(Reblog) Menulislah!

Hentikan sebentar apapun yang menjadikanmu sibuk, memperbaiki urusan yang nampak oleh mata.

Mencari-cari kekurangan yang masih saja nampak tidak seimbang.

Berhentilah barang sejenak, merenung, lalu menulislah!

Menulis apapun tentang dirimu, tentang sekelilingmu, tentng apa saja yang kamu temui.

Menulis akan membuatmu merasa tumbuh kembali. Membuatmu bisa pergi ke antero jagat yang jauh, membubung terbang tinggi ke langit, merasakan aroma-aroma dengan hawa berbeda.

Menulislah. Menjadi dirimu sendiri dalam tiap baris kata. Titipkan jiwamu yang siap untuk berkelana setelah semesta yang kau temui saat pertama kali membuka mata.

Hangatkan hati dan fikiran. Menulislah untuk memahami. Dalam derap kalimat-demi-kalimat, untuk menyuratkan kebaikan dalam hari panjang yang terlampau pendek untuk dilewatkan sia-sia. Berbagi apa saja yang mungkin sempat hanya menjadi rapi dalam memori.

Menulislah, simpan untuk dirimu sendiri. Karena mereka akan menjadi pengingat daat lelah mendera, saat sepi yang sangat tepi. Untuk tetap menyemai rindu-haru-biru-dan-semangat-padu yang tak mampu terkatakan.

Menulislah, mereka adalah uraian jiwa kita.

(Reblog from here) Malang, 12 Januari 2015

Advertisements

Semoga Jawa Pos Tidak Melewatkan Potensi Saya.

Assalamu’alaikum

Ini ditulis disela-sela perjalanan saya menuju Malang dari Surabaya. Melawan kebut-kebutan bus dan truck, lumayan kaget juga mengingat hampir 5 bulan motor setia yang biasanya menemani perjalanan pulang Malang – Ngawi tidak dipakai untuk perjalanan jarak jauh.

Tahap pertama interview Jawa Pos, sungguh diluar dugaan saya. Jika hari ini harus dilalui dengan Focus Group Discussion (FGD). Basicly saya selalu lemah ketika dihadapkan pada situasi yang memaksa untuk tampil didepan umum, berbicara, presentasi dan lain sebagainya. Demam panggung pasti seketika menyerang, terlebih jika membuat ide-ide di fikiran hanya berkecamuk enggan disuarakan. Maka bentuk lain yang saya lakukan adalah menulisnya.

Mengapa judul postingan ini harus dengan highlight seperti itu. Saya garis bawahi sekali lagi, dalam fgd tadi banyak pemaparan yang diutarakan oleh calon2 pendaftar. Tapi dalam bentuk kali ini saya selalu merasa lemah untuk memaksimalkan potensi yang ada. But, at least ini semua sungguh menjadi salah satu pengalaman luar biasa dalam hidup saya. Ketika semasa kecil hingga dewasa mimpi yang saya punya untuk ikut terjun ke dalam lingkup media. Media apapun itu. I’ve struggling today. InsyaaAllah.

Topik pada FGD tadi ingin saya tanggapi kembali, kode etik jurnalistik jelas harus dimiliki oleh semua pribadi yang mendedikasikan dirinya adalah seorang jurnalis. Tidak perlu dipaparkan panjang lebar lagi mengenai hal ini. Namun, yang perlu ditekankan adalah bagaimana seorang jurnalis tersebut akan mengamalkan janji kode etik tersebut pada saat melakukan reporting sebuah berita. Menurut saya, substansi yang dimiliki sebuah berita tersebut yang seharusnya mampu menjadikan si jurnalis menegakkan kode etik jurnalistik yang telah dimilikinya. Berita yang akan ia sajikan kepada khalayak merupakan konsumsi yang mau tidak mau masyarakat memang menyerapnya sebagai sebuah informasi. Entah bagaimana respon yang akan diberikan oleh masyarakat apakah itu dengan filter atau tidak. Tetapi, berita harus diibaratkan seperti sebuah makanan, kemudian jurnalis adalah pembuatnya. Pun jurnalis dapat berperan sebagai konsumen tidak hanya produsen (yang menghasilkan berita). Ketika si jurnalis ini menghasilkan berita yang layak untuk dikonsumsi maka ia setidaknya telah meracik makanan yang baik untuk masyarakat Indonesia yang itu artinya telah menyelamatkan dirinya sendiri dari konsumsi yang tidak layak. Kurang lebih seperti itu pendapat saya.

Semoga jurnalis atau siapapun pelaku pembuat berita di negara kita, memiliki pemahaman yang baik untuk menyediakan berita yang baik pula ya 🙂

Do’akan Jawa Pos tidak melewatkan potensi saya. Kalaupun ada takdir lain, karena Allah tau di level manakah saya harus berada sekarang. Keep struggle. Bismillah..

Dalam perjalanan, Pasuruan – Malang 28 Maret 2016

Sekolah Guru Indonesia (SGI) – Dompet Dhuafa

Assalamu’alaikum…

Pendidikan merupakan salah satu poin terpenting dalam eksistensi kehidupan dari sebuah negara.
Indonesia kerap sekali mengalami perubahan kurikulum bertujuan untuk mengetahui sejauh apa evaluasi yang didapatkan oleh Indonesia pada sektor pendidikannya.
Karena menurut saya acuan bertumbuhnya sebuah negara berdasarkan pada kompetensi yang dihasilkan oleh penduduknya.

Indonesia menempati peringkat no 2 pada angka putus sekolah di dunia, padahal sejauh ini sarjana terus meningkat drastis, program pemerintah 12 tahun wajib belajar
juga terus digalakkan.

Hari itu saya memupuk niat untuk mengikuti seleksi Sekolah Guru Indonesia yang di adakan oleh Dompet Dhuafa. Ini sejenis Indonesia Mengajar, hanya saja bedanya terletak di program pembelajaran pra pengabdian. Jika Indonesia Mengajar memiliki istilah pembekalan yang dilakukan selama 3 bulan, SGI harus menempuh waktu sedikit lama untuk mempersiapkan pra pengabdian.

Ternyata banyak banget yang baruu aja lulus dan coba daftar SGI, dan mereka bukan lulusan pendidikan. Itu yang senasib dan seperjuangan, jadi lawan juga sih heuheu. At least, salut banget bisa diketemukan sama beberapa orang yang punya misi sama tentang pendidikan, turut mencerdaskan kehidupan bangsa.

Tahap pertama seleksi SGI yaitu seleksi administrasi alias seleksi berkas.
Dari kurang lebih pendaftar yang masuk tahap interview untuk wilayah Surabaya ada sekitar 15 orang. SGI tahun ini angkatan ke 13, kalau mau lebih lanjut seluk-beluknya bisa langsung pelajari sejarah Sekolah Guru Indonesia di websitenya langsung aja 😛

Di tahap kedua ini tahap interview, persiapkan diri perihal perkembangan pendidikan Indonesia. Ada beberapa pertanyaan yang akan diajukan oleh interviewer berkisar pendidikan dan bagaiamana mengatasi permasalahan dunia pendidikan.
Paparkan jawaban-jawaban solutif dan membangun. Setelah itu, ada sesi microteaching kurang lebih 15 menit. Dimana RPP dan semua tetek bengek urusan kegiatan belajar mengajar akan ditanyakan, selain jadi sarana mengajar dengan adanya media pembelajaran bakal nambah poin banget.

Jadiii, semoga sedikit curhatan ini bisa membantu kalian yang mungkin mendikte mbah google dengan pertanyaan seputar persiapan Sekolah Guru Indonesia.

Dari 15 orang tersebut belum pasti akan ada berapa yang dikirim untuk ikut tahap selanjutnya karena berhubunga saya belum lolos, semoga niat-niat kebaikan semua yang peduli pendidikan Indonesia terus dipupuk ya! Proud of you 🙂

Semoga bermanfaat.

1aaaasgi
Ini latepost banget hehe, tapi gapapa lah ya, daripada gak di post ^^v. Sumber gambar disini

Desainer

Siapa tidak kenal Muhammad Al – Fatih, penakluk Konstantinopel. Banyak sekali tokoh-tokoh dahulu yang terkenal akan kesohorannya. Banyak pula yang mengira bahwa beliau-beliau ini terlahir dalam keadaan yang hebat.
Tapi Muhammad Al – Fatih ditakdirkan Allah memiliki panduan luar biasa dari kedua orang tua beliau.

Sultan Murad II adalah ayah dari Muhammad Al – Fatih, beliau memiliki perhatian yang besar terhadap perkembangan anak-anaknya. Beliau telah menempa Muhammad Al – Fatih sedari kecil untuk menjadi seorang pemimpin yang tangguh. Muhammad Al – Fatih semasa kecil telah terbiasa mendengarkan kisah-kisah Rasulullah, beliau kecil telah menyelesaikan hafalan Al – Qur’annya, mempelajari hadis-hadis, mempelajari matematika dan ilmu falak, fasih berbagai macam bahasa. Segala macam kemampuannya adalah upaya kedua orang tuanya mendesain sedemikian rupa.

Muhammad Al – Fatih tidak serta merta memiliki amanah menjadi pemimpin, beliau tumbuh dan berkembang dalam bimbingan yang tidak sembarangan. Dalam umur yang masih muda, Sultan Murad II mempercayai Muhammad Al – Fatih untuk memimpin suatu wilayah, karena beliau sangat peduli terhadap peradaban nantinya yang harus dikaderisasi oleh orang-orang baik.

Lantas Konstantinopel akhirnya tumbuh dalam genggaman pemimpin yang tangguh nan cerdik. Bayangkan saja! bagaimana harus memindahkan kapal-kapal melalui daratan, sedangkan kapal biasanya harus dilayarkan melalui jalur air pada umumnya.

Begitulah Muhammad Al – Fatih tumbuh dan berkembang. Generasi yang telah dipersiapkan dengan matang oleh kedua orang tuanya.

Lalu apa kabar generasi kita masa kini?

Mulai dari dongeng-dongeng sebelum tidur hingga tontonan televisi yang telah terkontaminasi banyak hal, kita semakin lalai dalam memberikan filter kepada anak-anak tentang apa saja yang tidak selalu bisa kita pantau setiap detiknya. Tidak semua memang, tetapi jika kita mau mengamati.. banyak sekali tontonan maupun tuntunan yang sudah sangat jauh sekali dari agama dan moral bangsa kita.

Nah, bisa dimengerti kan? Darimana harus dimulai?

Orang tua adalah desainer utama untuk anak-anak kelak. Maka carilah partner desain terbaikmu, luruskan niat… jadilah visioner dan berpikir panjang ke depan. Membangun keluarga adalah membangun generasi, membangun peradaban, melahirkan pejuang-pejuang baru.
Segala sesuatu tentang anak-anakmu nantinya, dimulai dari dirimu sejak saat ini, awalilah dengan langkah bagaimana dirimu memilih pasangan. Selamat mencoba 🙂

#Pendidikan Australia

final

 

Disadur dari sebuah akun Instagram seorang kawan muslimah yang bercerita mengenai, salah satu sudut pandang mengenai kondisi pendidikan di Australia. Sejurus kemudian membuat saya wajib menambah list negara yang memiliki kualitas pendidikannya perlu ditiru yaitu Australia.

  • Di Australia, pendidikan dasar untuk anak dirancang membuat anak happy dan ketagihan untuk sekolah. Anak2 di motivasi mempelajari cara belajar bukan belajar itu sendiri.
  • Di Australia, pendidikan dasar dilakukan dengan konsep praktek dan eksplorasi. Mirip di negeri kita, sayangnya hal ini sudah tidak berlaku di Indonesia.
  • Sekolah di Australia dilengkapi dengan kebun dan peternakan, mirip dengan sekolah alam di Indonesia. Hal ini membuat pelajaran sekolah bukan sekedar teori belaka.
  • Pelajaran sekolah di Australia tidaklah banyak. Seperlunya saja, Di Indonesia, anak2 baru SD saja sudah dibebani begitu banyak mata pelajaran. Muatan lokal saja sudah beberapa item (baca tulis arab jawa, kesenian tradisional, dll).
  • Anak2 di Australia tidak diminta untuk banyak menghafal. Tidak ada PR yang seabrek-abrek. Ke sekolah cukup membawa tas yag isinya bekal makan siang. Semua buku diletakkan di sekolah. Kalaupun ada PR, cukup dengan lembaran PR saja
  • Tidak ada kelas unggulan. Semua anak dalam satu kelas terdiri dari beragam kecerdasan intelektual, anak-anak mengerjakan soal2 yang diberikan guru berdasarkan tingkat kecerdasan mereka. Misalnya, ketika pelajaran matematika, bisa saja diberikan soal yang berbeda kepada si A, B, C, dst. Ujianpun demikian, soal yang diberikan tergantung kecerdasan anak. Jadi setiap anak diuji berdasarkan kemampuannya.
  • Setiap hari ada praktek olahraga. Jadi anak2 tetap semangat dan ceria ketika sekolah. tidak suntuk. Olahraga melancarkan peredaran darah, termasuk peredaran darah ke otak. Saking menyenangkannya, sampai sulit diminta libur sekolah, karena mereka betah.
  • Untuk itu, diadakan camp setiap musim liburan, bahkan gurunya sangat intens sekali kepada tiap anak-didiknya.
    Ada sebuah cerita, pada saat camp. Seorang guru menghubungi orang tua anak yang muslim dengan bertanya “Bu, Pak.. ketika camp nanti, anaknya mau dibangunkan sholat shubuh jam berapa?”
    Bahkan antusiasme antar anak dalam menghormati agama dan kepercayaan bagus sekali. Jika ramadhan tiba, mereka akan saling menanyakan “Kamu puasa tidak hari ini? Pasti puasa kan?”

Nah, sekolah di Australia sedikit gambarannya seperti ini. Semoga kedepannya, semakin banyak negara yang memiliki sekolah ramah anak seperti itu ya, apalagi negara kita 🙂

Mengapa saya harus post tulisan ini? Ini berkaitan dengan beberapa mimpi terkait ‘pendidikan-dan-parenting’. Jika ada pembaca yang tau mengenai paradigma pendidikan dimanapun tempatnya, beritau saya ya! 🙂 Kita sama-sama berbagi banyak hal untuk turut mencerdaskan kehidupan bangsa.

 

twenty-two

Assalamu’alaikum.

Turning on – 22. I feel greater a lot of  ‘lifing my live’ than before 🙂

Banyak sekali kejutan-pemikiran-diskusi-pertemuan-berdamai yang kemudian membuat saya merasa menjajaki fase pendewasaan yang memantik diri untuk semakin push up.

Mengingat satu hal penting yang perlu saya kutip dari tulisan kak prawitamutia , sedikit banyak saya agak lupa tapi kurang lebih seperti ini ; bahwa setelah kamu melalui umur duapuluhdua, banyak sekali keputusan-keputusan hidup yang sangat menguras fikiran, membuatmu harus lebih bijak mengambil keputusan, dihadapkan dengan fluktuatif kehidupan dan poin-poin yang tidak boleh dilewatkan dengan seenaknya sendiri, karena sejak saat ini semua pilihan yang kamu putuskan akan sangat berpengaruh nantinya.

Pagi itu, saya mengagendakan untuk bertemu Mba Fildzah, seorang kakak senior FIM yang sedang menjalankan koasnya di Rumah Sakit Saiful Anwar, Malang. Berniat untuk sharing mengenai FIM, alih-alih kami menemukan banyak project untuk digarap. Semoga tetap istiqomah 😀 do’akan ya.

Bertemu beliau membuka banyak sekali paradigma saya tentang pendewasaan diri, menjadi pribadi yang lebih memahami ((lagi)), karena pemahaman yang baik sungguh lebih dari cukup untuk dijadikan tuntunan mengarungi ombak kehidupan. Pemahaman yang baik membangun fisik yang tangguh untuk menjaga diri, menguatkan jiwa yang sabar untuk menghadapi masalah, melunakkan hati yang lapang untuk memaafkan dan mengerti banyak kondisi yang tidak selalu sesuai dengan apa yang kita kira.

Alhamdulillah ‘ala kulli hal ^_^

Oya, banyak sekali target yang mulai saya rapikan kembali sejak tahun ini, keep struggle ya semuanya! Mari berlomba-lomba untuk kebaikan.

IMG_6193

Ina Tantri Nareswari

 

Berpuluh-uluh topik tulisan yang mbak tulis, tapi tidak satupun ada yang berwujudkan ceritamu dek. Lupa kapan terakhir kali menulis tentangmu.
Kalau mbak punya banyak alasan untuk menolak akui rindu, memang tak ada satupun alasan yang berani mbak akui didepanmu.

Jpeg

Karna merindumu memang tidak pernah habis mbak lakukan.

Tidak mampu mendampingimu bertumbuh adalah salah satu perasaan bersalah yang amat setelah semakin lama mbak menyadari usia inipun semakin bertambah.
Namun, setidaknya.. selalu ada alasan untuk bersyukur bahwa kondisi kita jauh lebih baik daripada anak-anak diluar sana yang bisa dilihat tak seberuntung kita.
Apapun yang sampean lakukan saat ini, sedang apa, bagaimana kabar persiapan olimpiade, bagaimana kabar pramuka di sekolah, atau bahkan bagaimana kondisi badanmu yang sempat terforsir untuk banyak hal. Percayalah tak ada satupun yang sia-sia.

Dua puluh satu tahun yang hampir habis ini, mbak baru menemukan apa yang sejatinya harus dilakukan dalam hidup, mereview ulang semua niat, memaafkan masa lalu,
berdamai dengan kesalahan diri. Mungkin ada yang berpendapat bahwa ini semua jauh terlambat. Tapi, besarkanlah hati bahwa untuk belajar dan memperbarui diri tidak
pernah ada kata terlambat asalkan kita mau terus mencoba. Semua mbak lakukan dengan berproses yang tidak sebentar. Memang sulit, memang berat. Membersamai ibuk dan
bapak, mengetahui kondisinya ketika harus dibawah dan bagaimana kita harus banyak bersyukur atas apapun yang kita punya selama ini.

Meskipun entah kapan, sampean benar-benar memahami apa maksud tulisan ini. Mbak tidak pernah ragu untuk mencintaimu sepenuh hati. Terus berupaya mendewasakanmu dari jauh, karena hanya sejauh ini yang bisa dilakukan. Toh, betapa cueknya adek mbak ini. Ingin sekali bisa jadi tempatmu curhat, ingin sekali bisa memberimu rambu-rambu
apa saja baik untuk dilakukan dan tidak.

Satu tahun terakhir akan membuatmu menjadi super sibuk, menjadi pemburu informasi dimana harus berlabuh. Menyambung nafas pendidikan, dan Allah telah menyediakan surga bagi hambaNya yang berpayah-payah menuntut ilmu, InsyaaAllah. Pastikan sudah memenuhi ruang penasaran dengan berita-berita yang bermanfaat kelak. Mulai perhitungkan langkah, jangan jadi seperti mbak yang baru tau akan di lukis seperti apa kehidupan esok hari. Karena peta dunia yang sudah dicorat-coret dikamar mbak itu, tidak boleh  cuma jadi coretan.

Tidak ada yang mudah setelahnya dek, ketahuilah ketika kesulitan menghampirimu.. sungguh Allah sedang mengharapkanmu untuk semakin mendekat.

Di Malang dari mbakmu yang makin sayang, 020316