Surga yang Selalu Dekat

​Perempuan itu menangis tergugu ketika menyadari bahwa waktunya telah banyak berlalu. Ia tidak membiarkan sedikitpun pikirannya menyesali apa yang telah dilaluinya sejauh ini. Cukup bijak baginya untuk terus mengerti bahwa perjalanannya hanyalah kehendak IA semata.

Namun, mengapa ia harus menangis untuk yang kesekian kalinya tiap kali menyadari bahwa waktunya semakin habis?

Bukankah memang demikian waktu bekerja, tidak pernah mentolerir siapapun. Sedikitpun.

Karena manusia telah dibekali banyak sekali oleh sang Maha, maka bersahabatlah dengan waktu sebaik-baiknya.

Perempuan itu memiliki sayap yang sangat lebar. Digunakan untuk apa lagi jika tidak digunakan untuk terbang menjelajah kesana kemari, ujarnya. Belajar dan terus bertumbuh katanya. Bertemu dengan hal-hal menakjubkan, meluaskan pikiran, melapangkan hati.

Namun langkahnya terhenti oleh kesadarannya sendiri. Waktuku telah habis, saat ini aku tinggal menunggu seseorang menjemput lalu mengajakku pergi. Kemudian ia menangis lagi. Namun kapankah waktu itu akan tiba? Sedangkan, aku ingin sekali segera terbang menuju surga. Mendengarkan nasehat-nasehatnya, berada didekatnya, menjaga dan mematuhinya. Karena aku yakin, ia datang untuk mengajakku menuju surga.

Benar adanya jika waktu tidak pernah mentolerir. Benar adanya jika waktunya semakin habis. Namun seseorang yang akan datang, bisakah ia pastikan jika itu bukan malaikat pencabut nyawa(?)

Dengan inilah, pintu hatinya harus didobrak. Buat rusak sekalipun. Untuk menyadarkan bahwa….

Ternyata ia melupakan satu hal, bahwa jauh disana. Di sebuah tempat yang selalu ia katakan “there is no place like home” ada surga yang senantiasa terbuka. Menunggunya mengirim do’a, menunggunya mengirim kabar. Tidak lebih dari itu. Padahal surga itu selalu dekat. Dekat sekali sedekat kesadarannya, sedekat ketika ia mampu berfikir dengan baik.

Lalu, perempuan itu mengusap pipinya. Menyeka matanya yang kian sembab. Ia bangkit, ia gunakan sayap lebarnya untuk terbang ke sebuah tempat. Dimana ia tidak pernah menemukan keadaan apapun selain penerimaan yang luas. Surga kecil didunia. Keluarga.

*Untuk seorang perempuan yang saya kagumi kedewasaannya. Kedewasaan yang ia pupuk dengan susah dan payah. Kedewasaan yang mengantarkannya pada hati yang terus berusaha menjadi baik. Semoga senantiasa dijaga olehNya

alvinareana, 30082016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s