Ibuk

​Malaikat-malaikat tersenyum didepan rumah. Sore ini ibuk mengantarku dan beliau pasti akan mengantar hingga habis pandang. Aku tidak pernah tau dibalik senyumnya itu ada berapa banyak khawatir yang dipaksa untuk sembunyi.

Dipanaskannya motorku sembari terus saja mengeja barang-barangku yang bisa jadi terlupa. Aku tidak pernah tau berapa banyak catatan mengenai segala keperluan anak-anaknya, keperluan bapak, keperluan rumah tangga, belum lagi keperluan kesibukannya diluar rumah. Yang aku tau, ia tidak pernah lelah memulihkan ingatan meski waktu terus menggerus.

Sembari mengucapkan hati-hati ya nduk, setelah kewajibanku mencium tangan dan mencium pipi kiri kanannya telah kutunaikan. Kacamatanya sedikit jatuh kemudian beliau betulkan untuk melihat aku benar-benar berlalu dari jarak pandangnya. Aku tidak pernah tau seberapa sering matanya rabun dan kabur melihat pembukuan keuangan yang masih terus rapi beliau kerjakan dengan mengatakan ini adalah kewajiban ibuk mengurus semuanya. Yang aku tau dulu beliau tidak pernah melewatkan menjagaku belajar sepanjang malam.

Sepanjang perjalanan aku memikirkan seberapa letih bahunya menyiapkan segala sesuatu untuk kami sedari pagi, ketika beliaulah yang pertama kali bangun dan paling akhir berangkat tidur. Aku tidak pernah tau, yang aku tau hanya ketika beliau letih hingga menangis pasti malaikat-malaikat akan ikut menangis. Mukenahnya menangis, sajadahnya pun menangis bahkan semua barang-barang di dapur, barang-barang dirumah yang senantiasa menjadi temannya bencengkrama pun ikut menangis.

Namun semua kekuatan itu, akan menjadi kekuatanku nanti. Ketika anak-anakku memanggilku;  ibu.

Ditulis dalam sebuah perjalanan, 26 November 2016

*trus lagu yang keputer di playlist “Malaikat juga tahu”* 😦

Memaknai Hari Guru

​Dalam suatu diskusi, momod membuka pertemuan kali itu dengan menunjukkan sebuah video berdurasi 2 menit yang isinya adalah proses seekor laba-laba merangkai sau persatu sarangnya. Setelah video itu habis, kami peserta diskusi dipersilahkan untuk menuliskan satu kata yang mampu memaknai video berdurasi pendek yang telah kami habiskan tadi.

Ketika satu putaran penuh yang itu artinya seluruh peserta diskusi menuliskannya, ternyata kami belum merasa cukup sampai disitu hingga momod meminta kami kembali untuk menuliskan kata kedua. Hingga terkumpul sekitar 30 kosakata yang kami renungkan untuk pemaknaan sebuah proses.

Jika kami ingin melanjutkan, mungkin tidak hanya akan berhenti sampai disana.

yang kedua, dalam sebuah perjalanan. Ketika saya baru saja duduk menemukan sebuah kursi kosong didekat jendela. Tidak berselang lama, ada seorang ibu bersama anak laki-lakinya berumur sekitar 2 tahun memilih untuk duduk disebelah. Anak laki-laki ini nampak ketakutan dan merengek meminta ibunya untuk segera menggendong karena deru mesin bis mulai terdengar. Sebentar lagi bis akan berjalan, namun sang ibu masih sibuk menata barang yang diletakkan di bagasi atas. Reflek bagi saya untuk menghiburnya sembari menunggu sang ibu selesai dengan pekerjaannya. Namun tangan  saya berhasil di tepis.

Sang ibu segera menggendong dan membenahi posisi duduk seusai menata barang. Dengan sigap dan segera meminta maaf pada saya seraya berkata “maaf mbak, ini anaknya takut sekali sama kendaraan dan kurang bisa bergaul dengan orang baru”

Beberapa pasang kata yang tidak berhasil saya dengar ketika ia mengajak sang ibu berbisik-bisik lalu ibunya berkata “Iya langsung tidur, baca do’a safarnya dulu le”

Saya lalu melihatnya mendekap ibunya erat, sambil matanya sesekali memejam kemudian terbuka lagi (mungkin untuk memastikan) apakah saya masih melihatnya XD

Hari ini adalah hari guru, profesi yang sedang saya jalani 3 bulan terahir. Memaknai profesi ini selalu membuat saya menyadari banyak hal bahwa menjadi guru tidak pernah mudah. Menjadi guru adalah profesi yang mendekatkan dengan banyak kebaikan. Melipat gandakan kebaikan (bagi yang mampu memaknainya dengan baik)

Kita sering sekali mendengar semua manusia yang kita temui adalah guru. Melalui dua kejadian diatas, saya ingin memaknainya dengan sudut pandang bukan hanya manusia. Segala sesuatunya, ketika dekat sekali bagi kita untuk mengambil hikmah maka hal tersebut memberi makna guru bagi kita. Bahkan melalui sesuatu yang bisa saja kitta menganggapnya tidak sesuai dengan idealisme yang kita bangun, kita tetap bisa mengambil pelajaran darinya.

Maka dari itu bersamaan dengan hari guru ini, saya ingin membangun pemaknaan baru. Memaknai segala sesuatu memerlukan pemahaman yang baik, memerlukan sudut pandang yang senantiasa positif sekalipun hal yang sedang kita pandang adalah kurang baik.

Semoga senantiasa bertumbuh baik, mari berusaha.

Dalam perjalanan, 25 November 2016

Anak-anak Pahlawan

Percaya tidak percaya, manusia selalu punya masalah di hidupnya.
Beberapa hari yang lalu kunjungan ke panti sosial kembali  menyadarkan saya bahwa Allah selalu punya fase terbaik yang  telah disiapkan untuk hambanya. Dalam ujian maupun dalan nikmat, tergantung kita memaknainya.

Lalu apa korelasinya panti sosial dengan judul diatas anak-anak
adalah pahlawan?
Ini adalah sisi yang ingin saya ceritakan. Mungkin rumit dipahami namun semoga sampai pada pemahaman ;

pahlawan/pah·la·wan/ n orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani;

Mengingat kemarin adalah hari pahlawan, bagi saya memperingati hari-hari Nasional kepahlawanan adalah peringatan yang sudah jarang sekali untuk terlibat semenjak lulus sekolah. Positifnya ketika saya berhasil mengikuti jenis kegiatan macam itu, menyanyi Indonesia Raya sungguh-sungguh membuat saya bergetar hebat dan tanpa sadar ada yang menetes di pipi.

Namun anak-anak, dalam dua kesempatan di panti sosial maupun upacara kemarin. Berhasil membuat saya memaknai satu hal. Mereka adalah pahlawan.

Berinteraksi dengan mereka setiap harinya adalah kesempatan bagi saya untuk merefleksi diri.

Anak-anak adalah manusia paling jujur yang kita tahu. Mereka akan bertindak sesuka hati, semengerti hati, senalar pikiran. Tidak menuntut logis dan realistis. Mereka berlaku seadanya. Termasuk urusan keberanian dan memperjuangkan diri mengetahui
banyak hal dengan berebut tanya atau melakukan hal-hal kecil untuk membuktikan eksistensi diri.

“Bu Alvin, kasihan ada yang gak bisa duduk, bangun dari kasur.  Cuma bisa tidur, trus tidurnya miring-miring. Apa gak capek ya bu? Gak bisa sekolah berarti ya bu? “Kaleb, menunjuk seorang penderita skoliosis, berumur sebaya dengannya.

Dan ketika saya mencoba mengobrol dengan salah satu penderita cacat tulang belakang yang sedang di terapi, seorang anak perempuan berumur 6 tahun. Semua otot-ototnya lemah, ia hanya bisa digendong. Namun ketika ditanya, ia menjawab dengan antusias meski itu tidak terlalu jelas. Tidak jelas bahkan. Namun saya menangkap apa yang ia katakan “Namaku Fitri. Aku pengen bisa main”

Adakah dari pertanyaan dan pernyataan tersebut yang dibuat2? Tidak.

Hal-hal serupa yang membuat saya mengingat masa kecil. Anak-anak akan bertindak sesuai naluri alamiah mereka. Lalu, saat masa-masa kecil kita bukankah tidak jauh berbeda? Kita orang dewasa yang telah melalui fase yang sama.

Kadang kita mengatakan, anak-anak jaman sekarang bisa seberani itu ya? Sejatinya, ketika masa kecil kita dulu pun begitu.
Berani menguji diri. Berani mencoba melakukan banyak hal, diperjuangkan saja, hasil yang akan menunjukkan seberapa berhasil kita. Semasa kecil kita telah diuji dengan naluri alamiah diri kita sendiri.
Mengemukakan apa saja yang akan di maklumi dengan kata “namanya juga anak-anak”

Namun ketika perlahan usia beranjak meninggalkan predikat anak-anak. Kita lupa bahwa diri kita dulu pernah menjadi pejuang untuk diri sendiri. Kita pernah menjadi pahlawan untuk diri sendiri. Sekarang, ketika suatu hal terjadi tidak sesuai dengan rencana.. cepat sekali diri ini merasa lemah, merasa yang paling terluka, merasa yang paling sengsara dan banyak konotasi negatif lainnya. Hal itu membuat titik koordinat grafik yang jauh sekali berbeda dengan masa-masa kecil kita dulu yang terlatih menjadi pahlawan.

Maafkan tulisan random saya, hanya terus mencoba membangun pemahaman untuk diri sendiri.

Jum’ah barakah 🙂

alvinareana, meja kerja 111116

img20161107093326

img20161107095151