Ujian

21.20 – 23.05

Tersebutlah seorang perempuan nun jauh di sana meminta saya untuk menelponnya malam tadi. Meminta menenangkan hati dan fikiran. Ada satu hal yang membuatnya mendadak berguncang semenjak sore hingga selarut itu ketika akhirnya telpon saya tersambung dengannya.

“Rasa-rasanya emang bener piiin… ini sebenernya ilmu dari liqo udah lama. Tapi aku masih aja begini..

Allah itu akan nguji di titik terlemah kita dan akan terus nguji kita di titik itu kalau kita belum lolos lewatin ujiannya. Jadi sekarang ketika aku introspeksi diri dan sadar bahwa aku masih di uji Allah dengan hal ini jadi ngerasa kamu kok gak lolos-lolos sih di ujian yang ini..”

Seketika itu saya berfikir dan mendikte diri saya dengan hal-hal apa yang telah terjadi sekian tahun belakangan. Di titik mana saya menyadari bahwa Allah masih menguji diri dan saya belum juga lolos pada ujian tersebut.

Waktu sekitar dua jam cukup untuk sama-sama me-recharge diri. Saya bersyukur bahwa Allah masih mempertemukan dengan orang-orang yang tidak pernah saya duga yang akan menjadi reminder.

Sosok perempuan ini sering tetiba mengirim chat-chat pendek berisi semangat, berisi pengingat atau bahkan ketika imannya merasa dalam titik rendah dan itu akan membuat saya berusaha memberi support yang itu artinya saya juga menumbuhkan diri saya pribadi.

Semoga kakak senantiasa dijaga Allah. Semangat kita:)

Ngawi, 30 Oktober 2016

Kehadiran Virtual

​Semangat ya A *peluk virtual*

Salah satu balasan komentar yang saya temui di instagram beberapa waktu lalu. Membacanya membuat lumayan tergelitik. Sekarang semua-muanya serba virtual. Kehadiran digantikan dengan terkirimnya satu emoticon yang bahkan tidak bisa kita tafsirkan bagaimana keadaan yang sebenarnya. Apalagi hatinya 😂

Ada yang dimudahkan dengan semua fasilitas yang tidak lagi asing bagi kehidupan kita saat ini. Namun ketika saya merunut perjalanan hidup kebelakang…

Masa SD saya masih merasakan memiliki sahabat pena, meskipun tidak pernah bertemu. Namun melalui tulisan-tulisan tangannya, saya mampu memperkirakan suasana hatinya saat menulis. Setidaknya begitu. Beranjak SMP dan SMA internet mulai mengubah kehidupan generasi saya dan kawan-kawan sebaya. Kabar bisa dikirim tanpa harus menunggu berhari-hari lamanya. Melihat lawan bicara kita online yang mampu menembus bermil-mil jarak. Saat ini melipat jarak begitu mudah sekali dilakukan. Keberadaanya di seberang memang tidak diragukan dan kita bisa memastikan bahwa dia sedang stay untuk siap menjawab obrolan-obrolan kita.

Saat fikiran berkelana, saya tiba-tiba sedih karena ada yang lebih mengikis perasaan. Notifikasi chat penuh, rapat ini dan itu, merangkul yang jauh hingga pedalaman namun jiwa tetap saja kosong. Tidak ada canda tawa yang membekas di ingatan, tidak ada nasehat-nasehat yang menohok hingga dasar perasaan, tidak ada tangis yang mungkin harus terjadi karena selisih paham.

Betapa saya mengiyakan pertemuan saat ini menjadi hal yang langka, bahwa pertemuan saat ini sungguh-sungguh menjadi hal yang super penting mengingat energi yang mampu di transfer dari sebuah pertemuan sangatlah dahsyat dampaknya.

Memang tidak selamanya kita bisa membersamai orang-orang yang pernah menjalankan peran bersama. Ada kalanya ketika kepentingan-kepentingan akan menjadi prioritas yang harus dilaksanakan dan memberi peluang untuk jarak adalah hal yang akan menjadi kebiasaan. Jarak tercipta, solusinya adalah melipatnya dengan teknologi yang tersedia.

Hanya saja…

Semoga waktu akan memberi kita kesempatan untuk menghimpun jumpa. Semoga hati dan perasaan kita tidak perlu terkikis karena keegoisan laku yang semestinya mampu kita kendalikan. Sampai jumpa dengan sesiapa yang bisa jadi, melaluinya lah charge iman dan kebaikanmu bertambah. Cheers!

​Perempuan dan Pilihan Hidup

Beberapa hari yang lalu, saya dan dua teman pondok silaturrahim ke kontrakan salah satu teman kami yang saat ini statusnya telah menjadi istri orang 😀
Kami sempat dekat dulu ketika sama-sama masih nyantri hingga kini, hanya intensitas komunikasi berubah seiring waktu dan tanggung jawab masing-masing.

Menuliskan ini, saya menjadi termangu ternyata waktu berjalan secepat ini.

Perempuan selalu mudah khawatir. Perempuan selalu mengerti bahwa sejujurnya hatinya bijak menjalani pilihan-pilihan hidupnya. Perempuan selalu memahami bahwa bahunya kuat menopang liku hidup yang kadang terjadi diluar logisnya. Perempuan masih saja selalu melibatkan perasaan. Perempuan mungkin mengandung 90% perasaan dan 10% logika 😀 haha kalo yang ini ngarang *punten*

Ketika kami bertemu, tidak lain yang dapat kami lakukan hanyalah menggandakan obrolan. Mulai dari a hingga z seolah tidak habis dibicarakan. Sampailah pikiran saya pada perempuan memang mudah khawatir dengan pilihan hidup yang sesungguhnya sudah dijalani dan dipilihnya.

Kami berempat saat ini tengah menghadapi pilihan hidup yang berbeda-beda. Pola pikir yang kami miliki pun mendadak berubah sesuai dengan pola hidup yang saat ini tengah dijalani. Namun yang membuat saya geleng kepala ketika obrolan kami begitu randomly mulai dari membahas detil biaya kontrakan, pdam, uang belanja hingga spp dan materi2 perkuliahan s2. Perempuan begitu kompleks dengan segala sesuatu yang memenuhi pikirannya. Saya justru menjadi gemas, mengapa perempuan bisa serandom ini? Ketika tangan kanan masih mengerjakan satu hal, tangan kirinya bisa melakukan hal yang lain. Pikirannya bisa berkelana ke negeri seberang ahaha

Pikirannya membelah hutan saraf lalu merisaukan apakah pilihan hidup yang telah dipilihnya akan membuatnya sampai pada fase bahagia? Menjadi seperti si A nampaknya lebih ini dan itu, menjadi seperti si B terlihat lebih ini dan itu, menjadi si C si D dan masih banyak lainnya.

Ternyata untuk urusan remeh temeh yang seharusnya hanya perlu dijalani, di ikhtiarkan, di perjuangkan perempuan tetap saja merasakan bahwa ada yang gundah di hatinya. Gundah hatinya tapi tidak rapuh.

Dengan memahami bagaimana pilihan hidup itu dijalani, saya pelan-pelan mengantongi rasa syukur dan mengolah pemahaman bahwa segala pilihan yang telah perempuan pilih saat itu adalah menjadi yang terbaik baginya. Toh kemudian dalam versi yang saya yakini, Allah selalu punya cara untuk menguatkan perempuan dari segala aspek hingga kelak menjadi seutuhnya makhluk dengan fitrah ia diciptakan sebagai perempuan.

Saya menjadi mendadak sering mengirim pesan kepada Ibuk berisi tentang penguatan-penguatan yang sejatinya Ibuk sendiri tau bahwa ketika fisiknya letih tapi hatinya tidak pernah berhenti membereskan tanggung jawabnya sebagai ibu.

Saya menjadi mengerti, sebegitunya Allah memposisikan perempuan. sedetil itu Al – Qur’an mengagungkan kedudukan perempuan. Justru ketika tulisan-tulisan saya diatas nampak memperlihatkan perempuan dengan segala kerumitan yang ia miliki, saya tidak lagi menemukan kalimat untuk menjelaskan betapa perempuan dijaga, terjaga dan seharusnya menjaga.

Perempuan senantiasa dikuatkan dengan segala pilihan hidup yang telah ditentukannya, sekalipun ia adalah perempuan yang “belum baik” menurut kacamata saya pribadi, manusia yang juga masih terus memperbaiki diri.

Saya menjadi memiliki pandangan baru bahwa Allah senantiasa menguatkan bahu perempuan bagaimanapun pilihan hidup yang dipilihnya.

Selamat menjaga diri, kamu!

Surabaya, 16 Oktober 2016

Menjadi Pemimpin

Mempelajari kepribadian makhluk bumi ini (masih) selalu menyenangkan bagi saya. Sampai pada saat ini. Padahal sama-sama makhluk Bumi, namun untuk mengenali jenis-jenis mereka, saya akan berubah sebentar menjadi makhluk Mars pun tak apa, wkwk

Semakin banyak saya menemui, semakin berkembang pola pikir yang saya miliki. Bersyukur sekali masih diberi kesempatan hingga sejauh ini melangkah.

Diantara manusia yang beragam jenis serta pola pikir yang dimilikinya, pada saatnya masing-masing manusia akan menemui fase dimana ia akan menjadi seorang pemimpin bagi dirinya sendiri. Terlebih bagi umat.

Dalam kegiatan sekecil apapun, pemimpin selalu dibutuhkan. Seperti yang saya lihat dalam keseharian. Di dalam kelas, ada beberapa anak didik saya yang membiasakan diri dengan sendirinya tanpa diingatkan untuk berdo’a sebelum dan selepas kegiatan belajar mengajar. Diapun memimpin dirinya sendiri serta memberi aba-aba teman satu kelasnya. Tanpa diminta.

Lalu saya berfikir, anak-anak ini.. justru disiapkan Allah untuk menjadi pemimpin. Karena hati mereka selalu terbuka untuk segala bentuk penerimaan. Saya sering menemukan tulisan sejenis ini ; Allah menyiapkan hati-yang membuka hati. Bukan Allah membuka hati-yang menyiapkan hati. Siap saja tidak cukup, namun ada upaya yang lebih dari itu yaitu membuka. Membuka hati, membuka diri, membuka pemikiran wawasan serta banyak lainnya adalah tolak ukur kita dalam berusaha. Karena Allah akan sesuai dengan usaha-usaha hambaNya. Allah akan merubah keadaan suatu kaum jika mereka mau merubahnya.

Namun bagaimana dengan pemimpin yang menurut kacamata kita, manusia biasa. Berada pada jalan-jalan yang sepertinya nampak “tidak” pada jalur yang Allah ridha? Wallahu ‘alam. Dunia nampak baik-baik saja, tapi entah dengan langit. Diantara manusia-manusia dengan ego, saya menemukan pemimpin jenis ini adalah mereka yang kurang memercayai anak buahnya, kurang memberi penguatan pondasi terhadap lingkungannya, dan yang terpenting adalah kurang menerima kritik dan saran. Entah mengapa dalam pandangan saya, unsur penerimaan satu ini menjadi sangat fatal ketika manusia lebih mementingkan egonya ketimbang belajar membuka hati untuk sebuah penerimaan.

Dari anak-anak ini saya belajar bahwa setiap manusia telah disiapkan Allah untuk menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri maupun bagi umat. Tergantung bagaimana kita mencapai fase tersebut. Karena tiap-tiap makhluk memiliki timeline yang berbeda dengan takaran ujian serta nikmat yang berbeda pula.

Melalui tulisan ini, saya mengingatkan diri saya. Saya adalah seorang perempuan. Mungkin, kedudukan perempuan masih saja menjadi perdebatan yang diperbincangkan. Namun, saya adalah pemimpin bagi diri saya. Pemimpin bagi anak-anak saya kelak. Menjadi panutan mereka dalam melangkah. Menjadi pandangan mereka dalam berpikir dan bersikap.

Semoga Allah ridha dengan apa-apa yang kita lakukan. Semoga kita senantiasa dihindarkan dari hal-hal yang buruk bagi kita. Semoga senantiasa dilapangkan bentuk-bentuk penerimaan. Semoga senantiasa diluaskan pemahaman-pemahaman baik. Selamat menjadi pemimpin.

Surabaya, 08 Oktober 2016