Memaknai Hari Guru

​Dalam suatu diskusi, momod membuka pertemuan kali itu dengan menunjukkan sebuah video berdurasi 2 menit yang isinya adalah proses seekor laba-laba merangkai sau persatu sarangnya. Setelah video itu habis, kami peserta diskusi dipersilahkan untuk menuliskan satu kata yang mampu memaknai video berdurasi pendek yang telah kami habiskan tadi.

Ketika satu putaran penuh yang itu artinya seluruh peserta diskusi menuliskannya, ternyata kami belum merasa cukup sampai disitu hingga momod meminta kami kembali untuk menuliskan kata kedua. Hingga terkumpul sekitar 30 kosakata yang kami renungkan untuk pemaknaan sebuah proses.

Jika kami ingin melanjutkan, mungkin tidak hanya akan berhenti sampai disana.

yang kedua, dalam sebuah perjalanan. Ketika saya baru saja duduk menemukan sebuah kursi kosong didekat jendela. Tidak berselang lama, ada seorang ibu bersama anak laki-lakinya berumur sekitar 2 tahun memilih untuk duduk disebelah. Anak laki-laki ini nampak ketakutan dan merengek meminta ibunya untuk segera menggendong karena deru mesin bis mulai terdengar. Sebentar lagi bis akan berjalan, namun sang ibu masih sibuk menata barang yang diletakkan di bagasi atas. Reflek bagi saya untuk menghiburnya sembari menunggu sang ibu selesai dengan pekerjaannya. Namun tangan  saya berhasil di tepis.

Sang ibu segera menggendong dan membenahi posisi duduk seusai menata barang. Dengan sigap dan segera meminta maaf pada saya seraya berkata “maaf mbak, ini anaknya takut sekali sama kendaraan dan kurang bisa bergaul dengan orang baru”

Beberapa pasang kata yang tidak berhasil saya dengar ketika ia mengajak sang ibu berbisik-bisik lalu ibunya berkata “Iya langsung tidur, baca do’a safarnya dulu le”

Saya lalu melihatnya mendekap ibunya erat, sambil matanya sesekali memejam kemudian terbuka lagi (mungkin untuk memastikan) apakah saya masih melihatnya XD

Hari ini adalah hari guru, profesi yang sedang saya jalani 3 bulan terahir. Memaknai profesi ini selalu membuat saya menyadari banyak hal bahwa menjadi guru tidak pernah mudah. Menjadi guru adalah profesi yang mendekatkan dengan banyak kebaikan. Melipat gandakan kebaikan (bagi yang mampu memaknainya dengan baik)

Kita sering sekali mendengar semua manusia yang kita temui adalah guru. Melalui dua kejadian diatas, saya ingin memaknainya dengan sudut pandang bukan hanya manusia. Segala sesuatunya, ketika dekat sekali bagi kita untuk mengambil hikmah maka hal tersebut memberi makna guru bagi kita. Bahkan melalui sesuatu yang bisa saja kitta menganggapnya tidak sesuai dengan idealisme yang kita bangun, kita tetap bisa mengambil pelajaran darinya.

Maka dari itu bersamaan dengan hari guru ini, saya ingin membangun pemaknaan baru. Memaknai segala sesuatu memerlukan pemahaman yang baik, memerlukan sudut pandang yang senantiasa positif sekalipun hal yang sedang kita pandang adalah kurang baik.

Semoga senantiasa bertumbuh baik, mari berusaha.

Dalam perjalanan, 25 November 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s