(Ramadhan#4) Baper ?

Hari keempat puasa mulai berantakan jadwalnya? Mungkin ada yang porsinya kurang atau kelebihan. Atau mungkin biasanya kebanyakan jenis makanan yang didapat dari sana sini sampe mubadzir. Wushh~

Tulisan hari ini masih bersambung dari tulisan-tulisan kemarin yang topiknya muter-muter wae seputar regulasi emosi wkwk

Dulu-dulu jaman saya kecil belum ada istilah baper. Anak-anak jaman sekarang kalo dilurusin kayak jaman saya kecil, kalimat andalan mereka justru “Jangan baperan doong.. πŸ˜‚”

Nah!

Baper ini hasil dari mengolah hati yang belum lihai. Ada salah sedikit kebawa baper ; tiba-tiba sedih, tiba-tiba kecewa karna harapnya terlalu dipupuk, tiba-tiba marah dlsb. Lalu ditengah obrolan seru sama temen-temen, aslinya sih biasa aja. Guyon gitu istilahnya, tapi masuk ke hati yang paling dalam. Bela diri dengan cara “Enggak kok, aku nggak baper. Biasa aja kali..” tapi interpretasi orang tetap beda. Akhirnya awal yang emang betul-betul ngerasa biasa aja, gara-gara diungkit lagi jadi nyinyir..

Saya nulis ini sambil ketiwi-ketiwi, berhubung fase macam ini rasanya pernah dilewati. Jadi ABG yg suka baper, salah sedikit diingetin sensi. Sekarang masih terus belajar olah hati πŸ˜†

Saat ini saya sedang proses menghabiskan buku milik Kang Abik. Habiburrahman El Shirazy yang judulnya Api Tauhid. Dari buku ini saya mengerti banyak tentang sejarah Islam di Konstantinopel yang sekarang dikenal sebagai Istanbul. Tapi di buku ini lebih banyak berkisah tentang tokoh Badiuzzaman Said Nursi. Mujaddid besar yang didikannya super duper keren yang hatinya dididik anti baper oleh orang tuanya.

Kecerdasannya melampau umurnya, lingkungannya selalu kontra dengan kemampuannya tsb. Tapi ia tumbuh dengan kekuatan dzikirnya pada Allah. Haus akan ilmu meski kemanapun ia pergi bahaya selalu menantang.

Apa yang kuat dari dirinya?

Hatinya.

Hatinya haus mengenal Allah dan Rasulullah. Hatinya merindukan Rasulullah yang bahkan difitnah, ditimpuk dan dibenci pun Rasulullah tetap iman. Sampai akhir umurnya, hanya umatnyalah yang senantiasa Rasulullah khawatirkan.

Badiuzzaman Said Nursi. Hatinya menauladani hati Rasulullah.

—————————–

Lalu apa kabar hati kita? Yang hanya manusia akhir zaman..

Jika beratus-ratus tahun yang lalu, berpuluh-puluh ribu tahun yang lalu. Rasulullah telah mengkhawatirkan hati kita? Mengapa kita tidak menghkawatirkan hati kita sendiri?

Wallahu ‘alam.

Mari menguatkan hati, mari menelisik kembali ke dasar hati. Mungkin hati sering melewatkan peringatan Allah..

300517, 04 Ramadhan 1438H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s