Membangun Peradaban

Bismillahirrahmanirrahiim

Alvin_NHW#3

Tulisan ini sebagai pemenuhan NHW#3 Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Tarik nafas dulu….

Materi pekan ini berjudul  Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Bagaimana ketika bertemu calon pasangan akan membangun pernikahan? Apa yang akan dibentuk di dalam pernikahan tersebut? Karena keluarga adalah pondasi peradaban, maka apa yang akan diperbuat oleh kedua pasangan? Dst

Tugas dari NHW#3 pekan ini adalah membuat surat cinta untuk pasangan yang berisikan tentang potensi diri. Bagaimana perempuan akan menjadi istri yang menemukan “alasan kuat” mengapa menerima laki-laki tersebut untuk menjadi pendampingnya (kelak), menjadi ayah dari anak-anak yang akan lahir dari rahim peradaban miliknya.

Membuat surat ini ternyata bukan hal yang mudah, saya harus memutar otak sembari membayangkan sosok “ini” nantinya ketika membersamai saya.

Namun sebelum membuat surat ini, kami para peserta diminta untuk menengok kembali masa lalu. Masa dimana pertumbuhan sedari kecil yang pada akhirnya membentuk menjadi sosok seperti sekarang ini. Adakah luka pengasuhan semasa kecil yang akan menjadi kerikil dalam perjalanan kedepan. Sudahkah berdamai dengannya dan kembali mengondisikan diri untuk memperbaiki apa yang telah menjadi luka. Serta melihat potensi diri, potensi apa yang bisa terus digali untuk membersamai pasangan kelak.

Dengan berat hati, surat cinta tidak bisa saya sertakan disini. Surat ini bersifat privasi.

Kelak ketika sosoknya telah membersamai saya setiap harinya, surat cinta yang saya susun tersebut pasti akan terasa lebih hidup dan lebih riil. Karena reaksinya akan saya dapatkan langsung ketika menghadapinya dalam keseharian dan semoga dengan surat cinta ini nantinya akan menumbuhkan kembali kasih sayang diantara kami. Mengapa kami bisa disatukan tidak lain karena yang Maha Menggerakkan Hati telah menjaga hati kami dan menautkannya.

Apapun yang ada di hadapan kami (saya dan pasangan nantinya) semoga rasa syukurlah yang senantiasa kami ingatkan satu sama lain. Saya ingat betul, nasehat ibu bahwa “Menerima jodoh adalah sesederhana mensyukuri segala sesuatu yang dia miliki. Karena manusia tidak ada yang sempurna” Sesederhana itu, namun ibu menambahkan lagi “Tetapi prakteknya sulit sekali nduk, maka luaskan hati untuk banyak menerima dan merasa ikhlas”.

Heuuuu, baru nulis segini saya sudah mbrebes mili.

Setiap keluarga pasti memiliki pola asuh yang berbeda. Serta tidak semua keluarga dihadirkan dengan kebersamaan yang indah. Ada beberapa yang memiliki ujian dalam perjalanannya, entah luka entah diabaikan entah bagian mana dari pembentukan peradaban dari dalam keluarga tersebut rapuh.

Saat menulis dan beberapa hari kebelakang saya merenungi perihal ini, saya kembali jatuh dalam luka lama pengasuhan orang tua yang ketika saya sadari, membuat saya memiliki beberapa sifat yang sebaiknya dirubah. Apalagi jangan sampai terbawa ketika mengasuh anak-anak saya nantinya. Tentu dengan ini, saya kembali meresapi bahwa orang tua tidak pernah berniat buruk kepada anak-anaknya. Namun kekeliruan  dalam penyampaian ini yang perlu diperbaiki untuk tujuan yang lebih baik nantinya.

Materi pekan ini berhasil membuat saya kecewa, sedih, terluka namun bahagia dalam satu waktu. Bisakah saya hadir disini jika tanpa hadirnya orang tua? Merasakan segala kebermanfaatan ini? Tidak. Maka disitulah letak kedamaian yang semestinya terus saya tumbuhkan, apa yang telah lalu biarkan putus sampai disini, mengilhami yang baik dan kembali meneruskan dengan yang lebih baik lagi.

Selanjutnya adalah merenungi, apa tujuan Allah menghadirkan saya di keluarga saya nantinya. Potensi diri apa yang mampu saya hadirkan untuk membentuk peradaban tersebut?

Sejauh saya mengenali diri, saya adalah tipe perencana. Membuat mapping segala sesuatu yang akan dijalankan dengan detil dan breakdown terlebih dahulu. Membuatnya menjadi daftar progress yang dapat dipantau pelaksanaannya. Serta suka melakukan hal-hal yang tersusun dan teroganisir dengan baik. Semoga sifat ini berguna untuk mendukung perjalanan rumah tangga saya nantinya. Saya pun orang yang senang mengemukakan suatu hal dengan cara berdiskusi personal atau menggunakan media serta saya adalah orang yang cenderung teoritis, mengambil hikmah dari mengamati, membaca, menuliskan atau mendengarkan. Bukan dengan bertemu banyak orang, berdiskusi dalam forum tatap muka. Allah pasti punya maksud menghadirkan saya di dalam keluarga tersebut nantinya.

Berhusnudzhan pada semua kehendak Allah memang cara terbaik untuk memaknai hidup. Semoga dimudahkan untuk terus husnudzhan dan memperbaiki diri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s