Porsi Milik Kita

​Semakin kesini saya semakin mengerti bahwa sesungguhnya Allah benar-benanr menghadirkan apasaja yang ada disekitar kita sebagai wasilah. Perantara yang akan menyampaikan dengan jelas apa yang sebenarnya Allah kehendaki.

Beberapa hari terahir, saya sering sekali menemui hal2 yang membuat saya tersadar. Seolah-olah perantara tersebut sunggu dihadirkan memang untuk membuat saya mengerti bahwa Allah seadil ini menentukan hidup setiap makhluknya.

Kemudian, keesokan harinya saya dipertemukan dengan beberapa case kronologi bagaimana orang melewati fase penting dalam hidupnya. Melewati ujian ini dan itu. Namun ada pula yang tiba-tiba saja memberi kabar baik yang telah dikehendaki Allah. Semua orang memiliki fasenya masing-masing. Semua orang memiliki masanya masing-masing sesuai kadar dirinya. Tidak kurang tidak lebih. Karna Allah sudah menakdirkan demikian.

Tidak bisa lantas kita membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. Tidak bisa lantas kita merasa kok hidup kita begini ya, mereka saja bisa begitu. Tidak bisa. Manusia memiliki fase pencapaian sendiri-sendiri.

Maka Umar bin Khatab berkata : Aku merasa tenang karena apa yang menjadi takdirku, tidak akan menjadi milik orang lain. Pun apa yang menjadi milik orang lain, tidak akan pernah menjadi takdirku.

Maka haruskah kita menggerutu sebab-sebab mengapa fase hidup kita berbeda daripada orang lain yang lebih cepat sampai misalnya, lebih cepat dipertemukan misalnya, lebih dan lebih yang lain. Sesungguhnya Allah memiliki takdir dengan sebaik2nya takdir sesuai porsi kita masing-masing.

Jika kita belum dihadirkan pada yang menjadi harapan kita, mungkin Allah masih ingin mendengarkan do’a2 kita. Allah masih ingin melihat usaha2 kita. Allah masih ingin mengetahui apa saja yang kita upayakan untuk mendekatiNya.

Semakin kesini saya semakin faham bahwa Allah telah memberi saya ruang untuk berupaya atas apa yang disebut harapan dan ujian. Ada kebahagiaan ada pula ujian kebahagiaan. Bukankah Allah tegas mengingatkan, ” tidak dibiarkan bagi hambanya yang mengakui beriman sampai ia diuji”

Ujian pun bentuk kasih sayang yang Allah berikan pada tiap-tiap makhluknya. Bisa berupa ujian waktu, ujian kedewasaan, ujian pemikiran dan masih banyak bentuk ujian lainnya.

Kita hanya perlu mengupayakan terus sesuai dengan apa yang kita mampu. Jangan boleh kendor. Jangan dibiarkan lalai. Usahakan terus, urusan hasil. Sudah ada yang mengatur 🙂

Mari kita berdo’a lagi, ya Allah buatlah aku rela dengan takdirmu. Sehingga aku tidak meminta dipercepat apa yang sedang Kau tunda dan tidak tidak minta menunda apa yang Kau percepat (Do’a Umar bin Abdul Aziz)

Di pagi buta terbangun, lalu mata sulit kembali untuk diistirahtakan. 02.22 27 Agustus 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s