NTMS

Kemudian, backsound “Pemuda Indonesia” diputar berulang-ulang *nangisbanget* T.T

Ada yang sesak di ulu hati, ada bahagia, ada haru, ada kecewa. Sepagi ini hari Rabu sudah campur aduk.

Beberapa kali postingan saya tentang FIM selalu bertuliskan : Tidak pernah menemukan titik akhir ketika menuliskan tentang mereka.

H – 40 Bukalapak Forum Indonesia Muda, panitia adalah teladan. Dimanapun tempatnya selalu ada viral berita mengenai event yang akan berlangsung insyaaAllah 40 hari lagi. Pagi ini, banyak sekali yang membuat hati saya bergejolak kembali. Mereka tidak pernah henti-hentinya membuat saya terus belajar bertumbuh :”)

Taujih pagi ini yang kami terima langsung dari Kak Ivan Ahda, di Grup Internal FIM 17 adalah

bahwa ketika kita hidup memikirkan orang lain (read : FIM) misalnya, niscaya Allah akan menjamin urusan kita juga. Tidak akan pernah ada kerugian berletih-letihnya kita dalam kepanitiaan. Kita akan saling belajar dan mengingatkan. Bukan tidak mungkin, interaksi kita dalam FIM akan melahirkan banyak kebaikan lainnya : peluang pekerjaan, peningkatan kualitas hidup, bahkan kado pasangan hidup. Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Pastikan dalam hadir-ada-utuhnya kita dalam suatu tempat memberikan kesan dan jejak yang baik, yang sedianya akan memberikan peluang kebaikan yang lain.

Sedikit cerita, ketika sy wawancara beberapa capes kemarin, saya sampaikan secara tegas bahwa saya tidak ingin menemui orang2 yang kelak diterima di FIM adalah orang2 yang begitu menggebu2 ingin masuk FIM, ketika telah masuk FIM malah langsung hilang tak berbekas. Dicari aja sulit, malah cenderung menghindar. Saya katakan kepada orang-orang seperti ini: anda bisa jadi menzhalimi orang2 yang berusaha keras, berdoa harap agar bisa diterima di FIM, dan sudah berpikir mau melakukan apa. Sementara anda malah menghilang setelah dapet apa yang ingin anda idamkan2. Persoalannya bukan karena FIM meminta apa yang (sudah) menjadi haknya, namun FIM hanya ingin diisi oleh orang-orang yang memang mendedikasikan dirinya untuk spreading the good in you. Kami percaya, yang ikut FIM setidaknya ada setitik ilmu yang berbuah jadi amal. Janganlah kita jadi pribadi yang hanya mengeruk setiap celah keuntungan namun lupa untuk berbagi ke sebelahnya, walau hanya sekedarnya. Ini fenomena tiap angkatan memang, dan sy juga meyakini, ibaratnya roda kehidupan; FIM akan terus berputar, dengan atau tanpa kita di dalamnya. Saya hanya ingin menawarkan (kembali) kebaikan ini kepada temen2 semua. Untuk itu, semoga setelah ini, ketika temen2 menerima informasi tawaran kebaikan apapun, bersegeralah menyambut tawaran itu. Kita gak akan pernah tahu kapan kita memiliki kesempatan. Kadangkala kesempatan itu bukan ditunggu, namun diperjuangkan. Seperti kita memperjuangkan kontribusi untuk FIM, inshaAllah selalu akan ada cara. If you want to , you will find the way, if you dont want, you only find excuses.

Saya selalu merinding dan bersyukur, setiap tahunnya selalu mendengar cerita-cerita tentang bagaimana mereka berjuang menyempatkan diri hadir. Walau mungkin harus berjibaku dengan izin cuti, perjuangan mencari ongkos tiket, dsb, hanya untuk hadir sejenak, walau mungkin kehadiran mereka tidak (selalu) diindahkan anak2 FIM lainnya sebab mereka sibuk dengan printilan kepanitiaan. Orang-orang seperti inilah .. mereka percaya dan yakin, membuktikan dalam hidupnya, mereka hanya ingin diri mereka berharga, dan ikut menjadi saksi bagaimana kebaikan demi kebaikan bisa terus bermunculan seperti cendawan di musim jamur. Karena, bukanlah eksistensi yang jd ukuran, namun esensi keberadaan diri mereka.

Sungguh, saya tidak akan menjadi seperti sekarang jika saya tidak bertemu dengan mereka. Maka, ketika saya masih terus bimbang dengan menjadi “Pejuang di Jalan Sunyi” semoga apa-apa yang saya langitkan dan saya usahakan akan berbuah kebaikan nantinya 🙂

Alhamdulillah ya Allah.. terima kasih kak Ivan, terima kasih FIMalang, FIMers dan FIM 17 ❤

Dari yang selalu sayang, remah rengginang. Malang, 06041

Capture

 

Al Israa : 7

Assalamu’alaikum.

Seminggu terakhir saya mencoba lebih introspeksi diri, mengingat – ingat bagian mana yang mungkin saya lewatkan. Tentang waktu sholat, tentang sikap, tentang perkataan, dan lain sebagainya. Pasalnya, seminggu ini pula banyak kejadian random yang membuat saya menyimpulkan pada ujung pemahaman yaitu “Ada yang perlu diperbaiki”

“Jika kamu berbuat baik, berarti kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka kerugian kejahatan itu untuk dirimu sendiri..” QS. Al Israa : 7

Asumsi jahat disini bukan saya bangun sebagai sebuah kondisi yang identik dengan perbuatan kriminal (ex : mencuri, menodong, dkk :D) akan lebih memberi highlight pada topik “baik”.

Saya bersyukur ini pasti adalah rangkaian peringatan yang Allah berikan untuk lebih hati-hati lagi dalam berbuat. Kita tidak pernah tau dan bisa menafsirkan sepihak hanya dari beberapa kejadian yang menimpa kita bukan? Tapi, setidaknya kejadian-kejadian tersebut membangun anggapan kita bahwa Allah telah merancang sebaik-baiknya takdir. Lantas tidak pula kita bisa men-judge orang lain bahwa kamu mendapat musibah ini, karena kamu lalai pada Allah, blabla. Jangan.

Cukup asumsi itu kita bangun untuk diri sendiri, untuk mengawasi sejauh mana kita menjalankan perintah yang Allah berikan dan sejauh mana kita lalai, dan saya sedang pada titik tersebut. Anyway it’s not easy, but i must behave.

Wallahu ‘alam

Malang, 02 April 2016