Opini tentang Pendidikan

Terhitung duapuluh hari saya berganti profesi menjadi seorang pendidik merangkap seorang freelance designer *wkwk* yang ini mah dasar lagi nganggur. But, i loved it so much!

Tentang bagaimana proses sebelumnya, nanti kapan-kapan akan saya post pasti 😀

Yang mau saya bahas disini masih seputar pendidikan.

Ada satu nasehat “Didiklah anak-anak sesuai jamannya, bukan jamanmu”

Mengenal dunia anak bagi saya selalu menyenangkan. Selalu ada transfer energi yang tidak pernah saya duga. Ketika orang dewasa sibuk sekali dengan urusan mengejar jam kerja. Anak-anak selalu santai dengan hidup mereka, seakan-akan dunianya hanya terus untuk bermain.

Disini saya menemukan banyak sekali paradigma baru. Mengerti sedikit-demi-sedikit bagaimana sebetulnya dunia pendidikan itu berjalan. Terlepas dari saya sendiri yang menjadi siswa/pelajar.

Namun yang perlu digaris bawahi, sejatinya mereka yang benar-benar merasa bahwa dunia pendidikan adalah dunianya dan mereka sungguh mengerti apa yang akan mereka hasilkan adalah apa yang mereka tanam. Tidak ada anak yang tidak bisa melakukan apa-apa, tidak ada anak yang tidak pintar, tidak ada anak yang nakal dan seabrek konotasi negatif lainnya.

Sewaktu saya bertanya dengan seorang sahabat yang kebetulan ia telah memulai karirnya di dunia pendidikan lebih dulu dari saya. Ia menasehati untuk menghadapi anak-anak hanya ada dua pilihan yaitu dengan keras atau dengan lembut. Maka gunakanlah dengan sebaik-baiknya.

Anak jaman sekarang adalah generasi digital. Generasi instan. Generasi metropolitan. Generasi era baru. Mereka memiliki banyak sekali ilmu dari sekitar. Bukan lagi seperti jaman cilik saya yang saat itu merasakan datangnya teknologi internet saya harus bersepeda 5km untuk merasakan bagaimana menjelajah di dunia maya. Bagi anak-anak masa kini, dunia maya hanya tinggal satu sentuhan maka mereka bisa menjelajah kemana saja perginya.

Tantangan orangtua dan pendidik semakin tinggi seiring anak-anak semakin canggih. Untuk mendapat panen yang baik pun bibit yang ditanam harus baik. Hanya saja berbeda jika kita menanam tumbuhan maka penanam lah yang proaktif untuk membuatnya terus bertumbuh. Berbeda dengan anak-anak. Menumbuhkan mereka di era saat ini perlu didukung oleh dua pihak. Sama-sama belajar. Tidak bisa jika hanya one-way. Harus keduanya.

Dari beberapa jenis anak yang saya ajar dikelas. Orangtua adalah peran pembentuk kepribadian anak yang sangat berpengaruh untuk menjadikan mereka siap memasuki dunia sekolah. Pendidikan yang diberikan oleh orangtua adalah bekal mereka untuk mengerti suasana lain selain suasana rumah. Maka ketika, orangtua menganggap tugas mendidik anak hanyalah tugas guru ketika anak sudah masuk sekolah, maka saya akan menemui anak-anak yang …. katakanlah, mereka takut dengan tantangan zaman. Mereka akan menuntut untuk selalu di awasi dan sikap-sikap skeptis lainnya.

Sepertinya ini akan sangat panjang, tapi godokan kalimat saya mulai menipis wkwk.

Intinya, mari kita sama-sama sadar akan betapa pentingnya anak-anak. Ketika kita melihat dunia ini semakin gelap, dari anak-anak lah kita bisa berharap terang itu datang. Lain waktu, kita perlu berdiskusi lebih panjang lagi (kita = saya dan pikiran XD). Selamat hari Rabu!

Salam, alvinareana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s