​Perempuan dan Pilihan Hidup

Beberapa hari yang lalu, saya dan dua teman pondok silaturrahim ke kontrakan salah satu teman kami yang saat ini statusnya telah menjadi istri orang 😀
Kami sempat dekat dulu ketika sama-sama masih nyantri hingga kini, hanya intensitas komunikasi berubah seiring waktu dan tanggung jawab masing-masing.

Menuliskan ini, saya menjadi termangu ternyata waktu berjalan secepat ini.

Perempuan selalu mudah khawatir. Perempuan selalu mengerti bahwa sejujurnya hatinya bijak menjalani pilihan-pilihan hidupnya. Perempuan selalu memahami bahwa bahunya kuat menopang liku hidup yang kadang terjadi diluar logisnya. Perempuan masih saja selalu melibatkan perasaan. Perempuan mungkin mengandung 90% perasaan dan 10% logika 😀 haha kalo yang ini ngarang *punten*

Ketika kami bertemu, tidak lain yang dapat kami lakukan hanyalah menggandakan obrolan. Mulai dari a hingga z seolah tidak habis dibicarakan. Sampailah pikiran saya pada perempuan memang mudah khawatir dengan pilihan hidup yang sesungguhnya sudah dijalani dan dipilihnya.

Kami berempat saat ini tengah menghadapi pilihan hidup yang berbeda-beda. Pola pikir yang kami miliki pun mendadak berubah sesuai dengan pola hidup yang saat ini tengah dijalani. Namun yang membuat saya geleng kepala ketika obrolan kami begitu randomly mulai dari membahas detil biaya kontrakan, pdam, uang belanja hingga spp dan materi2 perkuliahan s2. Perempuan begitu kompleks dengan segala sesuatu yang memenuhi pikirannya. Saya justru menjadi gemas, mengapa perempuan bisa serandom ini? Ketika tangan kanan masih mengerjakan satu hal, tangan kirinya bisa melakukan hal yang lain. Pikirannya bisa berkelana ke negeri seberang ahaha

Pikirannya membelah hutan saraf lalu merisaukan apakah pilihan hidup yang telah dipilihnya akan membuatnya sampai pada fase bahagia? Menjadi seperti si A nampaknya lebih ini dan itu, menjadi seperti si B terlihat lebih ini dan itu, menjadi si C si D dan masih banyak lainnya.

Ternyata untuk urusan remeh temeh yang seharusnya hanya perlu dijalani, di ikhtiarkan, di perjuangkan perempuan tetap saja merasakan bahwa ada yang gundah di hatinya. Gundah hatinya tapi tidak rapuh.

Dengan memahami bagaimana pilihan hidup itu dijalani, saya pelan-pelan mengantongi rasa syukur dan mengolah pemahaman bahwa segala pilihan yang telah perempuan pilih saat itu adalah menjadi yang terbaik baginya. Toh kemudian dalam versi yang saya yakini, Allah selalu punya cara untuk menguatkan perempuan dari segala aspek hingga kelak menjadi seutuhnya makhluk dengan fitrah ia diciptakan sebagai perempuan.

Saya menjadi mendadak sering mengirim pesan kepada Ibuk berisi tentang penguatan-penguatan yang sejatinya Ibuk sendiri tau bahwa ketika fisiknya letih tapi hatinya tidak pernah berhenti membereskan tanggung jawabnya sebagai ibu.

Saya menjadi mengerti, sebegitunya Allah memposisikan perempuan. sedetil itu Al – Qur’an mengagungkan kedudukan perempuan. Justru ketika tulisan-tulisan saya diatas nampak memperlihatkan perempuan dengan segala kerumitan yang ia miliki, saya tidak lagi menemukan kalimat untuk menjelaskan betapa perempuan dijaga, terjaga dan seharusnya menjaga.

Perempuan senantiasa dikuatkan dengan segala pilihan hidup yang telah ditentukannya, sekalipun ia adalah perempuan yang “belum baik” menurut kacamata saya pribadi, manusia yang juga masih terus memperbaiki diri.

Saya menjadi memiliki pandangan baru bahwa Allah senantiasa menguatkan bahu perempuan bagaimanapun pilihan hidup yang dipilihnya.

Selamat menjaga diri, kamu!

Surabaya, 16 Oktober 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s