Dari Opa

Persis hari ke – 25 saya tidak post apapun di sini. Sedih, iya pasti.

Tapi saya lebih sedih ketika, semangat nulis menggebu tapi ide untuk dicurahkan seperti kering. Saya takut kalau tulisannya justru gak makna apa2 selain curhat. Tapi, bukannya tulisan sesederhana apapun patut di wujudkan (?)

Oke, kata pepatah belajar waktu kecil seperti mengukir diatas batu, belajar di waktu besar seperti mengukir diatas air.

Tulisan ini sudah saya buat sekitar 10 hari yang lalu dan saya keliru klik Trash taraaaa terapuslah dia setelah sekitar 7 menit publish.

Terhitung 2 bulan dengan 15 hari pertemuan, saya memiliki pengalaman baru mengukur tingkat sabar. Seorang bapak paruh baya, 2010 beliau pensiun dari guru Biologi SMP. Gigih ingin belajar “Potosop” katanya. Mau potret-potret ini itu, yang bisa di manipulasi. Ngotot begini dan begitu, mengulang-ulang materi yang hari ini diberi, setengah jam kemudian diulang lupa, besoknya lagi kembali mengulang. Ya, saya sungguh mendulang sabar pada diri sendiri. But, overall InsyaaAllah worth it in the end πŸ™‚

Motto hidupnya : Long Life Education 

Kyaaaa :3 “Opa” yang dak mau di panggil opa ini, lumayan buat saya terhenyak. Di antara murid-murid yang kalem, tersembunyi murid yang bringas wkwk tapi betul. Bringas dalam artikata sulit untuk di nasehati, sulit belajar, dlsb. Itu semua kan keberagaman ya πŸ˜‚ Lalu dari Opa saya belajar, anak-anak jaman sekarang kalo udah dak minat sama pelajarannya dah dak mau belajar. Lah ini, umur segini masih repot sana-sini berjuang kepingin belajar.

Dari Opa saya mendapati bahwa manusia sejatinya tidak pernah memiliki masa habis untuk belajar. Tidak pernah ada kesia-siaan untuk sebuah pembelajaran. Karna ilmu adalah syarat amal.
Dan semangat itu, saya dapat dari Opa.

Surabaya, 15 Februari 2017 

Advertisements