Menjadi Pemimpin

Mempelajari kepribadian makhluk bumi ini (masih) selalu menyenangkan bagi saya. Sampai pada saat ini. Padahal sama-sama makhluk Bumi, namun untuk mengenali jenis-jenis mereka, saya akan berubah sebentar menjadi makhluk Mars pun tak apa, wkwk

Semakin banyak saya menemui, semakin berkembang pola pikir yang saya miliki. Bersyukur sekali masih diberi kesempatan hingga sejauh ini melangkah.

Diantara manusia yang beragam jenis serta pola pikir yang dimilikinya, pada saatnya masing-masing manusia akan menemui fase dimana ia akan menjadi seorang pemimpin bagi dirinya sendiri. Terlebih bagi umat.

Dalam kegiatan sekecil apapun, pemimpin selalu dibutuhkan. Seperti yang saya lihat dalam keseharian. Di dalam kelas, ada beberapa anak didik saya yang membiasakan diri dengan sendirinya tanpa diingatkan untuk berdo’a sebelum dan selepas kegiatan belajar mengajar. Diapun memimpin dirinya sendiri serta memberi aba-aba teman satu kelasnya. Tanpa diminta.

Lalu saya berfikir, anak-anak ini.. justru disiapkan Allah untuk menjadi pemimpin. Karena hati mereka selalu terbuka untuk segala bentuk penerimaan. Saya sering menemukan tulisan sejenis ini ; Allah menyiapkan hati-yang membuka hati. Bukan Allah membuka hati-yang menyiapkan hati. Siap saja tidak cukup, namun ada upaya yang lebih dari itu yaitu membuka. Membuka hati, membuka diri, membuka pemikiran wawasan serta banyak lainnya adalah tolak ukur kita dalam berusaha. Karena Allah akan sesuai dengan usaha-usaha hambaNya. Allah akan merubah keadaan suatu kaum jika mereka mau merubahnya.

Namun bagaimana dengan pemimpin yang menurut kacamata kita, manusia biasa. Berada pada jalan-jalan yang sepertinya nampak “tidak” pada jalur yang Allah ridha? Wallahu ‘alam. Dunia nampak baik-baik saja, tapi entah dengan langit. Diantara manusia-manusia dengan ego, saya menemukan pemimpin jenis ini adalah mereka yang kurang memercayai anak buahnya, kurang memberi penguatan pondasi terhadap lingkungannya, dan yang terpenting adalah kurang menerima kritik dan saran. Entah mengapa dalam pandangan saya, unsur penerimaan satu ini menjadi sangat fatal ketika manusia lebih mementingkan egonya ketimbang belajar membuka hati untuk sebuah penerimaan.

Dari anak-anak ini saya belajar bahwa setiap manusia telah disiapkan Allah untuk menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri maupun bagi umat. Tergantung bagaimana kita mencapai fase tersebut. Karena tiap-tiap makhluk memiliki timeline yang berbeda dengan takaran ujian serta nikmat yang berbeda pula.

Melalui tulisan ini, saya mengingatkan diri saya. Saya adalah seorang perempuan. Mungkin, kedudukan perempuan masih saja menjadi perdebatan yang diperbincangkan. Namun, saya adalah pemimpin bagi diri saya. Pemimpin bagi anak-anak saya kelak. Menjadi panutan mereka dalam melangkah. Menjadi pandangan mereka dalam berpikir dan bersikap.

Semoga Allah ridha dengan apa-apa yang kita lakukan. Semoga kita senantiasa dihindarkan dari hal-hal yang buruk bagi kita. Semoga senantiasa dilapangkan bentuk-bentuk penerimaan. Semoga senantiasa diluaskan pemahaman-pemahaman baik. Selamat menjadi pemimpin.

Surabaya, 08 Oktober 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s