Kuatkan Pundak

Bukan minta di ringanin bebannya apiiiiin, tapi di kuatkan pundaknya

Menurut saya, generasi saat ini seperti mudah sekali terkikis oleh “penyakit maya”. Penyakitnya maya, karna jarang sekali nampak. Secara kasat mata fisiknya normal, baik-baik saja. Namun, jauh psikis dan logisnya bertarung.

Segala sesuatu yang nampak oleh mata, akan mudah sekali menjadi pemicu untuk berlomba-lomba menampilkan yang terbaik. Entah bagaimana caranya. Kemudian segala sesuatu yang berkaitan dengan proses, akan mulai di abaikan. Generasi ini rentan sekali dengan sesuatu yang berbau instan. Langsung jadi, abrakadabra.

Ahir-ahir ini saya sering sekali diketemukan Allah oleh pemikiran2 macam ini. Merisaukan apa yang begitu silau di mata. Menantang dirinya untuk melakukan hal serupa yang lbih unggul tentunya dengan berbagai macam cara instan tanpa melihat proses.

Mungkin jika psikis dan logisnya lemah, maka segala sesuatunya mudah sekali untuk di telan mentah-mentah. Hal ini membuat saya banyak berfikir, membuat saya sering sekali berusaha sekuat tenaga untuk melawan, membuat saya bertentangan prinsip, membuat saya menjadi kaum minoritas dengan pemahaman berbeda, sulit namun harus teguh. Lelah tapi tidak boleh berhenti.

Maka mendapati nasehat diatas, saya seperti menemukan shine bright like a diamond wkwk seriusan!

Saya menjadi semakin mengerti bahwa dengan cara seperti itulah memang Allah menaikkan derajat hambanya, dengan ujian maka mampukah ia? Jika ia mampu maka ia lolos pada ujian kali ini, dan suatu saat jika ia mendapati ujian serupa ia tidak akan lagi risau. Karna Allah telah menempanya dengan baik.

Maka, mintalah pada Allah untuk menguatkan pundakmu. Bukan meringankan bebanmu.

Surabaya, 20 Januari 2017

Advertisements

Hadiah dari Langit

​Kemarin langit menunjukkan sesuatu padaku. Langit memberikan isyarat bahwa itu adalah sebuah kejutan.

Kata langit, dengan aku melihatnya, itu akan membuatku lupa tentang hal-hal yang menyedihkan. Ia senantiasa tersenyum apapun kondisinya.

Kufikir ia akan segera dikirim ke bumi. Lalu langit nampak paham apa yang sedang kufikirkan. “Akan kukirim suatu yang istimewa untukmu, namun aku punya satu syarat”

“Syarat apakah itu wahai langit?”

“Kamu harus menjaganya sepenuh hati. Memastikan hatinya utuh, tak hanya utuh untuk merasakan kehadiranmu namun juga utuh untuk merasakan bahwa dari sinilah ia berasal. Kamu harus menjadi sebaik-baiknya teman baginya.”

Awalnya aku ragu. Apa maksud yang langit katakan itu. Setelah berfikir beberapa waktu, hatiku berkata apalagi yang kutunggu? Jawabku hanya perlu satu, “Baiklah aku siap!”
Keesokan harinya, ketika aku membuka mata.. Langit sungguh memberiku hadiah. Kejutan tak terkira. Aku harus ingat pesan dari langit. Untuk hadiah istimewaku, hadiah dari langit 🙂



Di sebuah lembah pikiran. Juni 2016

Evaluasi

Usai libur sekolah yang panjang, 2 hari yang lalu adalah hari pertama masuk sekolah. Dari sederet pekerjaan yang dibayar , dua hal ini adalah bagian pekerjaan yang selalu saya nantikan. Yaitu menyiapkan pembelajaran anak-anak dan bertemu dengan mereka. Pasca UAS saya mengevaluasi diri dari nilai-nilai yang mereka berikan.

Saya sangat menyadari masih terdapat kekurangan di sana-sini, saya masih dalam tahap belajar sembari mengajar, saya masih dalam tahap dididik sembari mendidik.

Mendidik adalah proses sepanjang hayat, seperti kata kerja lainnya serupa belajar, bertumbuh, berproses, sabar, ikhlas, memahami dan seabrek kata kerja positif lainnya.

Ternyata setelah di evaluasi, saya masih seringkali mengedepankan ego. Mengusahakan untuk bagaimana mereka bisa memahami apa yang saya sampaikan, berhasil mengerjakan soal-soal yang ada, dan nilai baguslah yang terpampang di buku-buku milik mereka. Saya masih takut kalau orangtua merepresentasikan kemampuan anak-anak melalui nilai yang ada di buku atau rapot mereka. Saya masih takut kalau nilai mereka jelek itu berarti saya gagal dalam menyampaikan pembelajaran. Sesungguhnya mendidik adalah jauh dari itu.

Anak-anak tidak berhak untuk didiskreditkan dalam angka-angka tersebut. Karena mereka tumbuh dengan kemampuan masing-masing. Selama ini saya abai dalam memperhatikan seberapa berusahanya mereka dalam menyetarakan kemampuan. Itu mungkin luput dari perhatian saya, itu artinya saya masih egois dalam melaksanakan kewajiban.

Mungkin itu nantinya akan menjadi pengikis keikhlasan saya dalam mengajar dan mendidik, dan itu tidak boleh dibiarkan berlarut. Saya harus tata ulang niat, yang perlu saya usahakan hanyalah melakukannya dengan sebaik mungkin, urusan nilai yang akan mereka dapat katakan saja itu bonus 🙂