Ramadhan #23 – 24 : Ka Syah

Dak nemu foto berdua 😅 heheh

Syahiidah Muthmainnah, namanya.
Semoga Allah menjadikannya pejuang yang senantiasa mengagungkan agama Allah..

Kemarin sore tiba-tiba tumpah. Entah setelah perasaan apa yang bergolak seharian. Honestly, saya rindu dengannya.

Ka Syah, gitu sih saya manggilnya. Kami belum lama kenal, sekitar 2 tahun. Karena pertemuan kami di Forum Indonesia Muda (FIM) angkatan 17.

Semenjak kali pertama pengumuman lolos FIM, hampir semua peserta saya kepoin via Social Media mereka. Jaman sekarang nggak susah kan buat cari identitas orang? Cukup ketik nama lengkapnya di Google, jreng apa yang ditunjukin Google ya itu hasil keponya. Cuma insyaAllah semua hasil kepoan saya berbuah manis alias saya nemu banyak hal keren. Tentang sebagian besar anak FIM. Nggak terlewatkan dengan Ka Syah (mungkin saya satu-satunya peserta yang kepo 😆). Dari situlah saya punya bayangan tipikal orang seperti apa menurut pengetahuan pendek saya tentang ka Syah. Dia orangnya supel banget! Dan keren! Dan suka masak! Calon ibu shalihah cerdas pokoknya!
Dan emang semua anak FIM keren-keren sih, cuma saya aja yang butiran marimas 😢.

Semua lingkaran pertemanan yang saya temui di FIM adalah lingkaran kebaikan. Saya biasa sebut mereka sebagai nafas kebaikan. Di lingkaran ini pula saya betul-betul melihat “padi berisi semakin merunduk” itu literally merunduk gitu. Mereka semua tetep ngerasa layaknya butiran royco, butiran remah rengginang dlsb. Tapi kerja nyata untuk bertumbuh itu selalu ada.
Oiya back to Ka Syah, jaringan pertemanannya luaaaas sekali. Orangnya asik pisan pokoknya! Dan bikin ka Syah ketawa itu ga susah 😂

Hujan gerimis sore itu nggak bikin ka Syah berhenti cerita tentang banyak hal di UNJ. Kami jalan-jalan sedari pagi dan ka Syah cerita apaaa aja tentang gimana kehidupan jaman (masih) muda. Jaman kuliah maksudnya. Wkwk

Sebenernya kedekatan kami tidak bermula dari situ, dari entah kapan dan dimana. Saya pun lupa detilnya. Yang pasti, ka Syah sempat protes kenapa saya panggil dia kakak 😂

Semakin kemari, semakin banyak hal yang dirasa klik antara kami. Kayak ada radarnya dan saya mulai ngerti, begitulah jika Allah menghendaki kita sesama muslim membangun ukhuwah yang baik lagi bermanfaat. Dari beliau saya belajar banyak hal. Bukan cuma ingetin saya tentang kebaikan tapi juga tegur saya lewat teguran-teguran menggelitiknya. Teguran halus tentang maunya Allah, tentang tawakkalnya suatu hal, tentang kecewanya sama suatu ikhtiar yang kurang sejalan dengan maunya Allah dan berakhir dengan introspeksi diri. Hal-hal (kecil yang) besar saya dapat dari Ka Syah. Saya rasa, kita nggak pernah gamblang menilai kekurangan, tapi dengan cara selalu support untuk saling bertumbuh satu sama lain dan terus manfaat apapun itu.

Tapi emang cuma hati sih yang bisa ngerasa, sedalem apa.

Pesen yang mau saya sampein lewat postingan ini sebenernya hadist Rasulullah dibawah ini 😂

Dalam sebuah hadits Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman dalam sabda beliau :

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Sumber: https://muslim.or.id/8879-pengaruh-teman-bergaul.html 

Jadi, perhatikan teman bergaulmu. Karena insyaAllah baik itu akan selalu menularkan yang baik 😊 dan menurut saya, salah satu rejeki Allah pun berupa adanya teman-teman baik di sekitar kita.

23 & 24 Ramadhan 1438H

Ramadhan #17-18 : Budidaya Jamur (Berkah Men-Jamur)

Beberapa hari yang lalu saya diingatkan F*cebook tentang memori saat Pengabdian Masyarakat tahun 2013 silam.

Di sebuah desa di lereng gunung Kawi, Desa Donomulyo Kab. Malang. Selama satu bulan saya di tempatkan disana, sebuah desa yang mayoritas penduduknya adalah Non Muslim.

Ada sebuah rumah milik warga yang dari pihak kampus dipercaya sebagai Koordinator Pengabdian Masyarakat. Disanalah saya beserta 9 orang teman tinggal. Di rumah Pak Wachid. Beliau adalah pengusaha jamur lulusan Teknik Mesin. Lulusan S1 jadi bisnis jamur? Nyambungnya dari mana?

Begitulah biasanya ibu ngguyoni bapak😅

Bapak Ibu (disana) bagi saya seperti orangtua ideologis. Mengajarkan banyak sekali cara memandang hidup dengan kesederhanaan dan perjuangan.

Beliau berdua adalah pendatang yang semasa dahulu nenek moyangnya memiliki tanah untuk ditinggali disana. Awalnya hanya berfikir, dengan lahan seperti ini apa yang bisa dihasilkan disini? Sedangkan untuk menempuh Kabupaten Malang jauhnya bisa dua jam perjalanan dengan medan jurang dan kelok berliku. Ternyata perjuangannya tidak pernah mudah, ketika usaha yang beliau jalankan pelan-pelan semakin membuahkan hasil.

Kemudian bapak mempelajari teknik membuat bibit jamur sampai membuat tempat olahnya sendiri, bermodalkan ilmu kuliahnya dulu, katanya.

Bapak dan Ibu memulai semua usaha milik mereka dari 0. Dari yang hanya memiliki lumbung 2x3m, hanya memiliki satu tabung pembuat bibit, dari yang sering sekali jamurnya tiba-tiba kering di pagi hari, padahal malamnya sudah terlihat esok siap panen. Lalu setelah di selidiki, tanah dan kelembapannya seperti ada yang menyabotase dengan garam. Entah bagaimana caranya, saya kurang paham ketika dijelaskan bapak waktu itu.

Kini jamur-jamur beliau sungguh telah menjamur, memiliki banyak petani jamur yang tersebar. Olahan jamur yang ibu kuasai pun semakin banyak, tidak hanya tumis jamur, sate jamur. Bahkan kue kering, es krim, risoles, semua ibu olah berbahan dasar jamur.

Satu kali, ibu pernah bilang “kuncinya, kalau sedang punya, jangan perhitungan untuk memberi, yang loman, yang legowoan”.

Dan sampai saat ini hubungan saya dan beliau masih sangat baik. Selama satu bulan disana, sayapun diajari bagaimana mengolah bibit, bagaimana menumbuhkannya, bagaimana menyiapkan agar bisa dijual, bagaimana agar bisa bertahan untuk panen berkali-kali dan banyak sekali.

Saat ini bapak sering mengisi workshop Budidaya Jamur dimana-mana. Upaya pemberdayaan terhadap petaninya pun mengantarkan bapak mendapat beberapa penghargaan. Dan ibu, semakin meluaskan jaringan olahan Jamurnya 😊

Semoga berkahnya semakin menjamur!

Dibawah ini foto ibu dan bapak ;

17-18 Ramadhan 1438H

Ramadhan #15-16 : Yang Tampak

Entah mengapa saya membiarkan hari kemarin bergelincir tanpa menyisakan satupun bahan tulisan.

Jadi, jauh sebelum tiba hari puasa. Saya berucap pada diri sendiri bahwa nanti saat Ramadhan saya ingin menikmati suasana tarawih di Masjid Agung Al Akbar Surabaya, yang kapasitasnya hingga 60 ribu jamaah *menurut wikipedia.

Dan taraaa, semalam saya membuktikan sendiri berada diantara lautan manusia, berlomba-lomba merebut hati Allah. Lalu kalau begitu bagaimana dengan Makkah, umat Islam dari seluruh penjuru berada disana. Allahu Akbar, semoga Allah memampukan kita hadir mendatanginya..

Pun karena saya nekat ke Masjid Agung seorang diri, saya jadi mengamati banyak hal. Salah satunya adalah nyatanya pada jaman ini, segala sesuatu telah menjadi semakin bias. Sulit dibedakan dengan mata telanjang. Apa yang nampak secara kasat mata sulit untuk kita bedakan apakah itu baik atau belum baik.

Mungkin ini adalah bagian dari “jaman yang telah tua”. Manusia semakin mudah di poles menjadi cantik, menjadi ganteng, menjadi alim, dlsb. Saya tidak mengatakan bahwa saya lebih baik dari itu semua.

Namun hanya karena yang nampak itu tadilah, kita menjadi mudah terpengaruh terhadap sesuatu yang belum kita miliki ilmunya. Karena alasan kita mengikuti, hanya sebatas pada “supaya terlihat…” dimata orang lain.

Jaman ini telah menjadi jaman visual. Saya pernah melihat beberapa remaja putri mengenakan jilbab namun mereka “pecicilan” dengan polah tingkah yang seolah-olah jilbab bagi mereka hanyalah sebatas fashion. Saya pernah membahas ini dengan seorang teman lalu menamainya dengan tertutup yang terbuka. Sedih. Jujur saya sedih melihat keadaan seperti ini.

Manusia diluar yang tidak benar-benar mengerti jadi mudah mengatakan, semua yang berjilbab itu sekarang sama saja. Akhlaknya sama saja. Mau kerudungnya panjang atau pendek. Toh dimana-mana orang jual kerudung juga semakin menjamur. Sebagai orang yang pernah mrmperjuangkan jilbab di jaman remaja, pernyataan semacam itu selalu menyisakan sesak di hati. 

Semasa SMP untuk foto ijazah, kebijakan sekolah tidak memperbolehkan kami siswi berjilbab mengenakan jilbabnya. Sedangkan fotografer saat itu mayoritas masih laki-laki. Saya dan beberapa teman, protes habis-habisan ke dewan guru dan kepala sekolah. Namun hasilnya nihil. Pada akhirnya kami harus mengalah. 

Padahal akhlak dan jilbab tidak pernah berjalan beriringan. Namun bukan berarti yang belum merasa baik akhlaknya tidak wajib mengenakan jilbab. Padahal jelas sudah betul-betul ditulis didalam Al Qur’an sebagai kewajiban. Tidak lantas menunggu akhlak baik dulu baru berjilbab. Bagi saya pribadi justru, jilbab menjadi pemicu hati kita untuk semakin terbuka menerima hidayah tentang akhlak. Meskipun mungkin, yang betul adalah akhlak dan akidah semestinya menjadi pondasi utama untuk setiap anak manusia. Begitulah ilmu selalu menjadi modal utama sebuah amal.

Tulisan ini hanya sebagai pengingat diri. Jila ada yang mampu dipetik kebaikannya, semoga manfaatlah yang mampu dirasa.

Memang tidak ada yang mampu menilai dengan tepat kecuali Allah. Semoga kita dihindarkan dari penilaian manusia yang terbatas, kita dihindarkan dari prasangka manusia yang lemah. Dikuatkan untuk terus mencari ilmu yang haq untuk melihat yang bathil. Amin

15 dan 16 Ramadhan 1438H

Desain Hidup

Bismillahirrahmanirrahim

Alvin_NHW#4

Dalam nhw kali ini, isinya akan lebih banyak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan perenungan maksimal serta kontemplasi berhari-hari dan akhirnya berujung mendekati deadline. Saya tidak ingin, pengerjaan NHW ini hanya pemenuhan tugas semata. Semoga Allah kuatkan menjalankannya.
a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?
Saya kembali mendalami dan membaca ulang kalimat demi kalimat yang saya tulis dalam NHW#1 dan sampai hari ini, jurusan ilmu yang saya pilih di Universitas Kehidupan tetap bertahan pada ilmu parenting serta satu lagi fokus yang ingin saya ambil adalah mempelajari ilmu seputar pernikahan. Meskipun belum bisa melaluinya dengan praktik secara langsung, dalam proses belajar ini saya ingin terus mendalami sehingga ketika pada masanya nanti, ilmu yang saya dapat bisa saya terapkan dengan baik. Karena menghadapi anak-anak langsung realitanya memang jauh seperti ekspektasi yang dibayangkan.

b. Mari kita lihat Nice Homework #2, sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.

Sejujurnya, checklist yang saya buat masih sangat perlu perbaikan, sementara waktu kemarin sebelum adanya review NHW#2 saya sudah mencetaknya, namun ternyata masih banyak sekali yang perlu di revisi. Hampir 80% daftar yang saya buat di checklist pelan-pelan saya jalani. Yang paling berat bagi saya ada di poin yang berkaitan tentang rutinitas olahraga. Namun Alhamdulillah checklist yang ada membuat saya mengerti bahwa segala sesuatu harus dimulai dari yang paling sedikit terlebih dahulu, kemudian dibiasakan untuk menjadi budaya dan betul sekali checklist ini senantiasa memicu untuk semakin memantaskan diri setiap saat.

c. Baca dan renungkan kembali Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.

NHW #3 membuat saya merenungkan si jodoh XD
Maka di NHW #4 ini saya mulai mengerti, memilah dan memprioritaskan apa dan bagaimana caranya saya untuk mengaktualisasikan diri menjadi bermanfaat dan produktif.
Saya akan tetap bertahan untuk mempelajari seputar ilmu parenting. Tentunya, ini akan berjalan optimal ketika hubungan dengan pasangan berjalan dengan baik pula. Oleh karena itu, saya telah memutuskan bahwa saya ingin menjadi support system (sistem pendukung) berjalannya keluarga saya nantinya. Menjadi supporter pertama bagi suami dan menjadi fasilitator penuh untuk anak-anak.
Saya selalu merasa senang ketika melakukan pekerjaan mendesain seputar dunia anak-anak. Dari situlah saya bercita-cita untuk merumuskan, bagaimana saya bisa bermanfaat melalui ranah yang saya senangi. Membuat buku cerita misalnya atau sekedar sounding sederhana yang berisi gambar dan nasehat-nasehat mengenai ilmu parenting yang dibuat melalui desain grafis. Dari proses membuatnya, saya mengalami proses belajar untuk diri sendiri, berusaha menerapkan kepada diri sendiri serta menularkan kepada orang lain. Jika nantinya diizinkan Allah, saya ingin memiliki sebuah yayasan yang di dalamnya dapat memberi banyak ilmu yang dapat di kembangkan dengan teknologi salah satunya desain grafis ini dengan penekanan atau fokus pada anak-anak. Mengayomi anak-anak, memberi beasiswa untuk anak-anak, memberi pembelajaran anak-anak untuk menghasilkan karya melalui bidang teknologi. Karena dalam program studi perkuliahan yang saya ambil Teknik Informatika, semoga ranah ini tetap bisa berkembang meskipun minat yang ingin betul-betul saya dalami adalah ilmu parenting dan pernikahan.

d. Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.
1. Bunda Sayang : Ilmu pernikahan dan ilmu parenting, melihat yang utama adalah saya ingin menjadi support system bagi suami dan anak-anak, untuk dapat mendukung berjalannya peradaban yang baik dari dalam rumah serta menghadirkan generasi kuat
2. Bunda Cekatan : Ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri (regulasi emosi ada pada nhw #22) rumah tangga dan parenting
3. Bunda Produktif : Ilmu-ilmu seputar minat dan bakat ; ilmu perdesainan grafis serta menularkannya ke banyak orang
4. Bunda Shaleha : Ilmu tentang sounding seputar parenting kepada khalayak dan dapat menghasilkan serta mengajak banyak perempuan agar turut serta.

e. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup

contoh : Ibu tersebut menetapkan KM 0 pada usia 21 th, kemudian berkomitmen tinggi akan mencapai 10.000 (sepuluh ribu ) jam terbang di satu bidang tersebut, agar lebih mantap menjalankan misi hidup. Sejak saat itu setiap hari sang ibu mendedikasikan 8 jam waktunya untuk mencari ilmu, mempraktekkan, menuliskannya bersama dengan anak-anak. Sehingga dalam jangka waktu kurang lebih 4 tahun, sudah akan terlihat hasilnya.
Perjalanan mengenai tertariknya saya dengan dunia parenting semenjak pertengahan perkuliahan. Saya suka sekali membaca buku-buku seputar parenting dan ilmu-ilmu psikologi. Hingga, program studi perkuliahan Teknik Informatika pun, skripsi yang saya ambil sebagai penelitian dalam dunia anak-anak. Jadi, jika bisa saya cantumkan sebagai bermulanya milestone maka rinciannya sebagai berikut :

KM 0 – KM 16 ( 19 Tahun – 35 Tahun ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Sayang serta Bunda Cekatan
KM 16 – KM 20 (35 Tahun – 39 Tahun ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Produktif
KM 20 – KM ke-sekian ( 39 Tahun – sejauh usia) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Shaleha

f. Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.

g. Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan

Sang Ibu di contoh yang ada pada materi IIP pekan ini merupakan perjalanan sejarah hidup Ibu Septi Peni, sehingga menghadirkan kurikulum Institut Ibu Profesional, yang program awal matrikulasinya sedang di jalankan bersama saat ini.

Sekarang buatlah sejarah anda sendiri. Karena perjalanan ribuan mil selalu dimulai oleh langkah pertama, segera tetapkan KM 0 anda.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/

Ramadhan #11 : Do-It-Yourself

Sekitar satu minggu sebelum Ramadhan saya lihat banyak sekali handbook Ramadhan bertebaran di whatsapp, serta ada salah satu handbook keren milik Mba Ragwan yang dari situlah saya jadi termotivasi, apa yang bisa saya buat… berhubung sepertinya lumayan lama saya tidak otak-atik Corel. Jadilah DIY ini.

Saya selalu menyukai hal-hal yang berbau DIY. Tapi tidak banyak memang yang bisa saya buat wkwk sisanya abal-abal dan dilakukan ketika ada waktu luang XD

Tapi pin di Pinterest sepertinya sudah mulai penuh. Itu artinya, sudah banyak sekali angan-angan DIY yang ingin saya wujudkan salah satunya Stuff untuk Ramadhan dan Lebaran berupa amplop ini yay!

Bagi temen-temen yang punya adik, murid privat, anak didik di sekolah, anak sendiri XD, keponakan atau siapapun…

Punya banyak waktu bebikinan seru, kuy! Gratis di download. Amplop ini saya buat ukurannya kecil, jadi mini-mini gitu.

Ukuran kertasnya saya buat standar di A4 yaaa supaya temen2 bisa cetak di printer biasa 😊 kritik dan saran kirim ke alvinareana@gmail.com

Selamat melanjutkan ibadah puasa bagi yang menjalankan!

Semangat menjalankan misi kebaikaaaaannnn…

 

Link Donwload Ramadhan Stuff 1438H

Klik Disini

Surabaya, 11 Ramadhan 1438H

Ramadhan #6 : Kebun Teh Jamus yang Ramah

Hari ini posting tentang Kebun Teh Jamus ajaaaa haha

Ada sih, ada beberapa pesan menohok yang sedari kemarin saya renungi di kantor. Beruntung saya mendapati renungan itu yang pada akhirnya membuat saya refleksi diri kembali. Tapi ditulis besok aja XD #spoiler yang gak banget

Kembali ke postingan hari ini. Beberapa bulan lalu ketika saya berkesempatan pulang, saya mengajak adik ke Perkebunan Teh Jamus, lokasinya di Girikerto, Sine, Ngawi.
Kami menempuh perjalanan sekitar 1 jam 45 menit untuk menuju kesana. Awalnya, ketika akan berangkat saya bilang pada ibu jika saya belum pernah kesana sebelumnya, maka saya memaksa mengajak adik untuk menemani. Namun setelah sampai, saya ber oo panjang..😂

Wkwk ternyata saya sudah pernah kesini, entah berapa tahun lalu ketika Saka Bakti Husada semasa SMA yang saya ikuti mengadakan penelitian mengenai kesehatan hasil produksi disini.

Perkebunan Teh Jamus ini tentu telah menjadi sektor agrowisata yang mendukung sektor-sektor di bidang lain seperti ekonomi, kelestarian lingkungan, hingga mendukung berjalannya kebijakan pemerintah guna membantu mengentaskan kemiskinan dengan adanya produksi teh itu sendiri. Yang konon katanya, semakin lama tanaman teh itu ditanam, kualitasnya semakin baik. 

Untuk masuk ke wilayah ini cukup membayar 5000/orang. Perkebunannya sangat terjaga dan bahkan bagi pekerja-pekerja atau pemilik lahan pun tidak diperbolehkan untuk membangun/memiliki rumah di daerah perkebunan. Rumah paling dekat dengan wilayah perkebunan ini yang saya ingat berjarak sekitar 3-5km dibawah perkebunan.

Hanya saja, bagi para penjual ada sebuah lahan kosong dan ruko-ruko kecil berada dipuncak yang memang disediakan khusus. Terletak di sebelah musholla dan sebuah tanah lapang kosong yang lumayan luas. Di tanah kosong ini pula biasanya banyak disewa untuk perkemahan.

Air disini sungguh jerniiiih sekali dan yang paling saya sukai adalah penjual maupun petani teh yang sempat saya temui memiliki keramahan berkomunikasi. Ya cocok lah yaa, sama slogannya Ngawi Ramah XD

Seperti di daerah pegunungan kebanyakan, jika teman-teman pernah mengunjungi atau #nyasar ke Ngawi sempatkan untuk pergi kesini merasakan hawa sejuk dan ketenangannya 😊

Karena bagi saya, pulang tetaplah tempat terbaik untuk kembali hehe. Jadi, menikmati suasana pedesaan dan menjauh dari hiruk pikuk kota adalah obat tersendiri bagi saya. 

Surabaya, 01 Juni 2017

06 Ramadhan 1438H

Nah, itu rumah terakhir sebelum menuju ke Perkebunan

Niat Menulis

Postingan pembuka Ramadhan, alhamdulillah. Sampai lagi kita di bulan ini, tahun lalu satu postingan satu hari milik saya mandeg di hari ke 19. Itu cukup membuat saya terus merenungi kembali apa niat saya menulis.

Untuk Ramadhan kali ini, in syaAllah akan tetap saya usahakan menulis, sebisa mungkin.

Kembali ke judul. Semakin bertambah usia, semakin banyak saya berpindah-pindah media, akhirnya saya mengerti bahwa menulis bukanlah sesuatu yang mudah. Saya banyak menemukan pertemanan dari Tumblr dan tulisan milik merekapun hadir seperti beragam jenis pupuk yang menyuburkan pikiran.

Saya ingat betul, model tulisan-tulisan saya pertama kali penuh dengan majas, bahkan saya sendiri gagal mengartikannya 😂 tulisan jenis ini masih banyak sekali mengendap di blogspot, blog yang telah lama saya hide dari peradaban.

Kemudian, tahun 2012 saya terjebak di Tumblr, sampai kini media tsb sungguh membuat saya terhipnotis dengan fitur2nya yang ramah. Tidak terkesan riya’ karna nampaknya following dan follower serta like. Yang katanya ramai diburu anak muda jaman sekarang. Pertemanan dunia maya seolah lebih berarti ketimbang teman yang duduk di depannya 🙈 untuk Tumblr kini saya khususkan hanya postingan hasil reblog.

Dari Tumblr, saya hijrah ke Instagram dan 2 bulan ini saya berhasil menghapusnya dari deretan aplikasi di hp. Karena alasan2 yang sudah pernah saya tulis di postingan Boros Perasaan.

Setelah perjalanan panjang, saya mulai menemukan alur untuk menulis. Tulisan-tulisan saya tidak lain adalah hasil perenungan saya melihat sesuatu, mengalami sesuatu, merasakan sesuatu dan hal2 yang bagi saya perlu untuk diukir agar saya mengingat bahwa saya pernah menasehati diri sendiri dengan cara ini.

Satu tips menulis yang saya ingat dan favorit sekali, saya kutip dari Kak Uti (@prawitamutia) bahwa menulis yang lahir dari hati tidak akan pernah berkhianat. Tulisannya akan langsung di terima oleh hati-hati yang membaca.

Meski semua proses ini tidak mudah, saya selalu menyukai bentuk2 opini dan tulisan yang dibuat oleh lingkaran pertemanan yang saya miliki. Seperti membaca jalan pikirannya, meski saya belum pernah kenal jauh atau bahkan belum pernah bertegur sapa. Seperti teman2 FIM kebanyakan misalnya. Saya suka kegiatan blogwalking.

Hingga kini, saya masih terus berusaha agar tulisan saya tertulis dari hati. Niatnya menasehati diri. Bukan untuk menggurui. Semoga Allah istiqomahkan niat kita berbagi 🙂

Surabaya, 26 Mei 2017