[Ramadhan 08] Pertanyaan Seorang Perempuan

Seorang perempuan pernah bertanya, “Mengapa mereka mudah sekali mengatakan cinta — yang pada akhirnya mereka tidak bahagia?”
“Itulah cinta, ia jatuh tiba-tiba, tanpa diduga, tanpa disangka, ia jatuh tanpa sengaja pada hati yang sudah lama ia damba”
Baik, akupun sampai sekarang belum bisa mendefinisikan apapun. Jadi, bolehlah kau beri tahu aku, supaya aku tak lagi bertanya: “Apa itu cinta? Benarkah kita pasti mencinta jodoh kita?”

Aku tahu. Dalam agamaku Tuhan telah berfirman tentang manusia yang berpasang-pasang, baik untuk yang baik, dan sebaliknya. Apakah aku tidak percaya? Tidak. Aku percaya.
Tapi boleh kan, aku tetap bertanya, “Bagaimana kita tahu orang yang kita cinta adalah orang yang sama ditakdirkan Tuhan untuk menjadi jodoh kita?”
Bukan kali pertama aku mendengar kegagalan percintaan menuju pelaminan, kandas di ujung jalan, berujung pertikaian, bahkan ada yang tanpa komitmen sekalipun. Tapi kau tahu? Aku tidak menaruh perhatian pada kegagalan mereka, aku terfikir pada keyakinan dan keberanian mereka untuk memulai tanpa tahu akhirnya ada di mana.
Ya. Dan aku juga tahu dalam agamaku Tuhan melarang pacaran, teman dekat atau apapun istilahnya. Bolehlah kau katakan dan aku melabeli diriku dengan sebuah pernyataan “aku melanggarnya dan terdamparlah aku kembali pada sekelumit pertanyaan” — yang lagi lagi enggan berhenti menghantui.
Kau tahu kan, perceraian? Mereka gagal mempertahankan ataukah salah dalam mencinta orang yang bukan jodohnya? Sedang bagaimana bisa mereka yakin mengakhiri seyakin mereka memulai?
Pertanyaan perempuan tadi kembali mengusik, dan aku belum sempat
menjawabnya. Semoga tulisan ini kau baca karena aku berhutang jawaban padamu.

Hati adalah wadah, Cinta adalah benih, Laku adalah pohon, Itukah kau, cinta?
Aku tidak bisa menjawab wahai, perempuan cantik. Aku sendiri kebingungan. Hati bukanlah logika, Ia tidak mengerti namun merasa,
Hati tidak mendewasa, Apalagi dalam cinta, Ia jatuh kapan saja, di mana saja, tanpa mengapa,

Tapi aku ada sedikit percakapan

Sujiwo Tejo : menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kau bisa berencana menikahi siapa, tapi tak bisa kau rencanakan cintamu untuk siapa.
Aku : jika benar menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Maka Tuhan, jangan biarkan aku mencintai seseorang yang tidak dinasibkan menikah denganku kelak.

— sebuah percakapan dengan seorang teman

Berikut adalah hasil reblog dari tumblr berabad-abad silam. Saya angkat kembali karena kemarin dalam sebuah forum diskusi whatsapp, kami membicarakan mengenai tren masa kini. Obrolan apapun akan berujung pada topik “nikah”.

Saya tidak mengiyakan pun tidak menolak. Karena wajar bagi saya, karena teman seperjuangan pun sudah banyak yang menyempurnakan separuh agamanya. Namun bukan ini yang ingin saya garis bawahi.

Mengapa begitu mudah mengucapkan , “nikah saja” sedangkan perjanjian dibalik itu semua tidaklah ringan. Arsy bergetar ketika seorang anak manusia mengucapkan janji mitsaqan ghalidza. Beribu malaikat turun mendo’akan. Ibu bapak menangis melepaskan anak-anaknya.

Melihat banyak sekali, fenomena cerai dengan balita korbannya. Ironis kan? Disaat banyak sekali kajian, seminar-seminar parenting, seminar pranikah pun banyak sekali kasus demikian.

Nikah bukan main-main. Nikah tidak pernah sebercanda itu.

😀 dari yang gemas, mendengar banyak pernyataan semacam itu.

alvinareana, 08 Romadhon 1437H, 130616

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s