Ujian Hidup :)

Selama masih ada kehidupan, disanalah akan selalu ada makhluk bernama “ujian”

Karena Allah tidak akan membiarkan seseorang dikatakan beriman sampai ia diuji

Pada pertemuan FIM Jatim pekan lalu, saya menggaris bawahi satu nasehat yang dikatakan oleh Kak Ivan Ahda. Kurang lebih seperti ini bunyinya :

Jika dirimu mendapati masalah/ujian dalam bentuk yang sama seperti yang telah lalu, bisa jadi Allah tidak menaikkan derajatmu. Sehingga ujian yang kamu dapatkan masih dalam tahap itu-itu saja. Tidak naik sama sekali, tidak menaiki level sedikitpun. (mohon koreksi jika ada yang tau)

Saya lalu mengevaluasi, mencoba berfikir dan instrospeksi lebih dalam lagi sedikit demi sedikit. Mengevaluasi apa yang sudah didapat sejauh ini dan dilalui.

Allah menunjukkan kasih sayangnya dengan banyak cara, salah satunya dengan ujian. Allah menaikkan derajat kita, Allah mendekatkan kita. Sejatinya Allah sedang memberikan kesempatan untuk kita menjadi semakin kuat. Karna semakin berat ujian yang kita rasakan, semakin kita tau bahwa kemampuan kita dalam mengatasinya.

Semoga tetap dikuatkan. Semoga masih Allah dalam bahagia maupun ujian 🙂

Malang, 29 Agustus 2015

Advertisements

Campur Tangan – NYA

Banyak sekali hal yang di anggap mampu untuk dilakukan sendiri, sejatinya selalu ada campur tangan Allah dibalik itu semua.

Manusia rapi sekali merencanakan segala sesuatunya hampir dibuat tanpa cela, dibuat (buat) nya terlihat sempurna, tapi sekali lagi Allah selalu punya andil lebih besar dibanding manusia manapun.

Manusia lihai menemukan dalih, mengiyakan, hukumnya menjadi “tidak apa-apa” lalu perlahan dia terlena. Padahal apa saja yang manusia butuhkan sebagai petunjuk, telah ada disekitarnya. Allah hanya menginginkannya mendekat, lebih mendekat.

Bukankah Allah sebaik-baiknya pelindung? Bukankah, hanya kepada Allah lah manusia boleh berharap?

:’) Mejakerja, 25 Agustus 2015

Keluarga Kunang-kunang :)

10498272_749117998498249_2980448949134345219_o

Bila ada sebuah pertanyaan, hal apa yang tidak akan kamu gadaikan demi apapun, hal apa yang tidak akan kamu gantikan oleh siapapun, hal apa yang tidak akan bisa dibayar berapapun. Jawabannya adalah keluarga. Iya keluarga.
Aku menemukannya disini. Di sebuah sekolah kehidupan dalam kehangatan yang tak ternilai harganya, tidak bisa didefinisikan seperti apa rasanya.

Bila kamu merasakan lelah akan kemelut kehidupan, disanalah tempatmu pulang… bersama derai tawa
Bila kamu letih menunggu kepastian, disanalah tempatmu mengadu..bersama ketenangan yang bijak
Bila kamu berbahagia, maka disanalah yang merayakan kebahagiaanmu dengan do’a dan senyum bertebaran dimana-mana

Aku harus pintar-pintar bersandiwara saat menuliskan tentang kalian, yang terlalu dalam memahat kenangan.
Membersamai tuts-tuts keyboardku yang sudah berulang kali kulap dengan tisu.
Ah aku rindu.

Hai, kunang-kunang
Teruslah berpendar, hadirkan cahaya hingga menembus batas tepian semesta
Bergeraklah, bertebarlah di bumi manusia
Bermanfaatlah, bergunalah untuk semua

Gemuruhkan langit dengan sujud syukur mereka, para perisai langit kita
Untuk bapak dan ibu, untuk pak’e dan bunda, untuk siapapun orang tua yang senantiasa merapal nasehat dan do’a untuk langkah kita
Bukankah itu yang akan membuatmu bahagia?
Bersama kalian adalah bernafas
Nafas kebaikan yang tiada hentinya menembus celah demi celah kehidupan
Berkembang lalu bertumbuh bersama

Bukankah alasan dari semua ini karena cinta dan cita?

Terima kasih atas cahaya yang kalian buat semakin terang..
Selamat bertemu kembali pada dimensi yang baru
Ingatlah saat senja terakhir, saat satu persatu bingkai potret dikumpulkan untuk menyisakan memori.. disaat itulah kita mulai merangkai do’a, mulai merangkai mimpi, mulai menyatukan nurani..
Lalu malaikat tersenyum dan langit mencatat salam perpisahan kita.
Kita akan menjadi “kita” lagi, nanti. Suatu saat nanti, dalam peradaban yang lebih baik 🙂

alvinareana Malang, 100515

Alvin, untuk 70 Tahun Indonesia :)

“Ayo Kerja!”

It’s the most ‘menohok’ caption for this year 😀

Tepat sekali pada Agustus tahun ini, resmi masuk ke dalam list masyarakat pengangguran di Indonesia per tahun 2015. Tapi saya tidak berhenti, saya terus ingin mensugesti bahwa saya tidak akan lama menganggur. Ilmu-ilmu yang saya miliki haruslah bermanfaat.

Pada Februari 2015, penduduk bekerja masih didominasi oleh mereka yang berpendidikan SD ke bawah sebesar 45,19 persen, sementara penduduk bekerja dengan pendidikan Sarjana ke atas hanya sebesar 8,29 persen. (BPS, 2015-05-05)

Semoga para sarjana yang melewati proses pengukuhan per tahun 2015 ini segera menjadikan dirinya kontributor aktif untuk Indonesia 🙂

70 Tahun Indonesia Merdeka. Sudah sejauh apa?

Sedang diluar sana masih terdengar suara-suara apa gunanya lomba-lomba peringatan 17 Agustusan?

Dimana lomba peringatan tersebut hanya dilalui sebagai sarana pasrtisipatif warga. Lalu mengertikan mereka esensinya? Atau mereka yang terlibat pun mengalami gejolak pemikiran untuk apa ikut-ikut?

Semasa kecil bapak sering sekali mengadakan lomba-lomba serupa di lingkungan desa nenek saya tinggal. Antusiasme masyarakat sangat positif menyambut kegiatan tersebut, berhubung belum pernah dalam kurun waktu tersebut kegiatan serupa diadakan.

Saya belajar tentang usaha dan perjuangan, mulai dari lomba makan kerupuk, lomba memasukkan paku ke dalam botol, lomba panjat pinang pun tidak kalah ramai. Bukankah dengan diadakannya kegiatan seperti itu, kita bisa belajar banyak hal untuk merefleksi kembali bagaimana para pahlawan dulu berusaha memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Setidaknya, meskipun dengan wujud yang sudah jauh berbeda. Tapi hikmah dibalik setiap kejadianlah yang mesti kita cermati.

Semoga lomba-lomba peringatan Agustusan masih menjadi budaya di Indonesia, pun tidak luput dengan esensinya.

Salam Kemerdekaan 🙂