Pendidikan di Finlandia (Materi JSAN ; Jambore Sekolah Alam Nasional)

arti-mimpi-sekolah

Disampaikan oleh

ALLAN SCHNEITZ

Dream School – Finland

Peraih penghargaan “Open World Hero 2013” melalui Dream School Project di Finlandia yang kemudian dikembangkan ke berbagai negara lain di dunia.

Berbicara tentang Finlandia dan Pendidikan, mungkin sudah banyak yang tahu bahwa Finlandia berada dalam posisi unggul dalam hal pendidikan.

Apa sih sebetulnya yang dilakukan Finlandia hingga mampu menjadi negara yang menarik dalam hal mendidik generasinya?


Dalam Jambore Sekolah Alam Nasional yang saya ikuti kemarin, salah satu pembicara yang dihadirkan adalah dari Finlandia, seorang praktisi pendidikan serta pendidik disana. Beliau membawa kisah-kisah bagaimana mengajar anak-anak di sana.

Finlandia memiliki 4 kunci utama dalam mendidik generasi penerusnya yang mereka sebut dengan 4C. Communication, Colaboration, Creative thingking dan Critical Thingking.

Dalam merumuskan kurikulum terbaik Finlandia mengumpulkan para politisi untuk mendefinisikan apa yang dibutuhkan pada tahun-tahun kedepan. Keempat C tersebut menjadi kunci untuk menemukan formula terbaik dengan cara langsung menerapkan dalam kehidupan sehari-hari utntuk di evaluasi bersama.

Disana, semua jajaran pendidik baik kepala sekolah maupun guru memiliki posisi yang sama yaitu bertujuan untuk mendidik anak-anak. Maka, dalam hal sesederhana letak ruangan dan tempat duduk kepala sekolah disama ratakan denganpara guru.

Setiap satu kali dalam satu tahun, anak-anak akan diberi kesempatan untuk magang (terjun langsung) menghadapi realitas kehidupan namun harus menghasilkan suatu produk. Kalau bahasa Mr. Allan membahasakannya dengan Try to always product.

Pada saat mengajar, guru di Finlandia tidak akan mengacu pada buku. Mereka telah terbiasa dengan metode mengajarkan secara langsung dengan memanfaatkan sekitar bahkan langsung pada alam. Maka tugas yang para guru berikan tidak akan berupa tugas tertulis, essay, mengerjakan soal ataupun kuis-kuis. Tugas yang diberikan berupa proyek kelompok maupun individu. Maka setiap anak justru dihargai dengan cara mereka masing-masing. Mereka tidak akan memiliki standar yang sama untuk memandang mengenai belajar dalam satu pakem yang harus sama. Finlandia sangat menghargai perbedaan setiap karakter anak, maka anak-anak justru akan mengatasi permasalahan tersebut dengan cara mereka masing-masing, tidak terbiasa untuk ”mencontek” supaya terlihat sama, mereka akan terbentuk dengan solusi yang mereka pertanggung jawabkan sendiri. Namun semua guru akan memberikan skill dasar yang sama, bukan memaksa menyama ratakan pola pikir.

Di Finlandia, melaksanakan ujian hanya dalam rangka menguji kemampuan matematika dan bahasa ibu. Maka tidak ada istilah ujian nasional, ulangan harian, ulangan tengah semester dan lain sebagainya.

Baru sedikit yg bisa diceritain wkwk

Dan bonus foto Mr. Allan meski ga keliatan wajahnya 🙈

Semoga bisa diulik lebih lengkap lagi dari slideshow yg Mr. Allan bawakan yhaa! 🙆

Untuk download materi beliau bisa disini :

https://drive.google.com/file/d/0ByIhVnRGLy2CdGg5d21sbHFtOEE/view?usp=drivesdk
Surabaya, 14.10.17

 

Advertisements

[Resume] Kopdar MIIP Surabaya 2 Batch #4

Disampaikan oleh Dyah Kusumastuti Utari & Dian Kusumawardani (keduanya senior IIP Surabaya dan Mbak Dyah ; inisiator IIP Surabaya)

Surabaya, 27 Agustus 2017


Materi 1 mengenai Pandu 45 dan 34 Tema Bakat Anak

Alhamdulillah, finally we met :))

Dan dapat suntikan energi luar biasa, kalau di FIM energinya anak muda yang ingin membuat perubahan, kalau di IIP energinya perempuan pembangun peradaban.

Pinjem kata Mbak Dyah “Never Stop Learning, Because Living Never Stop Teaching”

Bukan hanya perempuan yang berstatus istri dan ibu saja yang wajib mempersiapkan dan terus belajar, tapi semua yang menyadari bahwa untuk dapat bertahan dalam hidup, untuk tidak tergerus dengan arus, untuk dapat memberikan manfaat, maka belajarlah. Seiring waktu saya semakin merasa bahwa ilmu yang baik adalah yang disampaikan dan diamalkan.

“sebaik-baiknya manusia, ialah yang bermanfaat bagi manusia lainnya”

Rasulullah SAW

Sebetulnya, sedikit banget yang saya tulis di buku catatan tentang materi kemarin. Tapi menulis ulang disini memaksa saya untuk merecall ingatan kemarin.

Bismillah, kalau ada salah-salah mohon dimaklumi yhaaa… dan mohon untuk tidak menjadikan acuan. Alangkah baiknya cari tambahan referensi yang lain supaya makin kaya pengetahuan 🙂


Pandu 45 adalah pembagian aktivitas bakat anak. Terbagi dua menjadi interpersonal dan individual. 

Interpersonal adalah segala bentuk/jenis aktivitas yang sifatnya berhubungan dengan orang lain. Interpersonal lebih mengarah pada bakat bidang.

Dibagi menjadi 3 bagian yaitu

  • Memposisikan diri berada di atas orang lain dalam melayani
  • Memposisikan diri sejajar dengan orang lain dalam melayani
  • Memposisikan diri berada dibawah orang lain dalam melayani.

Individual adalah segala bentuk/jenis aktivitas yang sifatnya berhubungan dengan diri sendiri. Individual lebih mengarah pada bakat sifat.

Berikut adalah rincian pandu 45 yang saya ambil dari link ini. Sambil ngintip sambil belajar wkwk *modus*. Kalau untuk yang 30 bakat, ada informasi lebih lanjut di talents mapping milik Abah Rama  di http://www.temubakat.com 🙂

A. Interpersonal Diatas Orang - Rasa1. Commanding2. Selling3. Mediating4. Sellecting5. ArrangingA. Interpersonal Diatas Orang - Rasa1. Commanding2. Selling3. Mediating4. Sellecting5. Arranging (1)A. Interpersonal Diatas Orang - Rasa1. Commanding2. Selling3. Mediating4. Sellecting5. Arranging (2)

Banyakk 😂


Dibawah ini 34 Tema Bakat

Nah kalau tema bakat, saya culik gambarnya dari link ini

Untuk arti dan penjelasan gamblangnya, insyaAllah nanti waktu materi sudah di share, akan saya share lebih lanjut.

34-bakat-elma

Note dari sesi tanya jawab :

  • Anak kecil akan memiliki banyaaak sekali minat yang akan terlihat dari kebiasaannya sehari-hari. Mungkin seiring waktu akan terus berubah-ubah, tetapi orangtua sebagai fasilitator alangkah baiknya terus memperhatikan minat anak dan mendampinginya untuk menemukan mana yang betul-betul menghasilkan “it’s me”
  • Dari sekian banyak jenis aktivitas yang dilakukan anak-anak, orangtua perlu mencatat/mengikuti dan mengembangkan terus kemampuan anak yang pada akhirnya nanti akan mengerucut dengan cara meningkatkan level sedikit demi sedikit. Hingga mendapatkan hasil, dimana kemampuan anak dapat terus dipupuk dan menemukan fitrah bakatnya. Mengembangkan kemampuan anak tidak perlu dengan biaya yang mahal. Ikuti dan tingkatkan sedikit demi sedikit level yang orang tua mampu sediakan, hingga ketika telah menemukan bakatnya maka InsyaAllah anak telah siap difasilitasi dengan pasti.
  • Pembiasaan kepada anak dilakukan sedari kecil namun untuk diajak melakukan kebiasaan yang memiliki konsekuensi, perlu dilatih untuk diajak dengan durasi waktu 90 hari dan batas usia anak diatas 7 tahun. Saya juga masih butuh pembiasaan hehe
  • Mengapa orangtua perlu menggali terus keunikan dan bakat anak? supaya anak tidak perlu menjadi yang bukan dirinya sendiri. Agar aktivitas yang anak lakukan mampu mencapai 4 E, yaitu Easy, Enjoy, Exellent dan Earn.
  • Apakah hobi sama dengan bakat? Hobi berbeda dengan bakat. Hobi adalah kegiatan yang dilakukan hanya sekedar suka. Sebetulnya dapat dilihat melalui yang dihasilkan dari kegiatan tersebut, jika bakat maka hobi tersebut nantinya akan mampu menghasilkan.
  • Beri anak punishment diatas 7 tahun, serta bedakan konsekuensi dengan punishment. 
  • Dream, share and do. Saya lupa benang merah, dari quote yang ini. Yang saya ingat adalah ketika kita mempunyai mimpi maka catatlah, sebesar apapun itu. Yakinkan diri bahwa Allah akan mempermudah langkah kita.

Jadi, sebatas itu resume yang bisa saya tulis disini, semoga Allah mudahkan saya mengemban amanah sebagai perempuan. 

Semoga Allah mudahkan para perempuan di luar sana 😊

Saya selalu percaya bahwa perempuan adalah rahim peradaban dan yang mampu memastikan lahir generasi kuat adalah dimulai dari dalam keluarga.

Terima kasih IIP, Bunda Septi Peni, Mbak Dyah (Pemateri), Mbak Dian (Pemateri), Mbak Amma (Fasil saya, terbaik mbak Amma dg segala keriweuhannya bersama Salfa 😆) dan semua anggota IIP Batch #4 Surabaya 2 😊

Review : School Of Life Lebah Putih

Prolog –

Setahun lebih berjalan, saya mengenal dunia pendidikan dan itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan ibu kos saya yang 40 tahun mengabdikan dirinya di dunia tsb. Kenapa gitu sampe bawa-bawa ibu kos 😂.

Sejak mengenal lebih dekat dan berinteraksi langsung setiap harinya dengan anak-anak membuat saya benar-benar merasa “it’s me” saya yakin dengan diri saya sendiri, saya pede, saya semangat dan semakin merasa hidup.

Cerita panjang yang akan saya ceritakan dibawah adalah rangkaian perjalanan beberapa hari yang lalu.


Alhamdulillah, Allah mengijinkan saya untuk mengulik salah satu kebaikan yang tersembunyi dibalik kenyamanan kota Salatiga. School of Life Lebah Putih milik Padepokan Margosari ; Bu Septi Peni Wulandari dan Pak Dodik Maryanto. Dinamai sekolah alami dan sekolah kehidupan.
Letaknya tidak jauh dari Kota Salatiga dengan suasana yang tenang dan sejuk. Lokasi Lebah Putih memang sedikit masuk ke dalam dan tidak berada persis di pinggir jalan raya.


Sekolah ini mengunggulkan character value di kegiatan yang ada di dalamnya. Tidak seperti yang notabene kita tau bahwa kegiatan sekolah selalu terpaku dengan duduk manis di dalam ruang kelas, buku-buku cetak serta jam pelajaran yang mengikat. Sekolah ini memberikan suasana lain dalam belajar sehingga anak-anak justru betah di sekolah.

Awalnya yang bikin saya amaze dengan cerita Enes adalah yang diuji pertama kali untuk mendaftar di sekolah ini justru orang tuanya. Orang tua betul-betul dilibatkan langsung dalam kegiatan belajar yang dialami siswa. Bukan dalam artian orang tua ikut dalam keseharian belajar, tetapi terlibat untuk “nyemplung” sebagai role model bagi si anak. Karena semua anak memiliki hak yang sama untuk mendapat pengajaran, maka yang betul-betul diuji adalah orang tuanya. Apakah orang tua bersedia memiliki komitmen untuk membersamai tumbuh kembang anak, meskipun anak telah dititipkan di sekolah.

Contohnya seperti ini, setiap hari Jum’at, Lebah Putih selalu mengadakan event yang bernama Kelas Bintang. Kelas Bintang ini memiliki kegiatan yang dipandu sendiri oleh orangtua dan beliau-beliau akan mengajarkan secara langsung kemampuan yang dimiliki. Entah itu dibidang memasak, dibidang musik ataupun dibidang lainnya.

Dari sini maka timbullah rasa bangga dari anak melihat orangtuanya memiliki sikap tauladan yang nantinya akan menumbuhkan berlipat-lipat kebanggaan dan rasa percaya diri si anak dengan melihat orangtuanya. Tidak hanya itu, selama anak dan orangtua menjadi bagian dari Lebah Putih, orangtua diberi wadah tersendiri untuk membentuk komunitas yang nantinya akan terus berlanjut, baik setelah kelulusan anak dari Lebah Putih. Para orangtua ini membentuk komunitas-komunitas belajar yang terdiri dari banyak sekali minat belajar dan akhirnya saling berbagi.

Jika keluarga A memiliki minat belajar dalam bidang matematika, maka keluarga yang lain akan belajar dari keluarga A. Jika keluarga B memiliki minat belajar dalam bidang kesenian, maka keluarga yang lain akan belajar dari keluarga B tersebut. Dari sanalah tumbuh lingkaran keluarga yang semakin meluas dan kebermanfaatan akan terus berputar disebarkan. Keren ya 😍


Lebah Putih setiap tahunnya memiliki goals value yang akan diterapkan dan tahun ini, menanamkan nilai disiplin. Jadi nilai inilah yang akan ditanamkan oleh pengajar dan orangtua melalui kegiatan apapun dalam kesehariannya. Untuk itu sangat diperlukan sekali kerja sama antara semua komponen yang terlibat. Mengingat kegiatan belajar di sekolah hanya menghabiskan waktu kurang lebih 7 jam dan sisanya dilalui dirumah bersama orangtua.

Sekolah ini tidak ingin, hanya menjadi wadah dititipkannya anak-anak dan mencekoki mereka dengan hal-hal yang berbau akademis, sedangkan sekolah adalah fase yang memang perlu dilewati anak untuk mempersiapkan kehidupan dan masyarakat.

Pun adaaa kegiatan makan bersama yang sebagai seksi sibuknya pun anak-anak sendiri, mulai dari menyiapkan makanan, mencuci piring dan menata peralatan. Betul-betul pembiasaan ditanamkan di semua penjuru.

Saat berkunjung kesana, sayangnya kegiatan sudah selesai lebih cepat, karena ada agenda imunisasi. Jadilah saya tidak kebagian melihat anak-anak langsung. Namun ada 2 anak tersisa menunggu jemputan orang tuanya, mereka adalah Omar dan Keanu. Ketika ditanya apakah mereka betah sekolah disini, jawaban polos ala anak-anak “Betah, malah nggak pengen pulang”

Beda ya, beda banget dengan kondisi sekolah yang ketika bel pulang berbunyi, anak-anak justru saling lari sana-sini supaya lebih cepat pulang dan bermain dirumah.


Merinding melihat sebegitu dalamnya niat yang dipegang oleh semua pihak demi membangun generasi kuat di masa mendatang 😊

Akhir kata, semoga yang sedikit ini bisa memacu siapapun untuk punya pandangan yang lebih baik dan lebih maju lagi tentang pendidikan anak. Karena kalau kata Bu Septi Peni, sebetulnya semua harus dimulai dari dalam keluarga.

Jadi semoga, semakin banyak yang sadar akan betapa pentingnya meninggalkan generasi kuat untuk menghadapi jaman di masa mendatang 🙂

Surabaya, 23.08.17

Cerita Jogja (1) : Mbak Masiti

Introvert bukan dalih untuk mendispensasi diri dari pergaulan yang terbuka. Meskipun memang seorang introvert, memiliki caranya sendiri untuk mengembangkan kemampuan bersosialisasinya. Kira-kira apa jadinya kalau sesama intro saling ngobrol?

Saya ucapkan beberapa kalimat diatas sembari berkaca, ngandani awake dewe (menasehati diri sendiri) wkwk.

Sabtu sore saya mbolang ke Jogja, modal pas-pasan dan ada seorang teman yang berniat saya repoti untuk bermalam. Kami lama sekali tidak bertemu semenjak kurang lebih 1,5 tahun, teman semasa kuliah dulu. Saya kenal beliau sebagai sosok yang tertutup namun selalu tampak optimis dengan pilihan-pilihan yang diambilnya.

Langkah kakinya cepat dan jarang basa-basi.

Flashback nya, dulu ketika di tahun pertama perkuliahan saya sering merasa roaming sewaktu kami ada dalam satu momen, atmosfir disekitar kami menjadi sangat sepi 😂

Nah! Sore itu obrolan kami random sekali, tiba-tiba tertawa dan menangis. Tapi untuk kali ini saya tidak lagi merasa failed. Yang pasti, saya melihat sosok beliau kini tidak seperti 2 tahun yang lalu 😊

Awalnya saya terlanjur su’udzon lebih dulu, gimana kalo ini nanti akan tetep sama krik-kriknya 😂

Saya cuma mbatin “padahal aku dah berusaha cari celah gimana caranya supaya obrolannya dak pasif”. Dan ternyataaaa, saya justru dapet yang lebih dari itu. Banyaaak sekali yang beliau ceritakan tentang meredam ego, tentang komitmen menjalankan sebuah pilihan, tentang berdamai dengan diri sendiri, tentang penerimaan bahwa takdir Allah selalu baik.

Bagaimanapun cara yang Allah miliki, terkadang kitalah yang kurang notice dengan kode-kode yang Allah kasih.

Dari situ saya semakin percaya ; 

Tiap manusia diuji dengan ujian masing-masing. Tiap-tiap manusia memiliki track perjuangan masingmasing. Dan Allah telah membuatkannya sesuai dengan batas kemampuan yang dimiliki.

Dari beberapa curhat yang tidak bisa diceritakan disini, yang saya tangkap untuk menasehati diri sendiri adalah 

  • Manusia selalu punya rencana, seeee rapih apapun itu, kalau Allah ndak berkehendak maka ya gak akan terjadi.
  • Kunci utama hubungan horisontal adalah berdamai dengan diri sendiri
  • Kunci utama hubungan vertikal adalah selalu berusaha husnudzon ke Allah, Allah yang akan jamin nasib kita.
  • Dan menerima bahwa rencana Allah pastilah yang terbaik. Terakhir ini kelihatannya sepele. Tapi penerimaan selalu beriringan dengan rasa ikhlas, yang sulit sekali dijalani.

Honestly, prolog saya mungkin kurang nyambung yak 😂

Aslinya cuma pengen cerita dan pengen bilang bahwa perjalanan itu pasti membawa hikmah. Sekecil apapun kita menyadari, tapi semoga dari yang kecil pun kita bisa ambil pelajaran dan diamalkan 😊

Epilognya : Saya pengen foto sama mbak mas (panggilan untuk mbak masiti) didepan tulisan UGM tapi dak boleh 😥 katanya ada mitos berakibat lulusnya lama wkwk. Anyway, semangat S2 nya mbaaakkk 😍

Quarter Life Crisis

Udah lama ndak nulis. Pagi tadi saya berasa up down. Emang dasarnya gampang banget begitu 😂.

Tapi balik ke diri sendiri, kalo mau mager memang akan terus nothing dan justru menjadi pemicu untuk terus seperti itu.

Membuka facebook pagi ini, yang saya dapat adalah reminder tentang 2 tahun yang lalu. 08 Agustus 2015, fase wisuda terlaksana. Wisuda tingkat sarjana 🙂

Alhamdulillah, karena ujian untuk menujunya selalu memiliki keseruan masing-masing. Tidak akan sama ukuran ideal setiap orang, termasuk tentang waktunya.

Jika mengingat masa-masa sulit pada saat itu, rasanya lamaaaa banget endingnya, ada saja yang menjadi kerikil. Ada saja yang memicu untuk jatuh. Dan memang perjuangan selalu mengiringi setiap fase yang dilalui anak manusia dalam bertumbuh 🙂

Saya mensyukuri telah melewati fase-fase tersebut.

Dalam beberapa artikel yang saya temui, usia 18-25 tahun adalah masa dimana quarter life crisis terjadi. Banyak sekali hal yang harus diputuskan dan ditimbang matang-matang agar tidak menjadi sebuah kesalahan yang berlanjut.

Mungkin saya menjadi salah satu bagiannya 😂. Akan mulai terasa bagi remaja yang memutuskan kehidupan sekolahnya masa SMA dan memilih untuk melanjutkan kuliah. Masa-masa kuliah adalah masa dimana penjajakan terhadap semua jenis kegiatan dan organisasi pun menarik hati. Pada akhirnya menjajali semuanya dan menjadikannya modal “dapet pengalaman”.

Masa kuliah berakhir akan datang pertanyaan, kerja dimana, mau ambil bidang apa, bisnis atau kantoran, nikah atau s2 dlsb. Sebagai generasi Y yang mulai mengenal istilah passion dan life goals dalam hidup, manusia remaja setengah dewasa khas ini akan mengawali hari-harinya dengan galau dan pusing-pusing ria.

Bahkan 2 tahun pasca lulus saya masih bergelut dengan diri sendiri menentukan hal ini. Beruntungnya dengan mengikuti program matrikulasi IIP, saya mulai mengenal bagaimana saya mampu membentuk diri.

Saya seperti manusia dengan tipe generalis. Banyak sekali hal yang menjadi minat saya namun yang benar-benar spesifik didalamnya tidak ada. Hal ini tentu menjadikan langkah tidak kunjung diambil, terus-terus berputar dengan pikiran “bisa manfaat betul gak ya, ah udah banyak yang ambil bidang itu, yakin gak ya bakal bisa ngembangin dan seabrek dugaan yang membuat stuck berkepanjangan.

Pada suatu ketika, obrolan saya dengan seseorang. Dia mengatakan “Ambil, yakini, pelajari dan mulai”. Saya terkekeh memikirkan langkah awal apa yang harus saya tentukan. Rasanya pengen semuaaa 😅

But, you’re special with ur way.

Jadilah kudunya yang dilakukan dalam masa Quarter Life Crisis ini menurut saya ;

  1. Buatlah jejaring pertemanan positif sebanyak mungkin
  2. Perdalam dan mengertilah diri sendiri
  3. Jangan memaksakan kehendak, kayaknya lebih great kalo melakukan A, tapi kapasitas diri cuma sampai di B. Stop, teruskanlah menekuni ysng betul-betul membuatmu suka dan bisa untuk melakukannya. Karena yang tau tentang hal itu ya cuma dirimu sendiri.
  4. Stay calm dan perbanyak mengupgrade pengetahuanmu tentang banyak hal.
  5. Pede dan it’s oke ndapapa. Kamu hebat dengan caramu sendiri.
  6. Fokus!
  7. Selamat mencoba

Wallahu ‘alam 😊

Semangat yaaaa! Semangat kita!

Surabaya, 080817

Kehilangan itu Niscaya

Terhitung lima jam berlalu, ketika saya menuliskan ini, fikiran sudah sedikit fresh. Lalu yang muncul pertama kali adalah yuk nulis yuk.

Jum’at, 28 Juli 2017 10.53 WIB

Menjelang sholat Jum’at saya berjalan sendirian di sebuah kampus, ingin menjangkau kantin yang tinggal beberapa meter lagi. Saya berhenti sebentar didepan sebuah lapangan dan jalan yang sedikit lengang karena ada seorang asing bertanya tentang arah gedung sebuah fakultas yang tidak saya kenali. Karena saya bukan mahasiswa di kampus tersebut.

Pertanyaannya kenapa saya bisa jalan-jalan sendirian (?) di kampus orang pula (?)

Pertama, saya ingin bertemu teman yang sedang kuliah disana, meski pesan Whatsapp saya tak kunjung dibalas, karena beliau masih sibuk. Maka saya parkirlah motor dan saya memutuskan berjalan kaki sebentar menuju kantin kampus tersebut. Sambil wifian (?)

Kedua, saya adalah orang yang sering sekaliiii merasa nyaman kesana kemari seorang diri.

Kembali ke orang asing-

Dia berhenti sejenak, bertanya dan saya menjawab tidak tahu. Lalu dengan cepat, dia meminjam handphone untuk miskol temannya. Iya miskol, ujarnya. Karena pulsa saya ada, maka tersambunglah telfon tersebut dan dengan cepat lalu diangkat. Sempat terjadi pindah handphone dan pindah lagi. Dari tangan saya ke tangan orang tersebut dan ke tangan saya lagi dan balik ke tangannya lagi.  Tiba-tiba saya menjadi blank, saya tidak ingat bagaimana dia menawarkan sebuah hpnya yang jadul sebagai jaminan. Beberapa detik kemudian, hp saya telah dibawanya naik motor.

Lima menit saya masih menunggu, diam saja disitu, delapan menit. Sampailah sepuluh menit, saya baru panik. Pikiran positif saya tentang “oh iya itu tadi cuma dipinjem” kian memudar. Nangis, sudah tumpah semua.  Saya kelimpungan, tidak terfikirkan apapun. Mencoba mencari pertolongan, dapatlah saya seorang mahasiswi kampus tsb. Saya memintanya untuk membantu menghubungi terus nomor di hp itu, masih tersambung hingga kira-kira 20 menit lamanya. Kami berdua mencari bala bantuan lain dan mengupayakan lacak via gps. Ternyata gagal, karena gps saya masih nonaktif.

30 menit berlalu, tangis saya sudah hilang. Ada rasa pasrah, ada rasa bagaimana jika terus dicoba. Maka telfonpun terus dilakukan.

Nyambung!

Nyambung, diangkat-tanpa suara. Putus.

Nyambung lagi! Lagi-lagi diangkat tanpa suara.

Nyambung lagi! Tut.

Tut tut.

Tuuutt.

Sudah, akhirnya saya menghela panjang. Ikhtiar sudah, gupuh juga sudah. Sisanya, jika rejeki pasti kembali, kalau tidak. InsyaAllah diganti yang lain.

Kata orang kebanyakan, itu adalah gendam. Sebuah tindakan kriminal entah mencuri, mencopet, dkk dengan cara membuat korbannya tidak menyadari. Entah dibagian mana saya dibuat tidak sadar, tapi saya merasa kejadian itu cepat sekali terjadi.

🙂


Itu baru handphone.

Pikiran saya terus berkelebat kejadian tadi, memikirkan banyak hal. Tapi sesal memang selalu diakhir dan tentu sama sekali tak berguna apa-apa. Allah seperti ingin menyadarkan banyak hal untuk saya.

Hati saya terus membatin, itu baru hp. Sesakit itu manusia yang suka menggantungkan perasaannya terlalu jauh pada kefanaan.

Macam takdir. Ketika diingat-ingat, lalu membuat pengandaian (coba tadi gini, coba tadi gitu) kalau sudah takdir maka kun. Allah sudah membuat nas  hari ini kamu akan mengalami ini. Seberapa kuat kamu menjalaninya? Seberapa ikhlas kamu melepaskannya? Seberapa jauh pikiran dan perasaanmu memahami bahwa di dunia ini semua bukanlah kepunyaanmu, bahkan dirimu sendiri.

Huaaa, dua kalimat diatas adalah tulisan yang biasa saya tulis. Saya seperti merecall tulisan lama. Kali ini betul-betul “it’s your time”


Ada hikmah.

Setiap kejadian pasti ada hikmah yang bisa diambil. Ada evaluasi untuk perbaikan. Ada pembelajaran dari pengalaman.

Ternyata ikhlas itu sulit.

Sulit karena perasaan manusia yang “keduniawian” dan menyayangi dunianya. Itu wajar, tapi jika berlebihan maka tidak baik. Semua jika berlebihan pasti tidak baik.

Dalam kurun waktu beberapa hari terakhir, saya sedang disibukkan dengan perasaan-perasaan khawatir kehilangan sesuatu. Mungkin disitulah Allah mengerti bahwa sikap saya terlampau berlebihan, maka Allah menguji dengan hal ini. Dengan kehilangan yang tidak seberapa.

Setelah mendengar banyak nasehat, menenangkan diri, merefresh kembali fikiran, apa yang sedang saya alami tidak seberapa. Ada yang pernah mengalaminya lebih menyakitkan lagi, ada yang lebih-lebih merasakan pedih dibandingkan kehilangan ini.

Jadi, untuk apa terus mengingat dan menyesali.

Ikhlaslah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Mungkin dengan cara yang lain.


Nasehat untuk diri sendiri yang bisa saya rangkum dan betul-betul harus saya camkan adalah ;

  • Kita boleh terus berprasangka baik terhadap orang lain, namun waspada dengan orang baru itu lebih penting
  • Tidak baik bagi perempuan, berjalan seorang diri di tempat sepi jika kondisi tidak sangat-sangat memaksa itu terjadi
  • Merasa dengan cukup terhadap apa saja yang dimiliki, karena sejatinya sungguh semua hanyalah titipan.
  • Lebih berhati-hati lagi
  • Memperbanyak dzikir mengupayakan menjaga diri, ketika berada di tempat baru dan sepi
  • Pasrah kepada Allah, ikhtiar dulu tentu dan tawakkal 🙂

 

Semoga, kita dihindarkan dari kejahatan-kejahatan seperti ini. Semoga kita selalu dijaga Allah dalam setiap langkah. Amiin

Surabaya.

Review : Air Terjun Srambang

Akhirnya posting juga wkwk

Ada satu postingan tentang inner child yang sebetulnya ingin sekali saya tulis. Hasil dari perenungan selama pulang kampung dan belajar lagi dari banyak sumber. Tapi lagi-lagi selalu ada “tapi”. InsyaAllah secepatnya.

Nah, berhubung punya bahan yang lebih bagus yaitu foto-foto. Maka jadilah, postingan ini lebih dulu ditulis XD

Pagi tadi saya berangkat berdua dengan Adek, menuju Wisata Air Terjun Srambang. Letaknya tidak jauh dari Wisata Kebun Teh Jamus, yang pernah saya tulis beberapa waktu lalu. Tulisannya bisa dilihat disini.

Jam 7.00 pagi kami berangkat, perjalanan memakan waktu sekitar satu jam empat puluh menitan dengan kondisi sepanjang perjalanan mulus, sangaaat mulus. Kami sampai di tempat jam 8.43.

Biaya yang dibutuhkan untuk parkir sepeda motor hanya 2000 rupiah dan tiket masuk seharga 5000 rupiah/orang. Air terjun Srambang terletak di kaki Gunung Lawu, daerah Girimulyo, Jogorogo, Ngawi. Kurang lebih 20km dari Kota Ngawi.

Di awal-awal perjalanan, kita akan disambut hutan-hutan pinus dan satu ibu penjual makanan di sebuah warung kecil. Ada mie instan, gorengan, teh atau kopi dll. Jadi, gak usah khawatir kelaperan akibat hawanya yang dingin, karena ternyata masih ada beberapa warung lagi diatas. Awalnya, saya dan Ina ngerasa mulai interest dengan setapak-kecil-dan-batuan. Yang disana setapak-setapak ini selalu ada air mengalir dibawahnya. Kami mengira, perjalanan menuju air terjun hanya melewati track seperti ini. Tapi ternyata, semakin keatas batuan yang kami temui semakin guede dan arus air makin deras XD

Jadilah anak-anak ibuk yang telusurin jalan beginian gak ada bersih-bersihnya pake rok heheh. Capek betul memang, tapi akan terus terbayar dengan suasana dan pemandangan-pemandangan yang akan kita temui selama perjalanannya sampai ke air terjun itu sendiri. Berkali-kalipun Dek Ina bilang, coba mata kita bisa screenshoot ya mbak. Hasilnya pasti keren banget wkwk

Sayangnya disini masih minim sekali fasilitas umum seperti kamar mandi dan musholla. Pun yang saya sayangkan, banyak sekali bebatuan yang jadi sasaran coret-coretan. Sebetulnya banyak sekali lahan yang bisa dipakai pertunjukan budaya misalnya. Atau dimanfaatkan untuk hal-hal lain yang lebih bermanfaat daripada sekedar dibiarkan. Pun pastinya bisa jadi lahan untuk semakin menarik pengunjung 🙂

Ngawi, 05 Juli 2017