Kompromi dengan Inner Child

maxresdefault
sumber : google.com

Ini adalah “topik lain” yang pernah saya janjikan untuk diri sendiri agar sempat menuliskannya disini. Akhir-akhir ini, saya memang banyak sekali menemukan pembahasan tentang hal ini, seolah benar-benar sepemikiran dengan saya yang mendadak sering ingat tentang inner child.

 

Selama di rumah, saya benar-benar merasakan “oh ternyata begini”. Mungkin karena sudah mulai mengerti bahwa ternyata jauh didalam diri setiap manusia, ada sifat anak kecil yang terus hidup hingga ia dewasa.

Sebelum terlalu jauh, inner child dalam artian harfiah yang saya pernah dengar dari seminar Bunda Elly Risman adalah anak kecil yang ada dalam diri kita. “Semua orang punya dan itu normal” ujar Bunda Elly. Tapi jika sampai mendominasi diri, itu akan jadi masalah.

Kalo yang dibawah setelah ini menurut pemahaman saya heheh šŸ˜€

Inner child akan terus dirasakan orang tersebut sampai dirinya bisa menguasai rasa damai untuk merubahnya menjadi lebih baik. Agar rantai itu terputus sampai dirinya saja. Tidak ada orang hidup tidak dengan masa lalu, namun masa lalu seperti apa yang membuatnya menjalani kehidupan mendatang. Kita tidak pernah bisa request sama Allah mau dilahirkan dalam kondisi keluarga dan orang tua seperti apa.

Bagi saya pribadi, satu-satunya cara menghilangkan trauma yang masih tertinggal adalah dengan cara self healing. Terus belajar mengontrol emosi, terus memperbaiki diri dan sadar akan perubahan yang mesti dilakukan. Sulit memang, saya masih sering lepas kontrol ketika menghadapi murid di kelas, kemudian dia suka sekali menguji kesabaran. Marah, dongkol terus ngomong dengan nada yang perlahan meninggi. Pernah, tapi untung tidak terlepas jauh. Karena ada kondisi dimana anak tsb pintar sekali mengambil momen untuk membuat saya dongkol yang akhirnya ketawa juga.

Disitulah inner child sedang me-recall. Itu artinya, bayangan masa kecil ketika tidak sengaja dibentak, tidak sengaja menjadi pelampiasan banyaknya urusan yang dipikirkan orang tua saya dahulu. Tentu hal seperti itu tidak ingin saya turunkan ke anak-anak saya nantinya.

Tidak hanya marah, saya ambil contoh lain supaya bukan saya yang selalu jadi tokohnya šŸ˜‚

Pernah suatu ketika, banyak sekali hal-hal yang menumpuk menjadi beban pikiranmu, dan yang ingin kamu lakukan hanyalah menepi, membiarkan diri jauh dari siapapun. Kamu hanya ingin tenggelam dengan diri sendiri tanpa diganggu. Bahkan sampai kamu tidak peduli, apa yang tengah terjadi dengan orang disekitarmu. Simpulannya, egomu sedang sangat meminta tempat untuk diunggulkan secara tunggal.

Itulah inner child yang sedang terbangun, kala kamu mengingatnya lagi ternyata kamu sedikit-demi-sedikit menemuka benang merah. Saat kecil kamu pernah tidak digubris sama sekali, ocehanmu hanya seperti angin lewat, segala sesuatu yang kamu buat untuk menarik perhatian orang lain hanyalah sebuah kesia-siaan. Maka, saat dewasa “anak kecil” yang ada pada dirimu terbangun kembali.

Seperti itu kiranya, sependek pemahaman saya.


Awalnya, ketika saya belum ngeh-ngeh banget sama apa itu inner child, saya merasa semua yang terjadi di masa lalu, masa kecil dan masa kemarin sudah terlewatkan begitu saja. Saya hanya perlu mengingat yang baik.

Inner child meninggalkan banyak sekali bekas dalam diri manusia, maka ketika saya mulai mengerti dan merumuskan tentang bagaimana bersikap pada anak-anak nantinya, saya ingin memahami tentang hal ini dengan pasangan. Karena berdamai dengan diri sendiri membutuhkan waktu yang sangat lama, apalagi ketika menjalani pola pikir yang berbeda dengan orang yang tidak pernah menjadi satu didikan dengan kita. Menjadi satu dengan orang asing yang sejatinya pasti memiliki peninggalan semasa didikan orang tuanya terdahulu. Dan itu perlu di kompromikan bersama-sama.

 Menjadi orang tua pada abad ini memang menjadi sebuah tantangan. Dengan perkembangan arus informasi yang sangat mudah untuk didapat, sebagai orang tua justru kita harus mampu merumuskan jalan mana yang akan ditempuh untuk menyelamatkan anak-anak dari arus teknologi yang semakin deras atau melibatkan mereka didalamnya secara bijak.

Itu semua tidak lepas dari berdamainya diri dengan masa lalu untuk menjemput masa depan yang jauh lebih baik dan itu semuaaa..

Balik lagi kepada, sampai mana ilmu yang kita miliki untuk memperbaikinya. Saya disini, menuliskan ini sedang pada fase belajar dan terus belajar. Berusaha memperbaiki rantai generasi agar tidak terus terjadi perulangan yang sebaiknya segera diperbaiki bahkan jika harus diputus, maka sebaiknya diputus.


Yang perlu disadari adalah orang tua kita jaman dahulu belum memiliki akses mengenai ilmu parenting, sebanyak yang kita miliki saat ini. Maka, upaya berdamai tetap menjadi cara yang diprioritaskan. Toh sebenernya, kalo dipikir-pikir marahnya orangtua jaman dulu itu wajar sekali. Marah ya cuma marah-marah, apalagi sampe ketemu label “namanya juga anak-anak, dimarahin sekali diem”. Beda dengan sekarang, yang sedikit-sedikit di posting. Maka jadilah viral, lalu menimbulkan perdebatan.

Orangtua jaman dulu, sayang sama anak hanya diupayakan via harapan, do’a dan nasehat-nasehat. Jaman sekarang, sayang sama anak caranya pake mencarikan kegiatan seabrek supaya dia sibuk, ikut les ini itu supaya rangking 1 terus atau memfasilitasinya dengan semua kemudahan yang hanya dilakukan dengan satu click. 

 Ya semua itu sebatas simpulan saya sendiri. Seorang single yang pengetahuannya terbatas sekali dan insyaAllah diwaktu yang tepat dipersatukan dengan cerminan dirinya šŸ˜†#sabar #monggo diaminkan

Akhirnya, simpulan atas semua curhatan saya diatas antara lain ;

  • Memahami dan memilah masalah itu sangat diperlukan (supaya tidak mudah mengaduk-aduk semua masalah menjadi satu)
  • Terus berusaha untuk meregulasi emosi (ketika dongkol-maka diam dan tarik nafas, ketika berdiri-maka duduk, ketika duduk-maka berbaring, berwudhu dst.)
  • Jika diperlukan self healing, maka lebih baik pergi ke terapis. Untuk mendapat hasil yang benar-benar maksimal

Surabaya, 19 Juli 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s