Catatan dari Bunda Septi

Assalamu’alaikum.

Ada yang belum kenal dengan Bunda Septi Peni?

Bunda Septi Peni adalah Founder Ibu Profesional. Alhamdulillah pisaaan pokoknya, jadi panitian BLFIM kemarin bisa ngobrol banyak sama bunda. Tentunya banyak juga catatan yang bisa disimpen buat note pribadi. Siap-siap lah yaa :p

Anyway, meskipun catatan saya sedikit. Tapi sungguh, dengan catatan ini justru diri saya sendiri bisa membangun ingatan tentang bagaimana ketika Bunda memaparkan langsung.

Monggo disimak yang sedikit ini, saya buat poin2 yaa..

 

  • Membangun peradaban di dalam rumah tangga adalah dimulai dari seorang ibu
  • Keluarga haruslah mengerti arah tujuan hidup bersama, menjadi tim dalam rumah tangga
  • Membuat laboratorium rumah tangga, untuk membuat progres apa saja yang diperlukan untuk menunjang terbentuknya rumah tangga yang ideal
  • Membuat family strategic planning yang dibuat dalam kurun waktu dalam satu tahun sekali. Dalam kasus ini, Bunda Septi dan keluarga selalu membuat planning untuk satu tahun kedepan begitu seterusnya. Plan tersebut harus benar-benar dijalankan, agar keluarga mampu mengukur sejauh mana kemampuan mereka dalam menghadai masalah.
  • Miliki komitmen diri, selama apa yang kita jalankan itu menaikkan iman, maka jalankan
  • Dalam keluarga bangun mental kaya. Mental kaya adalah tangannya selalu diatas, bukan dibawah. Mental kaya adalah yang selalu bersyukur dan tidak mengeluh. Maka wajib bagi para ibu untuk menjadikan mental anaknya menjadi kaya.
  • Dalam mendidik anak, tanamkan pada diri sendiri bahwa anak memiliki rizqinya sendiri. Maka rizqi sudah pasti kemuliaan yang dicari, tidak akan ada cerita bahwa orang tua salah mendidik anaknya.
  • Selalu ingat rumus give and given.Urusan amanah kepada banyak orang, uruslah dengan sebaik-baiknya. Maka dunia, akan diurus oleh Allah

 

Bunda Septi bercerita saat mengurus anak-anaknya.

Pada umur 0-2 tahun, menjadi full mother. Dilarang keras menyusui anak-anak dengan melakukan hal yang lain. Apalagi sambil (nyambi-nyambi) sambil melakuka hal yang lain misal, nyusu anak sambil buka-buka hp, dan lain sebagainya.

Pada rentang waktu itu pula anak mulai dikenalkan dengan kedua orangtuanya. Tidak hanya secara dhohir, tapi juga batiniyah. Anak perempuan dekatkan dengan ibunya, anak laki-laki dekat dengan ayahnya.

7-14 tahun mulai disilangkan untuk mengenal. Anak perempuan dikenalkan dengan ayahnya, dan anak laki-lakinya didekatkan dengan ibunya. Agar ketika ia dewasa, dirinya telah mensugesti bahwa tidak ada orang lain selain kedua orang tuanya yang akan menjadi tempat pelarian untuk menceritakan masalahnya.

Sejak dalam kandungan, kenalkan anak-anak ada perjuangan ayah dan ibunya. Sekalipun ketika bekerja.

Menjadi seorang ibu adalah penentu terbentuknya peradaban. Maka ketika sudah menikah, andalah yang mensukseskan anak-anak dan keluarga 🙂

Selamat belajar!

Pusat Pemberdayaan Pemuda dan Olahraga Nasional, Cibubur. 18.05.2016

IMG20160518093038.jpg
Sesi curhat-curhat colongan disela-sela kepanitiaan, bersama Bunda Septi
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s