Teman Baik

Akan kuceritakan padamu tentang teman baik. Mungkin kau akan sependapat padaku. Karena bisa jadi ia yang membuat kita menjadi sepemahaman, mungkin yang mempertemukan kita dibalik kubikel-kubikel perpustakaan, atau mungkin mengajari kebiasaan menulis mimpi diatas kertas warna-warni origami saat kita belum dipertemukan olehnya.

Berani kah kau menebaknya?

Ia adalah teman yang tak pernah berbohong, mengguratkan pernyataan menyakitkan namun selalu lengkap dengan pelajaran yang tak kalah bijaksananya. Ia adalah teman yang menyenangkan. Mengajak berkeliling membelah dunia, berkenalan dengan segala macam rupa isi semesta, mengajarkan terbang hingga ke langit melukis cita-cita.

Apakah belum bisa kau tebak siapa dia?

Baiklah, mari kulanjutkan bercerita. Masih banyak kebaikan-kebaikan yang ia miliki.

Suatu hari, aku melihat seorang anak kecil menangis dibangku customer service disebuah pusat perbelanjaan. Anak laki-laki kecil ini terpisah dari ibunya. Dan informasi mengenai anak hilang sudah mulai memenuhi langit-langit mall ini. Melihatnya kebingungan, kuajak adikku menghampirinya sembari menunggu ibuk yang masih dikasir membayar belanjaan kami. Dengan malu-malu adikku menyodorkan komik yang baru saja ia beli pada anak kecil itu. Sigap menyadari ia ditawari sesuatu yang mungkin belum pernah dikenal sebelumnya. Kau tau? Raut wajahnya seketika berubah, air muka resahnya hilang, tawanya berderai panjang melihat gambar-gambar yang ada di komik.

Teman baik itu bernama buku. Ia mengajari banyak hal, karena kebaikan tidak diwariskan melainkan dipelajari.

Pernah suatu hari, saat kehidupan serasa menjadi sangat menyebalkan bagiku. Tempat tertinggi menjadi satu-satunya tempat tujuan dan langit pendengarnya. Saat itu, aku ingat berapa banyak buku yang telah habis kubaca, berapa banyak teori tentang kesabaran yang telah kutelan, berapa banyak halaman pencapaian yang telah kutaklukan. Mengingat itu semua gerakku terhenti, aku menjadi sedikit lebih menahan ketika aku marah, aku menjadi sedikit lebih terarah ketika aku tersesat. Ia tak pernah membiarkanku menangis dan sejurus kemudian aku tersenyum menikmati cerita-cerita yang ia kisahkan.

Betapa sering aku berharap menjadi pemeran utamanya. Bukankah itu menyenangkan? Memberi petuah lewat manik-manik aksara yang berjajar rapi. Menyihir pikiran banyak kepala lewat mantra-mantra yang tertulis.

— Dia sungguh baik, bertemanlah dengannya maka ia akan menghidupkanmu lebih dari yang kau fikirkan 🙂

Tempat tertinggi, 22 Juni 2014

Advertisements