1 Syawal 1438H : Perihal Mubadzir

Taqaballahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.

Untuk semua pembaca yang mungkin sempat mampir ke blog ini atau ke postingan manapun, ke Social Media manapun akun milik saya. Mohon maaf jika ada salah kata, pengucapan maupun tulisan yang mungkin menyinggung atau kurang sempurna. Blog ini tetap menjadi blog personal atau blog pribadi, yang isinya berkaitan dengan kehidupan saya sehari-hari.

Alhamdulillah masih merasakan Idul Fitri di rumah dan keluarga pun lengkap 🙂 Postingan saya selama Ramadhan pada akhirnya berhenti di hari ke 26. Esoknya, ketika malam 28 saya mudik ke rumah orang tua XD (belum mertua).

Ketika mengingat Ramadhan terasa seperti kilas balik untuk menemukan titik lemah diri. Ramadhan menjadi momentum untuk mengenali diri sejauh mana ikhtiar pendekatan kepada Allah bisa dilaksanakan. Pun sejauh mana diri bisa sampai lalai dan kendor memperjuangkannya. Sedangkan bulan penuh Rahmat ini sudah semestinya diperjuangkan.

Ada beberapa hal yang menjadi renungan sewaktu pulang dan memang terus berulang (hanya) ketika di rumah. Satu topik yang ingin saya bahas melalui postingan ini adalah perihal mubadzir. Topik lain akan saya tulis di lain postingan.

Banyak sekali tradisi lebaran dari tahun ke tahun berubah dinamis sesuai masanya. Termasuk yang satu ini ; penyediaan minuman!

Dulu sewaktu kecil, di rumah nenek saya, di beberapa tempat yang kami kunjungi untuk salim-salim termasuk di rumah saya sendiri, seingat saya sewaktu kecil dulu, minuman yang disediakan untuk tamu disiapkan dengan teko lengkap dengan gelasnya. Seiring waktu semua menjadi serba instan, jadilah sekarang orang-orang lebih memilih yang praktis yaitu dengan minuman kemasan.

Btw ibu saya juga menyediakannya minuman gelas sih, cuma karena rumah kami terbilang “omahe wong enom” (rumahnya orang muda) jadilah hampir bisa dihitung orang yang bersilaturrahim ke rumah kami, tidak banyak. Paling mentok cuma 5 KK. Kebiasaan kami disini, yang muda akan selalu mengunjungi rumah orang-orang yang di tuakan. Berhubung bapak dan ibu saya adalah anak terakhir, kami sekeluarga yang berkeliling. Jadi sejauh ini dirumah belum banyak terjadi tragedi kemubadziran yang terlalu.

Di beberapa tempat saya mendapati minuman gelas yang ditinggal pemiliknya dalam kondisi yang belum habis. Itu artinya apa? Ya mubadzir.

Di surah Al Israa’ ayat 27 yang artinya ;

27. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

Jadi gimana, yang suka buang-buang dan memboroskan sesuatu itu temennya syaitan! Ini sebetulnya secara pribadi pun #ngeplak diri saya sendiri. Jadi mau koreksi diri dan lebih hati-hati lagi.

Dan setelah saya cari lebih jauh, pemborosan alias mubadzir ini bukan hanya perihal makanan. Tapi juga banyak sekali, seperti waktu luang dan harta. Dari salah satu sumber yang insyaAllah saya yakini, disini termasuk perbuatan boros (tabdzir) adalah apabila seseorang menghabiskan harta pada jalan yang keliru. Semisal seseorang berjam-jam duduk di depan internet, lalu membuka Facebook, blog, email dan lainnya, lantas dia tidak memanfaatkannya untuk hal yang bermanfaat, namun untuk hal-hal yang mengandung maksiat. Na’udzu billahi min dzalik.

Semoga dengan ini, kita bisa meningkatkan perhatian untuk memperbaiki kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik dan semoga kita dihindarkan dari hal-hal yang melemahkan.

Ngawi, 27 Juni 2017

Ramadhan #23 – 24 : Ka Syah

Dak nemu foto berdua 😅 heheh

Syahiidah Muthmainnah, namanya.
Semoga Allah menjadikannya pejuang yang senantiasa mengagungkan agama Allah..

Kemarin sore tiba-tiba tumpah. Entah setelah perasaan apa yang bergolak seharian. Honestly, saya rindu dengannya.

Ka Syah, gitu sih saya manggilnya. Kami belum lama kenal, sekitar 2 tahun. Karena pertemuan kami di Forum Indonesia Muda (FIM) angkatan 17.

Semenjak kali pertama pengumuman lolos FIM, hampir semua peserta saya kepoin via Social Media mereka. Jaman sekarang nggak susah kan buat cari identitas orang? Cukup ketik nama lengkapnya di Google, jreng apa yang ditunjukin Google ya itu hasil keponya. Cuma insyaAllah semua hasil kepoan saya berbuah manis alias saya nemu banyak hal keren. Tentang sebagian besar anak FIM. Nggak terlewatkan dengan Ka Syah (mungkin saya satu-satunya peserta yang kepo 😆). Dari situlah saya punya bayangan tipikal orang seperti apa menurut pengetahuan pendek saya tentang ka Syah. Dia orangnya supel banget! Dan keren! Dan suka masak! Calon ibu shalihah cerdas pokoknya!
Dan emang semua anak FIM keren-keren sih, cuma saya aja yang butiran marimas 😢.

Semua lingkaran pertemanan yang saya temui di FIM adalah lingkaran kebaikan. Saya biasa sebut mereka sebagai nafas kebaikan. Di lingkaran ini pula saya betul-betul melihat “padi berisi semakin merunduk” itu literally merunduk gitu. Mereka semua tetep ngerasa layaknya butiran royco, butiran remah rengginang dlsb. Tapi kerja nyata untuk bertumbuh itu selalu ada.
Oiya back to Ka Syah, jaringan pertemanannya luaaaas sekali. Orangnya asik pisan pokoknya! Dan bikin ka Syah ketawa itu ga susah 😂

Hujan gerimis sore itu nggak bikin ka Syah berhenti cerita tentang banyak hal di UNJ. Kami jalan-jalan sedari pagi dan ka Syah cerita apaaa aja tentang gimana kehidupan jaman (masih) muda. Jaman kuliah maksudnya. Wkwk

Sebenernya kedekatan kami tidak bermula dari situ, dari entah kapan dan dimana. Saya pun lupa detilnya. Yang pasti, ka Syah sempat protes kenapa saya panggil dia kakak 😂

Semakin kemari, semakin banyak hal yang dirasa klik antara kami. Kayak ada radarnya dan saya mulai ngerti, begitulah jika Allah menghendaki kita sesama muslim membangun ukhuwah yang baik lagi bermanfaat. Dari beliau saya belajar banyak hal. Bukan cuma ingetin saya tentang kebaikan tapi juga tegur saya lewat teguran-teguran menggelitiknya. Teguran halus tentang maunya Allah, tentang tawakkalnya suatu hal, tentang kecewanya sama suatu ikhtiar yang kurang sejalan dengan maunya Allah dan berakhir dengan introspeksi diri. Hal-hal (kecil yang) besar saya dapat dari Ka Syah. Saya rasa, kita nggak pernah gamblang menilai kekurangan, tapi dengan cara selalu support untuk saling bertumbuh satu sama lain dan terus manfaat apapun itu.

Tapi emang cuma hati sih yang bisa ngerasa, sedalem apa.

Pesen yang mau saya sampein lewat postingan ini sebenernya hadist Rasulullah dibawah ini 😂

Dalam sebuah hadits Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman dalam sabda beliau :

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Sumber: https://muslim.or.id/8879-pengaruh-teman-bergaul.html 

Jadi, perhatikan teman bergaulmu. Karena insyaAllah baik itu akan selalu menularkan yang baik 😊 dan menurut saya, salah satu rejeki Allah pun berupa adanya teman-teman baik di sekitar kita.

23 & 24 Ramadhan 1438H

Ramadhan #21-22 : Jawaban Do’a adalah Iya

A : Saya

B : Seseorang di balik cermin

A : Kenapa rasanya menunggu yang “sangat aku minta saat ini” terasa lama sekali…

A : Aku capek. Tapi masih kuat untuk menangis. Pada akhirnya tangisku tumpah lagi.

A : Ya, untuk yang kesekian kalinya. Memeluk diriku sendiri, menangisi sesuatu yang memang dirancang Allah seperti itu.

B : Jawaban do’a adalah iya. Jika bukan iya sekarang, berarti nanti. Atau iya dalam bentuk yang lain.

Ujar Alvin kepada Alvin.

Tidakkah kamu sadar, pagi hari kamu masih merasa badanmu berfungsi seperti biasanya. Ketika pertama kali mata terbuka yang kamu cari adalah handphone. Oke, untuk melihat jam. Tetapi 2 detik kemudian beralih eh sekalian-ada-notif tuh!

Maka siapa lagi jika bukan Allah yang mengizinkanmu terbangun hari ini. Kamu masih bisa melakukan banyak hal. Yang mungkin hanya sepersekian dari kegiatanmu itu yang kamu peruntukkan kepada Allah. Sisanya, menyenangkan hatimu sendiri.

Kamu diminta bersabar sedikit lagi, tapi kamu tetap saja menangisi sesuatu yang kamu minta saat itu. Sesuatu yang dengan pengetahuan pendekmu, mungkin kurang baik bagimu. 

Kamu diminta berdo’a sedikit lagi, tapi kamu tetap saja merasa bahwa do’amu telah terlalu panjang dan lama. Padahal, jika Allah tidak menghendakimu menjadi seperti saat ini, bisa jadi kamu tidak pernah beranjak membaik. Allah membuatmu seperti ini menjadikanmu lebih bijak.

Kamu diminta menunggu sedikit lagi, tapi kamu tetap saja merasa penantianmu adalah hal menyakitkan sepanjang masa hidupmu. Padahal Allah tidak pernah lupa memberimu bahagia. Allah tidak meninggalkanmu dalam keadaan tidak punya apa-apa untuk dimakan. Allah tidak meninggalkanmu dalam keadaan kekurangan pakaian hingga merendahkanmu dalam penampilan. Allah memberimu berlebih atas semua itu!

Tidakkah kamu sadar. Lalu mengapa masih menangisi sesuatu yang kamu pinta itu dan bagimu tak kunjung datang. Seolah-olah adalah itu hal terpenting dalam hidupmu.

Allah hanya memintamu bersabar sedikit lagi. Tunggulah, sesuatu yang memang pantas untuk ditunggu. Menunggu tidak pernah sia-sia jika kamu mengerti harus dengan apa caranya.

Kamu hanya diminta menunggu sebentar lagi dengan sabar, dengan syukur dan dengan hati yang yakin bahwa takdirnya selalu baik.

Alvin kepada Alvin. 21 & 22 Ramadhan 1438H

Belajar Merancang “Desain Pembelajaran Diri”

Bismillahirrahmanirrahiim..

Sudah pekan ke 5, pengerjaan NHW#5 saya awali dengan membuka kembali semua materi dari awal, saya pahami ulang, saya telaah kembali dan aha!

Akhirnya menemukan apa maksud dari NHW#5 ini. Jujur sedari materi via Whatsapp disampaikan, saya hanya mampu menangkap 20% saja, sisanya meraba —

Materi pekan ini adalah Learning How to Learn. Belajar bagaimana caranya belajar. Awalnya saya bingung yang akan menjadi user dari learn ini siapa? Saya atau anak?  Setelah faham, jadi simpulannya kira-kira seperti ini  ;

Kita (saya) adalah fasilitator untuk anak-anak bisa mencapai potensi terbaiknya dalam hidup, maka saya harus bisa menjadi fasilitator yang baik dan tepat untuk mensukseskannya sampai pada misi kehidupan yaitu bertumbuh sesuai kehendakNya. Allah telah memberi anak-anak kemampuan belajar sejak lahir, maka orangtua lah yang menjadi fasilitator untuk mendampingnya.

Begitu, jadi saya baru saja paham begitu maksudnya.

Nah, pada materi ini kita sebagai manusia dewasa yang memiliki kemampuan lebih baik dalam menerima, menelaah dan memilah segala sumber informasi alangkah baiknya kita memiliki desain atau strategi untuk belajar.

Sebelum saya susun strategi, saya melihat video Bunda Septi Peni mengenai Matrikulasi Pekan ke 5 dan yang paling saya garis bawahi adalah “Bunda akan membersamai anak-anak yang hidup di jamannya mendatang, jadi jangan sampai anak-anak mundur beberapa langkah dari jamannya. Untuk itu, kita sebagai ibu harus terus mengupdate diri dan kemampuan”

Dari dua kalimat itu, saya sebagai generasi Y yang mulai menikmati menjadi generasi milenial yang melek teknologi hanya perlu melakukan dua hal. Klik new tab dan mengetikkan “Learning How to Learn“. Saya menemukan di urutan teratas adalah artikel pendek milik coursera.org yang disampaikan oleh Barbara Oakley. Saya mencoba mengikuti video pendeknya dan hanya sedikit yang saya tangkap dari sana, yaitu ; “As I gradually learned how to learn math and science, things became easier. Surprisingly, just as with studying language, the better I got, the more I enjoyed what I was doing.” (Barbara Oakley, 2014)

Ternyata, Barbara Oakley adalah seorang lulusan Bahasa yang kemudian mencoba tertarik untuk belajar Matematika dan Sains yang sejak lama telah dihindarinya. Namun dirinya mengatakan tidak ada yang tidak bisa jika mau di pelajari pelan-pelan dengan baik, tidak menunda pekerjaan, bagaimana mengatur penerimaan informasti dlsb. Namun kita harus mengerti bagaimana caranya belajar dengan baik. Serta dalam video itu di sertakan bahwa manusia memiliki dua mode cara bekerja otak yaitu otak yang fokus (focused mode) dan otak yang terdifusi (Diffusion Mode). Ketika saya artikan di KBBI artinya adalah menyebar. Mungkin itu artinya manusia bisa ketika menggunakan mode difusi disitulah letaknya, otak dapat bekerja dari banyak input.

Dan anak-anak dengan semakin canggihnya jaman, kita sebagai orangtua tentu tidak bisa jika membuat strategi belajar yang kaku. Harus terus memiliki ide untuk berinovasi.

Saya mulai menyusun desain belajar berangkat dari video Barbara Oakley tersebut serta lebih banyak saya susun berdasarkan materi yang pernah saya dapat saat FIM yang disampaikan oleh Pak Jamil Azzaini. Ada 4 ON, Vision, Action, Passion and Collaboration.

Berangkat dari sana, saya mencoba mencari desain pembelajaran seperti apa yang tepat. Saya sekilas menyusun seperti model RPP dan Silabus di sekolah, namun tidak berhasil membuat saya mampu menyusunnya dengan detail mengingat bentuk seperti itu akan lebih banyak menuntut tatanan belajar yang kaku. Dari akumulasi dan koreksi NHW 1 – 5 saya menghasilkan 5w + 1h dengan kondisi berikut ;

  1. Who?  Siapa saya? Saya adalah calon ibu yang akan terus belajar
  2. What? Apa yang saya lakukan? merenung – berbagi hikmah dan ilmu (melalui tulisan dan desain) – praktek (kepada suami ; ilmu pernikahan & kepada anak ; ilmu parenting)
  3. When? Kapan saya memulainya? Saya memulai sejak saya tertarik untuk membangun sebaik-baiknya keluarga dimulai dari diri sendiri sampai di akhir umur.
  4. Where? Kapan saya memulainya? Saya harus memulai dari dalam rumah dan keluarga sendiri. Jika Allah menghendaki, saya ingin membangun Sabr Foundation yang itu artinya akan berbagi kepada masyarakat luas terkait apapun yang saya miliki dan yang bisa saya manfaatkan untuk yang lain.
  5. Why? Mengapa saya ditakdirkan Allah disini? (Tujuan hidup)  Saya ditempatkan Allah SWT untuk membangun keluarga menuju apa yang Allah kehendaki.
  6. How? Bagaimana saya melakukannya? Saya melakukannya dengan belajar, bertanya, berguru, berdiskusi, membaca dan menulis.

Akhirnya saya membuat Mind Mapping seperti gambar di bawah. Sepertinya belum final. Saat NHW#5 ini saya kumpulkan, saya masih sembari terus mencari seperti apa harusnya desain pembelajaran ini disusun dan saya masih terus mempelajari model-model desain pembelajaran yang tepat seperti apa.

Semoga selalu istiqomah menjalaninya dan semakin semangat memperbarui diri.

Mohon do’anya untuk saling mendo’akan dalam kebaikan 🙂

Ramadhan #19-20 : Memorial


Berdasarkan hasil evaluasi diri, saya kemarin melihat tulisan-tulisan lama di Instagram dan Tumblr. Beruntunglah Facebook memiliki fitur mengingat postingan terdahulu.

Ternyata saya pernah menulis a, b, c dan masih banyak tulisan lainnya dengan sudut pandang berbagai hal. Saya jadi berfikir bagaimana ketika saya menulis terlalu banyak tapi ternyata minim perbuatan yang saya amalkan dari hasil tulisan saya tersebut. Meskipun hampir kebanyakan tulisan saya adalah hasil dari pengalaman, kemudian dituliskan ulang dengan tujuan agar dapat di refleksi kembali suatu hari.

Terus-terus saya jadi membatasi tulisan, saya ingin menulis tapi urung, ingin menulis lagi tapi diurungkan lagi XD ya gitu ajaa terus wkwk. Mikirnya gimana kalo tulisan makin banyak jadi makin sulit direnungi lagi..

Karena menulis sampai saat ini masih selalu menjadi obat bagi hati, menyadarkan kembali ternyata saya pernah bijak, setidaknya saya pernah berusaha mendewasa. Masih terus belajar dan mengupayakan diri untuk lebih baik dari diri saya yang dulu.

Untuk itu, saya takut jikalau tulisan-tulisan saya nantinya tidak mampu saya pertanggung jawabkan. Saya menulis terlalu banyak, tetapi tidak bertindak. Sebab perbuatan selalu menjadi lebih nyata dan berdampak.

Semoga senantiasa mengingat tujuan akhir, menujuNya. Melalui sarana apapun, termasuk menulis.

20 Ramadhan 1438H

 

Ramadhan #17-18 : Budidaya Jamur (Berkah Men-Jamur)

Beberapa hari yang lalu saya diingatkan F*cebook tentang memori saat Pengabdian Masyarakat tahun 2013 silam.

Di sebuah desa di lereng gunung Kawi, Desa Donomulyo Kab. Malang. Selama satu bulan saya di tempatkan disana, sebuah desa yang mayoritas penduduknya adalah Non Muslim.

Ada sebuah rumah milik warga yang dari pihak kampus dipercaya sebagai Koordinator Pengabdian Masyarakat. Disanalah saya beserta 9 orang teman tinggal. Di rumah Pak Wachid. Beliau adalah pengusaha jamur lulusan Teknik Mesin. Lulusan S1 jadi bisnis jamur? Nyambungnya dari mana?

Begitulah biasanya ibu ngguyoni bapak😅

Bapak Ibu (disana) bagi saya seperti orangtua ideologis. Mengajarkan banyak sekali cara memandang hidup dengan kesederhanaan dan perjuangan.

Beliau berdua adalah pendatang yang semasa dahulu nenek moyangnya memiliki tanah untuk ditinggali disana. Awalnya hanya berfikir, dengan lahan seperti ini apa yang bisa dihasilkan disini? Sedangkan untuk menempuh Kabupaten Malang jauhnya bisa dua jam perjalanan dengan medan jurang dan kelok berliku. Ternyata perjuangannya tidak pernah mudah, ketika usaha yang beliau jalankan pelan-pelan semakin membuahkan hasil.

Kemudian bapak mempelajari teknik membuat bibit jamur sampai membuat tempat olahnya sendiri, bermodalkan ilmu kuliahnya dulu, katanya.

Bapak dan Ibu memulai semua usaha milik mereka dari 0. Dari yang hanya memiliki lumbung 2x3m, hanya memiliki satu tabung pembuat bibit, dari yang sering sekali jamurnya tiba-tiba kering di pagi hari, padahal malamnya sudah terlihat esok siap panen. Lalu setelah di selidiki, tanah dan kelembapannya seperti ada yang menyabotase dengan garam. Entah bagaimana caranya, saya kurang paham ketika dijelaskan bapak waktu itu.

Kini jamur-jamur beliau sungguh telah menjamur, memiliki banyak petani jamur yang tersebar. Olahan jamur yang ibu kuasai pun semakin banyak, tidak hanya tumis jamur, sate jamur. Bahkan kue kering, es krim, risoles, semua ibu olah berbahan dasar jamur.

Satu kali, ibu pernah bilang “kuncinya, kalau sedang punya, jangan perhitungan untuk memberi, yang loman, yang legowoan”.

Dan sampai saat ini hubungan saya dan beliau masih sangat baik. Selama satu bulan disana, sayapun diajari bagaimana mengolah bibit, bagaimana menumbuhkannya, bagaimana menyiapkan agar bisa dijual, bagaimana agar bisa bertahan untuk panen berkali-kali dan banyak sekali.

Saat ini bapak sering mengisi workshop Budidaya Jamur dimana-mana. Upaya pemberdayaan terhadap petaninya pun mengantarkan bapak mendapat beberapa penghargaan. Dan ibu, semakin meluaskan jaringan olahan Jamurnya 😊

Semoga berkahnya semakin menjamur!

Dibawah ini foto ibu dan bapak ;

17-18 Ramadhan 1438H

Ramadhan #15-16 : Yang Tampak

Entah mengapa saya membiarkan hari kemarin bergelincir tanpa menyisakan satupun bahan tulisan.

Jadi, jauh sebelum tiba hari puasa. Saya berucap pada diri sendiri bahwa nanti saat Ramadhan saya ingin menikmati suasana tarawih di Masjid Agung Al Akbar Surabaya, yang kapasitasnya hingga 60 ribu jamaah *menurut wikipedia.

Dan taraaa, semalam saya membuktikan sendiri berada diantara lautan manusia, berlomba-lomba merebut hati Allah. Lalu kalau begitu bagaimana dengan Makkah, umat Islam dari seluruh penjuru berada disana. Allahu Akbar, semoga Allah memampukan kita hadir mendatanginya..

Pun karena saya nekat ke Masjid Agung seorang diri, saya jadi mengamati banyak hal. Salah satunya adalah nyatanya pada jaman ini, segala sesuatu telah menjadi semakin bias. Sulit dibedakan dengan mata telanjang. Apa yang nampak secara kasat mata sulit untuk kita bedakan apakah itu baik atau belum baik.

Mungkin ini adalah bagian dari “jaman yang telah tua”. Manusia semakin mudah di poles menjadi cantik, menjadi ganteng, menjadi alim, dlsb. Saya tidak mengatakan bahwa saya lebih baik dari itu semua.

Namun hanya karena yang nampak itu tadilah, kita menjadi mudah terpengaruh terhadap sesuatu yang belum kita miliki ilmunya. Karena alasan kita mengikuti, hanya sebatas pada “supaya terlihat…” dimata orang lain.

Jaman ini telah menjadi jaman visual. Saya pernah melihat beberapa remaja putri mengenakan jilbab namun mereka “pecicilan” dengan polah tingkah yang seolah-olah jilbab bagi mereka hanyalah sebatas fashion. Saya pernah membahas ini dengan seorang teman lalu menamainya dengan tertutup yang terbuka. Sedih. Jujur saya sedih melihat keadaan seperti ini.

Manusia diluar yang tidak benar-benar mengerti jadi mudah mengatakan, semua yang berjilbab itu sekarang sama saja. Akhlaknya sama saja. Mau kerudungnya panjang atau pendek. Toh dimana-mana orang jual kerudung juga semakin menjamur. Sebagai orang yang pernah mrmperjuangkan jilbab di jaman remaja, pernyataan semacam itu selalu menyisakan sesak di hati. 

Semasa SMP untuk foto ijazah, kebijakan sekolah tidak memperbolehkan kami siswi berjilbab mengenakan jilbabnya. Sedangkan fotografer saat itu mayoritas masih laki-laki. Saya dan beberapa teman, protes habis-habisan ke dewan guru dan kepala sekolah. Namun hasilnya nihil. Pada akhirnya kami harus mengalah. 

Padahal akhlak dan jilbab tidak pernah berjalan beriringan. Namun bukan berarti yang belum merasa baik akhlaknya tidak wajib mengenakan jilbab. Padahal jelas sudah betul-betul ditulis didalam Al Qur’an sebagai kewajiban. Tidak lantas menunggu akhlak baik dulu baru berjilbab. Bagi saya pribadi justru, jilbab menjadi pemicu hati kita untuk semakin terbuka menerima hidayah tentang akhlak. Meskipun mungkin, yang betul adalah akhlak dan akidah semestinya menjadi pondasi utama untuk setiap anak manusia. Begitulah ilmu selalu menjadi modal utama sebuah amal.

Tulisan ini hanya sebagai pengingat diri. Jila ada yang mampu dipetik kebaikannya, semoga manfaatlah yang mampu dirasa.

Memang tidak ada yang mampu menilai dengan tepat kecuali Allah. Semoga kita dihindarkan dari penilaian manusia yang terbatas, kita dihindarkan dari prasangka manusia yang lemah. Dikuatkan untuk terus mencari ilmu yang haq untuk melihat yang bathil. Amin

15 dan 16 Ramadhan 1438H