Ramadhan #5 : Mensyukuri

Surabaya hujan beberapa hari ini. Entah hanya gerimis atau hujan deras. Kalimat-kalimat tahmid kembali menjamur di telinga ketika ia datang.

Rasanya seperti oase di tengah pada pasir, karena cuaca disini selalu dominan dengan panasnya.

Di belahan bumi lain, mungkin hujan menjadi hal yang tidak lagi diharapkan kedatangannya. Entah karena ia membawa banjir, membuat hawa sekitar menjadi terlalu dingin atau alasan-alasan lain.

Sepertinya kita lebih banyak mengeluhkan mereka. Panas atau hujan, seolah-olah kehadiran mereka dalam keseharian diabaikan. Jika keduanya datang dengan berlebihan, maka kita akan terbiasa mengutukinya dengan kalimat-kalimat “Kok hujan sih…” atau “Yah, panas banget…”

Kita seolah lupa memaknai bahwa mereka memang telah dipastikan hadir pada saat itu melalui kehendakNya. Tidak mungkin bergeser..sekalipun manusia memiliki kemampuan untuk memperkirakan cuaca.

Saya jadi berfikir, jika mereka diibaratkan seperti manusia. Dua jenis manusia ; hujan dan panas. Hati mereka sering sekali dihujam ketika hadir tidak sesuai dengan apa yang diharap manusia lain.

Padahal kehadirannya menghadirkan manfaat. Mungkin begitulah kita, sering mengabaikan yang lain, ketika apa yang terjadi dalam hidup tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Padahal apa yang baik bagi kita, belum tentu tepat. Bahwa ternyata kadang apa yang menurut kita baik itu tidak baik dan apa yang menurut kita tidak baik itulah yang terbaik.

Kita sering abai memaknai ini. Kita sering mudah sekali mengutuki keadaan tanpa mengerti bahwa sejatinya segala sesuatu yang terjadi di alam luas adalah rencanaNya. Rencana terbaik milikNya.

Saya merenungi. Mungkin saya sering lupa mengerti ini.

Mari kembali refleksi diri. 05 Ramadhan 1438H 

Advertisements

(Ramadhan#4) Baper ?

Hari keempat puasa mulai berantakan jadwalnya? Mungkin ada yang porsinya kurang atau kelebihan. Atau mungkin biasanya kebanyakan jenis makanan yang didapat dari sana sini sampe mubadzir. Wushh~

Tulisan hari ini masih bersambung dari tulisan-tulisan kemarin yang topiknya muter-muter wae seputar regulasi emosi wkwk

Dulu-dulu jaman saya kecil belum ada istilah baper. Anak-anak jaman sekarang kalo dilurusin kayak jaman saya kecil, kalimat andalan mereka justru “Jangan baperan doong.. 😂”

Nah!

Baper ini hasil dari mengolah hati yang belum lihai. Ada salah sedikit kebawa baper ; tiba-tiba sedih, tiba-tiba kecewa karna harapnya terlalu dipupuk, tiba-tiba marah dlsb. Lalu ditengah obrolan seru sama temen-temen, aslinya sih biasa aja. Guyon gitu istilahnya, tapi masuk ke hati yang paling dalam. Bela diri dengan cara “Enggak kok, aku nggak baper. Biasa aja kali..” tapi interpretasi orang tetap beda. Akhirnya awal yang emang betul-betul ngerasa biasa aja, gara-gara diungkit lagi jadi nyinyir..

Saya nulis ini sambil ketiwi-ketiwi, berhubung fase macam ini rasanya pernah dilewati. Jadi ABG yg suka baper, salah sedikit diingetin sensi. Sekarang masih terus belajar olah hati 😆

Saat ini saya sedang proses menghabiskan buku milik Kang Abik. Habiburrahman El Shirazy yang judulnya Api Tauhid. Dari buku ini saya mengerti banyak tentang sejarah Islam di Konstantinopel yang sekarang dikenal sebagai Istanbul. Tapi di buku ini lebih banyak berkisah tentang tokoh Badiuzzaman Said Nursi. Mujaddid besar yang didikannya super duper keren yang hatinya dididik anti baper oleh orang tuanya.

Kecerdasannya melampau umurnya, lingkungannya selalu kontra dengan kemampuannya tsb. Tapi ia tumbuh dengan kekuatan dzikirnya pada Allah. Haus akan ilmu meski kemanapun ia pergi bahaya selalu menantang.

Apa yang kuat dari dirinya?

Hatinya.

Hatinya haus mengenal Allah dan Rasulullah. Hatinya merindukan Rasulullah yang bahkan difitnah, ditimpuk dan dibenci pun Rasulullah tetap iman. Sampai akhir umurnya, hanya umatnyalah yang senantiasa Rasulullah khawatirkan.

Badiuzzaman Said Nursi. Hatinya menauladani hati Rasulullah.

—————————–

Lalu apa kabar hati kita? Yang hanya manusia akhir zaman..

Jika beratus-ratus tahun yang lalu, berpuluh-puluh ribu tahun yang lalu. Rasulullah telah mengkhawatirkan hati kita? Mengapa kita tidak menghkawatirkan hati kita sendiri?

Wallahu ‘alam.

Mari menguatkan hati, mari menelisik kembali ke dasar hati. Mungkin hati sering melewatkan peringatan Allah..

300517, 04 Ramadhan 1438H

Ramadhan #3 : Berprasangka Baik

Tulisan ini masih terkait dengan tulisan kemarin XD

Setelah berhati-hati untuk tidak sembarang menampakkan segala sesuatu demi menjaga perasaan yang lain.

Sepertinya yang perlu ditingkatkan kembali adalah tentang prasangka baik. Bisa jadi ternyata, setelah diselidiki, setelah diobrolkan lebih banyak, setelah diceritakan kembali, semua itu memang berniat untuk berbagi. Apa yang ditanyakan, apa yang diceritakan, apa yang dituliskan, apa yang upload memanglah bentuk sebuah kepedulian. 

Hati kita sendiri yang bisa mengukur. Hati kita sendiri pula yang bisa meraba apakah kita terlalu sensitif sehingga membawanya ke dalam palung hati hingga merasa semua itu berpartisipasi dalam ruang sedih di hati kita.

Untuk itu, perlu untuk hati lebih lapang lagi dan pikiran yang melihatnya dengan positif. Sepertinya lebih baik terus mengoreksi diri sendiri, sibuk mengecek sejauh mana tingkat harap yang membuat hati terjerumus dengan rasa kecewa. Sepertinya lebih baik begitu, daripada membiarkan prasangka berkelakar yang pada akhirnya tidak hanya menyakiti diri sendiri. Tapi juga pemicu ketidak harmonisan dengan yang lain.

Surabaya, 290517 03 Ramadhan 1438H

Ramadhan #2 : Relatif

Hari kedua Shaum Ramadhan bagi yang menjalankan, tetap semangat ya! 😊

Tapi saya jadi mikir banyak, mikir diri sendiri juga. Mikir karena semua yang mau ditindak jadi punya rem kalo lagi ramadhan. Kenapa cuma ramadhan? Saya jadi mikirnya, kenapa nggak semua bulan itu kayak bulan Ramadhan. Ya gitu sih, itu kenapa Allah kasih pahalanya berlipat dari biasanya. Kita manusia diuji. Bisa nggak menghidupkan bulan-bulan yang lain layaknya Ramadhan..

Saya jadi mikir banyak. Ya mikir..

…..

Yang mau saya tulis kali ini sebetulnya topik yang merepet seputar regulasi emosi. Hanya saja lebih gamblang bentuk tindakannya. Judulnya relatif. Jadi apa yang relatif?

Banyak.

Karena setiap kepala punya pikiran yang berbeda-beda, apa yang menjadi definisi tentang suatu hal dari setiap orang itu relatif. Cantik buat si A belum tentu cantik buat si B, pinter buat C belum tentu pinter buat D begitu seterusnya.

Termasuk bahagia, itu relatif. Bahagia versi A dan B belum tentu sama. Menurut saya, salah satu faktor yang membuatnya relatif adalah masa yang dimiliki setiap orang dengan definisi tersebut tidaklah sama. Ada yang lebih cepat, ada yang pelan. Semua tentu di waktu terbaiknya.

Contoh ; timeline di salah satu Social Media lagi rame banget isinya selebrasi kelulusan, nampakinnya berlebihan, semua-semua diperlihatkan seolah-olah penting baginya dunia tau. Di satu sisi ada yang belum sampai pada fase tsb. Sehingga apa yang nampak di timeline tidak menjadi patokan sumber kebahagiaan yang sama bagi yg lain.

Niatnya berbagi kebahagiaan. Alih-alih lupa dengan perjuangan sebelum itu dan lupa bahwa masih banyak di lingkarannya yang sedang memperjuangkan hal serupa. Pada akhirnya, malah jadi bibit penimbul sedih. Segala sesuatu memang kembali kepada niat. Tapi hati-hati mungkin lebih dianjurkan. Menjaga lebih baik. Membatasi lebih sopan. 

Jaman ini, pikiran mudah sekali didistraksi. Setelah semuanya mudah sekali dilihat, sejurus pula lebih mudah fokus pada hal-hal relatif milik orang lain tsb, lantas lupa memperbaiki milik sendiri.

Wallahu ‘alam

Surabaya, 280517 02 Ramadhan 1438H

Ramadhan #1 : Tingkatannya

Alhamdulillah masih bisa ketemu bulan yang penuh berkah, bulan yang Allah istimewakan lebih-lebih dari yang lain.

Seperti yang sudah saya tulis kemarin, Ramadhan ini tetap saya usahakan untuk menulis satu hari satu tulisan seperti project menulis Ramadhan tahun kemarin 🙂 Do’akan bisa ya! 

Saya lama tidak menulis kisah Afnan dan Syifa.

Percakapan pendek di sahur pertama dini hari dengan Afnan yang membuat saya berfikir banyak tentang ini. Terima kasih Afnan, sudah bantu ibuk evaluasi lagi :))

Afnan : Masak udah sahur sih buk? Jam berapa sekarang?

Ibuk : Hayo katanya seneng sahur pertama… Ayo-ayo bangun le (panggilan Jawa untuk anak lakilaki)

Afnan : (Sembari berjalan dan setengah sadar) “Ibuk, apa yang bedain Ramadhan ini sama Ramadhan taun kemarin?”

Syifa yang sudah bangun lebih awal, menambahi..

Syifa : “Syifa tahun ini dibeliin baju baru nggak yah?”

Ayah : “😂 Baru sahur pertama kok sudah mikir baju baru sih nduk?”

Afnan : “Trus apa bedanya dong yah?”

Ayah : “Yang bedaaaa, tingkat keimanannya….”

Kyaaaaaa… Keren banget jawaban ayah 😂🙈

———————

Nah, yang beda adalah tingkat keimanannya. Dari percakapan pendek diatas, saya jadi refleksi diri. Jadi termotivasi untuk selangkah lebih baik dari Ramadhan tahun kemarin. Kalau bisa tidak hanya selangkah, tapi banyak langkah. Kalau kemarin 1 kali tilawah, sekarang jadi 2 kali, kalau bisa 3 kali. Kalau bisa lagi, sedikit-sedikit tapi istiqomah tak terputus.

Jika hati kita menyadari, do’a-do’a yang pernah kita minta ke Allah itu pasti terkabul. Kita akan sadar dengan sendirinya, buat selalu minta sama Allah. Buat usahain terus, karna kita ndak pernah tau do’a kita jaman kapan yang akan di “iyain” Allah. Coba aja terus, minta aja terus, baiknya tingkatin lagi. Baiknya rayu Allah lagi.

Kalo kemarin ngerayunya cuma pake sholat Rawatib sekarang ditambah pake dzikir. Kalo kemarin udah pake dzikir, sekarang ditambah jadwal Dhuhanya.

Itu semua yang akan membedakan kita di Ramadhan tahun kemarin dan tahun ini. Juga tahun-tahun setelah ini. Amiiin

PS : ♥ jatuh cinta banget sama tokoh ayah 😂

Surabaya, 270517 01 Ramadhan 1438H

Niat Menulis

Postingan pembuka Ramadhan, alhamdulillah. Sampai lagi kita di bulan ini, tahun lalu satu postingan satu hari milik saya mandeg di hari ke 19. Itu cukup membuat saya terus merenungi kembali apa niat saya menulis.

Untuk Ramadhan kali ini, in syaAllah akan tetap saya usahakan menulis, sebisa mungkin.

Kembali ke judul. Semakin bertambah usia, semakin banyak saya berpindah-pindah media, akhirnya saya mengerti bahwa menulis bukanlah sesuatu yang mudah. Saya banyak menemukan pertemanan dari Tumblr dan tulisan milik merekapun hadir seperti beragam jenis pupuk yang menyuburkan pikiran.

Saya ingat betul, model tulisan-tulisan saya pertama kali penuh dengan majas, bahkan saya sendiri gagal mengartikannya 😂 tulisan jenis ini masih banyak sekali mengendap di blogspot, blog yang telah lama saya hide dari peradaban.

Kemudian, tahun 2012 saya terjebak di Tumblr, sampai kini media tsb sungguh membuat saya terhipnotis dengan fitur2nya yang ramah. Tidak terkesan riya’ karna nampaknya following dan follower serta like. Yang katanya ramai diburu anak muda jaman sekarang. Pertemanan dunia maya seolah lebih berarti ketimbang teman yang duduk di depannya 🙈 untuk Tumblr kini saya khususkan hanya postingan hasil reblog.

Dari Tumblr, saya hijrah ke Instagram dan 2 bulan ini saya berhasil menghapusnya dari deretan aplikasi di hp. Karena alasan2 yang sudah pernah saya tulis di postingan Boros Perasaan.

Setelah perjalanan panjang, saya mulai menemukan alur untuk menulis. Tulisan-tulisan saya tidak lain adalah hasil perenungan saya melihat sesuatu, mengalami sesuatu, merasakan sesuatu dan hal2 yang bagi saya perlu untuk diukir agar saya mengingat bahwa saya pernah menasehati diri sendiri dengan cara ini.

Satu tips menulis yang saya ingat dan favorit sekali, saya kutip dari Kak Uti (@prawitamutia) bahwa menulis yang lahir dari hati tidak akan pernah berkhianat. Tulisannya akan langsung di terima oleh hati-hati yang membaca.

Meski semua proses ini tidak mudah, saya selalu menyukai bentuk2 opini dan tulisan yang dibuat oleh lingkaran pertemanan yang saya miliki. Seperti membaca jalan pikirannya, meski saya belum pernah kenal jauh atau bahkan belum pernah bertegur sapa. Seperti teman2 FIM kebanyakan misalnya. Saya suka kegiatan blogwalking.

Hingga kini, saya masih terus berusaha agar tulisan saya tertulis dari hati. Niatnya menasehati diri. Bukan untuk menggurui. Semoga Allah istiqomahkan niat kita berbagi 🙂

Surabaya, 26 Mei 2017

Indikator Profesional Perempuan

Bismillahirrahmanirrahiim

Alvin_NHW#2 —

Ditulis sebagai pemenuhan Nice Homework #2 dari Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch 4.

Semakin kemari, semakin sulit. Tapi insyaaAllah, Allah kuatkan. Memasuki materi kedua, ketika mulai membacanya saya melepaskan nafas panjang. Betapa belum apa-apa ilmu yang telah saya pelajari kemarin-kemarin. Buku-buku yang saya baca kemarin, diskusi-diskusi online yang saya ikuti. Namun belajar tetaplah harus terus berjalan, tanpa boleh terhalang kendala apapun.
Semakin kemari, semakin sayang ibuk terutama. Karena jika bukan karena kekuatan beliau membentuk saya siang malam, pantang mundur, saya tidak pernah akan menjadi seperti ini dan bapak, entah seberapa banyaknya beliau mendukung ibuk, dulu maupun kini. Do’a-do’a beliaulah yang mengantarkan saya sebesar ini.

Kembali ke NHW#2. Tugas kali ini, membuat saya merenungi kembali dan mengevaluasi. Menimbang-nimbang untuk tidak obsesif berlebihan, namun tidak serta-merta menyerah pada pencapaian sedikit saja. Atau sedikit namun sungguh-sungguh berhasil dijalankan. Tugas NHW#2 adalah membuat indikator profesionalisme perempuan sebagai individu ; istri dan ibu dengan kunci SMART.

• Specific (Unik/Detil)
• Measurable (Terukur)
• Achievable (Bisa diraih)
• Realistic (Berhubungan dengan kondisi sehari-hari)
• Timebond (memiliki batas waktu)

Indikator sebagai individu :

1. Upgrade keilmuan

  • Mengikuti (menekuni) diskusi online maupun offline yang fokus pada satu permasalahan (contohnya : dalam waktu ± 3 bulan mengikuti diskusi seputar parenting)
  • Mencatat & menulis ulang ilmu-ilmu yang ditekuni (selama ini saya membuat jadwal harian dalam 1 minggu menulis di buku/ms.word 1 kali)
  • Mereview ulang catatan tsb kepada 1 orang yang dipercaya (setelah menuliskannya, masih dalam rentang 1 minggu)
  • Menghabiskan 1 buku bacaan dalam waktu 1 bulan

2. Meluangkan hobi dan mendisiplinkan waktu agar produktif

  • Menggunakan waktu senggang & luang untuk melakukan hal produktif (seperti membaca buku)
  • Mendisiplinkan diri dengan jadwal harian yang sudah dibuat
  • Menghasilkan minimal 1 desain dengan konten “dakwah” dalam waktu 1 bulan
  • Menghasilkan minimal 1 tulisan di blog dalam waktu 1 bulan
  • Menekuni belajar menjahit dalam waktu kurang lebih 3 bulan dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat
  • Mengurangi pekerjaan multitasking ; sebisa mungkin pekerjaan dikerjakan dengan fokus satu persatu agar maksimal

3. Memperbaiki amalan harian

  • Menyetel murottal setiap hari
  • Menghidupkan sunnah-sunnah mulai yang terkecil (penggunaan anggota tubuh kanan, duduk ketika minum dlsb)
  • Mengingat-mencatat sebelum tidur, sunnah apa yang terlewat dalam waktu 1 hari ini
  • Mengevaluasi sebelum tidur kesalahan apa yang diperbuat 1 hari ini
  • Qiyamul lail setiap hari
  • Puasa sunnah senin – kamis diluar udzur
  • Tilawah 2 lembar dalam 1 hari beserta artinya
  • Menghafal 1 ayat dalam 1 hari beserta artinya

4. Meregulasi emosi

  • Memperbanyak istighfar
  • Duduk dan diam ketika mulai tersulut emosi
  • Memperbanyak positif thinking
  • Menepi ketika menyadari dalam kondisi yang kurang kondusif

Indikator sebagai istri :

Karena belum menikah, maka semua indikator dibawah yang akan saya tulis seperti diibaratkan dengan kalimat, ketika saya menjadi istri saya ingin ;
Dan dari sekian banyak indikator yang akan tertulis, semoga nantinya dapat di diskusikan dengan suami mana yang baik menjadi prioritas dan mana yang perlu perbaikan untuk di terapkan.

1. Menjadi istri yang baik

  • Melaksanakan indikator meregulasi emosi
  • Melaksanakan indikator memperbaiki amalan harian
  • Tidak meninggikan suara dihadapan suami
  • Taat terhadap perintah suami
  • Tidak membantah argumen suami, mendengarkan lalu berpendapat sesabar mungkin
  • Menghadirkan wajah senyum dan menyenangkan dihadapan suami
  • Berdandan yang menarik hati suami
  • Menjaga aurat ketika diluar rumah sesuai panduan Al Qur’an dan Sunnah
  • Mendahulukan kebutuhan suami
  • Meluangkan waktu dan materi untuk orang tua
  • Tidak konsumtif
  • Memasak masakan kesukaan suami

2. Menjadi istri pintar

  • Melaksanakan indikator upgrade keilmuan
  • Mengikuti kajian bersama suami
  • Melaksanakan indicator meluangkan hobi dan mendisiplinkan waktu agar produktif”
  • Mendukung bisnis suami
  • Turut membantu mengembangkan bisnis suami sesuai dengan yang mampu dikerjakan
  • Memberikan kepercayaan kepada suami dan tidak mendesaknya

3. Menjadi istri amanah

  • Menyambut suami pulang kerja dan menyiapkan rumah dalam keadaan bersih serta nyaman
  • Membantu memperhatikan terkait instalasi di rumah (misalnya seperti lampu mati, kabel putus, genteng bocor dlsb)
  • Transparansi terhadap suami terkait keuangan
  • Tidak keluar rumah tanpa seizin suami
  • Meminta izin suami jika ada kerabat, teman atau saudara yang akan berkunjung ke rumah

Indikator sebagai ibu :
Karena istri saja belum, jadi judulnya tetap sama XD. Ketika saya menjadi ibu, saya ingin; Untuk indikator ibu yang akan saya susun, kiranya dalam rentang waktu masa pertumbuhan anak-anak (semasa dalam kandungan sampai anak berumur kurang lebih 15tahun setelah itu indikator akan terus berubah dinamis sesuai masanya)

1. Upgrade ilmu keibuan

  • Melaksanakan indikator upgrade keilmuan
  • Melaksanakan indikator meregulasi emosi
  • Selalu berusaha melaksanakan indikator memperbaiki amalan harian
  • Mempelajari cara home treatment agar dapat menangani anak ketika sakit untuk kali pertama
  • Melapangkan hati untuk menyamarkan “inner child” dalam diri agar tidak terbawa ketika mendidik anak

2. Upgrade keilmuan pendidikan anak

  • Melaksanakan indikator “upgrade keilmuan”
  • Melaksanakan indikator “meregulasi emosi”
  • Bekerja sama dengan suami dalam mendidik anak
  • Membacakan dongeng pada anak dan membacakan buku untuknya
  • Mengevaluasi kesalahan dan kebaikan yang anak lakukan dalam 1 hari menjelang tidur

3. Menjadi tim solid bersama anak

  • Melaksanakan indikator upgrade keilmuan
  • Melaksanakan indikator meregulasi emosi
  • Selalu berusaha melaksanakan indikator memperbaiki amalan harian
  • Menggunakan kalimat positif untuk interaksi bersama anak
  • Mengenalkan regulasi emosi dan diri sejak dini
  • Menjelaskan alasan mengenai larangan yang diberikan
  • Meningkatkan intensitas memeluk dan mengusap kepala anak
  • Mengurangi emosi ketika anak mengintervensi kegiatan orang tua
  • Memberikan pengertian ketika kegiatan orang tua sedang tidak dapat ditinggal, jika masih bisa dilakukan nanti maka lebih baik mendahulukan permintaan anak
  • Melapangkan hati ketika anak memenuhi keingin tahuannya dengan cara mengeksplorasi diri, rumah dan lingkungan namun tetap dalam pengawasan
  • Membiarkan anak berinteraksi dengan sebaya, diatas umurnya dan dibawah umurnya minimal 1 – 2 hari dalam seminggu
  • Mengajarkan anak untuk mengenal alam dan hewan dengan cara menanam atau memelihara hewan peliharaan

4. Screen Time

  • Melaksanakan indikator “upgrade keilmuan”
  • Melaksanakan indikator “meregulasi emosi”
  • Selalu berusaha melaksanakan indikator memperbaiki amalan harian
  • Berusaha tidak memakai gadget ketika bersama anak
  • Membatasi “screen time” untuk anak kecuali saat tertentu (misalnya ; 1 jam dalam seminggu)

Untuk indikator dengan checklist akan saya buat pribadi sebagai pengukur diri. Sesungguhnya semua indikator yang telah saya tulis belum apa-apa karena banyak darinya yang dapat saya realisasikan pada masanya nanti dan semua indikator tersebut adalah indikator pencapaian yang bersifat personal.

Semua tulisan yang dituliskan selalu sebagai pengingat diri. Saling mendo’akan ya supaya bisa menjadi lebih baik dari kemarin, sedangkan umur terus berkurang.

Semoga istiqomah dalam menjalankan setiap indikatornya agar target yang telah disusun dapat menantarkan kita menumbuhkan generasi-generasi kuat, bukan meninggalkan generasi yang lemah. Aamiiin..

Regulasi Emosi Part 2

Tulisan ini saya ringkas dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa kampus sendiri XD, mengenai regulasi emosi. Untuk ukuran saya yang belum bermodal apa-apa ini, alhamdulillah sedikit punya gambaran bagaimana seharusnya saya membuat rincian tindakan mana yang dapat mendukung berjalannya regulasi emosi dan mana yang semestinya dihindari. Sambil berjalan, sambil saya mengumpulkan literatur pendukung yang lain.

Kira-kira seperti ini ;

Regulasi Emosi adalah suatu keadaan dimana diri mampu secara baik kembali ke dalam kondisi positif pasca mengalami guncangan negatif. Mampu mengorganisir diri untuk dapat berperilaku sesuai sikon ketupat (situasi kondisi keadaan waktu dan tempat).

Aspek penting yang harus terkandung dalam meregulasi emosi adalah memiliki kapasitas untuk memulihkan kembali keseimbangan emosi yang berlebihan, meskipun pada awalnya kehilangan kontrol emosinya.

Banyak sekali faktor yang mempengaruhi seseorang memiliki kemampuan dalam meregulasi emosi, diantaranya seperti usia, tekanan hidup, pandangan hidup terhadap dunia luar, religiusitas dan banyak sekali faktor internal maupun eksternal bahkan sampai pola asuh orang tua. Itu mengapa, regulasi emosi sangat dianjurkan untuk diajarkan kepada anak sedini mungkin.

Jika mengingat satu sabda Rasulullah SAW “Sesungguhnya aku melarang dua macam ucapan yang bodoh lagi tercela ; keluhan tatkala mendapat nikmat dan umpatan dikala mendapat musibah”.

“Kami jelaskan yang demikian itu supaya jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang di berikanNya kepadamu” Firman Allah dalam Q.S Al Hadid ayat 23

Dalam hemat ilmu saya, memang jika dikerucutkan menjadi kecil, pergolakan emosi memang hanya mengandung 2 bagian. Dari kegembiraan yang diungkapkan dengan terlalu dan kesedihan yang diratapi dengan berlebihan.

Semoga yang sedikit ini, suatu saat nanti mampu menjadi pengingat khususnya bagi saya pribadi. Kemarin, saya sempat diingatkan ketika membuka-buka tulisan lama, bagi saya itu cukup ampuh untuk mengingatkan diri kembali saat sedang up down 🙂

Surabaya, 24 Mei 2017

Regulasi Emosi Part 1

Prolognya saya isi dengan curhatan XD

Semenjak saya menetap di Surabaya, ada beberapa yang perlu saya sesuaikan kembali dengan kebiasaan-kebiasaan saya sebelumnya. Ngawi sebagai rumah dan Malang sebagai tanah rantau semasa kuliah yang notabene berisikan orang Jawa yang menurut kategori saya (bisa mengimbangi kulturnya). Meski tidak memungkiri ada beragam jenis manusia yang saya temui, secara tidak langsung membuat saya belajar untuk menjadi diri saya sendiri yang mampu diterima.

Nah, hubungan apa yang terjadi dengan judul yang saya tuliskan?

Semenjak saya menginjak tanah Surabaya, seringkali saya menemukan kultur ucapan yang menurut saya berbeda dengan kebiasaan saya dahulu. Obrolan-obrolan yang dilontarkan disini lebih gamblang, kalimatnya lugas dan jujur. Saya sempat kaget dan pelan-pelan menyesuaikan diri mengingat kebiasaan saya lebih sedikit pelan dan berbasa-basi 😀

Beberapa pekan di awal, sempat terasa sulit. Lingkaran pertemanan yang ingin saya bangun di tempat baru serasa melelahkan, menyebalkan. Saya yang tidak terbiasa dengan suara-suara keras, menjadi mudah sekali mellow dan menganggap perkataan yang biasa saja di telinga saya menjadi terdengar kasar. Di awal saya terbiasa menangis kaget wkwk tapi saya bersyukur ini semua adalah step yang harus dilewati untuk semakin mengerti keberagaman jenis orang.

Dan hikmah yang saya ambil dari sini, saya mewanti-wanti diri sendiri untuk tidak sembarangan melontarkan pendapat, berkata seenak jidat dan hal-hal sejenis yang pernah saya anggap tidak ramah.

Lanjut ke part 2.

Semua tulisan tidak lain adalah sebagai pengingat diri 🙂

Surabaya, 23 Mei 2017

Imagesource : Tumblr

Bahan Evaluasi Belajar Universitas Kehidupan

Bismillahirrahmanirrahiim Alvin_NHW#1 —

Tulisan ini adalah sebagai pemenuhan Nice Homework (NHW#1) Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional (MIIP) Batch 4

Saya mengetahui Institut Ibu Profesional dari Bunda Septi Peni yang pernah menjadi pembicara di Forum Indonesia Muda dan Alhamdulillah saya berkesempatan untuk berbincang langsung dengan beliau terkait IIP ini.

Hari Senin yang lalu, dalam diskusi online perdana telah didapat materi mengenai Adab Menuntut Ilmu.

Dengan adanya materi tersebut, saya kembali mengevaluasi apakah selama ini dalam menuntut ilmu sudah dapat dikategorikan “beradab”. Sedangkan adab merupakan langkah utama yang perlu diperhatikan ketika ingin mendapatkan ilmu sebagaimana ilmu tersebut tidak hanya ingin didapat namun juga ingin di amalkan.

Kembali ke topik NHW#1, ada 4 pertanyaan yang perlu saya renungi untuk menjawab dan jawaban tersebut harus menjadi bahan evaluasi saya untuk istiqomah belajar serta menjalani Matrikulasi IIP ini.

Pertanyaan yang pertama adalah jurusan ilmu apa yang akan saya tekuni di universitas kehidupan ini. Telah lama sekali saya ingin mempelajari dan terjun ke dalam ilmu parenting. Namun dukungan penuh belum saya dapatkan ketika saya memasuki jenjang perkuliahan dulu. Tetapi belajar bagi saya tidak hanya dari pendidikan formal. Saya tetap menyukai literature dan buku-buku seputar parenting, terjun langsung menghadapi anak-anak hingga saya memutuskan untuk serius mengambil penelitian skripsi di lingkungan anak ADHD, mengikuti kelas-kelas online dan diskusi seputar parenting. Selepas dari dunia perkuliahan yang tidak terlaksana untuk mengambil jurusan psikologi, saya mencoba untuk mempelajari lagi. Namun setelah saya renungi lebih jauh, pertama yang ingin sekali saya lakukan untuk mendukung optimalisasi ilmu parenting tersebut adalah belajar meregulasi emosi.

Pertanyaan kedua ketiga adalah apa alasan terkuat saya untuk mempelajari ilmu tersebut serta strategi apa yang akan saya gunakan.
Emosi adalah salah satu elemen yang terdapat dalam diri manusia. Mengingat emosi adalah sistem pendukung yang harus berjalan baik agar elemen lainnya berjalan dengan baik pula. Dengan regulasi emosi yang baik, saya pikir ilmu parenting yang akan saya pelajari menjadi lebih bermakna, karena segala sesuatu yang dimulai dari hati akan dihasilkan melalui hati. Begitupun dengan ilmu parenting. Ilmu ini akan sangat berguna untuk membentuk pribadi anak-anak yang pertumbuhannya optimal dalam kondisi jaman milenial seperti saat ini. Dimana tantangan orang tua akan bertambah seiring semakin canggihnya jaman.

Melalui ilmu parenting ini, saya bercita-cita ingin membentuk anak-anak yang utama adalah akidah dan ilmu dalam mengenal Allah sebagai penciptanya. Menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah dan pendidikan yang membuatnya menjadi generasi kuat akhlak serta kemampuannya untuk urusan dunia dan akhirat.Strategi yang menurut saya perlu ditegakkan demi tercapainya pembelajaran dalam jurusan ilmu ini adalah

  1. Membuka selebar-lebarnya penerimaan informasi yang didapat dari manapun tanpa mengurangi ketelitian untuk memfilter mana yang baik di terapkan dan mana yang perlu untuk diperbaiki.
  2. Melapangkan pemahaman bahwa segala sesuatunya yang ditemui mampu ditelaah hikmahnya untuk dipelajari, sehingga saya bisa belajar dari pengalaman manapun milik siapapun.
  3. Tegas dalam memberi ketetapan pada diri untuk istiqomah dan bersungguh-sungguh belajar, mengingat outut yang dihasilkan adalah untuk membentuk peradaban seumur hidup bahkan untuk anak-dan-keturunannya.
  4. Menuntaskan jurusan ilmu yang di pelajari sehingga ilmu yang didapat tidak setengah-setengah

Pertanyaan terakhir adalah terkait adab menuntut ilmu, sikap perubahan apa saja yang saya perbaiki setelah belajar mengenai Adab Menuntut Ilmu dalam pertemuan pertama kemarin. Saya sangat menggaris bawahi untuk tidak sembarangan menyebarkan apapun yang tidak bersumber dan meningkatkan husnudzon pada hal apapun yang kita temui dalam kehidupan. Karena setelah saya evaluasi kembali, saya masih sulit dalam meregulasi emosi ketika sampai pada fase yang terlalu letih, capek, dlsb sehingga mengakumulasi pikiran negatif yang dapat mempengaruhi banyak hal.

Semua tulisan ini adalah sebagai bentuk saya untuk mengingatkan diri saya sendiri. Jika ada pembaca yang turut membaca tulisan ini, semoga pemahaman baiklah yang menyertainya.

Surabaya, 17 Mei 2017