAHAN DALAM HIDUP.

Menjadi ibu adalah luar biasa, menjadi ibu yang profesional tentu lebih luar biasa, kan!

Semoga kita dapat merenunginya 🙂

Referensi Utama : Materi Matrikulasi Institut Ibu Profesional #4

[Resume] Kopdar MIIP Surabaya 2 Batch #4

Disampaikan oleh Dyah Kusumastuti Utari & Dian Kusumawardani (keduanya senior IIP Surabaya dan Mbak Dyah ; inisiator IIP Surabaya)

Surabaya, 27 Agustus 2017


Materi 1 mengenai Pandu 45 dan 34 Tema Bakat Anak

Alhamdulillah, finally we met :))

Dan dapat suntikan energi luar biasa, kalau di FIM energinya anak muda yang ingin membuat perubahan, kalau di IIP energinya perempuan pembangun peradaban.

Pinjem kata Mbak Dyah “Never Stop Learning, Because Living Never Stop Teaching”

Bukan hanya perempuan yang berstatus istri dan ibu saja yang wajib mempersiapkan dan terus belajar, tapi semua yang menyadari bahwa untuk dapat bertahan dalam hidup, untuk tidak tergerus dengan arus, untuk dapat memberikan manfaat, maka belajarlah. Seiring waktu saya semakin merasa bahwa ilmu yang baik adalah yang disampaikan dan diamalkan.

“sebaik-baiknya manusia, ialah yang bermanfaat bagi manusia lainnya”

Rasulullah SAW

Sebetulnya, sedikit banget yang saya tulis di buku catatan tentang materi kemarin. Tapi menulis ulang disini memaksa saya untuk merecall ingatan kemarin.

Bismillah, kalau ada salah-salah mohon dimaklumi yhaaa… dan mohon untuk tidak menjadikan acuan. Alangkah baiknya cari tambahan referensi yang lain supaya makin kaya pengetahuan 🙂


Pandu 45 adalah pembagian aktivitas bakat anak. Terbagi dua menjadi interpersonal dan individual. 

Interpersonal adalah segala bentuk/jenis aktivitas yang sifatnya berhubungan dengan orang lain. Interpersonal lebih mengarah pada bakat bidang.

Dibagi menjadi 3 bagian yaitu

  • Memposisikan diri berada di atas orang lain dalam melayani
  • Memposisikan diri sejajar dengan orang lain dalam melayani
  • Memposisikan diri berada dibawah orang lain dalam melayani.

Individual adalah segala bentuk/jenis aktivitas yang sifatnya berhubungan dengan diri sendiri. Individual lebih mengarah pada bakat sifat.

Berikut adalah rincian pandu 45 yang saya ambil dari link ini. Sambil ngintip sambil belajar wkwk *modus*. Kalau untuk yang 30 bakat, ada informasi lebih lanjut di talents mapping milik Abah Rama  di http://www.temubakat.com 🙂


Dibawah ini 34 Tema Bakat

Nah kalau tema bakat, saya culik gambarnya dari link ini

Untuk arti dan penjelasan gamblangnya, insyaAllah nanti waktu materi sudah di share, akan saya share lebih lanjut.

34-bakat-elma

Note dari sesi tanya jawab :

  • Anak kecil akan memiliki banyaaak sekali minat yang akan terlihat dari kebiasaannya sehari-hari. Mungkin seiring waktu akan terus berubah-ubah, tetapi orangtua sebagai fasilitator alangkah baiknya terus memperhatikan minat anak dan mendampinginya untuk menemukan mana yang betul-betul menghasilkan “it’s me”
  • Dari sekian banyak jenis aktivitas yang dilakukan anak-anak, orangtua perlu mencatat/mengikuti dan mengembangkan terus kemampuan anak yang pada akhirnya nanti akan mengerucut dengan cara meningkatkan level sedikit demi sedikit. Hingga mendapatkan hasil, dimana kemampuan anak dapat terus dipupuk dan menemukan fitrah bakatnya. Mengembangkan kemampuan anak tidak perlu dengan biaya yang mahal. Ikuti dan tingkatkan sedikit demi sedikit level yang orang tua mampu sediakan, hingga ketika telah menemukan bakatnya maka InsyaAllah anak telah siap difasilitasi dengan pasti.
  • Pembiasaan kepada anak dilakukan sedari kecil namun untuk diajak melakukan kebiasaan yang memiliki konsekuensi, perlu dilatih untuk diajak dengan durasi waktu 90 hari dan batas usia anak diatas 7 tahun. Saya juga masih butuh pembiasaan hehe
  • Mengapa orangtua perlu menggali terus keunikan dan bakat anak? supaya anak tidak perlu menjadi yang bukan dirinya sendiri. Agar aktivitas yang anak lakukan mampu mencapai 4 E, yaitu Easy, Enjoy, Exellent dan Earn.
  • Apakah hobi sama dengan bakat? Hobi berbeda dengan bakat. Hobi adalah kegiatan yang dilakukan hanya sekedar suka. Sebetulnya dapat dilihat melalui yang dihasilkan dari kegiatan tersebut, jika bakat maka hobi tersebut nantinya akan mampu menghasilkan.
  • Beri anak punishment diatas 7 tahun, serta bedakan konsekuensi dengan punishment. 
  • Dream, share and do. Saya lupa benang merah, dari quote yang ini. Yang saya ingat adalah ketika kita mempunyai mimpi maka catatlah, sebesar apapun itu. Yakinkan diri bahwa Allah akan mempermudah langkah kita.

Jadi, sebatas itu resume yang bisa saya tulis disini, semoga Allah mudahkan saya mengemban amanah sebagai perempuan.

Semoga Allah mudahkan para perempuan di luar sana 😊

Saya selalu percaya bahwa perempuan adalah rahim peradaban dan yang mampu memastikan lahir generasi kuat adalah dimulai dari dalam keluarga.

Terima kasih IIP, Bunda Septi Peni, Mbak Dyah (Pemateri), Mbak Dian (Pemateri), Mbak Amma (Fasil saya, terbaik mbak Amma dg segala keriweuhannya bersama Salfa 😆) dan semua anggota IIP Batch #4 Surabaya 2 😊

(MIIP #1) Mencari Ilmu ada Adabnya lho! 

muslimah.or.id

Ilmu adalah harta yang tidak akan habis dimakan waktu, ilmu adalah amal jariyah yang tidak akan pernah terputus dan ilmu adalah syarat diterimanya amal.

Tapi sebelum mencari ilmunya, taukah kita tentang adabnya?

Ternyata mencari ilmu pun butuh adab lho!

Supaya ilmu yang didapat nantinya akan terserap dengan maksimal dan kebermanfaatan ilmu yang didapat nantinya bisa terus dilanggengkan.

Sejauh melangkah dan sebesar ini diri bertumbuh, bukankah kita sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk sekolah. Yang katanya, sekolah itu dilakukan untuk mencari ilmu.

Adab mencari ilmu adalah aturan atau tata krama yang distandarkan pada diri, untuk dipatuhi dan dilaksanakan demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.

Jika mencari ilmu hanya terkotak-kotakkan pada sekolah formal, maka kita akan menganggap hanya ditempat tersebutlah kita mendapatkan ilmu tersebut. Namun berbeda jika kita memiliki sudut pandang bahwa dimanapun tempatnya kita bisa mendapatkan ilmu (hikmah), maka kita akan menghargai segala sesuatu tersebut sebagai perantara penyampai ilmu.

Bukankah ilmu yang kita dapat bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup kita? Bertujuan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan pun yang lebih jauh adalah meningkatkan kualitas keimanan kita. 

Karena ilmu yang kita miliki, semestinya kembali digunakan di jalan yang benar.

Barang siapa yang menimba ilmu, semata-mata hanya karena ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya.

Namun barang siapa menuntut ilmu karena ingin mengamalkannya, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat.

  • Adab adalah sebagai pemantik terbukanya pintu-pintu ilmu dari manapun
  • Adab adalah suatu hal yang tidak bisa diajarkan, tetapi ditularkan

Berikut adalah adab mencari ilmu terbagi ke dalam 3 bagian ;

___

Adab pada Diri Sendiri

  • Ikhlas dan bersedia membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk
  • Selalu bergegas, mengutamakan waktu
  • Menghindari sikap “merasa lebih tau”
  • Menuntaskan ilmy yang sedang dipelajari, diulang dan dituliskan. Sabar hingga pembelajaran selesai.
  • Bersungguh-sungguh menjalankan tugas

Adab terhadap Guru Penyampai Ilmu

  • Berusaha mencari ridho guru, sepenuh hatu menaruh rasa hormat.
  • Mendekatkan diri pada Pemilik Ilmu
  • Tidak memotong pembicaraan guru, penuh perhatian terhadap ilmu dan penjelasan guru
  • Meminta ijin ketika ingin menyebarkan ilmu tersebut. Mencantumkan sumber sebagai bentuk penghormatan kita.

Adab terhadap Sumber Ilmu

  • Tidak meletakkan sembarangan buku yang kita pelajari
  • Tidak melakukan penggandaan dan mendistribusikan secara sembarangan
  • Tidak mendukung plagiator
  • Dalam dunia online, tidak dianjurkan menuliskan copas dari grup sebelah
  • Dalam dunia online jangan mudah percaya sampai paham pada sumber ilmu yang kredibel

____

Semoga dengan mengertinya kita akan tata krama dalam mencari ilmu, tujuan kita dalam mencarinya senantiasa dimudahkan dalam jalan yang baik. Karena ilmu menjadikan kita berarti saat masih hidup maupun tiada. Semangat mencari ilmu ya! 😊

➖➖➖

Tulisan diatas merupakan rangkuman Materi #1 Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #4, yang saya tulis untuk catatan pribadi di buku kemudian saya tuliskan ulang disini dengan bahasa saya sendiri.

Referensi Utama : Materi Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #4

Semoga bermanfaat 🙂

Surabaya, 18 Agustus 2017