Ramadhan #17-18 : Budidaya Jamur (Berkah Men-Jamur)

Beberapa hari yang lalu saya diingatkan F*cebook tentang memori saat Pengabdian Masyarakat tahun 2013 silam.

Di sebuah desa di lereng gunung Kawi, Desa Donomulyo Kab. Malang. Selama satu bulan saya di tempatkan disana, sebuah desa yang mayoritas penduduknya adalah Non Muslim.

Ada sebuah rumah milik warga yang dari pihak kampus dipercaya sebagai Koordinator Pengabdian Masyarakat. Disanalah saya beserta 9 orang teman tinggal. Di rumah Pak Wachid. Beliau adalah pengusaha jamur lulusan Teknik Mesin. Lulusan S1 jadi bisnis jamur? Nyambungnya dari mana?

Begitulah biasanya ibu ngguyoni bapak😅

Bapak Ibu (disana) bagi saya seperti orangtua ideologis. Mengajarkan banyak sekali cara memandang hidup dengan kesederhanaan dan perjuangan.

Beliau berdua adalah pendatang yang semasa dahulu nenek moyangnya memiliki tanah untuk ditinggali disana. Awalnya hanya berfikir, dengan lahan seperti ini apa yang bisa dihasilkan disini? Sedangkan untuk menempuh Kabupaten Malang jauhnya bisa dua jam perjalanan dengan medan jurang dan kelok berliku. Ternyata perjuangannya tidak pernah mudah, ketika usaha yang beliau jalankan pelan-pelan semakin membuahkan hasil.

Kemudian bapak mempelajari teknik membuat bibit jamur sampai membuat tempat olahnya sendiri, bermodalkan ilmu kuliahnya dulu, katanya.

Bapak dan Ibu memulai semua usaha milik mereka dari 0. Dari yang hanya memiliki lumbung 2x3m, hanya memiliki satu tabung pembuat bibit, dari yang sering sekali jamurnya tiba-tiba kering di pagi hari, padahal malamnya sudah terlihat esok siap panen. Lalu setelah di selidiki, tanah dan kelembapannya seperti ada yang menyabotase dengan garam. Entah bagaimana caranya, saya kurang paham ketika dijelaskan bapak waktu itu.

Kini jamur-jamur beliau sungguh telah menjamur, memiliki banyak petani jamur yang tersebar. Olahan jamur yang ibu kuasai pun semakin banyak, tidak hanya tumis jamur, sate jamur. Bahkan kue kering, es krim, risoles, semua ibu olah berbahan dasar jamur.

Satu kali, ibu pernah bilang “kuncinya, kalau sedang punya, jangan perhitungan untuk memberi, yang loman, yang legowoan”.

Dan sampai saat ini hubungan saya dan beliau masih sangat baik. Selama satu bulan disana, sayapun diajari bagaimana mengolah bibit, bagaimana menumbuhkannya, bagaimana menyiapkan agar bisa dijual, bagaimana agar bisa bertahan untuk panen berkali-kali dan banyak sekali.

Saat ini bapak sering mengisi workshop Budidaya Jamur dimana-mana. Upaya pemberdayaan terhadap petaninya pun mengantarkan bapak mendapat beberapa penghargaan. Dan ibu, semakin meluaskan jaringan olahan Jamurnya 😊

Semoga berkahnya semakin menjamur!

Dibawah ini foto ibu dan bapak ;

17-18 Ramadhan 1438H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s