Ramadhan #15-16 : Yang Tampak

Entah mengapa saya membiarkan hari kemarin bergelincir tanpa menyisakan satupun bahan tulisan.

Jadi, jauh sebelum tiba hari puasa. Saya berucap pada diri sendiri bahwa nanti saat Ramadhan saya ingin menikmati suasana tarawih di Masjid Agung Al Akbar Surabaya, yang kapasitasnya hingga 60 ribu jamaah *menurut wikipedia.

Dan taraaa, semalam saya membuktikan sendiri berada diantara lautan manusia, berlomba-lomba merebut hati Allah. Lalu kalau begitu bagaimana dengan Makkah, umat Islam dari seluruh penjuru berada disana. Allahu Akbar, semoga Allah memampukan kita hadir mendatanginya..

Pun karena saya nekat ke Masjid Agung seorang diri, saya jadi mengamati banyak hal. Salah satunya adalah nyatanya pada jaman ini, segala sesuatu telah menjadi semakin bias. Sulit dibedakan dengan mata telanjang. Apa yang nampak secara kasat mata sulit untuk kita bedakan apakah itu baik atau belum baik.

Mungkin ini adalah bagian dari “jaman yang telah tua”. Manusia semakin mudah di poles menjadi cantik, menjadi ganteng, menjadi alim, dlsb. Saya tidak mengatakan bahwa saya lebih baik dari itu semua.

Namun hanya karena yang nampak itu tadilah, kita menjadi mudah terpengaruh terhadap sesuatu yang belum kita miliki ilmunya. Karena alasan kita mengikuti, hanya sebatas pada “supaya terlihat…” dimata orang lain.

Jaman ini telah menjadi jaman visual. Saya pernah melihat beberapa remaja putri mengenakan jilbab namun mereka “pecicilan” dengan polah tingkah yang seolah-olah jilbab bagi mereka hanyalah sebatas fashion. Saya pernah membahas ini dengan seorang teman lalu menamainya dengan tertutup yang terbuka. Sedih. Jujur saya sedih melihat keadaan seperti ini.

Manusia diluar yang tidak benar-benar mengerti jadi mudah mengatakan, semua yang berjilbab itu sekarang sama saja. Akhlaknya sama saja. Mau kerudungnya panjang atau pendek. Toh dimana-mana orang jual kerudung juga semakin menjamur. Sebagai orang yang pernah mrmperjuangkan jilbab di jaman remaja, pernyataan semacam itu selalu menyisakan sesak di hati. 

Semasa SMP untuk foto ijazah, kebijakan sekolah tidak memperbolehkan kami siswi berjilbab mengenakan jilbabnya. Sedangkan fotografer saat itu mayoritas masih laki-laki. Saya dan beberapa teman, protes habis-habisan ke dewan guru dan kepala sekolah. Namun hasilnya nihil. Pada akhirnya kami harus mengalah. 

Padahal akhlak dan jilbab tidak pernah berjalan beriringan. Namun bukan berarti yang belum merasa baik akhlaknya tidak wajib mengenakan jilbab. Padahal jelas sudah betul-betul ditulis didalam Al Qur’an sebagai kewajiban. Tidak lantas menunggu akhlak baik dulu baru berjilbab. Bagi saya pribadi justru, jilbab menjadi pemicu hati kita untuk semakin terbuka menerima hidayah tentang akhlak. Meskipun mungkin, yang betul adalah akhlak dan akidah semestinya menjadi pondasi utama untuk setiap anak manusia. Begitulah ilmu selalu menjadi modal utama sebuah amal.

Tulisan ini hanya sebagai pengingat diri. Jila ada yang mampu dipetik kebaikannya, semoga manfaatlah yang mampu dirasa.

Memang tidak ada yang mampu menilai dengan tepat kecuali Allah. Semoga kita dihindarkan dari penilaian manusia yang terbatas, kita dihindarkan dari prasangka manusia yang lemah. Dikuatkan untuk terus mencari ilmu yang haq untuk melihat yang bathil. Amin

15 dan 16 Ramadhan 1438H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s