Belajar Merancang “Desain Pembelajaran Diri”

Bismillahirrahmanirrahiim..

Sudah pekan ke 5, pengerjaan NHW#5 saya awali dengan membuka kembali semua materi dari awal, saya pahami ulang, saya telaah kembali dan aha!

Akhirnya menemukan apa maksud dari NHW#5 ini. Jujur sedari materi via Whatsapp disampaikan, saya hanya mampu menangkap 20% saja, sisanya meraba —

Materi pekan ini adalah Learning How to Learn. Belajar bagaimana caranya belajar. Awalnya saya bingung yang akan menjadi user dari learn ini siapa? Saya atau anak?  Setelah faham, jadi simpulannya kira-kira seperti ini  ;

Kita (saya) adalah fasilitator untuk anak-anak bisa mencapai potensi terbaiknya dalam hidup, maka saya harus bisa menjadi fasilitator yang baik dan tepat untuk mensukseskannya sampai pada misi kehidupan yaitu bertumbuh sesuai kehendakNya. Allah telah memberi anak-anak kemampuan belajar sejak lahir, maka orangtua lah yang menjadi fasilitator untuk mendampingnya.

Begitu, jadi saya baru saja paham begitu maksudnya.

Nah, pada materi ini kita sebagai manusia dewasa yang memiliki kemampuan lebih baik dalam menerima, menelaah dan memilah segala sumber informasi alangkah baiknya kita memiliki desain atau strategi untuk belajar.

Sebelum saya susun strategi, saya melihat video Bunda Septi Peni mengenai Matrikulasi Pekan ke 5 dan yang paling saya garis bawahi adalah “Bunda akan membersamai anak-anak yang hidup di jamannya mendatang, jadi jangan sampai anak-anak mundur beberapa langkah dari jamannya. Untuk itu, kita sebagai ibu harus terus mengupdate diri dan kemampuan”

Dari dua kalimat itu, saya sebagai generasi Y yang mulai menikmati menjadi generasi milenial yang melek teknologi hanya perlu melakukan dua hal. Klik new tab dan mengetikkan “Learning How to Learn“. Saya menemukan di urutan teratas adalah artikel pendek milik coursera.org yang disampaikan oleh Barbara Oakley. Saya mencoba mengikuti video pendeknya dan hanya sedikit yang saya tangkap dari sana, yaitu ; “As I gradually learned how to learn math and science, things became easier. Surprisingly, just as with studying language, the better I got, the more I enjoyed what I was doing.” (Barbara Oakley, 2014)

Ternyata, Barbara Oakley adalah seorang lulusan Bahasa yang kemudian mencoba tertarik untuk belajar Matematika dan Sains yang sejak lama telah dihindarinya. Namun dirinya mengatakan tidak ada yang tidak bisa jika mau di pelajari pelan-pelan dengan baik, tidak menunda pekerjaan, bagaimana mengatur penerimaan informasti dlsb. Namun kita harus mengerti bagaimana caranya belajar dengan baik. Serta dalam video itu di sertakan bahwa manusia memiliki dua mode cara bekerja otak yaitu otak yang fokus (focused mode) dan otak yang terdifusi (Diffusion Mode). Ketika saya artikan di KBBI artinya adalah menyebar. Mungkin itu artinya manusia bisa ketika menggunakan mode difusi disitulah letaknya, otak dapat bekerja dari banyak input.

Dan anak-anak dengan semakin canggihnya jaman, kita sebagai orangtua tentu tidak bisa jika membuat strategi belajar yang kaku. Harus terus memiliki ide untuk berinovasi.

Saya mulai menyusun desain belajar berangkat dari video Barbara Oakley tersebut serta lebih banyak saya susun berdasarkan materi yang pernah saya dapat saat FIM yang disampaikan oleh Pak Jamil Azzaini. Ada 4 ON, Vision, Action, Passion and Collaboration.

Berangkat dari sana, saya mencoba mencari desain pembelajaran seperti apa yang tepat. Saya sekilas menyusun seperti model RPP dan Silabus di sekolah, namun tidak berhasil membuat saya mampu menyusunnya dengan detail mengingat bentuk seperti itu akan lebih banyak menuntut tatanan belajar yang kaku. Dari akumulasi dan koreksi NHW 1 – 5 saya menghasilkan 5w + 1h dengan kondisi berikut ;

  1. Who?  Siapa saya? Saya adalah calon ibu yang akan terus belajar
  2. What? Apa yang saya lakukan? merenung – berbagi hikmah dan ilmu (melalui tulisan dan desain) – praktek (kepada suami ; ilmu pernikahan & kepada anak ; ilmu parenting)
  3. When? Kapan saya memulainya? Saya memulai sejak saya tertarik untuk membangun sebaik-baiknya keluarga dimulai dari diri sendiri sampai di akhir umur.
  4. Where? Kapan saya memulainya? Saya harus memulai dari dalam rumah dan keluarga sendiri. Jika Allah menghendaki, saya ingin membangun Sabr Foundation yang itu artinya akan berbagi kepada masyarakat luas terkait apapun yang saya miliki dan yang bisa saya manfaatkan untuk yang lain.
  5. Why? Mengapa saya ditakdirkan Allah disini? (Tujuan hidup)  Saya ditempatkan Allah SWT untuk membangun keluarga menuju apa yang Allah kehendaki.
  6. How? Bagaimana saya melakukannya? Saya melakukannya dengan belajar, bertanya, berguru, berdiskusi, membaca dan menulis.

Akhirnya saya membuat Mind Mapping seperti gambar di bawah. Sepertinya belum final. Saat NHW#5 ini saya kumpulkan, saya masih sembari terus mencari seperti apa harusnya desain pembelajaran ini disusun dan saya masih terus mempelajari model-model desain pembelajaran yang tepat seperti apa.

Semoga selalu istiqomah menjalaninya dan semakin semangat memperbarui diri.

Mohon do’anya untuk saling mendo’akan dalam kebaikan 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s