Review : School Of Life Lebah Putih

Prolog –

Setahun lebih berjalan, saya mengenal dunia pendidikan dan itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan ibu kos saya yang 40 tahun mengabdikan dirinya di dunia tsb. Kenapa gitu sampe bawa-bawa ibu kos ๐Ÿ˜‚.

Sejak mengenal lebih dekat dan berinteraksi langsung setiap harinya dengan anak-anak membuat saya benar-benar merasa โ€œitโ€™s meโ€ saya yakin dengan diri saya sendiri, saya pede, saya semangat dan semakin merasa hidup.

Cerita panjang yang akan saya ceritakan dibawah adalah rangkaian perjalanan beberapa hari yang lalu.


Alhamdulillah, Allah mengijinkan saya untuk mengulik salah satu kebaikan yang tersembunyi dibalik kenyamanan kota Salatiga. School of Life Lebah Putih milik Padepokan Margosari ; Bu Septi Peni Wulandari dan Pak Dodik Maryanto. Dinamai sekolah alami dan sekolah kehidupan.
Letaknya tidak jauh dari Kota Salatiga dengan suasana yang tenang dan sejuk. Lokasi Lebah Putih memang sedikit masuk ke dalam dan tidak berada persis di pinggir jalan raya.


Sekolah ini mengunggulkan character value di kegiatan yang ada di dalamnya. Tidak seperti yang notabene kita tau bahwa kegiatan sekolah selalu terpaku dengan duduk manis di dalam ruang kelas, buku-buku cetak serta jam pelajaran yang mengikat. Sekolah ini memberikan suasana lain dalam belajar sehingga anak-anak justru betah di sekolah.

Awalnya yang bikin saya amaze dengan cerita Enes adalah yang diuji pertama kali untuk mendaftar di sekolah ini justru orang tuanya. Orang tua betul-betul dilibatkan langsung dalam kegiatan belajar yang dialami siswa. Bukan dalam artian orang tua ikut dalam keseharian belajar, tetapi terlibat untuk โ€œnyemplungโ€ sebagai role model bagi si anak. Karena semua anak memiliki hak yang sama untuk mendapat pengajaran, maka yang betul-betul diuji adalah orang tuanya. Apakah orang tua bersedia memiliki komitmen untuk membersamai tumbuh kembang anak, meskipun anak telah dititipkan di sekolah.

Contohnya seperti ini, setiap hari Jumโ€™at, Lebah Putih selalu mengadakan event yang bernama Kelas Bintang. Kelas Bintang ini memiliki kegiatan yang dipandu sendiri oleh orangtua dan beliau-beliau akan mengajarkan secara langsung kemampuan yang dimiliki. Entah itu dibidang memasak, dibidang musik ataupun dibidang lainnya.

Dari sini maka timbullah rasa bangga dari anak melihat orangtuanya memiliki sikap tauladan yang nantinya akan menumbuhkan berlipat-lipat kebanggaan dan rasa percaya diri si anak dengan melihat orangtuanya. Tidak hanya itu, selama anak dan orangtua menjadi bagian dari Lebah Putih, orangtua diberi wadah tersendiri untuk membentuk komunitas yang nantinya akan terus berlanjut, baik setelah kelulusan anak dari Lebah Putih. Para orangtua ini membentuk komunitas-komunitas belajar yang terdiri dari banyak sekali minat belajar dan akhirnya saling berbagi.

Jika keluarga A memiliki minat belajar dalam bidang matematika, maka keluarga yang lain akan belajar dari keluarga A. Jika keluarga B memiliki minat belajar dalam bidang kesenian, maka keluarga yang lain akan belajar dari keluarga B tersebut. Dari sanalah tumbuh lingkaran keluarga yang semakin meluas dan kebermanfaatan akan terus berputar disebarkan. Keren ya ๐Ÿ˜


Lebah Putih setiap tahunnya memiliki goals value yang akan diterapkan dan tahun ini, menanamkan nilai disiplin. Jadi nilai inilah yang akan ditanamkan oleh pengajar dan orangtua melalui kegiatan apapun dalam kesehariannya. Untuk itu sangat diperlukan sekali kerja sama antara semua komponen yang terlibat. Mengingat kegiatan belajar di sekolah hanya menghabiskan waktu kurang lebih 7 jam dan sisanya dilalui dirumah bersama orangtua.

Sekolah ini tidak ingin, hanya menjadi wadah dititipkannya anak-anak dan mencekoki mereka dengan hal-hal yang berbau akademis, sedangkan sekolah adalah fase yang memang perlu dilewati anak untuk mempersiapkan kehidupan dan masyarakat.

Pun adaaa kegiatan makan bersama yang sebagai seksi sibuknya pun anak-anak sendiri, mulai dari menyiapkan makanan, mencuci piring dan menata peralatan. Betul-betul pembiasaan ditanamkan di semua penjuru.

Saat berkunjung kesana, sayangnya kegiatan sudah selesai lebih cepat, karena ada agenda imunisasi. Jadilah saya tidak kebagian melihat anak-anak langsung. Namun ada 2 anak tersisa menunggu jemputan orang tuanya, mereka adalah Omar dan Keanu. Ketika ditanya apakah mereka betah sekolah disini, jawaban polos ala anak-anak “Betah, malah nggak pengen pulang”

Beda ya, beda banget dengan kondisi sekolah yang ketika bel pulang berbunyi, anak-anak justru saling lari sana-sini supaya lebih cepat pulang dan bermain dirumah.


Merinding melihat sebegitu dalamnya niat yang dipegang oleh semua pihak demi membangun generasi kuat di masa mendatang ๐Ÿ˜Š

Akhir kata, semoga yang sedikit ini bisa memacu siapapun untuk punya pandangan yang lebih baik dan lebih maju lagi tentang pendidikan anak. Karena kalau kata Bu Septi Peni, sebetulnya semua harus dimulai dari dalam keluarga.

Jadi semoga, semakin banyak yang sadar akan betapa pentingnya meninggalkan generasi kuat untuk menghadapi jaman di masa mendatang ๐Ÿ™‚

Surabaya, 23.08.17

Cerita Jogja (1) : Mbak Masiti

Introvert bukan dalih untuk mendispensasi diri dari pergaulan yang terbuka. Meskipun memang seorang introvert, memiliki caranya sendiri untuk mengembangkan kemampuan bersosialisasinya. Kira-kira apa jadinya kalau sesama intro saling ngobrol?

Saya ucapkan beberapa kalimat diatas sembari berkaca, ngandani awake dewe (menasehati diri sendiri) wkwk.

Sabtu sore saya mbolang ke Jogja, modal pas-pasan dan ada seorang teman yang berniat saya repoti untuk bermalam. Kami lama sekali tidak bertemu semenjak kurang lebih 1,5 tahun, teman semasa kuliah dulu. Saya kenal beliau sebagai sosok yang tertutup namun selalu tampak optimis dengan pilihan-pilihan yang diambilnya.

Langkah kakinya cepat dan jarang basa-basi.

Flashback nya, dulu ketika di tahun pertama perkuliahan saya sering merasa roaming sewaktu kami ada dalam satu momen, atmosfir disekitar kami menjadi sangat sepi ๐Ÿ˜‚

Nah! Sore itu obrolan kami random sekali, tiba-tiba tertawa dan menangis. Tapi untuk kali ini saya tidak lagi merasa failed. Yang pasti, saya melihat sosok beliau kini tidak seperti 2 tahun yang lalu ๐Ÿ˜Š

Awalnya saya terlanjur su’udzon lebih dulu, gimana kalo ini nanti akan tetep sama krik-kriknya ๐Ÿ˜‚

Saya cuma mbatin “padahal aku dah berusaha cari celah gimana caranya supaya obrolannya dak pasif”. Dan ternyataaaa, saya justru dapet yang lebih dari itu. Banyaaak sekali yang beliau ceritakan tentang meredam ego, tentang komitmen menjalankan sebuah pilihan, tentang berdamai dengan diri sendiri, tentang penerimaan bahwa takdir Allah selalu baik.

Bagaimanapun cara yang Allah miliki, terkadang kitalah yang kurang notice dengan kode-kode yang Allah kasih.

Dari situ saya semakin percaya ; 

Tiap manusia diuji dengan ujian masing-masing. Tiap-tiap manusia memiliki track perjuangan masingmasing. Dan Allah telah membuatkannya sesuai dengan batas kemampuan yang dimiliki.

Dari beberapa curhat yang tidak bisa diceritakan disini, yang saya tangkap untuk menasehati diri sendiri adalah 

  • Manusia selalu punya rencana, seeee rapih apapun itu, kalau Allah ndak berkehendak maka ya gak akan terjadi.
  • Kunci utama hubungan horisontal adalah berdamai dengan diri sendiri
  • Kunci utama hubungan vertikal adalah selalu berusaha husnudzon ke Allah, Allah yang akan jamin nasib kita.
  • Dan menerima bahwa rencana Allah pastilah yang terbaik. Terakhir ini kelihatannya sepele. Tapi penerimaan selalu beriringan dengan rasa ikhlas, yang sulit sekali dijalani.

Honestly, prolog saya mungkin kurang nyambung yak ๐Ÿ˜‚

Aslinya cuma pengen cerita dan pengen bilang bahwa perjalanan itu pasti membawa hikmah. Sekecil apapun kita menyadari, tapi semoga dari yang kecil pun kita bisa ambil pelajaran dan diamalkan ๐Ÿ˜Š

Epilognya : Saya pengen foto sama mbak mas (panggilan untuk mbak masiti) didepan tulisan UGM tapi dak boleh ๐Ÿ˜ฅ katanya ada mitos berakibat lulusnya lama wkwk. Anyway, semangat S2 nya mbaaakkk ๐Ÿ˜

Quarter Life Crisis

Udah lama ndak nulis. Pagi tadi saya berasa up down. Emang dasarnya gampang banget begitu ๐Ÿ˜‚.

Tapi balik ke diri sendiri, kalo mau mager memang akan terus nothing dan justru menjadi pemicu untuk terus seperti itu.

Membuka facebook pagi ini, yang saya dapat adalah reminder tentang 2 tahun yang lalu. 08 Agustus 2015, fase wisuda terlaksana. Wisuda tingkat sarjana ๐Ÿ™‚

Alhamdulillah, karena ujian untuk menujunya selalu memiliki keseruan masing-masing. Tidak akan sama ukuran ideal setiap orang, termasuk tentang waktunya.

Jika mengingat masa-masa sulit pada saat itu, rasanya lamaaaa banget endingnya, ada saja yang menjadi kerikil. Ada saja yang memicu untuk jatuh. Dan memang perjuangan selalu mengiringi setiap fase yang dilalui anak manusia dalam bertumbuh ๐Ÿ™‚

Saya mensyukuri telah melewati fase-fase tersebut.

Dalam beberapa artikel yang saya temui, usia 18-25 tahun adalah masa dimana quarter life crisis terjadi. Banyak sekali hal yang harus diputuskan dan ditimbang matang-matang agar tidak menjadi sebuah kesalahan yang berlanjut.

Mungkin saya menjadi salah satu bagiannya ๐Ÿ˜‚. Akan mulai terasa bagi remaja yang memutuskan kehidupan sekolahnya masa SMA dan memilih untuk melanjutkan kuliah. Masa-masa kuliah adalah masa dimana penjajakan terhadap semua jenis kegiatan dan organisasi pun menarik hati. Pada akhirnya menjajali semuanya dan menjadikannya modal “dapet pengalaman”.

Masa kuliah berakhir akan datang pertanyaan, kerja dimana, mau ambil bidang apa, bisnis atau kantoran, nikah atau s2 dlsb. Sebagai generasi Y yang mulai mengenal istilah passion dan life goals dalam hidup, manusia remaja setengah dewasa khas ini akan mengawali hari-harinya dengan galau dan pusing-pusing ria.

Bahkan 2 tahun pasca lulus saya masih bergelut dengan diri sendiri menentukan hal ini. Beruntungnya dengan mengikuti program matrikulasi IIP, saya mulai mengenal bagaimana saya mampu membentuk diri.

Saya seperti manusia dengan tipe generalis. Banyak sekali hal yang menjadi minat saya namun yang benar-benar spesifik didalamnya tidak ada. Hal ini tentu menjadikan langkah tidak kunjung diambil, terus-terus berputar dengan pikiran “bisa manfaat betul gak ya, ah udah banyak yang ambil bidang itu, yakin gak ya bakal bisa ngembangin dan seabrek dugaan yang membuat stuck berkepanjangan.

Pada suatu ketika, obrolan saya dengan seseorang. Dia mengatakan “Ambil, yakini, pelajari dan mulai”. Saya terkekeh memikirkan langkah awal apa yang harus saya tentukan. Rasanya pengen semuaaa ๐Ÿ˜…

But, you’re special with ur way.

Jadilah kudunya yang dilakukan dalam masa Quarter Life Crisis ini menurut saya ;

  1. Buatlah jejaring pertemanan positif sebanyak mungkin
  2. Perdalam dan mengertilah diri sendiri
  3. Jangan memaksakan kehendak, kayaknya lebih great kalo melakukan A, tapi kapasitas diri cuma sampai di B. Stop, teruskanlah menekuni ysng betul-betul membuatmu suka dan bisa untuk melakukannya. Karena yang tau tentang hal itu ya cuma dirimu sendiri.
  4. Stay calm dan perbanyak mengupgrade pengetahuanmu tentang banyak hal.
  5. Pede dan it’s oke ndapapa. Kamu hebat dengan caramu sendiri.
  6. Fokus!
  7. Selamat mencoba

Wallahu ‘alam ๐Ÿ˜Š

Semangat yaaaa! Semangat kita!

Surabaya, 080817

Kehilangan itu Niscaya

Terhitung lima jam berlalu, ketika saya menuliskan ini, fikiran sudah sedikit fresh. Lalu yang muncul pertama kali adalah yuk nulis yuk.

Jum’at, 28 Juli 2017 10.53 WIB

Menjelang sholat Jum’at saya berjalan sendirian di sebuah kampus, ingin menjangkau kantin yang tinggal beberapa meter lagi. Saya berhenti sebentar didepan sebuah lapangan dan jalan yang sedikit lengang karena ada seorang asing bertanya tentang arah gedung sebuah fakultas yang tidak saya kenali. Karena saya bukan mahasiswa di kampus tersebut.

Pertanyaannya kenapa saya bisa jalan-jalan sendirian (?) di kampus orang pula (?)

Pertama, saya ingin bertemu teman yang sedang kuliah disana, meski pesan Whatsapp saya tak kunjung dibalas, karena beliau masih sibuk. Maka saya parkirlah motor dan saya memutuskan berjalan kaki sebentar menuju kantin kampus tersebut. Sambil wifian (?)

Kedua, saya adalah orang yang sering sekaliiii merasa nyaman kesana kemari seorang diri.

Kembali ke orang asing-

Dia berhenti sejenak, bertanya dan saya menjawab tidak tahu. Lalu dengan cepat, dia meminjam handphoneย untukย miskolย temannya. Iya miskol, ujarnya. Karena pulsa saya ada, maka tersambunglah telfon tersebut dan dengan cepat lalu diangkat. Sempat terjadi pindah handphoneย dan pindah lagi. Dari tangan saya ke tangan orang tersebut dan ke tangan saya lagi dan balik ke tangannya lagi.ย ย Tiba-tiba saya menjadi blank, saya tidak ingat bagaimana dia menawarkan sebuahย hpnya yangย jadul sebagai jaminan. Beberapa detik kemudian,ย hpย saya telah dibawanya naik motor.

Lima menit saya masih menunggu, diam saja disitu, delapan menit. Sampailah sepuluh menit, saya baru panik. Pikiran positif saya tentang “oh iya itu tadi cuma dipinjem” kian memudar. Nangis, sudah tumpah semua. ย Saya kelimpungan, tidak terfikirkan apapun. Mencoba mencari pertolongan, dapatlah saya seorang mahasiswi kampus tsb. Saya memintanya untuk membantu menghubungi terus nomor di hp itu, masih tersambung hingga kira-kira 20 menit lamanya. Kami berdua mencari bala bantuan lain dan mengupayakan lacak via gps. Ternyata gagal, karena gps saya masih nonaktif.

30 menit berlalu, tangis saya sudah hilang. Ada rasa pasrah, ada rasa bagaimana jika terus dicoba. Maka telfonpun terus dilakukan.

Nyambung!

Nyambung, diangkat-tanpa suara. Putus.

Nyambung lagi! Lagi-lagi diangkat tanpa suara.

Nyambung lagi! Tut.

Tut tut.

Tuuutt.

Sudah, akhirnya saya menghela panjang. Ikhtiar sudah, gupuh juga sudah. Sisanya, jika rejeki pasti kembali, kalau tidak. InsyaAllah diganti yang lain.

Kata orang kebanyakan, itu adalahย gendam.ย Sebuah tindakan kriminal entah mencuri, mencopet, dkk dengan cara membuat korbannya tidak menyadari. Entah dibagian mana saya dibuat tidak sadar, tapi saya merasa kejadian itu cepat sekali terjadi.

๐Ÿ™‚


Itu baruย handphone.

Pikiran saya terus berkelebat kejadian tadi, memikirkan banyak hal. Tapi sesal memang selalu diakhir dan tentu sama sekali tak berguna apa-apa. Allah seperti ingin menyadarkan banyak hal untuk saya.

Hati saya terus membatin, itu baruย hp.ย Sesakit itu manusia yang suka menggantungkan perasaannya terlalu jauh pada kefanaan.

Macam takdir. Ketika diingat-ingat, lalu membuat pengandaian (coba tadi gini, coba tadi gitu) kalau sudah takdir maka kun. Allah sudah membuatย nasย  hari ini kamu akan mengalami ini. Seberapa kuat kamu menjalaninya? Seberapa ikhlas kamu melepaskannya? Seberapa jauh pikiran dan perasaanmu memahami bahwa di dunia ini semua bukanlah kepunyaanmu, bahkan dirimu sendiri.

Huaaa, dua kalimat diatas adalah tulisan yang biasa saya tulis. Saya seperti merecall tulisan lama. Kali ini betul-betul “it’s your time”


Ada hikmah.

Setiap kejadian pasti ada hikmah yang bisa diambil. Ada evaluasi untuk perbaikan. Ada pembelajaran dari pengalaman.

Ternyata ikhlas itu sulit.

Sulit karena perasaan manusia yang “keduniawian” dan menyayangi dunianya. Itu wajar, tapi jika berlebihan maka tidak baik. Semua jika berlebihan pasti tidak baik.

Dalam kurun waktu beberapa hari terakhir, saya sedang disibukkan dengan perasaan-perasaan khawatir kehilangan sesuatu. Mungkin disitulah Allah mengerti bahwa sikap saya terlampau berlebihan, maka Allah menguji dengan hal ini. Dengan kehilangan yang tidak seberapa.

Setelah mendengar banyak nasehat, menenangkan diri, merefreshย kembali fikiran, apa yang sedang saya alami tidak seberapa. Ada yang pernah mengalaminya lebih menyakitkan lagi, ada yang lebih-lebih merasakan pedih dibandingkan kehilangan ini.

Jadi, untuk apa terus mengingat dan menyesali.

Ikhlaslah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Mungkin dengan cara yang lain.


Nasehat untuk diri sendiri yang bisa saya rangkum dan betul-betul harus saya camkan adalah ;

  • Kita boleh terus berprasangka baik terhadap orang lain, namun waspada dengan orang baru itu lebih penting
  • Tidak baik bagi perempuan, berjalan seorang diri di tempat sepi jika kondisi tidak sangat-sangat memaksa itu terjadi
  • Merasa dengan cukup terhadap apa saja yang dimiliki, karena sejatinya sungguh semua hanyalah titipan.
  • Lebih berhati-hati lagi
  • Memperbanyak dzikir mengupayakan menjaga diri, ketika berada di tempat baru dan sepi
  • Pasrah kepada Allah, ikhtiar dulu tentu dan tawakkal ๐Ÿ™‚

 

Semoga, kita dihindarkan dari kejahatan-kejahatan seperti ini. Semoga kita selalu dijaga Allah dalam setiap langkah. Amiin

Surabaya.

Review : Air Terjun Srambang

Akhirnya posting juga wkwk

Ada satu postingan tentang inner child yang sebetulnya ingin sekali saya tulis. Hasil dari perenungan selama pulang kampung dan belajar lagi dari banyak sumber. Tapi lagi-lagi selalu ada “tapi”. InsyaAllah secepatnya.

Nah, berhubung punya bahan yang lebih bagus yaitu foto-foto. Maka jadilah, postingan ini lebih dulu ditulis XD

Pagi tadi saya berangkat berdua dengan Adek, menuju Wisata Air Terjun Srambang. Letaknya tidak jauh dari Wisata Kebun Teh Jamus, yang pernah saya tulis beberapa waktu lalu. Tulisannya bisa dilihat disini.

Jam 7.00 pagi kami berangkat, perjalanan memakan waktu sekitar satu jam empat puluh menitan dengan kondisi sepanjang perjalanan mulus, sangaaat mulus. Kami sampai di tempat jam 8.43.

Biaya yang dibutuhkan untuk parkir sepeda motor hanya 2000 rupiah dan tiket masuk seharga 5000 rupiah/orang. Air terjun Srambang terletak di kaki Gunung Lawu, daerah Girimulyo, Jogorogo, Ngawi. Kurang lebih 20km dari Kota Ngawi.

Di awal-awal perjalanan, kita akan disambut hutan-hutan pinus dan satu ibu penjual makanan di sebuah warung kecil. Ada mie instan, gorengan, teh atau kopi dll. Jadi, gak usah khawatir kelaperan akibat hawanya yang dingin, karena ternyata masih ada beberapa warung lagi diatas. Awalnya, saya dan Ina ngerasa mulai interest dengan setapak-kecil-dan-batuan. Yang disana setapak-setapak ini selalu ada air mengalir dibawahnya. Kami mengira, perjalanan menuju air terjun hanya melewati track seperti ini. Tapi ternyata, semakin keatas batuan yang kami temui semakin guede dan arus air makin deras XD

Jadilah anak-anak ibuk yang telusurin jalan beginian gak ada bersih-bersihnya pake rok heheh. Capek betul memang, tapi akan terus terbayar dengan suasana dan pemandangan-pemandangan yang akan kita temui selama perjalanannya sampai ke air terjun itu sendiri. Berkali-kalipun Dek Ina bilang, coba mata kita bisa screenshoot ya mbak. Hasilnya pasti keren banget wkwk

Sayangnya disini masih minim sekali fasilitas umum seperti kamar mandi dan musholla. Pun yang saya sayangkan, banyak sekali bebatuan yang jadi sasaran coret-coretan. Sebetulnya banyak sekali lahan yang bisa dipakai pertunjukan budaya misalnya. Atau dimanfaatkan untuk hal-hal lain yang lebih bermanfaat daripada sekedar dibiarkan. Pun pastinya bisa jadi lahan untuk semakin menarik pengunjung ๐Ÿ™‚

Ngawi, 05 Juli 2017

 

Ramadhan #23 – 24 : Ka Syah

Dak nemu foto berdua ๐Ÿ˜… heheh

Syahiidah Muthmainnah, namanya.
Semoga Allah menjadikannya pejuang yang senantiasa mengagungkan agama Allah..

Kemarin sore tiba-tiba tumpah. Entah setelah perasaan apa yang bergolak seharian. Honestly, saya rindu dengannya.

Ka Syah, gitu sih saya manggilnya. Kami belum lama kenal, sekitar 2 tahun. Karena pertemuan kami di Forum Indonesia Muda (FIM) angkatan 17.

Semenjak kali pertama pengumuman lolos FIM, hampir semua peserta saya kepoin via Social Media mereka. Jaman sekarang nggak susah kan buat cari identitas orang? Cukup ketik nama lengkapnya di Google, jreng apa yang ditunjukin Google ya itu hasil keponya. Cuma insyaAllah semua hasil kepoan saya berbuah manis alias saya nemu banyak hal keren. Tentang sebagian besar anak FIM. Nggak terlewatkan dengan Ka Syah (mungkin saya satu-satunya peserta yang kepo ๐Ÿ˜†). Dari situlah saya punya bayangan tipikal orang seperti apa menurut pengetahuan pendek saya tentang ka Syah. Dia orangnya supel banget! Dan keren! Dan suka masak! Calon ibu shalihah cerdas pokoknya!
Dan emang semua anak FIM keren-keren sih, cuma saya aja yang butiran marimas ๐Ÿ˜ข.

Semua lingkaran pertemanan yang saya temui di FIM adalah lingkaran kebaikan. Saya biasa sebut mereka sebagai nafas kebaikan. Di lingkaran ini pula saya betul-betul melihat “padi berisi semakin merunduk” itu literally merunduk gitu. Mereka semua tetep ngerasa layaknya butiran royco, butiran remah rengginang dlsb. Tapi kerja nyata untuk bertumbuh itu selalu ada.
Oiya back to Ka Syah, jaringan pertemanannya luaaaas sekali. Orangnya asik pisan pokoknya! Dan bikin ka Syah ketawa itu ga susah ๐Ÿ˜‚

Hujan gerimis sore itu nggak bikin ka Syah berhenti cerita tentang banyak hal di UNJ. Kami jalan-jalan sedari pagi dan ka Syah cerita apaaa aja tentang gimana kehidupan jaman (masih) muda. Jaman kuliah maksudnya. Wkwk

Sebenernya kedekatan kami tidak bermula dari situ, dari entah kapan dan dimana. Saya pun lupa detilnya. Yang pasti, ka Syah sempat protes kenapa saya panggil dia kakak ๐Ÿ˜‚

Semakin kemari, semakin banyak hal yang dirasa klik antara kami. Kayak ada radarnya dan saya mulai ngerti, begitulah jika Allah menghendaki kita sesama muslim membangun ukhuwah yang baik lagi bermanfaat. Dari beliau saya belajar banyak hal. Bukan cuma ingetin saya tentang kebaikan tapi juga tegur saya lewat teguran-teguran menggelitiknya. Teguran halus tentang maunya Allah, tentang tawakkalnya suatu hal, tentang kecewanya sama suatu ikhtiar yang kurang sejalan dengan maunya Allah dan berakhir dengan introspeksi diri. Hal-hal (kecil yang) besar saya dapat dari Ka Syah. Saya rasa, kita nggak pernah gamblang menilai kekurangan, tapi dengan cara selalu support untuk saling bertumbuh satu sama lain dan terus manfaat apapun itu.

Tapi emang cuma hati sih yang bisa ngerasa, sedalem apa.

Pesen yang mau saya sampein lewat postingan ini sebenernya hadist Rasulullah dibawah ini ๐Ÿ˜‚

Dalam sebuah hadits Rasululah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman dalam sabda beliau :

ู…ูŽุซูŽู„ู ุงู„ู’ุฌูŽู„ููŠุณู ุงู„ุตูŽู‘ุงู„ูุญู ูˆูŽุงู„ุณูŽู‘ูˆู’ุกู ูƒูŽุญูŽุงู…ูู„ู ุงู„ู’ู…ูุณู’ูƒู ูˆูŽู†ูŽุงููุฎู ุงู„ู’ูƒููŠุฑู ุŒ ููŽุญูŽุงู…ูู„ู ุงู„ู’ู…ูุณู’ูƒู ุฅูู…ูŽู‘ุง ุฃูŽู†ู’ ูŠูุญู’ุฐููŠูŽูƒูŽ ุŒ ูˆูŽุฅูู…ูŽู‘ุง ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุจู’ุชูŽุงุนูŽ ู…ูู†ู’ู‡ู ุŒ ูˆูŽุฅูู…ูŽู‘ุง ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุฌูุฏูŽ ู…ูู†ู’ู‡ู ุฑููŠุญู‹ุง ุทูŽูŠูู‘ุจูŽุฉู‹ ุŒ ูˆูŽู†ูŽุงููุฎู ุงู„ู’ูƒููŠุฑู ุฅูู…ูŽู‘ุง ุฃูŽู†ู’ ูŠูุญู’ุฑูู‚ูŽ ุซููŠูŽุงุจูŽูƒูŽ ุŒ ูˆูŽุฅูู…ูŽู‘ุง ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุฌูุฏูŽ ุฑููŠุญู‹ุง ุฎูŽุจููŠุซูŽุฉ

โ€œPermisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.โ€ (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Sumber: https://muslim.or.id/8879-pengaruh-teman-bergaul.html 

Jadi, perhatikan teman bergaulmu. Karena insyaAllah baik itu akan selalu menularkan yang baik ๐Ÿ˜Š dan menurut saya, salah satu rejeki Allah pun berupa adanya teman-teman baik di sekitar kita.

23 & 24 Ramadhan 1438H

Ramadhan #17-18 : Budidaya Jamur (Berkah Men-Jamur)

Beberapa hari yang lalu saya diingatkan F*cebook tentang memori saat Pengabdian Masyarakat tahun 2013 silam.

Di sebuah desa di lereng gunung Kawi, Desa Donomulyo Kab. Malang. Selama satu bulan saya di tempatkan disana, sebuah desa yang mayoritas penduduknya adalah Non Muslim.

Ada sebuah rumah milik warga yang dari pihak kampus dipercaya sebagai Koordinator Pengabdian Masyarakat. Disanalah saya beserta 9 orang teman tinggal. Di rumah Pak Wachid. Beliau adalah pengusaha jamur lulusan Teknik Mesin. Lulusan S1 jadi bisnis jamur? Nyambungnya dari mana?

Begitulah biasanya ibu ngguyoni bapak๐Ÿ˜…

Bapak Ibu (disana) bagi saya seperti orangtua ideologis. Mengajarkan banyak sekali cara memandang hidup dengan kesederhanaan dan perjuangan.

Beliau berdua adalah pendatang yang semasa dahulu nenek moyangnya memiliki tanah untuk ditinggali disana. Awalnya hanya berfikir, dengan lahan seperti ini apa yang bisa dihasilkan disini? Sedangkan untuk menempuh Kabupaten Malang jauhnya bisa dua jam perjalanan dengan medan jurang dan kelok berliku. Ternyata perjuangannya tidak pernah mudah, ketika usaha yang beliau jalankan pelan-pelan semakin membuahkan hasil.

Kemudian bapak mempelajari teknik membuat bibit jamur sampai membuat tempat olahnya sendiri, bermodalkan ilmu kuliahnya dulu, katanya.

Bapak dan Ibu memulai semua usaha milik mereka dari 0. Dari yang hanya memiliki lumbung 2x3m, hanya memiliki satu tabung pembuat bibit, dari yang sering sekali jamurnya tiba-tiba kering di pagi hari, padahal malamnya sudah terlihat esok siap panen. Lalu setelah di selidiki, tanah dan kelembapannya seperti ada yang menyabotase dengan garam. Entah bagaimana caranya, saya kurang paham ketika dijelaskan bapak waktu itu.

Kini jamur-jamur beliau sungguh telah menjamur, memiliki banyak petani jamur yang tersebar. Olahan jamur yang ibu kuasai pun semakin banyak, tidak hanya tumis jamur, sate jamur. Bahkan kue kering, es krim, risoles, semua ibu olah berbahan dasar jamur.

Satu kali, ibu pernah bilang “kuncinya, kalau sedang punya, jangan perhitungan untuk memberi, yang loman, yang legowoan”.

Dan sampai saat ini hubungan saya dan beliau masih sangat baik. Selama satu bulan disana, sayapun diajari bagaimana mengolah bibit, bagaimana menumbuhkannya, bagaimana menyiapkan agar bisa dijual, bagaimana agar bisa bertahan untuk panen berkali-kali dan banyak sekali.

Saat ini bapak sering mengisi workshop Budidaya Jamur dimana-mana. Upaya pemberdayaan terhadap petaninya pun mengantarkan bapak mendapat beberapa penghargaan. Dan ibu, semakin meluaskan jaringan olahan Jamurnya ๐Ÿ˜Š

Semoga berkahnya semakin menjamur!

Dibawah ini foto ibu dan bapak ;

17-18 Ramadhan 1438H