Sekolah di Rahim Ibu

Rasulullah pernah bersabda, “jika seorang perempuan hamil, maka kedudukannya seperti kedudukan orang yang berpuasa, shalat malam, dan berjuang di jalan Allah dengan diri dan hartanya. Jika ia melahirkan, maka pahalanya tak dapat diketahui oleh seorang pun karena begitu besarnya. Jika ia menyusui, maka setiap tetes air susu yang dihisap oleh anaknya seperti memerdekakan orang merdeka dari keturunan Nabi Ismail as. Jika ia menyapihnya, malikat yang mulia mengepakkan sayapnya sambil berkata, ‘perbaruilah amalmu, dosamu telah diampuni’”

Mendekati bulan-bulan Syawal berita yang setiap minggunya terdengar adalah teman seperjuangan dan seangkatan menggenapkan separuh agamanya. Pun mulai banyak yang telah dipersiapkan Allah untuk dipanggil “ammah” 🙂

Entah pergolakan batin macam apa yang sedang mereka rasakan saat ini. Amanah yang dipikulnya tidak hanya lagi tentang tanggung jawab menjaga dirinya namun telah bertambah kondisi menjaga suami dan sebagian telah diamanahi untuk menjaga mahkluk kecil titipan-Nya. Mengamati mereka sama seperti mengamati laku kehidupan yang semesta gambarkan setiap detiknya. Sedang ditempa oleh semesta, dididik untuk dilahirkan kembali menjadi sosok yang baru.

Mendengar cerita salah satu teman saya perihal kehamilannya, hidup tidak pernah ada yang sia-sia karena proses penciptaan tidak terjadi begitu saja. Penghargaan akan hidup semakin terasa dekat karena ia merasakan sendiri ada yang sedang bergerak-gerak memaknai hidup didalam jiwa dan tubuhnya. Naluri yang dirasakan dengan ikatan ibunya seperti satu kesatuan. Kepada ibunya lah ia berhutang nyawa.

Dalam sebuah blog yang saya baca, milik teh Urfa . Saya begitu merinding ketika beliau bisa menceritakan secara detil kronologis kehamilan mulai dari tri semester pertama hingga tri semester ketiga pun dengan detik-detik menjelang kelahiran.

Berhubung, hingga saat ini lingkungan begitu mendukung adanya diskusi, chit-chat atau bahkan hanya sekedar celetukan tentang kehidupan pasca kampus. Maka urusan-urusan pembahasan seperti ini menjadi sangatlah biasa. Sering yang tidak (mau) terbayangkan adalah zaman yang akan terjadi pada masa anak-anak saya nantinya. Ketika dunia ini menjadi semakin canggih dan semoga mendewasa.

Terlepas dari itu semua, tidak pernah ada batasan dalam belajar untuk menjadi seorang ibu 🙂

Bismillah untuk semua para ammah dan calon ammah.

Tulisan awal 10 Oktober 2014.

Kemudian dengan sedikit revisi, 30 Mei 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s