Bapak

Backsong : Ayah –  Ebiet G.Ade

Pagi ini drama mulai lagi, setelah beberapa menit saya menutup telfon dari bapak. Betapa banyak episod sedari saya kecil berputar-putar dengan mode time laps dikepala. Sewaktu kecil, saya tumbuh dalam kondisi yang bisa dibilang tidak terlalu dekat dengan orang tua. Pagi sebelum saya bangun tidur ibuk dan bapak sudah berangkat. Ketika pulang, saya sudah kembali tidur. Memasuki dunia sekolah, saya hanya bertemu bapak di saat weekend , malam hari itupun ketika bapak tidak ada proyek diluar kota dan pagi hari ketika berangkat sekolah. Bertemu ibuk, sore hari dan beliau selalu menemani malam-malam saya mengerjakan tugas sekolah. Hingga kelas 3 SD, adik pun lahir. Di titik itulah sedikit demi sedikit ibuk mengajarkan pada saya untuk menjadi dewasa lebih cepat. Namun itu semua tidak membuat saya lantas jauh dari orangtua. Ketika masuk dunia perkuliahan, yang pada saat itu bapak harus terpaksa bekerja di Malay untuk membiayai kuliah saya. Maka kami berempat sangat terbiasa berkomunikasi via Skype. Dari situlah awal mula saya menjadi sangat dekat dengan orangtua. Hingga hal sekecil apapun saya ceritakan pada ibuk dan sesekali pada bapak. Saya ingat betul, Bapak sering membiasakan saya untuk berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Bapak selalu mengajarkan saya hal-hal yang tidak difikirkan oleh orang-orang pada umumnya. Bapak selalu mendidik saya dengan hal-hal yang seringkali tidak saya mengerti namun ketika saya harus diam dan menyadari bahwa tidak lain tidak bukan, keinginan bapak hanya melihat saya menjadi sebaik-baiknya manusia *pun ketika menulis ini*

Semakin saya tumbuh dewasa, jarak yang tercipta dengan bapak semakin terlihat. Namun bapak tidak pernah tidak menegur dengan guyonan di sela-sela keseriusannya, bapak selalu punya cara-cara lain yang membuat anak-anaknya tumbuh dengan bijak.

Sulit sekali menerka dibatas mana bapak akan begitu cemburu ketika anaknya mendapati seseorang laki-laki lain selain dirinya, sulit sekali membaca perasaan bapak dibatas mana bapak akan tercekat perkataannya ketika mendengar anaknya bercerita tentang laki-laki lain selain dirinya. Kali ini sungguh, mata saya tidak berhenti memainkan drama.

alvinareana, 250716

aabbb

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s