Embak

​Pagi itu saya sibuk menyiapkan apa saja sekiranya Ina akan betah dikamar selama saya tinggal kerja. Novel apapun yg tersisa dikamar saya tawarkan, sedia jajan tanpa dia minta, restock film2 yang belum dia tonton. Hari Minggu kemarin mendadak menjadi pengalaman baru baginya. Begitu saja tiba2 memutuskan untuk ikut ke Surabaya.

10 menit persiapan saya berangkat, bapak ibuk menyiapkan satu tas berisi barang2 miliknya 😂.

Ini adalah kali pertama Ina melakukan perjalanan seorang diri. Tanpa bapak ibuk. Dan dia akan pulang ke Ngawi seorang diri haha

Kali pertama pula bagi saya menjadi mbak yang senewen, takut kalau dia bosan, takut kalau dia ngambek, takut mengecawakan, takut ini takut itu.

Saya pernah mengalami fase “membenci kehadiran seorang adik” disaat merasa dunia saya mendadak direbut olehnya. Lengkap dengan semua perhatian ibuk dan bapak. Hingga lupa tepatnya kapan melupa itu semua digantikan kesadaran bahwa dia adalah sosok yang semestinya saya ayomi. Mengakui ini sungguh menggelikan, sosok Ina kecil masih mengingat kejengkelan saya melampiaskan ketika dia melakukan kesalahan.

Biasanya dia akan mengatakan “mbak, mosok arep koyok mbiyen neh, jahat (mbak, masak mau kayak dulu lagi yang jahat 😂) wkwk maafkan mbakmu ini dek.
Kali ini bonding yang diputuskan ibuk dan bapak untuk kami lumayan berhasil meskipun pagi hingga sore Ina harus saya tinggal2 kerja. Sisanya hanya membiarkan dirinya mengurus diri sendiri. Kami tumbuh berbeda karna di jaman yang berbeda pula. Jika saya sedari kecil dibiasakan naik angkutan umum untuk menjangkau sekolah SD sejauh 10km, berbeda dengan Ina yang sedari kecil selalu dibawah pengawasan orangtua. Saya tumbuh di jaman yang main sejauh apapun, orangtua percaya saya pasti pulang. Namun saat ini, anak dibiarkan berkeliaran 20 menit saja banyak sekali bahaya yang ditakutkan.
Cara kami mengekspresikan perasaan pun berbeda. Jika saya memberikan perhatian hingga dia merasa jengah, dia hanya akan menanyakan kabar itupun tidak akan ditanyakan langsung. Kali ini saya mengapresiasi Ina yang di percaya oleh Ibuk dan Bapak untuk bertanggung jawab pada diri sendiri dan dan bertanggung jawab dalam porsi kami sebagai adik dan kakak. Cara ini berhasil membuat kami mengerti kebutuhan satu sama lain dan meningkatkan tingkat kepedulian kami.
Ketika ada yang mengatakan mempunyai saudara banyak lebih menyenangkan, kami akan merasakan saudara berdua pun juga menyenangkan. Kehadiran satu sama lain sangat berarti bagi kami, sekalipun ketika berada dalam satu tempat tidak jarang bagi kami untuk berselisih. Namun ketika berbeda lokasi, kami akan saling merindukan kabar.

Wkwk, one day you can found this post dek. Dan entahlah apa yang akan kamu fikirkan setelahnya, semoga makin sayang 😝

Surabaya, 29 Desember 2012

Spesial

​”Lebih punya banyak porsi waktu untuk mendekatiNya ya bu.. memanjangkan sabar

“Alhamdulillah iyaaa”

———-

Salah satu potongan percakapan saya dengan seorang ibu hebat yang memiliki anak dengan kondisi abnormal. Ini bukan kali pertama saya bertemu dengan anak-anak spesial, j”auh sebelum hari ini ketika kesibukan saya telah berkutat mengantarkan pada lingkaran anak-anak.

Saya kemudian mengingat satu dua hal. Yang pertama adalah kondisi di Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Malang, tempat saya melakukan penelitian beberapa tahun silam. Bertukar cerita langsung dengan terapis mereka, apa yang melatar belakangi sehingga mereka menjadi demikian bonusnya adalah mengerti kebiasaan mereka dengan kondisinya yang berbeda dari kebanyakan seperti tiba2 memukul, tiba2 menarik baju mengajak tertawa. Namun dari itu semua saya mengerti satu hal, bahwa mereka tidak pernah meminta dilahirkan dari keluarga seperti apa, dilahirkan dengan kondisi bagaimana. Mereka masih memiliki hati kecil yang baik, tetapi seberapa besar prosentase  yang menuntun mereka melakukan hal-hal baik dan dengan cara yang baik memang tidak bisa diprediksi dan dimengerti. Sekalipun oleh pakar sendiri, karena urusan ini tidak memiliki acuan. Karena mereka berbeda.

Perihal kedua, adalah Ina. Sebagian belahan hati saya yang lain. Yang pelan-pelan beranjak besar, tidak butuh waktu lama baginya untuk menjadi lebih tinggi daripada saya. Beberapa tahun kebelakang, ketika ada orang bertanya mengenai kondisinya..selalu ada yang tertahan dalam hati. Setelah pertanyaan itu berlalu, saya ijin meninggalkan tempat dan menangis sejadi-jadinya. Ada hati yang perih. Ada hati yang tidak rela adik saya mendapat perlakuan berbeda. Namun saya percaya, semenjak peristiwa itu terjadi ; bapak dan ibuk telah didewasakan hati serta fikiran melebihi yang dimiliki orang lain. Telah diluaskan fikirannya dengan hal-hal positif hingga membentuk karakter Ina yang supel dan PD seperti saat ini.

Saya pernah menemui fase dimana segerombolan anak memandang “ina kecil” pada saat itu dan mengatakannya “anak yang aneh” dengan kondisi satu matanya yang kurang sempurna. Seketika itu juga saya marah-marah. Lagi-lagi sebagian hati saya patah. Tidak terima. Mereka semua tidak ada yang mengerti jika kemampuan Ina lebih dari apa yang mereka bisa, mereka tidak faham jika gambar-gambarnya merubah dunia saya, mereka tidak faham jika nilai-nilai di rapornya membuat saya tidak pernah untuk tidak membanggakannya didepan siapapun. Mereka tidak akan pernah mengerti sebelum mereka mengenal seperti apa sosoknya. Ah sudahlah..

Ketika saat ini saya semakin sering bertemu dengan anak-anak spesial seperti itu, otak saya langsung mengirim memorial tentang ibuk dan bapak. Tidak hanya sebagian hati mereka yang patah pada saat itu. Mungkin seluruh hati itu patah. Kemudian perlahan berusaha direkat kembali lalu dipagari untuk menguatkan. Saya memandangnya seperti ; mengalami posisi ini adalah menjadi pilihan bagi orang tua yang merupakan orang terdekatnya. Panutan pertama yang mereka (baca : anak-anak) miliki. Akankah orang tua merangkulnya dengan impuls-impuls kasih sayang dan memupuknya dengan optimis atau sebaliknya.

Saya menemukan banyak sekali jenis mereka, begitu pula sedikit cerita yang merunut untuk mengetahui penyebabnya. Jikalau semua orang tua paham, berbesar hati, meluaskan sabar dan seabrek lainnya yang saya sangatlah faham prakteknya sulit sekali di lakukan.

Melalui postingan ini, intinya saya hanya ingin menyampaikan bahwa Semoga semua anak-anak dimanapun berada mereka senantiasa dalam petunjukNya. Karena do’a-do’a dan kebaikan yang mereka laksanakan adalah pemantik amal jariyah yang tidak pernah terputus.

Selamat bahagia anak-anak! Selamat hari ibu untuk semua perempuan dimanapun berada ❤

Surabaya, 22 Desember 2016