Perjalanan Pesawat Pertama Ina : Riau

Dengan bangga saya menuliskan ini sekaligus menerawang jauh, sejauh kapal terbang yang membawanya pagi ini.

Sekitar 3 tahun yang lalu, ketika saya melakukan perjalanan lumayan panjang di Jakarta, teringat betul bahwa anak ini berkata nanti ia akan naik pesawat dan pergi lebih jauh dari saya. Untuk melihat dunia luar tentunya. Saya, ibuk dan bapak hanya mengiyakan. Allah yang Maha Mendengar do’a-do’anya.

Pagi ini, pesawatnya dijadwalkan flight pukul 06.00 dari Juanda. Banyak yang bertanya pada saya, kelas berapa, kok bisa ya sudah berani, keren ya dan banyak komentar lainnya.

Di titik inilah saya justru berfikir dari sudut pandang yang dirasakan oleh bapak dan ibuk sebagai orangtua. Apakah mudah melepas anak 15 tahun, kelas 1 SMA untuk pergi sejauh itu seorang diri tanpa dampingan orangtua?

Jika di compare dengan saya, perjalanan terjauh yang pernah saya lakukan semasa (muda) di umur 20 tahun.

Tiba-tiba ingatan saya flashback amat jauh, saat saya dan Ina masih kecil. Saat ia masih saya bonceng di sepeda, saat kami bermain di sawah belakang rumah. Kini ia sudah berani memutuskan suatu hal yang tidak kecil lagi. Tentu itu semua tidak lepas dari keyakinan bapak ibuk dalam mendukung Ina mengambil keputusan tersebut.

Disinilah yang justru ingin saya garis bawahi. Bapak dan ibuk tidak pernah mendapat ilmu parenting dalam mendidik kami anak-anaknya. Tapi keduanya selalu yakin bahwa segala sesuatu yang dimiliki di dunia ini bukanlah hal yang abadi. Semua akan kembali pada Sang Pemilik. Mungkin itulah yang mendasari sikap demokratis pada kami anak-anaknya ketika ingin memutuskan sesuatu yang nampaknya berat. Kepercayaan dan dukungan, bertanya seperti apa manfaat dan mudharat yang kami dapat jika hal tersebut diambil keputusannya.

Apakah sebagai orangtua, bapak ibuk merasa mudah melepaskan begitu saja?

Tanpa ada rasa was-was, dengan sikap acuh, saya rasa jauh tidak mungkin.

Tetapi beliau berdua seperti terus mengilhami setiap anak tumbuh biarkan tumbuh sesuai proses dan fitrahnya. Sedari kecil lahir yang masih bergantung kepada orang tua. Semesta anak-anak saat kecil hanyalah orangtua. Beranjak umur 2 tahun, proses menyapih dilakukan. Dimulailah proses pembelajaran tidak bergantungnya seorang anak hanya dari (ASI – ibu) sebagai satu-satunya sumber rejeki. Memasuki jenjang sekolah, saat anak-anak tidak lagi sepenuhnya bertemu fisik dengan orangtua karena dunia luar menjadi tempat mereka mengeksplorasi kehidupan yang lebih beragam. Begitulah proses demi proses seorang anak bertumbuh dan kekuatan orangtua adalah kunci dasar keyakinan anak-anak belajar dan melihat dunia luar. Semakin jauh dan semakin jauh lagi.


Seperti contoh kecil yang belum berani saya lakukan sampai saat ini adalah membiarkan Ina membonceng saya dengan sepeda motor. Disaat bapak dan ibuk mengatakan, cobalah, tidak apa-apa, percaya saja.

Mungkin seperti itulah analogi sederhana menjadi orangtua dalam memberi kepercayaan pada anak-anaknya. Dan saya masih belajar untuk menjadi orangtua untuk anak-anak saya kelak.

Jika tulisan ini terbaca olehmu dek, entah kapan. Seperti biasa yang selalu mbak katakan. Meski kontakku di hapemu sudah berubah menjadi “(bukan) mbakku” semenjak saya menikah.

Tapi…..

“Mbak selalu sayang. Bawa cerita yang banyak ya dari Riau!

Cheeeerrrssss!!!!”

Surabaya, 27.04.18

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s