[Ramadhan 19] Istiqomah

Saya tertampar akan nasehat ini “Allah lebih menyukai yang sedikit, namun terus dilakukan. Daripada banyak namun hanya sesekali dilakukan”

Pada halaman depan, buku saku saya terdapat beberapa list pencapaian yang harus saya upayakan selama Romadhon tahun ini, salah satunya adalah satu tulisan setiap hari.

Namun pada kenyataannya, saya tidak mampu seistiqomah itu. Dengan atau tanpa dalih sakit dan lain sebagainya. Memang untuk mencapai sebuah titik balik refleksi kebaikan yang ajeg, nyatanya tidak semudah yang diucapkan atau hanya ada diangan-angan.

Lalu saya berfikir, apakah jika begini, maka Allah belum memberi amanah atau ujian yang skalanya lebih besar lagi karena dengan hal kecil saja saya belum bisa mengatasi dengan baik. Saya tidak ingin pikiran ini terus berkembang dalam bentuk suudzon, justru adanya pikiran ini membuat saya semakin berfikir bahwa jika kamu masih saja berkutat dengan masalah yang sama itu artinya, kamu belum bertumbuh. Level dirimu masih belum naik.

Saya iya’kan statement tersebut. Harus ada yang saya koreksi kembali bentuk-bentuk lalai.

Saya belum berani memberikan punishment, jika saya meninggalkan urusan a, urusan b, untuk lebih mendahulukan yang lain misalnya.

Tapi Allah Maha Baik, Allah justru menunjukkan banyak sekali orang diluar sana yang terus berbuat kebaikan padahal urusan mereka tidak hanya satu dua itu itu saja. Hanya saya yang terus saja skip dan merasa abai mengenai pemahaman bahwa tidak ada manusia yang tidak diberi ujian apapun oleh Allah, termasuk ujian istiqomah.

Jika saja seorang ibu, tidak istiqomah dalam menjalankan urusan dalam rumah tangganya akan seperti apa jadinya?
Jika saja seorang bapak, tidak istiqomah dalam menjalankan kewajibannya mencari nafkah akan seperti apa jadinya?

Saya rasa, memang semua harus diawali dengan sesuatu yang sedikit dan terus-menerus dilakukan. Toh batu akan terkikis pelan-pelan dengan tetesan air hujan.
Mari saling mengingatkan 🙂

alvinareana, 19 Romadhon 1437H 200616

[Ramadhan 08] Pertanyaan Seorang Perempuan

Seorang perempuan pernah bertanya, “Mengapa mereka mudah sekali mengatakan cinta — yang pada akhirnya mereka tidak bahagia?”
“Itulah cinta, ia jatuh tiba-tiba, tanpa diduga, tanpa disangka, ia jatuh tanpa sengaja pada hati yang sudah lama ia damba”
Baik, akupun sampai sekarang belum bisa mendefinisikan apapun. Jadi, bolehlah kau beri tahu aku, supaya aku tak lagi bertanya: “Apa itu cinta? Benarkah kita pasti mencinta jodoh kita?”

Aku tahu. Dalam agamaku Tuhan telah berfirman tentang manusia yang berpasang-pasang, baik untuk yang baik, dan sebaliknya. Apakah aku tidak percaya? Tidak. Aku percaya.
Tapi boleh kan, aku tetap bertanya, “Bagaimana kita tahu orang yang kita cinta adalah orang yang sama ditakdirkan Tuhan untuk menjadi jodoh kita?”
Bukan kali pertama aku mendengar kegagalan percintaan menuju pelaminan, kandas di ujung jalan, berujung pertikaian, bahkan ada yang tanpa komitmen sekalipun. Tapi kau tahu? Aku tidak menaruh perhatian pada kegagalan mereka, aku terfikir pada keyakinan dan keberanian mereka untuk memulai tanpa tahu akhirnya ada di mana.
Ya. Dan aku juga tahu dalam agamaku Tuhan melarang pacaran, teman dekat atau apapun istilahnya. Bolehlah kau katakan dan aku melabeli diriku dengan sebuah pernyataan “aku melanggarnya dan terdamparlah aku kembali pada sekelumit pertanyaan” — yang lagi lagi enggan berhenti menghantui.
Kau tahu kan, perceraian? Mereka gagal mempertahankan ataukah salah dalam mencinta orang yang bukan jodohnya? Sedang bagaimana bisa mereka yakin mengakhiri seyakin mereka memulai?
Pertanyaan perempuan tadi kembali mengusik, dan aku belum sempat
menjawabnya. Semoga tulisan ini kau baca karena aku berhutang jawaban padamu.

Hati adalah wadah, Cinta adalah benih, Laku adalah pohon, Itukah kau, cinta?
Aku tidak bisa menjawab wahai, perempuan cantik. Aku sendiri kebingungan. Hati bukanlah logika, Ia tidak mengerti namun merasa,
Hati tidak mendewasa, Apalagi dalam cinta, Ia jatuh kapan saja, di mana saja, tanpa mengapa,

Tapi aku ada sedikit percakapan

Sujiwo Tejo : menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kau bisa berencana menikahi siapa, tapi tak bisa kau rencanakan cintamu untuk siapa.
Aku : jika benar menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Maka Tuhan, jangan biarkan aku mencintai seseorang yang tidak dinasibkan menikah denganku kelak.

— sebuah percakapan dengan seorang teman

Berikut adalah hasil reblog dari tumblr berabad-abad silam. Saya angkat kembali karena kemarin dalam sebuah forum diskusi whatsapp, kami membicarakan mengenai tren masa kini. Obrolan apapun akan berujung pada topik “nikah”.

Saya tidak mengiyakan pun tidak menolak. Karena wajar bagi saya, karena teman seperjuangan pun sudah banyak yang menyempurnakan separuh agamanya. Namun bukan ini yang ingin saya garis bawahi.

Mengapa begitu mudah mengucapkan , “nikah saja” sedangkan perjanjian dibalik itu semua tidaklah ringan. Arsy bergetar ketika seorang anak manusia mengucapkan janji mitsaqan ghalidza. Beribu malaikat turun mendo’akan. Ibu bapak menangis melepaskan anak-anaknya.

Melihat banyak sekali, fenomena cerai dengan balita korbannya. Ironis kan? Disaat banyak sekali kajian, seminar-seminar parenting, seminar pranikah pun banyak sekali kasus demikian.

Nikah bukan main-main. Nikah tidak pernah sebercanda itu.

😀 dari yang gemas, mendengar banyak pernyataan semacam itu.

alvinareana, 08 Romadhon 1437H, 130616

[Ramadhan 07] Rasa Cukup

Ada yang ingin terus bercahaya seperti matahari. Menjadi satu-satunya pusat energi cahaya yang diakui seantero jagat. Namun ia lupa bahkan manusia tak mampu melihat matahari dengan mata telanjang

Semakin usia menambahkan jumlahnya, yang sejatinya jatah hidup di dunia ini semakin berkurang. Saya merenungi satu hal setelah mengamati banyak orang ‘dewasa’ dalam artikata bukan hanya umurnya yang mendewasa namun juga sikap dan kepribadiannya.

Ketika ego bukan lagi alasan untuk menghalangi banyak hal dilakukan. Satu hal yang ingin menjadi patokan selama menjalani aktifitas sehari-hari, yaitu rasa cukup!

Sering kita mendengar bahwa seberapapun banyaknya materiil yang kita punya, jika kita tidak pernah merasa cukup dia memang hanya akan menjadi bumerang. Pun seberapapun banyaknya hal-hal bersifat keduniawian yang kita agung-agungkan dan tidak pernah merasa cukup.. maka semuanya hanya akan menjadi bumerang bagi kehidupan.

Lhawong asline, urip mung mampir ngombe (re : Lhawong hidup cuma mampir minum)

Seringkali saya menemui, bahkan saya kecil pernah mengalami hal yang sama. Ketika puasa kita akan memiliki banyak sekali angan-angan untuk menu berbuka. Melihat jajaran kampung ramadhan yang menjajakan segala jenis ta’jil dan menu makanan. Syerakah 😦 astgahfirullah

Namun semakin kesini, kita akan semakin diberi pemahaman oleh Allah seiring waktu bahwa segala sesuatu yang berlebihan akan menghasilkan yang tidak baik. Maka cukupkanlah.

Seringkali saya menemui, bahkan saya pernah seperti itu. Ketika puasa romadhon menjadi alasan untuk berlama-lama tidur karena alih-alih tidur=ibadah. Namun sekarang ketika menjadi tidak produktif, saya sering merasa kesal sendiri. Menggerutu disana-sini.

Semua itu tidak bukan karena kita semakin paham bahwa segala sesuatunya perlu dicukupkan. Umur kita yang semakin mendewasa pun akan menyadari bahwa untuk bermain-main, untuk membuang-buang waktu adalah hal yang harus dicukupkan.

Maka dari itu, mari kita koreksi pelan-pelan. Mana yang perlu kita prioritaskan untuk dicukupkan, karena semua sudah ada porsinya.

alvinareana, 07 Romadhon 1437H, 120616

[Ramadhan 06] Ujian Kebaikan

Pagi hari ini campaign yang saya pasang semalam di kitabisa.com mengenai THR untuk sepasang pedagang tunanetra sudah berhasil live. Broadcast message juga sudah saya lakukan, ke banyak grup-grup messenger. Namun saya merasakan sesuatu yang ganjil. Terus berusaha untuk husnudzon dan banyak beristighfar, saya mengalihkan perhatian dari pikiran-pikiran negatif.

Malam hari saya putuskan untuk menelepon ibuk. Setelah panjang lebar saya bercerita hanya berikut tanggapan ibuk ;

Wong arep berbuat apik kui mesti enek ujiane, sing sabar, sing kuat sing semangat

(Orang mau berbuat hal baik itu pasti ada ujiannya, yang sabar yang kuat yang semangat)

Saya takut dzholim pada donatur – donatur, saya takut kalau menurut pandangan si A dan si B atau si C, Pak Sandi dan Bu Cuplik tidak layak mendapat donasi tersebut. Masih ada yang lebih perlu dibantu dan masih banyak tanggapan sejenis lainnya.

Banyak sekali kemungkinan-kemungkinan jahat yang saya takutkan. Tapi ketika saya mengingat ucapan ibuk, lagi-lagi niat saya luruskan seperti semula. Urusan bagaimana jadinya nanti, biar Allah yang mengukur dan menentukan *masih mencoba menenangkan diri* :’D

Hidup untuk menghidupkan. Dalam skup pemikiran seorang muslim yang telah dikaruniai akal pikiran oleh Allah, selayaknya saya harus terus berkembang untuk menghidupkan kehidupan. Khoirunnas anfauhum linnas

alvinareana, 06 Romadhon 1437H, 110616

[Ramadhan 05] Membersamai Bertumbuh

Tidak biasanya sms yang saya kirim ke Adik tidak dibalas hingga berhari-hari. Setidaknya via sms saja, dia masih mau menanggapi. Meskipun hanya dengan jawaban singkat. Namun tipikalnya yang cuek tidak membuat saya begitu kaget dengan responnya.

Rasa khawatir terhadap pergaulan dan lingkungan tetap saja muncul. Ditambah dengan, pekan kemarin saya mengunjungi kampung tempat melaksanakan pengabdian masyarakat 3 tahun silam. Menempati sebuah rumah dengan keluarga kecil ; ibu bapak, dan dua adikkecil. Cukup membuat saya selalu betah ‘pulang’ kesana meskipun harus ditempuh dengan perjalanan 2 jam normal dan jalan berliku pegunungan. Tapi itu justru menjadi daya tarik saya untuk tidak melupakan mereka.

Di suatu pagi menjelang siang, ketika adik-adik sepulang sekolah mereka memutuskan mengajak obrol saya seputar kegiatan saat ini dan bermain-main bergelayutan di tangan dan kaki *abaikan* Namun si bungsu tiba-tiba berseru “Mbak, dik Rista mau nonton TV dulu ya” saya biarkan ia berlari menuju ruang tengah kemudian si kakak menimpali dengan “Adik lho saiki seneng lihat e India mbak” Saya menanggapinya dengan heran “Kok bisa?”

Dari ruang depan saya memanggil Rista dengan suara setengah keras “Dik Rista main lagi yuk sini”
Kalian tau apa jawabannya? “Ndak mau mbak, lihat ini lho seru” -_____-

Saya semakin bingung, anak sekecil itu sudah kecanduan tayangan-tayangan televisi yang entah dibagian mana edukasi yang bisa ia dapatkan. Saya beristighfar sembari tersenyum menghampiri Rista. “Dik, ayo nonton kartun aja di laptop mbak. Pasti belum nonton ini” bujuk saya padanya

“Film kartun opo to mbak?” “Cobak tak delok e disik (Coba saya lihatnya dulu)”

Alhamdulillah Tita dan Rista akhirnya menuruti ajakan saya. Sambil geleng-geleng kepala, saya memikirkan bagaimana nasib anak-anak kedepannya?
Ketika tayangan-tayangan televisi tidak lagi bermutu, pengaruh internet dan media sosial sudah semakin merajalela. Orang tua harus benar-benar mampu menjadi kawan bagi mereka untuk terus membersamai mereka bertumbuh. Sedikit saja lengah, pengaruh yang dihasilkan sangat akan berhasil membentuk kepribadian mereka.

Lalu pertanyaan saya (kepada diri sendiri)–

Sudah bisakah saya menjadi kawan, teman, sahabat bagi anak-anak?
Bisakah saya menjadi anak-anak kembali untuk tahu mereka harus dibersamai dengan cara seperti anak-anak pula.

Semoga kita sama-sama peduli masa depan bangsa, ada ditangan mereka.

alvinareana, 05 Romadhon 1437H, 100616

[Ramadhan 04] Berjuang Baik

Aku ingat, dia punya banyak sekali mimpi sewaktu kecil

Aku ingin seperti ini dan itu, ujarnya

Kemudian ia semakin mengerti bahwa untuk menjadi ini dan itu memerlukan perjuangan yang tidak sederhana

Dini hari, ia bercerita padaku. Perjuangan seorang anak tidak pernah lepas dari perjuangan orang tuanya. Kini ia telah beranjak dewasa. Sudah banyak rasa yang ia lalui.

Langkahnya sudah jauh, tapi entah dengan hatinya. Semoga telah benar-benar mendewasa seperti aku mengenalnya saat ini.

Ia hanya bercerita ;

Aku belum pernah menemui, seorang anak yang berjuang baik sendirian. Dibalik keberhasilannya pasti ada orang tua yang mendukung. Pasti ada orang tua yang memberi pundak di setiap lelahnya. Pasti ada orang tua yang siap menemani ketika ia menangis.

Tapi, tidak semua anak bisa meminta orang tua seperti apa yang melahirkannya. Seperti yang ia harapkan atau tidak. Akan menemaninya berjuang atau tidak. Bagaimana cara memperjuangkan dirinya.

Yang aku tahu, aku belum pernah mengetahui bentuk perjuangan orang tuaku untuk menjadi baik. Kecuali dalam bentuk materi. Mereka berusaha memenuhi setiap jengkal penghidupanku. Tapi bukan batinku.

Selesai mengatakan itu, ia diam. Ia tidak menangis. Tetapi ada yang tertahan di balik bola matanya. Sepi. Sepi yang paling tepi. Sepi yang belum pernah hadir dalam kehidupanku.

Aku mengenalnya sebagai teman baik, saat kami memasuki masa kuliah, ia teman sebangkuku. Beberapa hari yang lalu, ia mengakui tentang masa lalunya padaku. Penerimaan ternyata memang tidak mudah. Aku pernah kecewa dengan masa lalunya. Pernah pergi dan tidak menganggapnya lagi akan menjadi baik.

Namun, melihatnya berdiri tegar dan berlari sejauh ini. Menjadi baik dan terus menjadi baik. Aku percaya. Dia sungguh-sungguh berjuang.

Yang sering ia katakan “Aku tidak akan membiarkan orang-orang disekitarku merasakan hal yang sama. Aku akan berusaha, tidak membiarkan kebaikan berjuang seorang diri :)”

Dalam fiksi. alvinareana, 04 Romadhon 1437H, 090616

[Ramadhan 03] Tabayyun

Pagi hari ini di salah satu grup whatsapp sedang ramai membahas ada sebuah sepeda motor yang mengalami pecah lampu belakang, parah dan tanpa sebab.

Informasi yang dikumpulkan pun setengah-setengah. Memang mustahil jika dilakukan oleh manusia, pasalnya ada salah seorang yang mendengar suara keras yang diduga bermula dari motor tersebut pada pukul 1 dini hari.

Saya hanya mengikuti perkembangan sebatas dari grup, karena tidak tau menau kondisi di tkp sekarang seperti apa. Namun saya menjadi berfikir panjang sekali dengan adanya kejadian ini.

Dibuatlah sebuah permisalan.

Jika yang sedang dibahas ini merupakan berita yang mengandung unsur negatif, namun redaksi belum lengkap. Bukankah sebaiknya kita tidak menjadi perantara penyebar berita burung yang belum jelas kronologisnya. Kita perlu berhati-hati pada titik ini. Karena tidak semua penerima berita adalah orang yang selektif dalam menerima. Tidak semua memiliki kemampuan filtering yang bagus.

Saya tiba-tiba merinding, kalau-kalau yang dibahas tersebut adalah diri saya atau saya terlibat dalam pencampuran kata demi kalimat dalam berita yang belum jelas kabarnya itu. Dari huruf-huruf yang ditambah dan dikurangi sudah berapa persen dosa yang saya tabung? Naudzubillah
Pun jika apa yang saya katakan atau pendapat yang saya ungkapkan mempengaruhi pendengar yang kemudian menjadikan dirinya sepemahaman dengan saya 😦
Tidak hanya meracuni diri sendiri tapi juga orang lain yang bisa jadi ia tidak tau urusan serumit apa ini.

Jika perkataan bisa sebegitu tajamnya, tidak luput dengan tulisan pula kan?

Maka dengan tulisan dan reminder ini, saya memohon maaf atas segala yang pernah saya katakan atau tuliskan. Jika ada yang mengandung unsur yang bisa menciptakan benih-benih dzolim dan sejenisnya. Semoga kita senantiasa diberikan ridho Allah dalam setiap langkah.

Mari kita tabayyun dengan apa saja yang bukan menjadi kuasa kita. Mari terus mengkoreksi diri.

Selamat menjalankan ibadah puasa.

alvinareana, 03 Romadhon 1437 H. 080616